Episode 98 - Harapan pada Ulang Tahun Sederhana


Di tengah malam yang gelap, seorang pria memasuki sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Secara perlahan pria tersebut membuka pintu agar tidak membangunkan orang di dalam rumah.

Namun, meskipun begitu, tepat setelah dia memasuki rumah, pria tersebut di sambut oleh seorang gadis kecil.

"Papa pulang malam lagi." Ucap gadis kecil tersebut seraya menggembungkan pipinya dengan lucu.

"Kenapa kamu belum tidur?" tanya pria tersebut dengan khawatir.

Pria itu adalah orang di balik pencurian yang terjadi belakangan ini, si Bayangan Hitam. Dan gadis kecil yang menunggu itu adalah putri kesayangannya.

"Aku khawatir sama Papa." Jawab gadis kecil itu menunduk.

"Tidak apa-apa, yang penting ayo cepat tidur." Jawab Bayangan Hitam seraya mengelus kepala gadis kecil itu.

"Ma ... Maaf." Gumam gadis kecil itu pelan, tapi masih bisa didengar oleh Bayangan Hitam.

"Kenapa kamu minta maaf, kamu gak salah apa-apa." Bayangan Hitam duduk di atas lututnya dan menatap mata anaknya yang berkaca-kaca.

"Karena aku ... Papa jadi harus kerja sampai malam begini." Gadis kecil itu tidak mampu lagi menahan air matanya setelah melihat wajah orang yang disayanginya dari dekat.

"Ini bukan salah kamu, ini tanggung jawab Papa, jadi kamu gak usah merasa bersalah." Bayangan Hitam memeluk erat putrinya tersebut.

"Tapi..."

Sebelum bisa mengatakan semua kalimatnya, Bayangan Hitam memotongnya dengan. "Sudah, jangan dipikirkan, yang penting ayo tidur dulu, sudah malam."

"Hmm ... Iya."

Melihat anaknya yang ragu, Bayangan Hitam berkata. "Ada apa? Katakan saja."

"Malam ini, boleh nggak aku tidur sama Papa?" tanya gadis kecil itu dengan suara yang pelan.

"Oke, kamu duluan aja, Papa mau mandi dulu." Jawab Bayangan Hitam dengan senyum tipisnya.

"Hmm, aku duluan ya Pa." Gadis kecil itu tersenyum bahagia lalu berlari ke kamarnya.

"Jangan berlari.."

Sebelum sempat memperingatkan, gadis kecil itu terjatuh ke lantai. Bayangan Hitam segera mendekatinya dan bertanya. "Kamu gak apa-apa?"

Mata gadis kecil itu lembab, entah karena sisa tangisannya sebelumnya atau karena terjatuh barusan.

"He he he, tidak apa-apa." Menahan sakitnya, gadis kecil itu menampilkan senyum terlebarnya.

"Lain kali jangan lari-lari lagi." Ucap Bayangan Hitam.

"Hmmm, iya, maaf ya."

"Bagus, anak pintar, kalau gitu cepat ke kamar, tapi kali ini gak usah lari."

Dengan begitu, gadis kecil itu berjalan masuk ke kamarnya. Sementara itu, Bayangan Hitam segera mandi, lalu berganti baju dan bergegas ke kamar putrinya tersebut, dia tidak bisa mengajak untuk tidur di kamarnya karena di sana terdapat barang-barang yang dia 'ambil' dari orang-orang yang pantas.

Bayangan Hitam melihat putrinya yang sudah tertidur. Dengan lembut dia memberikan selimut lalu mencium keningnya.

"Aku pasti akan menyelematkanmu." Gumamnya pelan.

Keesokan harinya, tidak seperti biasanya, Bayangan Hitam pergi ke sebuah lokasi pembangunan, dia bertanya kepada pemimpin proyek tersebut apakah ada lowongan pekerjaan, dan ternyata masih ada, karena itu mulai hari itu juga Bayangan Hitam bekerja di sana.

Berangkat pagi dan pulang pada sore harinya dengan kondisi yang lusuh, begitulah tampilan Bayangan Hitam selama seminggu. Semua itu dilakukannya untuk memberikan hadiah ulang tahun yang pantas untuk putrinya. Meskipun dia bisa memberikan sesuatu yang lebih layak dan mewah mengingat hasil buruannya, tapi dia sangat enggan untuk membeli sesuatu dari hasil tersebut.

Tepat seminggu, Bayangan Hitam berhenti dari pekerjaan itu, meskipun dia diberitahukan untuk tidak berhenti karena perfomanya yang sangat baik, tapi Bayangan Hitam merasa hasilnya sudah cukup untuk membiayai pesta untuk mereka berdua.

Pada hari ulang tahun putrinya tersebut, sebuah kue berukuran sedang tersaji di ruang tamu rumah sederhananya. Sebuah lilin kecil menyala dalam ruangan yang sengaja dibuat gelap. Putri tercintanya meniup lilin di atas kue seraya berdoa.

"Aku berharap penyakitku bisa sembuh dan aku bisa sekolah lagi." Doanya.

Bayangan Hitam mengepalkan tangannya lebih keras setelah mendengar doa putrinya tersebut. Dengan tekad yang berapi di dada, dia bersumpah akan mengabulkan doa putrinya bahkan walau harus mengorbankan dirinya sendiri.

Setelah perayaan ulang tahun sederhana tersebut, Bayangan Hitam kembali ke dalam kamarnya, di dalamnya terdapat beberapa karung hasil buruannya. Kemudian dia berbaring di kasur kerasnya, lalu menoleh ke arah meja kecil di samping kasurnya, di atas meja tersebut terdapat sebuah ponsel jadul.

Di ponsel tersebut Bayangan Hitam menantikan panggilan yang sangat dia tunggu, yaitu panggilan dokter mengenai apakah ada atau tidak orang yang bersedia menjual organ tubuhnya untuk ditransplantasikan kepada putrinya yang telah sakit sejak lama.

Sudah lama Bayangan Hitam menunggu, tapi sampai saat ini belum ada panggilan yang datang, dalam keputusasaannya, ada secercah api harapan.

Keesokan harinya, Bayangan Hitam pergi ke rumah sakit untuk bertanya kepada Dokter perihal apakah ada yang bersedia untuk menjadi donor untuk anaknya.

Setelah sampai di sana, Bayangan Hitam melirik ke kiri dan kanan mencari Dokter tersebut, tapi dia tidak bisa menemukannya. 

Bayangan Hitam menghentikan seorang perawat dan bertanya dimana Dokter berada, setelah mendapatkan jawabannya, Bayangan Hitam segera menuju tempat yang di tunjukan.

Sampai di depan ruangan, Bayangan Hitam berhenti tepat sebelum dia mengetuk pintu ruangannya. Meskipun pelan, Bayangan Hitam dapat mendengar suara yang seharusnya tidak ada di sana, sebuah suara menjijikkan.

Dalam benaknya, Bayangan Hitam berpikir mungkin ini adalah momen yang tepat untuk memeras Dokter. Tanpa keraguan, Bayangan Hitam masuk ke dalam ruangan tanpa ketuk dan salam.

Tepat setelah Bayangan Hitam masuk ke dalam ruangan, dia bisa melihat seorang wanita tanpa busana dan seorang pria yang dikenalnya sebagai Dokter setengah telanjang.

"Ahhh!!!" Wanita tersebut berteriak lalu cepat-cepat mencoba untuk menyembunyikan bagian pentingnya dari pandangan Bayangan Hitam.

Sedangan itu, Dokter tersebut cepat-cepat menarik celananya dan menatap Bayangan Hitam dengan marah.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Dokter tersebut.

"Dalam waktu seminggu, cari seseorang yang mau menjadi donor untuk anakku, atau karirmu pasti akan hancur." Ancam Bayangan Hitam tanpa peduli pada wanita telanjang di camping Dokter.

"Kau ... Oh, aku ingat, kau orang miskin itu." Ucap Dokter dengan tampang jijik.

"Aku tidak peduli tentang bagaimana kau melihatku, tapi aku tidak ragu untuk menyebarkan masalah ini."  Ucap Bayangan Hitam tegas.

"Heh, kau pikir sangat mudah mencari pendonor, dasar bodoh!" Teriak Dokter.

"Aku tidak peduli, yang aku tahu minggu depan harus sudah ada pendonor." Tegas Bayangan Hitam.

"Sialan! Kalau begitu besok kau harus membayar lunas semua pembayaran, jangan kau pikir pengobatan itu gratis!" Teriak Dokter lagi. 

"Tentu, besok akan aku bayar lunas." Balas Bayangan Hitam cepat dan tanpa ragu.

"Heh, sepertinya kau lebih kaya dari perkiraanku, baiklah, kalau begitu cepat pergi dari sini." Ucap Dokter dengan keras.

"Aku peringatkan, aku tidak pernah main-main." Ancam Bayangan Hitam lagi.

Setelah Bayangan Hitam pergi dari ruangan tersebut, Dokter segera menendang tempat sampah plastik di dekatnya.

"Berani-beraninya dia mengancamku!" Teriaknya.

Wanita yang sedari tadi diam, meringkuk ketakutan melihat Dokter yang melampiaskan emosinya pada tempat sampah.

Dokter mengalihkan pandangannya pada wanita tersebut dan berteriak. "Kenapa kau tidak mengunci pintunya!!!"

Wanita itu ingin protes bahwa Dokter lah yang tidak sabar dan segera menariknya masuk ke dalam ruangan, tapi tentu saja dia tidak berani untuk mengatakannya.

"A-aku minta maaf."  Jawabnya sambil tertunduk.

"Sialan! Dasar tidak berguna." Dokter itu menampar pipi wanita tersebut hingga dia jatuh terjungkal.

Wanita tersebut sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.

Pintu ruangan terbuka lagi.

"Sialan! Jangan ma-" Dokter menghentikan kalimatnya setelah melihat dengan jelas siapa orang yang masuk.

"Heh, sepertinya aku datang pada saat yang tidak tepat." Jawab pria yang masuk dengan senyum jijik setelah melihat ada seorang wanita telanjang di sana.

"Tidak, tentu saja tidak, silakan masuk." Dokter tersebut berlari dan memandu pria tersebut dengan hormat.

"Baiklah kalau begitu." Jawab pria tersebut santai.

"Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!" Bentak Dokter pada wanita itu.

Dengan bentakan tersebut, wanita itu segera mengambil pakaian perawatnya dan cepat-cepat melarikan diri.

"Heh, sepertinya tempat kerjamu sangat menyenangkan." Ucap pria itu seraya melihat wanita itu pergi meninggalkan ruangan.

"Ha ha ha, jika ada yang membuatmu berminat, katakan saja padaku." Balas Dokter dengan percaya diri.

"Tentu saja, aku tidak akan sungkan." Ucap pria itu dengan senyum palsu. Dalam hatinya dia memandang orang di hadapannya dengan jijik, tentu saja dia tidak akan mengambil tawarannya, siapa yang tahu perawat mana saja yang telah dia kotori.

Pria tersebut tanpa basa-basi menyerahkan sebuah koper hitam pada Dokter.

"Silakan periksa." Ucapnya.

Dengan terburu-buru Dokter membuka koper tersebut dan melihat uang yang sangat banyak di dalamnya. Matanya berkilau dengan silau keserakahan.

"Aku sudah menemukan beberapa orang lagi, jika kau bersedia, apakah kau mau melanjutkan kerja sama ini?" tanya pria tersebut, meskipun dia tahu apa jawaban sang Dokter.

"Ya, tentu saja, aku mau." Balas Dokter.

Seperti yang sudah pria itu duga, semua hal menjadi mudah dengan uang.

"Lokasinya sama seperti yang sebelumnya, akan aku beri informasi tentang waktunya jika sudah ada kepastian." Ucap pria tenang.

"Oke." Jawab Dokter dengan gembira.

"Senang bekerja sama denganmu." Pria tersebut menyodorkan tangannya.

Dengan segera Dokter meraih tangan pria itu dengan erat. "Senang bekerja sama denganmu juga."

"Baiklah, aku akan pergi dulu." Ucap pria itu dan beranjak dari duduknya.

"Oh, jangan terburu-buru, mari kita minum teh terlebih dahulu." Ucap Dokter.

"Tidak, aku punya sesuatu yang penting setelah ini." Balas pria itu.

Alasan sebenarnya adalah dia merasa jijik hanya dengan melihat wajah orang di depannya, jadi dia memutuskan untuk pergi dari pada merasakan mual itu lebih lama.

"Baiklah, hati-hati di jalan."

"Ya."

Setelah pria itu keluar dari ruangan, dengan gila Dokter meraih uang di dalam koper dan melemparkannya ke udara.

Uang ratusan juta seperti hujan dari langit turun dan membasahinya. Aroma kertas yang memikat sangat menyegarkan pikirannya yang penuh dengan keserakahan.