Episode 397 - Jiwa dari Raga



“Hei…,” terdengar suara serak menyapa. “Bangun… bangun…”

Seorang remaja, atau lebih tepatnya pemuda yang dari penampilannya sedang beranjak ke usia 20 tahun, tersontak bangun. Ia melompat mundur dan siaga menyibak kembangan silat. Kedua matanya menyipit, lantas punggung tangannya mengucek-ucek mata demi memastikan bahwa apa yang terpampang di hadapan bukanlah merupakan bayangan mimpi buruk!

Kini terpisah jarak hanya beberapa langkah, sedang berjongkok seorang lelaki dewasa muda. Dari posisinya itu, terlihat batang tubuh bagian atas yang melengkung ibarat bungkuk dan sepasang kaki yang melipat jenjang, begitu pula dengan sepasang lengannya yang panjang menjuntai.ws Dari pemandangan tersebut, dapat diperkirakan bahwa postur tubuh sosok tersebut terbilang tinggi. 

“Kau… kau…” Tokoh yang baru saja dibangunkan dari tidurnya masih mengumpulkan segenap jiwa yang terpencar, sehingga kata-kata sulit sekali meluncur dari tenggorokannya.  

Kulit tubuh gelap, rambut hitam gimbal menyentuh pundak dengan bentuk wajah lonjong dan sangat tirus yang menampilkan lekuk tulang pipi nan menonjol. Dilengkapi dengan kumis tipis serta janggut pendek, serta bentuk mata yang menyipit dengan kantong mata memerah, lelaki dewasa muda itu terlihat layaknya seorang pemadat yang sedang tinggi karena menghisap bunga kecubung. 

“Tameng!?” Akhirnya Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka meneriakkan kata-kata yang sulit terucap.

Tokoh yang disapa tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi berwarna kuning. Bukan… bukan kuning akibat kotoran di gigi, karena warna kuning tersebut mengkilap memantulkan cahaya. Dengan kata lain, deretan giginya terbuat dari emas! 

“Bagaimana mungkin!?” sergah Hang Jebat menolak percaya. “Kalian… Tameng dan Sari… hanya dapat mengambil wujud manusia bilamana berada di sisi Kakak Tuah!”

“Kyahahaha…” Tameng tergelak sambil bangkit berdiri, membuktikan bahwa postur tubuhnya memanglah tinggi. Dalam kaitan itu, ia hanya mengenakan celana pendek berwarna gelap yang panjangnya sampai ke batas lutut. “Aku tak tahu…”

“Tak tahu!? Hanya itu!? Ini kejadian pelik yang patut ditelusuri ujung pangkalnya!”

“Semalam tetiba wujudku berubah,” sambung Tameng ringan. “Kemungkinan besar ada kaitannya dengan Sari…”

“Sari…? Di mana Sari!? Mungkin dia mengetahui tentang keberadaan kakakku…”

“Aku tak tahu… Tapi semalam aku merasakan kaitan yang kuat dengan dirinya, seperti ada perantara yang menghubungkan kami…” 

“Perantara…? Siapa!?”

“Bukan ‘siapa’… tapi ‘apa’…” Tameng terlihat acuh tak acuh.  

Hang Jebat melongo. “Apa…?”

“Ah, sudahlah… Jangan terlalu kelihatan dongok kau Jebat…”

“Kakak Jebat! Siapakah dia!?” Tetiba pemuda lain melompat ke sisi Hang Jebat, dan langsung bersikap waspada.

“Dia Tameng…,” tanggap Hang Jebat sekenanya kepada Aronawa Kombe. “Itu… si keris raksasa yang biasanya cerewet…”

“Keris yang dapat berubah wujud layaknya manusia…” Aronawa Kombe, yang sejak beberapa waktu belakangan berpetualang bersama-sama dengan Hang Jebat, terlihat sangat penasaran. 

“Awalnya dia adalah siluman sempurna…” Hang Jebat kemudian menoleh kepada Tameng. Ada sesuatu yang tetiba mencuat di dalam benaknya. “Oh, Tameng… apakah engkau bisa kembali ke wujud keris…?”

“Entahlah…,” ujar Tameng sembari mengangkat sebelah kaki. Ia menyodorkan betis kanannya kepada Hang Jebat. Di saat yang bersamaan pula, siluman sempurna yang merangkap senjata pusaka itu mengangkat kedua lengan tinggi ke atas dan menyatukan kedua telapak tangan. Sungguh posisi tubuhnya kini terlihat demikian tak lazim. 

Hang Jebat membuang wajah seolah enggan, walau lengan kanannya menjulur dan telapak tangannya menjangkau pergelangan kaki Tameng. Seketika pergelangan kaki tersebut berada dalam genggaman, sekujur tubuh Tameng serta merta berubah menjadi sebentuk keris hitam raksasa dengan kilatan keemasan pada bilahnya. Ujungnya keris, meskipun demikian, bercabang dua layaknya lidah ular! 


===


Sudut pandang dari atas perbukitan. Jauh di bawah sana, membentang hamparan tanah basah berwarna merah dengan potongan-potongan tubuh yang tercerai-berai. Di beberapa tempat, tak terhitung mayat yang bertumpukan. Bau amis darah menyibak kental di udara. Sang mentari melayang tegak di atas kepala. 

Di sudut jauh, terlihat ribuan binatang siluman, beserta dengan puluhan siluman sempurna sebagai komandan kelompok-kelompok yang terpisah. Membangun formasi mirip bulan sabit raksasa, setiap satu dari mereka haus akan darah. Sebaliknya, di sisi yang berlawanan yang terpisah oleh bentangan luas tanah memerah, hanya terlihat bayangan seorang lelaki dewasa. Dengan penampilan tubuh besar dan kekar, ia menanti gagah seorang diri. 

“Hrargh!” 

Satu kelompok siluman merangsek maju. Ratusan jumlah anggotanya, yang mana setiap satu dari mereka bertubuh raksasa. Sang pimpinan, adalah siluman sempurna yang menunggang seekor gajah, berada di tengah-tengah kelompok. Langit berguncang dan bumi bergetar karena tak kuasa membendung derap langkah mereka. Dari segi jumlah dan ukuran, kelompok ini kiranya dapat meluluh-lantakkan satu kota tanpa menerima perlawanan berarti. 

Tak pelak lagi, bahwa sasaran mereka adalah lelaki dewasa di hadapan! Bila menyaksikan pemandangan yang sedemikian, nalar para ahli berpengalaman sekalipun akan menyimpulkan bahwa lelaki dewasa itu akan binasa dilibas kawanan! 

Kawanan binatang siluman semakin mendekat, sedangkan lelaki dewasa itu hanya menanti dalam ketenangan. Sorot matanya, di lain sisi, mencerminkan kepedihan nan mendalam. Perasaan iba adalah ungkapan yang paling cocok mencerminkan hatinya saat itu. Ia sama sekali tiada berkenan melakukan apa yang akan ia lakukan berikutnya, namun keadaan memaksa dirinya untuk bertindak. 

“Tameng!” panggil lelaki dewasa itu di kala kawanan tiba tepat di hadapannya. 

Seketika itu juga, memenuhi panggilan sang empunya, sesosok tubuh lelaki dewasa muda yang ramping dan jangkung melompat dari balik tubuh lelaki dewasa itu. Senyumannya menyibak deretan gigi yang terbuat dari emas. 

“Kyahahaha… Tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!” 

Dengan semangat menggila, Tameng melompat masuk ke dalam kawanan binatang siluman yang menyerbu. Kedua belah lengannya berubah menjadi sepasang keris nan tajam yang tanpa henti melaksanakan setiap kata yang sebelumnya ia serukan. Bukan sekadar pepesan kosong, ketika siluman sempurna tersebut menebas, membabat, membacok, memotong, mencencang, mengerat, menetak, menusuk, menikam, mengiris, menoreh, menyayat, membeset, merajang, mencaruk, memenggal, memancung, mengayau puluhan binatang siluman!

Akan tetapi, tindakan Tameng hanya memperlambat laju gelombang serangan. Lelaki dewasa yang gundah gulana, sebentar lagi dilindas…

Lelaki dewasa itu menyambut amuk kawanan binatang siluman dengan kecepatan dan kekuatan raga. Tanpa mengerahkan jurus persilatan maupun jurus unsur kesaktian, hanya dengan tangan kosong ia menghadang kawanan yang hadir di hadapan. Tak ada gerakan yang sia-sia dan tak ada pula celah yang tercipta ketika ia mulai membantai. Hanya perlu satu pukulan atau tendangan yang mendarat telak di titik vital sehingga setiap sasaran roboh di tempat. 

Semakin banyak kawanan siluman mengarah kepada lelaki dewasa itu…

“Tameng!” panggilnya lantang. 

Tameng yang berwujud lelaki dewasa muda melenting-lenting memenuhi panggilan sembari menebas, membabat, membacok, memotong, mencencang, mengerat, menetak, menusuk, menikam, mengiris, menoreh, menyayat, membeset, merajang, mencaruk, memenggal, memancung, mengayau siapa pun yang berada di jalur lintasannya. Masih terpisah sekira belasan langkah, ia kemudian melompat dengan posisi menendang lurus kepada tuannya. 

Lelaki dewasa memutar tubuh menghindar dari terkaman binatang siluman yang datang dari sisi. Di saat yang bersamaan, lengan kanannya merentang dan genggaman jemarinya menyambut pergelangan kaki Tameng. Seketika itu terjadi, sekujur tubuh Tameng berubah wujud. Ia menjadi keris raksasa utuh yang berwarna gelap, dengan kilatan keemasan pada bilahnya!

Walau hati terasa berat, lelaki dewasa dengan Keris Tameng Sari di dalam genggaman mulai melakukan kegiatan pembantaian. Semakin banyak kawanan binatang siluman yang menjadi korban. Potongan tubuh berceceran di semerata tempat, dan cairan kental berwarna merah menggenang di tanah. Uap amis mengaburkan pandangan mata. Namun demikian, gelombang kawanan binatang siluman belum hendak surut mengantar nyawa. 

Lelaki dewasa itu mengayunkan lengan. Bersamaan dengan itu pula, senjata pusaka Keris Tameng Sari melesat lepas dari genggamannya. 

“Sari!” 

Mendapat panggilan, sang keris kembali berubah. Kini ia mengambil wujud seorang perempuan dewasa muda yang lincah bergerak di antara kerumunan binatang siluman. Ia tak memangsa, sebaliknya meyelinap tangkas menelusuri tujuan. Tanpa perintah lebih lanjut, ia mengetahui bahwa sasaranya adalah siluman sempurna yang bertengger di atas gajah. Dari jauh, pimpinan kawanan tersebut memberi perintah kepada binatang siluman untuk melemahkan sasaran walau harus mengantar nyawa. 

“Konyol!” teriak siluman sempurna di atas gajah ketika menyaksikan Sari mendekat. Ia menebaskan parang raksasa kepada sasaran yang mengantarkan nyawa. 

“Prang!” 

Dentang suara logam bertemu logam terdengar nyaring. Sekujur kaki Sari telah berubah menjadi bilah keris untuk menangkis serangan lawan. Perempuan dewasa muda itu terpental mundur, namun segera menendang binatang siluman terdekat untuk memanfaatkannya sebagai pijakan dalam melecut maju. 

Naluri siluman sempurna di atas gajah menyiratkan bahwa bahaya besar mengancam. Segera ia menggapai seutas kalung di bawah leher dan ia pecahkan liontin yang menggantung. Seketika tindakan tersebut diambil, formasi segel nan perkasa segera membangun wujud. Bukan sembarang formasi segel, karena pertahanan yang diberikan sangatlah digdaya! 

Kala itu terjadi, sebentuk senyuman menghias di sudut bibir Sari. Ia merentangkan tangan kanan ke sisi… yang tetiba disambut oleh jemari tangan lelaki dewasa! Entah dari mana dan bagaimana, sang empunya tiba! Sebelumnya lelaki dewasa itu berada jauh di hadapan sana, namun kini secara ajaib telah berada di tengah kawanan. Apakah menggunakan teleportasi jarak jauh…? Ataukah lorong dimensi ruang…? 

Saling menggenggam tangan satu sama lain, tubuh Sari seketika berubah mengambil wujud keris raksasa. Walau bentuk Keris Tameng Sari masih sama dengan sebelumnya, namun kini bilahnya berwarna keemasan! 

“Srash!” 

Kelebat keemasan silau memantulkan cahaya mentari. Satu tebasan semata, formasi segel yang melindungi sasaran teriris semudah silet tajam menyayat selember kertas. Tanpa perlawanan sama sekali, tubuh siluman sempurna di atas gajah ikut teriris dua! 

Kematian sang pemimpin serta-merta memutus jalinan mata hati yang mengendalikan kawanan binatang siluman. Walhasil, puluhan binatang siluman yang masih bernyawa berlarian kocar-kacir tanpa komando. Pertumpahan darah yang sia-sia sementara berhasil direda, walau raut wajah lelaki dewasa masih lara.


“Puan…,” terdengar suara menyapa. “Puan Sari…”

Perempuan berpenampilan dewasa muda yang sedang terbuai dalam kenangan bahagia di masa silam, menoleh pelan. Anak remaja yang menyapanya terlihat kikuk.

“Kau mengetahui namaku…,” tanggap Sari. “Kau menguasai Pencak Laksamana Laut… Memiliki Akar Bahar Laksamana… Jati dirimu sungguh tak biasa.”

“Ibundaku bernama Mayang Tenggara dan ayahandaku Balaputera Ragrawira. Guruku adalah Komodo Nagaradja.” 

“Jadi, pertolongan apa yang kau kehendaki…?” Tanggap Sari tiada terlalu mengindahkan kata-kata Bintang Tenggara. Bagaimana tidak, Keris Tameng Sari merupakan pendamping bagi manusia terkuat di Negeri Dua Samudera, sehingga adalah wajar bilamana Sari bersifat tinggi hati.

“Diriku memerlukan bantuan untuk melepaskan diri dari tempat ini.” Bintang Tenggara tak hendak berbasa-basi. Peluang untuk mencapai tujuan itu terbuka lebar dengan keberadaan senjata pusaka nan sangat digdaya. Oleh sebab itu, langsung saja ia masuk ke dalam inti permasalahan guna menghemat waktu.

“Kau masih terlalu muda… Bahkan dengan bantuanku, sebagai ahli Kasta Perak Tingkat 2, kau tak akan dapat mengalahkan peranakan siluman itu.”

Bintang Tenggara terhenyak. Ia menyadari akan makna di balik kata-kata perempuan dewasa muda itu. Bahwa, pada dasarnya terdapat ambang batas kemampuan bagi ahli Kasta Perak dalam menghadapi ahli Kasta Emas. Dan ambang batas tersebut tak dapat ditembus hanya dengan mengandalkan senjata pusaka. Sebagai tambahan, disadari pula Keris Tameng Sari tak dapat menampilkan kemampuan sejatinya bila berada di tangan ahli Kasta Perak. 

“Jadi, apa yang perlu diriku lakukan…?”

“Hang Tuah bertarung seringkali tanpa mengerahkan jurus persilatan maupun jurus unsur kesaktian. Ia memiliki dasar raga yang ditempa dengan latihan panjang dan berat… Katakan padaku, bukankah selama ini engkau seringkali melewati jalan pintas dalam membangun keahlian…?”


Bintang Tenggara merebahkan tubuh di sisi Lahat Enim yang sedang duduk beristirahat. Raut wajah Anak remaja itu menunjukkan kekecewaannya yang mendalam. Kata-kata Sari agaknya menyerang telak di lubuk hati paling dalam. Ia sedikit tersinggung. 

“Apakah benar tak ada peramal yang dipenjara di dalam lapas ini…?” Bintang Tenggara bergumam kepada diri. 

Lahat Enim menoleh pelan. 

“Kudengar dari perbincangan sipir, ada peramal yang dijebloskan ke Lapas Gleger…” Bintang Tenggara membalas pandangan mata lelaki setengah baya itu. 

Be’berapa tahun silam, muncul seorang ahli yang dijatuhi hukuman sebagai peramal. Ia berasal dari ujung utara Pulau Barisan Barat. Akan tetapi, tahanan tersebut telah menghembuskan napas terakhir di tangan sang Kepala Lapas…”

“Hm…? Apakah ia menjadi penantang…?”

“Benar. Tanpa persiapan sama sekali dia mengajukan diri sebagai penantang… Menurutnya, dia telah melihat tempat dan penyebab kematiannya sendiri, yaitu di Lapas Gleger dan di tangan sang Kepala Lapas…”

“Aneh sekali…” Dahi Bintang Tenggara berkedut. Dalam pandangannya, sungguh malang nasib sebagai peramal bila dapat meramalkan tentang kematian diri sendiri. 

“Tapi…”

“Tapi apa…?”

“Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia terdengar berteriak sekuat tenaga…”

“Apa yang ia teriakkan…?” Bintang Tenggara segera bangkit duduk. 

“Kata-katanya… ‘Ragaku akan sirna, namun jiwaku tak akan binasa!’ Demikian ia berteriak sebelum menjemput ajal. Semua tahanan yang menyaksikan peristiwa tersebut menganggap kata-kata terakhirnya itu sebagai lelucon belaka…”

Bintang Tenggara terkejap. Tak ada lelucon dari kata-kata tersebut. Bila sang peramal itu merupakan ahli nan digdaya, maka melepaskan jiwa dari raga merupakan sesuatu yang sangat mungkin untuk dilakukan. Ginseng Perkasa, terlepas dari kecabulannya, dapat melepaskan jiwa dari raga ketika berada di ambang kematian. 

Akan tetapi, satu pertanyaan yang sangat sulit dijawab, adalah ke mana jiwa tanpa raga itu berkelana….?



Cuap-cuap:

Gambaran ketika menuliskan Tameng, adalah sebagai berikut…

Rastaman…