Episode 396 - Pulau Kembang Nusa (10)



Pulau Kembang Nusa merupakan tempat yang unik. Sebagai pulau terpencil, pada sisi barat, timur dan selatannya merupakan Samudera Selatan nan maha luas seolah tanpa batas. Sedangkan di utara merupakan Pulau Jumawa Selatan yang oleh pemerintah Negeri Dua Samudera didirikan pula sebuah benteng pelabuhan, dengan tujuan sebagai pusat pertahanan yang tangguh untuk mengantisipasi jikalau ada serangan dan upaya pembebasan tahanan dari luar. Bersamaan dengan formasi segel yang menaungi pulau, maka dipastikan bahwa tahanan di dalamnya Penjara Pulau Kembang Nusa tiada akan dapat melarikan diri. 

Jika wilayah pulau diamati dari ketinggian, maka dapat ditemui delapan titik-titik kecil terpencar di semerata permukaannya, di mana di tengah-tengahnya pulau kemudian terdapat satu lingkaran yang besar. Titik-titik kecil tersebut tak lain mewakili delapan lapas dengan berbagai tingkatan keamanan, sedangkan lingkaran di tengah pulau merupakan lapas yang paling angker, yaitu Lapas Gleger. Dari gambaran ini, mudah menyimpulkan bahwa Lapas Gleger memiliki wilayah paling luas yang mana sebagian besarnya merupakan hutan lebat. Artinya, selain mustahil melepaskan diri dari Pulau Kembang Nusa, tempat tersebut juga merupakan wilayah paling tepat untuk… menyembunyikan diri. 

Seorang perempuan dewasa muda, berusia sekira 25 tahun, memantau keadaan. Tinggi tubuhnya rata-rata dengan perempuan kebanyakan, sementara pakaian yang ia kenakan sangatlah sederhana, yaitu kain terusan berwarna putih sedikit kusam sampai ke batas mata kaki. Yang paling mencolok, adalah rambutnya nan ikal menutupi wajah, yang mana sangat lebat dan panjang jalinan rambut sampai ke betis. Warna setiap helai rambut tersebut adalah pirang keemasan! 

Sejak beberapa saat yang lalu, perempuan dewasa muda itu berdiri di atas dahan pohon tinggi. Ia menjulurkan lengan kanan lurus ke arah depan, dengan telapak tangan yang membuka. Walau tak terlihat ada sesuatu yang berlangsung di hadapannya, tindakan yang ia lakukan itu sepertinya memiliki tujuan tertentu. Sampai di titik ini, sulit untuk menebak apakah gerangan tujuan yang hendak dicapai. 

Tetiba, dari balik jalinan rambut lebat dan pirang keemasan, sebentuk senyuman terlihat menghias di sudut bibirnya nan tipis.


Pertarungan berlangsung tangkas. Menghadapi binatang siluman yang unggul dari segi kecepatan karena unsur kesaktian angin, Bintang Tenggara dapat mengimbangi. Tentu ia tak merapal jurus unsur kesaktian petir, karena cincin Gundala Si Putra Petir disita dan dibawa pergi oleh seorang pejabat pemerintah Negeri Dua Samudera nan tiada bertanggung jawab. Akan tetapi, ledakan kecepatan Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang dari jurus persilatan Pencak Laksamana Laut sangatlah memadai.

Bintang Tenggara mengetahui bagaimana dirinya dapat terbebas dari pengaruh belenggu dan formasi segel Penjara Pulau Kembang Nusa. Adalah Akar Bahar Laksamana, tumbuhan siluman yang melilit pada mustika retak di ulu hati, yang terbangun dari tidurnya. Walaupun wujudnya sedikit kurus dari saat terakhir kali dipantau, namun kebangkitan benalu tersebut membebaskan si anak remaja untuk menebar pantauan mata hati serta memanfaatkan mustika tenaga dalam. 

Yang menjadi pertanyaan di dalam benak Bintang Tenggara, adalah mengapa tumbuhan siluman yang haus tenaga dalam itu terbangun…? Mengapa baru sekarang…? Kendatipun demikian, dirinya sementara ini mengenyampingkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena sedang terlibat di dalam pertarungan nan sengit. 

Harimau Jumawa melesat sembari menyabetkan cakar-cakar nan panjang dan tajam. Bintang Tenggara yang menyibak kembangan silat, mengelak ke samping, lantas melompat mundur ketika binatang siluman tersebut mengubah arah dan melakukan serangan susulan. 

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri!”

Seketika itu juga kekuatan pukulan dan tendangan Bintang Tenggara berlipat ganda. Peningkatan kekuatan secara mendadak ini tentu memakan tenaga dalam yang cukup besar dan berisiko bagi tubuh. Namun, berkat kondisi fisik yang tangguh dan pengalaman penggunaan, jurus persilatan ini tak lagi membebani tubuhnya. Paling banyak, ia hanya akan merasa sekujur tubuhnya pegal-pegal seusai pertarungan nanti.

Tinju lengan kanan Bintang Tenggara mendarat telak di sisi leher Harimau Jumawa. Binatang siluman itu meliuk demi mengurangi dampak hantaman, namun setidaknya setengah dari kekuatan tinju berhasil menggetarkan tubuhnya. Ia terpaksa mundur dan menjaga jarak aman. Agaknya, binatang siluman itu mulai menyadari bahwa menu makan malamnya kali ini, memiliki kemampuan untuk membangkang. 

Kendatipun demikian, binatang siluman tersebut belum hendak menyerah. Ia kembali menerkam. Di lain sisi, Bintang Tenggara yang sebelumnya senantiasa berkelit, kini menerjang maju. Keadaan ini membuat sang pemburu sedikit bingung, nalurinya mengatakan bahwa ada yang tak beres…

Terlambat! Belum sempat Harimau Jumawa menarik diri, tendangan sapuan Bintang Tenggara melibas bagian bawah leher. Kendatipun tendangan tersebut meleset dari titik di leher yang menjadi sasaran, tindakan Bintang Tenggara ini dinilai agresif sehingga membuat keadaan seolah berbalik. Peran antara pemangsa dan mangsa seketika berubah!

Menyadari kesempatan yang terbuka, di mana Harimau Jumawa terlihat kebingungan, anak remaja tersebut kembali melompat maju. Bukan untuk menyerang, namun sekedar menggertak. 

“Hraaarrgghh!” Bintang Tenggara mengaum sambil meningkatkan hawa membunuh.

Tindakan yang tiada diduga dan tiada dapat dipahami tersebut, membuat nyali Harimau Jumawa ciut. Saat terkejut, naluri tubuhnya meliuk dan melenting mundur. Ia menatap memelas mirip seekor kucing pemalu yang tiada berdaya. Tak lama berselang, ia melompat dan menghilang di balik semak belukar. 

“Apakah gerangan yang terjadi…?” Lelaki setengah baya bernama Lahat Enim berupaya bangkit berdiri. Luka cakar di paha kanannya sudah terbungkus dan mengering, namun ia terlihat menahan rasa sakit saat melangkahkan kaki. 

“Jangan sekali-kali berbuat nekat dengan mengorbankan diri sendiri!” tengking Bintang Tenggara. Derajatnya sebagai seorang bangsawan besar dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang terlihat mengemuka. 

“Ma… maafkan hamba…Yang Mulia…” Lahat Enim menundukkan kepala. Ia menyadari bahwa sebelumnya terbuai emosi sehingga mengambil keputusan sepihak yang ceroboh. 

“Sudahlah… Kita akan beristirahat di sini…” 

Bintang Tenggara duduk bersila, lantas membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk menyuling dan menyerap tenaga alam. Walaupun hanya terlibat dalam pertarungan singkat, pemakaian tenaga dalam sangat boros bahkan kini hanya tersisa sekitar dua puluh persen di dalam mustika di ulu hati. Hal ini dikarenakan tenaga dalam selain dimanfaatkan untuk melepaskan jurus, juga disedot oleh tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana secara berbarengan. Agaknya, demi membantu sang induk semang agar dapat memanfaatkan keahlian, Akar Bahar Laksamana harus terus terjaga sehingga memerlukan pasokan tenaga dalam. 

Demikian, meski dapat menebar pantauan mata hati dan mengerahkan tenaga dalam, Bintang Tenggara menyadari bahwa dirinya akan sangat kesulitan bilamana berhadapan dengan lawan tangguh atau bila bertarung dalam waktu yang panjang. Untungnya, pasokan tenaga alam di hutan tersebut berlimpah adanya, mungkin karena tak banyak pihak yang mampu memanfaatkan tenaga alam dimaksud.

Kurang dari lima menit waktu berselang, Bintang Tenggara selesai mengisi wadah penampungan tenaga dalam. Sesuai perkiraan, tenaga dalamnya terus dilahap oleh Akar Bahar Laksamana yang kelaparan. Oleh sebab itu, bila hendak terus mempertahankan kesadaran tumbuhan siluman benalu tersebut, maka dirinya wajib mengisi mustika di ulu hati secara berkala. 

Bintang Tenggara menatap lelaki setengah baya di sisinya. Lahat Enim terlihat masih sangat penasaran karena sama sekali belum memperoleh jawaban tentang mengapa anak remaja tersebut mampu memanfaatkan tenaga dalam meski masih dalam keadaan terbelenggu borgol. Akan tetapi, lelaki setengah baya itu tiada berani menyuarakan pertanyaan, terlebih karena sebelumnya ia kena tengking. 

“Diriku tiada dapat mengurai alasan sebenarnya. Akan tetapi, hal ini terjadi karena diriku memiliki sesuatu yang kiranya memungkinkan pemanfaatan mata hati dan tenaga dalam…”

Lahat Enim mengangguk pelan. Ia memahami bahwa ada rahasia yang tiada dapat diungkapkan oleh bangsawan muda dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu. Pandangannya kemudian beralih kepada sang rembulan purnama yang menggantung tinggi di angkasa raya. Pikirannya berkelana, dan raut wajahnya menunjukkan secercah harapan untuk meninggalkan Lapas Gleger.


Mentari pagi menjelang. Bintang Tenggara meramu salep luka dari bahan dasar seadanya yang ditemukan di hutan. Berkat taraf kemanjuran ramuan yang teramat tinggi, luka di paha Lahat Enim segera kering dan rasa sakitnya memudar. 

Keduanya melanjutkan perjalanan tanpa tujuan pasti. Sejumlah binatang siluman mereka temui, namun dapat dihalau dengan sedikit perlawanan. Secara berkala pula Bintang Tenggara berhenti sejenak demi menjaga pasokan tenaga dalam agar senantiasa tersedia. Hari pun beranjak malam. 

“Sesungguhnya, dengan Yang Mulia dapat memanfaatkan keahlian, maka tujuan perjalanan kita tiada berarti lagi…,” ujar Lahat Enim mengutarakan pandangan.

Bintang Tenggara mengangguk. “Pertarungan menghadapi Kepala Lapas pasti berlangsung panjang, namun bukan tak mungkin menumbangkannya. Diriku perlu berlatih dengan keterbatasan yang ada…”

Tetiba, keduanya serempak menghentikan langkah. Bukan karena mereka sudah sepakat untuk kembali, melainkan di hadapan menanti sekawanan serigala!

Terpisah jarak sekira seratus langkah, puluhan ekor jumlah mereka. Telinga para serigala berdiri tegak, hidung mereka mengendus udara dan deretan taring-taring tajam dibasahi dengan air liur yang mengalir ke sela-sela bulu-bulu kecoklatan sebelum jatuh menetes ke tanah. Tatkala kawanan itu menoleh, merinding bulu kuduk dibuatnya. 

Bintang Tenggara mengetahui betul ancaman yang disuguhkan oleh kawanan binatang siluman Serigala Bertanduk. Ini bukan kali pertama dirinya salah melangkah, namun dengan pantauan mata hati yang tajam seharusnya ia waspada akan keberadaan mereka. Sebab ingin menghemat tenaga dalam yang selalu dilahap rakus oleh Akar Bahar Laksamana, anak remaja tersebut sengaja tidak menebar jalinan mata hati sepanjang perjalanan. Sebuah tindakan yang keliru. 

Kawanan serigala perlahan bergerak menyebar dengan sorot mata tak lepas mengawasi mangsa. Sepintas, gerakan mereka menunjukkan niat mengepung, namun pada kenyataannya kawanan tersebut sedang membuka jalan. Melalui celah yang terbuka, muncul secara perlahan seekor serigala dengan ukuran tubuh lebih besar dari serigala-serigala lain, yang mana setara dengan seekor kerbau. Rambut di sekujur tubuhnya berwarna hitam dan tanduk putih di keningnya tumbuh lebih panjang. Gerakannya gemulai namun di saat yang bersamaan penuh wibawa. Setiap ia melangkah, para serigala di dekatnya menundukkan kepala. Dia adalah sang raja, yang berkuasa atas kawanan! 

Bintang Tenggara menelan ludah tatkala melirik kepada Lahat Enim. Lelaki setengah baya itu bisa berjalan, namun akibat luka yang diderita melarikan diri adalah perkara lain. Terlintas di dalam benak anak remaja tersebut, bahwa bilamana Lahat Enim hendak mengorbankan nyawa maka saat ini adalah waktu yang paling tepat. 

Sang raja serigala mendengus, dan kawanannya menaati perintah dengan bergerak mengepung. Pembawaan mereka tenang dan gerak-gerik mereka tertata rapi. Agaknya serigala-serigala ini yang merupakan salah satu penyebab mengapa tak pernah ada yang berhasil meloloskan diri dari Penjara Pulau Kembang Nusa. 

“Yang Mulia…,” bisik Lahat Enim pelan. 

Bintang Tenggara mengabaikan lelaki setengah baya itu. Benaknya sedang berputar keras berupaya mencari cara melepaskan diri dari kepungan. Tanpa Cembul Manik Astagina, maka ia tak dapat memanggil Dewi Anjani untuk meminjam golok angin Mustika Pencuri Gesit. Dengan kemampuan merapal formasi segel nan masih tersegel, pun tak kuasa ia membangun formasi segel pertahanan Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara. Bila memaksakan diri bertarung, maka dirinya hanya akan mampu menyingkirkan beberapa puluh binatang siluman, sebelum akhir dicabik-cabik.

Bintang Tenggara benar-benar kehabisan akal!

Tetiba, di atas dahan sebatang pohon tinggi, sudut mata Bintang Tenggara mendapati keberadaan sesuatu dan berwarna keemasan. Diam tak bergerak. Ketika dirinya menebar mata hati yang terpusat ke arah tersebut, maka dipastikan bahwa yang berwarna keemasan itu merupakan jalinan rambut pirang dari sosok perempuan dewasa muda yang sedang mengawasi. 

“Tolong…,” pinta Bintang Tenggara pelan. Tak ada salahnya memohon pertolongan. Dalam keadaan ini, pertolongan pihak ketiga adalah satu-satunya pilihan yang masih terbuka. 

Perempuan dewasa muda itu menjulurkan lengan kanan dengan telapak tangan yang membuka lurus ke arah Bintang Tenggara. Di kala itu terjadi, aura bernuansa kehijauan segera membungkus tubuh si anak remaja yang terkepung serigala. Selanjutnya, aura kehijauan terlihat berpendar lebih kental di ulu hati, dan menyeruak keluar layaknya memiliki kehendak sendiri. Lebih pelik lagi, aura kehijauan dari ulu hati membangun wujud selayaknya jalinan akar. Berukuran sebesar lengan orang dewasa, jalinan akar tumbuh panjang menjadi lima bagian yang menari-nari di hadapan Bintang Tengara seperti kaki-kaki gurita.

Raja serigala menatap Bintang Tenggara dan jalinan akar yang mencuat dari ulu hatinya, lalu menoleh ke arah perempuan dewasa muda dengan rambut lebat pirang keemasan di atas dahan tinggi. Mulutnya mengatup, namun taring-taring putih nan tajam terlihat kentara ketika ia menggeram. Akan tetapi, bukannya memerintahkan kawanan untuk menerkam mangsa, sang raja malah memutar tubuh dan melangkah pergi. Tindakan tersebut lantas diikuti oleh segenap binatang siluman Serigala Bertanduk yang berada di wilayah itu. 

Bayangan keemasan berkelebat dan perempuan dewasa muda mendarat sekira sepuluh langkah tepat di hadapan Bintang Tenggara. Lahat Enim langsung mengenali kelebat keemasan tersebut sebagai sosok yang pernah menyelamatkan dirinya dari kejaran amuk Kepala Lapas Gleger beberapa waktu silam. 

“Bruk!”

Tubuh Bintang Tenggara kehilangan tenaga, sehingga ia jatuh bertumpu pada satu lutut. Tenaga dalamnya hampir terkuras habis! 

“Kau menginginkan pertolongan kami…?” Suara yang keluar terdengar lembut, namun mengandung ketegasan yang menggetarkan jiwa dan raga. 

Bintang Tenggara mengangguk perlahan. Kala berhadapan langsung, anak remaja tersebut merasa dekat, bahkan seolah mengenal baik tokoh perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan itu… Bukan. Bukanlah dirinya yang mengenal tokoh tersebut, melainkan tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana yang akrab dengannya. 

Siapakah sosok perempuan dewasa muda ini…? Mengapa ia mampu berkomunikasi dengan tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana…?

“Sebutkan nama kami!” perintah perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan.

Bintang Tenggara gelapapan. Bagaimana mungkin ia mengenali seseorang yang belum pernah ditemui?

“Apa guna kepuk di ladang, kalau tidak berisi padi? Apa guna keris di pinggang, kalau tidak berani mati!?” 

Bait-bait pantun terdengar datang melalui jalinan mata hati yang berasal dari Akar Bahar Laksamana! Baru kali ini Bintang Tenggara mengetahui bahwa tumbuhan siluman tersebut memiliki kemampuan berkomunikasi. Akan tetapi, terlepas dari itu, si anak remaja pernah mendengar bait-bait pantun yang sama! (1)

“Sebutkan nama kami!”

Bintang Tenggara menengadah, memandangi perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan dengan seksama. Dengan segenap tenaga yang tersisa ia bangkit berdiri, lantas berujar… 

“Salam hormat, wahai Puan Tameng Sari.”



Catatan:

Episode 100


Cuap-cuap:

Ahli baca mana yang lancang meramal bahwa ada peramal di Pulau Kembang Nusa…?