Episode 395 - Pulau Kembang Nusa (9)



Siapa menyangka, bahwa nama lengkap Kakek Enim adalah Lahat Enim. Nama depan ‘Lahat’ mengingatkan kepada seorang lelaki dewasa muda yang menjabat sebagai salah seorang prajurit dari Kadatuan Keenam, yaitu Lahat Komering. Sosok tersebut juga merupakan anggota Pasukan Telik Sandi di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Walau Kakek Lahat Enim bukanlah merupakan anggota Pasukan Telik Sandi, pada kenyataannya ia tak pernah melepas status sebagai warga Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Sebagaimana diketahui umum, para ahli dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang tersebar di banyak perguruan di Negeri Dua Samudera. Sebagian besar dari mereka mengajar keterampilan khusus bidang segel. Demikian pula halnya dengan Kakek Lahat Enim, ia merantau dan menjadi guru keterampilan khusus bidang segel di salah satu perguruan kecil di Ibukota Rajyakarta. Ceritera hidupnya kemudian kurang mujur, di mana ia difitnah dan dijebloskan ke dalam Penjara Pulau Kembang Nusa. 

“Yang Mulia Balaputera Gara, kita harus bergegas…,” ujar Kakek Lahat Enim penuh hormat. 

Sungguh sedikit saja mengumbar jati diri dapat mengubah keadaan secara drastis, batin Bintang Tenggara. Sejauh ini ia hanya menyatakan diri sebagai anggota keluarga bangsawan dari Kadatuan Kesembilan dan penghormatan yang ia terima melambung tinggi. Bagaimana pula kisahnya bila ia mengutarakan diri sebagai sang Yuvaraja, Putra Mahkota Kemaharajaan Cahaya Gemilang…? Terlepas dari itu, sungguh pertemuan dengan Kakek Lahat Enim ini merupakan sebuah kebetulan yang teramat langka.

Yang tak Bintang Tenggara sadari, sesungguhnya ketika Lahat Enim memandang dirinya, lelaki setengah baya tersebut bukan hanya memandangnya sebagai seorang bangsawan. Diri Bintang Tenggara mengingatkan Lahat Enim akan anak didiknya yang meregang nyawa akibat kekejaman dunia persilatan. Terdapat perasaan ingin mengayomi dari sosok lelaki setengah baya itu. 

“Kemanakah tujuan kita…?” tanggap Bintang Tenggara. Matahari sudah tinggi di atas kepala, sedangkan keduanya melangkah di antara pepohonan kelapa nan menjulang tinggi seolah hendak menggapai langit. Sejak bertolak pada pagi hari tadi, Lahat Enim sama sekali belum mengungkapkan perihal arah tujuan mereka. 

“Selama diriku dijebloskan ke Lapas Gleger ini, sudah puluhan kali sang Kepala Lapas mengamuk karena tak ada penantang yang menanti di depan gerbang. Pada setiap kejadian, ia menyerang sejumlah pemukiman secara acak demi melampiaskan amarah…,” papar Lahat Enim. 

“Bukanlah dikatakan bahwa dia memang akan membantai tanpa pandang bulu bila tak ada penantang…? Apakah ada yang aneh dari perilaku tersebut…?”

“Perilaku membantainya bukanlah sesuatu yang tak biasa… Akan tetapi, ada beberapa tempat yang tak sekalipun pernah ia jangkau.”

Bintang Tenggara memperlambat langkah. Ia mencermati raut wajah lelaki setengah baya di samping secara seksama. Rasa ingin tahunya tiba-tiba bergelora. 

“Ketika Kepala Lapas mengamuk, maka hampir seluruh tahanan di dalam Lapas Gleger kocar-kacir melarikan diri. Suatu waktu, pernah sekelompok tahanan melarikan diri ke arah timur, namun peranakan siluman buas itu menghentikan pengejaran…”

“Mungkinkah ada sesuatu yang ia takuti berdiam di sana?”

“Kita tak akan pernah tahu… karena sepekan setelah hari itu, tubuh para tahanan yang melarikan diri ke timur ditemukan tak bernyawa di tempat yang berbeda…”

Bintang Tenggara memperhatikan jejak bayangan dirinya… “Tapi, tujuan kita saat ini bukan ke arah timur…” 

“Benar… Karena kemungkinan besar kita akan mati konyol bilamana melangkah ke sana…”

Rasa penasaran Bintang Tenggara berubah menjadi rasa kurang nyaman. Baru hendak ia mempertanyakan, Lahat Enim melanjutkan… “Suatu kali, diriku sendiri pernah diburu oleh Kepala Lapas. Menyadari ajal di hadapan mata, diriku hanya mampu berlari… berlari… dan terus berlari. Tanpa diriku sadari, pelarian membawa jauh ke wilayah terdalam hutan Lapas Gleger…” 

“Lantas…?” 

“Lantas diriku menyaksikan kelebat bayangan berwarna keemasan… dan di saat yang bersamaan pula, sang Kepala Lapas menghentikan pengejaran. Ia terlihat menahan diri untuk melangkah lebih jauh…”

“Jadi, sesungguhnya ada beberapa ahli yang tersembunyi di dalam Lapas Gleger, yang mana keberadaan mereka dapat membuat Kepala Lapas gentar…,” gumam Bintang Tenggara. 

“Yang diketahui pasti, salah satu dari mereka tak hendak diganggu sehingga akan mencabut nyawa siapa pun yang melangkah mendekat. Sedangkan satunya, tak sengaja berpapasan dengan diriku yang melarikan diri kala itu…”

Lahat Enim dan Bintang Tenggara mendadak menghentikan langkah. Keduanya waspada karena di hadapan mereka, di balik lebat semak belukar, terdapat sesuatu yang mengintai dalam diam…

“Mundur…,” bisik Lahat Enim sembari merentangkan lengan dan menarik langkah sangat pelan. Di saat yang bersamaan, sorot matanya tak lepas dari semak belukar di hadapan. 

Bintang Tenggara pun menyadari akan bahaya yang mengincar dari balik semak belukar. Tanpa banyak tanya, ia mengikuti kata-kata teman seperjalanannya kali ini. Berupaya agar tak menimbulkan suara dan banyak gerakan, keduanya melangkah mundur secara teratur…

“Rrrrrr…” 

Seekor binatang siluman Harimau Jumawa menapak tanpa suara dari balik semak-belukar, hanya dengus napasnya yang terdengar dan membuat bulu kuduk berdiri. Dalam posisi sedikit merunduk, terlihat sorot matanya nan tajam. Binatang siluman kali ini setara dengan ahli Kasta Perak tingkat atas dan ukuran tubuhnya hampir sama dengan seekor kuda. Cakar-cakar besar terlihat mencuat panjang dan tajam dari kaki-kaki nan kekar, yang menandakan bahwa ia sedang menjalankan peran sebagai pemburu.

Harimau Jumawa berbeda dengan Harimau Bara. Harimau Jumawa memiliki dasar unsur kesaktian angin, sehingga mengandalkan kecepatan gerak dalam melukai mangsa. Di lain sisi, Harimau Bara memiliki dasar unsur kesaktian api, yang mengutamakan kekuatan cakar panas nan dapat melibas karang dan taring yang mudah mencabik batang pohon. Demikian, secara umum masing-masing binatang siluman harimau memiliki keunggulan tersendiri.

Bintang Tenggara tentunya pernah berhadapan dengan kedua jenis binatang siluman harimau dimaksud, dan mengetahui akan bahaya yang dirinya dan Lahat Enim hadapi saat ini. Harimau Jumawa, yang sempat ditemui di dalam hutan angker Alas Roban, menyerang dengan ketangkasan dan sangat piawai memburu mangsa yang memiliki keterbatasan dalam kecepatan. Dalam kaitan ini, seorang anak remaja dan lelaki setengah baya yang terbatas kemampuan gerak akibat belenggu tahanan, merupakan sasaran empuk!

Tubuh Bintang Tenggara dan Lahat Enim berdiam kaku di tempat. Keduanya tak tahu harus berbuat apa. Terus berdiam sama artinya dengan menanti terkaman tanpa perlawanan, sedangkan melarikan diri juga akan berakhir dengan diterkam. Sementara itu, binatang siluman Harimau Jumawa melangkah perlahan mengitari mereka. Binatang siluman itu mengamati dan menanti kesempatan untuk menerkam lalu mencabik mangsa…

“Berpencar… Kelapa…,” bisik Bintang Tenggara pelan. Hanya ini satu-satunya cara menyelamatkan diri yang terlintas di benaknya, yaitu mereka berlari ke dua arah yang berbeda, lantas secepat mungkin memanjat pohon kelapa. Sebagaimana diketahui, di sekitar tempat mereka berada banyak tumbuh pepohonan kelapa nan menjulang tinggi.

Lahat Enim hanya melirik kepada sang junjungan. Ia mengetahui cara berburu binatang siluman Harimau Jumawa yang akan senantiasa melukai mangsa secara perlahan-lahan, membuat lemah, sebelum akhirnya membenamkan taring-taring nan tajam. Walaupun memanjat pohon, tak ada kepastian bahwa sang harimau tak akan ikut memanjat atau malah berupaya mencabik batang pohon. Dan yang lebih penting lagi, lelaki setengah baya itu tak yakin bahwa dirinya dapat memanjat sebatang pohon kelapa dengan cepat. 

“Dalam hitungan ketiga…,” lanjut Bintang Tenggara bersiap.

“Hop!” 

Akan tetapi, di luar perkiraan Bintang Tenggara yang baru hendak mulai menghitung, Lahat Enim mengambil inisiatif. Lelaki setengah baya itu malah melompat maju, mengantarkan tubuhnya ke arah Harimau Jumawa!

“Cepat lari!” teriak lelaki setengah baya itu ketika tampil sebagai pahlawan yang rela berkorban nyawa.

Menyaksikan mangsanya bertindak nekat, secara naluriah Harimau Jumawa mencabikkan kaki depan dengan cakar-cakar besar nan tajam ke arah tubuh lelaki kurus itu. 

“Bruk!” 

Bintang Tenggara, pun melakukan tindakan yang lebih ceroboh lagi. Bukannya memanfaatkan kesempatan yang disajikan Lahat Enim dengan niat mengorbankan nyawa, anak remaja itu malah ikut melompat maju. Ia menghantamkan bahu ke sisi tubuh Harimau Jumawa! Walau hantaman tersebut tidak memiliki kekuatan yang memadai untuk menyebabkan cedera, namun cukup bertenaga untuk membuat Harimau Jumawa terkejut dan tubuhnya sedikit bergeser. Akibatnya, cakar yang mengincar Lahat Enim meleset. Segera setelah itu, binatang siluman tersebut waspada dan melompat mundur dengan sangat cekatan. 

“Yang Mulia, apakah yang dikau lakukan!?” hardik Lahat Enim

“Diriku yang sepantasnya mempertanyakan! Apakah yang kakek pikirkan!?”

Keadaan kembali seperti semula. Seorang lelaki setengah baya dan anak remaja berhadapan dengan binatang siluman. Bedanya, saat ini terjadi ketegangan di antara lelaki setengah baya dan anak remaja dimaksud. Di lain sisi, Harimau Jumawa lebih waspada kala melangkah mengitari. Dari gerakannya, dapat dipastikan bahwa ia tak akan melepaskan menu makan siang hari ini.

“Swush!” 

Harimau Jumawa melesat sangat cepat. Bintang Tenggara sigap melompat ke samping, sedangkan Lahat Enim terlambat menghindar. Sebagaimana diketahui, lelaki setengah baya itu pada kenyataannya merupakan mantan guru keterampilan khusus bidang segel, sehingga kemampuan persilatan bukanlah keunggulan yang ia miliki. Walhasil, darah segar mengucur keluar dari luka sayatan cukup dalam pada paha kanan sisi luar…

Lahat Enim bertumpu pada satu lutut dan berupaya menutup luka dan menghentikan pendarahan tatkala Bintang Tenggara tiba di sisinya. Di saat yang bersamaan pula, Harimau Jumawa sudah melesat maju. Mengandalkan ketangkasan kembangan silat, Bintang Tenggara berupaya menepis dan membelokkan serangan. Ia memanfaatkan belenggu logam nan keras di kedua pergelangan tangan sebagai pelindung selayaknya Sisik Raja Naga. 

Binatang siluman yang mengandalkan kecepatan unsur angin beberapa kali melancarkan serangan. Sejauh ini ia hanya mampu menyebabkan luka-luka sayatan yang tak terlalu dalam di kedua lengan Bintang Tenggara. Kendatipun demikian, rasa perih cukup membuat anak remaja tersebut meringis pedih. 

“Yang Mulia, tinggalkan diriku…,” rintih Lahat Enim yang sudah tak lagi dapat berdiri tegak. “Teruslah bergerak masuk ke dalam hutan. Diriku percaya ada seorang ahli yang dapat membantu Yang Mulia menghadapi Kepala Lapas…”

Bintang Tenggara hanya melirik tanpa memberikan jawaban. Sebagaimana halnya Harimau Jumawa yang sabar melukai mangsa secara perlahan-lahan, anak remaja tersebut pun sabar menanti kesempatan untuk menjatuhkan sang pemangsa. Baginya, ini adalah pertarungan yang menguji kesabaran, sampai dengan salah satu pihak lengah. Bintang Tenggara sangat sabar. 

Sang mentari bertolak ke ufuk barat. Harimau Jumawa sudah berkali-kali merangsek, menyarangkan cakar-cakar nan menyayat tajam. Kecepatannya bertambah tinggi, sementara luka-luka di lengan dan kaki Bintang Tenggara mulai banyak mengucurkan darah. Bila tak ada perubahan berarti, maka kesabaran justru akan membuat anak remaja tersebut melemah. Di kala mentari terbenam nanti, maka Harimau Jumawa akan tampil semakin digdaya. 

“Pergilah selagi masih ada kesempatan…” Lahat Enim kembali menyarankan. Dengan kata lain, ia rela tubuhnya disantap agar bangsawan muda dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu dapat menyelamatkan diri dan meneruskan perjalanan. 

“Swush!”

Bintang Tenggara memasang kedua lengan di depan dada, namun kecepatan tebasan cakar kali ini sangat bertenaga. Ketika anak remaja tersebut terlontar mundur, Harimau Jumawa mengubah arah untuk langsung menerkam! 

Kesempatan yang dinanti akhirnya tiba! Bintang Tenggara menjatuhkan tubuh ke belakang dan membangun posisi kayang sebagai upaya mengelak. Anak remaja tersebut kemudian memanfaatkan tanah sebagai pijakan punggung, lantas melesatkan tendangan menohok lurus ke arah atas. Di lain sisi, karena terkamannya luput, posisi Harimau Jumawa kini tepat berada di atas Bintang Tenggara. Tendangan yang dilepaskan mendarat pada leher yang]terbuka lebar! 

“BUK!” 

Tubuh Harimau Jumawa meluncur melewati Bintang Tenggara. Binatang siluman itu jatuh terperosok ke dalam semak belukar. Kendatipun demikian, si anak remaja segera bangkit dan berlari tertatih ke arah Lahat Enim. Ia kembali menyibak kembangan, karena sepenuhnya mengetahui bahwa dirinya telah menyia-nyiakan kesempatan. Tendangannya disadari meleset dari titik vital sang pemangsa! 

Sesuai perkiraan, Harimau Jumawa bangkit dan kini tampil lebih waspada. Binatang siluman tersebut hanya melangkah pelan mengelilingi mangsa. Menjaga jarak aman, sepertinya ia telah memutuskan untuk menjadikan sajian makan siang sebagai santapan makan malam.

Malam hari tiba, terang bulan memberikan pencahayaan yang memadai bagi Bintang Tenggara untuk memantau keadaan sekitar. Ia tak memiliki kekuatan untuk menghalau sang harimau, namun masih cukup percaya diri untuk menepis dan membelokkan serangan. Andai saja Penjara Pulau Kembang Nusa tiada membatasi keahlian, maka anak remaja tersebut dapat bertarung satu lawan satu dalam pertarungan yang sebenarnya. 

Harimau Jumawa, di lain pihak, bersiap untuk menerkam. 

“Ini adalah akhir…,” isak Lahat Enim mengamati Harimau Jumawa. Kepedihan yang selama ini terpendam di dalam dirinya kembali mendera. Puluhan tahun silam, ia tak dapat menyelamatkan anak didik tersayang, dan kini pun tiada dapat melindungi junjungan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Perasaannya bercampur aduk, duka dan lara berbaur ketika hatinya meratapi nasib nan malang.

“A… apakah yang terjadi pada tubuh Yang Mulia!?” Tetiba kedua mata lelaki setengah baya itu terbelalak. 

Bintang Tenggara sama terkejutnya. Di bawah sinar rembulan purnama ia mengangkat kedua lengan dan menyaksikan betapa aura berwarna hijau sedang mengemuka, dan perlahan terlihat menyelimuti sekujur tubuh. Kendatipun mengetahui asal-muasal dari aura berwarna hijau tersebut, sejumlah pertanyaan mencuat di benak Bintang Tenggara. Apakah tumbuhan siluman itu terbangun…? Karena apa…? Mengapa sekarang…?

Peliknya lagi, anak remaja tersebut tetiba merasakan bahwa tubuhnya lebih enteng, serta pantauan mata hati dan mustika tenaga dalamnya dapat dikerahkan. Dengan kata lain, belenggu tahanan yang terpasang di kedua pergelangan tangan, pergelangan kaki, dan leher… tiada lagi berfungsi! 

Naluri Harimau Jumawa mengisyaratkan bahwa tiba saatnya untuk lebih waspada. Binatang siluman itu bergeser pelan, mempersiapkan diri. 

“Kakek Enim, beristirahatlah,” ujar Bintang Tenggara pelan. “Diriku akan menangani binatang siluman itu…”



Cuap-cuap:

Akhir pekan senantiasa menguras waktu, sehingga hanya mampu menghasilkan setengah episode. Demikian penjelasan yang tak seberapa.