Episode 391 - Pulau Kembang Nusa (5)



Ia merasakan tubuhnya ditandu keluar menuju wilayah terbuka. Sinar mentari yang menyengat terik membuat sulit untuk membuka kelopak mata…

Berikutnya, ia merasakan tubuh tergeletak di atas pedati yang ditarik lambat, dengan setiap guncangan yang tercipta menjalar perih di sekujur tubuh…

Bibir yang pecah-pecah, bersentuhan dengan tetesan air nan sejuk, cukup untuk sekedar membasahi kerongkongan yang kering kerontang… 

Malam hari tiba, hawa dingin merambat melalui udara. Tubuhnya nan lemah meringkuk mencoba mempertahankan agar kehangatan tiada kesemuanya dibawa pergi. Sebuah karung jerami dilempatkan ke atas tubuhnya. Gatal, namun berhasil mengusir pergi hawa nan dingin…

Kesadaran Bintang Tenggara timbul-tenggelam. Suhu tubuh nan tinggi dibarengi dengan luka-luka yang mendera sekujur tubuh membuatnya setara dengan seorang pemabuk yang kehilangan kemampuan dalam membilang jarak dan waktu. Entah berapa jauh dan berapa lama perjalanan yang ditempuh, yang pasti beberapa gardu penjagaan dilewati lengkap dengan pemeriksaan nan sangat ketat. 

“Beledar!” 

Suara halilintar membuat anak remaja tersebut terperanjat, membelakkan mata! Pandangannya kabur, namun masih cukup terjaga untuk menyaksikan formasi segel yang membatasi ruang dan waktu. Di antara ada dan tiada, berkelebat ibarat lapisan kaca tipis dan ringkih yang memantulkan cahaya, formasi segel tersebut menyibak aneka simbol dan susunan yang tak dapat dikenali… 

Apakah dirinya berada di luar Penjara Pulau Kembang Nusa, ataukah itu formasi segel yang menaungi pulau…? 

Di balik sana, antara ada dan tiada, terhampar gurun nan luas. Pusaran angin bertemu dan menyebabkan badai, halilintar bergemeretak dan memangsa apa pun yang masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Bayangan-bayangan besar menaungi daratan… Adalah patung-patung batu nan maha besar tersusun berjajar ibarat prajurit berangkat perang. Tinggi setiap satu patung seolah menopang langit. Sulit menghitung berapa jumlah patung secara akurat, karena pandangan disamarkan oleh peristiwa alam nan pelik.

“Krak!”

Perhatiannya terpusat pada wajah salah satu patung yang tetiba meretak! Dari celah merekah yang tercipta pada patung tersebut, udara nan lembab dan pengap merembes keluar. Di saat yang sama pula, semilir angin membawa suara nan sayup…

Antara ada dan tiada… Keberadaan aura yang dirasa dekat namun tak dikenal… Kesadarannya masih pasang-surut.

Tubuhnya dibopong. Kaki tiada menjejak di tanah, melainkan diseret secara serampangan melewati jalan setapak. Sepasukan ahli menjadi pengawal… Kewaspadaan tingkat tinggi… Sepasang pintu gerbang maha megah… Terbuka celah… Digeletakkan saja tubuh nan lemah… 

Hari menyongsong pagi. Ia mengangkat kepala, tepat dihadapannya adalah tanah nan keras berkerikil… Ia rebahkan kepala perlahan… Dada terasa sesak ketika menghirup debu-debu di kala tertelungkup lemah. Tak kuasa untuk sekedar membalikkan tubuh. 

“Ada pendatang baru…” 

Samar, bisikan terdengar menyapa. Bintang Tenggara lantas merasakan tubuhnya dibalikkan pelan, diamati, lantas didudukkan…

“Uhuk…” Ia terbatuk dan tubuhnya mengejang. Rasa perih yang berpangkal di rusuk menyengat ibarat sambaran petir yang merayap di sekujur tubuh. 

Bintang Tenggara membuka kelopak mata. Panas tubuhnya masih tinggi, namun terdapat selembar daun yang tergeletak sejuk di atas dahi. Tanpa perlu memandang, dari aroma dan khasiatnya, si anak remaja segera dapat mengenali daun tersebut. Daun Cocor Bebek Angsa, merupakan tumbuhan siluman yang berbentuk lebar dan tebal serta memiliki kadar air sangat tinggi. Tumbuhan siluman ini jamak dimanfaatkan untuk menurunkan suhu tubuh yang tinggi.  

Ia menyapu pandang. Kini berada di atas dipan yang beralaskan jerami dan dinaungi atap dedaunan. Sisi dalam sebuah gubuk, benaknya menyimpulkan. Tak ada yang istimewa, dindingnya merupakan jalinan batang bambu yang ditumpuk sekenanya.

“Oh…? Dikau sudah siuman…?” Terdengar suara menyapa, lantas disusul oleh seorang anak lelaki yang melompat masuk setengah berlari ke dalam pondok. Dari penampilan, maka umurnya tak lebih dari sepuluh tahun. Pada leher terdapat belenggu serta kedua pergelangan tangan dan kaki terpasang borgol tanpa rantai. 

Pandangan mata Bintang Tenggara beralih kepada kedua pergelangan lengan dan kakinya sendiri. Sama. Terdapat borgol tanpa rantai penghubung, sehingga dapat bergerak bebas. Di leher, pun terdapat belenggu, yang kesemuanya memiliki bentuk dan warna berbeda dengan saat berada di Lapas Batu maupun ruang tahanan sipir penyidik.

“Di… mana… kah…?” Suaranya serak bergetar, Bintang Tenggara masih sangat lemah. 

“Jangan dipikirkan… minumlah ini, akan membantu meredakan demam yang dikau derita…”

Bintang Tenggara membiarkan kepalanya diangkat perlahan, dan disuapi air yang berisi beberapa butir nasi lembek dari dalam centong yang terbuat dari batok kelapa. Usai kompres daun Cocor Bebek Angsa diganti, ia lantas tertidur pulas. 

Beberapa hari berlalu, dan panas tinggi yang mendera tubuh berangsur turun. Meski kesulitan, perlahan ia sudah dapat bangkit untuk duduk bersandar. “Siapakah nama dikau…?” aju Bintang Tenggara kepada anak lelaki yang belakangan ini mengurus dirinya dengan sangat telaten. 

Pertanyaan Bintang Tenggara dijawab dengan senyuman, sebelum anak tersebut keluar meninggalkan gubuk. 

Sepekan waktu berlalu. Bintang Tenggara melangkah keluar dari gubuk. Ia menyaksikan pohon besar-besar selayaknya berada di dalam hutan lebat. Hanya ada satu gubuk, dan pemiliknya tidak diketahui di mana berada. Anak remaja tersebut lantas memutuskan untuk menanti sembari berupaya menerka di mana dirinya kini berada… Apakah di dalam Lapas Geleger yang dikisahkan sebagai tahanan paling mengerikan di dalam Penjara Pulau Kembang Nusa…? Bagaimana mungkin, suasana di sekitar sangat nyaman dan tenteram. 

Hari beranjak petang. Anak penyelamat pulang. Ia kelihatan lelah. Pada tangan kiri ia membawa beberapa helai daun, sedangkan tangan kanannya menggenggam sesuatu…

“Waktunya makan malam…,” ujar anak tersebut sembari membuka kepalan tangan kanan. Raut wajahnya sumringah ketika menunjukkan butiran-butiran beras yang kotor bercampur dengan tanah kering.

Bintang Tenggara membiarkan anak tersebut mencuci beras, melemparkan beberapa bulir ke dalam bejana tanah liat, dan mulai menanak bubur. Terakhir anak itu menambahkan lembaran sayur dan makan malam pun tersaji dengan sempurna. 

“Terima kasih…,” ujar Bintang Tenggara pelan. “Terima kasih telah menyelamatkan diriku…”

Anak kecil itu mengangguk pelan, sembari menenggak bubur jatahnya. 

“Siapakah nama dikau…?”

Anak tersebut menggelengkan kepala. “Mereka memanggilku ‘bocah’…” 

“Haha… Ukh…” Bintang Tenggara hampir tergelak, sebelum perih pada kedua rusuk kembali menyengat. Beberapa saat kemudian, baru dapat ia melanjutkan… “Bocah adalah panggilan yang biasa dilontarkan kepada anak-anak… Namun siapakah nama dikau sebenarnya…?”

Bocah menggeleng kepala. 

“Namaku Bintang…” Anak remaja tersebut menempelkan telapak tangan di dadanya sendiri. Mungkin dengan ia memperkenalkan diri terlebih dahulu, maka akan lebih mudah membangun rasa percaya di antara mereka. 

“Namaku Bocah…,” ulang si anak. “Bocah Kecil Badung…” (1)

“Ha!” Terperanjat, lagi-lagi nyeri menyerang di kedua rusuknya. “Julukanmu adalah Bocah Kecil Badung… Tapi siapakah namamu yang sebenarnya…?”

“Brak!” Bocah Kecil Badung meletakkan mangkok batok kelapa keras ke atas dipan. “Itu namaku!” bentaknya kesal. 

Hari berganti hari. Berkali-kali Bintang Tenggara berupaya meminta maaf, namun Bocah Kecil Badung selalu menghindar berbicara terlalu lama. Saban hari anak itu berangkat pagi-pagi dan pulang jelang malam dengan segenggam beras kotor dan lembar-lembar sayur. Jatah makanan ini cukup bagi keduanya menjalani hari. 

Walhasil, Bintang Tenggara memanfaatkan waktu untuk menelaah ke dalam diri. Apakah sesungguhnya yang terjadi sehingga Ryan dan Ipul beserta gerombolannya meregang nyawa? Ia mencoba mengingat, namun tiada apa yang membekas. Ingatannya berakhir kepada perasaan tiada berdaya ketika ditindih, sungguh pengalaman yang jangan sampai berulang lsgi! 

Ingatannya kemudian kembali kepada pelajaran yang sempat dijalani di Perguruan Gunung Agung. Ia mengambil posisi duduk dengan gaya bersila, dan meletakkan telapak tangan tepat di atas lutut, menghadap ke atas. Punggung tegak dengan mata yang terpejam, anak remaja itu menghela dan menghembus napas perlahan. Posisi duduk ini dikenal sebagai ‘Sukhasana’ di dalam yoga. 

Langkah berikutnya adalah memusatkan pikiran dan mengatur pernapasan sealami mungkin. Setelah itu ada beberapa pilihan, misalnya mengucap mantra secara berulang, membangun citra atau penggambaran di dalam benak, atau mendengarkan suara yang bergetar di sekeliling. Bintang Tenggara memilih untuk membangun citra. Gambaran yang ia susun tak lain adalah mustika di ulu hati. Dalam pandangannya, pastilah terdapat cara untuk memanfaatkan tenaga dalam, karena bagi seorang ahli mustika di ulu hati merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tubuh. 

Lewat dua pekan waktu berlalu. Cukup kuat untuk melangkahkan kaki, Bintang Tenggara menambah kegiatan harian. Ia menelusuri wilayah hutan sekitar untuk mengumpulkan bahan dasar ramuan. Meski kesulitan meramu karena tiada dapat menebar jalinan mata hati dan mengerahkan tenaga dalam, ia tetap dapat meracik menggunakan cara tradisional. Berbekal lesung seadanya, ia meracik akar, batang dan dedaunan dengan menumbuk. Hasilnya memang kurang maksimal, namun berbekal pengetahuan Ginseng Perkasa yang membekas di benaknya, ramuan yang dihasilkan hampir setara dengan hasil peramu-peramu tingkat rendah. Demikian, tubuhnya berangsur pulih seperti sedia kala. 

Tiga pekan berlalu. Tubuh anak remaja itu sudah cukup kuat. Secara diam-diam ia membuntuti Bocah Kecil Badung untuk mencari tahu apa yang dilakukan anak itu dan di mana letak Lapas Gleger yang sesungguhnya. Akan tetapi, gerakan tubuh anak tersebut gesit sekali. Belenggu leher serta borgol di lengan dan kakinya seolah tak membatasi gerak. Bintang Tenggara, terbebani oleh berat tubuh yang berkali lipat lebih berat, tertinggal dan akhirnya kehilangan jejak. 

Terkait jati diri Bocah Kecil Badung, Bintang Tenggara sempat mengira-ngira. Kemungkinan besar, tempat di mana mereka berada merupakan sisi luar dari Lapas Gleger, karena memang dikatakan terdapat hutan lebat yang memisahkan antar lapas-lapas di dalam Penjara Pulau Kembang Nusa. Bocah Kecil Badung hidup sebatang kara di dalam wilayah hutan, dan kegiatan yang lakukan setiap hari tak lain adalah mencuri persediaan makanan dari lapas-lapas yang ada. 

Akan tetapi, kesimpulan ini memiliki sejumlah celah. Salah satunya, bagaimana mungkin anak lelaki berusia sepuluh tahun bisa berada di dalam wilayah penjara tingkat tinggi Negeri Dua Samudera…? Satu-satunya penjelasan, adalah kemungkinan di mana Bocah Kecil Badung lahir di dalam wilayah Penjara Pulau Kembang Nusa dari ibu yang merupakan tahanan. Teori ini juga menjelaskan mengapa Bocah Kecil Badung tidak memiliki nama dan dapat bergerak bebas meski terbelenggu dan terborgol karena memang terbisa sejak lahir. 

Bintang Tenggara tetiba tersentak. Benaknya berputar keras. Bila merupakan keturunan dari salah satu tahanan, mengapa pula Bocah Kecil Badung perlu dibelenggu dan diborgol…? Apa kejahatan yang ia lakukan…? Lantas, di mana sang ibu…? Teori yang sebelumnya terbangun, runtuh dengan sendirinya.

Menemui jalan buntu tentang jati diri Bocah Kecil Badung, Bintang Tenggara mengalihkan perhatian dengan menerapkan yoga. 

Genap satu purnama. Bintang Tenggara sudah menghapal jalur perginya Bocah Kecil Badung. Ia membuntuti secara hati-hati. Tak lama, membentang jauh di hadapan adalah padang terbuka. Setelah itu, terlihat tembok nan menjulang tinggi dengan sepasang pintu gerbang yang megah, lebih besar daripada yang terdapat di Lapas Batu, berdiri perkasa. 

Terlindung di balik lebat pepohonan, Bintang Tenggara mendekat perlahan ke arah padang. Kedua matanya lalu menyipit demi mengamati lebih seksama. Baru ia sadari, bahwa tepat di depan gerbang itu, tak kalah perkasa, adalah seorang lelaki dewasa bertubuh kekar yang hanya mengenakan cawat. Dengan belenggu di leher dan borgol di kedua pergelangan tangan dan kaki, dia berdiri menanti. 

“Tap!”

Bintang Tenggara hampir melompat di tempat ketika seseorang menepuk pundaknya. “Bo…”

“Ssstt…” Bocah Kecil Badung memberi isyarat agar anak remaja itu tiada bersuara atau bergerak barang sejengkal pun. Kedua matanya waspada mengamati keadaan sekeliling.

Tak lama, terlihat kelompok-kelompok tahanan muncul dari berbagai tempat di balik hutan. Secara keseluruhan jumlah mereka tak kurang dari seratus, dan serempak bergerak mendekat ke arah pintu gerbang di mana terdapat seorang tahanan yang menanti di depannya. 

“Siapa yang hendak mengantar nyawa hari ini!?” Lelaki dewasa bertubuh kekar mendengus. 

“Aku!” 

Tahanan lain terlihat merangsek maju sebagai penantang mewakili kelompoknya. Tanpa basa-basi lebih lanjut, keduanya langsung terlibat dalam pertarungan. Baku hantam lebih tepatnya, tanpa mengerahkan jurus dalam gerak dan bentuk apa pun, mereka saling adu jotos! Yang membedakan adalah naluri bertarung dan kekuatan otot. 

“Duak!” 

Sang penantang jatuh terjungkal. Lelaki dewasa yang hanya mengenakan cawat memburu. Tanpa ampun, ia mengunci leher lawan, lantas… “Krak!”

Bintang Tenggara terkesima. Sang penantang meregang nyawa. 

“Siapa lagi!” cibir lelaki dewasa bertubuh kekar.

Para tahanan lain menundukkan kepala, sembari mundur teratur. 

“Hmph! Bila demikian, sampai bertemu lagi satu purnama dari sekarang!” 

Pintu gerbang membuka perlahan. Sejumlah sipir melesat keluar. Gerakan mereka sigap memberi hormat kepada lelaki dewasa bertubuh kekar, lalu memungut tubuh si penantang yang sudah tak lagi bernyawa. Bersama dengan lelaki dewasa bertubuh kekar pula, para sipir masuk ke dalam gerbang. 

Bintang Tenggara kebingungan. Bagaimana mungkin lelaki dewasa bertubuh kekar yang secara nyata merupakan tahanan dihormati oleh segenap sipir!? Belum terjawab pertanyaannya, beberapa sipir terlihat keluar lagi dari celah gerbang. Mereka memanggul beberapa karung, dan melemparkan karung-karung tersebut ke tanah.

Pemandangan yang tersaji berikutnya adalah lebih aneh lagi. Segera setelah para sipir pembawa karung masuk dan pintu gerbang ditutup rapat, kelompok-kelompok tahanan mendatangi karung-karung yang tergeletak. Mereka membuka, lantas membagi-bagikan isinya. Pembagian tak sama rata, ada kelompok yang memperoleh dalam jumlah banyak, ada pula yang hanya beberapa centong sahaja. 

Peristiwa pembagian jatah berlangsung khidmat. Waktu berlalu, dan akhirnya mereka selesai, berpencar meninggalkan padang, dan kembali menyebar ke dalam hutan. Ketika kesemuanya telah menghilang dari pandangan, Bocah Kecil Badung mengendap-endap maju penuh kewaspadaan. Ia sabar memastikan bahwa tak ada lagi tahanan yang tersisa. 

Bintang Tenggara hanya melongo menyaksikan Bocah Kecil Badung melesat secepat kilat melintasi padang terbuka. Di hadapan pintu gerbang nan megah, anak itu berjongkok, lalu dengan seksama ia mengutip bulir-bulir beras jatah yang terjatuh dan berserakan di permukaan tanah. Bulir demi bulir…



Catatan:

(1) Diilhami dari nama Bocah Tua Nakal (Ciu Pek Tong), salah satu dari 5 Pendekar Besar Datuk Persilatan, dari seri ceritera silat “Legenda Pendekar Pemanah Rajawali” karya Jin Yong. Bocah Tua Nakal berjasa membuat Yo Ko datang ke Lembah Putus Cinta, hingga bisa bertemu lagi dengan Siauw Liong Lie alias Bibi Lung.