Episode 93 - Persimpangan Takdir



“Bagaimana pun caranya kita harus menemukan cara untuk menyingkirkan Iblis Hitam dari kota ini, atau semua rencana kita akan gagal karena dia.” Ucap Gino, pemimpin geng Joker.

“Tentu saja, selain itu kita juga harus membalaskan dendam kita.” Ucap Volta, pemimpin geng Taurus.

“Sudah aku duga, dia pasti akan menjadi duri bagi keberhasilan kita.” Ucap Cole, pemimpin geng Duri.

“Satu yang pasti, Iblis Hitam harus lenyap dari dunia ini.” Ucap Thor, pemimpin Ragnarok. Dia sangat marah karena rencana menjual organ tubuh dirusak oleh Iblis Hitam.

Karena serangan yang dilakukan oleh Polisi dan Iblis Hitam, kini aliansi dari geng-geng sedang melakukan pertemuan penting. Di salah satu sisi, seorang pria memandang mereka dengan tajam. Matanya seperti seekor burung elang yang ingin menerkam mangsanya, namanya adalah Hawk, dia adalah pemimpin geng Blue Sky.

“Diam!” ucap Hawk dengan suara yang dingin.

Sontak saja ucapan Hawk membuat mereka yang mengeluh langsung terdiam. Namun, karena mereka memiliki kedudukan yang sama dan tidak ada yang namanya pemimpin, jadi Thor merasa marah dengan apa yang Hawk lakukan.

“Bagaimana kau bisa tenang dalam situasi saat ini, penghasilan terbesar kita berasal dari penjualan organ tubuh, tapi sekarang sudah hancur karena si Iblis Hitam sialan itu!” ucap Thor dengan suara yang agak tinggi.

Volta menaikan alisnya dan berkata dengan sinis, “Apakah kau benar-benar peduli dengan aliansi kita?”

Hawk menaikan alisnya dan berkata dengan tenang. “Tentu saja, tapi mengeluh saja tidak akan menyelesaikan masalah. Kalian juga harus ingat, lawan kita tidak hanya Iblis Hitam, tapo pihak kepolisian juga.”

“Cih, dengan menggunakan uang kita bisa membeli sebanyak apapun orang-orang berseragam itu.” Ucap Thor sinis.

“Kalau begitu mereka juga bisa melakukan hal yang sama.” Ucap Hawk dengan suara yang tenang.

Ucapan Hawk barusan membuat semuanya duduk dengan tegak dan menatapnya dengan tajam.

“Maksudmu, ada pengkhianat di antara kita?” tanya Gomes, dia adalah pemimpin geng Ghost Cry.

“Aku tidak tahu, tapi coba kalian pikirkan, selain dari kita, siapa yang tahu lokasi villa itu?” balas Hawk atas pertanyaan Gomes.

“Kau benar.” Jawab Gomes pelan, kemudian dia mulai menatap tajam pada yang lainnya.

Volta menatap tajam Hawk dan berkata, “Kau tahu, apa yang baru saja kau katakan itu bisa menghancurkan aliansi ini!”

“Aku tahu, dan aku tidak menuduh salah satu dari kalian.” Jawab Hawk masih setenang sebelumnya.

“Lalu apa maksudmu mengatakan itu?” tanya Thor dengan suara yang tinggi.

“Aku percaya pada kalian, tapi tidak pada orang-orang di bawah kalian. Sebelum kita mulai membuat rencana untuk menyerang Iblis Hitam, kita harus bersihkan semua sampah yang mungkin menghancurkan rencana kita, yang artinya kita harus menghapus hama dari dalam aliansi kita terlebih dahulu.” Jelas Hawk tanpa basa-basi.

Mereka semua merenungi ucapan Hawk dan hanya ada persetujuan ketika hal tersebut dipikirkan baik-baik.

“Kau benar, tapi kita punya masalah mendesak tentang dana, setelah pendapatan terbesar kita dihancurkan, sekarang kondisi keuangan aliansi ini dalam krisis.” Ucap Thor.

“Mudah, ketika hancur, tinggal dibuat lagi saja.” Hawk menatap Thor dan kembali berkata. “Kau sudah melakukannya sekali, tidak sulit melakukannya untuk kedua kalinya, kan?” 

“Baiklah, akan aku usahakan, tapi aku butuh waktu, dan selama itu kalian semua harus memikirkan tentang bagaimana mengisi kas yang kosong.” Ucap Thor tampak menyetujui saran tersebut.

“Tenang saja, aku sudah punya rencana di kepalaku.” Ucap Hawk tenang.

“Apa itu?” tanya Volta.

“Rencanaku adalah...”

***

Danny mengenakan pakaian olahraga berwarna hitamnya, setelah mengikat tali sepatu, dia segera keluar rumah untuk melakukan latihan rutinnya. Setelah tidak lama berlatih, Danny menjadi sangat bersemangat untuk kembali melakukan rutinatas hariannya ini.

Baru 10 meter berlari, Danny teringat bahwa dia belum melakukan pemanasan, karena itu dia segera menghentikan langkah kakinya dan memulai pemanasan. 

Dimulai dengan berjalan kaki sebentar. ini penting untuk membantu dalam proses persiapan tubuh untuk melakukan gerakan fisik secara intens. Dilanjutkan dengan peregangan setiap anggota tubuh dengan perlahan, squats tanpa beban untuk menghangatkan kaki dan membuatnya siap untuk latihan dan diakhiri dengan jumping jack, dia berdua melompat tinggi-tinggi dan penuh semangat untuk meningkatkan antusiasmenya.

Setelah pemanasan, Danny segera berlari dengan irama yang teratur. Setengah jam kemudian Danny sudah berada di depan rumahnya lagi, dia telah menyelesaikan porsi latihan normalnya. Namun, semua latihan itu tidak membuat Danny sedikit pun lelah, sangat berbeda dari sebelumnya.

“Hei, Dan, entah kenapa, tapi aku merasa lebih kuat dari sebelumnya.” Ucap Danny seraya memperhatikan tubuhnya yang terlihat biasa saja, tanpa sedikit pun penambahan otot.

“Hmm, benarkah?” 

“Ya, aku telah menyelesaikan latihanku, tapi aku tidak berkeringat sedikit pun.” Balas Danny.

“Mungkin itu karena api hitam yang kau serap.” Ucap Dan santai.

“Hah? Jadi maksudmu api hitam itu membuat aku menjadi lebih kuat?” tanya Danny terkaget.

“Seperti itulah.” Balas Dan santai.

Danny tidak tahu harus bahagia atau sedih. Dia adalah orang yang sangat menikmati proses untuk menjadi kuat, tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya yang sangat senang saat ini karena telah menjadi kuat. Perasaa di hatinya sangat rumit.

Namun, setelah beberapa saat memikirkannya, Danny memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal ini. Apa yang terjadi biarlah terjadi, seperti itulah.

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Danny penasaran. 

“Lihat saja sendiri.” Jawab Dan tanpa menjelaskan.

Danny memfokuskan pikirannya dan memasuki alam jiwanya. Di sana, dia bisa melihat Dan yang memiliki tubuh bagian kirinya sedang berada di dalam kobaran api hitam yang berkobar.

“Apa yang terjadi?” tanya Danny khawatir.

“Tenang, aku hanya sedang mencoba untuk membiasakan diri dengan kekuatanku ini.” Balas Dan seraya tersenyum tipis.

“Apakah kau benar baik-baik saja?” tanya Danny ragu.

“Tentu saja, kau juga sebaiknya mulai membiasakan diri dengan kekuatanmu, jika tidak kau mungkin bisa tidak sengaja membunuh seseorang.” Ucap Dan seraya tertawa kecil.

“Hah? Apa? Benarkah?” apa yang Dan katakan benar-benar membuat Danny tercengang.

“Berisiki, jangan ganggu aku, lebih baik kau berlatih saja.”

Danny keluar dari dunia jiwa dan merenungi apa yang baru saja Dan katakan. Dia sekarang memiliki kekuatan api hitam di dalam tubuhnya, meskipun Dan bilang begitu, tapi Danny sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Karena itu, akan menjadi kekacauan besar jika dia tidak sengaja membunuh seseorang karena kekuatan itu. Apa yang lebih gawat lagi adalah dalam beberapa hari ke depan dia harus bertarung di turnamen bela diri.

Situasinya sangat mendesak, Danny tidak punya banyak waktu lagi. Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia bertekad untuk melipatgandakan porsi latihannya. Dia berlari mengikuti alur yang sebelumnya dan setangah jam kemudian dia sudah berada di depan rumahnya lagi, akan tetapi dia masih belum kelelahan juga.

Danny berpikir, mungkin saja dia bisa mengendalikan kekuatan itu setelah menggunakan sampai puncak kekuatannya. Karena itu, Danny kembali berlari. 

Ketika sampai di tepi sungai, Danny bertemu dengan kakek-kakek yang biasa mengajak jalan-jalan Jonson, anjing kesayangannya.

“Oh, sudah lama aku tidak melihatmu, sekarang kau mulai berlatih lagi.” Ucap Kakek dengan ramah.

“Haha, ya, sudah lama memang.” Balas Danny seraya tersenyum.

“Kenapa kau sendiri saja, di mana temanmu itu?” tanya kakek tersebut.

“Dia ... sedang ada urusan.” Jawab Danny dengan muram. 

“Guk Guk Guk.” Tiba-tiba saja Jonson, anjing kakek itu, menggonggong dengan keras.

Danny memperhatikan satu arah yang Jonsong pandangi dan langsung mengerti kenapa anjing itu menggonggong keras. Di sana terdapat segerombol kucing yang dipimpin oleh seekor kucing hitam di depannya.

Jonson menggeram keras pada kumpulan kucing tersebut yang dibalas dengan geraman nyaring dari mereka semua. Kakek yang mencoba menarik pergi Jonson tidak berdaya karena anjing tersebut tidak mau pergi.

Kucing hitam yang memimpin kawanan kucing itu berdiri dengan kaki belakangnya. Dia memandang Jonson dengan penuh permusuhan. 

Melihat situasinya yang cukup gawat, Danny langsung mengambil tindakan cepat, dia memukul Jonson hingga membuatnya tidak sadarkan diri.

“Kakek, cepat pergi dari sini.” Ucap Danny cepat.

“Baklah, kau juga harus pergi.” Ucap kakek itu khawatir.

“Tenang saja, aku akan baik-baik saja.” Balas Danny sambil tersenyum tipis.

Kucing hitam itu mengalihkan kemarahannya pada Danny, dia memandang Danny dengan permusuhan yang sama seperti sebelumnya.

“Manusia, aku tidak punya urusan denganmu, kenapa kau mengganggu rencanaku.” Ucap Kucing hitam itu.

Danny yakin mendengar suara sesorang, tapi dia tidak percaya bahwa itu adalah suara sang kucing hitam. Dia menoleh ke kanan dan kiri, tapi tidak melihat seseorang pun.

“Apakah kau tidak diajarkan tata krama, ketika ada yang berbicara kau harus menatap matanya.” Ucap Kucing hitam lagi.

“Apakah kau yang berbicara?” tanya Danny ragu.

“Tentu saja, kau ini benar-benar bodoh ya.” Kucing hitam tersebut memandang Danny dengan jijik.

“Apakah kau benar-benar bisa bicara?” tanya Danny memastikan.

Menurut Danny, situasi ini benar-benar aneh. Bagaimana mungkin seekor kucing bisa bicara.

“Tentu saja!” balas Kucing hitam dengan nada membentak.

“Apa? Bagaimana mungkin kucing bisa bicara?”

“Terserah saja, aku tidak peduli apa yang kau pikirkan tentangku.” Ucap Kucing hitam itu.

Danny memikirkannya dan sampai pada satu kesimpulan bahwa ini bukan sutu hal yang benar-benar aneh. Sejak kecil sudah ada jiwa yang bersarang di dalam tubuhnya, tidak akan terlalu aneh untuk kucing bisa bicara. 

“Apa yang kau rencakan?” tanya Danny waspada.

“Kami akan menguasai dunia, ha ha ha.” Balas Kucing hitam dengan tawa yang mengerikan.

Mengikuti tawa tersebut, kucing-kucing yang berkumpul di belakangnya ikut mengeong dengan keras.

“Maka aku tidak punya pilihan lain selain menghentikan ambisi gilamu tersebut.” Ucap Danny seraya memasang kuda-kuda.

“Kau pikir kau bisa mengalahkan kami semua hanya dengan dirimu sendiri? Dasar naif.” Kucing hitam berkata dengan sinis.

“Tentu saja, selama aku percaya, aku pasti bisa melakukannya.” Balas Danny penuh percaya diri.