Episode 389 - Pulau Kembang Nusa (3)



“Salam hormat, wahai Yang Mulia Putri Pinang Masak.” Seorang lelaki dewasa muda menegur santun, sembari membungkukkan tubuh. Raut wajahnya berseri dan menampilkan aura yang sangat berbeda dari adanya kebanyakan ahli. 

“Kau… adalah…?” tanggap seorang perempuan dewasa nan memiliki kecantikan jauh di atas rata-rata. Ia memutar tubuh dengan gemulai, kedua alisnya mengangkat heran. Sebagai seorang ahli digdaya yang berada pada Kasta Bumi, sungguh sulit baginya memahami bahwa lelaki dewasa muda itu dapat Datang mendekat tanpa ia sadari. Kendatipun demikian, raut wajahnya tetap tampil tenang. 

“Nama hamba adalah Khanda. Guru hamba, Balaputera Ragrawira, menyampaikan salam beliau…”

“Brak!” Tetiba Putri Pinang Masak melambaikan lengan dibarengi puntiran pergelangan tangan nan lentur, namun dampaknya membuat tubuh Balaputera Khandra terpental mundur belasan langkah! 

“Segel Syailendra: Kura-kura, Elang, Keledai, Marmut!” 

Balaputera Khandra memasang kuda-kuda dan bersamaan dengan itu empat buah formasi segel nan rumit dan unik, yang masing-masing berwujud dan berukuran sebagaimana binatang aslinya, berpendar di sisi kiri dan kanan tubuh. Kendati hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 9, berdiri di hadapan ahli Kasta Bumi nan digdaya tak membuatnya gentar barang sedikit pun. 

Jemari Putri Pinang Masak menekuk, kuku-kukunya nan indah membentuk posisi menyakar. Ia lantas mengayunkan lengan dengan gerakan dari arah bawah ke atas. Di saat yang bersamaan, guratan nan dalam tercipta pada permukaan tanah, lurus mengarah kepada Balaputera Khandra!

Formasi segel berwujud keledai melompat, berbarengan dengan kura-kura yang bergerak ke hadapan sang Guru Muda dari Perguruan Gunung Agung. Tempurung pada pundaknya kura-kura menghadang tenaga dalam murni yang mengincar, sementara sang keledai mengangkat kedua kaki belakang guna membantu sang kura-kura dalam bertahan. Walhasil, tenaga dalam yang melibas membuat Balaputera Khandra dan kedua formasi segelnya terdorong, namun sang kura-kura dan keledai masih cukup tangguh dalam meredam serangan lawan. 

Menyaksikan serangannya ditahan, Putri Pinang Masak kini melayang ringan. Ia mengangkat lengan dan membuka telapak tangan kanan. Adegan selanjutnya, ia melesat maju! 

Raut wajah Balaputera Khandra berubah kecut. Ia mengenal akan jurus yang sedang dirapal lawan sebagai salah satu jurus persilatan paling mematikan di seantero Negeri Dua Samudera. Bilamana jurus tersebut mendarat telak, maka dampak yang diakibatkan akan merusak organ-organ di dalam tubuh. Dalam keadaan terjepit, segera ia membatalkan keempat formasi Segel Syailendra sembari merapal formasi segel lain. Gerakannya demikian tangkas dan apik, tanpa membuka ruang akan kesalahan. Ia lantas menggigit ujung ibu jarinya sendiri, yang mana sebulir darah menetes pada formasi segel nan sedang dirapal…

“Segel Darah Syailendra: Rimba Candi!”

Sebagaimana diketahui, Rimba Candi adalah deretan sembilan bangunan perkasa yang merupakan benteng sekaligus pintu masuk menuju Ibukota Minangga Tamwan. Setiap satu candi merupakan milik kesembilan kadatuan di dalam Kemaraharajaan Cahaya Gemilang. Sembilan formasi segel berwujud candi nan besar-besar itu, yang hadir sebagai replika sesuai ukuran aslinya, merangkai dengan sangat cepat. Awalnya berbanjar, namun kemudian diperintah untuk berbaris demi menghasilkan sembilan lapis candi pertahanan nan maha kokoh!

Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam!

Telapak tangan Putri Pinang Masak mendarat dan memporak-porandakan candi pertama, berlanjut ke candi kedua, ketiga, sampai dengan candi ketujuh. Tak ayal, dampak yang diciptakan oleh jurus persilatan tersebut berpuluh kali lipat lebih mematikan daripada yang biasa dihasilkan oleh Kum Kecho. Akan tetapi, pada candi kedelapan gerakannya sudah melambat dan kekuatan gerakan pertama jurus persilatan Tapak Suci sudah jauh berkurang. Candi kedelapan hancur, namun pada rangkaian terakhir formasi segel, yaitu candi kesembilan, hanya menyebabkan retakan pada susunannya. 

Putri Pinang Masak berhenti di udara. Jurus warisan dari gurunya, yang tak lain adalah Sang Maha Patih sendiri, berhasil diredam. Ia memang belum mengerahkan jurus persilatan tersebut dengan sepenuh hati dan menggunakan segenap kekuatan, namun sudah banyak ahli Kasta Emas yang meregang nyawa akibat hantaman telapak tangannya itu. Kendatipun demikian, kini berdiri dihadapannya hanya ahli Kasta Perak Tingkat 9, yang mampu menunjukkan kebolehan jauh di atas rata-rata ahli sekelasnya. 

“Uhuk!” Balaputera Khandra jatuh bertumpu pada satu lutut dan memuntahkan darah. Meski berhasil meredam jurus lawan, dampak hentakan jurus persilatan itu tetap dapat merambat ke sekujur tubuhnya. Walaupun demikian, segera ia bangkit berdiri, menahan sesak di dada. 

“Oh… jadi engkau adalah Balaputera Khandra, murid jenius dari guru nan maha jenius…?” ujar rekan satu regu Mayang Tenggara itu santai, seolah tak ada kejadian berarti. “Engkau pula yang digadang-gadang akan menjadi penerus Wira…”

Balaputera Khandra berupaya tampil tenang walau berada di hadapan ahli nan digdaya. Pujian yang ia terima tak sedikit pun mengubah pembawannya, karena disadari bahwa serangan-serangan tadi hanya tindakan untuk menguji kebenaran jati dirinya.

“Dengan segala kerendahan hati, wahai Yang Mulia Putri Pinang Masak…” Balaputera Khandra menyusun kalimatnya dengan sangat hati-hati. Jangan sampai dirinya menyinggung perasaan ahli tersebut. Dalam keadaannya saat ini, maka ia sudah tak kuasa untuk menghadang gempuran lawan. “Diriku datang menghadap membawa sebuah pesan.”

“Pesan apakah gerangan…?”

“Dengan segala rasa hormat, guruku memohon agar Putri Pinang Masak tak meneruskan tindakan membunuh para Ahli Kasta Emas.” 

“Hm…? Benarkah…?”

Balaputera Khandra mengangguk cepat. 

“Atas dasar apa aku patut memenuhi permintaan Wira…?”

“Pertumbuhan keahlian belakangan ini melambat, dan oleh karenanya jumlah ahli Kasta Emas di Negeri Dua Samudera semakin terbatas adanya….”

“Wira tiada pernah berubah, senantiasa mengutamakan kepentingan negeri melampaui kepentingannya sendiri…” 

“Perihal sayembara pemilihan penguasa baru di Kerajaan Kepetangan Hari, kami menyadari bahwasanya Yang Mulia Putri Pinang Masak tak hendak menyerahkan takhta kepada pihak mana pun…”

“Aku adalah penguasa sah takhta Kerajaan Kepetangan Hari, sehingga aku tak akan meyerahkan kerajaanku kepada sesiapa pun.”

“Oleh karena itu, bila Yang Mulia Putri Pinang Masak berkenan, hamba datang menawarkan penyelesaian…”

“Bila penyelesaian yang dimaksud adalah dengan engkau ikut serta di dalam sayembara, lalu berpandangan hendak mewakili aku sebagai penguasa baru…,” sela Putri Pinang Masak, “maka walau engkau anak didik Wira, atau Mayang sekalipun, aku akan mencabut nyawamu…”

Ancaman Putri Pinang Masak di mata Balaputera Khandra bukanlah pepesan kosong. Ia menyadari betul kemampuan perempuan dewasa itu. Berada di tatanan yang sama dengan Mayang Tenggara, Cecep dan Airlangga Ananta, mereka merupakan ahli-ahli yang bertumbuh kembang di saat Perang Jagat berkecamuk ratusan tahun silam.

“Bukan, wahai Yang Mulia Putri Pinang Masak…” Balaputera Khandra berupaya tampil tenang, namu gerak-gerik tubuhnya tiada dapat mengelabui. “Hamba akan memastikan bahwa sayembara yang saat ini ditunda, agar sama sekali tiada diteruskan.”

“Bagaimana mungkin engkau mencapai tujuan tersebut…” 

“Ayahanda Sulung hamba, Balaputera Rudra, merupakan Datu Besar di Kadatuan Kesembilan serta Panglima Perang di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Diriku akan meyakinkan beliau untuk membantu menjaga keamanan dan menumbuhkan perekonomian di Kerajaan Kepetangan Hari. Dengan dukungan tersebut, rakyat di Kerajaan Kepetangan Hari tak perlu lagi khawatir akan hajat hidup mereka… Kekhawatiran rakyat inilah yang menjadi pangkal dari dilangsungkannya sayembara mencari penguasa baru…”

“Aku tak memiliki hubungan baik dengan kakek tua Balaputera Dewa… Lagipula, bukankah cara ini merupakan sebuah siasat licik agar Kerajaan Kepetangan Hari tunduk di bawah kekuasaan Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?”

“Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa telah mengasingkan diri. Kemaharajaan Cahaya Gemilang saat ini berada di bawah kendali Balaputera Wrendaha sebagai Maha Patih.”

“Hm… Aku cukup mengenal Wrendaha. Kepribadiannya unik, dan dia adalah anak didik kakekmu, Balaputera Dharanindra.”

“Benar, wahai Yang Mulia Putri Pinang Masak.”

“Apakah saran ini datang dari Wira…?”

“Benar.” Balaputera Khandra masih mencengkeram dada. Dampak serangan sebelumnya semakin terasa membebani tubuh. Sebentar lagi, bukan tak mungkin ia akan ambruk ke tanah. “Dengan demikian, Yang Mulia Putri Pinang Masak dapat kembali dalam pengasingan, serta tak perlu lagi ada korban jiwa yang sia-sia.”

Putri Pinang Masak terlihat berpikir sejenak. Sepertinya ia sedang mengaitkan satu hal dengan hal lainnya, untuk mencapai sebuah kesimpulan. Tanpa basa-basi lebih lanjut, ia memutar tubuh dan melayang pergi. 

Sebaliknya, meski tak memperoleh kata jawaban, Balaputera Khandra menghela napas panjang. Ia kemudian membungkukkan tubuh memberi hormat. Baginya, perempuan dewasa itu tak mencabut nyawanya merupakan sebuah jawaban yang nyata. 

“Swush!” 

Tetiba, dengan menggunakan teleportasi jarak dekat, Putri Pinang Masak tiba tepat di hadapan Balaputera Khandra! Lelaki dewasa muda itu terhuyung mundur tiga sampai empat langkah, terjerembab jatuh, dan jantungnya berdebar kencang!

Kepada Balaputera Khandra, Putri Pinang Masak lalu mengurai, “Dari kelompok-kelompok yang saat ini bergejolak di balik Negeri Dua Samudera… Apakah itu Pemerintah Ibukota Rajyakarta, Persekutuan Aliran Putih, Partai Iblis, atau bahkan Kekuatan Ketiga sekalipun, kesemuanya memiliki tujuan yang mudah dimaklumi. Sebaliknya, yang paling mengkhawatirkan bagiku justru seseorang yang bergerak sendiri, dengan tujuan yang tiada dapat diketahui pasti, di mana dari balik bayangan ia membangun siasat nan demikian keji…”

“Hamba hanya bertugas meneruskan pesan…,” jawab Balaputera Khandra pelan. Ia sepenuhnya menyadari bahwa kata-kata perempuan dewasa itu sedang mengacu kepada gurunya, Balaputera Ragrawira.

“Katakan kepada Wira, bahwa untuk sementara waktu aku menerima masukannya.” Perempuan dewasa itu kembali memutar tubuh. “Sampaikan pula, sesungguhnya aku menyadari bahwa ia memanfaatkan tindakanku menjagal para ahli Kasta Emas, untuk mengirimkan putra keduanya ke Penjara Pulau Kembang Nusa.”


===


“Teeeeetttttt…”

Bunyi melengking yang panjang berkumandang. Dari balik pintu gerbang besar Lapas Batu, kelebat bayangan puluhan sipir melesat ke semerata pejuru. Akan tetapi, sesampainya di salah satu ruang goa, betapa salah seorang sipir terperangah. Berupaya keras mencermati situasi dan menenangkan diri, sipir tersebut mengeluarkan dan menebar jalinan mata hati kepada sebentuk lencana. 

Pemandangan yang tersaji di hadapannya demikian mengerikan! 

Segera setelah itu, dari gerbang besar yang sama, sejumlah sipir lain melesat masuk ke dalam Lapas Batu. Dari seragam yang dikenakan dan pembawaan diri mereka, tampaknya sipir-sipir tersebut memiliki tugas yang berbeda dengan sekedar mendata jumlah tahanan. 

“Apa yang terjadi di tempat ini!” sergah salah seorang sipir yang baru tiba. Ia pun sempat terperangah.

Tanpa berkata-kata, sipir yang pertama hadir mengangkat lengan. Jemarinya bergetar ketika mengacung kepada seorang tahanan yang sedang tertelungkup di atas dipan batu. Tahanan tersebut tak lain merupakan seorang anak remaja yang baru saja siuman…

Kepala pening bukan kepalang, tindakan pertama Bintang Tenggara adalah segera memeriksa tubuh bagian bawah. Walau celananya terkoyak, ia masih mengenakan celana dalam. Ia bernapas lega ketika menyadari bahwa tak ada nyeri yang dirasa pada bagian dubur! 

Sebagaimana para sipir, betapa anak remaja tersebut terperangah ketika menyapu pandang. Sungguh mengerikan. Pada dinding sisi dalam ruang goa yang tak terlalu luas itu, terdapat cipratan merah segar. Sedikit ke bawah, terduduk bersandar tubuh-tubuh yang bersimbah darah! Tiga lelaki dewasa, dengan lubang-lubang sebesar kepalan tangan yang menganga di dada dan perut! Dapat diperkirakan bahwa ketiga tubuh tersebut terlontar sebelum ditembus oleh sesuatu. 

Bintang Tenggara dapat mengenali ketiga tubuh tak bernyawa itu! 

Akan tetapi, sebelum bisa bernapas lega, anak remaja tersebut sontak beringsut ke sisi. Ia kini menyaksikan bahwa di sampingnya, terdapat batang tubuh dan kepala yang hampir terpisah! Pada bagian leher, yang seharusnya terdapat belenggu, menganga sebuah lubang. Itu adalah jasad Ipul! 

Masih kebingungan di atas dipan, lantas Bintang Tenggara melompat mundur. Pada permukaan lantai di hadapan, di tengah kolam darah, terlentang batang tubuh lelaki dewasa yang cukup ia kenali. Sedangkan wajahnya, tengkorak kepalanya, berhamburan tiada dapat dikenali! Apa pun itu yang mencabut nyawa Ryan, melepaskan serangan berkekuatan besar dari bawah dagu ke arah atas kepala!

“Tangkap dia!” sergah salah seorang sipir kepada rekannya. Bersamaan mereka kemudian membekuk Bintang Tenggara dan membawanya pergi! 

“Katakan bagaimana engkau menjagal kelima tahanan tersebut!?”

Hari telah beranjak siang. Duduk di atas bangku, dalam sebuah kurungan besi, Bintang Tenggara sedang diinterogasi. Kini ia tak hanya mengenakan belenggu yang melingkar di leher, melainkan juga borgol berantai di pergelangan tangan dan kaki. 

“Aku tak tahu…”

“Bagaimana caranya engkau dapat mengerahkan tenaga dalam…? Jurus apa yang engkau rapal…? Mengapa engkau menjagal kelima tahanan tersebut…?”

Pertanyaan datang bertubi, namun anak remaja itu tak memiliki satu pun jawaban. Ingatan terakhirnya adalah keadaan tak berdaya sebagai mangsa tindakan pencabulan. Saat itu ia berupaya mengerahkan tenaga dalam, namun tiada kuasa karena terhalang belenggu. Masih terngiang di dalam benak, betapa mengerikannya pengalaman saat itu… Oleh sebab itu, setiap pertanyaan yang diajukan sipir penyidik, pun ingin ia mengetahui jawabannya… 

“Buk!” 

Bogem mentah melayang dan mendarat tepat di wajah Bintang Tenggara! Tubuhnya terpelanting ke belakang. Belum sempat ia menghela napas, tendangan susulan mendarat di perut, pinggang dan pundak. Ia meringkuk melindungi diri, menahan derita, sebelum akhirnya pingsan akibat rasa sakit yang mendera. 

“Byur!” 

Guyuran seember air nan dingin membangunkan anak remaja tersebut. Ia terbatuk-batuk karena air masuk ke dalam rongga hidung membuat sulit bernapas. Tak hanya perih dan nyeri, kini tubuhnya kedinginan…

Salah seorang sipir penyidik membantu dirinya berdiri, hanya untuk menyarangkan pukulan dan tendangan. Tersandar pada jeruji kurungan, napas tersengal ia berupaya menjaga kesadaran.

“Mengapa engkau menjagal kelima tahanan tersebut!? Bagaimana caranya engkau mengerahkan tenaga dalam!? Jurus apa yang engkau rapal!?”

Pertanyaan-pertanyaan yang sama diajukan berulang, namun Bintang Tenggara masih tak memiliki jawaban. Hari telah beranjak malam, dan akhirnya ia ditinggal seorang diri. Sekujur tubuh memar dan lebam, serta basah kedinginan. Sungguh baru kali ini ia merasakan derita yang teramat sangat. Dalam keadaan nestapa, benaknya melayang pada kehidupan damai tanpa keahlian di Dusun Peledang Paus. 

Ia terlelap di lantai batu nan keras dan dingin.

Pagi hari tiba, dan jeruji besi pada kurungan berderak. Tiga sipir melangkah masuk. Tanpa basa-basi, mereka segera menyuguhkan hidangan pembuka pada pagi hari ini. Dua di antara mereka mengangkat tubuh Bintang Tenggara, sedangkan yang ketiga berkali-kali menyarangkan tinju ke rusuk!

“Akh!” pekik Bintang Tenggara ketika tulang rusuk sebelah kanan retak. Tubuh kehilangan tenaga, berdiri pun tiada kuasa.

Dua sipir penyidik mendudukkan anak remaja tersebut ke atas bangku dan menahan tubuhnya agar tak lunglai jatuh ke lantai. Sipir penyidik ketiga lantas menjenggut rambut dan mengangkat paksa kepalanya…“Kau tak perlu menjalani penderitaan ini. Mengaku sajalah…”

“A… ir…,” rintih pilu anak remaja itu. 

“Buk!” Satu lagi tinju mendarat telak di perut Bintang Tenggara. Ia roboh di tempat dan hilang kesadaran.  

Ketiga sipir penyidik saling pandang. Agaknya mereka baru tersadar bahwa belum sempat menjalankan tugas interogasi. Mendapati bahwa si tahanan sudah jatuh pingsan, mereka lantas meninggalkannya begitu saja. Pandangan mereka senada, kecuali malam nanti dia meregang nyawa, masih ada hari esok.