Episode 388 - Pulau Kembang Nusa (2)



Bertolak belakang dengan namanya yang memberi kesan sejuk dan indah, Pulau Kembang Nusa sesungguhnya merupakan penjara tingkat tinggi dan paling ditakuti di Negeri Dua Samudera. Ia terletak di wilayah pantai utara bagian tengah Pulau Jumawa Selatan. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa pulau ini merupakan momok tersendiri bagi dunia keahlian. Kengerian yang disajikan dalam bentuk penjara mampu membuat para ahli untuk tak berbuat sesuka hati dalam menekuni keahlian.

Satu-satunya cara menuju Penjara Pulau Kembang Nusa ini, wajib melalui perjalanan laut menaiki perahu khusus. Perahu tersebut pun hanya berlayar satu kali dalam sehari. Sebagai tambahan, tidak terdapat balai gerbang dimensi ruang di dalam wilayah pulau. Formasi segel yang menaungi pulau berperan menghalangi siapa pun merapal dan membuka-tutup lorong dimensi ruang. Lencana komunikasi tiada dapat digunakan karena sinyal pengiriman pesan diacak sedemikan rupa.

Dalam hal penjagaan dan pengamanan, para pengawal di Penjara Pulau Kembang Nusa dikenal sebagai ‘sipir’. Para sipir merupakan ahli-ahli pilihan dari seantero Negeri Dua Samudera. Kepiawaian mereka dalam menelusuri jejak dan membungkam tahanan tiada dua. Kendatipun demikian, bukanlah kasta dan tingkat keahlian para sipir yang membuat bulu kuduk bergidik, melainkan sikap yang keji dan tak pandang bulu dalam menangani para tahanan. Bahkan, banyak beredar kisah-kisah di mana para sipir diriwayatkan senang menyiksa sekedar untuk mengisi kejenuhan hari.

Sebagai tambahan, di seantero pulau dan di perairan sekitarnya, hidup menetap berbagai jenis binatang siluman nan buas. Bahkan, dikatakan tersembunyi sejumlah binatang siluman yang memiliki kemampuan setara dengan ahli Kasta Emas! 

Berkat formasi segel yang mengelilingi, sipir yang handal, serta binatang siluman yang membangun habitat; maka tak pernah tercatat ada tahanan yang berhasil meloloskan diri dari penjara tingkat tinggi ini!

Seorang anak remaja melangkah pelan. Pakaian yang ia kenakan longgar dengan warna serba hijau, karena merupakan seragam wajib. Ia menempati salah satu dari sembilan tingkatan di Penjara Pulau Kembang Nusa, yang dikenal dengan nama lapas. Tergantung dari jenis kejahatan dan hukuman yang dijatuhkan, para tahanan menempati lapas-lapas dengan tingkat keamanan yang berbeda-beda. Secara berurutan, nama-nama lapas tersebut adalah Lapas Batu, Lapas Besi, Lapas Kembang Kuning dan Lapas Permisan yang berada di lingkar luar pulau. Para tahanan yang berdiam di empat lapas tersebut adalah mereka yang menjalani masa hukuman kejahatan berat. Empat lainnya, yaitu Lapas Nirbaya, Lapas Karang Tengah, Lapas Limus Buntu, Lapas Karang Anyar, merupakan tempat bermukim tahanan dengan hukuman kejahatan sangat berat, berat sekali. Lapas terakhir, yang dinamai Lapas Gleger nan paling angker merupakan penjara bagi tahanan yang pasrah menanti hukuman mati!

Anak remaja itu tak lagi dihambat borgol yang mengunci pergelangan tangan serta pergelangan kaki, namun digantikan dengan sebentuk belenggu logam yang melingkar ketat di leher. Dibandingkan dengan borgol yang diimbuh dua lapis formasi segel, belenggu leher tersebut lebih canggih denga tiga lapis formasi segel. Dua lapisan pertama mirip dengan borgol, yang mana memperkuat daya tahan pada logam bahan dasarnya, agar tak mudah dipatahkan atau dibuka paksa, serta membatasi keahlian dengan mengaburkan jalinan mata hati dan membatasi aliran tenaga dalam dari mustika di ulu hati. Sebagai tambahan, belenggu leher memiliki satu lagi lapisan formasi segel, yaitu yang berfungsi membuat tubuh berkali lipat lebih berat! 

Senada dengan borgol, maka belenggu leher tersebut berperan membatasi gerak, mencegah pemakainya melarikan diri, serta membangun pesan nestapa bahwa hak untuk hidup bebas telah dicabut paksa. 

Satu purnama sudah waktu berlalu. Seperti biasa, Bintang Tenggara memulai hari dengan berjalan-jalan di wilayah dalam lapas. Tak jarang ia berlari-lari ringan untuk mereganggkan otot-otot yang kaku. Di saat berkegiatan itu pula, kedua matanya terus-menerus mencari celah. Tentu berlama-lama dibui bukanlah pilihan jangka panjang. 

Anak remaja tersebut menempati lapas paling ‘ringan’, yaitu Lapas Batu. Sesuai namanya, lapas tersebut ibarat sebuah benteng raksasa dengan tembok menjulang tinggi yang merupakan susunan batu alam nan besar-besar. Pada sisi dalamnya tembok batu adalah kamar-kamar, atau lebih tepatnya ruangan-ruangan mirip goa batu, sebagai tempat tinggal para tahanan. Di bagian tengah lapas, terdapat hamparan lantai batu yang luas dan tandus tanpa pepohonan sama sekali. Kendatipun demikian, terdapat sebuah kolam berukuran sedang sebagai sumber air bersih. Suasana demikian dingin dan kaku.

Kendatipun demikian, keadaan di tempat itu terbilang tenteram. Belenggu yang melingkar di leher menghalangi para tahanan memanfaatkan mustika tenaga dalam di ulu hati sehingga memiliki keterbatasan untuk berbuat onar. Tiada satu tahanan yang dapat mengerahkan jurus-jurus unsur kesaktian dan jurus-jurus persilatan. Oleh karena itu, hanya keadaan raga yang baik yang membedakan antara satu tahanan dengan tahanan lainnya. 

Kesulitan menebar jalinan mata hati karena dihalang oleh formasi segel nan digdaya di atas sana, pun membuat Bintang Tenggara tiada dapat menjalin komunikasi dengan Ginseng Perkasa. Kendatipun demikian, dapat ia merasakan betapa puluhan pasang mata senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya. Ibarat kawanan harimau yang lapar, mereka sabar menanti kesempatan terbuka atau menunggu waktu di mana mangsa sedang lengah. 

“Bulian, bila terus-menerus bermalas-malasan, maka tubuh dikau akan lemah…” Sembari melangkah, Bintang Tenggara melongok ke dalam salah satu kamar goa nan remang. Tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata nan memandang kosong. Agaknya, gairah hidup telah menguap keluar dari raga nan tiada daya. Bulian Tungkal memejamkan mata, lalu memutar tubuh menghadap tembok batu nan dingin.

“Hei, bocah!”

Suara menyergah datang dari lima atau enam tahanan yang melangkah garang ke arah Bintang Tenggara. Kesemuanya lelaki dewasa, dan dari gerakan dan otot-otot di sekujur tubuh, terlihat jelas bahwa setiap satu dari mereka sudah sangat terbiasa dengan belenggu di leher. Bahwasanya, tambahan berat tubuh yang berkali lipat sudah bukan lagi sebuah kendala.   

“Kurang ajar! Sejak tiba di lapas, tak sekalipun engkau menyambangi kami!”

“Kau kira ini di mana!? Hah!?”

“Wahai Tuan Ahli sekalian, mohon maaf atas kelancangan diriku…,” jawab Bintang Tenggara ringan. 

Salah satu dari tahanan tersebut, seorang lelaki dewasa dengan tubuh paling besar dan kekar, melangkah maju. Ia merentangkan sebelah lengan ke sisi, sebagai tindakan mencegah teman-temannya yang hendak merangsek maju. Setelah mengamati Bintang Tenggara dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, kelopak matanya menyipit. Ia lantas berujar ramah, “Siapakah nama dikau…?”

“Bintang…”

“Namaku, Ryan…,” tanggap lelaki dewasa itu cepat. Sebentuk senyuman tipis menghias sudut bibirnya. “Begini, Dek Bintang, kami sudah mengamati sejak kedatangan dikau satu purnama yang lalu…” 

“Hm…?”

“Sebagaimana Dek Bintang mungkin ketahui, terdapat ratusan tahanan di dalam Lapas Batu ini. Mereka saat ini sedang menanti dan menakar jati diri Dek Bintang. Bagi tahanan baru, perundungan dapat menimpa kapan saja dan perkelahian senantiasa memakan korban. Di lapas ini, hukum rimba berlaku.”

“Yang kuat memangsa yang lemah…,” tanggap Bintang Tenggara cepat.

“Betul. Oleh karena itu, demi mencegah hal-hal yang tak dikehendaki, para penghuni lapas bahu-membahu untuk saling melindungi…”

“Oh…? Bergabung dalam kelompok…?”

“Tak hanya itu, dikau sebaiknya bergabung dalam kelompok yang tangguh!” Ryan melontar pandang kepada rekan-rekan yang bersiaga di kedua sisi. Ia mengangkat alis kepada mereka, sebagai upaya menunjukkan bahwa bersama-sama mereka merupakan kekuatan yang tak dapat dipandang sebelah mata. 

“Terima kasih atas undangan, Tuan Ryan,” tanggap Bintang Tenggara cepat. Ia pun memutar tubuh dan melangkah pergi, karena menyadari bahwa sebentar lagi…

“Teeeeetttttt…”

Tetiba, terdengar bunyi melengking yang panjang membahana. Raut wajah segenap tahanan yang berada di pekarangan Lapas Batu sontak berubah kecut, segera mereka berupaya bergerak secepat mungkin. Demikian pula dengan Bintang Tenggara, yang melompat masuk ke dalam kamar goa di mana Bulian Tungkal masih tergolek lemah. 

Bunyi sirine tersebut merupakan petanda bahwa para sipir akan masuk ke dalam lapak dan melakukan pemeriksaan pagi. Bila mereka memergoki ada tahanan yang masih berkeliaran di pekarangan, maka tak ragu dan tak sungkan para sipir tersebut akan melampiaskan amarah. Pemukulan adalah ganjaran yang jamak dijatuhkan. Pemeriksaan rutin ini berlangsung dua kali dalam sehari, yaitu di saat sang mentari terbit dan di saat terbenam. Selain itu, terdapat pula pemeriksaan mendadak tanpa sirine, yang dapat terjadi kapan saja secara acak.  

Sebuah pintu besar membuka perlahan. Dari celahnya, kelebat-kelebat bayangan berhamburan cepat dan menyebar ke semerata penjuru. Puluhan jumlah mereka, mengenakan pakaian bernuansa biru muda… Para sipir menyisir!

“Bintang dan Bulian!” sergah seorang sipir yang tiba di mulut goa. Sorot matanya tajam, namun tiada menunjukkan emosi. 

“Hadir…” Bintang Tenggara melangkah pelan mendatangi. 

“Hadir!” Tanggapan Bulian Tungkal penuh semangat ketika ia berdiri dan tertatih menghampiri petugas pemerikasaan. Saat berhadapan dengan sipir penjara, adalah satu-satunya keadaan di mana gairah hidup kembali terpancar di raut wajah remaja tersebut. Ia masih berharap bahwa seorang sipir akan membawa kabar kebebasan, bahwa kesalahpahaman yang sempat terjadi telah menemukan titik terang.   

“Sudah genap satu purnama…,” ujar sipir tersebut dengan nada datar sembari memutar tubuh. “Kalian sebaiknya lebih waspada…”

Keesokan harinya, Bintang Tenggara melakukan rutinitas yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Setelah mengelilingi wilayah dalam Lapas Batu, tiada sedikit pun dapat ia menemukan celah. Tembok-tembok batu teramat kokoh layaknya tebing nan tebal pada gunung tinggi. Tanpa kemampuan mengerahkan mustika tenaga dalam dan merapal jurus persilatan dan kesaktian, tantangan yang tersaji semakin berlipat ganda. Padahal, lapas yang ia tempati ini hanyalah tingkatan pertama dari sembilan yang terdapat di dalam Penjara Pulau Kembang Nusa. 

Benaknya anak remaja itu berputar keras… Apakah benar tak ada yang pernah berhasil meloloskan diri…? Dari mana dapat disimpulkan bahwa melarikan diri merupakan upaya yang mustahil…? Setidaknya, pasti ada yang pernah mencoba namun gagal, lantas pelajaran apa yang dapat dipetik dari kegagalan tersebut…?

Sesampainya di ruang goa, kembali ia menyaksikan Bulian Tungkal yang tergolek lemah tanpa hasrat hidup. Bintang Tenggara lantas memutar haluan, mengunjungi salah satu goa di tempat lain. 

“Oh… Dek Bintang… Apakah dikau telah mengambil keputusan dan hendak bergabung ke dalam kelompok kami…?”

“Tuan Ryan, ada yang hendak diriku tanyakan…”

“Panggil saja diriku Ryan, kita semua di sini setara…” Lelaki dewasa itu menyapu pandang kepada seorang rekannya yang juga berada di tempat itu. 

“Ryan, apakah dikau pernah mendengar ceritera tentang tahanan yang berupaya melarikan diri…?” Bintang Tenggara langsung masuk ke dalam pokok pembahasan kunjungannya. 

“Ada banyak kisah, namun kesemuanya berujung kegagalan…” Ia lantas mempersilakan Bintang Tenggara menempati susunan batu yang dirangkai sedemikian rupa, sehingga terlihat layaknya sebentuk dipan. DDari ukuran, dapat kiranya dipan tersebut ditempati oleh tiga atau empat orang. 

Beberapa kisah tentang upaya melarikan diri lantas disampaikan oleh Ryan. DAlam pandangan Bintang Tenggara, kisah-kisah tersebut merupakan tindakan bunuh diri belaka. Ada yang mendaki tembok batu nan tinggi pada malam hari, namun gagal karena tertangkap basah. Ada pula yang berupaya menggali lubang pada tembok batu, namun tiada sengaja mengaktifkan formasi segel. Ganjaran yang diterima atas kegagalan-kegagalan tersebut senantiasa sama, yaitu menjadi samsak bagi para sipir, sebelum akhirnya meregang nyawa! 

Keesokan harinya, Bintang Tenggara kembali mendatangi goa kediaman Ryan. Ia berharap menemukan kisah-kisah tahanan yang lebih bermakna, atau setidaknya dapat diterima oleh nalar sebagai sebuah upaya melarikan diri yang dipikirkan dengan matang dan dijalankan dengan kesiagaan.

“Jadi, pernah beredar sebuah ‘legenda’ tentang seorang tahanan yang hampir berhasil melarikan diri…” Ryan menempati tempat duduk persis di sisi kanan Bintang Tenggara. “Ipul, bukankah dikau mengetahui lebih jauh tentang kisah tersebut…?”

“Jadi…,” Rekan Ryan yang bernama Ipul segera mengambil tempat duduk di atas dipan, tepat di sisi kanan Bintang Tenggara. “Ratusan tahun silam…”

Diapit di antara dua lelaki dewasa itu membuat Bintang Tenggara merasa kurang nyaman. Kendatipun demikian, yang menjadi pusat perhatiannya adalah pelajaran yang dapat dipetik dari setiap kegagalan. 

Pagi hari ketiga, Bintang Tenggara mengulangi kunjungan. Dalam perjalanan, ia merasakan semakin banyak tatapan mata yang mengawasi. Sebagian, bahkan secara terang-terangan terlihat menggunjingkan dirinya. 

“Pernah ada yang menggali terowongan…,” ujar Ipul sembari bergeser mendekat. Tubuh Bintang Tenggara Tenggara kini dihimpit oleh Ryan dan Ipul. Di hadapan, tiga rekan mereka yang lain ikut mendengarkan. 

“Dek Bintang, usahlah berpandangan untuk melepaskan diri dari tempat ini…” Ryan berujar dengan ketulusan hati. Di saat yang sama, ia mengulurkan lengan dan menggenggam jemari Bintang Tenggara. 

Si anak remaja sontak menarik tangannya! Namun, tetiba Ipul merangkul pundak, sembari berujar, “Walaupun di tempat ini dingin, dapat kiranya kita saling menghangatkan diri…” Wajahnya demikian dekat, napasnya terasa berhembus di sisi pipi Bintang Tenggara.

Mendengar kata-kata dan menyaksikan gelagat kedua lelaki dewasa tersebut, Bintang Tenggara sontak melompat bangun. Sungguh sangat tak pantas perbuatan mereka itu! 

“Dek Bintang, dikau sangatlah tampan. Bergabunglah bersama kami, niscaya dikau akan lebih betah di tempat ini.”

“Terima kasih atas bantuan selama beberapa hari ini. Diriku memohon undur diri…”

Di kala Bintang Tenggara memutar tubuh, tiga lelaki dewasa lain sontak menghalangi!

“Dek Bintang, kami menerima kunjungan dikau dengan tangan terbuka…” 

Belum sempat Ryan menyelesaikan kata-katanya, Bintang Tenggara sudah mendorong ketiga ahli di hadapan.

“Tahan dia!” perintah Ipul. 

Ketiga lelaki dewasa sontak menyergap Bintang Tenggara. Karena keterbatasan dalam menggunakan mustika di ulu hati, anak remaja tersebut tiada dapat melepaskan jurus-jurus. Namun, ia masih cukup sigap untuk berkelit ke samping. 

“Buk!” 

Sebuah tinju kait mendarat telak di perut, dan disusul dengan tendangan sapuan kaki yang membuat tubuh jatuh terjungkal ke lantai batu. Kejadian ini berlangsung demikian cepat, hanya dalam beberapa kedipan mata sahaja!

“Angkat dia, cepat bawa kemari!” perintah Ryan. 

Bintang Tenggara merasa tubuh yang tak bertenaga diangkat dan dilemparkan ke atas dipan. Perasaannya cemas, bahkan sangat takut sekali!

“Balikkan tubuhnya! Cepat!”

Tubuh si anak remaja nan malang ditelungkupkan. Ia mencoba meronta, namun terdapat dua lelaki dewasa yang masing-masing mengunci lengan dan menekan punggung di kiri dan kanan. Tubuh bagian atas terhenyak pada dipan, namun kedua kakinya masih berupaya menendang-nendang walau tanpa sasaran pasti. 

“Hap!” 

Lelaki dewasa ketiga bersama Ipul sigap menangkap masing-masing kaki si anak remaja. Gerakan mereka cekatan dan dengan mudahnya mengunci tendangan tak terarah, sebuah petanda bahwa tindakan yang sedang mereka lakukan bukanlah kali pertama berlangsung. 

“Buka celananya! Cepat!” Terdengar perintah datang dari Ryan. “Aku sudah tak tahan!”

Suasana berubah nestapa, Bintang Tenggara nan malang tiada pernah membayangkan bahwa dirinya akan menjadi korban tindak kejahatan asusila. Ia merasakan betapa celananya dibuka paksa, dikoyak! Meski terjepit, ia lantas memaksakan diri untuk menghentakkan tenaga dalam sebagai upaya terakhir untuk melepaskan diri. Akan tetapi, akibat keberadaan formasi segel Penjara Pulau Kembang Nusa, malah hentakan balik yang menyengat tubuh dan membuat kesadarannya memudar. Di saat itu, pendengarannya menangkap dengus napas yang menderu karena hendak segera melampiaskan nafsu…