Episode 92 - Takdir Kembali Berputar


Danny memegang surat dari Rito, dia berjalan menuju tempat tidurnya lalu duduk di tepi kasur. Dengan perlahan Danny membuka surat tersebut dan melihat selembar kertas yang berada di dalamnya. Kertas itu dilipat beberapa kali, tapi tidak butuh waktu lama bagi Danny untuk membukanya.

Pada awalnya Danny sangat terkejut setelah mendengar bahwa nenek Rito meninggal, lalu secara tiba-tiba Rito pergi dari rumahnya dan hanya meninggalkan sebuah surat untuknya. Danny merasa bersalah karena di saat sahabatnya sedang terpuruk dia tidak ada di sampingnya.

Isi dari surat itu cukup singkat.

“Jangan khawatir, aku pasti akan kembali setelah urusanku selesai.” 

Saat melihat pesan yang singkat itu Danny bisa membayangkan ekspresi wajah Rito ketika mengatakan kalimat tersebut. Akhirnya Danny hanya bisa mengela nafas dan melipat kembali kertas tersebut dan menyimpannya rapi ke dalam laci. 

Seperti yang Rito katakan, Danny tidak perlu khawatir, karena pada akhirnya Rito pasti akan kembali setelah semua urusannya selesai. Danny percaya pada sahabatnya.

Danny keluar dari kamar setelah mendengar panggilan dari Ibunya. Dia bergegas menuju meja makan dan duduk di hadapan Ibunya. Seperti biasanya, mereka akan makan malam bersama, sebuah kebiasaan yang sangat Danny rindukan.

Menu empat sehat lima sempurna tersaji di atas meja makan dan membuat Danny sangat bersemangat. Sudah lama sejak dia bisa makan. Sebuah hal sederhana akan tetapi sering terabaikan.

Setelah muak dengan rasa kosong, hampa, dan sepi, akhirnya Danny bisa mengetahui seberapa berharga sesuatu ketika hal tersebut menghilang dari hidupmu.

“Ibu sehat, kan?” tanya Danny setelah melihat lingkaran hitam di mata Ibunya.

“Oh, sehat kok, Ibu Cuma kurang tidur aja akhir-akhir ini. Oh, ya, bagaimana hubunganmu dengan Alice?” Ibunya cepat merubah topik pembicaraan.

“Kami Cuma teman.” Balas Danny cepat.

“Haha, tidak apa-apa kok, Ibu sangat setuju kalau kamu pacaran dengan gadis cantik itu.” Tawa hangatnya seolah topeng untuk menyembunyikan sesuatu.

“Mana mungkin dia suka sama aku.” 

“Hehe, dia itu suka sama kamu.” Kini, senyum misteris terukir di wajah cantik Ibunya.

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Intusi wanita.” Balas Ibunya dengan senyum yang lebih lebar.

Lagi-lagi intuisi wanita. Danny tidak habis pikir, kenapa wanita suka sekali menggunakan intuisinya ketimbang mencari fakta yang sesungguhnya. Meskipun begitu, Danny juga agak takut dengan intuisi Ibunya yang hampir selalu benar. 

Lalu, apakah Alice benar-benar menyukainya? Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin. Danny menepis kemungkinan itu, bagaimana mungkin pria yang dicap aneh disukai oleh dewi di sekolahnya. 

Meskipun sikap Alice padanya sangat jauh berbeda dari yang lainnya, tapi Danny yakin itu karena Alice memang baik kepada semua orang, bukan hanya dirinya. Karena itu Danny berpikir bahwa julukan Dewinya memang sangat tepat di sandingkan padanya.

Tapi, kembali ke poin utama, Danny sangat tahu bahwa ‘intuisi wanita’ milik Ibunya sangat baik dan jarang meleset.

 Lalu, jika begitu...

Keesokan harinya, setelah sarapan, Danny segera berangkat ke sekolah seperti biasanya. Meskipun Danny tahu dia tidak memiliki teman lagi setelah Rito pergi dan Raku sudah membuat pertemanan dengan banyak orang lainnya, tapi Danny tetap bersemangat untuk pergi ke sekolah.

Setelah sampai di kelas, Danny segera meletakan tasnya dan melihat ke sekeliling kelas. Banyak teman sekelasnya sedang bercanda dan tertawa, ada juga dari mereka yang sedang bermesraan. Suasana santai ini sangat melegakan bagi Danny.

Tidak lama kemudian seorang gadis cantik masuk ke dalam kelas, kedatangannya di sambut oleh sapa teman-teman kelasnya dengan semangat. Tidak perlu ditanyakan lagi, dia adalah sang Dewi Sekolah, Alice.

Setelah membalas sapa mereka, Alice mengalihkan pandangannya pada Danny, kebetulan sekali pada saat itu Danny juga sedang melihatnya, kedua mata mereka saling bertatapan untuk beberapa saat lalu sebuah senyum merekah di wajah gadis cantik itu, Alice menganggukan kepalanya kemudian berjalan menuju kursinya.

Danny kembali mengingat perkataan Ibunya dan kemudian mengingat debaran yang baru saja terjadi selama dia dan Alice saling menatap. Itu perasaan yang sangat aneh bagi Danny, dia sama sekali tidak tahu perasaan apa itu, akan tetapi dia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya setelah melihat senyum yang memesona tadi.

Tidak lama kemudian bel berbunyi, tanda pelajaran akan segera dimulai. Danny membuang jauh kebingungannya tentang apa yang terjadi pada dirinya ketika dia saling tatap dengan Alice. Jujur saja, setelah melewati banyak pelajaran, Danny mau tidak mau harus berlari kencang untuk mengejar ketertinggalannya.

Malam sebelumnya Danny sudah mempelajari sedikit pelajaran yang dia tinggalkan, akan tetapi jelas dia jauh dari teman sekelasnya. Meskipun Danny tidak terlalu pintar, tapi dia tidak mau tertinggal terlalu jauh.

Saat Danny memperhatikan pelajaran yang sedang diterangkan, jujur saja Danny agak kesulitan untuk memahaminya, itu karena dia tidak memiliki dasar yang kuat untuk bisa mengerti.

Seperti sebuah bangunan, tidak mungkin kau bisa membuat rumah yang tinggi dan besar tanpa pondasi yang kuat. Ketika dasarnya sangat rapuh, bangunan tersebut pasti akan runtuh bahkan sebelum selesai dibangun. 

Itulah situasi yang sedang dia hadapi saat ini.

Melihat situasinya ini, Danny tidak habis pikir pada anak-anak yang sering membolos pelajaran, apakah mereka sama sekali tidak khawatir tentang masa depannya? Meskipun masa depan tidak bisa diukur dengan seberapa baik nilai dari pelajarang di sekolah, tapi ilmu adalah pondasi untuk masa depan yang cerah.

Baru setelah jam pelajaran berakhir Danny bisa menarik nafas lega. Mencoba memahami sesuatu yang tidak diketahui dasar ilmunya sangat sulit. Setelah guru yang memberikan pelajaran keluar, teman-teman sekelasnya beriringan pergi ke kantin.

Pada jam istirahat ini Danny tidak memaksakan dirinya untuk belajar, dia ingin mengistirahatkan otaknya dengan membaca majalah tentang senjata yang lama tidak dia sentuh. Dia sangat bersemangat untuk mengetahui perkembangan terbaru dari senjata atau hal yang berhubungan dengan militer.

Baru saja Danny membuka halaman pertama, dia langsung terpana oleh pistol elegan berwarna hitam.

“Apa itu?”

Tanpa menoleh ke arah suara itu Danny langsung menjelaskannya.

“Ini adalah G2 Elite, senjata keren buatan Pindad, pistol berkaliber peluru 9 mm yang mampu menampung 15 peluru. Oh, ya, pistol ini dirancang menggunakan single action, jadi hentakan yang dihasilkan dari letusan pelurunya lebih halus.”

Alice berdiri seraya tersenyum simpul ketika melihat Danny sangat bersemangat ketika menjelaskan.

“Selain itu, pengunci pelatuk pistol G2 memiliki dua sisi, jadi bisa gunakan oleh orang kidal. Juga, kau pasti bertanya-tanya kenapa senjata ini dinamakan G2, kan? Sebenarnya ini bukan singkatan, tetapi memiliki arti sesuai penyebutannya. Jika menggunakan bahasa Indonesia, maka disebut Ge-dua, akan tetapi jika dilafalkan dengan bahasa Inggris maka akan menjadi Jee-Two, yang kemudian dikaitkan dengan bahasa Indonesia menjadi jitu, alias akurat dan tepat. Dari sanalah nama ini berasal.”

“Oh, sangat menarik ya.”

“Tentu saja.” Ucap Danny lalu menoleh ke arah samping. 

 Lagi, Danny dan Alice saling bertatapan untuk beberapa saat sebelum akhirnya Danny tersadar.

“Oh, maaf, aku terlalu semangat ketika membicarakan tentang senjata.” Ucap Danny terburu-buru.

“Ya, aku tahu.” Balas Alice dengan senyum yang semanis madu.

Tiba-tiba seorang gadis masuk ke dalam kelas Danny. Meskipun ekspresi marah jelas tertulis di wajahnya, tapi tetap tidak bisa menghilangkan kesan cantiknya. Gadis itu adalah Angel. Dia berjalan dengan cepat menuju arah Danny dengan langkah keras yang membuat ‘harta’ di dadanya sedikit naik turun. 

Hari ini Angel menggunakan seragam olahraga, dan karena celana yang dia pakai sedikit ketat, hal itu membuat pantat bulatnya menjadi pemandangan indah bagi pria yang melihat dari belakangnya.

Angel menarik tangan Danny dengan paksa, menghiraukan Alice yang ada di samping.

“Ikut aku!” ucap Angel dengan marah.

Tentu saja Danny tidak akan mengikuti perintahnya, dia sedikit melawan dan berkata. “Apa maumu?”

Angel mengerutkan dahinya dan menarik Danny lebih kuat. “Ikut saja, ada yang ingin aku bicarakan!”

Akhirnya Danny mengikuti Angel dan kemudian sampai lah mereka berdua di belakang sekolah, sebuah tempat sepi yang biasa digunakan siswa-siswi untuk melakukan hal-hal nakal. 

Pikiran Danny melayang tak tentu arah dan banyak skenario ‘nakal’ bermain dalam imajinasinya. Tapi sesaat kemudian dia langsung menghentikan fantasi anehnya dan bertanya pada Dan tentang siapa sebenarnya gadis itu.

“Namanya Angel, orang yang membawaku masuk ke turnamen bela diri.” Jawab Dan.

“Lalu apa yang kau lakukan padanya? sepertinya dia sangat marah padamu.” 

“Mana aku tahu.” Jawab Dan.

Danny di dorong ke tembok, Angel yang berdiri di depannya meletakan tangannya ke samping kepala Danny. 

Dari jarak yang sangat dekat ini ‘harta’ Angel hampir menyentuh Danny, aroma parfumnya juga membuat Danny merasa seperti sedang mabuk, bibir berwarna merah mudanya terlihat sangat seksi dari jarak yang sangat dekat. 

Skenario nakal kembali dimulai dalam fantasinya.

“Kau masih tidak mau bicara?” tanya Angel sambil menatap tajam Danny.

“Hmm ... aku harus bicara apa?” Danny sangat bingun dengan situasi yang sedang dia alami saat ini.

“Berikan aku penjelasan kenapa kau tidak datang kemarin!” ucap Angel dengan tegas.

“Aku ... ketiduran.” Danny tidak tahu harus berkata apa dan akhirnya menggunakan alasan yang paling sering dia gunakan.

“Oh, kau pasti tidur sangat nyenyak, kan.”

“Ah, iya.” 

“Huhh...” Akhirnya Angel hanya bisa mengela nafas untuk meredam kemarahannya. “Untuk pertandingan selanjutnya kau harus datang, jangan sampai tidak. Meskipun kau mendapatkan pengurangan poin karena tidak hadir, tapi kau pasti akan lolos ke babak berikutnya jika memenangkan sisa pertandingan lainnya.”

“???” kebingungan Danny bertambah setelah mendengar apa yang Angel katakan.

“Oh, iya.” Angel mengeluarkan sebuah foto dari kantung celananya, setelah melihat foto itu Danny langsung terkejut dan mencoba meraihnya, tapi Angel dengan sigap mundur lalu menyimpannya kembali. “Aku akan menyebarkan foto ini jika kau tidak masuk ke babak berikutnya.”

Angel tersenyum jahat lalu pergi meninggalkan Danny.

“Namanya Angel bukan?”

“Ya.”

“Sangat tidak cocok dengan kepribadiannya.”