Episode 386 - Tersangka



Bintang Tenggara bersama dengan orang upahannya, si pemandu wisata, meneruskan perjalanan. Langkah kaki anak remaja itu sedikit melambat, sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. 

Sang mentari baru saja bangkit, sinarnya demikian hangat mengusir pergi kabut dingin nan turun demikian tebal. Malangnya, jalinan kabut nan dingin tidaklah berwarna ungu… Sungguh sangat disayangkan. 

“Haaachim!” 

“Apakah Tuan Bintang baik-baik saja…?” Bulian Tungkal terlihat khawatir. 

“Tiada mengapa…,” tanggap Bintang Tenggara kepada sang pemandu wisata sembari menyeka cairan kental yang merembes di lubang hidung. 

“Suhu tubuh Nak Bintang cukup tinggi,” sela Ginseng Perkasa yang selama ini berdiam diri. 

“Hanya sedikit radang selaput lendir,” tanggap anak remaja itu cepat. Ia menyembunyikan kenyataan bahwa kepalanya pening dan sekujur tubuh pegal linu sejak bangun dari tidur pada subuh hari tadi. Tentu sangat memalukan bagi seorang ahli bilamana lemah terhadap serangan penyakit ringan seperti pilek. 

Segera Bintang Tenggara mengeluarkan sebuah botol berukuran kecil. Di dalamnya berisi cairan kental yang berasal dari dunia paralel lain. Berwarna keemasaan, cairan kental tersebut diolah dari intisari bebunga nan segar memekar, sehingga memiliki banyak sekali manfaat yang baik bagi tubuh. 

Akan tetapi, sebelum anak remaja tersebut menyeruput isi botol, sang Maha Maha Tabib Surgawi kembali bersuara, “Apakah Nak Bintang tak menyadari perubahan pada cairan tenaga dalam belakangan ini…?”

Bintang Tenggara segera menebar mata hati kepada mustika tenaga dalam di ulu hati. Ia menyaksikan betapa cairan kental keperakan di dalamnya sedikit lebih mengkilap dibandingkan sebelumnya. Terakhir hal sedemikian terjadi adalah saat berada di dalam dimensi dunia Goa Awu BaLang, yang diakibatkan oleh terlalu sering menenggak Madu Imperium. 

Walhasil, anak remaja tersebut mengurungkan niat dan kembali menyimpan botol kecil tersebut. Bila saat ini ia menyeruput Madu Imperium, tentu penyakit pilek yang mendera akan berangsur sirna. Akan tetapi, dampak sampingnya adalah kemungkinan mustika tenaga dalamnya akan menerobos ke Kasta Perak Tingkat 3. Bilah hal tersebut terjadi, maka ia akan terpaksa meluangkan waktu demi memusatkan perhatian untuk merangkai mustika tenaga dalam yang baru. 

Bagi banyak ahli, kesempatan seperti ini pada umumnya disambut dengan suka cita, namun tidak dengan Bintang Tenggara. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk naik tingkat keahlian karena sedang berada di dalam wilayah hutan di mana kawanan Bajing Loncat berkeliaran. Bila berada dalam keadaan tiada berdaya, maka akan sangat membahayakan diri sendiri!

Menahan hidung yang berlendir, suhu tubuh tinggi dan kepala pening, Bintang Tenggara memaksakan diri untuk terus bergerak. Tak beberapa lama kemudian, mereka melintasi sebuah bukit. Di baliknya, kedua remaja kemudian memperlambat langkah. 

Di hadapan mereka, kini membentang padang rumput nan luas. Belasan kereta kuda menanti dalam susunan melingkar layaknya membangun jalinan barikade nan kokoh. Formasi segel pun dirapal mengelilingi sedemikian rupa demi menambah kekuatan pertahanan. Melewati baikade, tepat pada bagian tengah, berdiri tiga buah kemah berukuran kecil yang mengelilingi sebuah kemah di pusatnya, yang besar ukuran dan mewah penampilan. 

“Berhenti!” Tetiba terdengar suara menghardik kepada dua remaja yang sedang mengitari dan mengamati wilayah perkemahan tersebut. Tiga prajurit yang sedang bertugas ronda di luar batas kereta kuda terlihat galak bak anjing yang gemar menyalak kepada sesiapa saja yang melintas di depan rumah tuannya. Berada pada Kasta Perak, ketiganya kemudian melesat dan mencegat. 

“Sebutkan jati diri kalian…?”

“Tuan Ahli, kami berasal dari Bandar Kepetangan Hari. Kebetulan melintas karena sedang dalam perjalanan menuju Pekan Tua, ibukota dari Kerajaan Indera Giri.” Bulian Tungkal memberikan jawaban tanpa menyembunyikan barang satu apa pun.

Ketiga prajurit ronda membusungkan dada dan semakin memajang wajah nan garang. Padahal, di balik lagak tersebut, sesungguhnya mereka menyembunyikan kegugupan. Gertakan merupakan sebuah teknik sederhana yang lazim diterapkan oleh kebanyakan ahli yang hanya bermodalkan kemampuan seadanya. Tiga prajurit yang bertugas ronda ini adalah satu contoh yang paling nyata. 

Ketiganya mencermati kedua remaja dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. 

“Empat ahli Kasta Emas yang mengikuti sayembara di Bandar Kepetangan Hari telah meregang nyawa, apakah kalian mengetahui akan hal ini…?” aju prajurit ronda pertama.

“Sungguh kami hanya mengetahui tentang tiga ahli Kasta Emas yang meregang nyawa. Baru kali ini kami mendengar tentang adanya korban keempat…,” jawab Bulian Tungkal.

“Keterangan yang kami peroleh…,” prajurit ronda tersebut berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Terdapat dua remaja yang senantiasa berada di dekat tempat kejadian perkara.”

“Para pembunuhan pertama, di saat kedua ahli Kasta Emas sedang bertarung, dua remaja tersebut terlihat berkeliaran di dalam wilayah pertarungan…,” timpal prajurit ronda kedua. 

Prajurit ronda ketiga lantas meneruskan, “Pada kejadian pembunuhan ahli Kasta Emas ketiga, ada saksi mata yang menyatakan bahwa terdapat dua remaja yang bukan merupakan peserta rombongan kereta yang membawa korban. Sedangkan pada pembunuhan ahli Kasta Emas keempat, diketahui pula terdapat dua remaja yang mendekati penginapan di mana korban berada, namun mereka malah berkemah di dekat penginapan yang menjadi tempat pembunuhan tersebut…”

“Apakah kalian merupakan kedua remaja dimaksud…?” sergah perajurit ronda pertama di saat memperoleh kesempatan. 

“Benar,” tanggap Bulian Tungkal lurus. “Namun, sungguh keberadaan kami di tempat-tempat tersebut merupakan kebetulan semata.”

“Jadi, engkau hendak mengatakan bahwa kalian tiada memiliki niat buruk…? Bahwasanya kalian bukanlah kaki tangan pembunuh bayangan yang ditugaskan memata-matai dan mencari celah…? Demikian…?”

Bulian Tungkal mengangguk cepat. 

Ketiga prajurit, yang diketahui berada pada Kasta Perak, tetiba memasang kuda-kuda! “Lantas, mengapakah rekanmu sedari tadi hanya berdiam diri…? Bila tak ada yang disembunyikan, mengapa pula tubuhnya berkeringat dingin!?”

Rekan yang berkeringat dingin, yang segenap ahli baca kenal sebagai Bintang Tenggara, sejak subuh hari memang sedang kurang enak badan. Panas tubuhnya beranjak tinggi, dan adalah normal bilamana tubuh beradaptasi dalam menjaga suhu dengan mengeluarkan bulir-bulir keringat. Keringat bukan disebabkan oleh kegugupan yang berlebihan, melainkan karena sebagai gejala demam… 

“Rekanku memang sedang kurang enak badan!” tanggap Bulian Tungkal cemas. “Mohon izinkan kami melintas dan meneruskan perjalanan…”

“Agar supaya kalian dapat melaporkan keadaan kepada tuan kalian!?”

“Ikut dengan kami secara baik-baik, atau jangan salahkan bilamana kami menggunakan kekerasan!” Ketiga prajurit ronda mengambil selangkah maju.

“Sungguh ini adalah kesalahpahaman belaka…” Bulian Tungkal berupaya keras meyakinkan. “Kami… kami…”

“Sudahlah, Bulian…” Bintang Tenggara menepuk pundak rekan seperjalanannya itu. “Kita turuti saja kehendak mereka… Kita tidak bersalah, dan lebih baik menepis kecurigaan ini agar tidak berlarut-larut…”

Walhasil, Bintang Tenggara dan Bulian Tungkal digelandang memasuki wilayah perkemahan. Kedua tangan terikat di depan, mereka menuju salah satu dari tiga kemah yang mengelilingi kemah utama.

“Lapor, Kapten!” Prajurit ronda pertama menyerahkan tahanan mereka. “Dua remaja ini berperilaku mencurigakan di luar!” 

Seorang lelaki bertubuh kekar, dengan penampilan gagah, terlihat membelakangi. Ia kiranya sedang mengamati secarik kertas lebar di atas meja. Memutar tubuh, sorot matanya langsung mengamati kedua remaja. “Lantas…?” ujarnya tegas. 

“Ciri-ciri mereka cocok dengan gambaran dua remaja yang diketahui senantiasa berada di tempat kejadian perkara pembunuhan ahli Kasta Emas!” 

“Siapa nama kalian…?”

Sang pemandu wisata mengambil setengah langkah maju, kemudian membungkukkan tubuh. “Yang Terhormat Tuan Ahli, hamba bernama Bulian Tungkal. Teman seperjalanan hamba bernama…”

“Bintang!” potong anak remaja itu cepat. Sengaja ia tak memberi nama belakang, karena tak hendak sepenuhnya mengumbar jati diri. 

“Apa pembelaan kalian…?” 

“Yang Terhormat Tuan Ahli, benar kami berada di tempat-tempat di mana para Ahli Kasta Emas terbunuh. Akan tetapi, kejadian itu adalah kebetulan semata. Kami sedang dalam perjalanan dari Bandar Kepetangan Hari menuju Pekan Tua.”  

Sang kapten menyipitkan mata. Tanpa berbasa-basi, ia memutar tubuh dan membelakangi. Mengamati secarik kertas lebar di atas meja, ia meraih pensil, lalu menggores menyilang beberapa kali. Terakhir, ia menarik garis lurus. 

Bintang Tenggara mencuri pandang. Ia menyaksikan bahwa lembaran kertas di atas meja merupakan peta wilayah tersebut. Bahwasanya sang kapten menandai tempat dan waktu pembunuhan yang sejalan dengan jalur perjalanan yang dirinya dan Bulian Tungkal tempuh. Sederhana, sekaligus membuktikan bahwa kedua remaja tersebut tiada bersalah. 

“Lapor, Kapten!” Seorang prajurit lain menghampiri. 

“Bagaimana keadaan di Bandar Kepetangan Hari…?”

“Para tetua di Kerajaan Kepetangan Hari mencurigai ada di antara peserta sayembara yang mengupah pembunuh bayaran untuk menyingkirkan peserta lain. Mereka akhirnya memutuskan untuk menunda sayembara sampai ditemukan titik terang.”

“Ditunda…?”

“Kapten… Kapten…” Seorang prajurit yang lain lagi berlari tergopoh. “Seorang petugas penyidik dari Ibukota Rajyakarta telah tiba!” 

“Bawa mereka pergi!” Sang kapten menyergah kepada ketiga prajurit ronda, yang serta merta menggelandang kedua remaja pergi. “Geledah barang bawaan mereka!” 

Di saat yang bersamaan, sudut mata Bintang Tenggara mendapati seorang ahli yang dikawal oleh setidaknya lima prajurit melangkah tegap menuju ke tempat di mana sang kapten berada. Penampilannya kurus tinggi dengan kulit putih mendekati pucat, berusia sekira 30an tahun. Sejenak, tatap mata keduanya bertemu. 

Siang hari tiba, kemudian beranjak petang. Kedua remaja ditempatkan di dalam salah satu kereta yang dikunci dan dilindungi oleh formasi segel. Beberapa prajurit jaga bersiaga di sisi luar. Setengah hari sudah waktu berlalu, namun keduanya belum kunjung dibebaskan. 

“Mengapa kita masih ditahan…?” Bulian Tungkal meringis. “Tak ada satu pun bukti yang menunjukkan bahwa kita terlibat dalam pembunuhan keempat ahli Kasta Emas.”

Bintang Tenggara, di lain sisi sedang duduk bersila sembari memusatkan perhatian. Ia memanfaatkan waktu yang tersedia untuk mengalirkan tenaga dalam secara cermat melalui aliran darah. Perlahan namun pasti, tubuh yang didera penyakit mulai membaik. 

“Creekkk…”

Pintu kereta kuda di sisi belakang membuka pelan. Seorang ahli melangkah masuk. Tubuhnya yang kurus tinggi terpaksa sedikit membungkuk. Di bawah bayangan, wajahnya terlihat unik, dengan sepasang mata yang besar dan belok, lekuk hidung mancung mirip paruh beo, dan pipi cekung. Ia adalah pejabat penyidik yang sebelumnya bertemu muka dengan sang kapten.

“Bulian Tungkal dan Bintang…?” Ia merendahkan tubuh dan menekuk sebelah lutut. Kedua matanya nan besar mencermati kedua remaja. “Perkenalkan… namaku Johar dan bertugas menyelidiki kasus pembunuhan empat ahli Kasta Emas.” 

“Benar, Tuan!” Penuh harap, si pemandu wisata bertumpu pada satu lutut. 

“Aku memiliki beberapa pertanyaan…,” ujarnya pelan. Ia kemudian mengeluarkan buku catatan kecil yang pada sisinya tersemat sebuah pensil. “Benarkah kalian berada di tempat kejadian perkara sebelum dan atau di saat pembunuhan ahli-ahli Kasta Emas berlangsung…?”

“Benar, Tuan. Namun sungguh kami hanya kebetulan melintas.”

“Kebetulan me..lin..tas…,” ulang si penyidik sembari menggores pensil dengan cepat. 

“Kalian berasal dari Bandar Kepetangan Hari dan sedang menuju Ibukota Pekan Tua, benar demikian…?”

“Benar, Tuan.”

“Kalian penduduk Bandar Kepetangan Hari…?”

“Benar, Tuan.” 

Johar si penyidik melirik kepada Bintang Tenggara, yang belum sekalipun menjawab pertanyaan. 

“Diriku berasal dari Pulau Paus…,” tanggap anak remaja itu. 

“Pulau Paus di wilayah tenggara…?”

“Benar.”

Johar kembali menulis di buku catatannya.

“Apakah tujuan kalian di Pekan Tua…?”

“Diriku adalah pemandu wisata, Tuan. Bintang hendak menggunakan gerbang dimensi di sana..?”

“Oh… apakah barena balai gerbang dimensi di Bandar Kepetangan sedang sangat sibuk…?”

“Benar, Tuan.”

“Lantas, mengapa tak bertolak ke Rimba Candi, bukankah jarak tempuh ke sana sedikit lebih dekat…? Mengapa memilih Pekan Tua…? Sebagai pemandu wisata, sudah sepatutnya dikau mengetahui hal ini…”

Kedua remaja terdiam. Bulian Tungkal hanya menjalankan permintaan tamunya, sedangkan Bintang Tenggara melarikan diri dari Rimba Candi, namun tiada dapat mengungkap kenyataan tersebut. 

“Sungguh diriku sedang berlibur di Pulau Barisan Barat. Tujuan pertama adalah Rimba Candi, lalu ke Bandar Kepetangan Hari. Tujuan terakhir adalah mengunjungi Pekan Tua sebelum kembali ke kampung halaman,” jawab Bintang Tenggara membangun alasan. 

“Hm… Soal itu… dikau memiliki dua cincin Batu Biduri Dimensi… Isi di dalamnya pun tak tanggung-tanggung jumlahnya…”

“Hamba adalah putra seorang saudagar,” tanggap Bintang Tenggara Penuh percaya diri. “Jikalau Tuan tiada percaya, silakan menghubungi Tuan Malin Kumbang… Niscaya beliau akan bergegas datang menjemputku.”

“Oh… Tuan Malin Kumbang sang saudagar senjata kaya raya nan terkenal itu…?”

“Benar.”

“Coba kuluruskan sebentar…,” lanjut si penyidik sembari membaca ulang catatannya. “Dikau adalah putra saudagar besar dari Pulau Paus dan sedang dalam perjalanan wisata di Pulau Barisan Barat. Tempat-tempat yang telah dikau kunjungi adalah Rimba Candi dan Bandar Kepetangan Hari, kemudian tujuan terakhir adalah Pekan Tua…”

Bintang Tenggara menjawab dengan anggukan. 

“Sebagai seorang anak saudagar yang membawa banyak kepingan emas, dikau cukup rendah hati dengan menempuh perjalanan tanpa pengawal dan tak menyewa kereta kuda…,” selorohnya pelan.

“Diriku hendak menyelami seluk-beluk kehidupan secara langsung, bukan dari atas kereta kuda yang dikawal ketat…”

“Baiklah… Sementara itu saja…” Johar si penyidik bangkit berdiri. “Bila tak ada kendala, kalian akan dibebaskan esok pagi…”

“Mengapakah sampai menunggu esok pagi…?” 

“Sebentar lagi malam tiba… daripada menempuh perjalanan dalam gelap dan terpaksa berkemah lagi, bukankah tempat ini lebih baik…? Makanan pun akan disajikan…”

Kedua remaja saling pandang. Kata-kata si penyidik ada benarnya. Terlebih bagi Bintang Tenggara, karena berkemah terbukti membuat tubuhnya terserang penyakit.

Sang mentari pagi merangsek melalui sela-sela jeruji kereta kuda. Tubuh Bintang Tenggara sudah jauh lebih baik. Mungkin ia memang perlu sedikit beristirahat setelah kelelahan melarikan diri dari Rimba Candi dan kejaran kawanan Bajing Loncat.

Tak lama, pintu kereta kuda terbuka. Kedua remaja menuruni anak tangga pendek. Mereka disambut oleh sang kapten dan si penyidik. Tidak hanya kedua tokoh tersebut, namun juga puluhan prajurit yang bersiaga mengelilingi kereta kuda di mana mereka ditahan sejak sehari sebelumnya. 

Tetiba, Bintang Tenggara memperoleh firasat buruk!

“Srek!” 

Sejumlah prajurit merangsek maju. Kesemuanya berada pada Kasta Perak tingkat tinggi, secepat kilat mereka membekuk kedua remaja nan lengah. Bahkan Bintang Tenggara terlambat bereaksi ketika kedua lengannya dibekuk, lalu tubuhnya dibanting dan dihenyak ke tanah. Dalam satu kedipan mata, kedua remaja dibuat bungkam tiada berdaya! 

“Aku tak tahu bagaimana caranya kalian mengirimkan pesan,” sergah si kapten penuh amarah. “Akan tetapi, pada subuh tadi pembunuh bayangan kembali menjagal satu lagi ahli Kasta Emas!” Sang kapten mengacungkan jemari telunjuk kepada kemah besar nan megah di tengah. Tak ayal lagi, ia bersama pasukannya bertugas menjaga salah seorang peserta sayembara. 

“Atas dasar keterangan saksi-saksi beserta bukti-bukti yang ada, maka dengan ini aku menetapkan kalian sebagai tersangka kaki tangan pembunuh bayangan. Aku akan menyeret kalian ke meja persidangan di Ibukota Rajyakarta!” titah si penyidik.?