Episode 384 - Pertemuan


Tiga ahli melangkah tegap penuh percaya diri. Pembawaan setiap satu dari mereka tenang ketika berbaur dengan khalayak ramai. Namun, di balik sikap yang sedemikian, sungguh benak mereka penuh dengan kesiagaan. Jati diri setiap satu ahli tersebut tiada dikenali, apalagi dengan topi caping lebar yang sengaja dikenakan demi menyembunyikan wajah. 

Ketiganya memasuki wilayah pasar yang sibuk dengan kegiatan bongkar-muat barang dan tawar-menawar antar saudagar. Dari gelagat mereka, sangat jelas bahwa kegiatan perekonomian bukanlah bagian dari ketertarikan. 

Siang hari ini ketiganya baru saja tiba di kota itu. Walau bukan penduduk setempat, mereka sangat mengenal seluk beluk pasar itu. Mereka menapak masuk ke lorong yang berkelok-kelok, menelusuri jalan setapak mencapai tempat tujuan. Tak lama berselang, cahaya mentari luput menyapa, karena bangunan yang berdiri di kiri dan kanan lorong dekat berhimpitan. Menanti di hadapan mereka adalah sebuah rumah makan yang berukuran sedang, terdiri dari dua tingkat.

Bangunan rumah makan itu berdindingkan kayu sehingga sangat sederhana penampilannya. Bahkan, jalinan papan-papan sudah terlihat kusam sudah warnanya, dan terlihat bagian-bagian yang rusak, baik oleh tindakan kekerasan maupun karena uzur dimakan waktu. Namun demikian, kata lapuk dan kumuh masih jauh untuk mewakilinya. 

Pintu masuk rumah makan tertutup rapat. Pada sisinya, duduk seorang lelaki tua dan renta sedang melinting potongan-potongan tembakau lembab. Jemari-jemari yang ringkih bergetar pelan, namun kegiatan melinting berlangsung cepat. Layaknya telah ditempa oleh pengalaman hidup nan panjang, hasil dari jemari nan tua adalah sebatang lintingan rokok nan tampil sempurna. 

Lelaki tua itu menjepit lintingan di sela bibir kering nan berkeriput, lantas menjentikkan jemari. Sebentuk api kecil menyala, dan pipinya menirus sembari kepala mengangkat pelan tatkala menghisap panjang. Baginya, sungguh tiada kegiatan yang bisa mengalahkan nikmat meracuni diri sendiri. Aroma tembakau lembab menyibak di udara. 

Ketiga ahli sabar menanti. Mereka membiarkan lelaki tua itu menikmati setiap jalinan asap tembakau. 

“Swush!” 

Lelaki tua renta menghembuskan asap ke wajah mereka. Bau yang sangat menyengat dari mulut yang berbau kelat, namun ketiga ahli terpaksa merelakan asap tempakau memasuki paru-paru. Tak lama, lelaki tua melambaikan lengan, dan pintu rumah makan bergeser pelan. 

Suasana di dalam gelap dan sejuk. Walau berada di tengah pasar nan padat, tiada memberi kesan berserakan. Sejumlah meja dilengkapi bangku, ditata berbanjar dan berbaris yang mana menyisakan ruang yang cukup luas untuk berlalu lalang di antaranya. Hampir seluruh meja sudah penuh terisi. 

Ketiga ahli menyapu pandang, lantas segera menuju ke sebuah meja di sisi kanan. Sambil menempati bangku, salah seorang dari mereka berujar kesal, “Apa tak ada cara lain bagi si tua penjaga pintu itu untuk mengenali jati diri anggota…? Asap tembakaunya selalu membuat pening kepala dan mual perut!” 

“Hush!” Rekannya menyikut ringan. “Kau hendak cari mati!?” 

Di meja, telah duduk menanti sabar dua ahli lain yang terlebih dahulu tiba, yaitu sepasang lelaki dan perempuan dewasa. “Orang terakhir yang mengeluhkan bau tembakau itu, berakhir nahas…,” sambut yang lelaki sembari tersenyum kecut. 

Satu yang lain, seorang perempuan dewasa, menyapa tanpa basa-basi, “Bagaimana perjalanan kalian…?”

“Suasana di Pulau Barisan Barat sedang tak menentu…,” terdengar tanggapan dalam bentuk laporan pandangan mata. 

“Maksudmu…?”

“Di Kerajaan Kepetangan Hari, sayembara pemilihan penguasa baru telah diumumkan. Akan tetapi, belum resmi sayembara berjalan, dua dari delapan pesertanya telah meregang nyawa!” 

“Hah! Bagaimana mungkin!?”

“Tak semudah itu menyingkirkan ahli Kasta Emas!” Perempuan dewasa menyondongkan tubuh ke depan. Belahan dadanya tampil ringan, lantas memadat karena payudaranya menekan meja. 

“Tunggu… Apakah benar bahwa ahli Kasta Emas yang menjadi korban…?”

Salah satu dari tiga pendatang mengangguk sembari mencuri pandang kepada payudara nan lembut. Ia lantas mengangkat sebelah tangan guna memberi isyarat kepada pelayan, dan memesan minuman. Melihat payudara selalu merupakan kegiatan yang melelahkan. 

“Terjadi perselisihan di antara dua ahli Kasta Emas saat melakukan pendaftaran sayembara,” sahut yang lain. “Menurut hematku, kemungkinan besar keduanya sepakat untuk bertarung menentukan siapa yang terbaik.” 

“Bukankah tadi engkau katakan keduanya meregang nyawa…?”

“Benar.”

“Mungkinkah ada pihak ketiga yang campur tangan…?”

“Bisa jadi…”

“Mustahil!” 

“Mengapa…? Tiada yang mustahil dalam mengejar ambisi.”

“Siapa kiranya ahli yang mampu menjagal dua ahli Kasta Emas secara bersamaan!?” 

“Bukankah masih terdapat enam peserta sayembara lain…”

“Maksudmu para peserta sayembara menjalin kerja sama demi menyingkirkan jumlah pesaing…? Demikian…?”

Sosok yang ditanya mengangkat kedua bahu. 

Rekan di sebelahnya, di saat yang sama, menoleh ke kiri dan kanan mencari ke mana perginya pelayan di rumah makan tersebut. Tak lupa ia kembali melirik kepada sepasang payudara. Raut wajahnya kini menunjukkan kegelisahan, karena payudara nan ramum sekaligus pelayan belum kunjung datang. Namun demikian, ia tetap tampil tenang. “Pertanyaan yang lebih mengusik benakku, adalah cedera yang mereka derita kala meregang nyawa…”

“Uraikan…”

“Keadaan kedua ahli Kasta Emas saat ditemukan sangat mengenaskan. Mereka terhenyak ke dalam kawah di tanah… Dari lubang telinga, hidung, mata dan mulut darah mengalir deras. Tepat di dada, terdapat pula bekas telapak tangan nan tertanam meremukkan tulang dada.”

Tepat berdampingan dengan meja di mana kelima ahli sedang membahas keanehan kejadian di Kerajaan Kepetangan Hari, terdapat meja lain yang ukurannya lebih kecil. Hanya dua ahli yang sedang duduk saling berhadapan. Seorang lelaki dewasa muda dan seorang anak remaja berdiam diri mencermati satu sama lain.

Si lelaki dewasa muda mengangkat kendi tuak sangat perlahan. Ia lantas menuangkan isi secara bergiliran ke dalam dua cangkir mungil nan terbuat dari tanah liat. Tiba-tiba ia tersenyum. “Sungguh pelik… Darah mengalir deras dari lubang telinga, hidung, mata dan mulut… Bekas telapak tangan menghenyak di dada… Entah di mana aku pernah menyaksikan jurus persilatan yang dapat menyajikan dampak sedemikian mengenaskan…?” (1)

Kendatipun melakukan tindakan menguping pembicaraan di meja sebelah, dan kini berpura-pura sedang mengingat sesuatu, aura yang menyibak dari lelaki dewasa muda itu seolah dapat menyilaukan pandangan mata. Ia tampil bak sarjana-sarjana keilmuan nan sangat terpelajar serta berasal dari keluarga bangsawan terkemuka.  

“Sudahi basa-basimu!” Lawan bicaranya, seorang anak remaja yang mengenakan jubah meski berada di dalam ruangan, terlihat jengah. “Engkau mengundang aku ke tempat ini, katakan maksud dan tujuanmu!”

“Oh benar… benar…” Lelaki dewasa muda itu mengabaikan kata-kata lawan bicara di hadapan. Dahinya berkedut dan ia bertingkah seolah baru teringat akan sesuatu yang sangat penting. “Jikalau tak salah baca, itu adalah dampak yang dihasilkan oleh jurus persilatan Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam.”

“Lintang Tenggara!” Kum Kecho menggeretakkan gigi dan sontak bangkit berdiri.

Lintang Tenggara tersenyum lebar. “Sungguh dikau tiada dapat diajak berkelakar… Maafkan diriku ini… duduk… duduklah…” 

Kum Kecho kembali menempati tempat duduk, namun raut wajahnya terlihat semakin eneg. 

“Sungguh ironis bukan…?”

“Apa!?”

“Jurus Tapak Suci itu…” Lintang Tenggara mengelus dagu, “Dinamai ‘suci’, tapi akibat yang dihasilkan sangat ‘menyeramkan’ bukan…?”

Kum Kecho membuang wajah, sembari menggeretakkan gigi, “Aku sudah muak dengan permainanmu!” 

“Sesungguhnya ada yang hendak diriku bahas secara langsung dengan Paman…”

“Aku bukan pamanmu!” Kum Kecho melotot.

“Lho…” Lintang Tenggara bersandar di kursinya. “Kala Perang Jagat berkecamuk di masa lampau, dihikayatkan lima remaja dengan bakat teramat luar biasa.”

“Aku tak perlu pelajaran sejarah…”

Si Petaka Perguruan dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa itu kemudian menyondongkan tubuh sembari berbisik, “Putri Pinang Masak dari Kerajaan Kepetangan Hari, Cecep dari Kerajaan Siluman Gunung Perahu, Airlangga Ananta dari Kerajaan Wikramottunggadewa, Mayang Tenggara dari Kemaharajaan Langit, serta pimpinan mereka… Elang Wuruk sang pewaris takhta Negeri Dua Samudera…”

“Kau salah orang…”

“Hehehe…” Lintang Tenggara meraih gelas tanah liat berisi tuak, dan melahap habis isinya dalam sekali tenggak. “Yang Mulia Elang Wuruk adalah salah seorang sahabat ibundaku, maka wajar saja bilamana diriku menyapa beliau sebagai ‘paman’….”

“Aku adalah aku. Kum Kecho!” 

“Terserah Paman mau menyebut diri sebagai siapa…” 

“Lintang Tenggara, jikalau tujuanmu hendak mempermainkan aku, maka kita sudahi pertemuan ini!” Kum Kecho kembali bangkit berdiri, bahkan mulai beranjak pergi. Perihal jati dirinya dibongkar oleh Lintang Tenggara, adalah sesuatu yang sudah dapat ia perkirakan sedari lama. Putra Pertama Mayang Tenggara itu terlalu pintar, sehingga tak akan mengabaikan sekecil apa pun petunjuk yang didapat.

Menyaksikan lawan bicaranya menjauh, tetiba Lintang Tenggara berujar lantang… “Tak ada yang meninggalkan Partai Iblis!” 

Tetiba suasana berubah tegang. Segenap tamu di dalam rumah makan tersebut melontar pandang ke arah Lintang Tenggara, lantas kepada Kum Kecho. 

“Jikalau tiada salah mengenali, maka dikau adalah Yang Terhormat Bupati Selatan di Pulau Lima Dendam…” Salah seorang tamu di meja sebelah bangkit dari tempat duduknya, lantas membungkukkan tubuh. Tindakan ini sontak diikuti oleh tetamu lainnya.

Tak ayal lagi, rumah makan tersebut merupakan salah satu tempat berkumpul dan bertukar informasi antar para anggota Partai Iblis!

“Apakah anak muda itu beperangai buruk, wahai Yang Terhormat Bupati Selatan…?”

“Izinkan kami menatarnya…” Anggota-anggota lain mulai bangkit dan mengerubungi Kum Kecho. 

“Oh bukan…bukan…,” gelak Lintang Tenggara yang bersandar santai sembari memandangi Kum Kecho.

Kum Kecho melotot, sedangkan balasan senyuman yang ia terima dari Lintang Tenggara sangat membuat jengah. Sungguh dapat ia mengeluarkan Lentera Asura dan membumi hangus rumah makan tersebut beserta isinya. Akan tetapi, mengingat tindakan tersebut hanya akan mengundang murka Partai Iblis, Kum Kecho berupaya menahan diri. Sebagai salah seorang anggotanya, Kum Kecho cukup mengenal Partai Iblis sebagai organisasi yang tiada dapat dipandang sebelah mata. Saat ini pun ia sadar masih terlalu lemah untuk menghadapi sebuah partai. Lagipula, sayang rasanya menguras api putih di dalam Lentera Asura hanya demi Lintang Tenggara. Mubazir!

Walhasil, Kum Kecho dan Lintang Tenggara kembali duduk berhadap-hadapan. 

“Silakan…” Lintang Tenggara mengangkat gelas tuaknya. 

“Aku tak menyentuh minuman keras…”

“Apakah sebab Ikrar Palapa sebagaimana ayahanda, Paman…?”

Kum Kecho hanya menatap dalam diam. Kesabarannya semakin diuji. Ia berusaha setengah mati untuk tak mengeluarkan senjata pusaka dan memberangus lawan bicaranya. “Sekali lagi kau panggil aku paman, maka aku tak akan lagi menahan diri!” 

“Baiklah… Baiklah… maafkan diriku yang tetiba mengundang, dan terima kasih atas pula atas kehadirannya…” Lintang Tenggara mulai terlihat sungguh-sungguh dalam bertutur. “Akan tetapi, sungguh diriku bertanya-tanya apakah tujuan dikau memporak-porandakan Perguruan Maha Patih, mengalahkan Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung… Mengapa mengangkat nama sendiri sampai sedemikian tinggi?”

“Aku tak perlu memberi alasan.”

“Jikalau sembarang ahli yang mencari nama, maka diriku mudah memahami. Namun dikau, semudah mengutarakan jati diri, maka derajatmu akan kembali melambung tinggi!”

Kum Kecho hanya mendengus. 

“Akuilah bahwa ada kesamaan tujuan di antara kita, dan dapat pula kita saling bekerja sama.”

“Tak ada kesamaan di antara kita…” Bola mata Kum Kecho melirik ke kiri dan kanan, sama sekali tiada menunjukkan ketertarikan. “Katakan apa yang hendak engkau katakan, atau aku akan segera angkat kaki!” 

“Sebagai anggota Partai Iblis, ada sebuah tugas…”

“Apa…?”

“Ini mengenai adikku…”

“Jika ramalan kuno itu terbukti benar,” potong Kum Kecho cepat. “Maka Bintang Tenggara akan membawa malapetaka kehancuran bagi Negeri Dua Samudera!”


===


“Duar!” 

Sebuah kereta kuda tetiba meledak! Di saat yang bersamaan, sebentuk tubuh terpental. Jauh sampai menghantam tebing, menyebabkan suara susulan nan menggelegar. Tercipta pula retakan pada batu karang dan lubang yang dalam! 

Kejadian tersebut sontak diikuti oleh teriakan panik segenap ahli Kasta Perak, yang lantas berhamburan melarikan diri ke semerata penjuru. Agaknya mereka merupakan anggota rombongan saudagar, yang menjadi incaran kawanan Bajing Loncat…

Bintang Tenggara dan si pemandu wisata sontak menghentikan langkah. Jangan sampai mereka berpapasan dan diuber lagi oleh gerombolan Bajing Loncat. Sangatlah tak mudah untuk melepaskan diri dari mereka yang mengandalkan kecepatan dalam beraksi, bahkan diperlukan keberuntungan agar dapat menghindar.

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara melesat ke arah lubang yang menganga pada permukaan tebing. Ia melongok ke dalam, dan menyaksikan seorang remaja lelaki tersandar tiada bernyawa. Keadaannya sangat mengenaskan, dengan darah mengucur keluar dari lubang telinga, hidung, mata dan mulut. Tepat di dada, dapat dipastikan bekas telapak tangan nan tertanam dalam!

Jikalau ingatan tiada mengelabui, Bintang Tenggara mengenali tokoh tersebut sebagai salah satu ahli Kasta Emas yang akan ikut serta di dalam sayembara pemilihan penguasa baru Kerajaan Kepetangan Hari. Dengan ini, tiga sudah ahli Kasta Emas yang meregang nyawa! 

“Mereka merupakan rombongan ahli Kasta Emas yang ikut serta dalam sayembara!” papar si pemandu wisata yang menyusul. Keterangan ini ia pastikan langsung dari salah satu ahli yang berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri. 

Bintang Tenggara mengangguk pelan. “Apakah diketahui siapa pembunuhnya?”

“Tidak. Kejadian berlangsung secara tiba-tiba tanpa ada petanda sama sekali. Mungkinkah ada yang mengupah pembunuh bayangan untuk menjagal para peserta sayembara…?” 

Kecurigaan di pemandu wisata sangatlah berasalan. Hanya pembunuh bayangan yang dapat melakukan pembunuhan tanpa meninggalkan jejak. Ingatan Bintang Tenggara seketika melayang membayangkan seorang gadis belia dengan ukuran payudara di atas rata-rata dan pinggul yang melenggok aduhai. 

“Ini bukanlah urusan kita,” tanggap Bintang Tenggara dingin. Terserah bilamana mereka hendak saling bunuh sekalipun, anak remaja itu sama sekali tak hendak terlibat dalam apa pun kiat yang diupayakan antara para peserta sayembara. Menjadi saksi pun ia enggan. 

Kedua ahli meneruskan langkah. Hari beranjak petang, dan sebentar lagi tabir malam turun menggelapkan dunia. 

“Di depan terdapat sebuah desa. Di sana terdapat penginapan di mana kita dapat beristirahat,” ucap si pemandu wisata. Sebagai catatan, pemandu wisata tersebut berusia beberapa tahun lebih tua dari Bintang Tenggara. Ia berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5, sungguh pencapaian keahlian yang cukup baik bagi ahli yang tak mengenyam pendidikan di dalam perguruan. 

Suasana di penginapan ramai. Kereta kuda dan mewah berjajar di sampingnya. Bintang Tenggara tetiba berbelok arah arah. “Apakah ada penginapan lain…?” ajunya. 

“Tidak dalam jarak tempuh yang dekat…”

“Jjkalau demikian, sebaiknya kita berkemah saja…”

“Mengapa…?”

“Lihatlah kereta kuda dan suasana di penginapan itu? Di sana kemungkinan sedang menginap rombongan salah satu peserta sayembara. Jikalau memang ada pembunuh bayangan yang mengincar mereka, maka kita tak akan tidur nyenyak di penginapan itu.”

Walhasil, beratapkan langit dengan penerangan sang rembulan dan bintang-bintang, dua remaja duduk mengelilingi api unggun yang redup. Gemetak api melahap ranting-ranting kering yang berbaur dengan alunan suara binatang malam, menyemarakkan malam.

“Tuan Ahli, Mohon maaf atas kelancangan diri ini.” Si pemandu wisata membuka pembicaraan, “Bilamana berkenan, sudi kiranya menyampakan nama Tuan Ahli…”

“Namaku…”

“Tap!” 

Bintang Tenggara sontak bangkit berdiri dan memutar tubuh penuh kesiagaan. Ada seseorang, atau sesuatu, yang mendarat di dekat mereka!


Catatan:

(1) Episode 43