Episode 90 - Ubah Takdir


Setelah keluar dari dunia jiwa Alice, kini Dan bersama Danny berada di dalam dunia jiwa Danny. sebuah dunia yang putih dan bersih tanpa apapun. Mereka berdua berdiri saling berhadapan. Dan dengan sosok Danny dan Danny dengan sosok api hitamnya.

“Akhirnya kau berhasil kembali.” Ucap Dan seraya tersenyum simpul.

“Yah, syukurlah, tapi kenapa kita berada di dunia jiwa Alice tadi?” tanya Danny penasaran. 

“Ceritanya panjang, tapi intinya ada Goh yang mencoba merebut tubuhnya, tapi pada akhirnya Goh tersebut hancur oleh kekuatan jiwa gadis itu.” Jawab Dan dengan sederhana.

“Hah? Bagaimana mungkin? Kenapa dulu tidak ada yang menjagaku ketika kau mencoba merebut jiwaku?” tanya Dan yang bingung.

“Mana aku tahu, mungkin karena semua orang itu berbeda, jadi jiwa mereka juga berbeda. Tapi, jika dulu kau memiliki penjaga seperti gadis itu, mungkin kita tidak bisa seperti ini.” Dan berkata seraya tertawa kecil.

“Kau benar, ada baiknya aku tidak memilikinya. Lalu bagaimana kondisi setelah aku tidak ada?” 

Setelah semuanya selesai. Semua pertanyaan yang berada dalam benak Danny tidak bisa dia bendung lagi.

Kemudian Dan menceritakan semuanya. Tentang pertemuannya dengan seorang gadis seksi bernama Angel, tentang keikutsertaanya dalam turnamen bela diri, juga tentang Raku yang telah akrab dengan teman sekelasnya.

“Baguslah kalau dia bisa punya teman. Tapi kenapa kau ikut serta dalam turnamen bela diri? jika Ibuku tahu dia pasti marah, dia sangat membenci bela diri.” Ucap Danny cemas.

Dulu, Ayah Danny adalah salah satu bagian dari dunia bela diri. Namun, ada suatu ketika ketika Ayah Dany bertarung dan mendapatkan luka hingga nyawanya terenggut. Sejak saat itu bela diri adalah hal tabu di rumahnya. Karena itu pula Danny mengalihkan mimpinya dari seorang atlet bela diri menjadi seorang tentara.

“Aku ikut serta untuk melatih diriku agar bisa mengendalikan kekuatan api hitam, tapi ternyata kau bisa bebas sebelum aku bisa melakukannya. Bagaimana caranya kau bisa bebas?” tanya Dan.

“Aku juga tidak terlalu mengerti, tapi tiba-tiba saja seperti ada yang mengalir masuk ke dalam tubuhku dan kemudian muncul satu titik cahaya lalu aku terbebas dari sana. Hei, bagaimana jika Ibuku tahu aku masuk turnamen bela diri?” Danny sangat cemas.

“Tenang saja, aku baru satu kali bertanding dan saat itu aku menggunakan penyamaran sebagai seorang wanita, jadi tidak akan ketahuan. Juga, karena tujuanku sudah tercapai, aku tidak perlu ikut turnamen itu lagi.” Balas Dan dengan santai.

“Baguslah kalau begitu.” Jawab Danny dengan lega. “Hmm, tadi kau bilang menyamar sebagai wanita, kan?”

“Ya.”

“Aaaahhhhh ... kenapa kau melakukan itu? jika ada orang yang tahu maka habislah riwayatku, aku tidak akan memiliki teman lagi. Cepat katakan padaku siapa saja yang tahu penyamaran itu.” Danny benar-benar cemas.

Danny tidak tahu harus tertawa atau menangis. Selama ini dia dijauhi karena orang-orang salah paham dan beranggapan bahwa dia bicara sendiri, karena itu mereka menganggapnya aneh, padahal dia berbicara dengan Dan. Kali ini dia berpakaian sebagai wanita, jika diketahui oleh orang lain, maka predikat aneh tidak akan bisa dihilangkan meskipun dicuci dengan semua air sungai kapuas.

“Tidak banyak, hanya Angel dan beberapa orang lainnya.” 

“Siapa beberapa orang lainnya itu?”

“Kalau tidak salah Ayahnya Angel, kenapa kau sangat gugup?”

“Ini menyangkut kehidupan sosialku!”

“Siapa yang peduli tentang itu.”

“Aku peduli!”

***

Alice perlahan membuka matanya, dia masih memikirkan mimpi panjang yang telah dia lalui. Di akhir mimpi tersebut dia mendengar suara orang yang sangat akrab di telinganya, suara Danny. Memikirkan bahwa dia sampai memimpikan Danny membuat pipi Alice memerah. Tanpa sadar dia menoleh ke samping.

Di sampingnya sedang terbaring sosok pria yang selama ini dia sukai, Danny, dia sedang tertidur dengan lelap. Alice memindahkan tangannya dan mencoba menyentuh wajah Danny.

“Mimpi yang begitu aneh.” Gumam Alice seraya tersenyum simpul.

Tapi, kemudian Alice menyadari, mimpi ini terasa begitu nyata. Dia mencoba untuk mencubit pipinya dan terasa sakit.

“AHHHH!” Alice berteriak dan kemudian dengan cepat menutup mulutnya.

Alice melihat ke sekeliling dan menemukan bahwa ini adalah kamarnya, tapi kenapa Danny terbaring di kasurnya. Alice tidak tahu apa yang terjadi dan tidak tahu harus melakukan apa.

Tiba-tiba saja pintu kamar Alice terbuka, dari luar Ibu Alice berlari terburu-buru dan langsung memeluk Alice seraya menangis. Dia merasa lega karena Alice telah terbangun dari tidur panjangnya. Di depan pintu Pak Klimis berdiri dan memandangi istri dan anaknya, dia tidak ikut ke sana dan menyembunyikan perasaan leganya seraya menghapus air mata yang hampir tumpah.

Alice yang masih bingung dengan hadirnya Danny di kasurnya bertambah bingung dengan Ibunya yang tiba-tiba memeluknya seraya menangis. Meskipun begitu, Alice tetap diam dan menunggu Ibunya untuk tenang terlebih dahulu sebelum bertanya tentang kenapa semua ini bsia terjadi.

Setelah menangis lima menit, akhirnya Ibu Alice tenang kembali dan kemudian menceritakan semuanya. Tentang dia yang tertidur selama beberapa hari tanpa bangung-bangun dan tentang Danny yang berkunjung lalu tiba-tiba tertidur juga, sama seperti dia sebelumnya.

Setelah mendengar cerita dari Ibunya, Alice segera panik dan melihat ke sampingnya. Di sana Danny masih memejamkan matanya, tertidur sangat pulas. Alice cemas dan mencoba menggoyangkan tubuh Dany seraya memanggil namanya, tapi tidak ada respon yang dia dapatkan.

Kemudian dari arah luar terdengar suara langkah kaki cepat, tidak lama kemudian seorang wanita dengan pakaian kerja masuk ke dalam. Dia adalah Ibu Danny, setelah dia pulang kerja tiba-tiba Wali Kelas Danny datang dan mengatakan tentang kondisi Danny saat ini. Setelah mendengarnya, Ibu Danny sangat cemas dengan kondisi anak semata wayangnya tersebut.

Ibu Danny memeluk Danny dan memanggil namanya, tapi tidak ada respon dari Danny. Suasana ruangan yang sebelumnya haru karena Alice telah terbangung menjadi muram lagi. Semuanya kecuali Pak Klimis kembali meneteskan air mata.

Tapi kemudian tiba-tiba suasana sedih itu hancur karena Danny yang terbangun dan berkata, “Bu, ada apa?”

Mengetahui bahwa Danny telah terbangun, tangisan Ibu Danny kembali pecah, kali ini adalah tangis bahagia. Dia memeluk Danny erat-erat, seolah takut Danny akan segera menghilang dari pandangannya.

Dalam hatinya Danny menyalahkan dirinya karena tidak segera kembali dari dunia jiwa, dia tidak mau melihat Ibunya meneteskan air mata seperti saat ini.

“Maaf Bu.” Gumam Danny pelan.

“Yang terpenting kamu tidak apa-apa.” Balas Ibunya.

“Hmm, sekali lagi maaf.” 

“Sudah dibilangin jangan minta maaf.” Ucap Ibu Danny seraya menjitak kepala Danny. 

“Aww.” Danny mengelus kepalannya.

“Hahahaha.” Semua orang ikut tertawa melihat keharmonisan ibu dan anak tersebut.

Suasana muram itu hancur karena hangatnya sebuah keluarga kecil.

***

Ada banyak situasi di mana kita ingin melakukan sesuatu dan berpikir bahwa sesuatu yang kita lakukan demi kebaikan orang banyak. Namun, setelah hal itu terjadi malah membawa banyak masalah kepada orang banyak. Begitulah yang sedang Jessica alami.

Dia berpikir dengan rencananya untuk melenyapkan geng penguasa kota maka kota ini akan menjadi aman dan tentram. Namun, apa yang tidak dia duga adalah hal tersebut malah memancing geng kecil untuk bersatu dan melakukan kekacauan yang lebih besar.

Kini geng-geng kecil itu bersatu dan menjadi sebuah kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Juga, tidak seperti empat geng penguasa kota, mereka melakukan sesuatu dengan cara yang sangat ekstrem. 

Karena itu, kini Jessica bertekad untuk memperbaiki semua kesalahannya tersebut. Jessica dan Lina kembali ke markas dengan terburu-buru. Setelah sampai di sana mereka berdua disambut dengan meriah oleh saudari-saudarinya. 

Namun, Jessica tidak mau berbasa-basi, dia sedang bertarung melawan waktu, dengan segera Jessica memerintahkan Lina dan yang lainnya untuk menyiapkan semua senjata dan amunisi yang ada. 

Jessica juga membeli banyak baju anti peluru dan perlengkapan keamanan lainnya. Semua upaya ini dia lakukan agar rencana berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.

Tidak butuh waktu lama, dalam waktu tiga hari semua yang dia inginkan telah tersedia. Segera Jessica memanggil Iblis Hitam.

“Semua persiapan sudah selesai.” Lapor Jessica.

“Hmm, terima kasih.” Ucap Iblis Hitam.

“Lalu kapan rencana akan dilaksanakan? Aku dan saudariku akan ikut membantu.” 

“Tidak perlu, kau sudah melakukan bagianmu dengan baik. Sekarang serahkan sisanya pada kami.”

Jessica menggigir bibir bawahnya dan berkata. “Baiklah, akan segera kukirimkan, semoga berhasil.”

“Ya.” Ucap Iblis Hitam singkat lalu memutuskan hubungan telepon.

Iblis Hitam memandang orang yang duduk di depannya dan berkata. “Semua persiapan sudah selesai.”

“Ya, bagus, aku sudah tidak sabar untuk menangkap semua orang biadab itu.” Ucap pria berpakaian polisi yang tidak lain adalah Ferdian.

“Siapkan pasukanmu segera.” Ucap Iblis Hitam dengan tenang.

Ferdian beranjak dari duduknya dan tidak merasa tersinggung meskipun diperintah oleh Iblis Hitam. “Baiklah, sampai jumpa.”

Iblis Hitam mengangguk tanpa mengatakan apapun. Sementara itu Ferdian segera pergi bersama mobilnya, menuju kantor polisi. Sampai saat ini Ferdian tidak percaya dengan identitas asli dari Iblis Hitam tersebut, meskipun orang-orang mengatakan dia adalah sosok yang menakutkan, tapi Ferdian tidak bisa melihat sesuatu yang harus ditakuti dari dirinya. 

Di dalam matanya Ferdian hanya melihat sebuah danau yang luas dan tenang. Sangat tidak masuk akal mengingat usianya yang mungkin belum menginjak kepala dua.

Namun, Ferdian tidak mempermasalahkan semua itu, dia sudah tahu kemampuannya. Dalam waktu beberapa hari saja Iblis Hitam dan kelompoknya sudah mengetahui tempat persembunyian targetnya.

Banyak orang yang bilang kemampuan seseorang bisa diukur dengan banyaknya pengalaman hidupnya. Namun, sepertinya konsep ini tidak berlaku padanya. Dia lebih dewasa dari usia yang seharusnya. 

Ferdian sampai di kantor polisi dan melihat sangat sedikit kendaraan yang terparkir di sana. Tapi Ferdian tidak peduli, dia akan menggunakan semua orang yang masih mau mengikuti perintahnya saja, persetan dengan mereka yang mencoba membangkang.

“Semuanya! Siapkan diri kalian, besok kita akan beraksi.” Teriak Ferdian pada belasan orang anggota polisi di depannya.

***

#Penting#

Cerita ini hanya fiksi semata, jika ada kejadian yang tidak masuk akal dan menyinggung pihak-pihak tertentu saya ucapkan mohon maaf.

Terima kasih.