Episode 383 - Kelebat Bayangan



Bagi saudagar kebanyakan, istilah ‘Bajing Loncat’ sudah sangat tak asing di telinga mereka. Datang dalam kawanan yang ramai, gerak-gerik mereka sangat cekatan layaknya para ahli terampil yang sudah digembleng sejak lama. Mereka bukan semata perompak yang sangar dari segi tampang, namun juga sangat bengis. Kehadiran mereka banyak tersebar di jalur-jalur perdagangan baik Pulau Barisan Barat maupun Pulau Jumawa Selatan. Dalam menjalankan aksi, tak segan-segan mereka mencabut nyawa sesiapa saja yang berani menghadang. 

Para saudagar kaya, tentu saja mengupah para pengawal untuk melindungi rombongan. 

Bintang Tenggara menyaksikan sejumlah ahli telah tergeletak tiada bernyawa di belakang iring-iringan saudagar. Bersimbang darah, merupakan tanda-tanda bahwa sebelumnya mereka terlibat dalam pertempuran sengit namun berat sebelah. Tak sulit untuk sampai kepada kesimpulan bahwa mereka merupakan para pengawal bayaran yang kalah jumlah. 

Walhasil, rombongan saudagar meneruskan langkah tanpa mempedulikan bahwasanya isi pedati-pedati mereka sedang dijarah oleh kawanan Bajing Loncat. Secepatnya mereka hendak menyingkir, karena nyawa jauh lebih berharga daripada harta benda. 

Tak lama kemudian, kelebat-kelebat bayangan dari pepohonan rindang di sisi jalur menghilang dengan sendirinya. Para Bajing Loncat telah menghentikan aksi mereka. Rombongan saudagar menarik napas lega, karena para Bajing Loncat telah menarik diri. Mereka pun segera memeriksa isi pedati, hanya untuk menyaksikan bahwasanya barang bawaan mereka tersisa kurang dari setengah. 

Agaknya kawanan Bajing Loncat masih memiliki hati nurani. Mereka tiada menggondol habis isi pedati dan sengaja membiarkan para saudagar tiada menderita kerugian terlampau besar agar tetap dapat menjalankan usaha. Tanpa para saudagar, tentu mereka akan kehilangan sumber penghidupan. Sebaliknya, bagi para saudagar, bilamana barang dagangan mereka merupakan bahan pokok dan dalam jumlah yang terbatas, tentu masih dapat menjual dengan harga tinggi. Setidaknya dapat mereka menutup kerugian yang disebabkan oleh kawanan Bajing Loncat. 

Bintang Tenggara dan rekan seperjalanannya, seorang pemandu wisata, tiba di tengah mayat para pengawal yang tergeletak. 

“Apakah sebaiknya kita sampaikan kejadian ini kepada pihak berwenang di Bandar Kepetangan Hari…?” aju anak remaja tersebut polos. 

Si pemandu wisata memeriksa mayat para pengawal. Ia menemukan sebentuk lencana dan menunjukkan kepada Bintang Tenggara. Bentuknya segitiga dengan ukiran bintang di bagian tengah. “Tiada mengapa. Para pengawal ini berasal dari Paguyuban Pengawal Nusa. Anggota mereka yang lain akan mengambil dan membawa pulang mayat-mayat ini.” 

“Apakah itu Paguyuban Pengawal Nusa…?”

“Sekelompok ahli militan yang berkumpul lalu memutuskan untuk menjadi pengawal bayaran, serta berbagai kegiatan lain…,” tanggap si pemandu wisata datar. Gelagatnya mengesankan bahwa ia lebih menyukai para kawanan Bajing Loncat dibandingkan Paguyuban Pengawal Nusa tersebut.

“Swush!”

Tetiba, sepuluh ahli yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 6 dan Tingkat 7 mengelilingi Bintang Tenggara dan rekan seperjalannya. Setiap satu dari mereka mengenakan kain hitam penutup wajah. Pandangan mata yang haus darah menyibak bersamaan dengan hawa membunuh nan kental.

Tak lain, mereka adalah kawanan Bajing Loncat yang kembali!

“Wahai Tuan-Tuan sekalian…,” ujar si pemandu wisata penuh hormat. “Kami bukanlah saudagar. Kebetulan kami melintas dalam perjalanan hendak mengunjungi Pekan Tua.”

“Aku mengenal bocah itu,” salah satu dari kawanan Bajing Loncat angkat suara sembari menudingkan jemari. “Ia membawa banyak kepingan emas!”

Bintang Tenggara, yang bilamana ditarik garis lurus, maka akan terhubung langsung dengan jari telunjuk tersebut. Ia berupaya tampil tenang, akan tetapi di dalam benak sungguh takjub. Bagaimanakah cara para Bajing Loncat tersebut mengetahui bahwa dirinya meiliki banyak kepingan emas, yang sebagian besarnya merupakan hadiah saat memenangkan Hajatan Akbar Pewaris Takhta di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?

Yang tak anak remaja tersebut ketahui, adalah kenyataan bahwa kawanan Bajing Loncat memiliki anggota-angota yang berperan sebagai pengintai. Peran para pengintai ini sangatlah besar dalam upaya menjarah dan oleh karenanya senantiasa berjaga di jalur strategis hilir-mudir para saudagar. Salah satu tempat yang dimaksud merupakan pintu keluar-masuk menuju jembatan Titian Arasy. 

Saat hendak membayar kepingan perak kepada petugas, Bintang Tenggara tiada sengaja mengeluarkan kepingan emas.

“Jikalau kalian masih sayang nyawa, maka serahkan cincin Batu Biduri Dimensi itu!” Anggota kawanan Bajing Loncat yang lain menambahkan. Ia melangkah maju!

Terjepit, Bintang Tenggara telah mengepalkan tinju lengan kanan erat-erat. Samar, bibirnya pun mulai terlihat komat-kamit!

“DUAR!” 

Langit bergoncang dan bumi bergegar. Tiba-tiba, tak jauh dari tempat di mana mereka berada, sebuah ledakan membahana. 

Mendapatkan celah kesempatan, Bintang Tenggara meliuk lincah di antara para pengepung. Derak petir membungkus di kedua kaki yang terlindung oleh Sisik Raja Naga. Dalam sekelebat ia telah berlari menjauh. Akan tetapi, kawanan Bajing Loncat, hanya terkecoh sesaat. Sesuai dengan nama dan reputasi mereka, tak perlu waktu lama untuk menyusul buruan. Sebagaimana diketahui, kecepatan langkah kawanan Bajing Loncat jauh lebih tangkas! 

Bintang Tenggara memutar tubuh sembari berlari. Lengan kanannya menebaskan sebentuk gagang golok ke arah belakang. Bilah angin nan tajam dari Mustika Pencuri Gesit menebas deras! 

Sepuluh ahli yang mengejar berpencar ke segala arah. Sangat lincah gerakan mereka tatkala bergerak menghindar lalu kembali pada posisi mengejar. Dalam satu kelebat mata, kesemuanya sudah kembali menyusul. Ibarat sebuah perlombaan balap lari, setiap satu dari mereka hendak memecahkan rekor sebagai yang tercepat.

Setelah menyaksikan Bajing Loncat beraksi menjarah pedati, Bintang Tenggara yang merasa diri cukup tangkas sepenuhnya menyadari bahwa dirinya kalah dalam hal kecepatan. Dalam perhitungannya, bila hanya memanfaatkan jurus unsur kesaktian petir Asana Vajra, maka para pengejar akan menangkap dirinya dengan mudah. Untuk mengimbangi para pengejar, maka ia perlu memadukan jurus kesaktian unsur petir dengan ledakan kecepatan yang didapat dari jurus persilatan Pencak Laksamana Laut. 

Kendatipun demikian, saat ini belum waktu yang tepat untuk menampilkan perpaduan dari dua jurus tersebut. Sebagaimana yang dilakukan oleh banyak ahli, menyembunyikan kemampuan yang sesungguhnya seringkali menjadi langkah yang dapat menyelamatkan jiwa di kemudian hari. Walau, semakin Bintang Tenggara menahan diri maka semakin pendek pula jarak yang terpaut antara para pengejar dengan yang dikejar. Hanya dalam beberapa hentakan napas lagi, maka Bintang Tenggara akan tertangkap!

“Srak!”

Beberapa anggota kawanan Bajing Loncat yang mengejar penuh nafsu tetiba menghentikan langkah. Tindakan yang diambil secara mendadak tersebut sampai menyebabkan ceruk pada permukaan tanah. Beberapa lagi terus mengejar, namun menggeretakkan diri tatkala mereka terpaksa berbelok arah dan menyingkir. 

Apakah penyebab mereka memutuskan untuk melepas sasaran yang diketahui memiliki banyak kepingan emas…?

Di sebuah padang terbuka nan luas, Bintang Tenggara terus memacu langkah ke arah sumber ledakan. Kini ia telah masuk ke dalam wilayah penuh mara bahaya. Kurang dari lima ratus langkah di hadapannya, terlihat dua ahli yang sedang terlibat dalam jual beli serangan nan sengit. Ledakan demi ledakan susulan mengemuka. Kedua ahli yang terlibat dalam pertarungan berada pada Kasta Emas! 

Pertarungan tersebutlah yang menjadi penyebab kawanan Bajing Loncat hanya melotot kesal. Secara umum, para ahli Kasta Perak meyadari bahwa jarak aman dari pertarungan yang berlangsung antara ahli Kasta Emas adalah sekira 750 langkah. Kurang dari jumlah tersebut, maka ahli Kasta Perak akan memasuki wilayah penuh mara bahaya. Dalam pertarungan ahli Kasta Emas, para penonton berhadapan dengan risiko serangan nyasar yang sangat tinggi. Atau, tak jarang ahli Kasta Emas yang terlibat dalam pertempuran sengaja mengincar penonton yang dianggap mengganggu. 

Bintang Tenggara kini hanya terpaut sekira 400 langkah saja dari kedua ahli Kasta Emas dan tampaknya ia belum hendak menghentikan langkah. Semakin dekat, maka dapat ia mengenali kedua ahli Kasta Emas tersebut. Salah satunya berpenampilan layaknya seorang lelaki setengah baya, sedangkan satunya lagi lelaki dewasa muda. Mereka tak lain adalah dua ahli Kasta Emas yang pada pagi hari tadi terlibat dalam ketegangan di atas panggung, padahal sayembara pemilihan penguasa Kerajaan Kepetangan Hari baru saja dibuka.

Mudah untuk menyimpulkan bahwasanya kedua ahli Kasta Emas tersebut berpandangan untuk menyingkirkan pesaing sebelum sayembara resmi digelar. Dengan cara ini, maka langkah mereka menjalani tantangan di dalam sayembara akan akan semakin ringan. 

“Duak!” 

Kedua ahli Kasta Emas menyarangkan serangan di saat yang bersamaan. Pukulan mendarat di dada satu sama lain, yang mana membuat keduanya lantas terpental berlawanan arah. Darah mengalir di sudut bibir, namun segera mereka merangsek maju!

Langkah kaki Bintang Tenggara mulai melambat, karena tak hendak terperangkap dalam pusaran pertarungan. Sigap pula ia mengelak dari gumpalan bola api yang ditepis dan bongkahan batu besar yang ditangkis oleh masing-masing petarung. Ia kemudian berbelok, berupaya menjauh ke arah samping.

Kendatipun demikian, rencana Bintang Tenggara melepaskan diri dari pengejaran kawanan Bajing Loncat dengan memanfaatkan mara bahaya yang disebabkan oleh pertarungan dua ahli Kasta Emas, terbaca jelas. Tetap menjaga jarak aman dari pertarungan yang sedang berkecamuk, kesepuluh pengejar bergerak memutar. Mereka tak mudah dikelabui! 

Walhasil, Bintang Tenggara tetap bertahan di dalam wilayah penuh mara bahaya. Perhatiannya terpusat pada serangan nyasar yang mengarah kepada dirinya. Sebaliknya, kawanan Bajing Loncat menanti sabar.

Beberapa saat berlalu, pertarungan kedua ahli Kasta Emas semakin sengit dan tak akan berakhir dalam waktu dekat. Selama itu pula Bintang Tenggara berupaya hendak keluar dari wilayah pertempuran, namun terus menerus dicegat oleh para pengejar. 

Kedua ahli Kasta Emas sudah melesat tinggi ke angkasa. Walau mereka menyadari akan kehadiran para ahli Kasta Perak, namun perhatian sangat terpusat dalam pertarungan. Lengah sedikit saja, maka nyawa yang menjadi taruhan!

Tukar menukar serangan terus berlangsung tinggi di angkasa. Bintang Tenggara menghela napas panjang, lalu melesat cepat tepat di bawah kedua ahli Kasta Emas. Ia membelah langsung pusat pertarungan. Oleh sebab itu pula, jarak yang ia tempuh tentunya jauh lebih pendek daripada kawanan Bajing Loncat, namun mengandung risiko yang puluhan kali lipat lebih besar. Tak jauh di seberang sana, menanti rekannya si pemandu wisata yang telah lama lepas dari pengawasan pengejar.

Menyaksikan tindakan nekat sasaran mereka, kawanan Bajing Loncat hanya diam di tempat. Agaknya mereka lelah dengan permainan kucing-kucingan tersebut. Hal ini terbukti dengan keengganan mereka mengitari wilayah untuk mencegat. 

“Segera kita tinggalkan tempat ini!” sergah Bintang Tenggara setelah bergabung dengan rekannya. 

Tanpa berbasa-basi, si pemandu wisata pun memacu langkah. 

“Duar!” 

Ledakan kini terjadi tepat di hadapan Bintang Tenggara. Tanah menyeruak tinggi ke semerata penjuru dan serta merta sebuah kawah nan lebar lagi dalam tercipta. Saat melintas, Bintang Tenggara menyempatkan diri untuk melongok ke bawah. Pemandangan yang tersaji demikian mengenaskan. Salah satu ahli Kasta Emas, yaitu lelaki setengah baya meletik ibarat seekor ikan lemas di tengah gurun pasir. Dari telinga, hidung, mata dan mulutnya darah mengalir deras. Tepat di dadanya, terdapat bekas telapak tangan nan tertanam dalam. Ia pun menghembuskan napas terakhir. 

Bintang Tenggara lantas melontar pandang ke arah pusat pertarungan. Ia berharap melihat langsung sang pemenang, namun yang ia saksikan jauh di seberang sana adalah sekawanan Bajing Loncat yang juga sedang melongok ke dalam sebuah kawah. Gerak tubuh mereka mencerminkan ketakjuban, senada dengan dirinya. Agaknya, mereka menyaksikan hal yang sama pula. 

Sontak Bintang Tenggara mendongak. Sang mentari menyilaukan, namun sudut matanya menangkap kelebat bayangan yang kemudian menghilang dibawa angin….