Episode 382 - Bajing Loncat



Putri Pinang Masak dikisahkan sangat termahsyur akan kecantikannya. Raut wajah elok dengan bentuk mata, lekung hidung dan lekuk bibir yang serasi. Bilamana dipisah-pisah dan mata, hidung dan bibir tersebut disematkan kepada wajah beberapa perempuan berbeda, maka niscaya perempuan-perempuan tersebut akan tampil sangat mempesona. Postur tubuhnya pun ideal, tak terlalu tinggi tiada pula lebar. Kulit tubuhnya putih kemerah-merahan selayak nama yang ia sandang, yaitu bagai kulit buah pinang yang masak. Siapa gerangan yang memandang, pasti akan terpesona lantas jatuh hati.

Di samping itu, bakat dan kemampuan sang pewaris takhta Kerajaan Kepetangan Hari itu terkenal tiada dua. Dalam menekuni keahlian, ia tampil sangat cemerlang dari sekian banyak ahli di Pulau Barisan Barat. Oleh sebab itu pula, sedari belia ia telah dikirimkan ke ibukota lama Sastra Wulan untuk menempa diri langsung di bawah bimbingan Sang Maha Patih. Di sana, ia tergabung dalam satu regu yang terdiri dari lima remaja yang kala itu dikenal paling berbakat di seantero Negeri Dua Samudera. Kendatipun berusia belia, mereka sudah terlibat jauh di dalam prahara Perang Jagat!

Dikatakan pula bahwa ia memiliki kepribadian yang halus lagi lembut. Santun dalam tutur kata, ramah dalam tindak tanduk kepada sesiapa saja. Oleh sebab itu, sebagai putri mahkota tak heran bilamana banyak raja dan putra mahkota yang datang meminang. Akan tetapi, tiada satu pun dari mereka yang diterima sang putri, termasuk lamaran yang datang dari tokoh-tokoh terkemuka dari Pulau Jumawa Selatan. Penolakan yang bertubi-tubi membuat salah seorang putra mahkota tiada gentar, bahkan bertekad untuk mendapatkan sang putri dengan segala cara termasuk menyerang negerinya. 

Putra mahkota yang sedang dimabuk kepayang itu menyiapkan pasukan untuk menyerang Kerajaan Kepetangan Hari, namun kandas di tengah jalan. Diriwayatkan, Putri Pinang Masak bersama segenap rakyat yang setia meladeni serangan dengan membuat jebakan parit berisi bambu-bambu runcing yang sengaja ditanam. Akibatnya, pasukan tentara lawan tak berhasil menembus pertahanan.

Lawan kemudian membuat siasat dengan membenamkan kepingan-kepingan emas ke dalam batang-batang pohon bambu di hutan. Ketika mendengar bahwa pohon-pohon bambu mengandung kepingan-kepingan emas, rakyat datang menghadap Putri Pinang Masak. Kepingan-kepingan emas sangat berarti bagi kerajaan yang sulit berkembang karena senantiasa berhadapan dengan ancaman serangan. Peperangan membuat rakyat terus-menerus menderita. Andai saja Putri Pinang Masak mau menerima salah satu pinangan, maka Kerajaan Kepetangan Hari tiada akan berlarut-larut menghadapi serangan dari pihak luar dan dapat tumbuh makmur. 

Terdesak akan keadaan, akhirnya Putri Pinang Masak mengizinkan rakyatnya menebang pohon-pohon bambu demi mengumpulkan kepingan-kepingan emas. Syahdan, siasat lawan membuahkan hasil. Tanpa pertahanan bambu, pasukan musuh datang menyerang dalam gelombang yang tiada pernah surut. 

Menyesali kesalahannya, Putri Pinang Masak mengasingkan diri. 


===


“Hei, Putri Pinang Mentah!” sergah seorang perempuan dewasa kepada perempuan dewasa lainnya. Jarak di antara mereka terpaut jarak sekira sepuluh langkah. “Kenapa engkau membiarkan gadis itu pergi!?” 

“Gadis yang manakah gerangan…?”

“Jangan berpura-pura bodoh! Gadis bernama Embun Kahyangan yang aku titipkan tempo hari!” 

“Oh… dia…”

Mendengar tanggapan acuh tak acuh, kedua alis Mayang Tenggara yang tajam ibarat sepasang pedang sontak menyatu. Aura tenaga dalamnya meningkat pesat. Pohon-pohon berguncang keras, bebatuan dan pasir di sekeliling tubuhnya bergetar lalu melayang perlahan. Agaknya, habis sudah kesabaran istri dari Balaputera Ragrawira itu. 

“Apakah malam ini sedang terang bulan…?” Perempuan dewasa, yang kini diketahui bernama Putri Pinang Masak bergumam pelan. “Sepertinya tidak…”

“Aku tak memerlukan keberadaan sang rembulan untuk menghajarmu!” tanggap Mayang Tenggara ketus.

“Justru aku berharap sedang terang bulan, agar dikau dapat mengimbangi kemampuanku…” Kendati mencibir santai, aura tenaga dalamnya pun turut meningkat. Pepohonan yang sedang berguncang, tetiba berubah kokoh dan siap menyerang bilamana diberi perintah. 

“Tanpa jurus unsur kesaktian pun aku dapat menampar wajah manismu…”

“Jikalau hanya mengumbar kata, bocah tiga tahun kemungkinan bisa lebih fasih…”

Swush!

Ledakan kecepatan meningkat berkali lipat, tubuh Mayang Tenggara telah tiba di hadapan lawan yang berlidah pedas. Tanpa basa-basi lebih lanjut, ia lancarkan tinju beruntun ke arah wajah. 

Putri Pinang Masak memuntir kepala, lantas berkelit ke kiri sebelum melompat mundur demi menghindar dari rangkaian serangan. Terpisah hanya sekira latu langkah, lawannya menempel ketat sembari terus melancarkan pukulan-pukulan. Seolah dapat membaca serangan lawan, Putri Pinang Masak hanya menghindar selangkah, tiada lebih jauh dan sangat terukur. Di tengah serangan bertubi, kedua bola matanya tiada sekali berkdip. Ia jelas sedang menanti. 

Mendapat peluang terbuka, Putri Pinang Masak berputar di tempat dan tanpa diketahui arah kedatangan, telapak tangan kanannya sudah berada tepat di hadapan wajah Mayang Tenggara! 

“Duar!” 

Mayang Tenggara menghentakkan kaki, yang serta-merta memporak-porandakan tanah tempat berpijak. Tindakan tersebut membuat kuda-kuda lawan terombang, sehingga serangan luput dengan sendirinya. Tentu ia menyadari bahwa lawan sedang menanti peluang, sehingga sudah mempersiapkan tindakan untuk mengantisipasi.

Sebagai balasan, Putri Pinang Masak menekuk siku dan melibas, sebagai sebuah upaya untuk mengait leher lawan. Namun, tindakan tersebut dijawab dengan tangkisan lengan kiri, dan Mayang Tenggara lantas membalas dengan tinju lurus ke hadapan…

“Duar!” 

Ledakan terjadi ketika tinju dan telapak tangan bertemu. Keduanya lantas terlempar berlawanan arah, dan seketika menjejak tanah kembali merangsek maju! 

Tendangan sapuan datang dari Putri Pinang Masak. Betapa lentur tubuh Mayang Tenggara di kala mengayang sembari melesakkan tendangan menohok. Tak lama berselang, keduanya kembali terpisah, mendarat di tanah, kemudian melompat tinggi ke udara. Terbang di atas sana, jual beli serangan terus berlangsung ibarat para saudagar yang sedang berdebat ketat mengincar harga terbaik. Sangat lincah dan gesit, ratusan gerakan tiada dapat diikuti oleh pandangan mata. 

Suasana petang nan cerah di atas Pegunungan Barisan Barat menggelegar, selayaknya kilatan petir yang menyambar pada hari di mana badai berkecamuk. Tidak hanya itu, pertarungan yang berlangsung di udara turut mengubah arah tiupan angin menjadi tiada menentu. Jikalau dibiarkan berlangsung lebih lama, maka pertarungan tersebut dapat merusak cuaca di wilayah tersebut. 

Sebagai catatan, sesungguhnya sampai di tahap ini kedua ahli tersebut bertarung menggunakan gerakan-gerakan tubuh semata. Tiada mereka melancarkan jurus-jurus persilatan nan perkasa, tiada pula melepaskan jurus-jurus unsur kesaktian yang membahana. Kendatipun demikian, dampak yang mengemuka demikian gegap gempita!

“Duar!” 

Dua kening yang saling beradu menyebabkan ledakan membahana! Penyebabnya, kedua lengan Mayang Tenggara tertangkap dan ia pun menghantamkan kepala. Kedua perempuan dewasa dengan tingkat keahlian teramat tinggi dan disegani di Negeri Dua Samudera, kini terpisah jauh.

“Hanya sampai sebatas inikah kemampuanmu menghadapi seseorang yang telah lama mengasingkan diri dari dunia keahlian, wahai Mayang Tenggara…?”

Nyatanya, kedua perempuan dewasa itu sama-sama membatasi diri. Bila mereka benar-benar bertarung dengan mengerahkan jurus-jurus persilatan dan unsur kesaktian, maka yang menderita adalah tempat yang menjadi saksi bisu pertempuran. Tentunya juga akan menarik perhatian ahli-ahli lain yang menyadari sedang berlangsungnya pertarungan antara dua ahli terkemuka. Tak ayal, penonton tak diundang akan ramai berdatangan. 

“Mengasingkan diri dari dunia keahlian…? Apakah isi otakmu sudah terasing sehingga beranggapan dapat mengelabui aku…?” 

“Katakanlah alasan sebenarnya engkau datang menyambangi aku…,” kilah Putri Pinang Masak sembari menyeka rambut yang menutupi kening. “Tentu bukan karena hendak memeriksa keadaan gadis itu, bukan pula untuk sekadar berlatih tarung…”

“Aku datang untuk memperingatkan engkau akan tugas kita. Jangan terbuai terlalu jauh dalam pengasingan.”

“Heh… Tak perlu engkau bersusah payah mengingatkan. Aku akan datang di kala saatnya tiba.”

“Ataukah mungkin engkau masih larut dalam duka cinta…?” 

Aura tenaga dalam tetiba menyibak kental dari tubuh Putri Pinang Masak. Ibarat pusaran angin puting beliung, aura tenaga dalam tersebut membuat hutan rimba di bawah sana terhuyung. Kemungkinan pepohonan hendak menyingkir dan menjauh, namun tiada memiliki kuasa. Tak pelak lagi, kata-kata Mayang Tenggara tadi berhasil bersarang telak. 

Puas mengumbar ejekan, Mayang Tenggara memutar tubuh. Akan tetapi, sebelum melesat pergi ia menambahkan, “Kerajaan Kepetangan Hari sudah tak lagi dapat menahan sabar menanti kepulanganmu. Rakyatmu akan menyelenggarakan sayembara pemilihan penguasa baru…”


===


Bintang Tenggara menyaksikan betapa delapan ahli Kasta Emas melesat terbang ke atas panggung. Lima lelaki dan tiga perempuan, dengan berbagai penampilan: setengah baya, dewasa, dewasa muda, bahkan remaja. Usai mendengar pengumuman tentang sayembara pemilihan penguasa baru Kerajaan Kepetangan Hari disampaikan, mereka pun bergegas menyatakan keikutsertaan diri. Setiap satu dari mereka memamerkan aura tenaga dalam nan demikian menekan. 

Di bawah panggung, para pengikut kedelapan ahli bersorak sorai memberi dukungan. Mereka sudah terbagi dalam delapan kubu, yang mana antara satu sama lain mulai menyibak hawa persaingan bahkan permusuhan. Suasana bukan hanya semarak, namun tegang secara bersamaan! 

“Katakan apa-apa saja tantangan di dalam sayembara ini!” Salah satu dari mereka memberi perintah. Dari lagaknya, maka jikalau menjadi penguasa nanti tokoh ini akan berlaku sewenang-wenang.

“Apakah dikau tak sabar untuk menjadi pertama yang tersingkir…?” Tanggap ahli Kasta Emas lain. Sebuah tantangan telah disampaikan.

“Majulah jikalau engkau memang memiliki nyali dan kemampuan menyingkirkan aku!” 

Suasana berubah panas dalam seketika. 

“Wahai calon-calon penguasa, mohon untuk menahan diri. Sayembara ini tidak melibatkan pertarungan. Tantangan yang diberikan akan menguji kemampuan tuan dan puan sekalian dalam menjalani rintangan.”

“Sebutkan apa-apa saja tantangan tersebut!”

“Agenda hari ini adalah pengumuman sayembara serta pendaftaran peserta,” tanggap sang tetua kerajaan yang sekaligus menjabat ketua panitia sayembara tenang. Tantangan pertama akan akan berlangsung pada esok hari. Adapun jenis tantangan saat ini masih dirahasiakan.”


“Tuan Pemandu Wisata,” tegur Bintang Tenggara kepada seorang pemuda yang terus mengekor dan kini berdiri di samping. “Dimanakah kiranya kota terdekat yang memiliki balai gerbang dimensi…?”

“Tuan Ahli, jikalau bergerak ke arah selatan, maka kita akan bertemu dengan Rimba Candi, wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sedangkan bilamana menuju utara, maka kita akan mencapai wilayah pesisir pantai timur di tengah Pulau Barisan Barat. Di sana, terdapat Pekan Tua, ibukota dari Kerajaan Indera Giri.”

“Sudi kiranya mengantarkan diriku ke Ibukota Pekan Tua,” tanggap Bintang Tenggara tanpa pikir panjang. Baginya, lebih baik menjauh dari Rimba Candi bila tak hendak berpapasan dengan pasangan ayah-anak dari Kadatuan Kedelapan.

Sang pemandu wisata terlihat ragu. “Sungguh perjalanan menuju Ibukota Pekan Tua sangat panjang lagi terjal.” 

“Jikalau imbal jasa yang menjadi keraguan, maka silakan Tuan Pemandu Wisata menetapkan harga yang kiranya pantas.”

“Ehem…” Si pemandu wisata terlihat malu-malu mau. “Lima puluh keping perak…?”

“Sepakat! Lima puluh keping perak,” tanggap Bintang Tenggara. Kendatipun terbilang mahal, anak remaja tersebut merasa bahwa lebih baik mengeluarkan keping-keping perak daripada menyia-nyiakan waktu apabila tersimpang arah.”

“Bila waktu kita bertolak?”

“Saat ini juga!”

“Tidakkah Tuan Ahli hendak menyaksikan siapa pemenang sayembara…?”

“Tidak.”


Hari jelang petang. Bintang Tenggara bersama dengan pemandu wisatanya telah cukup jauh meninggalkan Bandar Kepetangan Hari. Yang lupa Anak remaja itu pertanyakan kepada sang pemandu wisata, adalah jarak menuju Ibukota Pekan Tua. Rupanya, perjalanan yang akan mereka tempuh adalah dua kali lipat jarak menuju Rimba Candi. 

Nasi telah menjadi bubur, namun demikian Bintang Tenggara tetap memandang mawar bukan durinya. Dibandingkan dengan kala meninggalkan Rimba Candi, ia berlari tanpa tujuan pasti. Setidaknya kini ia memiliki pemandu yang akan mengantarkan sampai ke tempat tujuan dalam waktu yang lebih singkat. 

Bintang Tenggara tetiba menghentikan langkah. Tak jauh di hadapan sana, sebuah iring-iringan saudagar terlihat bergerak lambat mengikuti langkah kaki lembu yang menarik pedati berat nan dipenuhi dengan barang. 

“Swush!” 

Tetiba, dari balik lebat pepohonan, terlihat bayangan berkelebat. Satu… dua… lima… delapan… dua belas ahli tetiba melompati pedati. Secara bergiliran mereka menggondol barang bawaan, lantas melesat pergi, lalu kembali lagi. Tindakan tersebut berlangsung terus-menerus. Anehnya, tak satu pun mereka dari rombongan pedagang yang menghentikan perkara perampokan tersebut. Mereka hanya berupaya mempercepat langkah lembu, agar segera menyingkir dari wilayah tersebut. 

“Mengapakah mereka membiarkan saja barang-barang dijarah…?” aju Bintang Tenggara pelan. 

“Lebih baik melepas harta benda daripada nyawa yang melayang…,” bisik si pemandu wisata pelan. 

Bintang Tenggara lantas menambah kecepatan langkah. 

“Tuan, jangan… jangan ikut campur!” Si pemandu wisata terdengar cemas. 

Sesungguhnya Bintang Tenggara bukan hendak menjadi pahlawan kesiangan. Namun demikian, ia sangat penasaran dengan gerakan lincah para penjarah. Dalam perhitungannya, beberapa sosok penjarah memiliki kecepatan yang setara dengan tatkala jurus unsur kesaktian petir Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana dipadukan dengan jurus persilatan Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang…

Si pemandu wisata melompat ke hadapan Bintang Tenggara sembari merentangkan kedua belah lengan. “Tuan Ahli, sebaiknya tidak mencampuri urusan kelompok Bajing Loncat!” cegahnya.