Episode 89 - Takdir Sang Putri Tidur



Ada banyak yang ingin Dan katakan pada Danny, tapi dia tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan semua itu. Begitu pula Danny, ada banyak pertanyaan yang kini datang menghampiri kepalanya, akan tetapi setelah melihat banyaknya mahluk raksasa di sekelilingnya, dia sadar, ini bukan saatnya.

“Simpan semuanya untuk nanti, sekarang kita selesaikan semua ini terlebih dahulu.” Ucap Danny dengan santai.

“Yah, kau benar. Apakah kau bisa bertarung?” tanya Dan.

“Mungkin. Entah kenapa aku merasa aku yang sekarang sangat kuat.” Jawab Dan. Dia bisa dengan jelas merasakan kekuatan yang mengalir di sekujur tubuhnya.

“Baiklah, ayo kita selesaikan dengan cepat.”

“Oke.”

Mereke berdua membenturkan tinju masing-masing lalu saling membelakangi. Saat ini Dan tidak perlu khawatir akan di serang dari sisi belakang, karena dia sudah tahu bahwa ada orang yang bisa diandalkan melindunginya. Begitu pula Danny. 

Hubungan yang telah terjalin sejak lama menimbulkan kepercayaan yang kuat.

Mahluk raksasa menyerang Danny dengan tinju besarnya. Danny tidak panik, dia dengan perlahan membayangkan sebuah senjata yang pernah dia lihat di majalah sebelumnya. Sebuah senjata dari negeri menara pisa yang diberi nama Benneli M-4 Super 90.

Sebuah senjata yang indah dan sangat bisa diandalkan. Senjata ini adalah primadona yang sangat dicintai oleh marinir Amerika dan sangat populer di pasar senjata meskipun dengan harga yang lebih mahal dari senjata lainnya. 

Rekam jejak senjata ini sangat cemerlang, dia telah menjadi senjata bagi banyak negara, seperti Malaysia, Serbia, Prancis, Irak, dan banyak lainnya. Setelah menjajal banyak perang, jadi wajar saja senjata ini sangat terkenal.

Secara perlahan sebuah senjata dengan panjang 885 mm tercipta di depan Danny. Dia segera mengambilnya dan memegang dengan kedua tangan. Untuk urusan peluru Danny tidak menggunakan peluru yang biasa dipakai oleh senjata ini, dia mengimajinasikan sebuah peluru yang terbuat dari kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya.

Bam.

Danny menembakkan Benneli M-4 Super 90 ke arah mahluk raksasa yang ingin menyerangnya. Segera setelah peluru terkena ke mahluk raksasa tersebut, api hitam segera meledak dan menghanguskannya.

Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam.

Rentetan peluru ditembakan oleh Danny pada mahluk raksasa di depannya. Seperti sebelumnya, ketika peluru mengenai mahluk raksasa tersebut, dengan segera api hitam membungkus dan menghanguskannya. Meskipun kemampuan Danny dalam mengenai target tidak baik, tapi dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan target yang sangat besar, hal itu bukan lagi masalah.

Api hitam terus berkobar dan menelan mahluk rasksasa di depan Danny, pemandangan yang sangat menakjubkan. Mereka benar-benar tidak berdaya di depannya, tapi tetap saja mahluk-mahluk raksasa itu datang dan menyerbu untuk menyerang.

Sedangkan itu, di sisi lain, Dan menciptakan dua bola api berwarna hitam dari kedua tangannya dan tanpa penundaan melemparkannya ke arah mahluk raksasa di depannya. Bola api itu meledak dan menelan belasan mahluk raksasa yang berada di daerah jangkauannya. 

Setelah mengaktifkan mode devil heart, energi yang Dan miliki sangat melimpah, jadi dia tidak akan pelit dengan serangan yang akan dia berikan pada mahluk raksasa di depannya. Kembali dua bola api hitam tercipta, lalu tanpa penundaan Dan segera melemparkannya ke arah kumpulan mahluk raksasa. Ledakan tercipta dan menelan mahluk raksasa. 

Di satu sisi adalah rentetan tembakan dari Danny, di sisi lain adalah ledakan bola api dari Dan. Dua serangan hebat membuat jumlah mahluk raksasa yang ada menjadi setengahnya. Sebuah serangan terus-menerus yang kuat dan tangguh, seperti sebuah pertunjukan kembang api yang ganas namun indah dan memukau.

Karena jumlah mahluk raksasa yang telah menurun, kini mereka berdua tidak terlalu kerepotan lagi.

“Mereka tidak ada habisnya, ayo kita pergi ke rumah di sana.” Ucap Dan.

“Baiklah.” Jawab Danny.

Dan maju dan membuka jalan menggunakan bola api hitamnya. Sedangkan itu Danny menjaga daerah belakang menggunakan Benneli M-4 Super 90 di tangannya, menembak mahluk raksasa yang mencoba menyerang mereka dari belakang.

Mereka berdua semakin dekat dan dekat dari sebuah rumah kecil. Namun, tiba-tiba sesuatu yang menakjubkan terjadi. Mahluk raksasa yang berada di depan rumah kecil tersebut bergabung satu sama lain, menjadi lebih besar dan besar. 

“Hei, sepertinya ini menjadi lebih gawat.” Ucap Dan seraya membuat dua bola api hitam lalu melemparkannya. Dua ledakan besar tercipta dan mahluk raksasa di depannya hancur di dalam ledakan.

“Maksudamu?” tanya Danny masih terus berjalan mundur dan menembak mahluk raksasa yang mendekati mereka dari arah belakang.

“Coba kau lihat sendiri.” Ucap Dan.

Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam.

Danny menembak mahluk raksasa terdekat lalu menoleh, kemudian dia langsung mengerti apa yang Dan katakan sebelumnya. 

“Ya, ini benar-benar gawat, ayo kita hancurkan yang lainnya dan tinggalkan dia untuk akhir.”

“Benar, ayo lakukan.” 

Bam. Bam. Bam. Bam.

Boom. Boom.

Bam. Bam. Bam. Bam.

Boom. Boom.

Suara tembakan dan suara ledakan saling bertautan berbunyi. Danny dengan kuat memegang senjatanya dan menembak mahluk raksasa yang ada, begitu pula dengan Dan yang terus membuat bola api hitam dan melemparkannya ke tengah kumpulan mahluk raksasa. 

Setelah serangan yang sengit, kini mahluk raksasa itu hanya berjumlah puluhan. Namun, mahluk raksasa yang berkumpul dan sedikit demi sedikit terbentuk menjadi mahluk super raksasa, sangat besar daripada ukuran yang lainnya.

Mereka berdua bergegas menyerang lebih sengit lagi, jika tidak mungkin situasi yang tidak mereka inginkan akan terjadi.

Boom. Boom.

Bam. Bam. Bam. Bam.

Perlahan tapi pasti mahluk raksasa itu semakin sedikit hingga kini hanya berjumalah belasan.

“Sedikit lagi.” Teriak Danny.

“Ya.” Balas Dan.

Dua buah bola api berwarna hitam tercipta dengan cepat di atas tangan Dan, tanpa membuang waktu Dan langsung melemparkannya ke mahluk raksasa yang tersisa.

Boom. Boom.

Dua ledakan besar tercipta dan menelan mahluk raksasa yang tersisa di depannya. 

Sementara itu Danny membidik mahluk raksasa di hadapannya dan menekan pelatuk senjatanya.

Bam. Meleset.

Jarak mahluk itu cukup jauh dan kemampuan menembak Danny tidak cukup baik, jadi serangan itu meleset.

Bam. Bam. Bam.

Setelah tiga tembakan beruntun, akhirnya peluru terakhir mengenainya dan menghanguskan mahluk raksasa tersebut. 

Kini, semua mahluk raksasa telah habis. Namun, masih ada satu hadangan yang menunggu mereka berdua. Mahluk super raksasa kini telah tercipta dengan sempurna. Bentuknya tidak jauh beda, namun tubuhnya yang adalah kumpulan dari banyak mahluk raksasa membuatnya menjadi berwarna-warni. Terlihat sangat indah, akan tetapi mereka berdua tetap memasang waspada.

“Bagaimana cara kita menghancurkannya?” tanya Danny.

“Aku bisa meledakkanya, tapi aku butuh waktu.” Jawab Dan.

“Baiklah, biar aku ulur waktu untukmu.” Ucap Danny lalu membidik tinju mahluk super raksasa yang mengarah pada mereka berdua.

Bam. Bam. Bam. Bam.

Peluru meledak di tinjunya dan menghancurkannya sedikit, akan tetapi tinju itu terus melaju dengan cepat.

“Menghindar.” Teriak Danny.

Mereka berdua melompat untuk menghindari tinju itu. 

Booomm.

Tinju itu menciptakan sebuah kawah yang luas, beruntung mereka berdua masih sempat untuk menghindarinya.

“Pergi ke tempat yang agak jauh, biar aku alihkan perhatiannya.” Seru Danny.

Tanpa berkata apapun Dan langsung berlari ke tempat yang agak jauh dari mahluk super raksasa tersebut. Sementara itu Danny terus berlari seraya menembakan senjatanya, mencoba untuk menarik perhatiannya.

Bam. Bam.

Hasil tembakan Danny tidak banyak berefek pada mahluk super raksasa tersebut, akan tetapi dia berhasil menarik perhatiannya.

Di sisi lain Danny mengangkat kedua tangannya ke langit. Kemudian putaran energi berwarna hitam mulai tercipta di atasnya. Tidak seperti bola api hitam yang tercipta sangat cepat. Serangan ini membutuhkan waktu cukup lama.

Api berwarna hitam terus berputar dalam lingkaran dan terlihat seperti sebuah bola. Lama kelamaan bola itu terus bertambah ukurannya. Dan bermaksud membuat versi maksimal dari bola api hitamnya.

Bam. Bam. 

Danny menembakan dua tembakan secara berturut-turut kemudian dengan cepat berlari untuk menghindar dari tinju mahluk super raksasa tersebut.

Boooommm.

Tinju mahluk raksasa itu kembali menciptakan kawah yang luas dan dalam. 

Setelah berguling-guling, Danny kembali berdiri dan menegakkan tubuhnya. Mengarahkan moncong senjatanya pada target dan menarik pelatuk.

Bam. Bam. Bam. Bam.

Rentetan peluru meledak pada tinju yang mengarah ke arahnya. Seperti sebelumnya, tidak banyak efek yang dihasilkan. Danny berlari untuk menghindar tinju tersebut. Tapi tiba-tiba tinju lainnya datang ke arahnya. Dengan terburu-buru Danny mencoba menghindarinya, akan tetapi dia masih terkena tinju mahluk super raksasa itu dan terlempar jauh.

Di sisi lain, Dan telah selesai mengumpulkan hampir semua energinya pada bola api hitam di atasnya. Kini bola api hitam tersebut besarnya sudah setengah dari mahluk super raksasa itu.

Tanpa penundaan lagi, Dan segera melemparkan bola api hitam tersebut ke arah mahluk super raksasa. Tidak lama kemudian setelah bola api hitam itu mengenai targetnya, sebuah ledakan besar tercipta dan memaksa Dan terlempar jauh dari tempatnya berdiri.

Ledakan itu berlangsung selama lima menit sebelum akhirnya mereda. 

“Untung saja kita tidak merasakan sakit di tempat ini.” ucap Danny.

“Ya.” Balas Dan singkat.

“Ayo kita segera selesaikan.”

Setelah pertarungan yang cukup lama, akhirnya mereka bisa menghancurkan semua yang menghalangi. Kini mereka berdua berjalan menuju rumah yang telah mahluk raksasa lindungi. Setelah tiba di sana, Danny membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

Di sana Danny bisa melihat sebuah ranjang sederhana. Di atas ranjang tersebut terbaring seorang wanita cantik yang tidak lama dia lihat, Alice. Matanya tertutup, pipinya memerah, dan bibir tipisnya tertutup. Sebuah pemandangan yang sangat indah, seperti sebuah lukisan yang keluar ke dunia nyata.

“Bagaimana cara membangunkannya?” tanya Danny pada Dan yang berdiri di belakangnya.

“Bukannya di saat seperti ini sang pangeran akan mencium sang putri tidur.” Balas Dan seraya tersenyum penuh arti.

“Kau terlalu banyak membaca cerita.” Balas Danny dengan cepat.

Dengan lembut Danny mengguncang bahu Alice dan berkata. “Alice, Alice, Alice. Ayo bangun.”

Secara perlahan mata Alice terbuka. Dia merasa seperti keluar dari mimpi buruk yang panjang. Rasa takut terlukis dalam matanya. Namun, semua perasaan buruk itu sirna secara seketika setelah dia mendengar suara yang sangat akrab di telinganya.