Episode 381 - Sayembara



Alkisah, pada zaman dahulu kala di suatu wilayah, jumlah penduduk bertumbuh padat dan cepat. Mereka para penduduk sadar akan perlunya sosok seorang pemimpin, yang mampu menyatukan kota dan desa demi membangun satu kerajaan yang lebih besar, agar supaya dapat bertahan dari ancaman musuh, serta menjamin kesejahteraan bagi segenap penduduk.

Walhasil, rakyat jelata menyelenggarakan sebuah sayembara. Barang sesiapa yang ingin menjadi penguasa di kerajaan nan baru, maka harus sanggup menjalani ujian. Disepakati pula bahwa ujian tersebut, mencakup: dibakar oleh api yang menyala berkobar-kobar, direndam dalam sungai selama tiga hari dan tiga malam, serta digiling pada kilang besi yang besar. Penduduk setempat tiada yang menyanggupi ujian dimaksud. Bahkan tokoh-tokoh terkemuka dari desa Tujuh Kuto, Sembilan Kuto, Batin Duo Belas dan lainnya menyerah pada ujian ketiga, yaitu digiling pada kilang besi.

Segenap tetua dan khalayak lantas bersepakat untuk mencari orang dari luar yang kiranya sanggup menjabat sebagai sang penguasa nan sakti. Akhirnya ditugaskanlah sejumlah utusan. Mereka mencari: melewati jalan setapak, menerobos hutan, menyusuri sungai, menghadapi binatang siluman buas dan menyeberangi lautan luas. Akhirnya para utusan sampai di sebuah negeri asing nan jauh di seberang lautan. Sebagian besar rakyat di negeri tersebut berkulit tubuh keling, sehingga para utusan menyebut negeri tersebut sebagai Negeri Keling.  

Para utusan melangkahkan mengitari dan meneroka seluruh pelosok Negeri Keling nan besar lagi maju itu selama tak terbilang waktu guna mencari sosok yang sanggup menjadi sang penguasa. Berkat ketekunan, keteguhan hati, serta kesetiaan tiada tara terhadap tanggung jawab, para utusan menemukan sosok yang kiranya pantas dan menyatakan kesanggupan untuk menjabat sebagai penguasa. Dengan gembira para utusan membawa calon tersebut kembali. 

Selama perjalanan, mereka banyak berbincang-bincang dengan sang bakal calon. Dari perbincangan itu, tahulah mereka bahwa tokoh tersebut memang tokoh yang pintar karena banyak mengenali ilmu perbintangan. Deburan demi deburan ombak, hembusan deras angin, gelap gulitanya malam, panas terik mentari sudah silih berganti dilalui, namun rombongan belum kunjung tiba di kampung halaman. 

Syahdan, hari beranjak petang. Perjalanan panjang yang dilalui mulai membuahkan hasil ketika mereka memasuki muara sungai yang besar sekali. Wilayah tersebut tak lain adalah tempat di mana para utusan bertolak perjalanan mencari calon penguasa. Walaupun sungai besar itu biasa mereka layari dengan dendang, sudah mereka minum airnya dan sering pula mereka membasuh diri di bantarannya, belum kiranya mereka mengetahui apa nama sungai besar itu. 

Apakah sang calon penguasa dari Negeri Keling mengetahui nama sungai itu atau tidak..? Meragu dan segan mereka ingin bertanya, namun akhirnya salah seorang dari utusan yang bernama Batin Duo Belas memberanikan diri mengajukan pertanyaan kepada calon penguasa dari Negeri Keling itu.

"Tuanku calon penguasa kami, elok kiranya Tuanku jika dapat menjawab satu saja pertanyaan kami…”

"Tanyalah mengenai apa-apa saja…,” tanggapnya sembari menikmati keindahan mentari nan indah yang sebentar lagi tenggelam.

"Muara sungai besar yang sedang kita layari ini, apakah gerangan namanya, wahai Tuanku?"

“Ha!” tanggap sosok dan berwibawa lagi keling kulit pembawaan lahiriahnya. “Inilah yang bernama muara Sungai Kepetangan Hari!”

Para utusan terkesima. Ternyata calon raja itu menjawab cepat, padahal sungai itu belum pernah dikenalnya. Atas jawaban tersebut, para utusan bergembira sekali dan semakin kuat tenaga mereka mendayungkan kayuh menyusuri sungai itu kala menyongsong arus. Sesampai mereka, segera tersebar luas kepada setiap khalayak bahwa nama sungai nan besar adalah Sungai Kepetangan Hari menurut sang penguasa baru. 


=== 


Semak belukar tersibak, lembar-lembar ilalang berhamburan ke semerata penjuru. Ledakan-ledakan kecil diikuti dengan serpihan rerumputan beserta akar yang tercabik dari tanah. Ibarat serangan bertubi-tubi nan tiada henti, ledakan-ledakan kecil tersebut membangun lintasan tiada beraturan puluhan kilometer panjangnya. Jejak yang sempat tersisa di sepanjang jalur tersebut, merupakan percik petir yang kemudian menghilang menyerap ke dalam tanah. 

Inilah yang terjadi tatkala jurus unsur kesaktian petir Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana dipadukan dengan jurus persilatan Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang. Ledakan kecepatan yang dihasilkan bahkan dapat membuat ahli Kasta Emas mendecak lidah. 

Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Datu Besar Kadatuan Kedelapan dan putrinya Balaputera Saratungga, selama tiga hari dua malam sudah Bintang Tenggara memacu langkah tanpa henti. Ayahanda seperti apa yang memberi izin kepada seorang lelaki untuk bebas menggauli putrinya sebelum dinikahi!? Anak seperti apa yang hendak membuktikan pandangannya kepada sang ayah melalui hubungan badan!? Sungguh para ahli dari Kadatuan Kedelapan sudah tak memiliki akal sehat!

Bintang Tenggara yang berakal sehat meminta izin untuk membasuh diri. Tentunya kebersihan tubuh sangatlah penting sebelum memadu apa pun itu yang hendak dipadu. Seketika ayah dan anak tersebut lengah, segera ia menyelinap dan melarikan diri. Walhasil, kini anak remaja tersebut tak tahu di mana dirinya berada. Asal menjauh saja dari wilayah Rimba Candi sudah lebih dari cukup baginya. 

Ini bukan persoalan ia tak menyukai, memandang rendah, atau bahkan menghina Balaputera Saratungga karena penampilan bentuk tubuhnya. Bukan. Sebaliknya, Balaputera Saratungga memiliki wajah lonjong yang cukup menawan dan berkulit sangat putih layaknya kebanyakan anggota keluarga bangsawan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Tubuhnya yang bongsor pun, sesungguhnya memiliki lekuk nan proporsional untuk ukurannya. Tinggi sekira 180 sentimenter dengan bobot tak kurang dari 90 kilogram, dilengkapi dengan payudara yang kencang dan lingkar pinggul besar nan kekar, tak ayal akan menggairahkan bagi mereka yang berukuran setara. Sebut saja bagi Panglima Segantang, misalnya…

Oleh sebab itu, ibarat terjungkal jatuh ke dalam mimpi buruk rasanya bila membayangkan dirinya ‘diduduki’ tubuh bongsor Balaputera Saratungga. Sekali gadis belia tersebut menggeliatkan pinggang, alamat pilu yang dirasa pada pangkal paha akan mendera berpekan-pekan lamanya. Segera Bintang Tenggara mengusir bayangan besar yang berkeringat sambil meliukkkan pinggang, dan sesekali mendesah… Jangan dibayangkan! 

Tetiba Bintang Tenggara menghentikan langkah. Di hadapannya, terhampar sebuah sungai yang maha lebar. Di seberang, samar terlihat bangunan-bangunan besar dan tinggi pada bantarannya. Sebuah kota terlihat megah membentang. 

Kota apakah gerangan itu? batin Bintang Tenggara yang tak tahu arah. Akan tetapi, keberadaan kota tersebut memberi sebuah harapan. Kiranya di sana terdapat balai gerbang dimensi yang bisa digunakan untuk menuju ibukota Kemaharajaan Pasundan. Dari sana nanti, dapat ia meneruskan perjalanan menuju Alas Roban, hutan angker di mana Pu’un Dangka berdiam. 

Menyusuri bantaran sungai ke arah hulu, kedua mata Bintang Tenggara menangkap keberadaaan sepasang tiang tinggi di tengah sungai. Semakin dekat, maka semakin terlihat pula bahwa tiang-tiang tersebut merupakan tiang pancang sebuah jembatan panjang. Menyadari bahwa dirinya semakin dekat dengan tujuan, maka ia pun memacu langkah. 

Tak lama, Bintang Tenggara menyaksikan gardu jaga di sisi jembatan. Terlihat para pedagang, petani dan peternak yang hilir mudik melalui jembatan. Setiap satu dari barang bawaan mereka diperiksa. Selain itu, terdapat pula banyak rombongan ahli yang memanfaatkan jembatan. 

“Permisi,” sapa Anak remaja tersebut kepada rombongan pedagang yang kebetulan melintas di hadapannya. “Apakah nama tempat ini…?”

“Titian Arasy…,” jawab cepat salah seorang anggota rombongan. Tanpa basa-basi lebih lanjut, ia meninggalkan anak remaja yang tak tahu arah. Sedang terburu agaknya mereka. 

“Tujuan apa di Bandar Kepetangan Hari!?” sergah petugas gardu jaga tatkala menyaksikan Bintang Tenggara yang mendekat.  

“Diriku sedang dalam perjalanan. Singgah ke bandar karena hendak memanfaatkan gerbang dimensi ruang menuju Kemaharajaan Pasundan.” 

“Lima keping perak!” tanggap si petugas gardu jaga tersebut. 

Layaknya bocah dusun yang baru pertama menuju kota besar, Bintang Tenggara terlihat gagap. 

“Lima keping perak adalah tarif melewati Titian Arasy!” sergah si penjaga gardu jaga mengaju kepada jembatan. 

“Oh…” Bintang Tenggara segera merogoh ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi pemberian Maha Guru Segoro Bayu. Ia keluarkan beberapa keping emas, lalu dimasukkan kembali karena tersadar salah mengeluarkan kepingan. Maklumlah, anak remaja tersebut jarang melakukan transaksi menggunakan kepingan emas, perak, maupun perunggu. Lantas, tanpa banyak basa basi, ia serahkan lima keping perak. 

“Silakah. Semoga selamat sampai tujuan…” Raut wajah sang penjaga gardu terlihat senang kala menerima keping-keping perak, nada bicaranya pun berubah santun. 

Bintang Tenggara melanjutkan perjalanan. 

“Kau lihat itu!?”

“Apa…?”

“Bocah dusun itu!” 

“Yang mana…?”

“Yang itu, yang sedang melangkah di Titian Arasy.”

“Ada apa dengannya…?”

“Dia kaya raya!”

“Ah, kau tahu dari mana…?”

“Tadi, tanpa pikir panjang dia membayar lima keping perak kepada penjaga gardu!” 

“Itu namanya bodoh, bukan kaya raya! Mau saja dia dikibuli…”

“Sebelumnya kulihat dia juga sempat mengeluarkan keping-keping emas!” 

“Hah!?”

“Betul, mataku tak salah lihat!” 

Hari sudah beranjak petang ketika Bintang Tenggara tiba di kota besar yang kini ia ketahui sebagai Bandar Kepetangan Hari. Sungguh sebuah kebetulan, batinnya, tiba di Bandar Kepetangan Hari pada petang hari pula. Meskipun demikian, suasana masih terbilang ramai.

Setelah bertanya-tanya, lalu ia ketahui bahwa pelariannya ke arah utara Rimba Candi. Dan yang terpenting, bahwa terdapat balai gerbang dimensi ruang di kota tersebut. Malangnya, balai tersebut sudah tutup dan baru akan berkegiatan kembali pada pagi hari esok. 

“Apakah Tuan Ahli hendak mencari penginapan…?” Tetiba, seorang pemuda menyapa kepada Bintang Tenggara. 

Anak remaja itu mengamati lawan bicaranya. 

“Bilamana benar, maka diriku merupakan seorang pemandu wisata dan dapat menyarankan penginapan yang layak.”

“Pemandu wisata…?” ulang Bintang Tenggara. Pantas saja pemuda tersebut mengenali dirinya. Pemandu wisata memanglah piawai mengendus orang-orang yang baru tiba di suatu tempat. Namun, terlepas dari itu, sungguh sebuah kebetulan karena memang dirinya perlu mencari penginapan. 

Tanpa syak wasangka, Bintang Tenggara mengikuti langkah pemuda tersebut. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah penginapan megah lagi mewah. Bintang Tenggara terlihat sedikit ragu, karena ia tak perlu menginap di tempat nan demikian mencolok, yang ia perlukan hanyalah tempat bernaung satu malam sahaja. 

“Tuan Ahli terlihat kelelahan karena perjalanan panjang,” tebak pemuda tersebut jitu. “Alangkah baiknya bilamana menetap di tempat yang nyaman.” 

Bintang Tenggara segera menyadari akan kelelahan setelah berlari selama berhari-hari, oleh karena itu pula dengan mudahnya ia jatuh dalam pujuk rayu. Mereka melangkah masuk ke dalam penginapan tersebut. 

“Tuan, satu kamar buat tamuku,” ujar pemuda tersebut dengan lantangnya, seolah ia yang hendak menginap. “Berikan yang terbaik!”

“Penginapan sudah penuh.”

Bintang Tenggara mengamati sekeliling, memang terlihat ramai ahli yang lalu lalang di beranda penginapan tersebut. 

“Coba diteliti lagi…,” tukas si pemandu wisata. 

“Berapa malamkah rencana Tuan hendak menginap?” aju petugas penerimaan tamu sembari membolak-balik halaman sebuah buku nan besar dan tebal. 

“Satu malam saja,” tanggap Bintang Tenggara cepat.

“Masih tersisa satu kamar untuk satu malam. Satu keping emas. Harga tersebut telah mencakup sarapan pagi pada esok hari.” 

Mahal sekali! batin Bintang Tenggara. Ia terlihat meragu. 

“Tuan, penginapan ini terkenal di seantero Bandar Kepetangan Hari, dan merupakan pilihan utama bagi saudagar dan bangsawan yang berkunjung. Sungguh Tuan beruntung karena masih tersedia kamar, karena banyak ahli dari penjuru Negeri Dua Samudera yang berdatangan. Tuan tak akan menemukan penginapan lain dengan mutu yang sama dan masih memiliki ketersediaan kamar.”

Bintang Tenggara tak terlalu menggubris uraian yang disampaikan. Akan tetapi ia menangkap kata-kata terakhir, bahwa segenap penginapan telah ditempati dan kemungkinan besar tak memiliki kamar yang tersedia. Pilihannya terbatas. 

“Kamar terbaik adalah yang menghadap ke arah Sungai Kepetangan Hari. Pemandangan terbitnya sang mentari di pagi hari sungguh indah,” lanjut sang pemandu wisata sembari mengangguk kepada penerima tamu. 

“Kebetulan kamar yang tersedia menghadap ke sungai. Harganya tiga keping emas,” sambung sang penerima tamu. 

Cepat sekali harga naik! Namun demikian, karena hendak segera beristirahat dan merasa tak punya banyak pilihan, Bintang Tenggara mengiyakan saja. Setelah menyerahkan tiga keping emas, ia lalu diantar ke kamar oleh petugas lain. Di saat yang sama, si pemandu wisata pun undur diri.

Sepeninggalan Bintang Tenggara, pemuda pemandu wisata kembali itu mendatangi meja penerimaan tamu. 

“Lumayan…,” ujar si penerima tamu sembari menyerahkan satu buntelan berisi keping-keping perak. 

“He!?” Pemuda itu menyeringai. “Harga asli kamar itu hanya sekeping emas!” Ia melemparkan kembali buntelan berisi kepingan perak. 

“Nih…” Si penerima tamu mengambil sekeping emas dari dalam laci meja, lalu melemparkannya sambil tersenyum kecut. 

Tanpa berbasa-basi lebih lanjut, pemuda yang mengaku sebagai pemandu wisata menangkap sekeping emas, lantas memutar tubuh. Sepertinya sudah biasa ia membuat para tetamu merasa terdesak dan tak punya banyak pilihan, sehingga bersedia membayar harga kamar jauh di atas harga sebenarnya. 

Sang mentari baru hendak beranjak dari peraduan ketika Bintang Tenggara meninggalkan penginapan nan mahal sekali harganya. Dengan nilai yang setara, ia dapat menghidupi seisi Dusun Peledang Paus untuk satu purnama lamanya. Walau, perlu diakui, bahwasanya biaya hidup di kota besar memang jauh lebih tinggi daripada di dusun terpencil. 

“Tuan!” Tetiba terdengar suara menegur. 

Bintang Tenggara menoleh, lantas mendapati bahwa pemuda pemandu wisata sedang melangkah ke arahnya. Agaknya tokoh tersebut berjaga sejah subuh agar tak kehilangan jejak sang tamu. 

“Apakah Tuan hendak mengunjungi tempat-tempat wisata…? Diriku dapat mengantarkan ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi.”

“Tidak. Aku hendak segera meninggalkan Bandar Kepetangan Hari.”

“Oh…?” Ia terlihat terkejut. “Sungguh sangat disayangkan, karena banyak tempat wisata menarik di bandar ini. Tapi tiada mengapa, diriku akan mengantarkan Tuan ke balai gerbang dimensi.”

Sepanjang perjalanan, Bintang Tenggara takjub menyaksikan ramainya jumlah ahli di jalan utama kota. Bahkan, di antara mereka tak sedikit dari yang sudah berada pada Kasta Emas. Para ahli Kasta Emas ini dikelilingi oleh belasan sampai puluhan ahli Kasta Perak. Setiap satu dari mereka menampilkan wajah garang. 

Sang mentari pagi bersinar cemerlang. Bintang Tenggara melewati pusat kota, dan menyaksikan bahwa semakin ramai lagi ahli yang sudah berkumpul di sana.

“Mohon maaf, gerbang dimensi tak dapat melayani permintaan meninggalkan Bandar Kepetangan Hari.” Seorang lelaki dewasa yang terlihat lelah berujar pelan. 

“Mengapa…?”

“Tidakkah Tuan mengetahui bahwa hari ini adalah hari pengumuman…?”

“Pengumuman…?” 

“Intinya, terdapat banyak ahli dari seantero Negeri Dua Samudera yang berdatangan, sehingga gerbang dimensi penuh sesak.” Lelaki dewasa itu memutar tubuh, meneruskan pekerjaannya mengarahkan mereka yang baru tiba.

“Tuan benar tidak mengetahui…?” ujar sang Pemandu Wisata yang masih mengekor Bintang Tenggara. 

“Tidak.”

“Bila demikian, izinkan diriku mengantarkan Tuan ke alun-alun bandar.”

Bintang Tenggara kini tiba di hadapan sebuah panggung nan megah di tengah halaman luas. Lebih tepatnya, ia berada di sisi luar halaman, di barisan paling belakang karena terdapat ribuan ahli yang sudah berkerumun dan membentang di hadapan sana. Bahkan para ahli Kasta Emas sabar menanti. 

“Para ahli nan terhormat dari seluruh pelosok negeri!” Tetiba terdengar suara menggema. Seorang lelaki setengah baya berdiri di atas panggung. Dengan mengimbuhkan tenaga dalam pada suaranya, ia menyapa segenap hadirin. 

Suasana berubah hening. Segenap hadirin mendengarkan khusyuk. 

“Genap sudah 250 tahun sejak Baginda Yang Mulia Putri Pinang Masak, pewaris takhta Kerajaan Kepetangan Hari mengasingkan diri dalam tapa di pegunungan. Selama peninggalan beliau, kerajaan jatuh ke dalam keterpurukan! Kejahatan merajalela: penipuan, pencurian, pembunuhan terjadi di mana-mana. Rakyat menderita!”

Rasa ingin tahu Bintang Tenggara tetiba memuncak. Ia mendengarkan penuh semangat. Sebuah pengalaman yang baru.

“Sampai dengan hari ini, tak ada tanda-tanda bahwa Baginda Yang Mulia Putri Pinang Masak akan kembali. Para utusan yang ditugaskan menjemput beliau diusir, dan di mana kesemuanya kembali dengan tangan kosong. Oleh sebab itu, para tetua dan kerabat kerajaan telah bersepakat. Di kala penguasa kerajaan nan sah menolak menjalankan amanah, maka para perwakilan rakyat memutuskan untuk memilih penguasa baru!”

Sorak-sorai segenap hadirin mendadak pecah. Suasana berubah ramai. Gegap gempita!  

“Sebagaimana awal berdirinya Kerajaan Kepetangan Hari dan riwayat pemilihan penguasa pada masa dahulu kala, maka jatuh pada hari ini diumumkan…”

Segenap hadirin menghela napas panjang. Segenap perhatian terpusat pada tokoh lelaki setengah baya di atas panggung. Para ahli terkemuka yang hadir, menyongsong sebuah peluang yang akan serta merta mengubah nasib mereka… 

“Sayembawa Pemilihan Penguasa Kerajaan Kepetangan Hari… dibuka!” 




Catatan:

Nilai tukar:

1 keping perunggu = Rp1.000

100 keping perunggu = 1 keping perak = Rp100.000

100 keping perak = 1 keping emas = Rp10.000.000