Episode 380 - Rekaman



“Siapa yang akan kita tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!?”

“Tidak ada!” 

“Akh, Jebat! Mengapakah dikau berubah menjemukan!?” 

“Tameng, jikalau tak bisa diam, maka akan kusimpan kau ke dalam sini!” ancam Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka sembari mengacungkan jari tengah yang mana tersemat sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi.

“Cih!” Sang keris besar yang menyoren di pundak merasa jengah, namun tiada kuasa mengumbar amarah. 

“Hei!” hardik Hang Jebat kemudian beralih kepada seorang pemuda yang berusia sekitar 20-an tahun dan berdiri beberapa langkah di hadapan. Kulit tubuhnya gelap, dengan rambut pendek keriting halus khas Pulau Mutiara Timur. “Apakah sudah benar arah tujuan kita!?”

“Mungkin…”

“Apa yang kau maksud dengan ‘mungkin’!?” Hang Jebat terlihat gusar. 

Aronawa Kombe memutar tubuh. Sepintas, terpancar keraguan dari sorot matanya, sesuatu yang tak biasanya terlihat. Sedetik kemudian, tubuhnya menghilang, untuk kemudian muncul di tempat lain beberapa ratus langkah di hadapan. Di puncak sebuah bukit…

“Bagaimana!?” Seru Hang Jebat yang menyusul penuh harap. Ia mendarat ringan di sisi teman seperjalanannya. 

Aronawa Kombe merentangkan kedua lengan. Kemudian, dalam gerak lambat, muncul bayangan-bayangan di sekitar tubuhnya. Semakin lama bayangan-bayangan tersebut bergerak semakin cepat ibarat rekaman yang diputar ulang. Menggambarkan berbagai kejadian, bayangan-bayangan menampilkan kawanan binatang siluman yang melintas, kemudian menjadi suasana badai, lalu berubah lagi untuk menampilkan beberapa ahli tak dikenal. Kemudian, terlihat bayangan tubuh besar seorang ahli dewasa nan penuh wibawa, yang mana tatapan matanya menyibak kedamaian. Saat ia muncul, bayangan melambat perlahan lalu bergerak sebagaimana aslinya. 

Lelaki dewasa itu digambarkan sedang berbincang-bincang kemudian menyerahkan sesuatu. Padahal, tiada terlihat ada sosok lain di hadapannya. Lalu terlihat berkas cahaya terang tetiba mengemuka, yang lantas melahap bayangan sehingga hilang dengan sendirinya…

“Bagaimana!?” ulang Hang Jebat penuh harap seusai menyaksikan bayangan-bayangan. 

“Menghilang…” gumam pemuda tersebut. Kini, keringat bercucuran deras di sekujur tubuhnya dan mustika tenaga dalam pun banyak terkuras. 

“Apanya yang menghilang!?” 

“Jejak beliau menghilang…,” tanggap Aronawa Kombe kepada Hang Jebat. 

“Bagaimana bisa!?” 

Aronawa Kombe pun terpana. Sungguh dirinya tiada mengetahui apa yang telah terjadi. “Menghilang tanpa bekas…”

“Aaaargghhh…” Hang Jebat menyeringai sembari menjambak rambut di kepalanya sendiri. Ia mengetahui bahwa yang dilakukan Aronawa Kombe saat merentangkan kedua lengan adalah menelusuri peristiwa-peristiwa di masa lampau. Dengan kata lain, bayangan-bayangan yang bermunculan di sekitar Aronawa Kombe tadi merupakan kejadian-kejadian yang pernah berlangsung di tempat itu. 

Selama beberapa purnama ke belakang, Hang Jebat dan Aronawa Kombe gigih mendatangi tempat-tempat yang pernah dilalui oleh Laksamana Hang Tuah sebelum tokoh tersebut menghilang dari dunia persilatan dan kesaktian.

“Atau…,” lanjut Aromana Kombe, “kemungkinan beliau sudah memperkirakan bahwa akan ada yang menelusuri jejak dengan cara…”

“Aaaargghhh…” Setengah putus asa, Hang Jebat kini menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ia terlihat berjongkok seolah kehilangan segenap tenaga untuk berdiri tegak. Kini ia sadari bahwa bukan tak mungkin kakaknya memperkirakan akan ada yang menelusuri jejak dengan memanfaatkan aliran waktu. Dengan caranya sendiri, kemudian Hang Tuah mengaburkan jejaknya, yang tiada dapat direkam bahkan oleh waktu sekalipun! 

Sederhananya, jikalau Hang Tuah tak mengkehendaki jejaknya diketahui, maka tak akan ada yang dapat menelusuri!

“Suatu saat di masa lampau, Laksamana Hang Tuah berdiri di perbukitan ini. Beliau berbincang-bincang dengan sesuatu yang menyibak cahaya…” rangkum Aronawa Kombe. 

“Kau tahu tentang kejadian ini, Tameng!?” Hang Jebat berupaya mencari tahu.

“Tidak.” 

“Laksamana Hang Tuah menyerahkan sesuatu, lantas keduanya menghilang…,” lanjut Aronawa Kombe.

“Ke mana!?” 

Aronawa Kombe menggelengkan kepala. “Hanya sampai batas ini saja bantuan yang dapat kuberikan…”

“Swush!” 

Tetiba, seberkas cahaya mengemuka di langit petang hari itu, lantas melesat teramat cepat. Hanya dalam satu kedipan mata, cahaya tersebut telah tiba dan melayang sekira sepuluh langkah di hadapan Hang Jebat dan Aronawa Kombe. Ketika itu terjadi, Hang Jebat telah sigap menggenggam senjata pusaka Keris Tameng Sari. Tokoh tersebut melangkah ke hadapan Aronawa Kombe, dan sepenuhnya menyadari bahwa jiwa mereka sedang terancam! 

Cahaya lantas meredup dan menyibak seorang lelaki setengah baya. Tubuhnya tegap, mengenakan baju zirah kokoh layaknya bangsawan diraja. Rambutnya hitam mengkilap, dan diikat dalam gelungan di sisi atas. Kumis tipis dan janggut runcing menatap ke bawah menyibak raut wajahnya kaku, yang memberi kesan angkuh. (1)

“Hmph…” Lelaki setengah baya tersebut mendengus ibarat menyaksikan dua lalat yang menyebalkan. 

“Jebat…,” bisik Tameng pelan. “Sebaiknya kita tak berurusan dengan siapa pun tokoh ini…”

“Wahai, Tuan Ahli,” sapa Hang Jebat. “Kami tiada bermaksud menyinggung atau mengganggu dikau.…” 

“Lancang!” Lelaki dewasa tersebut menjentikkan jemari, dan serta-merta puncak bukit di mana Hang Jebat dan Aronawa Kombe berdiri… meledak tanpa bersisa! 

Di saat yang bersamaat, sekira lima ratus langkah dari puncak bukit yang meledak, Hang Jebat terlihat berlari menjauh sembari memanggul rekannya yang sudah kehabisan tenaga dalam. Pada detik-detik akhir sebelum puncak bukit diledakkan, Aronawa Kombe dengan keterbatasan tenaga dalam mengerahkan kemampuannya agar mereka dapat menyelamatkan diri! 

“Waktu…” gumam lelaki setengah baya tersebut. Dengan mudahnya dapat ia membaca kemampuan sasaran. 

Langkah Hang Jebat terhenti karena lawan telah tiba melayang di hadapannya. Sontak ia letakkan tubuh Aronawa Kombe dan segera memegang keris nan besar di kedua lengan. Ujungnya Keris Tameng Sari yang patah dan terlihat seperti lidah ular demikian mengancam. Pun tubuh Hang Jebat berkelebat keemasan karena sedang memanfaatkan anugerah dari sang keris. Akan tetapi, dengan keadaannya yang sekarang hanya berada pada Kasta Emas Tingkat 2, Hang Jebat sepenuhnya menyadari bahwa dirinya bukanlah tandingan bagi lawan yang mengincar. Di saat berada dalam keadaan puncak dahulu, pun kemungkinan ia hanya akan dapat mengimbangi, belum tentu mengungguli. 

Lengan lelaki setengah baya melakukan gerakan menebas dari arah kanan atas ke kiri bawah. Sebentuk bilah angin membangun wujud parang yang melengkung besar melibas ke arah sasaran!

Hang Jebat merangsek maju, memanfaatkan kecepatan lompatan untuk menambah kekuatan menebas keris nan besar. Di saat yang sama pula, gumpalan asap berbau kemenyan menyibak tebal dan menderu lurus ke hadapan. 

Tebasan bilah angin mengiris asap, namun keampuhannya berkurang ketika berbentungan dengan bilah Keris Tameng Sari. Hang Jebat terdorong mundur, kedua lengannya terasa kebas. Kendatipun demikian, ia masih mampu meredam serangan lawan. Patut diakui bahwa dibandingkan dengan kemampuan tubuh yang masih terbatas, sang Raja Angkara Durhaka merupakan ahli yang tangguh dan kaya pengalaman.

Mendapati serangan dapat ditangkal, raut wajah lelaki setengah baya itu tetap terlihat datar. Tentunya ia hanya melancarkan serangan-serangan yang ringan, sama sekali belum mengerahkan jurus-jurus nan ampuh. 

Hang Jebat menggeretakkan gigi. Benaknya berputar deras mencari cara demi menyelamatkan diri. Jikalau harus meninggalkan dan mengorbankan Aronawa Kombe, maka akan ia lakukan tanpa perlu berpikir dua kali.

“Kalian cukup tangguh…” Tetiba lelaki setengah baya itu membuka percakapan. “Lebih dari itu, kalian memiliki kemampuan menelusuri jejak…”

Hang Jebat menanti dalam diam, namun masih dalam sikap siaga. 

“Oleh sebab itu, aku bersedia melepaskan nyawa kalian…”

Aronawa Kombe, meski dalam keadaan tertatih, bangkit berdiri. 

“Akan tetapi, ada imbalannya…” 

“Apakah gerangan…?” Hang Jebat memperoleh ruang tawar-menawar. 

“Aku mencari seseorang, namun ia demikian handal menyembunyikan diri.”


===


Jikalau membahas tentang peramal atau nujum, Bintang Tenggara pernah berkenalan dengan seorang ahli dengan kemampuan dan ciri seperti yang dimaksud. Adalah di dalam Alas Roban, hutan angker yang memiliki formasi segel alami guna membatasi peringkat keahlian, hidup masyarakat Urang Rawayan. Salah satu pimpinan mereka, seorang ahli nan tua lagi renta bernama Pu’un Dangka menunjukkan kemampuan di luar batas kemampuan keahlian. Tokoh tersebut dapat menjawab pertanyaan bahkan sebelum ditanya. 

Sesungguhnya Bintang Tenggara lebih memilih untuk masuk ke dalam Alas Roban, di mana setidaknya ia mengenal para penghuni yang berdiam di dalam sana tiada memberi ancaman. Selain itu, dapat pula ia bersua lagi dengan binatang siluman Trenggiling Pusaran Kilat pemalu yang dinamai Trengginas. Akan tetapi, setelah diingat-ingat lagi, dirinya sempat meninggalkan kesan buruk di dalam Alas Roban. Hal ini terjadi karena ia memaksa hendak membawa serta Trengginas keluar dari tempat tersebut. Atas kejadian itu, kemungkinan besar Cikartawana dan Bacuga tak akan menerima kunjungannya dengan tangan terbuka. Sungguh sebuah dilema. 

Bintang Tenggara segera meninggalkan Ibukota Minangga Tamwan. Ia tak menyempatkan diri untuk mengunjungi Perguruan Svarnadwipa di mana Nenek Sukma berada, atau pun Kadatuan Kesembilan di mana Ayahanda Sulung Rudra dan Ibunda Tengah Samara bertempat tinggal. Adapun alasan tak menyambangi para kerabat keluarga lebih karena ia tak memiliki waktu yang memadai untuk bersantai. Semakin banyak membuang waktu, maka semakin tak terbayangkan apa yang dapat menimpa tubuh sang guru. 

“Hei!” tetiba suara menyergah saat Bintang Tenggara melangkah keluar dari Candi Kesembilan di Rimba Candi. Datangnya tepat dari candi di sebelah, di mana seorang lelaki dewasa bertubuh besar menudingkan jemari ke arah Bintang Tenggara. Penampilannya sangat berbeda dengan anggota Kadatuan lain. Mereka berpakaian ala pendekar, bahkan mirip kaum barbar. Tiada kesan resmi sama sekali.

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedelapan,” balas Bintang Tenggara sopan. Sebagaimana diketahui, Kadatuan Pertama, Kadatuan Kedua, dan Kadatuan Kedelapan merupakan yang terkuat di antara keluarga bangsawan di Ibukota Minangga Tamwan. Penilaian ini didasarkan pada tingkat keahlian anggota keluarga dan kemandirian ekonomi mereka. Kadatuan lain berada satu tingkat di bawah, dengan catatan Kadatuan Kesembilan yang saat ini sedang melejit sebagai yang paling disegani. 

Lelaki dewasa nan bertubuh besar itu melangkah ke arah Bintang Tenggara. Raut wajahnya garang. “Hei, Yang Mulia Yuvaraja! Hendak kemanakah dikau!?” 

Sebagaimana diketahui, anggota keluarga Kadatuan Kedelapan terdiri dari para pemburu, penjelajah reruntuhan, pencari harta karun, bahkan serdadu bayaran. Jalan hidup mereka berbeda, sehingga pembawaan mereka pun unik. Terhadap sang pewaris takhta, tak terlihat seberkas pun rasa sungkan. 

“Diriku hendak bertolak. Ada urusan mendesak yang perlu ditangani,” tanggap Bintang Tenggara pelan. Ia mengetahui bahwa di masa-masa sulit, Kadatuan Kedelapan senantiasa baik terhadap Kadatuan Kesembilan. Terlepas dari pembawaan mereka yang kasar, hati mereka tulus. 

“Sara!” teriak sang Datu Besar dari Kadatuan Kedelapan ke arah Candi Kedelapan. “Hei, Sara!”

Segera setelah itu, melompat keluar seorang gadis belia nan bertubuh bongsor. Ia hanya mengenakan pakaian dalam yang terbuat dari kulit harimau seadanya demi menutupi wilayah dada dan bawah pusar. Selebihnya, adalah formasi segel berwujud baju zirah setengah transparan yang menaungi sekujur tubuh. 

Bintang Tenggara mengenali gadis belia tersebut, yang pernah menggendong Balaputera Prameswara saat menderita cedera dalam hajatan akbar pewaris takhta. Dia adalah Balaputera Saratungga. 

“Ini adalah putriku! Tentu kalian sudah saling kenal, bukan!?” aju Datu Besar Kadatuan Kedelapan. 

Bintang Tenggara mengangguk cepat. 

“Bagaimana!?” 

“Bagaimana…?” Bintang Tenggara terlihat kebingungan. 

“Bagaimana jikalau kalian menikah!?” sergah Datu Besar Kadatuan Kedelapan tanpa berbasa-basi, sembari menyibak senyum lebar. 

“Hah!?” Baik Balaputera Gara, maupun Balaputera Saratungga, terkejut bukan kepalang. 

“Ayahanda…” Balaputera Saratungga terlihat enggan. “Sang Yuvaraja…”

“Kenapa dengannya…?”

“Sepertinya lembek…” Balaputera Saratungga berbisik pelan kepada sang ayahanda. 

Meskipun berbisik, Bintang Tenggara mendengar jelas kata-kata Balaputera Saratungga. Akibat pengalaman buruk bersama dengan Ibunda Ratu Lebah di dalam dunia paralel Goa Awu BaLang, Bintang Tenggara sangat peka terhadap kata ‘lembek’. Seketika itu pula harga dirinya sebagai lelaki seolah dicabik-cabik lalu ditebar ke lautan luas untuk dilahap gelombang ombak pasang. “Apakah maksud dikau, wahai Saratungga!?” ujarnya geram. 

“Iya, apakah maksud dikau Ananda Sara…?”

“Sepertinya sang Yuvaraja kurang dapat memuaskan…” Gadis belia tersebut berujar datar. 

“Bagaimana mungkin!?” Datu Besar Kadatuan Kedelapan sang ayahanda berseru. “Beliau adalah sang Yuvaraja, yang telah teruji dan tampil paling perkasa di antara generasi kalian…”

“Keahlian tiada kaitannya dengan kemampuan…”

“Dengan kemampuan apa!? Hei!” Bintang Tenggara menyela penuh amarah, tersinggung sudah harga dirinya. “Belum coba, belum tahu!” 

“Benar!” dukung Datu Besar Kadatuan Kedelapan. “Kalian berdua pergilah memadu asmara!” 

“Baiklah,” jawab Balaputera Saratungga sembari menoleh kepada Bintang Tenggara. “Kami akan melewati malam ini bersama-sama…”

“Hah!?”


Catatan:

(1) Episode 350