Episode 88 - Takdir yang Mempertemukan


Meskipun sudah berada dalam mode devil heart, tetapi Raon masih belum bisa menang dari para mahluk raksasa. Dengan mudahnya mahluk raksasa yang tampak lemah dan imut itu menghajarnya. Kini dia telah kembali ke mode biasa yang membuat kekuatannya menjadi seperti semua. Jika dalam mode devil heart saja tidak bisa, bagaimana mungkin bisa dalam mode biasa.

Namun, Raon menyadari satu keanehan, banyak dari mahluk raksasa itu menoleh ke arah lain. Raon mengikuti arah yang meraka lihat dan menemukan bahwa ada satu orang di sana. 

“Siapa dia?” pikir Raon.

Tapi pertanyaan itu dengan cepat menghilang dan tenggelam dengan pertanyaan “Apa yang harus aku lakukan?” karena mahluk raksasa itu kini terlihat sedikit berbeda. Matanya berwarna merah dan terlihat sangat ganas, jauh berbeda dari sebelumnya. Sebagian mahluk raksasa itu berlari ke arahnya dan ke arah Dan.

Raon berdiri tegap seraya mengepalkan tinjunya lalu dengan sekuat tenaga meninju mahluk raksasa yang siap menyerangnya, mahluk raksasa itu hancur berantakan dan langsung ambruk. Namun, datang lagi mahluk raksasa dengan warna yang lain, tanpa basa-basi dia langsung meluncurkan serangan menuju Raon.

Sekali lagi Raon mengepalkan tinjunya dan melemparkannya menuju mahluk raksasa tersebut, kedua serangan beradu, akan tetapi Raon lebih kuat dan dalam sekejap mata nasib mahluk raksasa itu sama seperti mahluk raksasa sebelumnya, hancur berantakan.

Meskipun begitu, ini semua belum selesai. Tanpa penundaan, mahluk raksasa lainnya segera meluncurkan serangan pada Raon, kali ini serangan itu berasal dari arah belakang. Raon terlambat menyadarinya, hingga akhirnya serangan itu meluncur keras dan mengenai punggungnya. 

Raon terlempar ke depan, dan di depan sana Raon segera di sambut dengan sebuah tinju dari mahluk rakasasa . Raon kembali terlempar karena serangan itu. Serangan dari mahluk raksasa itu tidak berhenti dan Raon terus terlempar kesana kemari seperti mainan yang sedang dimainkan oleh anak-anak.

Sedangkan itu, di sisi lain Dan sedang menghadapi mahluk raksasa yang sedang menyerangnya. Kedua tinjunya di lapisi dengan api berwarna hitam, membuat kekuatan dari tinju itu berlipat ganda dari sebelumnya, mahluk raksasa itu segera hancur setelah menerima serangan dari Dan.

Namun, situasi Dan tidak jauh berbeda dari Raon sebelumnya, sebanyak apapun mahluk raksasa yang dia hancurkan, tetapi mahluk raksasa itu akan kembali muncul dan bahkan bertambah banyak. Dan melirik ke arah Raon, di sana Raon terlihat sangat menyedihkan.

Raon terus terlempar karena serangan dari mahluk raksasa, dia sesekali bisa lepas dari rentetan serangan itu, akan tetapi beberapa saat kemudian serangan datang dari arah yang tidak dia sangka hingga membuat dia terlempar lagi.

Semakin banyak Raon terkena serangan, semakin Raon merasa bahwa dia menjadi semakin lemah. Tanpa Raon sadari kini tubuhnya kini terlihat transparan. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mencoba untuk tetap bertahan.

Setelah ratusan serangan, akhirnya tubuh Raon benar-benar lenyap dan menghilang. Di akhir hayatnya Raon masih tidak percaya dia akan mati dengan kondisi menyedihkan seperti ini, dipermainkan layaknya sebuah mainan, apalagi pelakunya adalah sesuatu yang dia anggap lemah.

Dan terkejut melihat Raon lenyap, dalam hatinya dia merasa beruntung karena orang yang dia masuki dulu adalah Danny, bukan gadis cantik ini. Namun, baru beberapa detik Dan merasa bersyukur, kini dia menyadari bahwa dia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari dunia jiwa ini.

Dan memang bisa menghancurkan mahluk raksasa dengan tinju dan api hitamnya, tapi lalu apa? Mahluk raksasa itu terus bermunculan seolah jumlahnya tidak terbatas. 

Sementara Dan terus menyerang mahluk raksasa di sekitarnya, Dan juga memikirkan bagaimana cara untuk keluar dari sini. Tiba-tiba saja mata Dan terfokus pada sebuah rumah kecil, setelah itu Dan dengan cepat mencoba mendekatinya, karena mungkin saja pintu keluarnya ada di sana.

***

Di sisi lain, setelah Dokter selesai memeriksa Alice, dia berkata bahwa kondisi Alice sangat aneh, kesehatannya baik-baik saja, tapi panas di tubuhnya yang jelas bukan karena demam atau penyakit lainnya. Karena itu, untuk saat ini Dokter berkata kepada orang tua Alice bahwa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dan segera pergi.

Pak Klimis merasa kesal dengan sikap Dokter yang segera pergi, dia merasa kualitas dokter semakin menurun. Namun, dia juga tahu bahwa kondisi Alice memang tidak wajar. Secara tiba-tiba dia tertidur dan tidak bangun-bangun selama bebera hari, lalu hari ini suhu tubunnya memanas tanpa alasan yang jelas.

Ibu Alice sangat cemas. Dia memegang tangan Alice yang panas dan terisak sedih, ekspresi yang jarang dia tampilkan. Tapi itu wajar saja, lagipula Alice adalah putri kesayangannya. 

Wali Kelas terus memperhatikan Alice dan keluarganya yang sedang bersedih, lalu matanya melihat ke arah Dan yang menunduk, Wali Kelas mengira Dan bersikap begitu untuk menyembunyikan kesedihannya, lagipula dia laki-laki, wajar saja dia tidak mau dianggap lemah oleh orang lain.

Wali Kelas berjalan ke arah Dan, kemudian dengan lembut dia menepuk punggung Dan. Tapi yang tidak Wali Kelas duga adalah Dan segera tersungkur setelah dia ditepuk ringan. Kepalanya mengenai lantai dengan keras, tapi tidak ada suara teriakan dari Dan.

Dengan tergesa-gesa Wali Kelah mengecek kondisi Dan, tapi yang tidak dia duga kondisi Dan sama seperti Alice. Dan tertidur.

“Hei, hei, hei, bangun.” Wali Kelas mencoba membangunkan Dan sambil menepuk pipinya pelan, tapi tidak ada reaksi yang dia terima, Dan masih tertidur.

“Ada apa?” tanya Pak Klimis setelah melihat sikap Wali Kelas yang aneh.

“Dia tertidur.” Jawab Wali Kelas pelan.

“Apa? Benarkah?” Pak Klimis kaget setelah mendengarnya.

“Iya, dia tertidur, sama seperti Alice.” Jawab Wali Kelas dengan suara yang berat.

***

Di lain tempat, turnamen bela diri telah dimulai, pertandingan pertama hingga ketiga telah selesai, kini yang tersisa hanya pertandingan terakhir yang akan mempertemukan Dan alias Dina melawan Gerral.

Gerral saat ini sedang berdiri di tengah arena, tapi tidak ada tanda-tanda Dina akan datang. Wasit telah menghitung waktu mundur lima menit untuk menunggu Dina datang, jika tidak datang Dina akan dianggap kalah. Gerral mengerutkan keningnya, dia merasa tidak bahagia karena musuhnya tidak datang.

Namun, setelah lima menit berlalu Dina masih tidak muncul hingga akhirnya Wasih menyatakan bahwa Gerral adalah pemenangnya. Gerral berjalan pergi tanpa mengatakan apapun, dia merasa kemenangan ini sangat tidak memuaskan. Ini bukan apa yang Gerral harapkan.

Pun begitu dengan penonton yang hadir, mereka merasa tidak senang karena tidak berhasil menyaksikan serangan maut dari Gerral. Selain itu orang yang paling tidak senang dengan situasi ini adalah Angel. 

“Di mana dia?” pikir Angel dengan kesal.

***

Dan mencoba mendekati rumah itu, akan tetapi langkahnya terhenti karena kepungan dari mahluk raksasa yang sangat banyak di sekitarnya, dia harus terus menyerang mereka atau jika tidak dia yang akan diserang. Situasi ini seperti jalan buntu, kali ini Dan harus terus waspada akan serangan mahluk raksasa dari segala sisi.

Namun, tidak butuh waktu lama hingga konsentrasi Dan hancur, karena kesalahan itu sebuah serangan tepat mengenai bahu kirinya dan membuat Dan terlempar ke samping. Tidak lama kemudian datang lagi serangan dan membuat Dan terlempar untuk kedua kalinya. Situasinya tidak jauh berbeda dari yang Raon rasakan sebelumnya.

Yang bisa Dan lakukan hanya bertahan, karena serangan itu tidak ada habis-habisnya. 

Bam

Dan terlempar cepat ke arah kanan.

Bam.

Dari arah kanan mahluk raksasa yang telah menunggu di sana segera menyerang Dan.

Bam.

Bam.

Bam.

Bam.

Tubuh Dan terus-terusan terlempar ke kanan dan ke kiri, rentetan serangan bertubi-tubi itu terus menghujani tubuhnya. Dan mengingat kembali apa yang terjadi pada Raon, dia secara perlahan menghilang akibat serangan yang diberikan oleh mahluk raksasa itu padanya. karena itu Dan berpikir bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan terus begini.

Karena tidak ada pilihan yang lebih baik, Dan akhirnya memutuskan untuk mengaktifkan Devil heart, tanganya dengan cepat menusuk jantung kirinya dan kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi.

***

Pada awalnya Danny merasakan sesuatu yang masuk ke tubuhnya sangat samar, tapi semakin lama dia merasakan perasaan itu menjadi semakin jelas. Seperti air yang berasal dari daerah yang lebih tinggi, perasaan itu terus mengisi ke dalam tubub Danny.

Entah berapa lama, Danny tiba-tiba bisa merasakan kembali tubuhnya. Dimulai dari kepalanya, lalu badannya, tangannya, kakinya. Kini Danny bisa merasakan semua anggota tubuhnya dengan sangat jelas. Perasaan yang telah lama Danny rindukan sejak lama.

Namun, tempat di mana Danny berada masih sama, sebuah tempat yang gelap dan sepi. Danny melayang di sana tanpa sebuah pijakan. Meskipun begitu, Danny tetap percaya bahwa dia pasti bisa keluar dari sini. Kembali bisa merasakan anggota tubuhnya membuat kepercayaan diri Danny melambung tinggi.

Tiba-tiba pandangan Danny berubah menjadi sebuah kilatan cahaya yang menyilaukan, kegelapan itu seketika menghilang.

***

Setelah Dan mengaktifkan devil heart, sebuah api berwarna hitam muncul dari sekujur tubuhnya dan melelehkan semua mahluk raksasa di sekitarnya. Api hitam itu terus berkobar dan kemudian masuk ke dalam tubuh Dan.

Meskipun begitu, mahluk raksasa itu terus mendekati Dan, mencoba untuk menyerangnya, namun hasilnya sudah jelas, mereka langsung meleleh ketika berada di dekat Dan.

Api hitam itu terus masuk dan bergabung ke dalam tubuh Dan, namun tiba-tiba api hitam kembali berkobar dan kemudian terbang ke langit. Api hitam itu berkumpul dan kemudian membentuk sebuah tubuh, dimulai dari kepala, badan, tangan, lalu kaki, kemudian turun dengan perlahan.

Pada awalnya Dan mengira dia tidak bisa mengendalikan api hitam yang masuk ke dalam tubuhnya. Akan tetapi di saat genting dia merasakan bahwa api hitam yang masuk ke dalam tubuhnya menjadi lebih ringan dan tiba-tiba api yang berkobar itu membentuk sebuah tubuh.

“Aku ... hidup?” ucapnya dengan suara yang akrab di telinga Dan.

“Danny, kau ... kembali?” ucap Dan.