Episode 379 - Nujum (1)



“Ayo!” sergah Rangga Lawe sembari menyentak lengan Bintang Tenggara. 

Kedua remaja lantas melangkah cepat keluar dari Persaudaraan Batara Wijaya yang semarak. Sepanjang perjalanan, raut wajah Bintang Tenggara demikian resah. Tentu bukan karena kekalahan terhadap Kum Kecho, karena disadari terdapat pihak ketiga yang ikut campur tangan di dalam pertarungan mereka. Yang lebih membuat anak remaja tersebut bimbang adalah karena baru kali ini ia merasakan derita kehilangan sesuatu yang teramat berharga. Keadaan tersebut bahkan membuatnya tak menyadari bahwa mereka telah tiba di sebuah kota. 

“Di sini…” Di hadapan balai gerbang dimensi, Rangga Lawe kemudian mempersilahkan rekannya melangkah masuk. 

“Rangga Lawe, terima kasih atas semua bantuan yang telah diberikan. Aku tak akan melupakan kebaikan hatimu.” Bintang Tenggara berupaya kembali menapak di bumi, kendatipun keresahan masih menghantui di hati. Kala itu pula ia menyadari bahwa di balik wajah dan dagu angkuh Rangga Lawe, sungguh remaja tersebut memiliki hati yang mulia.

“Kau terlalu polos,” ujar Rangga Lawe dengan nada datar. “Apakah kau tak menyadari bahwa bantuanku memiliki harga yang patut engkau tebus?”

“Oh… Benarkah…? Apakah gerangan…?”

“Itulah maksudku… Engkau terlalu mudah percaya kepada ahli lain,” gerutu Rangga Lawe. “Dalam menjalani dunia keahlian, engkau perlu menunjukkan kekuatan atau setidaknya menampilkan kesan bahwa engkau tak mudah tunduk.”

“Hm…”

“Dengan kemampuan dasar yang engkau miliki, aku yakin dan percaya bahwa engkau akan melangkah jauh di jalan keahlian. Akan tetapi, dengan sikapmu yang lembek, maka engkau akan menghadapi berbagai macam rintangan…”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Ia kini menyadari alasan mengapa pribadi yang pada dasarnya ramah, lebih memilih untuk menampilkan kesan angkuh. 

“Pergilah.”

Berbekal nasehat Rangga Lawe, Bintang Tenggara melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang. Nasehat tersebut sesungguhnya telah ia pahami sejak lama. Arahan yang senada sudah sangat sering disampaikan oleh gurunya, Komodo Nagaradja. Akan tetapi, kini, tanpa sosok sang guru mendampingi, Bintang Tenggara seperti kehilangan arah. 

Anak remaja tersebut tiba di ibukota Kemaharajaan Pasundan. Tak punya waktu untuk mengunjungi Sanggar Sarana Sakti atau Kerajaan Siluman Gunung Perahu, segera ia beralih ke gerbang dimensi lain. Usai membayar ongkos yang diperlukan, ia pun kembali meneruskan perjalanan. Semoga tak terjadi penyimpangan arah lagi, batinnya menggerutu. 

Selang tak berapa lama, Bintang Tenggara melompat kembali keluar dari lorong dimensi ruang. Di hadapan, menanti perkasa dan berjajar sembilan candi besar yang menjulang dan membentang. Setiap satu candi terpisah jarak hampir satu kilometer dan di hadapan setiap satu candi tersebut terdapat antrian yang mengular panjang. Mulai dari candi pertama sampai dengan yang kesembilan tanpa terkecuali, terlihat sampai ratusan jumlah ahli yang berdiri sabar menanti giliran masuk.

Ia melangkahkan kaki ke arah candi kesembilan. Sangat bersih dan terawat. Banyak pula ahli yang mengantri sabar di hadapannya. Keadaan ini menunjukkan bahwasanya Kadatuan Kesembilan dipandang sebagai salah satu kekuatan besar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Salam hormat, wahai Yang Mulia Yuvaraja,” tegur beberapa prajurit yang berjaga sembari membungkukkan tubuh serendah mungkin. 

Bintang Tenggara sempat terkejut, namun segera berlagak tenang. Agaknya kesalahpahaman demi kesalahpahaman para prajurit dalam mengenali tokoh-tokoh yang datang bertandang ke Rimba Candi, sangat diantisipasi agar tak terus-menerus berulang. Di dalam, si kakek tua nan gagu pun sudah menanti. Seperti biasa, terhadap kehadiran anggota keluarga bangsawan Kadatuan Kesembilan ia memberikan penghormatan yang sangat besar. Aura yang terpancar dari tokoh tersebut kian membuat Bintang Tenggara penasaran. 

Tanpa banyak berbasa-basi, Bintang Tenggara melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang yang telah sedia dibuka. Ia hendak segera menemui seorang tokoh. Tiba di sisi lain, Anak remaja tersebut melangkah cepat menuruni wilayah Kedukan Bukit. Akan tetapi, bukanlah Kadatuan Kesembilan yang menjadi tujuan, melainkan Kadatuan Kedua.

“Hei, Yuvaraja!” tegur seorang remaja yang berpenampilan seadanya. Raut wajahnya demikian santai layaknya tak memiliki beban hidup. Sembari melipat lengan di depan dada, ia menyandarkan tubuh di sisi gerbang. Sepertinya ia telah mengetahui bahwa hari ini akan kedatangan seorang tamu.

“Pratiyuvaraja,” sahut Bintang Tenggara kepada Balaputera Ugraha, yang merupakan calon pewaris takhta setelah dirinya. 

“Jangan berbuat sesuka hati dan menyibukkan diri dengan petualangan-petualangan tak berarti, apalagi yang membahayakan jiwa,” Balaputera Ugraha mendengus. “Jikalau engkau mati konyol, maka aku yang nanti kena getahnya karena terpaksa menggantikan engkau mengurus negeri ini.” 

“Bukankah itu hal yang baik…? Kau berkesempatan menjabat sebagai sang penguasa,” tanggap Bintang Tenggara. 

“Tidak! Berkuasa berarti mengemban tanggung jawab yang hanya akan mengganggu ketenanganku!”

“Apakah Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua ada di tempat…?”

“Hari ini jadwal beliau adalah di Istana Utama menjalankan peran sebagai Maha Patih di Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” Balaputera Ugraha menunjuk ke arah utara. Di kejauhan, terlihat berdiri megah sebuah istana di atas wilayah perbukitan. 

Usai mengucapkan kata-kata perpisahan, Bintang Tenggara menghitung langkah melewati jalanan dan gedung-gedung Ibukota Minangga Tamwan. Sebagaimana halnya di Rimba Candi, saat tiba di pintu gerbang Istana Utama kehadirannya segera dikenali dan langsung dipersilakan melangkah masuk ke dalam sebuah aula. Ukurannya aula teramat luas dengan lantai marmer dan pilar-pilar yang menjulang. Langit-langit aula tersebut seolah menyentuh langit. Di sisi yang berseberangan dengan pintu masuk aula, sebuah kursi singasana yang terbuat dari jalinan formasi segel nan abadi terlihat anggun sekaligus perkasa. 

“Silakan menempati kursi singasana, wahai Yang Mulia Yuvaraja…” Tetiba terdengar suara menyapa. Seorang lelaki dewasa dengan raut wajah tegas melangkah menghampiri.

“Wahai Yang Terhormat Maha Patih Kemaharajaan Cahaya Gemilang… bukanlah kursi singasana tersebut yang menjadi alasan kedatanganku hari ini.” 

“Apakah perihal kejadian di Perguruan Budi Daya…? Sungguh kala itu kita tiada sempat berbincang-bincang…” Balaputera Wrendaha mempersilakan Bintang Tenggara. Mereka menuju ruang kerjanya yang lebih tertutup. “Jika dikau hendak mengajukan pertanyaan seputar Kekuatan Ketiga, maka diriku akan memberikan jawaban apa adanya, tanpa menyembunyikan apa pun…”

Bintang Tenggara menggelengkan kepala. Memang pertanyaan yang hendak ia ajukan adalah terkait dengan Kekuatan Ketiga, namun tidak secara langsung. Jikalau kelompok Kekuatan Ketiga menyimpan jasad tubuh Ginseng Perkasa, maka bukan tak mungkin mereka juga memiliki petunjuk tentang keberadaan tubuh Komodo Nagaradja. Bahkan, bisa saja kelompok Kekuatan Ketiga yang mengambil tubuh sang guru. Bukan untuk sembarang menuduh, namun inilah alasan utama mengapa anak remaja tersebut segera berkunjung ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Lantas…?” Tebakannya meleset, Balaputera Wrendaha tak menyembunyikan rasa ingin tahu.

“Komodo Nagaradja… ada yang mengambil tubuhnya…?” Tak hanya sepenuhnya mempercayai Balaputera Wrendaha, Bintang Tenggara bahkan menggantungkan seccercah harapan kepada tokoh tersebut. 

“Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara…? Komodo Nagaradja…?”

Bintang Tenggara menjawab dengan anggukan. Tak ada keraguan dari sorot matanya. 

“Tokoh tersebut telah lama menghilang dari dunia persilatan dan kesaktian, dan diperkirakan telah menghembuskan napas terakhir…”

“Beliau adalah guruku. Tubuhnya terluka dan kesadarannya terkunci. Beliau selama ini hidup dalam persembunyian. Akan tetapi, kini tubuhnya menghilang…”

Secercah pengetahuan yang diperoleh dari Bintang Tenggara, berubah menjadi sekian banyak kemungkinan di dalam benak Balaputera Wrendaha. Ia sedang menimbang-nimbang antara memanfaatkan pengetahuan tersebut demi kepentingan kelompok Kekuatan Ketiga, namun segera ia tepis kemungkinan itu. Kesetiannya terhadap Kemaharajaan Cahaya Gemilang, kepada sang Yuvaraja, jauh lebih besar!

“Selama ratusan tahun kelompok Kekuatan Ketiga menelusuri jejak Sembilan Jenderal Bhayangkara serta Lima Raja Angkara, namun tiada pernah khabar tentang keberadaan Komodo Nagaradja terdengar. Ini adalah kali pertama diriku mengetahui tentang beliau, sehingga dapat disimpulkan bahwa bukanlah kelompok Kekuatan Ketiga yang mengambil tubuh tersebut.” 

Mendengar jawaban Balaputera Wrendaha, Bintang Tenggara setengah lega sekaligus kecewa. Tokoh yang memiliki kemungkinan tertinggi mengetahui tentang keberadaan tubuh Komodo Nagaradja telah mengungkapkan ketidaktahuannya. Perasaan tersebut tercermin jelas dari raut wajah anak remaja itu. 

“Akan tetapi, janganlah berputus asa. Diriku akan membantu menelusuri…” Balaputera Wrendaha menunjukkan ketulusannya dalam menawarkan bantuan. 

“Apakah kiranya ada ahli lain yang kemungkinan besar dapat membantu…?” aju Bintang Tenggara penuh harap. 

Balaputera Wrendaha menggelengkan kepala. Namun sekejap kemudian, raut wajahnya berubah. “Mungkin saja ‘dia’ bisa membantumu…?”

“Siapakah…?”

“Di ujung utara Pulau Barisan Barat, hidup seorang ahli nujum…”

“Ahli nujum…? Peramal…?” Bintang Tenggara meragu, karena ia sendiri tak percaya pada kemampuan membaca gejala alam lalu mengubahnya menjadi ramalan. Akan tetapi, dunia persilatan dan kesaktian senantiasa dipenuhi dengan misteri yang tiada dapat dijawab dengan logika awam.  

“Kekuatan Ketiga pernah menelusuri tentang hikayat ahli nujum nan handal, namun sampai saat ini belum sekalipun bertemu muka dengan tokoh tersebut. Dihikayatkan, bahwa jika benar kehendak seseorang bersinggungan dengan tanda-tanda alam, maka ia akan mengemuka dan mengungkap jawaban yang dicari.” 

“Hm…”

“Sementara ini, hanya itulah jawaban yang dapat diriku berikan…”

“Satu lagi…”

“Apakah gerangan…?”

“Dimanakah keberadaan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa saat ini…?”

“Beliau…,” raut wajah Balaputera Wrendaha terlihat risau. “Tak berselang lama setelah menetapkan para pewaris takhta, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa menghilang…”

Raut wajah Bintang Tenggara kembali redup. “Apakah beliau mengasingkan diri dalam tapa…?” 

“Sepertinya tidak. Terdapat kemungkinan bahwa ia sedang mempersiakan sesuatu,” tanggap Balaputera Wrendaha cepat. “Apakah dikau hendak mempertanyakan tentang kemampuan merapal segel nan disegel…?”

“Benar.”

“Saranku, kemungkinan lebih mudah mencari ayahandamu dan memintanya mengurai formasi segel tersebut…”

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Ia tak tahu harus memulai dari mana.

“Atau,” Balaputera Wrendaha berhenti sejenak. “Meminta bantuan kepada anak didik Balaputera Ragrawira…” 

“Balaputera Khandra…?” Keengganan terpampang jelas dari raut wajah Bintang Tenggara. 

“Belakangan ini diriku memantau pergerakannya, dan dapat menyimpulkan bahwa kemampuannya dalam merapal formasi segel mungkin lebih tinggi daripada kakak kandungmu, Balaputera Lintara.”

Mendengar nama dua tokoh yang tiada dapat dipercaya, Bintang Tenggara jengah. Balaputera Khandra gemar menyusun tipu muslihat, sedangkan Lintang Tenggara lebih buruk lagi, karena selain bersiasat dia juga senang memaksakan imbalan. 


===


“Oh…? Bukankah itu dua saudara sepupuku…” Terdengar suara dari seorang lelaki dewasa muda. Pembawaannya berkharisma, sangat terpelajar adanya. Pakaian yang ia kenakan demikian tertata rapih, yang kemungkinan dipersiapkan oleh perancang busana ternama. 

Dua ahli sedang berlatih di luar wilayah Perguruan Gunung Agung. Di lereng Gunung Istana Dewa, sang kakak menggembleng adik kandungnya yang diketahui sangat tertinggal dalam kemampuan merapal formasi segel. Kemungkinan karena dimanjakan sehingga jarang berlatih, maka setiap ada kesempatan Balaputera Khanda akan menatar Balaputera Prameswara.

“Kakak Lintara!” seru Balaputera Prameswara dengan polosnya. Ia pun lantas mendatangi. 

“Kakak Lintang, apakah gerangan yang dikau lakukan di Pulau Dewa…?” ujar Guru Muda Khandra sembari menunjukkan sebuah lencana. Sekali menebar mata hati kepada lencana tersebut, maka akan berhamburan datang pada ahli perkasa dari Perguruan Gunung Agung.

“Apakah dikau mengancamku, wahai Khandra…?”

“Kakak Lintara,” sela Balaputera Prameswara. “Lihat ini…” Anak remaja nan lugu merapal formasi segel. Di antara simbol-simbol yang mengemuka, terlihat beberapa yang asing di mata Lintang Tenggara. 

“Sungguh luar biasa, Wara!” sahut Lintang Tenggara. “Dikau sudah tumbuh perkasa! Dalam waktu dekat, aku akan memiliki pesaing yang handal.”

Balaputera Prameswara tersipu. 

“Wara, berlatihlah seorang diri sejenak. Ada yang hendak diriku bahas bersama dengan kakakmu…”

Sepeninggalan Balaputera Prameswara, kedua saudara sepupu saling berhadapan. 

“Kakak Lintara, diriku tak hendak bertarung…” Dalam kaitan dengan merapal formasi segel, Balaputera Khandra menyadari bahwa dirinya lebih unggul. Akan tetapi, dalam hal persilatan dan kesaktian, kemungkinan besar Lintang Tenggara jauh lebih tangguh.

“Siapa yang menantangmu…?” Lintang Tenggara terkekeh. “Ada yang hendak kutanyakan…”

“Jikalau tentang keberadaan paman Wira, maka diriku pun tiada mengetahui,” tanggap Balaputera Khandra dengan nada datar. 

“Oh, bukan… Bukan itu…,” Lintang Tenggara menepis debu dari pakaian yang ia kenakan. 

“Apa…?”

“Aku mencari Embun Kahyangan…”

“Apakah dikau sudah menyambangi Padepokan Kabut…?”

“Tentu saja. Namun gadis itu sedang tak berada di sana…”

“Jikalau demikian, sungguh diriku tiada dapat membantu. Secara pribadi, aku tak mengenal Embun Kahyangan…”

“Tentu… tentu…” Lintang Tenggara melangkah pelan, melipat siku lengan kanan dan menempatkannya di balik tubuh. “Khabar yang kuperoleh, Embun Kahyangan Sempat bertandang di Perguruan Gunung Agung.”

Balaputera Khandra waspada, namun tetap menanggapi, “Gadis itu berkunjung karena mencari Bintang Tenggara…”

“Apakah hanya mencari bocah itu…? Apakah mungkin ada hal lain…?”

“Tidak dalam sepengetahuanku.”

Lintang Tenggara memutar tubuh, menunjukkan bahwa urusan kedatangannya telah selesai. Ia pun menyadari bahwa semakin lama berada di wilayah pulau dewa, maka semakin besar pula bahaya yang mengancam. Akan tetapi, belum melangkah terlalu jauh, tetiba ia memutar tubuh. “Berdasarkan penelusuranku, usai meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, dikau tiada langsung bertemu dengan ayahandaku…”

Balaputera Khandra diam mengamati lawan bicaranya. Sulit sekali menebak jalan pikiran tokoh tersebut. 

“Ketika segenap ahli yang menelusuri jejaknya menemui jalan buntu, engkau justru berhasil bertemu dengannya.” 

“Sungguh diriku memiliki peruntungan yang baik,” kilah Balaputera Khandra. 

“Penelusuran lanjutan yang kuupayakan, menemukan bahwa terdapat kejadian yang tak terungkap di dalam rentang waktu tersebut…” Lintang Tenggara mengangkat jari telunjuk lalu mengarahkan kepada lawan bicaranya. 

Balaputera Khandra menanti ke mana arah pembicaraan Lintang Tenggara. 

“Apakah benar bahwa dikau mendatangi seorang ahli nujum…?” Akhirnya Lintang Tenggara mengungkapkan alasan utama kedatangannya ke Pulau Dewa, walau menyadari akan besarnya bahaya yang mengancam. “Dari ahli nujum tersebut, dikau memperoleh petunjuk…”

Balaputera Khandra terdiam sejenak, seolah enggan memberi jawaban. Namun demikian, tetiba ia mengangguk pelan. “Jikalau benar kehendak seseorang bersinggungan dengan tanda-tanda alam, maka sang nujum akan mengemuka dan mengungkap jawaban yang dicari.”