Episode 87 - Takdir Untuk Dia



Entah berapa lama Danny berada di tempat yang penuh rasa putus asa ini. Pikirannya yang masih berfungsi adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Danny percaya bahwa dia masih hidup, meskipun dia tidak bisa melihat apapun, tidak bisa mengatakan apapun, dia tidak bisa merasakan apapun, situasi yang amat menyedihkan.

Untuk saat ini pikiran Danny masih waras karena keteguhan mentalnya, jika tidak mungkin sudah lama dia akan gila. 

Danny terus memposisikan pikiran tetap tenang, walaupun dalam kondisi putus asa seperti ini. Danny selalu percaya, bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Setidaknya sampai saat ini.

Walaupun begitu, Danny masih belum mendapatkan jawaban dari masalah yang dia hadapin saat ini. Danny menjelajahi memorinya untuk menghibur diri. Mengingat indah dan elegannya senjata api dan kendaraan militer, mengingat Ibunya yang selalu kuat meskipun dia adalah orang tua tunggal, mengingat Raku, Rito, Angel, juga ... Dan.

Danny bisa berada di tempat ini setelah mencoba untuk menyelamatkan Dan, meskipun begitu Danny tidak menyesal sedikit pun, Danny merasa pilihan yang dia ambil adalah yang terbaik, jadi itu bukan pilihan yang salah, meskipun hasil ini bukan yang dia harapkan.

Seraya mengingat semua itu, Danny tiba-tiba merasa sangat bahagia, karena dia kini bisa merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya, perasaan halus dan aneh terus merambat dan sepert menyatu. Jika diwaktu lain, Danny pasti merasa panik karena perasaan itu terasa aneh dan mengerikan, tapi saat ini Danny yang telah lama tidak bisa merasakan apapun merasa sangat bahagia.

Meskipun Danny tidak tahu perasaan itu akan membawa hal baik atau buruk, setidaknya dia bisa merasakan sesuatu lagi, seperti mahluk hidup yang sesungguhnya, bukan hanya sebuah wadah kosong dan hampa.

Semakin lama perasaan itu semakin terasa dan membuat Danny merasa sesak, kali ini Danny yakin, ini bukan pertanda baik.

°°°

Meskipun sedang mengikuti turnamen bela diri, tapi Dan atau lebih tepatnya Dina ketika dikaitkan dengan turnamen, tetap menjalani kehidupan seperti biasa. Pagi berangkat sekolah dan sore pergi ke turnamen jika datang gilirannya, tentu saja Dan tidak mengatakan bahwa dia akan pergi ke turnamen bela diri pada Ibunya, dia beralasan untuk pergi berlatih seperti yang biasa dia lakukan, dan tentu saja Ibunya tidak merasa cemas karena itu sudah biasa Danny lakukan.

Hari ini Dan memiliki jadwal pertandingan di turnamen, jadi dia akan kembali memberikan alasan untuk pergi berlatih kepada Ibunya agar tidak khawatir. Setelah beberapa hari ini Dan mulai bisa menjinakkan sedikit kekuatan api hitam di dalam tubuhnya, jadi Dan butuh seseorang untuk menjadi karung tinju dan menguji kontrol api hitamnya.

Pagi ini Dan merasa sangat damai, karena tidak ada gangguan dari Angel, yang masih merasa kesal setelah kalah di pertandingan hari kemarin. Juga tidak ada Alice yang belakangan ini tidak masuk sekolah, entah apa alasannya Dan tidak tahu menahu. Selain itu Raku juga mulai menjauh dari Dan.

Raku mulai dekat dengan ketua kelas tanpa ekspresi, Chacha namanya, dia sering ikut membantu Chacha jika ada kegiatan kelas atau sesuatu semacam itu, dan akhirnya membuat siswa lainnya mulai berani untuk dekat dengan Raku walaupun mereka masih tidak bisa melupakan rumor bahwa Raku adalah anak seorang Yakuza dan memiliki tiga pacar yang amat sangat mengerikan latar belakangnya.

Namun, seperti yang sudah-sudah, kedamaian hati Dan tidak akan bertahan lama, pasti ada sesuatu yang akan merusaknya. 

Kejadiannya seperti ini, pada jam pelajaran ketiga, Wali Kelas masuk dan berkata bahwa dia akan pergi mengunjungi Alice yang telah lama absen, dia juga ingin satu orang perwakilan kelas untuk ikut pergi ke rumah Alice. Sontak saja semua siswa mengacungkan jari dan berkata bahwa mereka bersedia ikut pergi ke rumah Alice, kecuali Dan yang tetap diam.

Melihat semua siswa yang berebutan untuk pergi, membuat Wali Kelas mengerutkan dahinya, dia tahu bahwa Alice adalah gadis paling cantik di angkatan ini, jadi situasi ini sangatlah wajar, tapi Wali Kelas tahu mereka pasti mempunyai motif tersembunyi di dalamnya dan Wali Kelas membenci perasaan tidak murni seperti itu.

Namun, ketika Wali Kelas melihat Dan tidak mengacungkan jarinya, dia segera berkata bahwa orang yang akan mewakili kelas untuk mengunjungi Alice adalah Dan. Dan sempat menolak, tapi Wali Kelas memaksa sehingga Dan tidak punya pilihan lain.

Hingga akhirnya di sinilah Dan, bersama Wali Kelas, di depan sebuah rumah mewah dengan pagar besi yang tinggi. Dari ingatan Danny, Dan masih bisa mengingatnya, pria gagah berkumis tebal bernama Pak Budi yang saat ini berdiri dengan tegas di depan pagar adalah satpam di rumah ini.

Setelah pagar dibuka, Dan bersama Wali Kelas segera berjalan masuk, Dan bisa melihat seorang pria yang tampak biasa dan hanya memiliki satu unsur unik dalam dirinya, yaitu rambutnya yang klimis, jadi Danny memberinya sebuatan Pak Klimis, dia adalah Ayah dari Alice. Pak Klimis sedang berdiri bersama seorang wanita cantik, di wajahnya terdapat sedikit fitur yang sama seperti Alice, dia dalah Ibunya Alice.

“Permisi Pak, Buk, kami di sini datang untuk menjenguk dan mencari tahu kondisi Alice.” Ucap Wali Kelas dengan sopan seraya tersenyum tipis.

“Silakan masuk.” Ucap Ibu Alice sambil membalas senyum.

Setelah itu Wali Kelas dan Ibu Alice berjalan masuk ke dalam rumah, sedangkan itu Dan di hentikan oleh Pak Klimis di depan rumah.

“Kenapa kau baru datang?” tanya Pak Klimis dengan mata yang tajam.

“Um ... uh.” Dan tidak tahu harus berkata apa. 

Dan memang tahu Danny dan Alice cukup akrab, jadi normalnya jika Alice tidak masuk sekolah selama beberapa hari, maka Danny pasti akan berkunjung, tapi masalahnya dia adalah Dan, bukan Danny. Jadi pikiran untuk mengunjungi atau mencari tahu kondisi Alice tidak terlintas dalam pikirannya.

Pak Klimis mendengus lalu berkata, “Aku kecewa padamu.” 

Setelah itu Pak Klimis langsung berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh. Di sisi lain, Dan tidak tahu harus ikut masuk atau tidak, tapi setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Dan tetap masuk ke dalam. Karena ada sesuatu yang mengganjal, Dan bisa merasakan energi yang kuat dari dalam rumah. 

Dan duduk di samping Wali Kelas seraya mendengarkan tiga orang mengobrol. Dari obrolan mereka Dan kini tahu kenapa Alice tidak masuk sekolah. Alice tidak sakit, tapi dia tertidur. Sejak beberapa hari yang lalu dan sampai saat ini belum bangun. Pak Klimis sudah memanggil dokter, tapi dokter tidak tahu apa penyebab semua itu bisa terjadi.

Setelah mengobrol sekitar setengah jam, Wali Kelas meminta izin untuk melihat Alice dan permintaan itu disetujui oleh kedua orang tua Alice. Berjalan menuju kamar Alice, Dan masih mempertahankan kebisuannya, tapi pikirannya seperti ombak yang terus terombang-ambing, karena Dan bisa merasakan sumber energi seperti miliknya semakin dekat.

Pintu kamar Alice dibuka oleh Pak Klimis, sebuah ruangan luas bercat putih tampak di depan mata Dan. Terdapat sebuah kasur besar di sisi kamar, di atas kasur tersebut tertidur sesosok gadis, dia adalah Alice. Wajahnya masih tetap cantik, dia seperti seorang Putri Tidur yang menunggu Pangeran untuk membangunkannya.

**

Raon terus bertarung dan bertarung melawan mahluk raksasa beraneka warna, akan tetapi semakin lama dia bertarung bukannya semakin sedikit, malah semakin banyak dan membuat Raon kewalahan. 

Meskipun Raon tidak merasakan sakit, lelah, atau cidera fisik, tapi secara mental dia terluka. Raon bisa menghancurkan beberapa pun mahluk raksasa itu. Namun, mahluk raksasa itu terus bermunculan dan bertambah banyak yang membuat dia semakin putus asa.

Entah berapa kali Raon telah menghancurkan mahluk raksasa itu, dia telah bosan menghitungnya. Apa yang Raon ingin tahu saat ini adalah bagaimana cara untuk sampai ke rumah kecil yang di jaga para mahluk raksasa dan mengambil alih tubuhnya.

Tidak seperti sebelumnya, kekuatan Raon dalam bentuknya saat ini hanya setengah dari sebelumnya saja, jadi cukup sulit baginya untuk menghabiskan semuanya sekaligus.

Tanpa pilihan yang lebih baik, akhirnya Raon memutuskan untuk menggunakan Devil Heart. Dengan cepat Raon menusuk dada kirinya, raungan keras beserta api berwarna merah berkobar dengan ganas dari dalam tubuhnya. 

Api itu terus berkobar dan melelehkan puluhan mahluk raksasa di sekitar Raon, meskipun begitu jumlah mahluk raksasa itu masih sangat banyak. Tidak lama kemudian api yang berkobar semakin meredup, sosok di dalam api itu terungkap, saat ini Raon tidak lagi berwujud seorang pemuda berambut hitam dengan sayap gagak di punggungnya, tapi kini Raon adalah gagak yang sebenarnya.

***

Dan merasa cemas karena energi yang dia rasakan sangat kuat, hingga Alice yang sebelumnya tertidur dengan anggun dan tenang kini mulai berkeringat dari seluruh tubuhnya. Orang tua Alice merasa khawatir dengan perubahan yang mendadak ini, mereka segera memanggil dokter untuk datang.

Di lain sisi, Dan mencoba melakukan hal gila, dia bermaksud untuk menerobos masuk ke dalam jiwa Alice. Dan memusatkan fokusnya dan mencoba mengkonsolidasi jiwanya. Ini adalah hal baru bagi Dan, jadi butuh waktu lama bagi Dan untuk bisa.

Setelah selesai, Dan segera melepas jiwanya dari tubuh Danny dan mencoba masuk ke dalam jiwa Alice.

Berhasil. Kini Dan berada di sebuah tempat yang aneh, pijakannya lunak dan membuat kakinya terendam. Di depan matanya terdapat sesosok gagak raksasa sedang bertarunn dengan ribuan mahluk raksasa berwarna-warni. 

Namun, pertarungan itu sangat singkat, ribuan mahluk raksasa itu menjadi ganas dan berlari menuju gagak raksasa tersebut, tidak butuh waktu lama gagak raksasa itu langsung kalah dan terkapar, kemudian berubah menjadi sesosok pemuda dengan sebuah sayap gagak di punggungnya.

Setelah selesai menghabisi gagak raksasa itu, kini semua mahluk raksasa itu melihat ke arah Dan dengan penuh kemarahan. Dan yang melihat ini tidak tahu harus tertawa atau menangis. Situasi ini, sungguh tidak terduga.