Episode 376 - Tantangan



Hari beranjak petang ketika Bintang Tenggara bersama dua rekannya tiba kembali di Perguruan Gunung Agung. Segera ia menitipkan Si Kancil dan meninggalkan Balaputera Prameswara di perguruan. Ia harus bergerak cepat, yang artinya bepergian seorang diri. Waktu masih tersisa untuk mengejar layanan gerbang dimensi ruang terakhir dari Pulau Dewa. Tujuannya adalah Kota Baya-Sura, di mana ia akan menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan.

Kepanikan berubah menjadi kegelisahahan. Gelisah karena upaya yang selama ini dikerahkan demi menepati janji mengembalikan jiwa dan kesadaran sang guru ke dalam tubuh yang sehat, terhambat karena ada pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Adanya kemungkinan terburuk ini sudah diperkirakan sejak lama, bahkan ketika meninggalkan Pulau Bunga untuk pertama kalinya. Namun demikian, Bintang Tenggara percaya pada formasi segel yang menyembunyikan pulau tersebut.

Walau, jika diingat lagi, pada kunjungan sebelumnya bersama Ginseng Perkasa pernah ditemui jejak tapak kaki di dalam goa. Mungkinkah ahli yang tiba kala itu kembali dan membawa pergi tubuh Komodo Nagaradja…? Sebagaimana diketahui, harga tubuh siluman sempurna yang masih utuh sangatlah langka dan dihargai mahal sekali di pasar gelap. (1)

Penyesalan selalu datang belakangan. Seharusnya kala itu dirinya memindahkan tubuh Komodo Nagaradja ke tempat persembunyian lain. Langkah tersebut sepantasnya diambil kala itu, karena jauh lebih mudah daripada harus menelusuri jejak pencuri. 

Setidaknya kini anak remaja tersebut sudah dapat berpikiran jernih. Dalam keadaan ini, ia menyimpulkan hanya ada beberapa ahli yang kemungkinan besar dapat memberikan jawaban atas keberadaan tubuh Komodo Nagaradja. Ia akan mendatangi salah satunya, yang mana memiliki kemungkinan tertinggi. 

“Kota Baya-Sura,” ucap Bintang Tenggara sembari menyerahkan keping-keping perak dan tak lupa menunjukkan lencana Murid Utama Perguruan Gunung Agung. Petugas gerbang dimensi di Kota Taman Selatan, seorang lelaki dewasa, terlihat gelagapan. Menyaksikan lencana di tangan anak remaja itu, tak ada ahli di Pulau Dewa yang akan mempertanyakan kehendaknya. 

“Tapi, gerbang dimensi…”

“Sekarang!” bentak Bintang Tenggara. Baginya, waktu layanan gerbang dimensi masih buka dan tak ada alasan bagi petugas tersebut untuk menolak. 

Lelaki dewasa tersebut tiada dapat berkata-kata. Segera ia merapal formasi segel di atas sebentuk prasasti batu. Gerbang dimensi ruang berpendar lalu membuka, dan Bintang Tenggara segera melompat masuk. 

Di dalam lorong gelap dengan percikan listrik di beberapa bagiannya, tubuh Bintang Tenggara terombang-ambing. Sampai batas ini, ia sudah terbiasa. Akan tetapi, tetiba lorong tersebut meliuk-liuk petanda tak stabil. Ibarat masuk ke dalam tubuh ular raksasa yang sedang bergerak tangkas, tubuh anak remaja tersebut sampai terguncang-guncang keras…

“Srak!” 

Tubuh Bintang Tenggara terlontar keluar, lalu mendarat di permukaan rerumputan pendek. Sedikit terhuyung, kepala pening dan perut mual, namun ia masih dapat menjaga keseimbangan. Ini bukanlah Kota Baya-Sura, anak remaja tersebut membatin. Apakah ada yang sengaja mengimpangarahkan…? Balaputera Khandra!?

Yang tak Bintang Tenggara sadari, bahwa sebelumnya sang petugas gerbang dimensi di Kota Taman Selatan hendak memberitahu tentang kejanggalan yang mendera sejumlah lorong dimensi ruang di seantero wilayah tenggara. Memaksa menggunakan lorong dimensi ruang akan berisiko tersimpang arah, namun si penjaga tak berani menentang kehendak seorang Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung. Itulah akibatnya bilamana terburu-buru.

Tak ada yang mengetahui mengapa sampai terjadi kejanggalan dimaksud, bahkan Bintang Tenggara sekalipun bilamana dipertanyakan. Padahal, penyebab lorong Dimensi ruang ‘rusak’ tak lain karena dampak samping dari membuka paksa formasi segel yang menyembunyikan Pulau Bunga. Bukan kali pertama kejadian seperti ini berlangsung.

Sigap, anak remaja tersebut memantau keadaan sekeliling. Sebuah pekarangan berukuran sedang yang dikelilingi tembok tinggi dan diterangi api obor pada setiap sisi. Sebentuk prasasti batu yang berperan sebagai sarana merapal lorong dimensi ruang terlihat di bagian tengah. Pandangan matanya berhenti pada sebentuk patung megah pada salah satu sisi tembok. Kiranya terbuat dari emas dan merupakan perwujudan dari seorang ahli terkemuka di masa lampau. Pada sisi belakangnya, terdapat bidang yang berbentuk persegi lima. Di manakah ini…?

Andai saja Bintang Tenggara tekun menjalani pendidikan di Perguruan Gunung Agung, atau di perguruan mana pun secara teratur, maka ia akan mengenal wujud lambang yang dipajang di tempat tersebut. Di dalam salah satu mata ajaran dasar tentang perguruan-perguruan di Negeri Dua Samudera, lambang berbentuk persegi lima dengan warna dasar hitam, yang mana menjadi latar belakang patung seorang ahli terkemuka, merupakan milik salah satu perguruan ternama di Pulau Jumawa Selatan. Ahli terkemuka yang patungnya terbuat dari emas itu, tak lain adalah sang pendiri Negeri Dua Samudera. 

“Siapa di sana!?” Tetiba terdengar suara menyergah. 

Bintang Tenggara waspada, namun berupaya tampil tenang. Tak berselang lama, sekira dua puluh murid perguruan berhamburan ke arahnya. Mereka segera mengepung. 

“Siapakah engkau!? Sebutkan jati dirimu!”

“Apa yang kau lakukan di dalam perguruan kami!?”

“Bagaimana engkau dapat membuka gerbang dimensi ruang yang tersegel!?

“Mohon maaf atas kedatangan yang tiba-tiba. Diriku adalah Bintang Tenggara dari Perguruan Gunung Agung.” Ia menunjukkan lencana Murid Utama sebagai pembuktian. “Lorong dimensi ruang yang kulalui nyatanya tersimpang arah.”

Para murid saling pandang. Beberapa dari mereka terpana, lainnya curiga.  

Membaca raut wajah mereka, Bintang Tenggara menyimpulkan bahwa tempat tersebut bukanlah tempat yang tak bersahabat. “Sudi kiranya memberi tahu di manakah tempat ini…?”

“Cih! Sombong sekali!” 

“Mentang-mentang mengalahkan perwakilan kami di dalam kejuaraan antar perguruan, kau hendak menghina kami!?”

“Tetap waspada! Ia kemungkinan besar utusan dari perguruan laknat itu!” 

Salah melontar pertanyaan, adalah yang pertama terlintas di benak Bintang Tenggara. Akan tetapi, segera dapat anak remaja tersebut menyusun kemungkinan di mana ia berada. Di dalam gelaran kejuaraan antar perguruan, ia bersama para sahabat perwakilan dari Perguruan Gunung Agung menumbangkan Perguruan Nusantara, Sanggar Sarana Sakti, Perguruan Ayam Jantan serta Persaudaraan Batara Wijaya, sebelum pada putaran akhir takluk kepada Padepokan Kabut. 

Nah, dengan demikian terdapat empat kemungkinan. Perguruan apakah ini…? Perguruan Nusantara, Sanggar Sarana Sakti, Perguruan Ayam Jantan, ataukah Persaudaraan Batara Wijaya…? Sanggar Sarana Sakti dapat dicoret, karena dirinya pernah bertandang ke sana dan disambut dengan sangat baik, demikian pula Perguruan Ayam Jantan, yang mana murid-muridnya memiliki logat yang sangat khas. 

Jikalau Perguruan Nusantara, maka akan sedikit sulit karena Canting Emas nan keji sempat menyiksa para perwakilan mereka. Bintang Tenggara memerlukan petunjuk tambahan…

“Sungguh sebuah kehormatan…” tetiba terdengar tegur sapa dari kejauhan. Seorang remaja melangkah pelan selayaknya para bangsawan yang datang dari kerajaan-kerajaan besar. Matanya tajam menatap, dagunya panjang menantang. 

Ini dia petunjuk yang dicari-cari, batin Bintang Tenggara berteriak girang. “Saudara-saudaraku dari Persaudaraan Batara Wijaya, sekali lagi kumohon maaf mengganggu waktu istirahat kalian.” Anak remaja tersebut sedikit menundukkan kepala. 

Di antara mereka yang mengepung terlihat keheranan. Di dalam benak mereka mempertanyakan, bagaimana mungkin seorang Murid Utama sekaligus Putra Perguruan dari Perguruan Gunung Agung dengan mudahnya menundukkan kepala. Bagi mereka yang menjalani pendidikan di Persaudaraan Batara Wijaya, di mana kadar darah biru merupakan acuan yang mutlak dalam menggolongkan murid-murid, seorang Murid utama menundukkan kepala tiada pernah dapat dibayangkan, bahkan di dalam mimpi sekalipun. 

“Apa yang kalian lakukan!?” bentak remaja berdagu panjang kepada murid-murid yang bersiaga mengepung Bintang Tenggara. “Apakah demikian sambutan kalian kepada Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung!?”

Sontak murid-murid tersebut melonggarkan kuda-kuda, lantas membungkuk. Serempak pula mereka mengundurkan diri.

“Mohon maaf atas sikap rekan-rekanku. Mereka tak dapat sepenuhnya disalahkan… Karena satu dan lain hal, belakangan ini kami di Persaudaraan Batara Wijaya dituntut untuk sangat waspada.”

“Tiada mengapa, wahai…” Kata-kata Bintang Tenggara tertahan. 

“Rangga Lawe adalah namaku,” sambung remaja berdagu panjang itu. Sebentuk senyum ramah menghias sudut bibirnya, yang mengisyaratkan bahwa suasana hati sedang ceria.

“Terima kasih, wahai Rangga Lawe,” lanjut Bintang Tenggara. Tak ada kesan sombong dan angkuh dari gerak-gerik serta nada bicara lawan bicaranya. Rangga Lawe sungguh sangat berbeda dengan sewaktu berada di Perguruan Maha Patih, tempat di mana kejuaraan antar perguruan berlangsung. 

“Kendati tak ada ikatan persahabatan yang bersifat resmi di antara perguruan kita, tiada pernah pula tersulut permusuhan. Sudah sepantasnya kami menyambut kedatangan dikau dengan tangan terbuka.” Rangga Lawe membuka jalan.

Bintang Tenggara mengikuti. Di berbagai tempat, betapa ia menyaksikan penjagaan super ketat. Murid-murid bersiaga, dan terlihat pula tokoh-tokoh sekelas guru muda atau maha guru yang memantau keadaan. 

“Para murid yang berjaga di dekat gerbang dimensi sedang bertukar giliran jaga saat dikau tiba.” Menyaksikan keheranan Bintang Tenggara, Rangga Lawe berupaya mengalihkan perhatian, dan sebisa mungkin menyuguhkan kesan aman. 

“Dimanakah kiranya petugas gerbang dimensi Persaudaraan Batara Wijaya…?” 

“Apakah dikau hendak melanjutkan perjalanan…?”

“Benar.”

“Biasanya, petugas gerbang dimensi berjaga sampai larut malam. Akan tetapi, karena alasan tertentu, Persaudaraan Batara Wijaya sedang menutup diri. Oleh karena itu pula, terdapat larangan penggunaan gerbang dimensi ruang sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan.”

Raut wajah Bintang Tenggara tak dapat menyembunyikan keresahan di hati. 

“Beristirahatlah malam ini di perguruan. Esok pagi, diriku akan memintakan izin agar dikau dapat memanfaatkan gerbang dimensi.”

Bintang Tenggara mengangguk.


“Arya Wiraraja, sang Ahli Strategi, tertua dan setia, Jenderal Kesembilan Pasukan Bhayangkara.”

“Ginseng Perkasa…” terdengar suara jawaban, serak dan lemah nadanya. 

“Hm…” Sang Maha Maha Tabib Surgawi menanti lanjutan. 

“Kau hanyalah jiwa dan kesadaran…”

“Hei! Diriku menyapa dikau secara lengkap! Nama, julukan, sifat, urutan!” hardik Ginseng Perkasa tak puas. 

“Aku juga merasakan keberadaan Komodo Nagaradja, Siluman Super Sakti, keras kepala, Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara,” lanjut Arya Wiraraja. 

“Hei! Dikau sengaja mempermainkan aku!”

“Apakah bocah itu anak didikmu…?” Arya Wiraraja melanjutkan. 

Bayangan tubuh Ginseng Perkasa melipat lengan di depan dada. Hatinya tak senang sangat. 


Pagi-pagi sekali Bintang Tenggara sudah terjaga. Ia menyadari bahwa sepanjang malam, terdapat beberapa murid yang bersiaga di lingkungan di mana ia menginap. Kemungkinan bukan untuk melindungi dirinya, melainkan demi menjaga agar sang tamu tak berbuat sesuatu yang mencurigakan. 

Apakah gerangan yang sedang berlangsung di Persaudaraan Batara Wijaya…? Kendatipun penasaran, Bintang Tenggara tak hendak menelusuri sesuatu yang tiada terkait langsung dengan dirinya. 

Rangga Lawe berperan sebagai tuan rumah yang sangat bertanggung jawab. Saat Bintang Tenggara keluar dari penginapan, tokoh tersebut telah menanti. 

“Mohon maaf, Bintang Tenggara. Akan tetapi, diriku tiada memperoleh izin penggunaan gerbang dimensi ruang. Perguruan tak hendak mengambil risiko masuknya penyusup dari pihak luar.” 

Bintang Tenggara sepenuhnya menyadari kelemahan dari membuka gerbang dimensi, apalagi di dalam situasi darurat. Sebagaimana yang disampaikan Rangga Lawe, membuka gerbang dimensi ruang berarti membuka diri kepada risiko penyusupan. Katakanlah gerbang dimensi ruang dibuka untuk mengantarkan Bintang Tenggara ke Kota Baya-Sura. Saat tiba di tujuan, rupanya telah menanti sepasukan ahli. Mereka kemudian melompat masuk sebelum Bintang Tenggara melompat keluar, atau dengan kata lain memanfaatkan lorong yang sama Untuk menyusup ke sisi lain.

“Diriku akan mengantarkan dikau ke kota terdekat,” lanjut Rangga Lawe bermura hati. 

“Bukankah Persaudaraan Batara Wijaya sedang menutup diri?” Bintang Tenggara, walau pun tak piawai dalam pengetahuan umum seputar lambang perguruan, setidaknya mengetahui makna dari istilah ‘menutup diri’. Bagi sebuah perguruan, menutup diri berarti melarang sesiapa pun keluar dan masuk wilayah mereka.

“Diriku memiliki hak istimera,” tanggap Rangga Lawe ringan, sembari menyimpulkan senyum ramah

Tatkala melangkah, sudut mata Bintang Tenggara menangkap sesuatu yang melesat tinggi di udara. Gerakannya ganjil. Terkadang terbang lurus, lalu berhenti, lalu menyamping dengan cepat, berhenti lagi, kembali lurus, lalu menyerong… Gerakan terbang yang sangat acak.

Semakin dekat, semakin terlihat keberadaan seekor binatang siluman. Sepasang matanya adalah yang pertama menarik perhatian. Ukuran kedua bola mata tersebut berdiameter setinggi orang dewasa, padahal kepalanya lebih kecil. Tubuhnya panjang, hampir mencapai lima meter dengan motif melingkar hitam dan merah. Binatang siluman tersebut mengambang persis di atas wilayah perguruan. Bintang Tenggara mengenal binatang siluman serangga, tersebut!

Yang lebih pelik lagi, tak satu pun dari murid-murid yang bersiaga berubah sikap. Setelah mencirikan binatang siluman tersebut, mereka kembali berkegiatan seperti biasa. 

“Tap!” 

Seorang anak remaja mendarat tak jauh dari Bintang Tenggara. Ibarat dalam gerak lambat, jubah serba hitam yang ia kenakan menyibak perkasa. Sejumlah murid membungkuk kepadanya. 

Bintang Tenggara sontak menundukkan kepala dan memalingkan wajah, berupaya sebisa mungkin menyamarkan jati dirinya. Apa yang tokoh tak jelas itu lakukan di Persaudaraan Batara Wijaya!?

“Rangga Lawe!” Teriak Kum Kecho dari kejauhan. “Hendak kemanakah dikau?”

Sembilan Singa Muda dari Persaudaraan Batara Wijaya, yang mana Rangga Lawe merupakan salah satu anggotanya, memang telah tiba terlebih dahulu di perguruan setelah penyerangan ke Perguruan Maha Patih. Sebagaimana diketahui, Kum Kecho beberapa hari yang lalu menyusul Embun Kahyangan, bertarung sejenak, sebelum akhirnya kembali. 

“Diriku akan mengantarkan seorang teman ke kota terdekat,” tanggap Rangga Lawe cepat. 

“Teman…?” Raut wajah Kum Kecho terlihat penasaran. Segera ia mendatangi. 

“Benar,” tanggap Rangga Lawe. Saat hendak memperkenalkan, si teman yang dimaksud telah beringsut menjauh.

“Bintang Tenggara… mari kuperkenalkan…”

“Oh, bukankah dia Bintang Tenggara dari Perguruan Gunung Agung…?” Seorang anggota Sembilan Singa Muda lain menghampiri, diikuti beberapa lagi. 

“Rupanya benar khabar yang beredar semalam… Seorang Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung tersimpang arah saat menggunakan gerbang dimensi ruang.”

“Bukankah Bintang Tenggara ini yang mempecundangi dikau di dalam kejuaraan antar perguruan, wahai Rangga Lawe…?”

Pertukaran kata-kata yang berlangsung meresahkan Bintang Tenggara. Di lain sisi, Kum Kecho dapat membaca dengan cepat hubungan di antara mereka. 

“Rangga Lawe, benarkah dikau pernah dikalahkan olehnya…?”

“Benar, di dalam pertarungan beregu saat kejuaraan antar perguruan.”

“Hm… Aku tak tahu apakah dikau benar-benar berlapang dada, ataukah memang lemah sedari awal…?” Tetiba Kum Kecho mengubah nada bicaranya. Terdapat kesan menyindir yang ditujukan langsung kepada Rangga Lawe. 

“Maksudmu…?” Rangga Lawe menaikkan sebelah alis, dagunya meninggi. 

Bintang Tenggara, yang belum berujar sepatah kata pun, merasakan bahwa suhu di tempat tersebut memanas. Ia ingin angkat bicara, namun tak hendak memancing di air keruh. 

“Apakah dikau akan membiarkan pergi ahli yang pernah mengungguli dikau dalam pertarungan…?” Sahut Kum Kecho.

“Tak ada permusuhan di antara Perguruan Gunung Agung dengan Persaudaraan Batara Wijaya,” tanggap Rangga Lawe geram. Ia mengambil selangkah maju. 

“Bukan, bukan itu maksudku… Apakah kalian tak hendak meluangkan waktu sejenak dalam latih tarung…?” Kum Kecho melontar pandang ke arah murid-murid yang ada di sekitar mereka. “Bagaimana teman-teman…?” lanjutnya seraya mencari dukungan. 

“Benar!”

“Rangga Lawe, dikau adalah salah satu yang terbaik di Persaudaraan Batara Wijaya!”

“Ayo, kami mendukungmu!”

“Bintang Tenggara sedang ada urusan mendesak sehingga harus segera melanjutkan perjalanan,” tanggap Rangga Lawe dingin, dan menunjukkan bahwa ia tak senang dipojokkan.

“Mungkinkah dikau gentar, wahai Rangga Lawe…?” Kum Kecho semakin memanas-manasi. 

“Kum Kecho, sudah lama kita tiada bersua,” tetiba Bintang Tenggara menyapa. “Pertarungan antara diriku dan Rangga Lawe sebelumnya merupakan pertarungan beregu, sehingga tiada dapat diriku mengaku sebagai pemenang…” 

Segenap perhatian beralih kepada Bintang Tenggara. Sedangkan anak remaja tersebut hendak secepatnya melanjutkan perjalanan. Dalam situasi ini, ia menyadari bahwa hanya terdapat satu jalan agar dapat segera beranjak. 

“Akan tetapi, tidakkah dikau penasaran bahwa pertarungan di antara kita tiada pernah mencapai akhir…?” lanjut Bintang Tenggara langsung kepada Kum Kecho. 


Catatan:

(1) Episode 190