Episode 375 - Datangi Aku



“Duak!” 

Dua bayangan saling beradu, lantas terpental ke arah yang berlawanan. 

Darah mengucur di pelipis dan bahu Kum Kecho. Berkali-kali urat lehernya nyaris ditebas oleh kerambit nan kecil. Di lain sisi, darah pun mengalir di sudut bibir Embun Kahyangan. Jurus-jurus unsur kesaktian kabut sulit sekali membelenggu lawan kali ini. Unsur kesaktian cahaya dengan mudahnya menangkal. 

Sejak beberapa waktu sebelumnya, kedua ahli terlibat dalam pertarungan. Adapun alasan pertarungan bukanlah karena penolakan cinta, karena hal tersebut merupakan kesalahpahaman belaka. Embun Kahyangan menerjemahkan secara salah, di mana dalam pandangannya bila ada lelaki yang ‘mengejar’ maka lelaki tersebut sedang jatuh cinta dan hendak mengutarakan isi hati. 

Pertarungan kali ini berlangsung karena Kum Kecho hendak menguji kemampuan pemilik senjata pusaka Selendang Batik Kahyangan. Selama ini ia menganggap Embun Kahyangan sebagai cucu cicit dari Tirta Kahyangan, sehingga mewarisi senjata pusaka tersebut. Kemungkinan besar pula titipan Tirta Kahyangan diperuntukkan bagi tokoh tersebut. Namun, tentunya hal ini adalah dugaan belaka karena Tirta Kahyangan tak mencirikan siapa yang membutuhkan peta yang berada dalam ingatannya.

“Kita sudahi pertarungan kali ini,” ujar Kum Kecho sembari menyeka darah yang mengalir di pelipis. “Aku tak tahu pasti apakah engkaulah orangnya…”

“Aku telah memiliki tambatan hati, sehingga tak mungkin mendua…”

Kum Kecho kembali terpana. Betapa polosnya pemikiran gadis belia tersebut. “Jikalau telah kau putuskan apa yang kau kehendaki, maka datangi aku.”

Demikian, Kum Kecho melompat tinggi dan disambut oleh Kecapung Terbang Layang. Keduanya menghilang di balik tabir malam. 


=


“Rapal simbol angsa, rumput, daun, pigura, kursi, harimau, angin dan pohon. Sesuai arah jarum jam, kemudian rangkai simbol-simbol tersebut dalam susunan melingkar sebesar roda pedati.” 

Mendapat aba-aba, Balaputera Prameswara segera merapal formasi segel. Cukup tangkas dan gesit ia memainkan jemari dalam membangun setiap satu simbol. Percaya dirinya semakin tinggi, apalagi setelah mendapat tunjuk ajar dari kakak kandungnya selama tiga purnama belakangan ini. 

“Angsa, kataku… bukan bebek.”

Balaputera Prameswara tersenyum kecut. Nyatanya, ketelitian bukanlah sesuatu yang dapat ia banggakan. 

“Sahabatku Bintang,” sela Si Kancil. “Sebagai putra kandung dari Wira yang berasal dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bukankah dikau sepantasnya dapat dengan mudah menyusun formasi segel…?”

“Biarkan ini menjadi kesempatan baginya berlatih merapal formasi segel,” kilah Bintang Tenggara seolah seorang pembimbing nan bijak. 

Padahal, yang masih anak remaja itu sembunyikan, saat ini dirinya tiada dapat merapal formasi segel. Kendati berdarah Balaputera, tanpa alasan yang jelas kemampuan merapal segelnya sengaja disegel oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Kenyataan ini pula yang membuat Bintang Tenggara bersedia membawa Balaputera Prameswara kembali ke Perguruan Gunung Agung, serta pagi ini mereka melayang di atas lautan.

Sudah jauh-jauh hari Bintang Tenggara menyadari bahwa bila pun tubuh Si Kancil pulih, maka dirinya akan kesulitan membawa binatang siluman tersebut masuk ke Pulau Bunga. Sebagaimana diketahui, keberadaan pulau tersebut disembunyikan oleh formasi segel perlindungan. Dengan demikian, yang dapat anak remaja tersebut andalkan untuk mencapai tubuh Komodo Nagaradja bersama Si Kancil, hanyalah Balaputera Prameswara. 

Setelah semalam suntuk melesat di atas pundak binatang siluman Elang Laut Dada Merah pinjaman dari Canting Emas, akhirnya tiba pada kesempatan di mana Balaputera Prameswara membuktikan kebolehan diri. 

“Sesuai arah jarum jam! Simbol harimau dahulu sebelum angin!” keluh Bintang Tenggara. Menuruti arahan saja kelihatannya sulit sekali si Wara ini. Bagaimana mungkin Guru Muda Khandra memiliki kesabaran untuk melatihnya…? Kacau. 

“Akh!” rintih sang Yuvaraja. “Sebesar roda pedati kataku!” Ia menunjukkan ukuran roda pedati dengan melingkarkan lengan di atas kepala. 

Malangnya, semakin merasa tertekan, semakin gegabah pula Balaputera Prameswara dalam merangkai formasi segel. Urutan simbol-simbol bertumpang tindih, pun beberapa darinya mulai memudar sehingga perlu dirapal ulang.  

Sekira beberapa jam kemudian, sang mentari nan terik sudah melayang tinggi di atas kepala. Si Kancil hampir tertidur, Elang Laut Dada Merah mulai lelah melayang di atas lautan. Bintang Tenggara menghela napas panjang sembari mengelus dada. Sementara itu, sekujur tubuh Balaputera Prameswara berpeluh karena terik mentari, kelelahan, serta tertekan. Untungnya ia mulai dapat menyusun formasi segel yang akan berperan sebagai kunci pembuka. 

“Minggir.” Bintang Tenggara menyelak Balaputera Prameswara yang dipaksa mengulang-ulang rapalan formasi segel. Dari atas pundak Bintang siluman Elang Laut Dada Merah, anak remaja tersebut lantas melepaskan jurus Tinju Super Sakti untuk menghenyakkan formasi segel yang baru saja rampung dirapal.

“Duar!” 

Tatkala kedua formasi segel bersentuhan, formasi segel perlindungan yang awalnya tak kasat mata, tetiba terlihat megah membentang di hadapan. Di saat yang bersamaan ia bergegar, dan sebuah lubang berhasil diterobos paksa. Lubang tersebut cukup besar untuk dimasuki oleh Elang Laut Dada Merah dan bersama dengan binatang siluman tersebut, ketiga ahli pun melesat ke dalam wilayah Pulau Bunga. 

Bintang Tenggara tak hendak membuang-buang waktu. Menggunakan jalinan mata hati, ia memberi perintah kepada tunggangan mereka untuk melesat cepat ke wilayah perbukitan. Tak lama berselang, dari kejauhan mulai terlihat Telaga Tiga Pesona yang masing-masingnya dicirikan oleh warna merah, biru dan hijau. 

Belum lama rasanya Bintang Tenggara mengenang. Adalah tempat ini yang menjadi saksi kali pertama dirinya bertemu dengan sang guru, lalu menapak langkah di jalan keahlian. Tempat berlatih memperkuat tubuh, di mana hawa panas, hawa dingin dan hawa racun menjadi dasar kemampuan. Di dalam sebuah goa di dekat ketiga telaga, telah menanti pula tubuh sekarat milik gurunya. 

Sebentar lagi Super Guru Komodo Nagaradja akan kembali ke dalam tubuh yang sehat! Ingin rasanya Bintang Tenggara berteriak.

“Jadi, ini adalah Pulau Bunga…?” ujar Si Kancil tatkala melompat turun dari pundak binatang siluman Elang Laut Dada Merah. “Berkali-kali Wira merencanakan untuk mengunjungi tempat ini, namun berkali-kali pula perhatiannya tersita pada peristiwa-peristiwa lain.”

Bintang Tenggara telah memperkirakan bahwa sang ayahanda sengaja berpetualang bersama Si Kancil karena hendak memanfaatkan kemampuan unsur kesaktian putih demi menunaikan janji menyembuhkan tubuh Komodo Nagaradja. Dengan kata lain, sedari bertemu dengan Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara yang terluka, Balaputera Ragrawira telah mengetahui tentang unsur kesaktian racun yang mendera tubuh siluman sempurna tersebut. 

“Kancil, apakah sesungguhnya yang ayahandaku kerjakan selama ini…?” Bintang Tenggara berharap menguak lebih jauh tentang rahasia di balik jati diri dan tindakan sang ayahanda.

Si Kancil terdiam sejenak, lantas menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa ia tak dapat mengungkapkan apa pun. Walau berutang nyawa kepada Bintang Tenggara, ia tak hendak mendahului. “Bila waktunya tiba, kuyakin bahwa ayahandamu akan mengungkapkan semua yang selama ini ia kerjakan.”

Bintang Tenggara mengangguk, dan menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh sang ayahanda kemungkinan sangat berisiko tinggi, sehingga bila banyak pihak yang mengetahui malah akan membahayakan pihak tersebut. Walau, beberapa dugaan sudah sempat terlintas di benaknya. Tanpa berkata-kata lebih lanjut, anak remaja tersebut melangkah masuk ke dalam goa. 

“Tunggu!” sergah Balaputera Prameswara. “Sebaiknya kita tak sembarang melangkah masuk. Siapa tahu ada bahaya di dalam sana…”

“Kau tunggu dan berjaga di sini, aku dan Kancil ada urusan di dalam,” perintah Bintang Tenggara. 

Suasana temaram, dan Bintang Tenggara mengeluarkan batu kuarsa sebagai pencahayaan. Udara pengap dan lembab mulai terasa, namun kedua tetap melangkah lebih dalam. 

“Ini bukanlah goa, melainkan liang yang sengaja digali,” simpul Si Kancil saat mengamati sekeliling. Radius goa cukup besar, dengan dinding yang terbilang mulus, tanpa ada stalaktit maupun stalagmit.

Lubang goa berujung pada sebuah ruangan bundar nan luas. Ditemani sinar temaram, Bintang Tenggara menatap lurus ke depan, lalu masuk ke ruang penyimpanan di salah satu sisi goa. Tak lama, Anak remaja tersebut melompat keluar, menyapu pandang, lantas berlari ke kiri dan ke kanan.

Si Kancil keheranan menyaksikan gelagat anak remaja tersebut. Dari sudut pandangnya, Bintang Tenggara terlihat selayaknya seorang bocah yang sedang tugas jaga tatkala bermain petak umpet. 

“Tidak ada!” Tetiba anak remaja tersebut menyergah. Raut wajahnya menunjukkan kepanikan yang teramat sangat. 

“Apakah yang tak ada?” tanggap Si Kancil. 

“Tubuh guruku! Tubuh guruku hilang!” 


Di luar, Balaputera Prameswara menjalankan tugasnya dengan tekun. Menanti merupakan pekerjaan yang paling gampang ia jalani karena tak memerlukan usaha dalam bentuk apa pun. Tetiba, pada sisi mulut goa, sudut matanya menangkap keberadaan formasi segel yang hampir tak kasat mata. Sangat kecil seukuran kuku jari kelingking anak-anak, sehingga bahkan Bintang Tenggara terlewatkan. 

Iseng, Balaputera Prameswara lantas merapal formasi Segel Syailendra: Belida. Formasi segel dengan wujud ikan belida tersebut mulai mengurai formasi segel nan kecil. 

“Plop!” 

Formasi segel nan kecil terbuka, lantas terdengar sebuah pesan pendek…

“Datangi aku.”

“Brak!” 

Tubuh Bintang Tenggara tetiba menghantam Balaputera Prameswara. Keduanya jatuh berjumpalitan. 

“Apa yang kau lakukan berdiri di mulut goa!?” sergah Bintang Tenggara berang. 

“Ada…”

“Sudahlah! Aku harus segera meninggalkan tempat ini!” 

Karena dibentak, Balaputera Prameswara serta merta lupa akan pesan yang sebelumnya ia dengar. Perhatiannya teralihkan dengan mudah. “Apakah yang terjadi di dalam sana…? Hendak kemanakah gerangan kita…?”

“Nanti, kau dan Si Kancil tetaplah di Perguruan Gunung Agung. Aku harus secepatnya bertemu dengan seseorang…”