Episode 86 - Takdir yang Tidak Terduga



Matahari mulai tenggelam, langit sore menjadi indah untuk sesaat lalu hilang diterkam gelap. Malam ini, tidak ada satu pun bintang yang menghiasi, pun begitu dengan bulan yang hanya mengintip di antara luasnya kegelapan.

Di jalan dua jalur, sebuah mobil bergerak cepat dan menyalip mobil-mobil di depannya. Lampu jalan yang menerangi sekitarnya membuat jalanan yang ramai tambah semarak. Di dalam mobil tersebut, terdapat Ferdian dengan ekspresi wajah yang murka.

Ferdian baru saja kembali dari gedung asosiasi bela diri, dia ke sana untuk meminta bantuan dalam menyelesaikan kasus-kasus yang sedang terjadi saat ini, yaitu kasus si pencuri bayangan dan sindikat penjualan organ tubuh manusia. Namun, tanggapan yang Ferdian dapatkan sangat dingin. 

Asosiasi bela diri tidak mau memberi bantuan kepada kepolisian, mereka beranggapan semua itu tidak ada hubungnya dengan mereka. Juga, mereka harus mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen besar yang akan segera diselenggarakan oleh pemerintah. Karena itu, mereka menolak membantu.

Setelah ditolak mentah-mentah, Ferdian segera pergi tanpa mengucapkan pamit. Dia tidak sudi bersikap sopan pada mereka yang dia anggap egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi membuat Ferdian sangat kesal dan bersumpah, mulai detik itu juga dia akan selalu membenci orang-orang dari asosiasi bela diri.

Setelah tiba di kantor kepolisian, Ferdian segera memarkirkan mobilnya, tapi dia merasa ada yang aneh karena tidak banyak mobil di sana. Dengan langkah cepat Ferdian segera memasuki kantor kepolisian dan menemukan bahwa tidak banyak petugas polisi yang sedang berada di sana.

Ferdian bertemu dengan seornag petugas polisi dan bertanya tentang keberadaan petugas polisi yang lain.

“Mereka diberi tugas untuk berjaga di sekitar rumah para pejabat.” Jawab petugas polisi tersebut.

Bam!

Ferdian segera meninju tembok. Amarahnya harus segera disalurkan, atau dia akan meledak dan tembok tak bersalah itu menjadi korbannya. Ferdian kembali ke kantornya dengan darah yang masih menetes ke lantai. Darah itu menggantikan air matanya yang tidak akan pernah keluar karena kecewa. Begitulah pria.

Ferdian tidak tahu siapa yang memberi tugas bodoh itu kepada pasukan polisinya, dia juga tidak peduli siapa itu. Satu yang pasti, dia sudah muak dengan orang-orang egois itu. 

Setelah masuk ke kantornya, Ferdian segera mengambil kotak P3K dari dalam lemari dan mulai membalut lukanya. Meskipun begitu, bekas luka itu tidak akan pernah sirna dan selalu ada dalam ingatan Ferdian, sebagai tanda murka seorang pria.

Perban putih yang Ferdian gunakan untuk membalut lukanya, kini tak lagi putih. Terendam dalam darah yang penuh kemarahan.

***

Sebuah mobil melaju perlahan di malam yang tenang. Di dalam mobil tersebut terdapat dua orang dengan pakaian formal, mereka berdua adalah Thor dari geng Ragnarok dan Gino dari geng Joker.

Kedua geng Joker dan Ragnarok kini telah membuat aliansi dengan beberapa geng lainnya. Meskipun kekuatan mereka jauh di bawah empat geng penguasa kota, tapi dengan bersatunya semua kekuatan itu mereka bisa sedikit demi sedikit menggigit jatah makan empat geng penguasa kota.

Apalagi setelah kejadian aneh di mana pemimpin geng Serigala Hitam dan pemimpin geng Naga Emas ditangkap oleh polisi karena kasus pelecehan seksual di tempat umum. Padahal di masa lalu apapun kejahatan yang mereka lakukan dapat disembunyikan dengan baik, meskipun begitu Thor dan Gino tidak peduli tentang apa alasan semua ini bisa terjadi, yang terpenting adalah kejadian ini menguntungkan mereka.

Selain itu, pemimpin geng Mawar Biru juga masih tidak diketahui keberadaannya. Untuk geng terakhir dan yang terlemah dari empat geng penguasa kota, geng Pemburu Iblis, Thor dan yang lainnya tidak merasa cemas, karena pemimpin geng itu bahkan tidak pernah muncul di permukaan. Menurut mereka, mungkin saja dia sudah mati, jadi geng Pemburu Iblis bukanlah masalah besar bagi mereka.

Tanpa adanya pemimpin mereka, empat geng penguasa kota seperti sebuah layang-layang tanpa tali, terbang tidak menentu arah dan bisa jatuh kapan saja.

Untuk sekarang, apa yang paling mereka perhatikan adalah bagaimana cara menggigit semua hidangan milik empat geng penguasa kota yang tertinggal.

Baru-baru ini mereka sangat aktif untuk merekrut anggota geng yang ditinggalkan oleh pemimpinnya. Karena itu mereka membutuhkan banyak dana.

Namun, itu bukan masalah besar bagi mereka, Thor telah menemukan solusinya.

Thor secara kebetulan bertemu teman lamanya yang baru saja keluar penjara, setalah melihatnya Thor memiliki ide untuk menculik para pengemis dan gelandangan di kota. Kemudian dengan bantuan temannya yang adalah seorang dokter, dia berencana untuk mengambil organ tubuh pengemis dan gelandangan itu lalu menjualnya. Terbukti, langkah itu sukses besar.

Meskipun begitu, ada harga yang harus dibayar, mereka juga harus merogoh kocek cukup dalam untuk membuat orang-orang di pemerintahan diam dan tidak mengurusi urusan mereka. Dan saat ini Thor dan Gino sedang melakukan itu.

Mobil tersebut masuk ke perumahan mewah, setelah melewati beberapa rumah, mobil itu berhenti di sebuah rumah paling mewah. Setelah masuk ke halaman rumah, Thor dan Gino melihat sebuah mobil polisi sedang diparkir di sana, melihat itu mereka berdua langsung memasang wajah serius dan tampak waspada.

Thor mengeluarkan handphone-nya dan membuat panggilan.

"Mobil di luar itu?"

"Haha, jangan khawatir, mereka orang-orangku."

"Aku percaya padamu, tapi untuk lebih amannya kau yang datang kemari untuk mengambil barangnya."

"Tentu, tidak masalah."

Tidak lama kemudian dari dalam rumah mewah tersebut keluar seorang pria paruh baya dengan perut yang membuncit, bagian depan kepalanya botak tanpa sedikit pun rambut. Dia adalah sang walikota kota ini, Redu. Walikota Redu masuk ke dalam mobil dengan senyum yang lebar.

“Maaf, bukannya kami tidak percaya, tapi ini bukan tontonan yang baik untuk para polisi, bukan?” Thor berkata seraya melihat ke arah Walikota Redu.

“Haha, tidak masalah, mereka adalah orang-orangku, mereka juga yang telah membantu kalian.” Ucap Redu dengan senyum penuh makna.

“Jadi begitu, baik lah, kita langsung saja, ini barangnya.” Thor menyerahkan sebuah koper berwarna hitam pada Walikota Redu. 

“Tentu, senang bekerja sama dengan kalian.” Walikota Redu mengambil koper tersebut tanpa ragu.

“Jangan sungkan, kau telah banyak membantu kami agar semuanya lancar.” Ucap Gino dengan senyum tipis di wajahnya.

“Tidak, tidak, tidak, kalian lebih banyak membantuku, karena kalian pengemis dan gelandangan di kota ini mulai hilang dan kota terlihat lebih baik tanpa hadirnya mereka.” Balas Redu seraya memeluk koper dengan erat.

“Tentu saja, kami melakukan ini untuk kota ini.” Ucap Thor.

“Benar, ini semua demi kota ini.” Balas Walikota Redu seraya menganggukan kepalanya. “Baiklah kalau begitu, aku akan turun dulu.” 

Walikota Redu keluar dari mobil membawa koper hitam dengan wajah sumringah. 

“Pak Walikota.” Panggil Gino.

“Ada apa lagi?” tanya Walikota Redu.

“Sampaikan salamku pada para polisi di dalam.” Ucap Gino seraya tersenyum.

“Baiklah, akan aku sampaikan salammu pada mereka.” Balas Walikota Redu.

Setelah itu Thor dan Gino segera pergi dari rumah tersebut. Lampu jalan terlihat indah karena malam ini sangat gelap, seperti hati kebanyakan orang di kota ini.

“Dengan uang, apapun bisa kita lakukan.” Ucap Thor.

“Benar sekali.” Balas Gino sambil tersenyum tipis.

°°°

Meskipun banyak hal yang terjadi, tapi turnamen bela diri terus berjalan tanpa adanya kendala. Antusiasme masyarakat dan penonton menjadi lebih dan lebih besar setelah mengetahui para peserta yang mengikuti turnamen.

Seperti di grup A, Lin Fan yang terkenal sebagai sampah ternyata sangat kuat setelah menghancurkan musuhnya hanya dengan satu pukulan saja. Pun begitu di hari kelima, dimana Lin Fan kembali mengalahkan musuhnya hanya dengan satu pukulan lagi.

Hector, musuh yang dikalahkan Lin Fan dengan hanya satu pukulan dihari pertama berhasil membuktikan dirinya dengan mengalahkan Bambang.

Di hari selanjutnya, salah satu unggulan di turnamen ini, Gary, berhasil mengalahkan musuhnya kembali dan membuat dia memuncaki klasemen di grup B.

Di hari ke tujuh Angel takluk dari musuhnya, sementara musuh Angel sebelumnya, Dafi, berhasil menang telak dari musuhnya. Kemenangan Dafi membuat para fansnya menjadi gila dan bahkan ada seorang fans yang mencoba menerobos ke ruang tunggu untuk menemui Dafi. 

Besok, pada turnamen hari ke delapan, grup D, akan mempertemukan Gerral melawan Dina alias Dan. Pertandingan yang sangat dinantikan oleh Gerral, karena dia sudah tidak sabar untuk membuktikan dirinya, tidak peduli siapa pun musuhnya.

°°°

Di ruang kantor Ferdian dipenuhi dengan asap tebal, puluhan puntung rokok tersebar di lantai, ada juga beberapa botol bir yang baru saja dia habiskan, meskipun begitu Ferdian yang duduk di kursinya seraya merokok terlihat lebih buruk dari ruangannya.

Ferdian sangat putus asa, kondisi rumah tanggannya berantakan karena istrinya yang cemburu tanpa alasan hanya karena dia jarang pulang ke rumah, tidak ada yang bisa dia mintai tolong untuk menyelesaikan kasus-kasus yang tiba-tiba bermunculan, bahkan pasukan polisinya sendiri pergi tanpa sepengetahuannya entah ke mana.

Semuanya tiba-tiba berubah menjadi buruk dan dia sangat tidak siap menerima semua itu. Ferdian bertanya-tanya mengapa Tuhan memberikannya banyak masalah secara sekaligus, padahal dia bahkan tidak mampu menyelesaikan bahkan satu masalah.

Ferdian membuang puntung rokok yang telah habis dari tangannya ke lantai dan mengambil satu botol bir dari atas meja, membuka tutupnya dan meneguknya langsung. Karena sudah sedikit mabuk, tangannya mulai goyah dan mengakibatkan bir tumpah ke pakaian dan lantai. Aroma bir tersebar ke seluruh ruangan bersama dengan pekatnya asap rokok yang menyesakkan.

Tok tok tok

Pintu kantornya diketuk tiga kali, tapi Ferdian mengbaikannya dan terus menikmati sisa bir yang tersisa.

Tok tok tok

Lagi, pintu kantornya diketuk tiga kali dengan irama yang teratur. Emosi Ferdian masih sangat buruk, dia menghabiskan sisa bir di dalam botol lalu melemparkan botolnya ke arah pintu. Botol bir yang terbuat dari kaca itu hancur berantakan di depan pintu.

Pintu terbuka, sesosok pria dengan pakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan.

“Siapa kamu?”

“Hmm ... aku? kalau tidak salah orang-orang memanggilku si Iblis Hitam.” Ucap pria itu seraya membuka tudung jaket yang menutupi kepalanya.

Meskipun masih mabuk, Ferdian segera waspada setelah mengetahui identitasnya. “Apa maumu?”

“Mari bekerja sama.” Ucap pemuda itu dengan tenang.