Episode 374 - Kembali


Tinggi di udara, kelebat bayangan hitam membelah angin malam. Tabir gelap menyamarkan keberadaannya sehingga membuat hampir tiada terlihat. Bilamana dapat dicermati, maka lintasannya tiada beraturan bahkan terkadang melesat mundur. Denging suara kepak sayap terdengar sayu, lalu segera menghilang larut oleh suasana sejuk.  

Di atas Pundak Kecapung Terbang Layang, seorang anak remaja duduk bersila. Tak lama kemudian, menggunakan jalinan mata hati ia memberi perintah agar binatang siluman tersebut terbang menukik. Pada jarak yang masih terpaut sekira sepuluh langkah dari permukaan tanah, sang penunggang lantas melompat turun.

“Jubah… Hitam… Kelam…,” rintih si kakek tua nan renta. Keberadaan benda pusaka tersebut menarik perhatiannya. 

Bersamaan dengan itu, Kum Kecho mendarat tepat di hadapan Embun Kahyangan. Anak remaja tersebut memutuskan untuk mengejar si gadis belia, karena firasatnya mengatakan bahwa terbuka kesempatan untuk memenuhi janji yang selama ini ia pegang. 

Embun Kahyangan, seperti biasa, acuh tak acuh. Melirik pun tidak kala ia melangkah melewati Kum Kecho.

“Apakah ada yang kau inginkan…?” Kum Kecho yang terleboh dahulu membuka pembicaraan. 

Si gadis belia tiada menanggapi dan meneruskan langkah gontai. Sikap yang sedemikian itu sangat sulit dicerna, karena baik sebagai Elang Wuruk Sanjaya maupun sebagai Kum Kecho, keberadaan dirinya senantiasa menarik perhatian ahli lain.

“Aku memiliki sesuatu yang engkau inginkan…,” lanjut Kum Kecho. 

Lagi-lagi, si gadis belia tiada menggubris. Ia tak mengenal anak remaja berjubah gelap, karena walau sebelumnya pernah berpapasan jalan bukan berarti mereka saling mengenal. Bagi Embun Kahyangan, saat ini tujuan yang perlu dicapai adalah menelusuri jejak paman Balaputera Ragrawira. Dari tokoh tersebut, nantinya dapat ia menanyakan tempat disembunyikannya Kitab Kahyangan. Hanya beliau seorang yang mengetahui, sehingga tiada mungkin anak remaja berpakaian serba gelap mengetahui keinginan dirinya. Dia bukanlah jin sakti yang biasa muncul dalam kisah-kisah dongeng.

Kendatipun berpandangan demikian, Embun Kahyangan tetiba menghentikan langkah. Ia menoleh kepada Kum Kecho, lalu memandangi anak remaja tersebut dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Kesimpulan yang didapat: adalah anak remaja biasa, bukan jin berperut buncit dan berkepala gundul yang biasanya dapat mengabulkan permintaan.

“Aku adalah Kum Kecho!”

“Embun Kahyangan…” Gadis belia tersebut menjawab pelan. “Aku telah memiliki tambatan hati, oleh karena itu sebaiknya dikau mencari gadis lain saja.”

Kum Kecho terperangah. Ia ditolak mentah-mentah, padahal bukan hendak menyatakan cinta.


===


Dalam hati, anak remaja itu mengutuk Balaputera Khandra dan mencaci diri sendiri. Bagaimana mungkin ia sampai berpandangan bahwa Guru Muda palsu tersebut tak akan berbuat kotor. Sejak pertama melangkah masuk ke Perguruan Gunung Agung, dia sudah memanipulasi lorong dimensi ruang di Monumen Genta. Tentu tindakan tersebut merupakan siasat tertentu, yang sampai saat ini belum diketahui ujung pangkalnya.

Bintang Tenggara merasa bahwa upaya dirinya memupuk jalan keahlian sampai saat ini, sebagai kesia-siaan belaka. Bagaimana mungkin ia menaruh kepercayaan kepada seorang ahli yang telah berulang kali menyusun dan melancarkan tipu muslihat siasat keji…? Balaputera Khandra, Sangara Santang, Lintang Tenggara serta masih banyak ahli lain, sesungguhnya tiada berbeda. Tak satu pun tindakan dan kata-kata mereka yang dapat sepenuhnya dipercaya!

Sungguh perjalanan hidup senantiasa dipenuhi dengan pelajaran demi pelajaran yang diberikan secara berulang-ulang. Tak beda dengan di dalam perguruan, pelajaran senantiasa diulang-ulang agar tak terlupakan sehingga terpatri di dalam benak. Bahkan, terkadang pekerjaan rumah diberikan agar mata ajaran membekas semakin dalam. Kendatipun demikian, terpaksa anak remaja tersebut mengeyampingkan kenyataan pahit sebagai korban penipuan untuk kesekian kalinya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk tenggelam di dalam falsafah kehidupan. 

Hembusan angin menerpa wajah dan mengibas rambut ikal tatkala dirinya melesat terbang menuju kawah berapi Gunung Istana Dewa. Baru saat ini Bintang Tenggara menyadari bahwa rambutnya telah tumbuh panjang, yang seringkali sampai menutupi wilayah mata dan telinga. Meski tak terlalu memikirkan penampilan, perlu diakui rambut yang terlampau panjang pada akhirnya sangat mengganggu pendangan. 

Kecepatan terbang binatang Siluman Kelelawar Pura Goa Lawah tak sebanding dengan Elang Laut Dada Merah, walau perlu diakui bahwa sang elang tak akan terbang sepantas ini pada malam hari. Meminjam binatang siluman kelelawar tersebut dari Aji Pamungkas, oleh karena itu, merupakan tindakan yang paling tepat. Urusan mengintip Canting Emas di kala mandi, adalah perkara lain untuk dipecahkan di saat yang lain pula. 

Waktu bergulir cepat, dan hawa panas membara sudah mulai terasa merambat di udara. Belum terlampau dekat dengan puncak gunung, terbangnya Kelelawar Pura Goa Lawah sudah terasa limbung. Sang kelelawar lebih peka terhadap suhu panas dibandingkan dengan elang. Jikalau memaksakan dan sampai mencederai binatang siluman tersebut, tak terbayang permintaan apalagi yang akan dituntut oleh Aji Pamungkas. Walhasil, Bintang Tenggara memutuskan untuk segera mendarat, menambat sang kelelawar, lantas melanjutkan perjalanan mendaki seorang diri.

Karena sudah pernah menuju kawah Gunung Istana Dewa, langkah kaki Bintang Tenggara cukup tangkas. Tak lama, peluh mulai bercucuran sebagai reaksi terhadap hawa panas yang semakin kental terasa. Dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi, anak remaja tersebut sigap mengeluarkan kulit Badak Bercula Tiga yang berisi campuran Kaktus Botak dan Lumut Rambat Hijau. Dalam kegelapan, kemudian ia menanggalkan seluruh pakaian, dan membalurkan ramuan ke seluruh permukaan kulit, tak lupa pada pakaian. Untunglah masih tersisa cukup Ramuan Tangkal Bahang yang sempat diramu pada kunjungan sebelumnya, sehingga sangat menghemat waktu. 

Dengan hilangnya rasa panas nan menyengat, Bintang Tenggara dapat melesat cepat, berharap bahwa dirinya tiada terlambat. Tak lama kemudian, anak remaja tersebut mencapai bibir kawah nan maha besar. Tanpa melongok kepada cairan kental lahar yang menggelegak dan terang menyala, ia segera melompat masuk. Asap belerang membumbung tinggi, mengaburkan pandangan mata.

Pada dinding sisi dalam kawah, masih terpaut cukup jauh dari permukaan lahar, sebentuk batu besar menempel erat. Sejumlah bebatuan berukuran sedang dan kecil seolah sengaja disusun agar mengarah ke sana. Di atasnya batu besar, samar terlihat duduk bersila adalah sesosok lelaki dewasa muda. 

Wisanggeni! batin Bintang Tenggara. Harapan bahwa tokoh tersebut telah meninggalkan kawah tiada terwujud. Diketahui bahwa dia adalah tokoh berbahaya, yaitu Raja Angkara Durjasa yang menguasai unsur kesaktian api beracun! 

Akan tetapi, yang membuat Bintang Tenggara lebih terkesima, adalah sesosok anak remaja yang duduk bersila di hadapan Wisanggeni. Sekujur tubuhnya dibalut oleh jalinan formasi segel, yang sepintas pandang saja dapat diketahui bermanfaat untuk membentengi diri dari hawa nan panas membara. Yang lebih aneh lagi, terlihat bahwa Wisanggeni dan Balaputera Prameswara sedang bercengkerama! Sesekali mereka tergelak dalam tawa! 

“Oh…? Si anak anjing sudah kembali…” sapa Wisanggeni santai.

“Hai!” Balaputera Prameswara nan polos terlihat kaget. “Tiada kusangka dikau akan menyusul… Apakah urusan di Perguruan Gunung Agung telah rampung…?”

Bintang Tenggara melongo. Apakah mungkin hawa panas dan kepulan asap belerang membuat pandangan matanya kabur…? Ataukah kelelahan dan kurang tidur membuat benaknya menyaksikan bayangan-bayangan halusinasi…?

“Jadi, anak anjing ini adalah saudara sepupumu yang menjabat sebagai sang Yuvaraja di Kemarajaaan Cahaya Gemilang…?” Wisanggeni berlaku seolah-olah takjub.

“Benar!” sahut Balaputera Prameswara bangga. 

“Jadi, nama lengkap anak anjing ini adalah Bintang Tenggara…? Keturunan dari Gemintang Tenggara pimpinan Pasukan Lamafa dan Langit…?”

“Tepat sekali!” 

Bintang Tenggara hendak menepuk jidatnya sendiri, namun berupaya keras menahan diri. Kepolosan Balaputera Prameswara sudah melampaui ambang batas yang dapat dimaklumi. Bagaimana mungkin dia mengumbar jati diri kepada musuh!? Terlepas dari itu, keberuntungannya pun melampaui ambang batas kewajaran… Bagaimana mungkin dia menjalin pertemanan dengan Raja Angkara!?

“Selain itu, anak anjing ini juga merupakan murid dari sang Maha Maha Tabib Surgawi…,” lanjut Wisanggeni. Yang terakhir ini adalah simpulannya sendiri karena dapat mencirikan taraf kemanjuran ramuan Tangkal Bahang di sekujur tubuh Bintang Tenggara, serta menyaksikan langsung kemampuan anak remaja tersebut di kala meramu. 

“Kakak Wisang,” sela Balaputera Prameswara. “Bagaimanapun jua, beliau adalah sepupu sekaligus junjunganku… Mohon tak menyapanya sebagai ‘anak anjing…”

“Oh… Hahaha… Benar, benar. Hahaha…,” kedua tokoh tertawa lepas. “Bintang Tenggara ataukah Balaputera Gara…?” aju Wisanggeni kemudian kepada anak remaja yang masih berdiri melongo.

Bintang Tenggara, di lain sisi, memutar tubuh tanpa berbasa-basi sama sekali. Muak rasanya menyaksikan gelagat mereka. Padahal, dirinya sudah bersusah payah menyusul, merasa khawatir sepanjang perjalanan, bahkan mengumbar janji mesum kepada Aji Pamungkas!

“Terserah kalian sajalah…,” gerutunya sembari melangkah pergi.

….

Tiga purnama berlalu cepat. Dalam rentang waktu tersebut, Bintang Tenggara meluangkan waktu berlatih tarung menghadapi Canting Emas. Tak dapat dipungkiri, kemampuan gadis belia tersebut sangat jauh meningkat dibandingkan saat mereka terakhir bertemu. Kendatipun demikian, tanpa sepenuhnya menyadari, Bintang Tenggara dapat mengimbangi bahkan mengungguli gadis belia tersebut. Hal ini membuat Canting Emas semakin getol mengajak berlatih tarung. 

Dalam rentang waktu tiga purnama terakhir, Balaputera Prameswara menghabiskan waktu di Perguruan Gunung Agung. Dengan mudahnya ia memperoleh surat pengantar dari Perguruan Svarnadwipa dan kemudian diterima berlatih di Kejuruan Keterampilan Khusus Bidang Segel, Perguruan Gunung Agung. Selain memperoleh bimbingan langsung dari Guru Muda Khandra, ia pun rutin mengunjungi kawah berapi Gunung Istana Dewa. 

Bintang Tenggara tak hendak terlibat dengan apa pun itu siasat yang dikemas oleh Balaputera Khandra. Selama tak terdapat ancaman jiwa terhadap Balaputera Prameswara, ia tak peduli. 

Selama rentang waktu tiga purnama pula, anak remaja tersebut terus-menerus menghindar dari tuntutan Aji Pamungkas. Jikalau pun bertemu muka, maka ia akan membuat-buat alasan demi mengulur-ulur waktu. 

“Sampai kapan kau hendak ingkar janji!” tagih Aji Pamungkas dengan merentangkan lengan. Ia tiada lagi dapat menahan sabar. Emosinya meluap mencapai ke ubun-ubun.

“Sebentar lagi… bersabarlah…,” ujar Bintang Tenggara sembari mempercepat langkah.

“Dusta!” 

Semakin cepat Bintang Tenggara melangkah pergi, bahkan terlihat ia mulai berlari kecil. Baginya, kegiatan mengintip merupakan tindakan yang memalukan. Bukan bagi yang diintip, melainkan bagi si pengintip. Bila hendak melihat sesuatu, maka lakukan dengan pendekatan yang baik-baik. Walau, perlu diakui, mengintip bagi Aji Pamungkas sudah merupakan semacam candu yang perlu diberikan secara berkala. Bila tak memperoleh kadar candu tersebut, maka ia akan uring-uringan sendiri. Bahkan, ada kecenderungan si mesum tersebut akan berbuat kacau.

“Jikalau terus menghindar, maka aku akan mengadukan engkau kepada ayahandaku!”ancam Aji Pamungkas kemudian. 

Bintang Tenggara menghentikan langkah, lantas memutar tubuh. Inilah yang dimaksud dengan berbuat kacau. “Atas alasan apa!? Menolak ikut mengintip!?”

“Penipuan!” 

Bagi Bintang Tenggara, yang melarikan diri dari tugas menyelidiki jati diri Sesepuh Kertawarma, kedatangan Adipati Jurus Pamungkas ke Perguruan Gunung Agung bukanlah perkara sepele. Bisa jadi, dirinya akan dipaksa kembali ke Perguruan Maha Patih atau melaksanakan berbagai jenis tugas dari ahli-ahli aliran putih yang kurang bertanggung jawab. 

Pada akhirnya, mengintip mungkin merupakan tindakan yang tak terlalu tercela, bahkan pilihan terbaik.

“Baiklah!” sergah Bintang Tenggara. “Malam ini kita akan bergerak, datanglah ke kediamanku!”

Malam hari tiba, dan Bintang Tenggara malah berada di kediaman Sesepuh Ketujuh. “Bagaimana keadaanmu…?” ujarnya belan. 

“Sudah jauh lebih baik…” Si Kancil menjawab ringan. Sekira satu purnama lalu ia siuman, dan selama dua purnama berikutnya memasuki tahap pemulihan. 

“Sesuai harapan, pemulihan tubuhmu tiada menemui kendala berarti.”

“Bintang, sebelumnya hubungan kita tak terlalu baik,” lanjut si binatang siluman. “Oleh karena itu, aku meminta maaf sekaligus berterima kasih atas seluruh bantuanmu. Kau menyelamatkan jiwaku” 

“Tiada mengapa,” sahut Bintang Tenggara. “Aku yang membutuhkan bantuanmu.”

“Katakan saja! Selama masih dalam batas kemampuanku, maka akan segera kupenuhi! Sungguh rangkaian kejadian yang berlangsung antara kita mengingatkanku kepada sebuah kisah…” 

“Apakah dikau sudah cukup kuat untuk menempuh perjalanan…?”sela Bintang Tenggara. Bila binatang siluman tersebut diberi kesempatan mendongeng, maka sangat sulit dihentikan nanti. 

“Tentu saja!” jawab Si Kancil dengan suara melengking nan khas. 

“Kita akan menempuh perjalanan singkat menuju wilayah tenggara.” 

“Kapan?”

“Malam ini.”

“Sekarang…?”

“Sekarang juga!”