Episode 373 - Peta



“Pinjamkan aku binatang siluman Elang Laut Dada Merah…”

“Untuk apa…?” tanggap dingin seorang gadis belia yang bertubuh ramping dengan rambut panjang dikuncir satu. Walau tak terlihat bersemangat, tiada perlu dipertanyakan sifat kesetiakawanannya, yang senantiasa sedia membantu. 

“Aku hendak pergi ke kawah Gunung Istana Dewa.” 

“Di malam hari seperti ini…?”

“Ada hal mendesak.”

“Seluruh Elang Laut Dada Merah milik keluargaku sedang tak di tempat. Dibawa pergi paman-paman dan bibi-bibi entah siapa… Mereka sedang menjalani tugas perguruan,” ujarnya datar dan dengan penampilan yang sangat amat lelah sekali. “Kembalilah esok siang.”

Di mata Bintang Tenggara, Canting Emas memang pada dasarnya bersikap ketus. Sikap tersebut adalah bawaan lahir, entah apa pula yang dulu diidam oleh ibundanya saat hamil sampai mewariskan sifat yang demikian kepada anaknya. 

Tak hendak berbasa-basi lebih lama, Canting Emas memutar tubuh. Bintang Tenggara menyadari bahwa Canting Emas kelelahan karena terlampau memaksakan diri dengan berlatih melewati batas kemampuan. Bukannya menambah kemampuan, malah kemungkinan besar dapat melukai diri. Lihat saja tubuhnya yang kurus seperti anak yang tumbuh di sebuah desa tandus yang kurang gizi. 

“Kepada siapa aku dapat meminjam binatang siluman Elang Laut Dada Merah…?” lanjut Bintang Tenggara. 

Canting Emas memutar tubuh dengan cepat, rambut kepang satunya nan panjang hampir melibas kepala Bintang Tenggara. Mata melotot, ia berujar sinis, “Oh… jadi demikian…? Bilamana sedang ada keperluan mendesak, kau datang mengetuk pintu kediamanku… Jika tidak, maka apakah kau ingat dengan teman-temanmu!? Kau memang hebat! Murid terbaik dalam ajang pertukaran murid di Perguruan Budi Daya, yang namanya termahsyur di seluruh perguruan di Negeri Dua Samudera! Jadi, kau hanya berkenan mengunjungi kami jikalau ada kebutuhan saja! Dan kau berharap aku akan membungkuk, tersenyum, kemudian mencarikan apa pun yang engkau butuhkan!? Begitu!?”

Bintang Tenggara tercekat. Murka Canting Emas datang secara mendadak dan membabi buta. Mungkin gadis belia tersebut terlalu kelelahan, atau lebih parah lagi, dia sedang datang bulan… 

“Bukan…”

“Bukan apa!?” sela Canting Emas sembari menekuk kedua siku dan menumpukan telapak tangan di pinggang. “Bukan maksudmu melupakan kami!? Hah!? Untuk apa kau kembali ke Perguruan Gunung Agung!? Karena Si Kancil yang sedang dirawat oleh Sesepuh Ketujuh ‘kan!? Jika tidak, maka bukankah engkau lebih senang berkelana mengasah kemampuan dengan menjalani halang rintang rimba belantara!? Kau memang hebat! Bintang Tenggara nan maha digdaya!” 

Dalam pandangan Bintang Tenggara, kini tubuh ramping Canting Emas membesar ratusan kali lipat ibarat raksasa. Raut wajangnya berubah mirip raksasa Kala Rau yang siap melahap sang rembulan. Berada dalam keadaan terpojok, anak remaja tersebut hanya mampu membuka mulut, namun tiada kata-kata yang keluar. Ia sepenuhnya menyadari, bahwa sepatah kata yang berasal dari dirinya akan disambut dengan puluhan bahkan ratusan kata-kata cercaan dari Canting Emas. 

“Apa!? Jangan diam saja! Apakah sudah hilang kemampuanmu berkata-kata!? Atau akhirnya otakmu mampu mencerna kata-kataku!?” 

Serba salah. Menjawab salah, tiada menjawab lebih salah lagi. Padahal dirinya baru saja kembali di Perguruan Gunung Agung hari ini, sehingga wajar saja bila belum mengunjungi mereka para sahabat. Dan kini, ada keperluan mendesak yang taruhannya adalah nyawa Balaputera Prameswara. 

“Maafkan aku…” Bintang Tenggara berujar pelan. 

“Aaaakkhhh… Sudahlah!” Canting Emas menudingkan jari telunjuk. “Jangan kau berpura-pura menyesal! Aku tak butuh permintaan maafmu! Kau pergi cari si mesum Aji Pamungkas. Kudengar belum lama ini ia membeli seekor binatang siluman untuk menemaninya berlatih pada malam hari!” 

Bintang Tenggara membungkukkan tubuh, lalu mundur secara teratur. Tak lama kemudian, ia telah tiba di Graha Utama yang ditempati sahabatnya yang lain. Suasana sangat gelap. 

“Swush!” 

Sebentuk bayangan nan besar berkelebat dan Bintang Tenggara melompat sigap! 

“Oh, apakah pandangan mataku mengelabui…? Apakah itu Yang Terhormat Murid Utama Bintang Tenggara yang datang bertandang…?” Seorang remaja tampan dengan rambut belah tengah sempurna, melangkah ringan dan berhenti tepat di hadapan Bintang Tenggara. Di sampingnya, kemudian sesuatu yang sangat besar mendarat ringan. 

“Jangan bersikap seperti Canting Emas…” gerutu Bintang Tenggara. Sulit baginya menerima bila Aji Pamungkas yang bersikap sinis.

“Hehe… Senang bertemu denganmu. Aku baru saja hendak pergi berlatih…”

“Apakah itu…?” Bintang Tenggara mengacu pada bayangan nan besar. Ukurannya tubuhnya sedikit lebih tinggi daripada Aji Pamungkas.

“Oh…? Ini adalah binatang siluman Kelelawar Pura Goa Lawah.” 

“Kelelawar…?”

“Benar,” sahut Aji Pamungkas cepat. “Kutebus dengan harga sangat tinggi! Ia pun setia menemani diriku saat ‘berlatih’ di malam hari…”

Kata ‘berlatih’ bagi Aji Pamungkas memiliki makna yang sangat jauh berbeda dengan kebanyakan ahli yang mendalami dunia persilatan dan kesaktian. Arti kata tersebut, tak lain adalah ‘mengintip’. Oleh karena itu, Bintang Tenggara segera dapat menebak manfaat dari binatang siluman Kelelawar Pura Goa Lawah. “Ia berguna untuk memberi peringatan akan tertangkap basah, ataukah sebagai sarana melarikan diri…?” aju anak remaja tersebut pelan. 

Aji Pamungkas mengulum senyum, dan terlihat sedikit salah tingkah… “Hehehe… Keduanya…” 

Bintang Tenggara mendapat angin segar. Binatang siluman tersebut dapat bermanfaat untuk menyusul Balaputera Prameswara. 

“Oh… Waktunya telah tiba…” Aji Pamungkas hendak bergegas.

“Sebaiknya jangan berusaha mengintip Canting Emas malam ini…” 

Mengintip Canting Emas yang gemar berendam di pemandian air panas seusai berlatih pada malam hari, merupakan salah satu cita-cita mulia Aji Pamungkas. Mengejar sesuatu yang mustahil dicapai, akan membuat seseorang tambah giat berupaya. Ia terus-menerus menjajaki kemungkinan tercapainya cita-cita tersebut, walau sering kali berujung pada tubuh babak belur dipukuli. Aji Pamungkas bahkan meluangkan waktu dan gigih menjalankan tugas perguruan demi memiliki binatang siluman yang dapat membantu pencapaian cita-citanya dimaksud. 

“Mengapa…?” sahut Aji Pamungkas. 

“Suasana hatinya sedang tak baik. Bilamana tertangkap, kau kemungkinan besar akan terbunuh…”

Raut wajah Aji Pamungkas seketika berubah kecut.

“Pinjamkan aku binatang siluman itu…”

“Hm…? Untuk apa…?”

“Jangan banyak tanya. Ada keperluan mendesak.”

“Aku menuntut imbalan…,” tanggap Aji Pamungkas. 

“Baik! Apa pun itu akan kupenuhi nanti…” Bintang Tenggara tak punya banyak waktu. 

“Silek Linsang Halimun…,” bisik Aji Pamungkas. “Bawa serta aku ke dalam ruang dimensi jurus tersebut… di kolam pemandian keluarga Canting Emas.”


===


Latihan yang dijalani pada petang itu demikian berat. Seorang anak remaja penuh semangat dan gigih menempa diri. Keringat bercucuran di sekujur tubuh, namun belum hendak ia menyudahi hari. Sebagai seseorang yang mendalami keahlian dengan dipandu oleh ahli-ahli maha digdaya, dan tentunya dibarengi kerja keras, ia senantiasa berada puluhan langkah di depan remaja-remaja sepantaran. 

Hari beranjak malam, dan ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tenggelam dalam pemikiran, benaknya kemudian menyelami pengetahuan seputar jurus. Ia memahami bahwasanya selain gerakan, bentuk dan wujud dalam jurus-jurus persilatan dan kesaktian; maka terdapat satu lagi tingkatan jurus yang sangat teramat sangat langka. Tingkatan tersebut hanya dapat dicapai bilamana seorang ahli mampu merapal jurus yang menggabungkan ‘gerakan persilatan’ dengan ‘bentuk kesaktian’.

Penggabungan yang dimaksud tidaklah mudah, karena seorang ahli harus sepenuhnya mencapai pencerahan atas jurus persilatan serta unsur kesaktian miliknya. Dalam kondisi ini maka tingkatan jurus gabungan tersebut dikenal sebagai ‘bauran’. Setiap jurus yang sudah mencapai bauran, hanya terdiri dari satu tingkatan saja.

Anak remaja tersebut meneruskan latihan. 

“Yang Mulia Elang Wuruk…” 

Tetiba, entah dari mana, seorang perempuan dewasa muda mengemuka. Ia melenggok mendekat. Mulai dari bagian leher ke bawah, jalinan kabut ungu pekat dan tebal melingkupi sampai ke ujung kaki. Terkadang, bila kabut menipis, maka akan terlihat siluet tubuh yang demikian menggoda. Satu-satunya busana yang ia miliki adalah seutas selendang ungu bermotif batik yang melingkar di leher.

“Puan Tirta Kahyangan, Jenderal Kedua Pasukan Bhayangkara…” Anak remaja tersebut membungkukkan tubuh sebelum melanjutkan, “Sungguh sebuah kehormatan.” 

“Malam sebentar lagi larut. Terlalu memaksakan diri dalam berlatih maka tidak akan bermanfaat banyak, bahkan dapat melukai diri sendiri.”

“Terima kasih atas nasehat Puan. Akan tetapi, sudah beberapa malam belakangan ini diriku tiada dapat terlelap.” Raut wajah anak remaja tersebut terlihat gundah gulana. 

“Apakah karena bauran jurus…?” Tirta Kahyangan melayang maju. 

Elang Wuruk, putra semata wayang dari Sang Maha Patih, tiada dapat menyembunyikan keterkejutannya. Walaupun demikian, segera ia menyadari bahwa dihadapannya merupakan ahli yang sangat perkasa. “Benar.”

“Membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan.” Tirta Kahyangan bergerak gemulai, melayang ringan mengitari tubuh anak remaja yang sedang bimbang. “Dalam pandanganku, dikau bahkan belum mencapai pemahaman, atau lebih tepatnya, bukan pemahaman yang cermat.”

“Maksud Puan…?” Elang Wuruk memutar tubuh, matanya mencoba mengikuti gumpalan kabut yang menyibak tipis. Namun demikian, semakin cepat pula Tirta Kahyangan melesat ke sudut sempit pandangan mata. 

Akibat gerakan yang dipaksakan serta tubuh yang memang lelah karena latihan sebelumnya, anak remaja tersebut jatuh terjerembab duduk. Ia mendongak, menyaksikan gumpalan kabut ungu melayang ringan lalu turun tepat dihadapannya. 

“Dikau berupaya mengejar gerakanku dengan pandangan mata, sedangkan tubuhmu terlambat mengikuti…”

Elang Wuruk terlihat kebingungan. 

“Sampai dapat dikau menyelaraskan pandangan dan gerak, maka membangun pemahaman yang tepat adalah kemustahilan…” 

Kedua bola mata Elang Wuruk membesar dan mulut setengah menganga, selayaknya seseorang yang baru saja memperoleh petunjuk yang sangat berharga. “Terima kasih, Puan!” ungkapnya sembari membungkukkan tubuh. 

Tirta Kahyangan mengangguk pelan. “Yang Mulia Elang Wuruk, sesungguhnya kedatanganku karena hendak memohon bantuan.” 

“Katakan saja apa yang Puan kehendaki, dengan segala daya upaya akan diriku penuhi!” 

Tirta Kahyangan mengibaskan lengan dan memainkan jemari seolah sedang merapal formasi segel. Bedanya, jalinan kabutlah yang merangkai perlahan serta mulai membangun bentuk. Terlihat gambaran wilayah di suatu tempat. 

“Ini…?” Elang Wuruk mencermati bentuk jalinan kabut. Ia cukup mengenal gambaran tersebut. 

“Ini adalah peta,” sambung Tirta Kahyangan. “Kumohon Yang Mulia Elang Wuruk bersedia mengingatnya… karena suatu hari nanti akan ada yang membutuhkannya… 

“Siapa…?”

Tirta Kahyangan beserta kabut yang mengikutinya telah menghilang dari pandangan mata. 


===


“Hahaha….”

“Puas?” 

“Puas!” 

“Berapa nyawa yang meregang?”

“Puluhan!” 

“Kau lihat kehancuran yang diderita perguruan pendompleng itu!? 

“Hahaha…”

Sekelompok remaja, lima lelaki dan empat perempuan, duduk mengelilingi api unggun. Mereka baru saja kembali dari upaya yang awalnya diperkirakan mustahil, namun membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan, pada awalnya, tiada satu dari mereka yang seratus persen yakin dan percaya bahwa penyerangan akan berakhir demikian suksesnya. Upaya balas dendam mencapai hasil yang berkali-kali lipat lebih besar!

Kendatipun demikian, sejak pagi hari mereka terus berlari. Setelah menyaksikan kerusakan Perguruan Maha Patih, kesemuanya mereka melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang yang telah dipersiapkan sebelumnya. Oleh karena itu, baru ini kesempatan mereka beristirahat dan meluapkan kegembiraan. 

“Ssstt…”

Gelak tawa dan suasana meriah kemenangan tetiba berhenti dan berbaur dengan keheningan malam. Hanya suara meretak kayu dimakan bara api dan serangga malam yang terdengar sayu. Kesembilan remaja waspada! 

Tak jauh dari tempat di mana mereka sedang hanyut dalam suasana kemenangan dan suka cita, melintas santai seorang gadis belia. Tidak sendiri, karena tak jauh di belakangnya mengekor seorang lelaki tua lagi renta. 

“Siapakah itu…?” salah satu dari Sembilan Singa Muda bersiaga. 

“Gadis itu berasal dari Padepokan Kabut…,” bisik Rangga Lawe cepat. Dagunya yang panjang menegaskan bahwa ia mengenal gadis tersebut. Memang benar adanya, karena bersama-sama mereka merupakan peserta kejuaraan antar perguruan di Perguruan Maha Patih beberapa waktu lalu. 

“Apakah kawan atau lawan…?”

“Tak dapat ditebak…. Penghuni Padepokan Kabut tak berpihak, tapi dikenal menerima bayaran untuk membunuh.”

“Apakah mungkin dia datang mengejar kita…?”

Suasana semakin hening. 

“Sebaiknya tak mengambil risiko.” Dalam situasi di mana mereka berada, keputusan wajib diambil cepat. 

“Habisi! 

Kendatipun demikian, belum sempat kesembilan remaja bergerak dan bertindak, tetiba Embun Kahyangan menghentikan langkah. Di hadapannya, sudah berdiri seorang anak remaja nan berpenampilan serba gelap, bersama dengan empat gadis belia yang senantiasa sedia mendampingi. 

Embun Kahyangan hanya memandang sekilas, dan seperti biasanya tak menunjukkan kepedulian. Gadis belia itu lantas meneruskan langkah. Di lain sisi, Kum Kecho tiada menghalangi, sementara ingatannya sedang kembali ke pada suatu saat di masa lampau. Pandangan matanya mengantarkan gadis belia beserta Selendang Batik Kahyangan dan lelaki tua renta, yang melangkah semakin menjauh dan menyatu dengan bayangan malam. 

“Mengapa dilepas…?” Rangga Lawe tiba di sisi Kum Kecho. 

Kum Kecho, masih memandangi Embun Kahyangan dan lelaki tua renta teman seperjalanannya, menyunggingkan senyum. “Jikalau kalian cukup percaya diri untuk menghadapi gadis itu, maka kupersilakan… Akan tetapi, kusarankan untuk tak membuang nyawa secara cuma-cuma.”