Episode 107 - Top of the Volcano


“Mundur! Kalian mencurigakan!” kata Luiz sambil menghunuskan pedangnya ke arah Bartel.

“Tolong kami... tolong sembuhkan kami.” kata Bartel yang terluka dan berjalan tertati-tatih. “Kami benar-benar terluka akibat...”

“A-apa yang terjadi dengan kalian?!” kata Luiz terkejut melihat Joran yang besar itu tumbang dengan penuh luka.

“Ugh... hah... hah... kami melawan party Nicholas, dan... dan kami menang.” kata Bartel yang terluka parah. “Meskipun... kedua belah pihak mengalami luka yang sama parahnya.”

“Tidak mungkin,” Luiz meragukannya.

“Tidak mungkin apanya?! Kami benar-benar mengalahkannya. Nih lihat sendiri buktinya!” Bartel mengeluarkan sebuah kantong dan menjatuhkannya ke tanah.

“Hah? Apa ini?” tanya Luiz sambil secara hati-hati membuka isi kantongnya.

“Haaaaah!” Luiz melongo ketika melihat isi kantong tersebut. “Darimana kamu dapat token sebanyak ini?!” 

“Sudah kubilang, kami menang melawan Nicholas dan ini hasil jarahan kami.” jawab Bartel. “Untung benda ini dipegang anggota yang lemah. Tapi kita bahas itu nanti saja, adakah dari kalian bertiga yang bisa menyembuhkan kami?”

“...” Luiz terdiam sesaat, berpikir sembari menghentak-hentakkan kakinya sebelum mengambil keputusan.

Sampai beberapa detik ia baru mengatakan kalimat selanjutnya.

“Baik,” kata Luiz dengan tatapan serius. “Cindy, tolong sembuhkan Joran.”

***

Luiz, Bartel dan Fhonia duduk mengelilingi api unggun, beberapa langkah darisana, Cindy fokus menyembuhkan Joran meski ia sebenarnya takut dengan badan besarnya.

“Ti-tidak mungkin!?” Luiz sulit mempercayainya. “Kalian menang melawan mereka!? Bagaimana caranya?” 

Cindy menyambung pembicaraan mereka. 

“Sebelumnya, kami juga sempat melawan party Nicholas.” kata Cindy yang tak lagi bisa menahan air matanya, ia mengatakan kalimat selanjutnya sambil menangis terisak-isak. “Dan membuat, party kita tercerai-berai hingga kami cuma bertiga sekarang.” 

“Aku juga,” sambung Fhonia dengan kepala tertunduk sembari duduk memeluk lututnya dengan cemberut.

“Karena superstar itu kuat, aku harus memanggil Yupi. Tapi tiba-tiba Yupi-ku hilang dalam sekali tebas oleh si rambut putih panjang itu. Urghh! Sebel banget jadinya!” Fhonia memukul-mukul tanah tandus tempat ia berpijak. “Dan efek sampingnya... aku harus pingsan untuk beberapa waktu,”

“Tapi kamu sudah jauh berkembang Fhonia,” balas Luiz. “Kamu yang dulu perlu 3 hari penuh untuk sembuh, ingat. Betapa merepotkannya kamu sewaktu ujian dungeon dulu. Namun sekarang kamu Cuma perlu kurang lebih 3 jam untuk normal kembali.”

“Kalian juga tentunya melawan Velizar kan?” tanya Luiz. “Bagaimana kalian menghadapinya? Pedang Listrik-ku hilang begitu bersentuhan dengan pedang miliknya. Karena dia, kami jadi tidak bisa menggunakan Aura.”

“Hahaha...” Bartel mentertawainya. “Berbeda dengan kalian. Gini-gini kami ini juara di Fel Tournament loh. Juara kami ini... intinya adalah tidak bergantung dengan kemampuan Aura sepenuhnya.”

“Tidak bergantung dengan kemampuan Aura, sepenuhnya?” Luiz memegang dagunya dan berpikir.

***

“Heh... Gila! Memang dasar anak kecil, terlalu sering memaksakan diri.” kata Hunter No.51 sambil berjalan menghampirinya. “Apa kau tidak tahu kalau elemen cahaya akan 2 sampai 3 kali lebih kuat jika melawan elemen kegelapan seperti kalian-kalian ini.”

“Hah... hah... diam kau sialan!” Nicholas berusaha bangkit. “Hah... hah... tunggu saja, aku pasti akan menghabisimu.”

Hunter No.51 terus menghampirinya dan ia sudah berdiri di depan Nicholas yang tertunduk.

“Huh! Kau Obsidus kan? Kalian memang terkenal keangkuhannya. Beruntung aku tidak pernah satu angkatan dengan keluarga sombong seperti kalian!” kata Hunter No.51 sembari bicara berhadap-hadapan dengan Nicholas langsung, tepat di depan wajahnya. “Apa Obsidus yang angkuh itu lupa? Bahwa kegelapan tidak akan bisa menang melawan cahaya.” 

“Diam kau brengsek! Apapun yang terjadi! Akulah pemenangnya!” kata Nicholas sembari berusaha mencekik lawannya dengan cepat.

“Ugh!? Apa!?” Hunter No.51 itu tercekik oleh Nicholas yang tangannya kirinya sudah berselimut api hitam.

“DREAM CATCHER !!”

Nicholas meng-cast sihirnya dengan teriakan yang keras sekali.

“HUWAAAAAA !!” Hunter No.51 itu berteriak keras, bola matanya berputar ke atas hingga seluruh matanya menjadi putih. 

Sementara di pikirannya muncul seluruh gambar-gambar tentang ingatan paling buruk yang pernah ia alami hingga yang telah ia lupakan dalam bentuk cuplikan-cuplikan gambar yang terus berganti-ganti.

Hunter itu mendengar,

“Kau orang yang gagal, kau tidak akan bisa masuk Vheins.”

“Huh, kamu mau mencoba berapa kali lagi? Sudah menyerah saja.”

“Orang miskin seperti kamu jangan bermimpi masuk ke sekolah semahal Vheins.”

“Kau dan aku ini sama-sama tidak berbakat, sudah menyerah saja, kita terima nasib bahwa kita ini tidak spesial.”

“Hahaha... lihat, apa kubilang kau tidak akan pernah berhasil.”

“Hah... hah... dasar keparat, anak ini menggunakan jurus terlarang seperti ini?!” kata Hunter No.51 di dalam pikirannya sendiri, ia seperti berdiri di tengah-tengah ruang kosong dimana hanya ada gambar-gambar besar berisi cuplikan ingatan terburuk dalam dirinya, mengitari ia terus menerus. “Tenanglah, tenang, ini semua cuma ilusi, cuma ilusi. Aku harus fokus dan...”

“UWAAAAAAA !!”

Tubuh Hunter itu bercahaya, cahayanya perlahan semakin terang dan seketika tubuhnya berselimut cahaya putih keemasan secara utuh. Ia meledakan cahaya yang berpusat dari dalam tubuhnya. Suara ledakannya keras sekali terdengar.

Nicholas dihempas cukup jauh sampai-sampai cengkramannya terlepas, bersamaan dengan anggota partynya yang berlindung di belakang juga ikut terkena efek ledakannya.

Setelah berhasil melepaskan diri dari efek Dream Catcher Nicholas, Hunter itu tersungkur dan badannya terlihat lemas sekali. “Hah... hah... bisa-bisanya kau menggunakan jurus terlarang itu.”

‘Untung aku pernah belajar mengantisipasi sihir ini. Aku tahu efeknya memang mengerikan tapi sekadar mengetahui bahwa yang terlihat sangat nyata itu tidaklah nyata adalah kunci untuk terlepas dari sihir ini.’ pikir Hunter No. 51

Hunter No. 51 itu beranjak naik, berjalan menghampiri Nicholas meski tatanan rambutnya sudah tidak rapih lagi. Wajahnya terlihat marah dan berkeringat, badannya gemetar karena ingatan-ingatan itu masih menghantuinya.

Begitu ia sudah berdiri di depan Nicholas, ia langsung mencekiknya, “Kau tahu sihir apa yang kau lakukan padaku barusan tadi hah? Sihir itu bisa membuat orang menjadi gila secara permanen, kau tahu konsekuensinya kan!”

“Diam kau brengsek! Cuh!” Nicholas meludahi wajah Hunter No.51 itu.

“Grr... dasar Obsidus sialan! Kau akan kuhabisi saat ini jug-” seketika Hunter No.51 pingsan tidak sadarkan diri.

Kepala Hunter itu ditendang kuat-kuat oleh Velizar, dari sisi kanan ke kiri.

Velizar bilang. “Kalau kau lawan sungguhan, pasti sudah kutikam dari belakang, tepat di dadamu.”

“Velizar brengsek, kenapa kau ikut campur, aku yang seharusnya mengalahkan dia!” sahut Nicholas.

“...” Velizar hanya diam saja mendengarkannya tanpa emosi.

“Hanya aku seorang yang pan-”

Nicholas juga mengalami hal yang serupa, ia digebuk leher belakangnya oleh Clow hingga tumbang dan tidak sadarkan diri. “Rese,rese, rese, rese! Rese banget! Kita sudah menang juga ehh dia masih marah-marah tidak karuan. Sebel banget sama dia ini nih! Hrrrrr!”

Setelah itu mereka keluar dari katedral tua dan pergi mencari tempat yang aman untuk melindungi diri dari Hunter dan gelapnya malam.

Party Nicholas akhirnya bermalam di sebuah rumah di kota Eleantra, bersembunyi disana, meminimalisir suara dan cahaya.

***

“Hah... hah... hah... hah... Ivara! Ivara! Akhirnya! Akhirnya aku mendapatkan obatnya.” sahut Soleil sambil berlari mengangkat obatnya tinggi-tinggi.

Begitu tiba di terowongan bawah tanah tempat mereka berpisah sebelumnya. Soleil tak mendapati ada Ivara disana.

“Tidak... tidak... Apa aku sudah terlambat? Ivara, Ivara? Kau dimana?!” sahut Soleil dengan gelisah. “Aku sudah bawa obatnya.”

Tak mendengar balasan apapun saat itu juga, Soleil segera tersungkur dan merasa menyesal. “Ivara, maafkan aku. Aku...”

“Soleil, selamat datang kembali.”

“Ivara!?” Soleil terkejut dan beranjak naik.

“Akhirnya kau datang juga,” kata Ivara yang masih terlihat lemas dengan seluruh tubuhnya dibungkus kain. “Aku sangat bersyukur kau tidak apa-apa.”

“Maaf, maaf, aku membuatmu menunggu sangat lama. Ini... Ini obatnya minumlah dan lekas sembuh.”

“Terima kasih banyak Soleil.” 

***

Masing-masing dari ketiga Party Alzen dan Party Leena tiba di pinggir luar Calya Utara. Namun dari kejauhan mereka melihat sebuah asap mengepul tinggi sampai ke atas dari pedesaan tempat mereka bermukim.

“Gssst... ini gawat.” Alzen menghembuskan nafas dan terlihat gelisah. “Markas kita, diserang.”

Alzen berdiri sembari menundukkan kepala, mengusap-usap keringatnya dan mencoba untuk tenang.

“Ayo cepat bergegas.” tepuk Chandra pada pundak Alzen. Kemudian ia melangkah lebih cepat. “Aku harap teman-teman kita disana baik-baik saja.”

“Hunter-hunter ini menyerang di banyak tempat ya dan skenario terburuk akhirnya terjadi juga.” kata Sever yang ikut menyusul.

“Hah...” Alzen menarik nafas dan berusaha menenangkan diri. “Ayo semuanya, kita bergegas.”

Alzen berlari dengan kelompoknya menuju rumah yang menjadi markas mereka dan begitu sudah dekat Alzen mendobrak pintu itu secara tergesa-gesa.

***

“Ranni! Teman-teman! Kami kembali.” kata Alzen selagi membuka pintu masuk ke rumah yang jadi markas mereka. “Kalian baik-baik saja?”

“Alzen... Alzen, Alzen! Syukurlah kamu kembali.” setelah melihat Alzen, Ranni inisiatif memeluknya.

Namun Alzen mendorongnya, memegang kedua pundaknya dan bertanya padanya. 

“Tunggu, tunggu, tunggu apa yang terjadi disini dan dimana teman-teman yang lainnya?” kata Alzen sambil melihat keseluruhan rumah dan mengamati segala sesuatunya dengan cepat. 

“Mereka sudah di bawa oleh para Hunter yang menyerang tempat ini, dan...”

Selagi Ranni menjawab, mataya fokus ke arah yang lain. Alzen melihat bekal di dalam karung yang sudah dipersiapkan tidak ada, kondisi markas mereka yang sudah hancur dan hanya menyisakan Ranni seorang membuat Alzen mempertanyakan ulang segala sesuatunya.

 “Lalu, kenapa kamu masih disini?” tanya Alzen dengan wajah serius sembari diam-diam meng-cast sihir petir di tangannya.

“Aku diminta mereka untuk tinggal disini dan memberitahukan semu-”

Raut wajah Alzen seketika kesal dan aliran listrik keluar dari tangannya lalu ia arahkan langsung untuk menyerang Ranni.

“HUWAAAA!! Sakit-sakit! Apa-apaan ini Alzen?! Kenapa kau menyerang rekanmu sendiri.”

“Kami sudah saling mengenal cukup lama dan kami saling percaya.” jawab Alzen tegas. “Ranni tidak akan melakukan hal seperti yang kau lakukan.”

***

Sejak dari Vivaldi Barrack, Lio sudah Volcano dari sore hingga malam hari dan tak seorangpun ia temui. Sepertinya semua orang menjauhi tempat ini kecuali partynya.

Fia sudah kegerahan dan terlihat lemas, 

Eris terus merangkul Krag yang sudah lemas dengan nafas tersengal-sengal. 

Namun Elquin, tanker mereka masih terlihat bugar dan tangguh, meski berkucuran keringat.

“Hoah... hoah akhirnya sampai juga.” kata Krag yang sudah terlihat pucat.

“Lio, kita ke puncak sini mau ngapain sih?” tanya Fia sembari mengibas-ngibas tangannya demi mendapatkan udara sejuk, meski usahanya dilakukan di tempat yang salah. “Hah... panas! Panas banget!”

“Kita akan membentuk markas disini, dengan anggota Ignis sebanyak 3 orang. Ini tempat yang baik untuk kita dan lagipula tak akan ada seorangpun yang akan kesini.”

“Lalu yang disana itu siapa?” tunjuk Elquin pada salah seorang yang ada disana.

“Hee? Siapa?”

Lio melihat sesosok pria berambut jabrik panjang berwarna putih, kekar tanpa atasan, hanya celana panjang dan dari belakang terlihat tubuhnya penuh luka, meski dilihat dari belakang, Lio bisa menilai bahwa usianya belum sampai 20 tahun.

Ia duduk seperti seorang pertapa, dikelilingi pusaran angin yang membentuk bola disekelilingnya. Terus-menerus mengeluarkan es di jarak setengah meter dari dirinya meskipun langsung meleleh seketika es itu terbentuk karena saking panasnya pusat gunung api di depannya itu.

“Hah!? Yang benar? Dia murid seperti kan?” Lio terheran-heran. “Selain Alzen, aku belum pernah melihat lagi ada murid yang bisa menggunakan tiga elemen!?”

***