Episode 85 - Roda Takdir Mulai Berjalan



Langit sore masih membiru seperti hari sebelumnya, sedikit awan menari-nari menambah indah pesona alam. Aliran sungai masih jernih seperti biasa, mengalir tenang di membelah kota.

Di tepian sungai, banyak anak-anak bermain layang-layang, berlari sambil tertawa bersama teman-temannya.

Kota ini masih sangat damai, meskipun sebenarnya, banyak hal sedang terjadi.

Rama berjalan santai melihat pemandangan itu, kemudian duduk di bangku kayu di tepi sungai. Pohon rimbun di samping bangku tersebut menghalangi sinar matahari. Suasana yang sangat menenangkan. Tapi, Rama tidak merasakan apapun, hanya hampa.

Dari jauh, dua orang gadis sedang berbicara dengan pelan, gadis dengan rambut panjang mendorong gadis dengan rambut pendek untuk maju mendekati Rama, tapi dia terlalu malu untuk melakukan itu. Akan tetapi, akhirnya gadis dengan rambut pendek itu maju mendekati Rama.

Dengan langkah yang ragu, gadis dengan rambut pendek itu mendekati Rama seraya membawa kantung belanja.

"Ha-hai."

Rama menoleh ke samping, di sana berdiri gadis dengan rambut pendek sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang memerah setelah melihat wajah Rama yang tampan.

"Ya, ada apa?" 

Tiba-tiba wajah Rama kini memiliki senyum yang dapat diterima masyarakat.

"Umm ... anu."

Jantung gadis itu berdebar lebih kencang setelah melihat senyum Rama, wajah yang tampan itu terlihat lebih mempesona setelah senyum itu datang dan membuat dia tidak mampu berkata dengan lancar.

"Kenapa?"

Rama bertanya sekali lagi dengan suara yang lembut. 

Gadis itu terpesona sekali lagi setalah mendengar suara lembut itu, membuat degupan di dadanya lebih cepat dari sebelumnya. Jika di ibaratkan gadis dengan rambut pendek itu sekarang memiliki degupan jantung seperti atlet yang sedang berlari sprint, sangat cepat.

"Umm ... Itu."

"Katakan saja."

Gadis itu mengambil buah apel dari dalam kantung belanjanya dan memberikan apel merah itu pada Rama.

"Ini untukmu."

Rama menerima apel merah tersebut kemudian kembali menampilkan senyum yang dapat diterima oleh masyarakat, "Terimakasih."

"Um ... Ya, sama-sama, aku pergi dulu." Gadis dengan rambut pendek itu berlari menemui temannya dengan senyum merekah di wajahnya.

Setelah gadis itu pergi, wajah kosong Rama kembali lagi, senyum yang dapat diterima masyarakat sebelumnya lenyap tanpa jejak. Rama memandangi apel berwarna merah di tangannya, lalu dengan tangan kirinya Rama mengambil pisau kecil yang selalu dia sembunyikan di balik jubah putihnya.

Dengan sangat cekatan lapisan tipis kulit apel itu menghilang, menggantikannya adalah daging apel berwarna putih. 

"Boleh aku duduk?"

Rama menoleh, seorang pria yang tampak berusia sekitar 40 tahunan yang memakai pakaian polisi berdiri di samping bangku.

"Silakan saja."

Rama mempersilakan polisi itu duduk, karena pada dasarnya dia tidak mempunyai hak untuk melarang polisi itu untuk tidak duduk di bangku umum.

Polisi itu berterimakasih, lalu mempersilakan pantatnya beristirahat pada bangku kayu itu. 

"Tadi aku melihatnya, sangat nyaman jadi pria tampan." Ucap polisi tersebut.

"Haha, biasa saja, dia saja yang berlebihan." 

"Apakah sering terjadi seperti itu?"

"Lumayanlah." Jawab Rama. Kini, senyum yang dapat diterima masyarakat telah kembali menghiasi wajah tampannya.

Rama memotong setengah apel yang sebelumnya dia kupas.

"Mau?"

"Tidak, aku tidak lapar."

"Baiklah." Rama memasukkan potongan apel itu ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.

Polis tadi mengeluarkan kotak rokok dari saku celananya. "Boleh aku merokok?"

"Silakan saja, aku tidak keberatan."

"Kau mau?"

"Tidak, silakan saja."

"Baiklah."

Polisi itu mengeluarkan sebatang rokok dan menempatkannya ke bibirnya. Tangan kirinya mencari-cari korek dari beberapa kantung di pakainya, hingga akhirnya ketemu di kantung bajunya.

Dengan sentakan ringan, api menyala di ujung korek api berwarna biru, api kecil membakar ujung rokok. Kemudian dengan hisapan berat, polisi itu menghisap asap rokoknya, tidak lama kemudian dia mengeluarkan asap itu dari mulut dan hidungnya. Asap tipis tidak lama di udara, karena tertiup angin dan menghilang tanpa jejak.

Polisi itu menikmati asap rokoknya, sedangkan Rama terus mengunyah apel di tangannya. Mereka berdua dengan tenang melakukan hal masing-masing.

Setelah habis apel ditangannya, Rama menoleh dan melihat polisi itu tampak suram. "Apakah kau sedang ada masalah?"

"Ya, sangat banyak masalah."

"Jika kau mau, silakan saja ceritakan padaku."

"Sangat banyak, jadi aku tidak tahu masalah mana yang harus aku ceritakan lebih dulu." Polisi itu menyunggingkan senyum pahit.

"Yah, tidak mungkin hidup tanpa ada masalah."

"Tapi, kalau bisa memilih, aku tidak mau mendapatkan masalah."

"Lebih baik memiliki masalah, daripada hidup dalam hampa, tidak merasakan apapun, itu sangat menyakitkan." Rama menatap langit.

Polisi tidak berkata apapun, dia melihat samping wajah Rama dan menatap matanya yang sayu.

"Jika bisa, aku ingin menjadi seperti manusia lainnya." Gumam Rama pelan.

Setelah semua yang Rama lakukan, dia tidak lagi menganggap dirinya sebagai manusia. Tapi sebagai mahluk tanpa hati yang bahkan lebih kejam daripada iblis.

Polisi itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil dan berkata, "Haha, apakah menurutmu menjadi tampan berarti kau bukan lagi manusia. Apapun dirimu, bagaimana pun dirimu, kau tetap manusia biasa."

Rama tersentak, dia menoleh ke arah polisi di sampingnya yang kini sedang asik menghembuskan asap rokoknya. "Mungkin ... kau benar."

"Tentu saja, percaya padaku."

"Oh, iya, untuk masalahmu, jika kau tidak sanggup melakukannya sendiri, pinjam kekuatan orang lain."

"Ya, aku juga sedang ingin melakukan itu."

Polisi itu kembali menghisap asap rokoknya, lalu memikirkan tentang masalah istrinya yang tidak percaya padanya.

"Menurutmu, bagaimana cara membuat orang lain percaya pada dirimu lagi?"

"Sulit membuat orang kembali percaya, aku  sendiri tidak tahu jawabannya. Tapi meskipun banyak orang tidak percaya, pasti ada yang percaya padamu." 

Rama mengingat lagi masa lalunya. Dulu, karena terlalu percaya diri, dia menjadi sombong, hingga kesalahan itu muncul, tidak ada lagi orang yang percaya padanya. Tapi, pada akhirnya ada temannya yang mau mengulurkan tangan untuk menggapai Rama.

"Kau benar."

"Ya, aku pikir begitu."

Rama melirik polisi yang tampak suram di sampingnya. Entah kenapa mereka bisa memiliki percakapan yang panjang, padahal mereka tidak saling kenal. Selain itu, jika polisi itu tahu apa yang telah Rama lakukan, tidak mungkin mereka bisa duduk sambil membicarakan banyak hal seperti ini.

"Apakah kau pernah membunuh?" Rama bertanya pada polisi itu.

Polisi itu melirik Rama dan tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan.

"Lalu ... Apakah kau menyesal?"

"Tidak, jika aku tidak membunuhnya waktu itu, dia pasti akan melakukan banyak hal buruk pada orang lain, jadi aku tidak pernah menyesal. Meskipun begitu, rasanya sangat berat di masa-masa awal, aku sempat depresi, sih."

"Haha, itu wajar, kau masih manusia." Ucap Rama.

Ketika dia pertama kali 'membunuh' pasien yang dia rawat, anehnya ... Rama merasa bahagia. Senyumnya waktu itu, benar-benar tulus kebahagiaan.

"Memangnya kau pernah membunuh?" Polisi itu bertanya.

"Ya, cukup sering." Ucap Rama tenang.

"Yah, tentu saja, itu resiko dari pekerjaan kita, jadi jangan terlalu dipikirkan, nyawa bukan kita yang menentukan, tapi Sang Pencipta."

"Hmmm..."

Rama tidak menyetujui atau menolak, karena Selena ini dia terus mempermainkan nyawa orang lain, dia merasa tidak pantas untuk menyetujui atau menolak argumen tersebut.

"Terimakasih, aku merasa lebih baik."

"Tidak, aku juga harus berterimakasih." Rama menampilkan senyum yang dapat diterima masyarakat.

Polisi itu menghisap rokok yang sudah diambang habis. Setelah itu dia menghembuskan asap tebal yang tidak lama kemudian hilang terbawa angin. Melemparkan puntung rokok ke tanah lalu menginjaknya dengan ujung sepatunya.

"Apakah tidak apa-apa buang sampah sembarangan seperti itu?"

"Haha, tidak apa-apa." Polisi itu tertawa.

Tidak lama kemudian anak-anak kecil yang tadi bermain layangan di tepi sungai berlari cepat, di wajahnya tertulis jelas ketakutan, mereka berteriak, "Mayat, mayat, ada mayat!"

Polisi itu berdiri setelah mendengar teriakkan anak-anak kecil itu. Dia mendekati mereka dan bertanya, "Dimana mayatnya?"

"Itu ... Di sana, di tepi sungai, ada mayat mengerikan."

"Baiklah, kalian cepat pulang ke rumah."

"Hmm, iya." Anak-anak mengangguk dan pergi.

Polisi itu mengeluarkan telepon genggamnya dari saku celana dan membuat beberapa panggilan. Wajahnya yang suram, menjadi lebih suram. Setelah membuat beberapa panggilan dia melihat ke belakang, di mana bangku tempat dia duduk sebelumnya, tapi dia tidak lagi melihat pria yang sebelumnya duduk di sampingnya.

Polisi itu berjalan menuju tepi sungai, tidak lama kemudian dia melihat apa yang anak-anak lihat tadi. Sesosok mayat yang tak lagi lengkap mengambang di tepi sungai. Aroma busuknya menarik banyak lalat untuk hinggap di atasnya. Tubuh mayat itu telah berubah pucat, mungkin telah lama dia meninggalnya.

10 menit kemudian datang personil polisi dan mobil ambulance, mereka segera mengangkat mayat hasil kebiadaban iblis itu dari sungai dan membawanya pergi.

Polisi yang menelpon tadi tidak ikut dalam rombongan, dia langsung menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana dan bergegas pergi ke suatu tempat.

Sedangkan itu Rama berjalan santai seraya memainkan pisau kecilnya, dia tidak penasaran dengan mayat yang berada di sungai. Karena dia lah yang menciptakan maha karya tersebut, dia akan menyerahkan pada orang lain untuk mengaguminya.

Suasana hati Rama sangat baik, kemudian sebuah mobil bergerak cepat di jalan, Rama melirik ke arah kursi pengemudi dan menemukan bahwa orang itu adalah polisi yang sebelumnya duduk di sampingnya.

"Selamat bekerja keras, semoga beruntung." Gumam Rama seraya menampilkan senyum yang dapat diterima masyarakat.

Polisi itu tidak lain tidak bukan adalah Ferdian, dia tidak pernah menyadari, ternyata salah satu dari orang yang dia cari lebih dekat dari pada yang dia bayangkan. 

Meskipun begitu, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, orang yang tersenyum terakhir bukan berarti adalah sang pemenang. 

Karena itu, roda takdir yang berjalan akan terus berjalan, pertemuan tak disengaja ini adalah tanda dimulainya sebuah peristiwa yang akan mengubah beberapa orang, seperti dia, dia, dia, dan dia.