Episode 372 - Mengasah Kemampuan



Bintang Tenggara, di tempat yang tak terpisah terlalu jauh, tentu menyadari akan keributan besar yang berkecamuk. Apakah kiranya yang sedang mendera Perguruan Maha Patih…? Mungkinkah ada yang menyerang perguruan terkemuka tersebut…? Ataukah Maha Guru Segoro Bayu, Maha Guru Sangara Santang serta Adipati Jurus Pamungkas sengaja memicu keributan…? 

Perihal pengalihan perhatian dengan cara menimbulkan keributan tiada dibahas saat mereka menyusun rencana penyusupan. Walau, sulit untuk menampik kemungkinan tersebut karena ketiga ahli nan perkasa tiada dapat ditebak alur berpikir mereka.   

Kala menduga-duga, Bintang Tenggara merasakan keberadaan hawa panas nan maha dahsyat! Dengkulnya bergetar, keringat mengucur deras, dan ingatannya kembali ke saat masih berada di dalam dunia Goa Awu-BaLang. Sebagaimana saat itu, gelombang hawa panas yang merambat di udara dibarengi dengan aura yang demikian mencekam. 

Belum sempat Bintang Tenggara menelisik apa yang sesungguhnya sedang berlangsung, formasi segel pertahanan Perguruan Maha Patih merangkai megah. Anak remaja itu terlihat kagum memandangi wujud kubah raksasa, walau dalam hati ia berpandangan formasi segel di Kemaharajaan Cahaya Gemilang jauh lebih perkasa. Oleh karena itu, Balaputera Gara tiada heran ketika menyaksikan betapa formasi segel pertahanan tersebut tiada dapat bertahan lama. Ia dikoyak paksa, dan gelombang hawa panas nan mencecam kembali merebak!

Siapakah yang mengerahkan api putih!? batin anak remaja tersebut. Dalam ingatannya, daya musnah warna tertinggi dari tingkatan panas api bukan isapan jempol belaka. Apakah ada siluman sempurna yang datang dari dunia Goa Awu-BaLang? Ingatannya kini beralih ke saat keluar dari dunia paralel dimaksud, yang kembali membuka kemungkinan bahwa benar ada yang ikut keluar bersama dengan dirinya. (1)

Dengan demikian, Bintang Tenggara menyimpulkan bahwa peristiwa yang berlangsung bukan merupakan bagian dari siasat ketiga ahli Kasta Emas. Tak mungkin mereka membuka kesempatan bagi dirinya melanjutkan upaya penyusupan dengan merusak Perguruan Maha Patih. Mereka adalah tokoh-tokoh aliran putih, yang walaupun bersiasat memiliki batasan sesuai nilai dan norma dunia keahlian.  

Di saat yang bersamaan, Bintang Tenggara pun menyadari bahwa kejadian yang sedang berlangsung merupakan sebuah kesempatan emas yang jangan sampai dilewatkan. Bukan untuk kembali masuk ke dalam graha milik Sesepuh Kertawarma dan melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena sudah dapat dipastikan bahwa tokoh tersebut memang merupakan anggota kelompok Kekuatan Ketiga. Sebaliknya, Super Murid Komodo Nagaradja segera memutar tubuh. Ia melesat cepat meninggalkan Perguruan Maha Patih. Apa pun itu pergolakan yang sedang berkutat, tak ada sangkut paut dengan dirinya. 

Tiba di Kota Ahli, terlihat banyak yang sedang memperbincangkan apa yang sedang berlangsung di Perguruan Maha Patih. Sebagian besar dari mereka bukanlah bagian dari perguruan yang menjadi buah bibir, melainkan para ahli yang berasal dari perguruan lain yang banyak berdiri di Kota Ahli. Sebagaimana diketahui, bagi perguruan kecil dan sedang, Perguruan Maha Patih merupakan acuan dan perlambang kejayaan dunia pendidikan keahlian. 

“Aku dengar, para tetua di Perguruan Maha Patih sedang menguji formasi segel pertahanan mereka…,” ungkap seorang ahli penuh percaya diri.

“Bukan! Khabar yang beredar menyebutkan tentang sebuah senjata pusaka yang lepas kendali, sehingga menyebabkan kekacauan di dalam perguruan…”

“Kalian semua dungu! Adalah Persaudaraan Batara Wijaya, yang tempo hari diserang oleh murid-murid Perguruan Maha Patih, datang menuntut balas!”

Desas-desus beredar jauh lebih cepat dari langkah kaki Bintang Tenggara. Anak remaja itu melompat masuk ke dalam sebuah penginapan mewah, lalu menuju salah satu kamar. Kosong. Ia lantas menuju rumah makan terdekat, dan mendapati Balaputera Prameswara sedang khusyuk menyimak desas-desus perihal gejolak yang berlangsung di dalam Perguruan Maha Patih. 

“Wara, kita akan segera meninggalkan Kota Ahli!” ajak Bintang Tenggara, yang kemudian memutar tubuh tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. 

Balaputera Prameswara, kendati sangat ingin mengetahui lebih jauh tentang apa sesungguhnya yang menimpa Perguruan Maha Patih, segera bangkit. Dari sudut pandangnya, sang Yuvaraja kali ini terlihat sangat tegas dalam memberi titah. Oleh karena itu, sebaiknya segera mengikuti jikalau tak hendak ditinggal pergi seorang diri. 

Kedua saudara sepupu kemudian langsung mendatangi balai gerbang dimensi. Akibat desas-desus yang beredar tentang Perguruan Maha Patih, tak banyak ahli yang memanfaatkan jasa gerbang dimensi untuk meninggalkan kota. Namun demikian, terlihat banyak ahli yang berdatangan hendak menyaksikan sendiri apa sesungguhnya yang menimpa perguruan terbesar dan terkemuka di Kota Ahli. 

Usai membayar jasa pemanfaatan gerbang dimensi ruang, Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara segera melompat masuk. Setibanya di Kota Baya-Sura, ia bahkan menahan diri untuk mengunjungi Lamalera di Perguruan Anantawikramottunggadewa. Tanpa membuang waktu, keduanya segera memanfaatkan gerbang dimensi berikutnya menuju Kota Taman Selatan di Pulau Dewa. 

Matahari tepat berada di atas kepala ketika kedua remaja tiba di Monumen Genta, tempat di mana gerbang dimensi ruang menuju Perguruan Gunung Agung terletak. Menunjukkan lencara Murid Utama, Bintang Tenggara dipersilakan masuk tanpa halangan sama sekali. 

“Kota Gapura,” ujarnya cepat. Ia hendak segera menuju ke kediaman Sesepuh Ketujuh dan memanfaatkan Lidah Buaya Bercabang hasil jerih payah selama tiga purnama mengejar predikat sebagai murid terbaik di dalam ajang pertukaraan murid di Perguruan Budi Daya. Sebagai bahan dasar ramuan, tumbuhan siluman ini akan sangat bermanfaat bagi penyembuhan Si Kancil. 

Kedua remaja lantas terlihat melompat keluar dari dalam lorong dimensi ruang. Akan tetapi, tepat di saat mendarat, Bintang Tenggara segera menyadari keanehan. Segera ia waspada, karena tiba di tempat yang bukan seharusnya. Terlihat sebuah pekarangan luas dengan beberapa pendopo di sisi kiri dan kanan. Ia sangat mengenal tempat tersebut, dan tokoh yang berdiam di sana merupakan ancaman besar! 

“Ada apakah gerangan…?” Balaputera Prameswara terlihat bingung menyaksikan gelagat sang junjungan. 

“Ini bukanlah tempat yang kita tuju!” sergah Bintang Tenggara yang semakin waspada mengamati situasi sekeliling. 

“Apakah lorong dimensi ruang tadi tersimpang arah…?”

“Bukan ‘tersimpang arah’… melainkan sengaja disimpangarahkan!” Ia sudah dapat memastikan bahwa mereka tiba Kota Sanggar. Atau lebih tepatnya, di dalam wilayah Kejuruan Keterampilan Khusus Bidang Segel.

“Siapa gerangan yang memiliki kemampuan nan demikian handal…?” Bahkan bagi para perapal segel dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, sengaja membelokkan lorong dimensi ruang yang dirapal oleh ahli lain merupakan kemampuan yang hanya dapat dilakukan oleh ahli setara Kasta Emas. Oleh karena itu, mendengar bahwa terdapat ahli yang mampu membelokkan lorong dimensi ruang di Perguruan Gunung Agung, sungguh membuat Balaputera Prameswara terkesima. 

“Dia!” Bintang Tenggara menunjuk ke arah seorang lelaki dewasa muda yang sedang melangkah mendekati mereka. Raut wajah tirus dan tampan serta menyibak senyum ramah lagi riang. Sungguh lagak dan penampilan yang biasa ditampilkan oleh sosok tersebut, membuat perut mual. 

Mulut Balaputera Prameswara, di lain sisi, menganga sangat lebar. Sekali pandang saja, raut wajah tirus lelaki dewasa muda tersebut senada dengan raut wajah dirinya sendiri. Walau belasan tahun terpisah, nalurinya menyiratkan bahwa sosok tersebut sangatlah tak asing, bahkan terasa sangat dekat. 

“Kakak…?” Suara remaja tersebut terdengar pelan dan bergetar, dan kelopak matanya terasa sembab. 

“Oh…? Apakah itu Wara…?” Balaputera Khandra, alias Guru Muda Khandra, terlihat seolah tak percaya. 

“Kakak Khandraaaa!” Air mata sudah berlinang tatkala Balaputera Prameswara berlari secepat mungkin ke arah kakak kandungnya. Ia lantas melompat dan sontak merangkul.

“Wara!” sambut Balaputera Khanda. “Sudah lama kita tiada bersua. Terakhir kali kulihat, dikau baru belajar berjalan…” Terlihat kehangatan dari tatapan matanya ketika menerima rangkulan sang adik. 

Bintang Tenggara mendecak lidah. Sandiwara yang basi, batinnya mencibir. Sangatlah jelas bahwa Balaputera Khandra sudah mengetahui bahwa dirinya dan Balaputera Prameswara tiba di Pulau Dewa. Entah bagaimana caranya mengetahui, yang jelas secara sengaja dia membelokkan lorong dimensi ruang, sehingga mereka tiba di tempat tersebut. Entah muslihat apa lagi yang sedang disusun oleh tokoh nan tiada dapat dipercaya tindak-tanduknya itu… 

“Wara, sebaiknya kita segera angkat kaki dari tempat ini,” sergah Bintang Tenggara. “Aku ada urusan mendesak, dan tak hendak membiarkan engkau ditinggal seorang diri bersama dia.”

Balaputera Prameswara sedang larut dalam suasana suka cita. Bola matanya membesar bulat di saat menatap kagum kepada sang kakak, dan berupaya menahan sesegukan yang mendera. Sudah belasan tahun ia mendamba bertemu muka dengan tokoh tersebut. 

“Murid Utama Bintang Tenggara,” sapa Guru Muda Khandra. “Pergilah terlebih dahulu… Kami hendak meluangkan waktu sejenak untuk sekadar bertukar ceritera.”

Bintang Tenggara terlihat meragu. Mustahil baginya meninggalkan Balaputera Prameswara nan polos. Akan tetapi, tak sampai hati pula ia menarik paksa sang saudara sepupu yang memang sengaja ikut ke Perguruan Gunung Agung karena hendak bersua sang kakak. Bila hanya sejenak, mungkin tak akan terjadi apa-apa… Toh, mereka adalah saudara kandung, dan Balaputera Prameswara memiliki tingkat keberuntungan yang sangat tinggi. 

“Wara, jelang petang aku akan datang menjemput…” akhirnya ia berujar cepat. 

“Awas, ya!” sergah Bintang Tenggara kemudian ke arah Balaputera Khandra. Mata melotot, ia menebar ancaman agar tokoh tersebut tiada berbuat aneh. Akhirnya, anak remaja tersebut memutar tubuh dan melangkah pergi. 

Tak lama berselang, Bintang Tenggara sudah tiba di kediaman ahli yang dituju. Di hadapannya, adalah Sesepuh Ketujuh yang sedang melemparkan sejumlah dedaunan dan akar ke dalam tempayan besar berisi cairan kental. Cairan di dalam tempayan tersebut senantiasa dijaga suhu kehangatannya oleh api kecil di bagian bawah. Di dalam tempayan, tubuh lemah Si Kancil direndam. Langkah ini diambil oleh Sesepuh Ketujuh demi menjaga agar luka bakar di sekujur tubuh binatang siluman itu tak memburuk. Upaya ini bersifat sementara.

“Selamat atas keberhasilan dikau sebagai murid terbaik…,” sapa Sesepuh Ketujuh sembari melontar senyum. Sepertinya ia sudah mengetahui bahwa Bintang Tenggara akan meraih predikat tertinggi di dalam ajang pertukaran murid, bahkan sebelum anak remaja tersebut bertolak ke Perguruan Budi Daya. 

Bintang Tenggara mengangguk pelan. Ia lantas menyodorkan sebatang tumbuhan siluman yang bercabang dua, berwarna hijau tua, dengan duri-duri halus tiada beraturan pada kedua sisinya. Tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang masih terlihat teramat segar. 

Atas tindakan Bintang Tenggara, sebentuk senyuman menghias sudut bibir Sesepuh Ketujuh. Sambil melangkah pergi, ia lantas berujar, “Kurasa dikau lebih piawai dalam hal meramu dibandingkan perempuan tua ini…” 

Bintang Tenggara menyadari bahwa, sampai batasan tertentu, Sesepuh Ketujuh mengetahui tentang kemampuan meramu dirinya yang jauh di atas rata-rata ahli Kasta Emas sekalipun. Kendatipun demikian, perempuan setengah baya tersebut tiada pernah bertanya atau pun menyinggung tentang kemampuan tersebut, kemungkinan karena beliau sudah dapat memperkirakan bahwa tiada akan memperoleh jawabab jujur. Atas kenyataan ini, Bintang Tenggara hanya mampu berkata, “Terima kasih atas bantuan serta pengertian dari Yang Terhormat Sesepuh Ketujuh.”

Ditinggal berdua dengan tubuh lemah Si Kancil, Bintang Tenggara memulai proses meramu. Ia tahu persis apa yang perlu dilakukan karena Sesepuh Ketujuh telah mempersiapkan ramuan dasar di dalam tempayan. Langkah selanjutnya adalah menambahkan sari pati tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang. Kendatipun demikian, tetap diperlukan waktu untuk mengurai senyawa di dalam tumbuhan siluman tersebut. 

Hari telah beranjak petang tatkala anak remaja tersebut merampuangkan ramuan. Berdasarkan perkiraannya, dalam rentang waktu lebih kurang tiga purnama maka tubuh Si Kancil akan pulih dan kesadarannya pun kembali. Menanti saat itu tiba, adalah upaya yang dapat dilakukan berikutnya. 

“Kakek Gin, mengapakah setelah sekian lama kesadaran Super Guru Komodo Nagaradja belum kunjung kembali…?”

“Hm… itu…” Ginseng Perkasa terdengar ragu. Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

“Apakah beliau sengaja…?” tebak Bintang Tenggara.

Seolah menghela napas nan teramat panjang, kesadaran sang Maha Maha Patih Surgawi terlihat gundah. “Gurumu… Komodo Nagaradja… sengaja mengunci diri.” 

“Mengapa…?”

“Menurutnya, pertumbuhan keahlian Nak Bintang terhambat karena keberadaan dirinya. Ia tiada dapat menahan diri, sehingga senantiasa memberi tunjuk ajar. Oleh karena itu, ia tak hendak dikau menjadi manja dan terus-menerus bergantung pada dirinya.”

Sungguh pemikiran yang pendek dan khas Komodo Nagaradja, batin Bintang Tenggara. Memang benar bahwa selama ini Komodo Nagaradja senantiasa membantu, dan memang kenyataan wajib membantu bilamana hendak segera mencapai tujuan. Ya, sudahlah. Toh, tubuh Komodo Nagaradja akan sembuh tak lama lagi. Tiga purnama bukanlah waktu yang panjang. 

Tetiba Bintang Tenggara teringat akan suatu hal. Sekali lagi ia mengamati ramuan yang merendam tubuh Si Kancil. Setelah memastikan bahwa tak ada kesalahan, ia pun melesat meninggalkan kediaman Sesepuh Ketujuh. 

Hanya dalam waktu singkat, Bintang Tenggara telah kembali di Kejuruan Keterampilan Khusus Bidang Segel. Di pekarangan luas, terlihat Balaputera Khandra sedang bercengkerema dengan seekor burung kicau di dalam sangkar berukuran sedang. Sejenis burung murai, lebih tepatnya. 

“Di mana Wara!?” sergah Bintang Tenggara tak hendak berbasa-basi. 

Tanpa menoleh, bahkan memancungkan bibir layaknya hendak bersiul dan bertukar pikiran dengan burung tersebut, Balaputera Khandra menggelengkan kepala. 

“Hei!” Bintang Tenggara mulai naik darah. Ia mendekati dengan langkah-langkah garang. “Jawab pertanyaanku!” 

“Oh…? Murid Utama Bintang Tenggara… sungguh diriku terlampau asyik sehingga tiada menyadari kedatangan dikau.”

“Di mana Wara!?”

“Wara sedang berlatih…”

“Berlatih!?” 

“Benar. Adikku itu sungguh lucu... Ia mengatakan bahwa tak hendak terus-menerus tertinggal dari dikau, sehingga meminta nasehat dalam mengasah keterampilan khusus merapal segel.”

“Lantas!? Di mana dia berlatih!?” 

“Diriku memberi sedikit tunjuk ajar…” Perhatian Balaputera Khandra masih tercurah pada burung kicau miliknya. 

“Jangan berbelit-belit!” 

“Kukatakan padanya, bahwa di Pulau Dewa tempat terbaik baginya dalam mengasah kemampuan… adalah di kawah Gunung Istana Dewa,” lanjut Balaputera Khandra enteng. 

“APA!?” 


Catatan:

(1) Episode 339