Episode 371 - Terbelah



Sang mentari baru saja bangkit dari peraduan. Sinarnya gemilang, dengan kehangatan yang lembut membelai. Dengan sang mentari sebagai latar belakang, siluet tubuh Sesepuh Kertawarma terlihat sebagai titik nan melayang tinggi di angkasa. Ia sedang mengamati dengan cermat, di mana pandangan matanya sedang tertuju kepada sekelompok remaja yang kesemuanya berada pada Kasta Perak. 

Terdapat sekira 13 ahli Kasta Perak. Dari kejauhan, terlihat betapa gigih setiap satu dari mereka merapal kemampuan masing-masing. Membangun barisan berbanjar, sasaran mereka pada pagi hari ini adalah gerbang megah Perguruan Maha Patih. Para penjaga gerbang, terlihat kocar-kacir tak mampu memberikan perlawanan.

Wilayah gerbang porak-poranda, dan kepulan api menjalar sembari melahap pintu gerbang. 

Tak lama berselang, belasan ahli Kasta Emas melesat dan mengudara. Di antara mereka, hadir pula Maha Guru Segoro Bayu yang kebetulan sedang berjaga di dekat kediaman Sesepuh Kertawarma. Wajah penuh amarah, para ahli digdaya tersebut hendak segera mengambil tindakan. Akan mereka rajam para perusak yang lancang mengotori wilayah serta nama besar Perguruan Maha Patih! 

“Hentikan!” teriak Sesepuh Kertawarma sambil menyibak aura tenaga dalam nan menekan. Peringatan ini ia tujukan bukan kepada para pelaku perusakan di bawah sana, namun kepada para tetua perguruan yang hendak segera bertindak. “Jangan gegabah!” 

“Sesepuh Ke-15, apakah maksud dikau…?”

“Sesepuh Kertawarma, tidakkah dikau lihat betapa gerbang perguruan kita sedang dirusak…?

“Bagaimana mungkin dikau berdiam diri di kala menyaksikan penghinaan ini!?”

Rekan-rekan para tetua di dalam Perguruan Maha Patih mempertanyakan maksud dan tujuan Sesepuh Kertawarma menghentikan niat mereka turun tangan membela marwah perguruan. Beberapa bahkan berpandangan bahwa Sesepuh Kertawarma mungkin terlalu lama mengasingkan diri dalam tapa, sehingga kemungkinan akalnya mengelabui diri sendiri. 

“Ini merupakan buah dari kelalaian kita!” tanggap Sesepuh Kertawarma. “Siapa yang menanam, maka dia yang akan menuai!”

Mendengar kata-kata jawaban Sesepuh Kertawarma, beberapa tetua segera mengamati sekali lagi serangan yang datang. Mereka menenangkan diri. Meskipun demikian, sejumlah sesepuh dan maha guru lain masih bertanya-tanya karena belum sepenuhnya memahami makna yang terkandung di balik kata-kata Sesepuh Kertawarma. 

“Tidakkah kalian sadari siapa mereka…?” ujar Sesepuh Kertawarma tatkala melihat ada yang berkeras hendak mengambil tindakan. 

“Siapa!?” 

“Mereka merupakan murid-murid dari Persaudaraan Batara Wijaya! Mereka hendak menuntut balas atas tindakan murid-murid kita yang tempo hari menyerang dan merusak gerbang perguruan mereka.”

Para tetua terpaksa mengingat peristiwa yang sangat memalukan. Kala itu, hanya berdasarkan desas-desus yang tiada berdasar, beramai-ramai murid Perguruan Maha Patih menyerang Persaudaraan Batara Wijaya. Atas kejadian sembrono tersebut, Perguruan Maha Patih sempat mengirimkan utusan untuk meminta maaf serta menawarkan diri mengganti segala kerugian yang ditimbulkan. Malangnya, utusan mereka ditolak dan tawaran mereka tiada diacuhkan. (2)

Dalam kaitan dengan sengketa, adab perguruan menyatakan bahwa pertikaian antara murid-murid diselesaikan oleh murid-murid. Bilamana saat ini gerbang Perguruan Maha Patih diserang oleh murid-murid Kasta Perak dari Persaudaraan Batara Wijaya, maka yang patut melakukan perlawanan adalah murid-murid Kasta Perak pula. Hal yang sama terjadi di Persaudaraan Batara Wijaya, dan akan pula berlangsung di Perguruan Maha Patih.

Di lain pihak, peringatan Sesepuh Kertawarma sebelumnya merupakan kenyataan pahit yang patut ditelan mentah-mentah oleh para tetua perguruan yang hadir. Di antara mereka para tetua, hanya Maha Guru Segoro Bayu yang mempertanyakan dari mana Sesepuh Kertawarma mengetahui jati diri para penyerang. Meski, pertanyaan tersebut hanya disimpan di dalam hati. 

Maha Guru Segoro Bayu menoleh ke arah lain. Di kejauhan terdapat dua titik hitam yang melayang, yang tak lain merupakan Maha Guru Sangara Santang dan Adipati Jurus Pamungkas. Dalam pandangan mereka, kejadian penyerangan yang tiada terduga ini memberi hikmah tersendiri. Ketiganya percaya bahwa Bintang Tenggara sedang bebas menelusuri kediaman Sesepuh Kertawarna dalam upaya mengumpulkan bukti-bukti. 

Perhatian segenap tetua segera beralih. Karena tiada dapat turun tangan langsung, mereka yang saat ini hadir segera menebar mata hati. Setiap satu tetua menelusuri, membangunkan, dan memberi tahu murid-murid Kasta Perak dari Perguruan Maha Patih. Tak lama berselang, puluhan murid Kasta Perak berhamburan keluar dari dalam wilayah perguruan.

Kendatipun demikian, para murid yang keluar tanpa persiapan memadai dan tanpa taktik bertempur dalam kelompok, terlihat kesulitan menahan gempuran yang datang bertubi. Walau menang jumlah, perlahan namun pasti mereka dipukul mundur. Pada akhirnya, murid-murid Kasta Perak dari Perguruan Maha Patih hanya mampu bertahan penuh kesulitan. 

Sekelompok remaja yang datang menyerang terus merangsek dalam gelombang serangan yang tersusun apik. Di kala sebagian menyerang, sebagian lagi memusatkan perhatian dalam bertahan. Oleh karena itu pula, gelombang serangan terkesan tiada pernah menyurut. Tambahan lagi, setiap satu dari mereka dipenuhi dengan semangat membalas dendam yang membara. 

“Jangan hanya bersembunyi di balik tembok gerbang!” Salah seorang penyerang berseru. Dengan dagu panjang yang diangkat tinggi, ia memancing amarah lawan. “Hadapi kami Sembilan Singa Muda dari Persaudaraan Batara Wijaya!” 

Mendapat tantangan langsung, murid-murid Kasta Perak dari Perguruan Maha Patih terbakar amarah. Mereka memaksakan diri untuk merangsek maju dengan mengerahkan segenap kemampuan. Akan tetapi, justru nasib malang yang menanti mereka. 

Jalinan rambut selembut helai sutera dan sekuat kawat baja, gelombang getaran suara penghambat gerak, pukulan keras palu logam nan besar, serta beberapa unsur kesaktian yang melesat dari sebatang tiang kayu, menyambut dengan sigap. Mengincar tanpa ampun, terdapat empat gadis belia yang sebelumnya lepas dari pantauan karena bergerak bebas di balik bayang-bayang serangan bertubi. 

Keempat gadis belia bergerak penuh pengabdian, karena tiada hendak mengecewakan. Dengan gerakan lincah dan serangan terukur, satu persatu mereka membungkam sasaran yang melangkah maju!

Sesepuh Kertawarma menyilangkan lengan di depan dada, dan di saat yang bersamaan sebentuk senyum tipis menghias di sudut bibirnya. Percikan api kecil yang ia sulut 232 episode lalu, kini mulai mengobarkan api. Melalui kejadian ini, persaingan antar perguruan resmi berubah menjadi perseteruan. Permusuhan tersebut akan melebar dengan sendirinya, tiada terbatas pada Perguruan Maha Patih dan Persaudaraan Batara Wijaya, tetapi juga akan melibatkan perguruan-perguruan yang berpihak kepada mereka. Sedikit dorongan saja, maka kekacauan dapat dipicu dengan mudahnya. (1)

Pada akhirnya nanti, perguruan akan terkotak-kotak dalam kubu yang saling mencurigai. Perguruan tak lagi padu dalam menyikapi pertumbuhan dan perkembangan keahlian, bahkan disibukkan dengan permusuhan tiada akhir. Raut wajah Sesepuh Kertawarma berubah cerah tatkala membayangkan rangkaian kejadian yang akan bergolak di masa depan.

Di bawah sana, terlihat semakin banyak murid Kasta Perak dari Perguruan Maha Patih yang berkumpul. Mereka bertukar posisi dengan yang menderita cedera atau yang kehabisan tenaga dalan. Napas baru yang hadir pun mempengaruhi alur pertempuran. Karena unggul dari segi jumlah, mereka dapat mempertahankan posisi, bahkan mulai menapak maju. Tak perlu waktu lama, maka murid-murid Perguruan Maha Patih akan mengusir pergi para penyerang.  

Di saat pergolakan semakin memanas, pandangan mata Sesepuh Kertawarma beralih pada satu sosok yang diam berdiri tak jauh di belakang Sembilan Singa Muda. Bahkan, kini perhatian anggota Kekuatan Ketiga itu sudah sepenuhnya terpusat pada anak remaja yang mengenakan jubah serba gelap itu. Tak pelak lagi, dia berasal dari kubu Persaudaraan Batara Wijaya. Sungguh pelik, mengapakah sampai sejauh ini ia belum terjun dalam pertempuran…?

Terhadap anak remaja itu, Sesepuh Kertawarma tetiba merasakan firasat buruk. 

Sembilan Singa Muda dan keempat gadis belia akhirnya berhasil dipukul mundur. Bagaimanapun piawai mereka membangun serangan dan bahu-membahu dalam bertahan, jumlah tenaga dalam selalu ada batasan. Dengan menipisnya tenaga dalam, maka berkurang pula daya dobrak.

Menyaksikan neraca bertempuran sudah tak lagi imbang, bahkan memberatkan kubu Persaudaraan Batara Wijaya, Kum Kecho melangkah pelan. Tanpa kata-kata, tanpa aba-aba, Sembilan Singa Muda dan empat gadis belia membuka jalan. 

“Saat kalian menyerang rumah kami tanpa alasan… Saat kalian menertawakan kami penuh kepuasan… apakah kalian mengingat kata-kataku…?”

Maha Guru Segoro Bayu menatap tajam. Ia merupakan salah satu utusan perdamaian yang bertolak ke Persaudaraan Batara Wijaya. Pada akhirnya, ia mengingat anak remaja tersebut sebagai murid Persaudaraan Batara Wijaya yang mengusir dirinya pergi. 

“Pernah kusampaikan, bahwasanya hari kedatanganku di Perguruan Maha Patih, adalah hari di mana nama perguruan ini dihapus dari Negeri Dua Samudera!” 

Usai berujar, Kum Kecho mengeluarkan sebentuk lentera usang. Bentuknya persegi panjang, dengan bingkai yang terbuat dari logam berkarat yang digerogoti kelembaban udara. Kaca-kaca pada keempat sisinya lentera pun terlihat kabur dan kusam, serta sumbu kecil di sisi dalam sudah sangat pendek. Dari keadaannya itu, tak pelak bahwa benda tersebut sudah usang adanya, bahkan tak bernilai barang sekeping perunggu pun. Banyak lentera dalam keadaan lebih baik yang dijual bebas.

Namun demikian, seberkas cahaya berwarna putih seukuran satu ruas ujung jemari kelingking menyala terang pada sumbu. Tak ada aura yang mencuat dari lentera, karena selain dapat menyimpan unsur kesaktian api, lentera tua itu juga memiliki kemampuan meredam aura.

“Tuh, kan!” Dari kejauhan Maha Guru Sangara Santang mengenali lentera usang miliknya. “Dia memang mencuri Lentera Asura milikku!” 

“Lentera Asura!?” Adipati Jurus Pamungkas melontar pandang ke arah anak remaja berjubah serba hitam. Raut wajahnya cemas. 

“AWAS!” teriak Sesepuh Kertawarma. Firasat tak nyaman yang ia rasakan sebelumnya, sebentar lagi akan terbukti benar. 

“SRASH”

Gelombang hawa panas menyibak perkasa dan kobaran api putih menyilaukan pandangan mata. Di saat yang bersamaan, formasi segel pertahanan Perguruan Maha Patih, yang memuat simbol-simbol dalam susunan pola nan rumit, merangkai dengan sendirinya. Formasi segel ini bersifat otomatis, yang mana akan aktif dengan sendirinya bilamana perguruan menghadapi bahaya besar. Oleh sebab itu, tak perlu waktu lama bagi formasi segel merangkai dan membangun kubah berwarna khaki muda setengah transparan yang menaungi wilayah ratusan kilometer persegi. Megah dan kokoh tirai pertahanan. 

Sebagian Sesepuh dan maha Guru terkesima menyaksikan keindahan kubah formasi segel milik salah-satu perguruan tertua dan ternama di Negeri Dua Samudera. Tiada pernah terbayangkan bahwa dalam rentang hidup mereka akan menyaksikan pemandangan yang demikian digdaya. Dengan kata lain, tiada pernah mereka membayangkan bahwasanya Perguruan Maha Patih akan menghadapi ancaman nan sangat besar!”

“Jangan bengong!” sergah Sesepuh Kertawarma kepada rekan-rekannya satu perguruan. Ia lantas merentangkan lengan dan menebar mata hati. 

Kum Kecho, di lain pihak, menyadari betul bahwa lembaga sekelas Perguruan Maha Patih akan memiliki formasi segel pertahanan. Namun demikian, ia tetap melepaskan kemampuan dari senjata pusaka. Berbeda dengan kala memberangus Kota Tambang Lolak, api berwarna putih tak menyebar dalam bentuk lingkaran dan menyapu ke segala penjuru. Kali ini, api putih mengamuk lurus ke hadapan dan menghantam formasi segel pertahanan!

Di saat api putih dan formasi segel berbenturan, tercipta getaran yang sangat keras. Para hadirin terperangah, namun dapat menarik napas lega. Sebagian besar dari mereka yakin dan percaya bahwa tak akan ada yang mampu menembus formasi segel pertahanan Perguruan Maha Patih. 

“Selamatkan murid-murid!” sergah Sesepuh Kertawarma lagi. Menggunakan jalinan mata hati, ia menarik paksa dan melontarkan tubuh murid-murid Kasta Perak ke wilayah dalam perguruan. “Formasi segel itu tak akan bertahan lama!”

Di antara para tetua perguruan yang hadir, hanya Maha Guru Segoro Bayu dan beberapa lainnya yang sigap menindaklanjuti perintah Sesepuh Kertawarma. Walaupun memendam kecurigaan terhadap tokoh tersebut, Maha Guru Segoro Bayu menyadari bahwa Sesepuh Kertawarma benar-benar hendak menyelamatkan murid-murid. 

Ratusan tubuh murid-murid Kasta Perak terlihat melayang ibarat air hujan yang turun dengan deras. Mereka diungsikan menggunakan jalinan mata hati para tetua.

“SRAK!”

Sesepuh Kertawarma tiada berujar sesumbar. Formasi segel pertahanan Perguruan Maha Patih terkoyak dan seketika itu juga api berwarna seputih susu mendobrak masuk! Ibarat sebilah tombak raksasa yang menikam mangsa, api memberangus lurus tanpa terkecuali. Logam dan batu meleleh dengan mudahnya seibarat potongan kecil es di tengah gurun. 

Perguruan Maha Patih terbelah dua! Dalam lintasan api, tak ada struktur bangunan yang bersisa, sebongkah arang pun tiada berbekas. Yang kini terlihat, adalah pemandangan parit selebar hampir dua puluh meter dan sepanjang dua kilometer. Pada sisi kiri dan kanan parit, terlihat bangunan-bangunan yang masih terbakar dilahap sisa-sisa api.

Sesepuh Kertawarma mendarat, disusul Maha Guru Segoro Bayu dan para tetua perguruan lain. Sejumlah petinggi perguruan yang awalnya tiada mengacuhkan serangan dan tak beranjak dari kediaman masing-masing turut berkumpul. Terakhir, Maha Guru Sangara Santang dan Adipati Jurus Pamungkas ikut mengamati dampak yang demikian mengerikan. 

Tiada sisa jerit pilu kesaktitan yang terdengar dan tiada pula aroma daging hangus terbakar. Puluhan murid Kasta Perak dari Perguruan Maha Patih yang tak sempat menyelamatkan diri atau diselamatkan, lenyap tiada berbekas! Di lain pihak, para penyerang yang merupakan murid-murid Kasta Perak dari Persaudaraan Batara Wijaya sudah tiada terlihat lagi. Tak pelak, mereka telah melarikan diri. 

Suasana hening dibalut duka, sampai seorang maha guru mengungkapkan ketidakpercayaannya. “Apakah gerangan yang mampu menyebabkan kerusakan sampai sedemikian rupa…?”

“Persaudaraan Batara Wijaya membekali murid-murid mereka dengan senjata pusaka yang sangat berbahaya! Bahkan ahli Kasta Emas dapat binasa akibat serangan tadi!” 

“Tidak bisa dimaafkan! Kendatipun murid-murid kita yang memulai perselisihan, kala itu tak ada korban jiwa di pihak mereka!” 

Keributan antar para tetua Perguruan Maha Patih segera berkecamuk. Mereka tiada sepakat atas tindak lanjut dari serangan dan kerugian yang diderita. Ada yang menyarankan untuk mawas diri, ada pula yang hendak segera menuntut balas. Bukan hanya wilayah perguruan yang terbelah, pandangan mereka pun ikut terbelah-belah. 

Maha Guru Segoro Bayu terlihat sibuk menenangkan para rekan sejawat. Wajahnya yang terkenal garang, sungguh tak cocok mengemban peran tersebut.

“Sedemikian digdayanyakah Lentera Asura…?” bisik Maha Guru Sangara Santang kepada Adipati Jurus Pamungkas. Ia kini sudah seratus persen yakin bahwa lentera tersebut bukanlah benda pusaka untuk menelusuri ingatan masa lampau. 

“Lentera Asura merupakan wadah penampungan unsur kesaktian api,” tanggap Adipati Jurus Pamungkas pelan. “Yang patut dipertanyakan, adalah dari mana dan bagaimana Persaudaraan Batara Wijaya memperoleh api putih yang mengisi lentera tersebut…”

Sesepuh Kertawarma memisahkan diri dari kerumunan, dan membatin kala mencermati parit besar yang tercipta. Ia merasa sedikit lega, karena Perguruan Maha Patih tak sepenuhnya luluh lantak. Rencana mengadu domba perguruan tiada akan berjalan lancar bilamana salah satu pihak sepenuhnya binasa. Ia kemudian melontar pandang jauh ke arah timur, ke arah di mana Persaudaraan Batara Wijaya berada. Dalam benak, ia sedang menyusun rencana tentang bagaimana caranya mendapatkan senjata pusaka yang demikian digdaya bagi kelompok Kekuatan Ketiga! 



Catatan:

(1) Episode 139 

(2) Episode 163