Episode 84 - Dokter Rama



Pada hakikatnya semua orang diciptakan sebagai orang baik. Tidak ada satu orang pun yang terlahir sebagai orang jahat. Namun, ada banyak kondisi yang akan membuat hati setiap orang berubah. 

Iri, dengki, marah, sombong, banyak lagi hal yang akan membuat manusia, tak lagi manusia.

**

Pria tampan itu bernama Rama, sejak kecil dia adalah apa yang orang sering panggil sebagai jenius. Di kelas dia selalu mendapat rangking teratas, semua kompetisi yang dia ikuti akan menghasilkan barisan baru di lemari piala.

Setelah lulus SMA, Rama melanjutkan studinya ke sebuah universitas ternama. Kemudian, setelah belajar selama beberapa tahun, akhirnya dia berhasil mendapatkan gelar dokter yang selama ini dia perjuangkan.

Lalu, dimulai pula petualangannya. Pada awal karirnya, Rama menjadi asisten kedua dari seorang dokter ternama, selanjutnya karena bakat dan otaknya yang memang jenius, Rama berhasil menjadi asisten pertama dari dokter tersebut, menggeser posisi asisten pertama sebelumnya.

Operasi demi operasi Rama jalani sebagai asisten pertama, lambat laun dia berhasil menyerap ilmu dari kepala dokter. Sekarang, apa yang paling Rama perlukan hanyalah pengalaman untuk menjadi kepala dokter dan menggunakan semua teori ke dalam praktik yang sesungguhnya.

Pada suatu malam, ketika Rama mendapatkan shift malam, datang sebuah mobil ambulan ke rumah sakit. Setelah itu, perawat membawa pasien yang melewati lorong rumah sakit yang telah sepi. 

“Dimana Kepala Dokter?”

“Dia sedang tidak di rumah sakit.”

“Apa? Cepat panggil, pasien sedang dalam kondisi kritis.”

“Oke.”

Para perawat berbicara dengan terburu-buru, setelah itu salah satu di antara mereka segera menelpon Kepala Dokter.

“Bagaimana?”

“Tidak diangkat.”

“Terus telepon, operasi harus segera dilakukan.”

Dengan langkah cepat Rama mendekati para perawat.

“Bagaimana kondisi pasien?”

Apa yang Rama tanyakan pertama kali adalah tentang bagaimana kondisi pasien. Dia tahu, Kepala Dokter sedang tidak berada di rumah sakit. Jadi, jika kondisinya masih memungkinkan, dia bersedia untuk menggantikan Kepala Dokter.

“Pasien korban begal, dia di tusuk tiga kali di perutnya, kondisinya kritis.”

Perawat langsung memberikan informasi kepada Rama.

“Cepat bawa ke ruang operasi.”

“Tapi ... Kepala Dokter belum datang.”

“Pasien harus segera diselamatkan, jadi tidak boleh buang-buang waktu lagi.”

“Tapi...”

“Jika ada sesuatu, aku akan bertanggung jawab penuh.”

“Ba-baiklah.”

Pada akhirnya pasien dibawa masuk ke ruang operasi. Rama segera mencuci tangan, lalu menggunakan semua perlengkapan operasi. Segera, dia mencoba menyelamatkan pasien. Namun, pasien tetap tidak terselamatkan, Rama tidak berhasil menyelamatkannya karena dia telah kehabisan darah terlalu banyak ketika di perjalanan.

Setelah itu, semuanya berjalan buruk bagi Rama. Dia di tuntut oleh keluarga korban karena melakukan operasi pada pasien meskipun sebenarnya dia hanyalah dokter magang dan masih belum mendapatkan lisensinya.

Tidak bisa menyangkal, Rama akhirnya patuh masuk ke mobil polisi dan mendekam di jeruji besi. Padahal, dia hanya ingin menyelamatkan pasien, akan tetapi karena kebaikannya itu dia di dorong ke dalam jurang.

Setelah keluar penjara, Rama berubah. Dia yang telah ditikam karena berbuat baik, terlalu enggan untuk mengulurkan tangan dan membantu orang lain.

Di saat itu, Rama bertemu dengan seseorang dan diajak untuk bergabung dalam gengnya, karena orang yang mengajaknya adalah teman lamanya, dan dia sangat mengetahui tentang Rama. Tentu saja Rama tidak menolak, dia dengan santai melangkah masuk ke dalam pintu yang telah dibuka untuknya.

Cerita pun dimulai, setelah situasi di dunia bawah semakin kacau karena hilangnya tiga kekuatan utama, geng-geng kecil dengan cekatan memperebutkan wilayah dan sektor bisnis, lalu tiba-tiba di suatu hari diprakasai oleh seorang pemimpin geng, terbentuklah aliansi dari 10 geng, yang mereka sebut sebagai 10 aturan.

Dengan kekuatan gabungan dari 10 geng, 10 aturan merebut daerah kekuasaan dari geng lainnya, akan tetapi untuk sektor bisnis masih sulit untuk mereka ambil alih, karena mereka adalah pemain baru di dunia bawah tanah.

Ketika Rama mendengar itu, dengan mudahnya dia memberikan ide untuk menculik para pengemis dan gelandangan, lalu curi ginjal mereka dan buang korban ke depan rumah sakit. 

Ide Rama diterima, kemudian dengan keahlian bedahnya, Rama mengambil satu demi satu ginjal dari pengemis dan gelandangan yang telah diculik untuknya. Wajah tampan Rama sama seperti biasa, tapi matanya kosong, tanpa sedikit pun rasa kasihan. Hatinya, sudah tak seperti hati manusia.

Hasil dari menjual ginjal sangat menggiurkan, setiap hari mereka semua berpesta dan bersenang-senang. Mata mereka digelapkan oleh uang, sebanyak apapun uang yang mereka miliki, mereka masih merasa itu tidak cukup. 

Kemudian datanglah ide dari salah satu anggota 10 aturan, dia berpikir lebih baik mengambil semua organ yang dapat dijual, bukan hanya ginjal. Meskipun sempat ada perbedatan di antara mereka, akan tetapi ketika ‘uang’ disebutkan, tidak ada yang bersuara, tanda persetujuan.

Mereka membicarakan ide ini kepada Rama, karena dia lah yang bertanggung jawab untuk melakukan operasi tersebut, mereka telah memikirkan banyak siasat untuk membuat Rama mau melakukannya, tapi ternyata Rama langsung menyetujuinya dengan langsung.

Sejak saat itu, tidak ada organ dari tubuh korban yang sia-sia, mereka bersih, dan sisa bagian kotor yang tidak dapat dijual mereka buang ke sungai. Mengalir di sepanjang sungai dan kemudian menghadirkan kehebohan di kota.

Rama tidak merasa bersalah, dia sudah merasa ‘kotor’ sejak dia membunuh pasien di rumah sakit, jadi dia tidak keberatan untuk menambah sedikit noda di tubuhnya, itu tidak ada bedanya baginya. Matanya tanpa jiwa, hatinya bukan lagi manusia.

**

Ferdian mengerutkan dahinya dalam-dalam setelah melihat laporan terbaru, kasus penculikan pengemis dan gelandangan sebelumnya hanya untuk mengambil satu ginjal mereka, tapi sekarang bahkan semua organ yang dapat dijual bersih dari tubuh korban.

BAM!

Ferdian memukul meja dengan keras. Nafasnya terengah-engah, matanya merah, urat-urat didahinya menonjol, dia sangat marah.

Baru kali ini Ferdian menemuka kasus paling biadab, dia tidak menyangka moral manusia telah jatuh sedemikian rupa. Bahkan dia merasa jijik untuk berpikir bahwa mereka juga adalah manusia, sifat mereka yang bengis dan tanpa ampun bukan lagi seperti manusia, mereka adalah iblis.

Namun, Ferdian tidak punya cara untuk menangkap mereka, semua rekaman CCTV di jalanan terhapus, dia curiga bahwa ada orang penting yang ikut terlibat dan memudahkan aksi kriminal tak manusiawi ini berlangsung. Berpikir sampai di sini membuat Ferdian semakin marah.

BAM!

Sekali lagi, Ferdian memukul meja kerjanya. Kertas-kertas dan dokumen jatuh dari atas meja, tangannya memerah, tapi dia tidak peduli hal sepele seperti itu. 

Tiba-tiba seorang petugas polisi datang dan memasuki ruangan Ferdian.

“Ada apa?” 

“Um ... begini.”

“Katakan dengan cepat.”

“Pemimpin ... atasan mendesak kita mendistribusikan pasukan untuk menjaga rumah para pejabat.”

“Jawab saja, kita tidak punya waktu dengan urusan sepele seperti itu!”

“Tapi, si bayangan.”

“Biarkan saja dia beraksi, malah bagus dia membuat bangkrut orang-orang tidak masuk akal seperti itu.”

“Tapi...”

“Tidak ada tapi-tapian, kita harus fokus pada kasus pencurian organ ini.”

“Baiklah.”

“Benar, bagaimana? Apakah ada informasi terbaru?”

Sebelumnya Ferdia telah menyiagakan beberapa personil polisi untuk berjaga di sekitar rumah sakit 24 jam. Hal ini dia lakukan untuk mendapatkan petunjuk untuk menangkap orang-orang tersebut.

“Tidak ... ada.”

BAM!

Lagi, Ferdian memukul meja kerjanya dengan marah. Petugas polisi itu terkejut dan hampir kencing di celana. 

“Baiklah, kau boleh pergi.”

“Baik, Pemimpin.”

Petugas polisi itu membuka pintu dengan hati-hati lalu keluar seperti orang yang mengendap-endap, takut bahkan mengeluarkan sedikit pun suara. 

Lagi, Ferdian merengut, menarik dalam-dalam dahinya, lalu mengembuskan napasnya dengan berat. Situasi yang sedang dia alami sangat berat, banyak kasus rumit datang secara bersamaan tanpa permisi, desakan dari atasan yang membuat dia tidak bisa secara bebas menyelesaikan kasus yang datang, juga tidak adanya yang membantunya.

Kemarin, Ferdian telah bertemu dengan geng pemburu iblis untuk meminta bantuannya mengatasi kasus-kasus yang ada, berharap mereka akan mengulurkan tangan dan membantunya, tapi tolakan mentah-mentah yang dia dapatkan. 

Kemudian, datang lagi masalah lain, kali ini masalah datang dari keluarganya, Istrinya marah-marah karena Ferdian tidak pulang ke rumah dan dia curiga bahwa Ferdian telah selingkuh. Akhirnya pertengkaran tercipta, Ferdian mati-matian menjelaskan kepada Istrinya bahwa dia sedang menangani kasus dan tidak punya waktu untuk pulang ke rumah. Tapi Istrinya tetap tidak percaya. Bosan untuk menjelaskan dan sangat pusing karena terlalu banyak masalah yang sedang dia miliki, Ferdian memilih untuk pergi dan hingga hari ini dia belum pulang ke rumah.

Namun, meskipun dengan semua masalah yang ada, Ferdian tetap tidak menyerah. Untuk saat ini, apa yang ada dipikirannya hanya bagaimana cara untuk menyelesaikan kasus-kasusnya saat ini. Lalu terbesit pemikiran, bagaimana jika meminta bantuan dari asosiasi bela diri.

Dengan pemikiran itu, Ferdian kelaur dari kantornya dan pergi dengan langkah tegas.

**

Di ruang operasi seadanya, Rama masuk ke dalam. Di sana berbaring seorang pria dengan tampilan yang sangat menyedihkan, pakaiannya kumuh, tubuhnya babak belur. Tapi, Rama tidak peduli, dengan kasar dia menyobek bajunya.

Wajah tampannya sedingin kutub utara, tanpa terbesit rasa bersalah dan kasihan. Sudah banyak nyawa melayang karena tangannya, dia sudah mati rasa.

Namun, di sudut hatinya ada setitik penyeselan. Andaikan saja dia tak sombong saat itu, pasti semuanya tidak akan berubah seperti ini. Rama telah kenyang oleh pujian sejak kecil, tapi hatinya terus berteriak kelaparan, ingin lebih dan lebih pujian lagi untuk memuaskan egonya yang selangit.

Akan tetapi semuanya telah terjadi, Rama tidak bisa memutar waktu yang telah berlalu. Namun, apabila ada obat untuk menyembuhkan penyeselan, Rama pasti akan mengantri paling awal, sayangnya tidak ada obat semacam itu.

Tangan Rama telah ternoda, semakin lama semakin banyak noda yang menempel. Pernah, suatu hari ketika dia sedang mencuci tangannya, dia merasa risih karena dia merasa tangannya masih kotor, meskipun sebenarnya semua noda darah telah hilang.

“Sepertinya ini yang namanya karma.” Gumam Rama pelan.