Episode 83 - Hari Ketiga Turnamen Berakhir



Pada pertandingan terakhir di hari ke 4, itu adalah giliran Dan atau yang sekarang sedang menyamar menjadi Dina. Mewakili Iblis Merah, Dina melawan seorang pria dengan kumis lebat dan kepala botak.

“Pelatih Pan, bagaimana pertandingan ini akan berlangsung?” 

Di studio, Irwan bertanya kepada Pan Tong yang masih menjadi rekannya untuk mengomentari setiap jalannya pertandingan di turnamen.

“Seperti pertandingan yang sudah-sudah, sulit bagi wanita untuk menang melawan seorang pria, apalagi di pertandingan ini terlihat jelas perbedaan fisik yang sangat tidak menguntungkan Dina, tapi bagaimana pun tidak ada yang bisa memprediksi jalannya pertarungan, jadi ini akan sangat menarik untuk disaksikan.”

Meskipun Pan Tong tidak terlalu percaya diri Dina bisa mengalahkan pria berkumis lebat dan berkepala botak itu, akan tetapi dia tidak akan mengatakannya secara langsung, dia justru mengingatkan penonton tentang pertandingan sebelum-sebelumnya dimana seorang wanita melawan pria, meskipun tidak 100% pria memenangkan setiap pertarungan, tapi tetap saja sebagian besar wanita yang kalah.

Namun, agar penonton tetap menikmati pertandingan, dia tetap akan objektif dan langkah ini juga bisa membuat penontong yang berharap Dina untuk menang akan tetap mempertahankan harapannya, meskipun mereka tahu ada kemungkinan kekecewaan yang menunggu di depan sana.

“Benar sekali, dari data yang aku miliki, sangat jarang bagi wanita untuk bisa mengalahkan seorang pria, jadi ini akan sangat menarik, apakah ini akan sama seperti pertarungan yang lainnya atau kita akan menyaksikan kejutan yang menarik.” Tukas Irwan.

Ada beberapa hal yang tidak tepat dari apa yang mereka berdua bicarakan, yang pertama adalah Dan yang sekarang menyamar sebagai Dina sebenarnya bukan wanita, lalu kesalahan yang lainnya adalah tidak diragukan lagi bahwa Dina lebih kuat dari pria berkumis tebal dan berkepala botak tersebut.

Jadi, ‘kejutan menarik’ yang Irwan katakan sebenarnya bukanlah sebuah kejutan, karena kemenangan Dina atas musuhnya kali ini adalah pasti. 

“Sepertinya banyak penonton juga setuju dengan pendapat kita.” Ucap Irwan.

Memang benar, di tempat kejadian, hampir semua penonton berkata ‘jangan terlalu berlebihan’ atau ‘tidak perlu bertarung dengan serius’. Tentu saja, mereka semua mengatakan kalimat itu untuk pria berkumis tebal dan berkepala botak, mereka semua menganggap bahwa kemenangan sudah pasti dalam kantung baju dia.

Kecuali beberapa orang, tidak ada yang berpikir Dina bisa menang melawan pria berkumis tebal dan berkepala botak itu, selain karena dia adalah wanita, itu juga karena dia berasal dari Iblis Merah yang selama beberapa tahun ini tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan.

Selain itu, kebanyakan orang kini hanya menganggap Iblis Merah sebagai ‘vas bunga’ yang akan selalu hadir, tapi hanya untuk mempercantik suanana. Seperti yang biasanya terjadi, Iblis Merah akan menurunkan wanita cantik seperti Angel. Namun, tidak ada yang terlalu mengesankan, mereka hanya cantik, itu saja.

Di dunia bela diri, menjadi cantik bukanlah sebuah kesalahan, tapi nilai dari memiliki penampilan cantik bukan tolak ukur dalam sebuah kemampuan. Meskipun wanita cantik akan selalu diterima dimana saja, tapi tidak banyak orang yang berharap terlalu banyak pada mereka, apalagi di dunia bela diri. 

Mereka beranggapan, wanita cantik itu pasti menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempercantik dan mempertahankan kecantikan dengan perawatan, jadi tidak banyak waktu yang mereka habiskan untuk berlatih bela diri. Meskipun anggapan ini tanpa dasar, mereka semua setuju.

Lagipula, sangat sulit untuk menyeimbangkan porsi untuk merawat diri dan berlatih.

Di sisi lain, tidak banyak wanita yang menggeluti dunia bela diri bisa menampilkan prestasi yang memukau orang banyak. Selain kasus-kasus tertentu, para tokoh utama dalam dunia bela diri adalah seorang pria. Jadi, penilaian tentang wanita dalam benak setiap orang akan sama, yaitu sebagai pelengkap dan hiasan dalam sebuah turnamen.

Ditambah lagi, di banyak kasus, alasan utama wanita masuk dalam dunia bela diri adalah untuk mendapatkan tubuh yang bagus dari latihan dan mengikuti apa yang sedang menarik saat ini. Tidak banyak yang berambisi untuk memenangkan sebuah prestasi dan menggulingkan stigma ini.

Kasus tertentu seperti Angel yang tertarik untuk menghancurkan stigma ini memang ada, akan tetapi lagi-lagi kemampuan mereka untuk berbicara dan menggulingkan stigma ini tidak ada. Seperti dalam pertandingan kemarin, Angel memang bisa menang, tapi tidak mudah. Bahkan bisa dibilang itu hanya beruntung, karena lawannya yang sangat ceroboh.

Namun, meskipun begitu, tidak akan ada habisnya wanita yang akan masuk dunia bela diri. Walaupun mereka mungkin tidak akan bisa mendapatkan banyak prestasi, tapi banyak manfaat lainnya yang bisa mereka dapatkan. 

Selain menjaga tubuh mereka tetap ideal dan mengikuti tren saat ini, masih banyak hal yang mereka dapatkan, salah satunya mungkin mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan sebagai model majalah atau menembak iklan. Di kasus tertentu, jika dia cantik sekaligus memiliki basis penggemar yang cukup banyak, akan ada beberapa produser yang akan menawarinya untuk masuk dalam film mereka.

Bahkan sempat ada gagasan untuk mengumpulkan 48 wanita cantik yang dari dunia bela diri dan mencipatakan grup idol. Namun, sampai sekarang gagasan itu masih belum terealisasi dan sudah mulai dilupakan banyak orang.

Seperti untuk Angel, dengan tubuhnya yang molek dan parasnya yang indah, tentu saja ada banyak tawaran yang datang untuknya, beberapa di antaranya adalah tawaran untuk model majalah dan ada juga studio rekaman yang ingin dia untuk menjadi penyanyi. Meskipun mereka tidak tahu kualitas bernyanyi Angel baik atau tidak, selama dia cantik, dia pasti akan mendapat banyak penggemar.

Namun, Angel menolak semua tawaran tersebut dan fokus untuk berlatih. Selain itu, dia juga tidak tertaarik dalam dunia hiburan, meskipun dia memang suka bernyanyi. Bahkan, sesekali dia akan menyempatkan diri untuk pergi karaoke bersama teman-temannya untuk menyegarkan diri.

Kini, di arena, Dina dan pria berkumis tebal dan berkepala botak sudah berdiri saling berhadapan. Dina acuh tak acuh melihat musuhnya, di sisi lain pria berkumis tebal dan berkepala botak itu cukup senang dengan musuhnya hari ini, karena menurutnya tidak akan sulit untuk mengalahkannya.

Setelah wasit mengumumkan bahwa pertarungan dimulai, segera pria berkumis tebal dan berkepala botak itu datang menerjang Dina. Dengan tinju yang terkepal dia segera menghujani Dina dengan serangan. 

Dengan kedua tangannya, Dina mampu menepis serangan-serangan tersebut, dia tidak terburu-buru untuk segera mengakhiri pertandingan. Untuk beberapa waktu, dia ingin menguji sesuatu. Saat ini Dina memusatkan fokusnya untuk melapisi tubuhnya dengan energi miliknya, berusaha sebisa mungkin membiasakan diri.

Di mata penonton, pertarungan itu terlihat berat sebelah, pria berkumis tebal dan berkepala botak terus-terusan menyerang dan Dina hanya mampu bertahan tanpa bisa menyerang sekalipun. Situasi ini membuat banyak penonton tidak senang, terutama mereka yang sangat ‘hardcore’ pada dada rata.

Memang, setiap orang memiliki kesukaan mereka masing-masing, ada mereka yang menyukai dada besar, semakin besar semakin meraka bersemangat. Ada juga dari mereka yang menyukai dada sedang. Juga, ada dari mereka yang menyukai dada rata, faksi ini adalah musuh terbesar pecinta dada besar karena ideologi mereka yang bertabrakan.

Namun, ada satu kesalahan, Dina adalah Dan yang sedang menyamar, jadi bukan dia berdada rata, tapi karena dia memang tidak punya. Akan tetapi, karena riasan yang Angel berikan kepada Dan, dia sekarang terllihat seperti seorang wanita meskipun berdada rata. Selain itu, Dan tidak memiliki tubuh yang berotot dan kulitnya terkesan halus seperti wanita, karena itu wajar saja banyak orang yang tertipu.

Kembali ke pertarungan, meskipun para penonton berpikir bahwa pria berkumis tebal dan berkepala botak itu sedang unggul, tapi dia yang bertarung sangat jelas tentang kondisinya sendiri. Meskipun dia berhasil menyernag terus-terusan, tapi semua serangan itu seperti tidak berguna, selain itu ketika pukulannya mendarat, dia merasakan perasaan panas pada kulitnya.

Apa yang pria berkumis tebal dan berkepala botak itu bingungkan adalah meskipun tubuh Dina terlihat lunak, tapi tinjunya tidak bisa berbohong, itu sangat keras. Sama seperti sedang meninju tembok. 

Pertanding telah berlangsung 5 menit, selama itu pria berkumis tebal dan berkepala botak selalu yang menjadi pembuat inisiatif untuk menyerang, di sisi lain Dina selalu yang menangkis serangan. Membuat para penonton menjadi kesal, mereka berpikir bahwa pria berkumis tebal dan berkepala botak itu sengaja mempermainkan Dina dan tidak bertarung dengan serius. Karena itu mereka terus berteriak dan bahkan ada beberapa yang memerahinya.

Pria berkumis tebal dan berkepala botak itu tidak tahu harus menangis atau tertawa. Dia serius, bahkan sangat serius, tapi musuhnya sangat abnormal. Hampir semua seranganya bisa ditangkis, bahkan ketika ada tinjunya yang berhasil mengenai wajah Dina, yang terakhir sama sekali tidak berekpresi, meringis atau berteriak kesakitan pun tak ada, seperti pukulannya tidak ada efeknya.

Setelah merasa cukup, Dina tidak mau membuang waktu lagi, dia mengepalkan tinjunya, mengumpulkan energinya dan kemudian menghempaskannya menuju dada musuhnya. Pria berkumis tebal dan berkepala botak itu tidak siap, pukulan itu mendarat di dadanya. Seketika dia merasa seperti sedang dihujam dengan benda tumpul dengan sangat keras, menambah deritanya adalah dia merasakan panas terik di tempat di mana tinju itu mendarat.

Karena tinju itu, pria berkumis tebal dan berkepala botak itu mundur satu langkah ke belakang, lalu dia terjatuh di atas lututnya sambil tangannya memegang dadanya. Bibirnya meringis sambil menggertakan gigi, berupaya sebisa mungkin menahan teriakan. Harga dirinya tidak membiarkan dirinya berteriak karena satu serangan dari seorang wanita.

Tapi, dia salah, karena Dina adalah Dan. Jadi, tidak perlu untuk memikirkan hal sepele seperti itu.

Wasit melihat kondisi pria berkumis tebal dan berkepala botak tidak mungkin lagi untuk melanjutkan pertarungan. Karena itu, dia mengumumkan bahwa pertarunangan selesai, dengan pemenangnya adalah Dina alias Dan.

Dengan kemenangan ini, berakhir juga turnamen bela diri pada hari ke-4, yang artinya putaran pertama sepenuhnya berakhir.

Kemudian staf medis maju dan membawa pria berkumis tebal dan berkepala botak ke ruang perawatan, setelah membuka bajunya untuk melihat luka, banyak staf medis yang terkejut dengan luka bakar yang terlihat serius dan tangan pria tersebut yang terlihat melepuh.