Episode 366 - Penampakan



Dengan penuh percaya diri, Maha Guru Sugema menebar jalinan mata hati kepada lencana batu miliknya. Akan tetapi, sampai dengan beberapa tarikan napas kemudian, lencana tersebut tiada bereaksi. Raut wajah sang maha guru sontak berubah cemas, yang mana mengisyaratkan bahwa apa yang hendak ia lakukan tiada membuahkan hasil. 

Menyaksikan rekan mereka kebingungan, dua ahli Kasta Emas yang masih berlindung di balik tudung dan jubah cokelat, mengeluarkan lencana batu serupa. Mereka pun menebar mata hati, melakukan upaya yang sama selayaknya Maha Guru Sugema. Akan tetapi, sebagaimana halnya rekan mereka, tiada pula tindakan mereka berujung pada hasil yang dikehendaki. 

“Percuma saja…,” ujar Tumenggung Jayakusuma. Ia lantas menoleh kepada Maha Guru Primagama, yang membalas dengan anggukan disertai sebentuk senyum. “Kalian tak akan dapat mencari bantuan.”

Dalam kecemasan hati, Maha Guru Sugema sontak menebar mata hati ibarat radar ke semerata penjuru. Sebagai ahli Kasta Emas, betapa terkejutnya ia tatkala merasakan keberadaan barisan prajurit di luar batas hutan. Mereka berdiri berjajar dan terpisah jarak sekira sepuluh langkah antara satu sama lain. Ribuan jumlah prajurit, mengelilingi seantero wilayah hutan. Selang setiap lima puluh prajurit, terlihat ada yang menenteng cangkang-cangkang siput. 

“Kalian!” Maha Guru Sugema melotot lurus ke hadapan. “Kalian memasang cangkang penghalang sinyal!” Pantas saja lencana batu milik mereka tiada dapat mengirimkan pesan, dan oleh karena tak dapat menghubungi rekan yang lain, maka tiada bantuan yang akan datang. 

Wow! Bintang Tenggara masih mencermati peristiwa yang berkutat di hadapannya, dan tiada dapat menahan diri untuk tak terkesima pada siasat bertingkat Maha Guru Primagama dan Tumenggung Jayakusuma. Menghalangi sinyal merupakan peran sesungguhnya dari segenap prajurit yang dibawa serta. Akan tetapi, apakah sesungguhnya tujuan kedua tokoh tersebut…? Apa pula kejahatan Maha Guru Sugema sampai-sampai perlu dijebak dengan demikian terencana dan terukur…? 

“Serahkan jasad beliau...” Maha Guru Primagama kembali menuntut. 

“Sudah kukatakan bahwa aku tak tahu apa yang engkau maksud….” Jawaban yang sama masih diutarakan oleh Maha Guru Sugema. “Janganlah membuat-buat alasan hanya karena persaingan di antara kita semakin ketat, sehingga engkau hendak menyingkirkan aku.” 

Maha Guru Primagama menggeretakkan gigi. Kejadian yang berlangsung di dalam hutan ini memang tiada dapat melibatkan para sesepuh dan maha guru lain di dalam Perguruan Budi Daya. Sesuai apa yang disampaikan oleh Maha Guru Sugema, khalayak perguruan hanya akan menilai tindakan ini sebagai dampak dari persaingan semata. Bukan kali pertama persaingan di antara para ahli memakan korban. Maha Guru Primagama sepenuhnya menyadari hal ini, oleh karena itu memanfaatkan bantuan dari luar perguruan. 

“Mungkin sudah saatnya kita sedikit memaksa…,” ucap Tumenggung Jayakusuma sembari bersiap. 

Tunggu! batin Bintang Tenggara. Sebelum bertindak lebih lanjut, bukankah Maha Guru Sugema memiliki keunggulan dibandingkan Maha Guru Primagama dan Tumenggung Jayakusuma…?

“Sedikit memaksa…?” cibir Maha Guru Sugema. “Kami terdiri dari tiga ahli Kasta Emas, sedangkan kalian hanya dua setengah… setengah jikalau kita menghitung bocah itu tentu saja.”

“Selain itu, kami memiliki tawanan.” Di saat yang sama, salah satu rekan Maha Guru Sugema bertindak. Memanfaatkan jalinan mata hati, dia mengangkat tubuh seorang gadis belia yang sedang tak sadarkan diri.

“Bukankah beliau ini merupakan Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan, wahai Tumenggung Jayakusuma…?” ejek rekan Maha Guru Sugema yang satunya lagi. “Jikalau tak hendak kecelakaan menimpa gadis ini, maka sebaiknya kalian segera menyingkir dari hadapan kami!” 

“Kusarankan untuk tak bertindak gegabah terhadap beliau…” Tumenggung Jayakusuma mengambil selangkah maju.

“Apa yang dapat kalian lakukan…? Heh, semudah membalik telapak tangan, gadis ini akan tercincang menjadi bahan dasar ramuan!”

“Oh… Bukan kami,” sela Maha Guru Sugema. “Tetapi, beliau…”

“Duak!” 

Kendati sedang tak sadarkan diri, suatu kekuatan tak kasat mata menghentak keluar dari tubuh Citra Pitaloka. Lalu, sebuah formasi segel perlindungan bernuansa biru muda serta merta melingkupi si gadis belia. Ibarat sebuah bola nan berwarna biru, formasi segel tersebut juga memutus paksa jalinan mata hati yang mengancam jiwa! 

Tubuh Citra Pitaloka masih melayang ringan. Belum sempat Maha Guru Sugema berbuat sesuatu apa, dari kantung celana gadis belia tersebut jatuh ke tanah sebentuk lencana. Corak senjata pusaka kujang pada permukaan lencana bersinar redup, kemudian terlihat sebuah lorong dimensi ruang membuka di atasnya. Sungguh kejadian ini berlangsung sangat cepat, hanya dalam beberapa kedip mata sahaja. 

Di sisi lain lorong dimensi, sesosok bayangan terlihat melangkah. Dengan balutan perban di sekujur tubuh dan janggut tipis di bawah dagu, aura tenaga dalam yang dipancarkan mencerminkan kepahlawanan, kebangsawanan, serta kearifan. Aura yang bercampur aduk ini, sungguh membuat kepala pening. 

Bintang Tenggara menganga karena tiada pernah akan dapat menduga. Rangkaian kejadian yang sedang berkutat saat ini bukan lagi sebuah siasat bertingkat, namun merupakan siasat yang bertingkat-tingkat. Di saat yang sama, ia mengenal betul tokoh yang baru datang, dan tak heran bila adalah dia sang dalang yang sesungguhnya. Dia yang memainkan lakon adu domba Balaputera Prameswara dan Martakusuma, wabah Cacar Lahar, pengumuman imbalan besar di Balai Bakti, pengerahan bala prajurit bersama Tumenggung Jayakusuma, sampai kedatangan Citra Pitaloka. Dia! 

Dia adalah yang Bintang Tenggara kenal sebagai si rubah! 

Menyaksikan ketibaan Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, sontak ketiga ahli Kasta Emas melompat mundur. Bila sejak awal mereka masih tenang-tenang saja, kini gerak tubuh ketiganya mencerminkan kecemasan yang teramat sangat. 

“Tiada kukira bahwa dikau begitu polos, wahai Maha Guru Sugema.” Sangara Santang menarik tubuh Citra Pitaloka dan mengumpulkanya bersama Lampir Marapi dan Embun Kahyangan. Lorong dimensi ruang yang tercipta berkat Lencana Kemaharajaan Pasundan telah menutup, karena hanya bersifat sementara dalam keadaan darurat. 

“Bagaimana mungkin dikau beranggapan bahwa Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan tiada memiliki perlindungan yang melekat pada dirinya…?” Sembari berujar, lelaki dewasa muda itu terlihat merapal sesuatu, dan formasi segel perlindungan yang melingkupi tubuh Citra Pitaloka meluas. Dua gadis belia lain pun ikut masuk ke dalam perlindungan. Kemudian, ia kirimkan tubuh ketiganya melayang menjauh agar berada di tempat yang lebih aman. Rangkaian tindakan ini berlangsung lambat, sehingga menjadi pusat perhatian segenap ahli. 

Mendengar ocehan Sangara Santang, Bintang Tenggara hanya dapat mengelus dada. Putri Mahkota di Kemaharajaan Pasundan memiliki semacam pusaka dalam wujud formasi segel yang senantiasa melindungi, sedangkan Putra Mahkota di Kemaharajaan Cahaya Gemilang justru menderita karena kemampauan merapal segelnya malah sengaja disegel. Betapa dunia keahlian dipenuhi dengan ketidakadilan bertingkat. Sedih rasanya hati ini. 

“Sudah lama kami mengawasi gerak-gerik kalian yang memburu manusia dan mengubah mereka menjadi semacam ramuan,” lanjut Maha Guru Sangara Santang. “Apakah kalian mengira dapat terus-menerus bertindak sesuka hati…? Apakah kalian beranggapan bahwa kami tak memiliki bukti-bukti bahwa kalian juga menyimpan jasad dari mendiang guru Maha Guru Primagama. Tidak. Tak ada tempat bagi angan-angan kosong Kekuatan Ketiga di dalam wilayah Kemaharajaan Pasundan!” 

Di saat Sangara Santang mengoceh, Maha Guru Sugema yang telah kehilangan keunggulan dari segi jumlah serta kepemilikan tawanan, sontak bertindak! Mengibaskan lengan dan menebar mata hati, sebuah lesung batu mengemuka bersama lima botol ramuan yang melayang berjejer tepat di hadapannya. Dalam satu kedipan mata, ramuan berwarna warni dari setiap satu botol bercampur-baur menjadi satu di dalam lesung batu. 

Di saat yang bersamaan, kedua rekannya pun tak tinggal diam. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebatang bambu berukuran setengah lengan orang dewasa dan menancapkannya ke permukaan tanah. Atas tindakan tersebut, menyeruak tumbuh dari permukaan tanah batang-batang bambu nan besar dan kokoh yang segera membentengi mereka. Bukan batang-batang bambu biasa, kemungkinan besar merupakan sejenis tumbuhan siluman langka. 

Rekan Maha Guru Sugema yang lain membuka tutup botol ramuan. Asap berwarna abu-abu yang mengepul tebal dan berarak melingkari wilayah di luar pagar bambu. Asap ini nyatanya menghasilkan dampak yang mirip dengan jurus Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo milik Embun Kahyangan. Dengan kata lain, kepulan asap menghambat pandangan mata dan mengacaukan pantauan mata hati!

Siapakah itu Kekuatan Ketiga? batin Bintang Tenggara bertanya-tanya. Di saat yang sama, ia melangkah ringan ke arah sebatang pohon, kemudian duduk bersandar. Lelah rasanya berdiri menonton, malas pula ia menyaksikan gelagat Sangara Santang. Di saat Maha Guru Sugema dan rekan-rekannya tadi terkejut, seharusnya segera dibungkam. Eh, si rubah malah membuang-buang waktu mengoceh tiada menentu. Sekarang, dipastikan bahwa Maha Guru Sugema sedang meramu sesuatu dan kedua rekannya bertugas mengulur waktu.

Inilah kelemahan dari Sangara Santang, simpul Bintang Tenggara. Tokoh tersebut memang unggul dan cermat dalam menyusun siasat. Akan tetapi, saat siasat itu dijalankan, si rubah terlalu percaya diri sampai-sampai bersikap pongah. Padahal, di dalam dunia persilatan dan keahlian terdapat sangat banyak faktor yang tak terduga, dan nantinya berpengaruh besar pada hasil akhir sebuah rencana. 

Serempak, Maha Guru Sangara Santang, Maha Guru Primagama dan Tumenggung Jayakusuma merangsek maju. Akan tetapi, karena asap tebal dan batang tumbuhan siluman bambu nan keras sekaligus lentur, ketiga ahli Kasta Emas tersebut kesulitan menembus dinding pertahanan musuh. 

Tumenggung Jayakusuma mencabut keris yang menyoren di balik pinggang, lantas menebas deras. Maha Guru Sangara Santang melepaskan pukulan demi pukulan yang menghasilkan hembusan kencang angin guna menghalau pergi kepulan asap. Maha Guru Primagama terbang mengelilingi lawan sembari menebar bubuk yang mirip dengan garam. Agaknya ia hendak memastikan bahwa sasaran tak berkelit melarikan diri. 

“Hyah!” 

Hentakan tenaga dalam tetiba menyapu perkasa, bahkan mendorong mundur tubuh Maha Guru Sangara Santang, Maha Guru Primagama serta Tumenggung Jayakusuma. Di kala kepulan asap sepenuhnya memudar, telah hadir sesosok tubuh lelaki dewasa nan sangat besar lagi kekar. Tingginya hampir dua kali tubuh Bintang Tenggara dan setara dengan Komodo Nagaradja dalam wujud manusianya. Ia berdiri diam dan menyibak aura demikian perkasa. Kedua matanya terpejam. 

“Hooo… Lumayan juga kemampuan meramu bocah Sugema itu…” tetiba Ginseng Perkasa memuji. 

“Meramu…? Siapakah tokoh itu…? Apakah tadi Maha Guru Sugema membuka lorong dimensi ruang…?” Mengajukan pertanyaan menggunakan jalinan mata hati, Bintang Tenggara pun bangkit mengamati. 

“Bukan. Sungguh yang ia lakukan tadi adalah meramu, dan yang ia hasilkan adalah sebuah klon tubuh. Atau lebih tepatnya… purwarupa klon.”

“Purwarupa…?”

“Kusebut sebagai purwarupa karena belum sempurna. Dan sebagai purwarupa, kemampuan klon tersebut berada jauh di bawah kemampuan tokoh aslinya. Hanya diriku seorang yang meneliti dan pada akhirnya mampu meramu klon tubuh dengan sempurna.” Sang Maha Maha Tabib Surgawi terdengar sangat penasaran. “Hm…? Dari manakah kiranya bocah itu memperoleh pengetahuan meramu klon…?” 

Tumenggung Jayakusuma mendatangi Maha Guru Sangara Santang. “Apakah dia berhasil menghubungi salah seorang rekannya dari kelompok Kekuatan Ketiga…?” 

“Bukan,” tanggap Maha Guru Primagama yang ikut berkumpul. 

“Sepengetahuanku, sosok yang hadir di hadapan kita adalah peranakan siluman… bernama Jongrang Kalapitung.” Sangara Santang kini terlihat lebih serius. (1)

“Dia membangkitkan tokoh yang sudah mati…?” Tumenggung Jayakusuma tiada percaya. 

“Bukan,” tanggap Maha Guru Primagama lagi. “Berat untuk kuakui, namun kali ini Sugema telah berhasil meramu klon tubuh makhluk hidup.”

Kelopak mata klon Jongrang Kalapitung membuka. Kedua bola matanya terlihat berbeda, karena berwarna putih polos tanpa kornea. Setelah menerima perintah melalui jalinan mata hatu, ia pun melesat cepat. Kedua rekan Maha Guru Sugema pun menyusul. 

Sangara Santang sigap menanggapi. Ia menghadang maju klon Jongrang Kalapitung. Maha Guru Primagama dan Tumenggung Jayakusuma menghadapi dua ahli Kasta Emas lain lain dalam pertarungan satu lawan satu. Rangkaian kejadian yang sedang berlangsung ini membutuhkan waktu untuk dituliskan dalam kata dan kalimat, sedangkan pada keadaan sebenarnya berlangsung teramat sangat cepat.  

Sudut mata Bintang Tenggara menangkap Maha Guru Sugema melarikan diri. Ia terlihat melompat masuk dan menghilang ke dalam sebuah lubang di permukaan tanah. 

“Kejar dia!” Jalinan mata hati menjangkau Bintang Tenggara. Kali ini datangnya bukan dari Ginseng perkasa, melainkan berasal dari salah satu tokoh yang sedang bertarung. Bintang Tenggara mendongak, menyaksikan pertempuran sengit di tiga tempat berbeda. Pandangan matanya beralih kepada si rubah sang dalang yang terlibat dalam baku hantam sengit menghadapi klon tubuh yang demikian perkasa. 

“Kejar Maha Guru Sugema!” Maha Guru Kesatu Sanggar Sarana Sakti kembali memberi arahan kepada Bintang Tenggara. 

Betapa anak remaja tersebut membayangkan diri sendiri sebagai selembar kulit kering yang diukir dan diwarnai, serta digerakkan menggunakan tangkai. Tak rela rasanya menjadi wayang kulit yang dimainkan seenaknya dan dimanfaatkan sampai sedemikian rupa. Padahal, kejadian yang berlangsung saat ini tak ada sangkut-paut sama sekali dengan dirinya.  

Mengacuhkan perintah si rubah, Bintang Tenggara membuang wajah. Ia mengamati Maha Guru Primagama, karena pertarungan seorang peramu jauh lebih menarik sehingga jangan sampai terlewatkan. Empat buah kendi berukuran sedang berisi ramuan melayang mengitari tubuh perempuan dewasa itu. Di setiap satu kendi, terlihat senyawa dalam wujud yang berbeda-beda, yaitu uap, larutan, serbuk, serta pil. Penerapan ramuan di dalam pertarungan sungguh berada di luar batas nalar. 

Di tengah pertarungan tersebut, Maha Guru Primagama mengangkat kedua lengan tinggi ke atas. Terlihat bahwa ia sedang bersiap melancarkan serangan pamungkas. Jubah serba hijau yang beliau kenakan menyingkap, dan kebetulan memaparkan wilayah ketiak. Atas penampakan tersebut, sontak kedua bola mata Bintang Tenggara terbelalak! Serangkaian pertanyaan mencuat di dalam benak, dan anak remaja tersebut segera bergerak. Ia melesat menuju ke arah lubang di mana Maha Guru Sugema melarikan diri!


Catatan:

(1) Salah satu legenda Tatar Pasundan yang termasyur adalah petualangan Mundinglaya Dikusumah mencari Layang Sasaka Domas untuk menyelamatkan negara agar menjadi adil, makmur dan sentosa. Di dalam petualangan tersebut, ia mengalahkan raksasa penjaga Jabaning Langit yang bernama Jongrang Kalapitung dan menaklukkan Guriang Tujuh.