Episode 365 - Lencana Batu



Ruangan itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi menjulang. Berkas cahaya masuk secara alami, menerangi sekaligus membungkam kegelapan. Semilir angin berhembus sejuk, membawa pergi segala kelembapan yang mungkin hinggap. Aneka tanaman hias menambah suasana ruang semakin semarak. 

Di tengah ruangan, sebuah meja persegi sembilan membentang lebar. Mengelilingi meja pada setiap bidangnya, terdapat kursi yang diurutkan dari satu sampai dengan sembilan. Kursi kedua berukuran paling besar dengan sandaran tinggi, disusul kursi kesembilan yang tampil kokoh, sedangkan tujuh kursi lain berukuran sedikit lebih kecil namun dengan ukiran yang beraneka rupa. 

Dalam kesempatan kali ini, baru terdapat empat kursi terisi, yang mana setiap satunya diduduki oleh kepala keluarga terkemuka. Mereka sedang menikmati sajiah teh hangat. 

“Apakah tak ada tuak di tempat ini!?” sergah seorang lelaki dewasa bertubuh kekar yang tak mengenakan atasan. Suaranya keras membahana, dan ia duduk bersandar di kursi kedelapan.

“Kakak, bukankah tertera jelas di dalam surat pemberitahuan bahwa undangan kali ini merupakan acara minum teh…” Tanggapan terdengar dari kursi keempat. 

“Cih! Aku sudah lupa caranya membaca! Jadi, ada tuak atau tidak!?” 

“Ehm…” Seorang lelaki dewasa yang duduk di kursi kesembilan seolah melegakan tenggorokan kering. Ia pun menoleh ke arah tokoh di kursi kedua, layaknya memberi isyarat bahwa dirinya pun tak keberatan bilamana disuguhi dengan tuak.

“Hari ini kita akan membahas perihal kemaharajaan. Di dalam pertemuan resmi ini, mari kita bersama-sama menahan diri.” Tokoh yang duduk di kursi terbesar, yaitu pada urutan kedua, berujar pelan sembari meletakkan cangkir. “Apakah yang lain akan datang…?”

“Wahai Yang Mulia Maha Patih, Datu Besar Kadatuan Kedua, sungguh kita tiba terlalu dini. Yang lainnya kemungkinan sedang dalam perjalanan.” 

Balaputera Wrendaha, Datu Besar Kadatuan Kedua yang saat ini menjabat sebagai Maha Patih di Kemaharajaan Cahaya Gemilang sampai tiba waktunya sang Yuvaraja tumbuh sebagai ahli yang layak untuk memerintah, menjawab dengan senyuman. Walau, jika dicermati dengan seksama, terdapat sesuatu yang tersembunyi di balik senyuman itu. Sebentuk kegelisahan yang timbul karena sesuatu hal. 

Dari arah pintu, seorang lelaki dewasa lain memasuki ruangan dan menarik perhatian segenap ahli. Langkah kakinya terukur dan penampilannya rapi lagi bersih. Pembawaanya mengisyaratkan pengetahuan yang sangat mendalam. Ia kemudian mengangguk kepada keempat ahli yang telah terlebih dahulu tiba. 

“Yang Mulia Maha Patih, Datu Besar Kadatuan Kedua… Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Keempat… Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedelapan… serta Yang Terhormat Panglima Perang, Datu Besar Kadatuan Kesembilan.” Usai memberi salam, ia duduk di kursi urutan pertama. 

Datu Besar Kadatuan Kedua menuangkan teh ke cangkir milik Datu Besar Kadatuan Kesatu yang baru saja tiba. Kegelisahan masih berusaha ia sembunyikan. Sesekali, ia menebar mata hati kepada sebuah lencana yang tersembunyi di balik pakaian. Jika dikeluarkan, maka bentuknya lencana tiada beraturan, seperti lempengan batu alam dan tanpa ukiran apa pun pada permukaannya. 

“Yang Mulia Maha Patih dan Yang Terhormat Panglima Perang, diriku membawa kabar berita tak sedap dari Kemaharajaan Pasundan.”

“Akrama, mengapakah engkau selalu bersikap kaku!?” sela Datu Besar Kadatuan Kedelapan kepada Datu Besar Kadatuan Kesatu. “Langsung saja sampaikan apa pun itu yang hendak engkau sampaikan!”

“Sebagai latar belakang,” Datu Besar Kadatuan Kesatu melanjutkan. “Anak kita Balaputera Prameswara menjadi wakil Perguruan Svarnadwipa dalam ajang pertukaran murid di Perguruan Budi Daya. Di saat yang bersamaan, Yang Mulia Yuvaraja Balaputera Gara juga merupakan perwakilan dari Perguruan Gunung Agung.”

“Ya! Mereka bersua, lantas berbuat ulah,” potong Datu Besar Kadatuan Kedelapan lagi. “Darah muda memang terlalu bersemangat. Sudah biasa.”

“Permasalahannya, Yang Mulia Yuvaraja Balaputera Gara mengalahkan seorang pemuda bernama Martakusuma, putra Kandung dari Tumenggung Jayakusuma.” 

“Tumenggung Jayakusuma….? Diriku mengenal nama itu,” ujar Datu Besar Kadatuan Keempat. “Ia merupakan salah satu bangsawan yang memiliki kekuatan perang besar dalam menopang Kemaharajaan Pasundan.” 

“Tak terima putranya dikalahkan dalam pertarungan di Perguruan Budi Daya, Tumenggung Jayakusuma kemudian datang ke Perguruan Budi Daya dengan membawa serta lima ribu prajurit.”

“Brak!” Datu Besar Kadatuan Kedelapan sontak menggebrak meja. Aura panas menyibak kental dari dirinya. “Kurang ajar! Kemaharajaan Pasundan hendak menabuh genderang perang!”

“Tenanglah, wahai Datu Besar Kadatuan Kedelapan,” tukas Datu Besar Kadatuan Kesatu. Sungguh ia sudah memperkirakan bahwa kabar berita ini akan tiba di meja Dewan Kadatuan.

“Tidakkah kalian sadari bahwa tindakan si Tumenggung itu merupakan sebuah penghinaan langsung kepada Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

“Tenanglah, wahai Datu Besar Kadatuan Kedelapan,” ulang Datu Besar Kadatuan Kedua. “Kita belum sepenuhnya memahami duduk permasalahan. Sebaiknya tiada bertindak gegabah hanya karena sepenggal berita.”

“Jikalau kita membawa pasukan perang masuk ke wilayah Kemaharajaan Pasundan, maka bukankah kita yang akan dituduh sebagai pihak yang hendak memulai peperangan…?” timpal Datu Besar Kadatuan Keempat. 

“Rudra… Utus aku, dan akan kubawa pulang kepala Tumenggung itu sebagai buah tangan!” Datu Besar Kadatuan Kedelapan berujar kepada tokoh yang duduk persis di sampingnya.”

“Sampai pasukan perang Tumenggung Jayakusuma belum bertindak, maka kita belum dapat bertindak.” Sang Datu Besar Kadatuan Kedua berupaya mencegah.

“Tapi, ini adalah nyawa sang Yuvaraja yang sedang kita pertaruhkan! Calon penguasa tunggal di Kemaharajaan Cahaya Gemilang!”  

“Tepat sekali…” Ayahanda Sulung Rudra akhirnya menimpali. Sebagai Panglima Perang di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, adalah wewenangnya dalam hal menetukan apakah mengirimkan pasukan perang atau tidak. Ia lantas berujar dingin, “Sang Yuvaraja meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang karena kehendaknya berkelana memperdalam keahlian. Jikalau hanya berhadapan dengan lima ribu prajurit ia tiada dapat bertahan hidup, maka sejak awal ia tak pantas menjadi calon penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

Jawaban Balaputera Rudra di luar perkiraan segenap Datu Besar anggota Dewan Kadatuan yang sudah hadir di ruang pertemuan itu. Bagi mereka, sepantasnya Kadatuan Kesembilan sangat khawatir dan berupaya sebaik mungkin untuk menjaga keselamatan anggota keluarga mereka. Terlebih, bila terjadi sesuatu yang tak dikehendaki terhadap Balaputera Gara, bukankah tampuk calon penguasa berpindah ke Balaputera Ugraha dari Kadatuan Kedua…? Bukankah kesempatan mengangkat nama keluarga akan ikut terkubur…?

Di lain sisi, Balaputera Wrendaha, Datu Besar Kadatuan Kedua yang diketahui merupakan guru dari Lintang Tenggara menarik napas lega. Kerisauannya mereda bukan karena peluang bagi kadatuannya meraih takhta penguasa bila Balaputera Gara mendapat celaka, bukan pula karena ia hendak mencegah pertumpahan darah bila perang berkecamuk. Akan tetapi, sebagai salah satu tokoh di dalam kelompok tertentu, ada sesuatu tersembunyi di dekat Perguruan Budi Daya yang keberadaannya tiada boleh terbongkar.


===


“Tuan, apakah sudah ada keputusan!?”

“Sabar!” Di dalam sebuah pustaka nan luas, seorang lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun sedang melangkah cepat sembari mencari-cari. 

“Tuan, kita akan kehilangan peluang meraih keuntungan besar bilamana melepas kesempatan ini…” 

“Kurus Kerempeng, jangan menggurui aku!” Dada Saudagar Senjata Malin Kumbang naik turun. Lelah sudah ia mencari. “Di mana kakek tua bangka kutu buku bangsat itu bersembunyi!?”

“Hm… Kukira Tuan telah mengetahui bahwa kakek tua itu pergi bersama Embun Kahyangan…”

“Hah!?” Saudagar Senjata Malin Kumbang hampir melompat di tempat. “Apa!? Mengapa tak kau cegah!? Mengapa tak kau beri tahu aku lebih awal!?”

“Kukira Tuan telah memberi izin…”

“Kau kugaji untuk bekerja, bukan untuk mengira-ngira! Sekarang Kemaharajaan Cahaya Gemilang dan Kemaharajaan Pasundan akan berperang, dan aku memerlukan pemikiran kakek tua itu untuk mengambil keputusan!”

“Bukankah kita hanya perlu menawarkan senjata kepada salah satu pihak…?” 

“Bodoh! Apa untungnya menjual senjata kepada salah satu pihak saja. Kita akan menjual senjata kepada kedua pihak! Sekarang, saat ini, aku perlu perhitungan matang kakek tua itu untuk menentukan jenis dan jumlah senjata yang perlu kita hasilkan!”

Pemuda kurus kerempeng terdiam. Betapa ia masih terlalu hijau untuk mencerna seluk-beluk perdagangan senjata. 

“Tunggu…” Tetiba Saudagar Senjata Malin Kumbang teringat akan sesuatu. “Ke manakah Tumenggung Jayakusuma membawa pasukannya…?”

“Ke wilayah di dekat Perguruan Budi Daya…”

Tanpa basa-basi, Saudagar Senjata Malin Kumbang memutar tubuh. Sambil melangkah pergi, ia mengeluarkan sebuah lencana. Bentuknya lencana tiada beraturan, seperti lempengan batu alam dan tanpa ukiran apa pun pada permukaannya. 

===


Mengasingkan diri merupakan salah satu upaya meningkatkan keahlian. Melalui cara ini, seorang ahli berupaya menyatu dengan alam dan kiranya dapat membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, yang pada akhirnya meraih pencerahan. Di pedalaman gunung di dekat Kota Ahli, seorang lelaki tua duduk bersila. Ditemani nyanyian burung-burung serta lambaian dedaun pepohonan, ia hanyut dalam tapa. Suasana alam pegunungan nan demikian menenangkan, membuat pikiran terbuka jernih. 

Seorang murid datang mendekat. Langkahnya pelan serta hati-hati, berusaha keras untuk tiada mengganggu. Usai menundukkan kepala sebagai ungkapan rasa hormat, ia lantas berujar, “Yang Terhormat Sesepuh Kertawarma, kehadiran Sesepuh Ke-15 dinanti di perguruan.”

Lelaki tua itu membuka mata perlahan. “Apakah ada kejadian luar biasa…?” ajunya pelan. 

“Perguruan Maha Patih hendak mengambil sikap atas tindakan Tumenggung Jayakusuma yang membawa pasukan perang menuju Perguruan Budi Daya.”

Perguruan merupakan lembaga yang bersifat independen. Ia membatasi diri untuk tak terlibat dalam persoalan politik kenegaraan. Akan tetapi, di antara perguruan terdapat pula kesepakatan tak tertulis bahwa bilamana ada kerajaan atau kekuatan asing yang bertindak sewenang-wenang terhadap satu perguruan, maka perguruan-perguruan sahabat akan turun tangan menjembatani. Terlebih lagi, di dalam ajang pertukaran murid, Perguruan Maha Patih pun ikut mengirimkan wakil. Oleh karena itu, kejadian yang berkutat di Perguruan Budi Daya saat ini patut menjadi perhatian. 

“Baiklah,” terdengar jawaban ringan. 

Mendapat tanggapan sesuai harapan, si murid pembawa pesan segera undur diri. 

Kemudian, lelaki setengah baya itu menebar mata hati dan sebuah lencana melayang ringan. Bentuknya lencana tiada beraturan, seperti lempengan batu alam dan tanpa ukiran apa pun pada permukaannya. Setelah menebar jalinan mata hati, ia tak menemukan adanya pesan baru yang masuk. 


===


“Satu!” 

Di halaman nan luas, ratusan gadis belia bergerak tangkas, senada dan seirama. Pekik mereka membahana ke segala penjuru. 

“Dua!”

Mereka melompat, memutar tubuh, lalu melepaskan tinju. Tiada gerakan yang sia-sia, tiada pula keraguan yang terpancar dari sorot mata. Ibarat dalam sebuah aransemen tarian skala besar, latihan jurus-jurus persilatan dijalani dengan tekun dan penuh penghayatan. 

“Tiga!” 

Memantau dari atas sebuah panggung lebar, adalah seorang perempuan dewasa. Ia mengenakan pakaian yang cukup unik, di mana belahan dada pada atasan kebaya terbuka rendah dan belahan kain batik pada bawahan membuka tinggi. Sungguh menampilkan sepasang payudara bergelayutan bebas dan lekuk paha terpapar lepas. Demikian menggairahkan, walau tiada satu pun kaum lelaki yang hadir di tempat itu.  

Di dalam genggaman tangannya, terlihat sebuah lencana. Bentuknya tiada beraturan, seperti lempengan batu alam dan tanpa ukiran apa pun pada permukaannya. Walau menebar jalinan mata hati kepada lencana, tatapan mata perempuan tersebut tak pernah lepas dari kegiatan berlatih di hadapan sana. 

“Nomor 56, 127, dan 201… Langkah kaki mereka berat.”

“Baik, Yang Terhormat Gubernur Pulau Empat Jalang… Kami akan memberikan latihan khusus.” Seorang pelatih di bawah panggung menanggapi cepat. 

“Pengaturan pernapasan nomor 83, 104, 179, 223, 292 keliru.”

“Baik, Yang Terhormat Gubernur Pulau Empat Jalang… Kami akan meningkatkan porsi latihan pernapasan.” 

“Masih jauh dari sempurna. Jangan mengecewakan.” 

“Baik, Yang Terhormat Gubernur Pulau Empat Jalang. Mohon sudi memaafkan kelalaian kami.”

Usai memberi pengarahan, perempuan dewasa itu melesat pergi. 


===


Jubah yang dikenakan berkibar dimainkan angin, demikian perkasa sekaligus anggun. Rambutnya putih digelung ke atas, dan aura yang ia pancarkan menebar aroma nan wangi menyegarkan. Bintang Tenggara mengenal tokoh ini. Tak lain, ia adalah Maha Guru Primagama dari Perguruan Budi Daya. 

Ketiga tokoh Kasta Emas berjubah kecoklatan berkumpul. Aura tenaga dalam mencuat dari tubuh, dan hawa membunuh menyibak demikian kental. 

“Kalian tertangkap basah. Serahkan tubuh beliau!” 

“Heh, Primagama! Aku tak mengerti apa yang engkau maksud…” Tanggapan terdengar dari seorang perempuan di balik jubah longgar kecoklatan. 

“Jangan berpura-pura bodoh.” Maha Guru Primagama mendarat di sisi Bintang Tenggara.”

Seorang ahli Kasta Emas berjubah cokelat melangkah maju. “Jadi, adalah engkau yang sengaja menyebar wabah Cacar Lahar di desa di pinggir hutan ini, lalu memancing murid itu mengambil tugas dengan iming-iming imbalan poin besar. Engkau berharap bahwa dia akan bertemu denganku, dan aku akan kehilangan kesabaran bila berhadapan dengannya.” 

Sudut bibir Maha Guru Primagama menyungingkan senyum. Bintang Tenggara, di lain sisi, berupaya mencerna pertukaran kata-kata yang sedang berlangsung. Ia mengingat bahwa berkali-kali perempuan setengah baya itu mengundang dirinya sebagai Pramubakti, yaitu murid yang berkesempatan menjalankan tugas langsung dari maha guru atau sesepuh. Walau, berkali-kali pula dirinya menolak datang. Dengan demikian, bukan tak mungkin Maha Guru Primagama menyusun siasat nan keji. 

Ahli Kasta Emas itu maju selangkah lagi. Ia sibak tudung kepala jubah, lalu melepaskan jubah nan longgar secara keseluruhan. Karena sudah tertangkap basah, maka tak ada lagi gunanya bersembunyi. Tindakan ini membuat kedua rekannya terkejut sejenak, namun akhirnya memaklumi saja. 

Sesuai perkiraan, tokoh di balik jubah bertudung itu adalah seorang lelaki gemuk bernama Maha Guru Sugema!

“Persaingan di antara kita sebagai sesama maha guru memanglah semakin memuncak. Akan tetapi, tiada kuduga bahwa engkau bertindak sampai serendah ini,” lanjut Maha Guru Sugema.

“Sudah kukatakan jangan berpura-pura. Sekali lagi kusampaikan, serahkan tubuh beliau!” 

“Aku tak memahami kata-katamu…” Maha Guru Sugema berlagak bingung. “Akan tetapi, perlu kuakui bahwa kau bernyali besar.”

Benar, batin Bintang Tenggara. Walau berada pada tingkatan Kasta Emas yang sedikit lebih tinggi, Maha Guru Primagama hanyalah seorang diri. Sedangkan lawannya, adalah Maha Guru Sugema beserta kedua rekannya. Tiga lawan satu. Diam-diam Bintang Tenggara merapal jurus Delapan Penjuru Mata Angin, sebagai persiapan melarikan diri. Tiada gunanya terjepit di antara pertempuran para gajah.

“Srek!” 

Tetiba, entah datang dari mana, seorang lelaki dewasa berkelebat tepat di sisi Maha Guru Primagama. Pakaiannya dipenuhi dengan hiasan keemasan selayaknya bangsawan besar. Di sisi pinggang belakang, menyoren sebentuk keris panjang. Raut wajahnya penuh wibawa, teleportasi jarak menengah yang ia peragakan membuat dirinya tampil perkasa.

Atas kehadiran tokoh tersebut, Maha Guru Sugema beserta kedua rekannya sontak waspada. Tak ayal lagi, mereka bertiga mengenal jati diri tokoh tersebut. 

“Oh, Tumenggung Jayakusuma, sungguh sebuah kebetulan dikau datang bergabung.” Maha Guru Primagama lagi-lagi tersenyum penuh makna.

“Kau… Kau membawa bantuan!”

“Maha Guru Primagama, sungguh senang kita dapat bertemu muka di hari nan cerah ini.” Tokoh tersebut mengabaikan Maha Guru Sugema, lantas menoleh kepada seorang anak remaja di sisi lain. “Inikah dia Bintang Tenggara dari Perguruan Gunung Agung…? Atau lebih tepatnya kusapa sebagai Yang Mulia Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?” ujarnya santun. 

Bintang Tenggara terkesima. 

“Oh ya…,” lanjutnya. “Perlu kusampaikan bahwa putraku Martakusuma sengaja mengalah. Ia tentunya tak selembek saat bertarung denganmu…”

Benak Bintang Tenggara berkelebat. Apakah ini yang dinamakan siasat bertingkat…? Tak hanya Maha Guru Primagama menjebak dirinya dengan pengumuman tugas wabah Cacar Lahar, namun sebelumnya juga mengatur pertarungan dengan Martakusuma! Atas alasan apa…?

“Kau memasuki wilayah Perguruan Budi Daya seolah hendak menuntut dendam atas kekalahan putramu… Namun sesungguhnya engkau datang karena hendak mendukung Primagama!” Maha Guru Sugema menghardik. 

“Tentu saja,” Tumenggung Jayakusuma berujar ringan. “Jikalau aku bertandang tanpa alasan jelas, maka bukan hanya kalian bertiga yang curiga. Justru kemungkinan besar rekan-rekan kalian yang lain akan turut berdatangan.” 

“Hahaha…” Maha Guru Sugema tergelak sembari memegang perutnya. “Sungguh siasat yang telah disusun matang, dan betapa aku merasa tersanjung. Akan tetapi, kalian salah langkah.” Sembari berujar, ia mengeluarkan sebentuk lencana mirip lempengan batu alam yang tiada beraturan, dan tanpa ukiran pada permukaannya. Di saat yang sama pula, lelaki dewasa tersebut menebar jalinan mata hati ke arah lencana.