Episode 82 - Masalah Terus Datang


Kembali ke hari itu. 

Di tengah pertikaian antara Iblis Hitam, Dragon dan anggota geng Naga Emas, Nino dan geng Serigala Hitam, Jessica menekan tombol untuk mengaktifkan bom yang sebelumnya telah dia pasang di gedung tempat mereka bertarung. 

Meskipun Jessica menyesal karena Lina juga berada di gedung tersebut, tapi dia tidak punya pilihan lain, tidak banyak kesempatan untuk mengumpulkan banyak kekuatan sekaligus lalu menghancurkan semuanya dalam satu gerakan, apalagi ada pasukan si Iblis Hitam yang tanpa dia duga juga ikut datang. Sebuah berkah yang tersembunyi pikirnya.

Jessica juga telah memutuskan untuk keluar dari dunia geng dan ingin berkontribusi untuk menghancurkan geng yang lainnya sebagai kompensasi atas semua dosanya. Bisnis penyelundupan senjatanya telah menghasilkan banyak keuntungan bagi para saudarinya di geng mawar biru, akan tetapi telah melahirkan banyak ‘mawar merah’ di setiap medan perang antar geng di kota ini. Dosa yang amat Jessica sesali.

Meskipun tahu, Jessica tetap melakukannya, agar saudarinya bisa makan enak, agar saudarinya bisa tidur dengan nyenyak, agar saudarinya bisa hidup dengan nyaman. Jessica rela menanggung dosa-dosa tersebut. Adapun langkah penebusan yang dia lakukan saat ini, itu yang sudah dia pikirkan sejak lama. 

Setelah Jessica menekan tombol tersebut, seperti yang telah direncanakan, bom yang telah di pasang pada gedung tersebut meledak dengan ledakan yang dahsyat. Seperti yang diharapkan Jessica, gedung itu hancur lebur. Namun, ada sedikit yang tidak sesuai harapannya, karena datangnya si Iblis Hitam, variabel yang sama sekali tidak dia duga, semua orang selamat dari ledakan tersebut, termasuk dirinya sendiri.

Tepat ketika bom itu meledak, si Iblis Hitam menggunakan kekuatannya untuk menyelimuti semua orang dengan energinya, membuat mereka tidak tersentuh sedikitpun dampak dari ledakan. Karena hal ini, semua orang merasa terpana dan tak bisa berkata-kata, bahkan ekspresi mereka bisa dibilang sangat berlebihan, mata mereka melotot seakan mau keluar dan rahang mereka jatuh karena keajaiban ini.

Namun, setelah dampak dari ledakan itu hilang, tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi panas, dan hasrat itu datang. Di saat itu, Iblis Hitam berhasil mengetuk orang-orangnya dan Jessica juga Lina hingga pingsan akan tetapi sebagian lainnya berhasil pergi untuk menyalurkan hasrat mereka. Seperti kebakaran jenggot, mereka berlari dan mencari lawan jenis, setelah bertemu mereka akan langsung menurunkan ikat pinggang lalu menerkam. Namun, karena mereka melakukannya di muka umum, tentu saja banyak orang lain yang segera menghentikannya dan membawa mereka ke kantor polisi.

Sungguh, ketika nafsu menjadi prioritas utama, itu sama saja dengan menaruh pisau di atas kepala. Tidak tahu kapan itu akan jatuh, akan tetapi kelak pasti akan menancapkan luka.

Sedangkan itu, setelah Jessica dan yang lainnya terbangun dari pingsan, mereka mendapati tubuh mereka dalam tali. Karena efek panas dari tubuh mereka masih belum menghilang, tanpa pilihan lain, mereka memuaskan diri dengan tangan masing-masing. Menghasilkan suara desahan dan pemandangan yang menjijikan. Setalah hasrat itu reda, akal mereka kembali lagi, dan tentu saja mereka menjadi malu dengan apa yang telah mereka lakukan, akan tetapi itu tak bisa mereka hindari, karena mereka seakan-akan telah dirasuki oleh hawa nafsu itu sendiri.

Kemudian Jessica mendengar langkah kaki mendekat, dia menoleh dan melihat sesosok dengan pakaian serba hitam mendekat. Itu pasti si Iblis Hitam, pikir Jessica.

**

Ferdian sampai di TKP, yaitu sebuah rumah sakit terbesar di kota. Setelah mengetahui nomor ruangan, Ferdian bergegas ke sana. Ketika Ferdian masuk, dia melihat seorang pria sedang terbaring di atas kasur. Wajahnya pucat dan matanya masih tertutup. 

Ferdian bertanya tentang detail pria tersebut tapi tidak mendapatkan banyak informasi berharga, bahkan namanya saja tidak ada yang tahu. Jadi, tanpa pilihan lain, dia mengintruksikan seorang petugas polisi untuk menunggu pria itu bangun dan mendapatkan informasi lebih jelas.

Ferdian pergi dari rumah sakit tersebut dengan wajah yang suram. Setelah sampai di kantornya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, segera dia mengangkatnya. Namun, setelah panggilan itu, wajahnya menajadi semakin suram. Itu adalah panggilan dari pejabat tinggi yang ingin petugas polisi untuk melindungi rumah mereka dari teror si bayangan. 

“Sial! Mereka benar-benar busuk, menjaga rumah mereka? Jangan bercanda denganku.” Teriak Ferdian setelah panggilan itu berakhir.

Dalam panggilan tersebut, polisi di desak untuk menurunkan personil mereka untuk menjaga rumah masing-masing pejabat kota dan rumah orang-orang penting lainnya. Tentu saja Ferdian menolak ide tersebut, saat ini polisi sedang membutuhkan banyak personil untuk mengejar pelaku pencurian organ tubuh, jadi tentu saja mereka tidak punya waktu untuk menjaga rumah para pejabat itu.

Karena penolakan Ferdian, pejabat yang memanggilnya langsung naik pitam dan mengancam Ferdian. Namun, tentu saja, Ferdian tidak peduli dengan ancaman tersebut. Terburuk dari yang terburuk, paling dia hanya di copot dari jabatannya. Mengenai hal tersebut, Ferdian sama sekali tidak peduli. Namun, karena dia masih memegang jabatan itu, Ferdian akan melakukan apa yang dia bisa dia lakukan dengan semaksimal mungkin.

Setelah panggilan itu, bahkan sebelum kemarahan Ferdian mereda, datang panggilang dari seorang petugas polisi yang memberitahukan bahwa telah terjadi pencurian organ tubuh lain dan korban tersebut kini berada di rumah sakit yang berbeda. 

Hal ini membuat Ferdian menjadi yakin, bahwa kasus ini harus ditangani secepat mungkin atau akan banyak korban berjatuhan di masa depan. Apa yang Ferdian takutkan terjadi lebih cepat dari yang dia pikirkan, karena jatuhnya beberapa geng penguasa di kota ini, banyak kasus yang terjadi.

Meskipun bukan berarti geng-geng kuat sebelumnya memberi banyak manfaat, tapi setidaknya mereka melakukan sesuatu dengan batas wajar, bahkan jika ada korban jiwa, polisi masih bisa tutup mata agar kestabilan kota tetap terjaga. Dengan hilangnya geng-geng tersebut, para kriminal berbuat sesuka mereka dan membuat situasi menjadi lebih berantakan.

Polisi saja tidak akan cukup untuk bisa mengatasi semua masalah ini, karena itu Ferdian segera memanggil seseorang untuk membantu, langkah pertama adalah untuk memanggil satu-satunya geng kuat yang masih tersisa, meskipun bisa dikatakan mereka tidak sekuat geng Naga Emas dan Serigala Hitam, tapi pemimpin misterius mereka membuat geng kuat lain tidak berani mengacau, selain itu, nama mereka sangat cocok dengan situasi saat ini, ketika Iblis sedang bangkit memburu para manusia, geng Pemburu Iblis adalah jawaban terbaik.

**

Hari ini adalah hari keempat turnamen bela diri. 

Sesuai jadwal yang telah ditentukan, hari ini adalah hari dimana Dan akan bertarung. Karena itu, saat ini, dia sedang mendapatkan riasan agar berubah menjadi Dina, sesosok perempuan cantik dengan kulit putih bersih seperti bayi. Jika saja dia mendaptkan sesuatu untuk mengganjal dadanya yang rata, Dina pasti adalah gadis yang mempesona banyak pria.

Ketika Dina sampai di ruang tunggu, dia melihat semua peserta telah sampai. Karena tidak ada orang dia kenali, maka Dina memutuskan untuk segera mengambil kursi di pojokan dan menutup matanya dengan tenang, menunggu gilirannya.

Pertandingan pertama mempertemukan Gerral dengan seorang peserta dari sebuah sekte bela diri. Dengan langkah yang percaya diri, Gerral berjalan menuju arena. Sorakan dan teriakan penonton di setiap sisi tidak membuat nyali Gerral turun, karena dia sangat percaya diri dengan jurus baru yang telah dia dapatkan dari Tomas, yaitu Tinju Tirani. Menurutnya, juara turnamen bela diri ini tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya.

Peserta yang menjadi musuh Gerral masuk ke dalam arena. Dengan aura yang percaya diri, dia memandang Gerral. Meskipun dia tahu Gerral adalah salah satu peserta yang paling diunggulkan untuk memenangkan turnamen bela diri ini, tapi dia tidak akan mengalah begitu saja.

Setelah wasit memberikan aba-aba dimulainya pertandingan, tanpa pikir panjang Gerral segera menggunakan Tinju Tirani. Meskipun hanya bisa menggunakannya sekali dalam sehari, tapi sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan musuhnya.

Bam!

Tinju Tirani dari Gerral mengenai perut musuh dan membuatnya terlempar kebelakang beberapa meter, kemudian dengan ekspresi kesakitan dia memutahkan makanannya di pagi hari. Segera regu medis menuju peserta tersebut dan membawanya untuk perawatan. 

Dengan kemenangan sekali pukul ini membuat para penonton terpana hingga rahang mereka jatuh. Sungguh kekuatan yang sangat tirani.

**

Di sebuah rumah yang cukup tua, seorang pria masuk ke dalam kamar. Di kamar tersebut terbaring seorang gadis kecil dengan wajah yang pucat, pria tersebut menghampirinya dan duduk di samping kasur. Dengan lembut pria itu merapikan rambut gadis kecil itu.

“Tunggu sebentar lagi, Ayah pasti akan menyelamatkanmu.” Pria itu bergumam pelan. Kemudian dia berbalik dan segera keluar dari rumah, dengan pakaian serba hitam, dia adalah si bayangan.

**

Di gudang tua itu, ratusan kucing sedang makan dengan nyaman. Ratusan ikan dan banyak kotak susu dengan nyaman mereka nikmati. Di salah satu sisi ruangan, seekor kucing hitam sedang makan ikan ditemani oleh dua kucing betina, satu berwarna oranye dan satunya berwarna putih. Satu yang pasti, kedua kucing itu sangat imut.

“Hahaha, sekarang kita tidak perlu khawatir lagi tentang masalah makanan dan tempat tinggal, ini adalah surga kita.” Kucing hitam itu berteriak dengan keras.

“Meong!” kucing-kucing lain mengeong.

“Setelah ini, kita akan melakukan rencana berikutnya, yaitu menghancurkan musuh bebuyutan kita, yaitu anjing-anjing yang bau.” Teriak kucing hitam lagi.

“Meong!” kucing-kucing mengeong lagi.

“Hahaha, saudara-saudaraku, meskipun kita tidak lebih kuat dari mereka, asalkan kita bekerja sama, tidak akan ada masalah untuk menghadapi anjing-anjing yang bau, apakah kalian setuju?” 

“Meong!”

“Hahaha, bagus, bagus, akan tetapi jangan terlalu memikirkan hal itu, kita nikmati saja pesta ini terlebih dahulu.”

“Meong!”

Kemudian kucing hitam itu tersenyum dengan puas, lalu dia kembali melanjutkan memakan ikannya lagi. Setelah selesai, kucing hitam tersebut meminum susu kemasan dengan santai. Lalu dia melirik ke dua kucing betina yang tadi menemaninya.

Tanpa kucing-kucing lain sadari, kucing hitam itu menggiring dua kucing betina itu ke sudut ruangan yang sepi dan mulai menggila.