Episode 363 - Melarikan diri!



Tiga ahli, mengenakan jubah kecoklatan longgar yang mana menutupi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, terlihat angker. Tindak-tanduk mereka demikian misterius, niat dan tujuan mereka tiada diketahui pasti. Namun demikian, setiap satu dari ketiga sosok ini menyibak aura perkasa selayaknya pada ahli yang sudah berada pada Kasta Emas. 

Di bawah gelap bayang-bayang pohon nan rindang, ketiga ahli Kasta Emas tersebut mengelilingi seorang lelaki tua nan bongkok dengan wajah penuh keriput. Dari sudut pandang mereka, lelaki tua tersebut terlihat bak seekor monyet kurang gizi yang basah kedinginan, sehingga mengigil lemah tiada memiliki tenaga. Saking lemahnya, mungkin hembusan angin yang sedikit lebih kencang saja dapat merobohkan tubuh nan rapuh. 

Tiada pertukaran kata-kata di antara para ahli Kasta Emas tersebut, tetapi jelas betapa ketiganya terlihat sangat kebingungan saat mengepung sosok nan tua renta. Saling pandang, lantas mereka memutuskan untuk bertukar pikiran menggunakan jalinan mata hati.

“Hmph… hampir tak ada lemak yang dapat kita ambil dari tubuh kakek tua renta ini…” Sosok pertama berujar malas. “Tanpa lemak tubuh, kita tiada dapat membuat Lemak Belau Mala.” (1)

“Entah mengapa aku memiliki firasat tak baik…” Sosok kedua menimpali penuh keraguan. 

“Dunia persilatan dan kesaktian menuntut kita untuk senantiasa waspada akan sosok seperti ini… Apalagi gadis belia yang bersamanya demikian piawai memanfaatkan unsur kesaktian kabut. Dia dapat meloloskan diri dari kepungan kita.” Sosok ketiga memaparkan pandangannya. 

“Heh… Kakek tua ini bukanlah siapa-siapa.” Sosok lelaki berjubah yang pertama masih menolak kemungkinan bahwa di hadapan mereka adalah seseorang yang dapat memberi ancaman. “Sedangkan gadis itu, kupastikan seorang pembunuh bayangan dari Padepokan Kabut. Kelengahan kitalah yang membuatnya dapat melepaskan diri.”

“Mungkin saja…” Sosok kedua masih meragu. 

“Kemungkinan besar lelaki tua ini dan gadis tersebut kebetulan berpapasan di jalan, di mana gadis tersebut merasa kasihan dan memutuskan untuk menemani…,” lanjut sosok pertama. 

“Para pembunuh bayangan dari Padepokan Kabut terkenal bergera seorang diri dan berhati dingin. Mereka tak akan menemani sembarang lelaki tua…” Sosok kedua berkeras. 

“Lantas, mengapa gadis itu langsung mengerahkan jurus kaki seribu tatkala berhadapan dengan kita…?” kilah sosok pertama. “Hahaha…”

“Kalian… tiga… pendosa…” 

Ketiga ahli Kasta Emas serempak melompat mundur! Suara jubah longgar terdengar mendesut keras dan terlihat berkibar karena kecepatan gerak. Penuh kewaspadaan, setelah terpisah jarak sekira sepuluh langkah mereka langsung memasang kuda-kuda. Betapa ketiganya sangat terperangah, karena pertukaran kata-kata di antara mereka ahli Kasta Emas yang menggunakan jalinan mata hati, dengan mudahnya disadap! 

“Siapakah dikau!?” Sosok pertama membuka mulut. Sulit baginya percaya bahwa ada ahli yang dapat menyusup masuk ke jalinan mata hati antara mereka yang berada pada Kasta Emas. Bahkan ahli Kasta Emas lain tak akan mudah melakukan tindakan yang sedemikian hebatnya. 

Kedua rekannya sontak memelototkan mata. Sepertinya, terdapat sebuah kesepakatan di antara mereka untuk tak bersuara barang sepatah kata pun. Sungguh keterkejutan yang besar dapat membuat seseorang terlepas kendali, dan melupakan bagaimana sepantasnya bertindak.

“Kalian… tiga… pendosa…” Suara yang keluar demikian serak dan sepatah-sepatah. Di saat yang sama, tubuh nan menggigil lemah milik lelaki tua dan renta terlihat melangkahkan. 

Tindakan tersebut membuat ketiga ahli Kasta Emas semakin waspada. Mereka segera berkumpul, dan bersiap menghadapi ahli yang demikian digdaya kemampuannya. Akan tetapi, di luar perkiraan ketiga tokoh tersebut, lelaki nan tua renta memutar tubuh dan merayap menjauh. 

Ketiga ahli saling pandang, dan benak mereka berpikir senada. Bilamana lelaki tua renta itu dibiarkan pergi, maka kemungkinan besar dia akan membongkar kerja keras yang sudah ratusan tahun ditekuni. Tak ada jalan lain, ketiga ahli sepakat untuk membungkam tokoh tersebut, meski nyawa taruhannya. 

Akan tetapi, belum sempat mereka bergerak mengejar, jalinan kabut bernuansa ungu sudah menyelimuti tubuh nan tua renta. Di saat yang bersamaan pula, di hadapannya sebuah lorong dimensi ruang membuka perlahan…

“Gadis pembunuh bayangan itu kembali!” 

“Celaka! Dia hendak melarikan diri!”

“Duar! Duar! Duar!” 

Lagi-lagi ketiga ahli Kasta Emas kecolongan. Mengapit dari dua sisi, terlindung di balik semak belukar nan lebat, setidaknya terdapat sepuluh ahli menembakkan peluru dan bola-bola api secara berbarengan. Situasi berubah kacau! 

Meski dalam keadaan terjepit, ahli Kasta Emas pertama bergerak sigap. Segera ia menyusul sang kakek tua renta yang sedang melangkah lambat untuk masuk ke dalam lorong dimensi ruang. Di saat sudah dekat, ahli Kasta Emas itu lantas menghentakkan tenaga dalam. Langkah ini terbukti tepat sasaran, dan berhasil membatalkan paksa Bentuk Keempat: Kabut Archapada dari jurus unsur kesaktian Panca Kabut Mahameru! 

Akibat hentakan tenaga dalam itu pula, sang kakek tua nan lemah kehilangan keseimbangan saat melangkah dan jatuh terjerembab ke tanah. 

Di lain tempat, ahli Kasta Emas kedua melesat ke kiri, sementara ahli Kasta Emas ketiga merangsek ke kanan. Dalam satu sapuan gerakan nan ringan nanmun penuh tenaga, sepuluh gadis belia terpental. Kesemuanya kini terkumpul di tengah wilayah terbuka di mana terdapat bekas pakaian dan rambut yang berserakan. Anehnya, meski terdapat sepuluh gadis belia, wajah dan tubuh mereka hanya terdapat dua sahaja.

“Sirih Reka Tubuh…?”

“Sebutkan jati diri kalian!” 

Ahli Kasta Emas pertama kembali, meninggalkan lelaki tua nan renta yang terlihat sangat kesulitan untuk bangkit berdiri. Jelas baginya bahwa orang tua renta tersebut bukanlah siapa-siapa. Walau, pertanyaan tentang bagaimana dia dapat menyadap jalinan mata hati ahli Kasta Emas masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Mengenyampingkan hal tersebut, ahli Kasta Emas pertama mengeluarkan sebuah botol kaca berukuran kecil berisi ramuan, dan melemparkannya ke tengah-tengah para gadis belia yang berkumpul. Ledakan kecil tercipta, dan asap tipis mengemuka. Segera setelah itu pula, reka tubuh yang tercipta dari Sirih Reka Tubuh luluh ke tanah. 

“Siapa kalian!? Aku adalah Citra Pitaloka, Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan!” 

Lampir Marapi bersiaga. Ia membalik kitab tebal yang disangga menggunakan lengan, dan membuka halaman ketiga. Sejauh ini, hanya empat halaman pada senjata pusaka tersebut yang dapat ia manfaatkan untuk menyimpan jurus unsur kesaktian pemberian dari ahli lain.

Meski wajah tertutup tudung jubah yang menyembunyikan raut wajah, gerak tubuh ketiga ahli tiada dapat mengelabui. Sungguh mereka tersentak kaget, dan kini berada dalam keadaan terjepit. Nama Citra Pitaloka sangat terkenal sebagai Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan sekaligus salah satu Putri Perguruan di Sanggar Sarana Sakti. Gadis belia tersebut dapat membongkar kedok mereka, sekaligus rencana yang telah dijalankan tengan tekun selama beberapa ratus tahun tahun terakhir. Ketiga ahli Kasta Emas berpikiran senada, dan tak ada pilihan lain bagi mereka. Karena statusnya itu, gadis belia tersebut terlalu berbahaya sehingga harus disingkirkan sesegera mungkin! 

Ketiga ahli Kasta Emas merangsek maju secara bersama-sama. Dengan hawa membunuh nan melambung tinggi, mereka hendak mencabut nyawa. Sungguh pemandangan langka, di mana ahli Kasta Emas tampil lepas kendali di hadapan ahli Kasta Perak. 

Tembok tanah, ledakan api, kilatan petir, hembusan angin, kilatan petir… secara beruntun melesat keluar dari Kitab Kosong Melompong. Menyadari bahwa mereka terlalu gegabah menghadapi tiga ahli Kasta Emas secara bersamaan, Lampir Marapi berupaya sekeras mungkin untuk menghentikan langkah lawan. 

Akan tetapi, sungguh upaya yang sia-sia. Semua serangan yang dilepaskan ditepis dengan mudahnya. Paling-paling upaya gadis belia tersebut hanya menghambat laju serangan beberapa kedip mata sahaja. Di saat itu, Citra Pitaloka telah mengenakan pakaian tempur khas buatan Sanggar Sarana Sakti. Bentuknya sedikit berbeda, kemungkinan besar merupakan versi terbaru. Kendatipun demikian, berhadapan dengan tiga ahli Kasta Emas secara bersamaan, Citra Pitaloka menyadari bahwa peluang bertahan sangatlah kecil adanya. 

“Blar!” 

Citra Pitaloka membentengi serangan unsur api yang membakar perkasa memanfaatkan tubuhnya. Baik dirinya maupun Lampir Marapi terpental mundur. Berkat pakaian tempur yang melindungi, kedua gadis belia selamat dari kemungkinan terbakar hidup-hidup. Kendatipun demikian, tebasan unsur kesaktian angin menyusul, dan menyayat tajam ibarat pedang-pedang yang beterbangan pesat! 

Dalam sekedip mata Citra Pitaloka telah berganti pelindung. Ia menepis satu persatu tebasan angin menggunakan kedua lengan yang dilindungi oleh sepasang tameng berbentuk lonjong dan terbuat dari tempurung sejenis binatang siluman penyu. Setiap satu tebasan, selangkah mundur ia terdorong. Gadis belia ini memang terkenal piawai dalam hal bertahan dengan memanfaatkan berbagai alat terbaik dari Sanggar Sarana Sakti. 

Kendatipun demikian, kecanggihan berbagai perisai atau tameng yang gadis belia tersebut miliki, tentu ada batas dalam penggunaannya. Dalam hal ini, batasan tersebut sekaligus merupakan jurang pemisah kekuatan yang teramat lebar antara ahli Kasta Emas dengan ahli Kasta Perak. Darah mengalir di sudut bibir Citra Pitaloka karena sebagian hentakan serangan ahli Kasta Emas tiada dapat ditepis pergi. 

Cambuk air melecut deras dari arah depan. Lampir Marapi kembali beraksi memanfaatkan senjata pusakanya. Telah terpasang tembok tanah guna membiaskan serangan unsur kesaktian air. Akan tetapi, begitu serangan tersebut berhasil dialihkan, api dan angin kembali dikerahkan untuk mengincar nyawa! 

“Swush!” 

Kabut tipis turun, dan serta merta melingkupi wilayah. Bak tersengat kilat ringan, gerakan mengejar dan melepaskan jurus oleh ketiga ahli Kasta Emas terhenti sejenak! 

Berkat celah waktu yang tercipta, Citra Pitaloka kembali berganti perisai yang ia kenakan. Untuk lebih tepatnya bukan perisai, karena di kedua kakinya nan jenjang telah terpasang semacam kaos kaki panjang yang terbuat dari kulit binatang siluman pelanduk. Begitu pula dengan Lampir marapi, yang telah terlebih dahulu mengenakan kaos kaki yang menutup sampai sedikit di atas lutut. Warnanya saja yang berbeda dengan milik Citra Pitaloka, lebih kekinian dengan nuansa merah muda! 

Tak ayal, kaos kaki panjang yang dikenakan bermanfaat untuk menambah kecepatan langkah secara signifikan. Memanfaatkan celah waktu yang terciptam kedua gadis belia melesat melarikan diri! 

Menanggapi tindakan yang diambil sasaran, ketiga ahli Kasta Emas berpencar. Satu menyusul ketat di belakang dan satu mengudara. Sementara itu, ahli ketiga mencari jejak perapal jurus unsur kesaktian kabut yang berlindung sambil mendukung kedua rekannya dari balik bayang-bayang pepohonan. 


===


Bintang Tenggara menyipitkan mata. Di hadapannya adalah pasukan dalam jumlah besar nan berbaris rapi. Di bawah panji-panji kebesaran Kemaharajaan Cahaya Gemilang, ia melihat dua ahli yang menunggang kuda. Semakin mendekat, semakin jelas terlihat. Salah satunya merupakan seorang remaja berambut lurus panjang dan berwajah tampan. Bintang Tenggara mengenal tokoh tersebut…

“Wara, sepertinya kita harus segera angkat kaki…” Firasat buruk Bintang Tenggara semakin menjadi.

“Mengapa…? Kita belum mengucapkan salam,” tanggap Balaputera Prameswara ringan. “Adalah adab yang baik menyapa pasukan dari kemaharajaan sahabat.” 

“Di sana, menunggung di atas salah seekor kuda adalah Martakusuma…” 

Balaputera Prameswara menoleh lantas menatap dalam kepada Bintang Tenggara. Raut wajahnya mencerminkan ketidakpercayaan. “Apakah dikau berpandangan bahwa Martakusuma menyimpan dendam…? Tidak. Tak mungkin… Perselisihan di dalam perguruan selayaknya diselesaikan di dalam perguruan pula.”

Bintang Tenggara tiada bergeming, ia masih menatap lurus ke hadapan. Di dalam benak, ia berpandangan bahwa kejadian pengerahan bala tentara bukanlah sebuah kebetulan semata. Dirinya mempermalukan Martakusuma yang diketahui sebagai putra seorang tumenggung di hadapan khalayak perguruan. Kedua, tentu Martakusuma mengetahui bahwa saat ini dirinya dan Wara sedang berada di luar perguruan sehingga tercipta sebuah kesempatan membalas dendam. Walau, sungguh aneh karena Martakusuma sampai mengerahkan sedemikian banyak jumlah prajurit. 

Tetiba, Bintang Tenggara menyaksikan pergerakan tak lazim yang diambil oleh rombongan bala tentara di hadapan.

“Hm… Mengapakah mereka berlari ke arah kita…?” Balaputera Prameswara menoleh, menyipitkan mata dan mengangkat telapak tangan, lalu menepelkan sisi jemari telunjuk pada permukaan kening. Ia terlihat seolah sedang mengenakan topi. 

“Sepertinya kita telah menarik perhatian meraka...” Bintang Tenggara melangkah mundur, “Sudah waktunya kita meninggalkan tempat ini.” 

“Baik, wahai Yang Mulia Yuvaraja!” Akhirnya, balaputera Prameswara menyadari akan ancaman nyata yang sedang menerjang ke arah mereka. Ribuan jumlahnya!



Catatan:

(1) Belau Mala merupakan nama mummi yang terdapat di Suku Moni di Papua. Belau Mala diawetkan dengan cara melumuri minyak babi pada sekujur tubuh jenazahnya.