Episode 106 - I Am Obsidus



Malam hari di katedral Eleantra.

“Orang-orang kegelapan bersembunyi di tempat terang.” kata Hunter No. 51 sembari mengeluarkan Rapier berujung runcing dari bahan logam khusus yang terlihat semakin terang dalam kegelapan. 

Hunter itu tersenyum, senyumnya terlihat sekali bahwa ia merasa sudah diatas angin.

“Kegelapan melawan cahaya... Huh...” Velizar menghela nafas. “Lebih baik kita pergi saja.”

“Pergi bagaimana?!” Ikzen membalas dengan kesal sambil terus fokus menyembuhkan Nicholas meskipun jantungnya berdetak kencang. “Kau tidak lihat? Nicholas dan Lyanna terluka parah begini loh!”

“Velizar,” sahut Clow yang pelan-pelan melangkah mundur. “Kau kan bisa menghilangkan kemampuan aura orang lain, pakailah! Kemampuanmu itu.” 

“Huh dasar...” Velizar terlihat malas meladeninya. Ia melangkah maju dan tangannya siap menggenggam tuas pedangnya. “Nicholas, cepat berdiri... tadi... kau bilang katanya tak akan kalah lagi...”

“Ugh... Brengsek!” mendengar kalimat yang dilontarkan Velizar barusan membuat hati Nicholas terusik dan terus memaksakan diri untuk bangkit.

Sebelum dihampiri Hunter itu, Velizar bergerak cepat dan begitu sudah dekat dengan Hunter itu, kedua pedang mereka beradu.

Baru di saat bertarung dengan lawan yang jauh... jauh lebih kuat, wajah Velizar menampakan senyum lebar, mata terbuka penuh antusias untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama ia menunjukkan emosi.

“Biasanya aku selalu menghindari lawan sepertimu,” kata Velizar sembari saling berhadapan dengan lawannya, seorang Hunter yang di sarankan untuk dihindari.

“Kau tidak benar-benar berpikir untuk bisa menangkan?” balas Hunter No.51 itu dengan senyum antusias yang setara dengan elemen cahaya yang masih aktif melapisi senjatanya.

Velizar hanya tersenyum semangat, tatapannya bengis ia tidak membalas pertanyaan dari lawannya dan fokus menyerang lawan bertubi-tubi dengan alunan pedangnya.

“Hei, kamu masih penuh luka gitu Nicholas!” Ikzen memperingati. “Kau tidak berpikir untuk melawannya kan?”

“Benar,” sambung Clow. “Sebaiknya kita kabur sa-”

“BEEEERISIK !!” bentak Nicholas sembari dengan tertatih-tatih berdiri. 

“Kalian yang lemah mundur saja!” Nicholas mengibas tangan dan dengan berjalan tegap, meski memaksakan diri... ia maju melangkah untuk bertarung. “Duduk manis saja di belakang sana dan lihat!”

Nicholas mengucapkan kalimat berikutnya dengan lantang. “Karena aku Obsidus! Aku tidak akan kalah!”

Clow meremas tangannya kuat-kuat, mukanya merah dan ingin sekali ia balas memarahi pria di depannya itu. ‘Ugh kesel, kesel, kesel! Dia memang kuat dan ganteng sih... tapi kata-katanya itu loh... selalu menyakitkan! Kesel!’ pikirnya dengan perasaan jengkel.

Tak menghiraukan Clow. Ikzen langsung beralih fokus ke Lyanna. Pertama ia menyeretnya ke balik Altar untuk menyembunyikannya dan fokus pada kesembuhan Lyanna.

Selagi Nicholas berjalan dengan penuh luka, ia mendapati Velizar dan lawannya itu sudah bergerak kesana kemari dengan kecepatan tinggi untuk saling menghentakkan senjata mereka satu sama lain.

Bunyi suara dentingan pedang terjadi setiap detiknya, Nicholas hanya bisa memegangi pundaknya dengan tangan kanan dan tubuh yang penuh luka banting akibat pertarungan sebelumnya. Ia menarik nafas panjang-panjang, memejamkan mata sembari meneguhkan diri untuk masuk ke dalam pertempuran.

“Wow, aku salut... tanpa disokong elemen, kau tetap bisa mengimbangi kecepatanku.” kata Hunter No. 51 di saat sedang beradu pedang dengan Velizar, wajah kagetnya lebih terlihat seperti sedang merendahkan lawan.

‘Hah... hah... tapi bebannya sangat berat buat tubuh.’ Pikir Velizar.

Ia terlihat berkeringat di wajahnya, otot-otot tangannya juga mulai keram karena ia jarang melatih tubuhnya. Semakin lama semakin sakit dirasakannya. 

Meski begitu selagi bertarung, Velizar tetap memikirkan langkah berikutnya. Lalu saat dentingan pedang ke-12, Velizar melompat ke tanah sambil meng-cast sihir kegelapan melalui tangan kirinya di saat ia menjatuhkan badannya. 

“Blind...”

Mata Hunter itu tertutup kabut hitam yang di hempas Velizar dari sisi bawahnya dan seketika lawannya kehilangan penglihatan hingga serangan yang dilontarkan hanya mengenai angin saja. 

Sementara Velizar menahan tubuhnya dengan satu tangan, mendorongnya ke atas dan menundukkan badannya untuk menebas secara diagonal badan lawannya.

“Ughh!!?” Hunter No.51 langsung terpukul mundur dan reflek memegangi perutnya.

‘Beruntung dia tidak mengenakan armor.’ pikir Velizar pada posisi tangan sedang menebas.

“Grr...” Hunter No.51 geram dan menghembuskan nafas. “Kau pikir ini sudah cukup?!” 

“Flashbang !!”

Ledakkan sihir cahaya yang berlangsung sekejap namun sanggup membuat Velizar terpaksa memejamkan mata untuk beberapa detik.

“Sial!” selagi mengucek matanya, Velizar tahu ia saat ini sedang tak berdaya.

Lalu Velizar di tendang kuat-kuat perutnya oleh lawannya dan terhempas sampai tubuh dan kepalanyanya terseret-seret lantai batu katedral itu.

“Ohog! Ohog! OHOGGG !!” Velizar memegangi perutnya yang terasa mual sekali sampai sampai ia memuntahkan air liur di mulutnya. ‘Memang sangat susah. Sebab dari awal... aku tidak pernah berpikir akan menang melawannya.’ pikirnya

“Hmm... kalau kau lawan sungguhan, pasti sudah kutikam tepat di dadamu.” kata Hunter No.51 itu sambil tersenyum merendahkan Velizar yang sudah dikalahkannya. “Sekarang...”

Tiba-tiba deru angin kencang menghempas dari depan sang Hunter. Rupanya Nicholas siap untuk menghadapinya seorang diri saja. Tatapannya tajam, meski dirinya tidak dalam kondisi prima.

“Lawanmu yang sebenarnya ada disini!” Nicholas menyahuti lawannya dengan nada tinggi.

***

Di saat yang sama, di tempat Alzen bertarung kini sudah dipenuhi gas berwarna ungu. Gas itu terus diedarkan melalui monster yang berdiri di belakangnya. Yang berada dalam jangkaun gas itu akan dibuat mengantuk dan tertidur seketika. Warna ungunya semakin lama semakin pekat dan semakin sulit untuk dilihat.

“Hei jangan terlalu banyak, kami juga bisa menghirup gasmu nanti.” kata Hunter No.32

“Heh... mereka pasti juga langsung tertidur.” balas Hunter No. 54 sambil terus memberikan aura depresi pada mereka.

“Kita melawan 4 peserta turnamen dan dua diantaranya Top 3 angkatan tahun 1901. Aku penasaran dengan apa yang mereka bisa lakukan.” 

Namun tiba-tiba dalam pekatnya gas ungu itu, tembakan air keluar menembus dari dalam area gas ungu tersebut dan tepat mengenai wajah Hunter No.54 hingga ia pun tertidur pulas karena air itu sudah terkontaminasi gasnya.

“...!!?” Hunter No.32 terkejut melihat rekannya langsung terkapar tidur dengan pulas. 

“Luar biasa...” Hunter No. 27 bertepuk tangan.

Tak lama setelah itu, salah seorang di dalam gas itu meneriakkan...

“Tornado !!”

Pusaran angin di tempat Leena ditahan mulai berputar kencang dan semakin meninggi hingga secara spiral gas itu ikut dalam pusaran angin tornado tersebut dan udaranya terus menyebar ke segala arah namun tak satupun menyentuh pusat tornado itu yaitu Sever dari Ventus.

Setelah pusaran tornado itu perlahan menghilang, berdiri Alzen, Sever dan Chandra dengan Sever berdiri di tengah menghadap langsung 3 orang Hunter di depannya.

Setelah melihat itu, Hunter No. 27 terus bertepuk tangan hingga lebih keras lagi. “Sungguh kerjasama yang luar biasa...”

***

Kembali ke beberapa saat lalu... yang terjadi di dalam sana.

“Gasnya!? Gasnya mulai menyebar kemari?!” Chandra berteriak panik.

Sever melangkah maju, mengeluarkan pedangnya dan meng-cast sihir angin di tangan kirinya, lalu melapisi sihirnya ke dalam pedang kemudian ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan ia kibaskan secara vertikal. 

“Wind Barrier !!”

Pusaran angin berputar secara melengkung di depannya dan mengubah arah gas yang mendekati mereka itu ke kiri dan kanan hingga tak sampai pada mereka.

Dan semuanya itu ia lakukan dalam kondisi tertekan oleh Aura Depresi dari sang Hunter.

“Alzen,” kata Sever dengan gemetar dan takut. “Kita merasa ketakutan begini pasti disebabkan salah satu dari mereka.”

Alzen mengangguk, dengan susah payah ia menjatuhkan tasnya dan segera mengeluarkan air dari dalam kantung air di tasnya. Tekanan air yang cukup kuat mampu mementalkan tutupnya dan segera digunakan Alzen untuk menggunakan sihir air.

Dengan waktu yang sangat singkat Alzen menganalisa orang yang mungkin jadi penyebab aura depresi ini dan ia bertaruh pada Hunter yang berdiri di posisi paling kiri berdasarkan sudut pandang Alzen. 

Lalu ia bidik dengan fokus dan segera menembakkan air itu hingga tepat mengenai mulut Hunter No. 54. Benar, setelahnya rasa depresi itu berhenti... malah perlahan mereka merasa begitu bersemangat seperti terlepas dari beban yang berat.

Setelah Hunter No. 54 tertidur, Sever meningkatkan sihirnya kembali dan merubah Wind Barrier itu hingga menjadi...

“Tornado !!” 

Sampai akhirnya mereka berhasil terbebas dari Sleep Pollen milik Hunter No.27.

***

“Memang layak menjadi Top 3,” kata Hunter No. 27.

Tak lengah oleh pujian, Alzen dengan tatapan serius, membungkukan badannya...

“Dual Lightning Pierce !!”

Menembakkan listrik lurus dengan kedua tangan mengarah ke mereka berdua sekaligus.

Hunter No. 32 segera menghentakkan kaki kananya ke tanah, seketika tembok tanah muncul di depan kedua Hunter itu, sehingga serangan Alzen tertahan oleh tembok itu.

Lalu Chandra menarik nafas kuat-kuat dan meninju ke depan...

“Splash Fire !!”

Mengeluarkan semburan api yang melebar dari kepalan tangannya ke depan, sampai-sampai membakar tembok yang melindungi lawannya. 

Meski serangannya tertahan, dari serangan itu tercipta asap yang cukup tebal, yang dimanfaatkan oleh mereka untuk melarikan diri.

***

“Lawanmu yang sebenarnya ada disini!”

"Shadow Tail – Nine Tentacle Smash !!"

Tentakel keluar dari punggung Nicholas dan segera menerjal ke arah Hunter No.51 untuk mencambuknya kuat-kuat.

Begitu tentakel itu mendekati lawan, Hunter No.51 segera memotongnya dengan rapiernya yang bercahaya.

“Grr...” Nicholas mengepal tangannya dengan geram hingga mengkertakan giginya

Tak berhenti sampai disitu, Nicholas mengarahkan tangannya ke depan dan...

“Dark Force !!”

Sebuah tekanan kuat menerpa lawannya 

Tidak habis akal, Hunter No.51 Meng-cast sebuah sihir...

“Divine Barrier !!”

Sebuah Barrier berwarna putih berkilau emas melindungi sisi depan Hunter secara melengkung.

“GRAAA !! BLAAAACKK BURRRRN !!” 

Dalam skala besar Nicholas menyemburkan api hitam secara terus menerus untuk menyerang lawannya. Tak peduli lagi jika serangan itu akan membunuh lawannya atau tidak.

Penggunaan Aura yang digunakan melebihi batas beban tubuh yang bisa ia tanggung saat dalam kondisi terluka seperti ini, ia pun hilang keseimbangan dan tertunduk dengan nyeri tubuh yang luar biasa.

“Hah... Hah...” Nicholas berkeringat dan terluka ia benar-benar melebih batasnya. ‘Brengsek! Biar bagaimanapun aku tak akan kalah darinya!’ pikir Nicholas.

“Heh... Gila! Dasar anak muda, terlalu sering memaksakan diri.” kata Hunter No.51 sambil berjalan menghampirinya. “Apa kau tidak tahu ya kalau elemen cahaya akan 2 sampai 3 kali lebih kuat jika melawan elemen kegelapan seperti kalian ini.”

“Hah... hah... diam kau sialan!” Nicholas berusaha bangkit.

Hunter No.51 terus menghampirinya dan ia sudah berdiri di depan Nicholas yang tertunduk.

“Kau Obsidus kan? Kalian memang terkenal keangkuhannya. Beruntung aku tidak pernah satu angkatan dengan keluarga sombong seperti kalian.” kata Hunter No.51 sembari menurunkan mental Nicholas dan bicara berhadap-hadapan. “Apa Obsidus yang angkuh itu lupa, bahwa kegelapan tidak akan bisa menang melawan cahaya.” 

***

Di pinggir luar kota Evania.

“Lalu ini bagaimana?” tanya Leena yang masih tersangkut oleh tiang dan tali tambang berlapis Aura yang mengikatnya bersamaan dengan Raven dan Oren.

“Kita melarikan diri dengan kompak melangkahkan kaki ke tujuan yang sama.” kata Raven yang kewalahan menyesuaikan langkah kaki dengan Leena, selagi terikat bareng di tiang yang sama, namun arahnya berbeda.

“Iya...” sahut Oren. “Meski caranya aneh banget!”

“Haha... maaf, maaf.” Alzen menggaruk-garuk kepala dan merasa tak enak. “Habis, begitu mau kubebaskan... talinya tidak bisa di lepas atau di hancurkan, tak terpikir cara lain selain merusak bagian bawah tiangnya.”

Bagian bawah tiang itu bekas terbakar dan terpotong, Alzen membakarnya dan Sever memotongnya agar prosesnya berlangsung sesingkat mungkin.

“Hah... hah... ajaib loh...” kata Chandra dengan nafas tersengal-sengal. “Kita bisa lolos dari 3 hunter.”

“Aku yakin betul mereka masih belum serius 100 persen,” kata Sever yang duduk berbaring di atas tanah dengan nafas yang lelah dan tubuhnya basah berkeringat. “Bisa jadi yang barusan cuma mengetes kita sedikit demi sedikit. Kalau bisa aku tak mau bertemu mereka lagi. Nomor berapa mereka tadi? Hah... hah... hah...”

“54, 32 dan 27.” jawab Chandra. “Aku jadi alergi nomor itu.”

“Ahh begini saja!” Alzen baru terpikir ide. “Tahan ya... agak panas dikit rasanya.”

Ia berjalan ke belakang mereka bertiga, menempelkan tangannya ke sisi bawah tiang kayu dan membakar habis tiang kayunya, namun sama sekali tidak merusak tali tambang yang dilapisi Energy Aura itu.

Mereka bertiga terlepas satu sama lain namun tangannya masih terikat di belakang pinggang mereka.

“Hah... meskipun belum terlepas, tapi begini sedikit lebih baik.” kata Leena, kemudian ia berbalik dan tersenyum di depan kekasihnya. “Terima kasih Alzen.”

Wajah Alzen memerah sesaat dan ia dengan canggung membalas dengan menganggukan kepala.

“Si Vander itu melapisi tali dengan aura yang kuat.” kata Raven. “Tapi setidaknya kita sudah lolos darinya.”

“Aduh tanganku keram!” keluh Oren. “Kapan sih tali ini bisa copot! Keram! Keram! Keram!”

“Aku akan pikirkan caranya,” jawab Alzen. “Tapi sebelum Hunter yang tadi atau Hunter yang lain mengejar kita. Sebaiknya kita segera kembali ke Calya Utara dan berkumpul dengan anak-anak lebih dahulu.”

***

18.34 Hari Pertama 

Di Wasteland, sebuah tempat luas namun kosong dan hanya berisikan tanah tandus dan kering. Sebuah wilayah yang Luiz temui setelah keluar dari hutan Eleantra.

Luiz bermalam disana, hanya duduk bertiga mengelilingi api unggun, menggunakan tas mereka sebagai bantal untuk tidur, dimana mereka saat ini benar-benar tidur diatas pasir dan tanah kering.

Yang tersisa di party Luiz hanya dirinya yang berbaring menatap bintang di langit malam. Fhonia yang baru siuman, memeluk lutut, tak tahu akan kesulitan apa yang baru saja mereka tempuh selama dirinya tak sadarkan diri dan Cindy yang sedari tadi terlihat selalu menatap ke bawah sambil terus menahan air mata agar ia tak sampai nangis.

Tak satupun dari mereka yang bicara, semuanya sudah lelah dengan banyak yang terjadi beberapa jam terakhir. Selagi mereka beristirahat berbaring diatas pasir tiba-tiba getaran yang seperti gempa mulai terasa hingga membuat mereka terbangun dan fokus pada siluet besar yang mendatangi mereka.

“Akhirnya, ketemu orang lain juga.” kata Bartel yang terluka parah dan penuh darah. “Tolong sembuhkan kami.”

“Aku... tak kuat lagi.” Joran pingsan dan menjatuhkan diri saat itu juga hingga pasir menyembur mereka semua.

“Bartel!? Joran!?” Luiz tak habis pikir.

***