Episode 362 - Tertinggal



Di dalam sebuah Balai Desa nan sederhana, puluhan warga desa terbaring lemah. Suhu tubuh demikian tinggi, sehingga baik tua dan maupun muda hanya tergeletak lemas tiada berdaya. Pada permukaan sekujur tubuh mereka, terdapat bintil-bintil merah berisi nanah, yang menggelembung mirip seperti luka bakar. Gejala ini dikenal dengan nama Cacar Lahar, sebuah penyakit yang ditularkan oleh binatang siluman. Bukan kali pertama wabah seperti ini mendera suatu wilayah pemukiman. 

Di antara mereka, seorang remaja melangkah pelan. Secara perlahan dan penuh kehati-hatian, ia menyuapi sebulir pil ramuan. Dari satu pesakitan ke pesakitan berikutnya, sabar dan penuh dengan perhatian. Habis segenggam pil, Balaputera Prameswara lalu melangkah menuju salah satu sudut Balai Desa. Di sana, duduk bersila dengan konsentrasi tingkat tinggi, adalah saudara sepupunya yang larut dalam kegiatan meracik ramuan. 

Tak tanggung-tanggung, Bintang Tenggara mengerahkan segenap kemampuan dari keterampilan khusus meramu yang dipinjam dari sang Maha maha Tabib Surgawi. Oleh sebab itu, setiap ramuan yang ia hasilnya memiliki taraf kemanjuran setinggi 99%. Langkah ini diambil karena ia hendak menyelesaikan tugas mengobati seisi dusun secepat mungkin, sehingga dapat segera kembali ke perguruan dan melanjutkan kegiatan pengumpulan poin. Selain itu, selain Balaputera Prameswara tak ada ahli lain di dalam desa tersebut, sehingga tak akan mengundang kecurigaan ketika menghasilkan ramuan bertaraf kemanjuran maksimal.

Bintang Tenggara menghela napas panjang sembari menyeka keringat yang mengembun di dahi. Sehari-semalam berlalu, dan ia meramu tanpa henti dengan mengerahkan jalinan mata hati pada tahap yang sangat tinggi. 

“Kakak…,” seorang anak berusia sekira delapan tahun menghampiri. Wajahnya tembam, tubuhnya gembul dan imut. Anak-anak memiliki kemampuan memulihkan diri jauh lebih baik dari orang dewasa. Wajahnya memerah petanda berangsur pulih. 

Bintang Tenggara hanya menatap, tiada memberi jawaban. 

“Apakah Kakak bertemu dengan ayahandaku…? Sepekan yang lalu ia menempuh perjalanan ke Perguruan Budi Daya untuk meminta bantuan…”

“Kuyakin Ayahandamu baik-baik saja dan saat ini sedang mendapat perawatan di perguruan,” sela Balaputera Prameswara yang sigap menghampiri. Ia menyadari bahwa Bintang Tenggara sedang tak berada dalam suasana hati yang baik untuk menanggapi pertanyaan anak-anak. 

Anak kecil tersebut hanya diam, malah terlihat murung. 

“Percayalah…” Balaputera Prameswara menebar senyum. “Dari mana lagi kami memperoleh pengetahuan tentang wabah Cacar Lahar di desa ini bila tak dari ayahandamu. Ia adalah seorang pahlawan!”

Mendengar paparan Balaputera Prameswara, raut wajah anak tersebut berubah cerah. Segera ia kembali ke sisi ibunya yang masih terbaring lemah.

“Kau tak tahu pasti…” tetiba Bintang Tenggara berujar.

“Tentang apa…?”

“Tentang ayah anak itu. Bisa saja ia meninggal dalam perjalanan, atau dimangsa binatang buas,” tanggap Bintang Tenggara dengan nada datar. 

“Lantas, dari mana perguruan memperoleh informasi tentang wabah yang merebak di desa ini…?” 

“Banyak kemungkinannya.”

“Terlepas dari itu, menyembuhkan pesakit bukan sekadar perkara memberi obat manjur. Membangkitkan semangat yang patah juga merupakan bagian dari proses penyembuhan.”

Bintang Tenggara hanya menatap. Meski sangat sulit mengakui, bahwasanya kata-kata Balaputera Prameswara adalah benar adanya. Kata-kata tersebut berasal dari seorang anak yang sepanjang hidupnya merawat sang ibunda yang menderita karena terus-menerus diberi asupan racun. Sangat bermakna dalam, yang tiada dapat disanggah sama sekali. Bintang Tenggara pun menyodorkan ramuan berbentuk pil yang baru saja selesai. “Dengan ini, rampung sudah tugas kita,” ia mengalihkan pembicaraan. “Dalam satu sampai dua hari ke depan, seluruh penduduk di desa ini akan kembali pulih seperti sedia kala.”


Sang mentari menggantung tinggi. Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara bersiap meninggalkan Desa Bojong. Bila tanpa halang rintang, mereka akan tiba kembali di Perguruan Budi Daya jelang malam. Akan tetapi, baru beberapa langkah melewati gerbang desa, terdengar suara memanggil…

“Kakak… Kakak hendak ke mana…?” Anak kecil yang sebelumnya berbincang-bincang dengan Balaputera Prameswara berlari mendekati. Sudah sehat sekali kelihatannya ia. 

“Adik Kecil, tugas kami telah selesai,” sahut Balaputera Prameswara menebar senyum. “Kami harus segera kembali ke perguruan.”

“Kakak… bukankah Perguruan Budi Daya ke arah sana…?” Anak kecil itu menunjuk ke arah yang berlawanan dengan tujuan kedua remaja. 

Balaputera Prameswara bertumpu pada satu lutut, lantas ia menunjuk dengan jemarinya. “Tidak, Adik. Perguruan Budi Daya ke arah sana. Dari arah sana pula kami tiba di desa ini…” 

“Tapi… tapi ayahandaku berangkat ke arah sana…” Anak kecil itu bersikeras. 

“Sudah, jangan diladeni,” gerutu Bintang Tenggara nan berhati dingin. “Dia baru sembuh dari panas tinggi. Gejala linglung seperti itu sudah biasa dialami.” 

Bintang Tenggara meneruskan langkah. Akan tetapi, sampai sepuluh langkah ia menjauh, Balaputera Prameswara tiada kunjung menghampiri. Sebal, anak remaja tersebut menoleh, hanya untuk mendapati bahwa sang saudara sepupu masih berdiri terpaku di tempat. “Hei, Wara! Cepatlah!”

Balaputera Prameswara menoleh, raut wajahnya kusut seperti sedang terjadi pertentangan di dalam batin. Lama ia menatap Bintang Tenggara, kemudian, sempoyongan ia melangkah mundur lalu memutar tubuh. Arahnya, bertolak belakang dengan arah tujuan mereka kembali ke Perguruan Budi Daya! 

“Hei, Wara! Berhenti! Dengarkan titahku!” pekik sang Yuvaraja memanfaatkan jabatannya sebagai Putera Mahkota Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Akan tetapi, tak ada tanggapan dari hambanya. Dari sudut pandang Bintang Tenggara, kejadian ini menjadi kilas balik pada suatu malam di mana Balaputera Prameswara melangkah menuju sumur angker nan tersegel di pekarangan Perguruan Svarnadwipa. Seperti kehilangan kesadaran, dia melangkah tanpa tujuan pasti, bahkan membahayakan diri sendiri. Saat dipertanyakan akan alasan tindakannya saat itu, Balaputra Pramewara pun tiada mengetahui mengapa. (1)

Firasat buruk segera menghinggap di benak Bintang Tenggara. Jalinan petir berderak di kedua kaki, segera ia bergerak menyusul.


===


“Tumenggung Jayakusuma membawa bala tentara sebesar lima ribu prajurit hanya untuk membela martabat Martakusuma yang dikalahkan dalam pertarungan di dalam perguruan. Sungguhpun benar bahwa lawan Martakusuma merupakan bangsawan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, namun hal tersebut bukanlah alasan untuk menabuh genderangan perang.”

Seorang gadis belia nan juita melangkah seorang diri sembari berbicara kepada diri sendiri pula. Ia sangat memahami peta kekuatan di tanah kelahirannya. Kemaharajaan Pasundan sesungguhnya ditopang oleh kota dan kadipaten. Kota dipimpin oleh seorang wedana dan kadipaten dipimpin oleh adipati atau tumenggung. Secara keseluruhan terdapat delapan belas kadipaten dan sembilan kota. 

Para wedana dan tumenggung selain berperan sebagai penguasa wilayah, juga memiliki bala tentara masing-masing. Kegunaan bala tentara antara lain untuk menjaga dan melindungi wilayah, serta sebagai sarana unjuk gigi. Semakin besar bala tentara, maka semakin kuat pula pengaruh seorang wedana atau tumengung di Kemaharajaan Pasundan. Hal ini pula yang membuat Kemaharajaan Pasundan terkenal akan besarnya bala tentara mereka.  

Kendatipun demikian, banyak prajurit bukan berarti tiada menimbulkan permasalahan. Perlu dicermati bahwasanya mempertahankan jumlah bala tentara yang besar, maka berarti kewajiban mengalokasikan anggaran yang besar pula dalam menjaga pangan, sandang dan papan bagi tentara tersebut. Selain itu, prajurit yang berjumlah terlalu banyak di masa damai justru mengalami penurunan kualitas. Mereka tak memiliki pengalaman bertempur yang memadai, serta menjadi malas menempa raga.

Meski tunduk kepada Sri Baduga Maharaja Silih Wawangi, setiap wedana dan tumenggung memiliki kewenangan yang luas di dalam wilayah kekuasaan mereka. Oleh sebab itu, bagi seorang tumenggung mengerahkan bala tentara, ia hanya perlu memberi tahu sang penguasa tanpa kewajiban meminta izin secara langsung.

“Inilah kendala di dalam sistem pemerintahan ini…” Gadis belia nan juita berpikir keras, dan masih berujar kepada diri sendiri. 

“BAA!” Tetiba gadis belia lain muncul dari balik semak belukar. Ia melompat-lompat penuh suka cita. Ceria dan penuh semangat, sungguh anggun pembawaanya. 

“Lampir… Berhentilah bermain-main!” sergah Citra Pitaloka yang tiada terkejut. 

“Mengapa…? Kita layak menikmati perjalanan ini….”

“Kita sepantasnya sudah tiba di Perguruan Budi Daya bila dikau tiada merengek hendak berjalan kaki!” 

“Perjalanan menggunakan gerbang dimensi membuat kepalaku pening.”

“Kau berlari kesana-kemari juga membuat kepalaku pening.” 

“Santailah sedikit, Citra. Di perguruan dikau setiap hari tegang, inilah saatnya melepaskan beban derita perkuliahan.” 

“Kita sedang menjalankan tugas resmi kemaharajaan.”

“Nah, itu dia. Kita akan segera bertemu dengan Kak Bintang… Adiknya Kak Lintang… Hihi…” 

“Bagaimana hubunganmu dengan Lintang Tenggara…?” Citra Pitaloka melirik penuh makna. 

“Huh! Dia kurang serius… Sudah lama tak bertukar kabar!” Lampir Marapi merengut. 

Tanpa disadari, kedua gadis belia sudah memasuki wilayah hutan. Suasana seketika berubah gelap dinaungi pepohonan rimbun nan besar-besar. Citra Pitaloka mempercepat langkah, yang juga diikuti oleh Lampir Marapi. 

“Srak!” 

Tetiba, menyeruak dari balik semak belukar, adalah sosok gadis belia lain lagi. Ia berguling beberapa kali di tanah sebelum berdiri memasang kuda-kuda. Napas terengah dan sekujur tubuh penuh keringat, pada beberapa bagian terlihat luka dan memar. Ia hanya mengenakan selendang tipis yang melilit ketat dari dada sampai ke paha. 

“Embun…?” Citra Pitaloka terkejut. 

“Kak Embun!” Lampir Marapi melompat girang. 

Embun Kahyangan hanya melirik, karena segenap perhatiannya sedang terpusat pada sesuatu di hadapan. “Segera tinggalkan hutan ini!”

“Apa yang terjadi!?”

Tak menanggapi pertanyaan, Embun Kahyangan melesat cepat. Citra Pitaloka dan Lampir Marapi cukup mengenal Embun Kahyangan karena mereka pernah berpetualang dalam satu regu yang sama. Oleh karena itu pula, keduanya mengetahui kemampuan tempur dan pembawaan tanpa basa-basi gadis belia tersebut. Bila kondisi Embun Kahyangan demikian kepayahan, maka kemungkinan besar dia menghadapi lawan yang berat. Tanpa banyak tanya, kedua gadis belia pun menyusul.

“Apakah dikau diserang bandit gunung…?” Setelah melarikan diri cukup jauh, dan tak merasakan adanya pengejaran, ketiga gadis belia mencari tempat beristirahat. Citra Pitaloka pun langsung hendak memastikan. 

“Bukan.”

“Siapa…?”

“Ahli Kasta Emas… Tiga.”

“Tiga ahli Kasta Emas!?” Lampir Marapi, yang tiada dapat mengerahkan tenaga dalam dari mustika di ulu hati, tak menyembunyikan kekagumannya. 

“Atas alasan apa mereka menyerang dikau…?” 

Embun Kahyangan menoleh kepada Citra Pitaloka lantas menggelengkan kepala. “Aku harus kembali ke sana…,” ucapnya.

“Hah!? Kenapa…? Bukankah tadi katanya ada tiga ahli Kasta Emas…?” Lampir Marapi cemas. 

“Teman seperjalananku tertinggal.”


=== 


“Wara! Hei, Wara!” Bintang Tenggara sebal bukan kepalang. Kini, bukannya kembali ke Perguruan Budi Daya, ia malah bermain kucing-kucingan dengan Balaputera Prameswara. Entah mengapa, tokoh tersebut bergerak demikian gesitnya membelah pepohonan di dalam hutan nan lebat. Apakah dia kerasukan…?

Tetiba, tak jauh di hadapan sana, Balaputera Prameswara menghentikan langkah. Bintang Tenggara tiba di sisinya, namun segera bersikap waspada. Kedua anak remaja telah keluar dari wilayah hutan, dan kini berada di bentangan rumput yang terbuka luas. Tak terlalu jauh, terlihat umbul-umbul dan panji-panji yang bergerak perkasa. Di bawahnya, arak-arakan rombongan prajurit mengular hampir tanpa batas. Langkah mereka berderap disiplin, setiap satu prajurit memajang wajah garang.  

“Wara, sebaiknya kita segera menyinggir…,” bisik Bintang Tenggara menyadari bahwa mereka berdiri di jalur yang akan ditempuh oleh rombongan prajurit. 

“Hah!? Di mana ini…?” Balaputera Prameswara terhuyung, mirip sekali dengan seseorang yang baru terbangun dari tidur nan terlalu lama. 

“Sudahlah...” Bintang Tenggara menelan kekesalan. “Kau sudah terlalu banyak membuang waktu sia-sia.”

“Prajurit dari manakah itu…?” Balaputera Prameswara baru menyadari. “Hm… Aku mengenal salah satu umbul-umbul itu… senjata kujang… Mereka adalah bagian dari bala tentara Kemaharajaan Pasundan!”

“Ayo!” Bintang Tenggara memutar tubuh. 

“Sebagai kemenakan dari Panglima Perang di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, adalah kewajiban bagiku menyapa mereka dengan semangat persahabatan!” Balaputera Prameswara berujar polos. 


Catatan: 

(1) Episode 225