Episode 81 - Masalah, Masalah, dan Masalah



Sudah tiga hari turnamen bela diri disiarkan di televisi. Meskipun mendapat jam tayang yang tidak cukup baik, tapi rating yang di dapat tetap baik, bahkan memuaskan. Nuno, pemilik stasiun televisi yang menyiarakan turnamen bela diri, tersenyum bahagia melihat rating yang didapatkan dari program tersebut. Walaupun hadiah dan banyak hal lainnya sangat menguras dompet, tapi iklan yang di dapat dengan mudah mengembalikan modal awalnya.

“Haha, sudah kuduga, ini adalah keputusan yang tepat untuk menyiarkan turnamen bela diri.” Nuno tersenyum lebar seraya menyesuaikan posisi kacamata emasnya.

Para penonton yang tidak berkesempatan untuk hadir di gedung MA juga sangat bahagia dengan penyiaaran turnamen, dengan begitu mereka bisa ikut menikmati kegembiraan.

Di tengah suasana hati bahagia, seorang pria paruh baya di kantor polisi malah mengerutkan dahinya. Dia adalah pemimpin polisi di kota ini, Ferdian, dia juga adalah pecinta bela diri, tapi karena banyaknya kasus di kota belakangan ini, dia tidak punya waktu untuk bergabung dalam kesenangan itu.

“Pemimpin, kami menerima informasi, telah terjadi kasus perampokan lagi, aku yakin ini adalah ulah si bayangan lagi.” Lapor seorang petugas polisi.

“Huh ... kenapa harus saat ini, sih,” gumam Ferdian. “Si sialan itu, apakah ada informasi baru tentang dia?”

Petugas polisi itu memasang wajah bermasalah, “Sebenarnya rumah itu dilengkapi cctv, tapi sama seperti yang sebelumnya, dia sangat cepat, kami tidak bisa mengidentifikasinya.”

“Sialan!” Ferdian berterik.

Sudah beberapa minggu ini terjadi kasus perampokan. Semua rumah yang dirampok adalah rumah pejabat, jadi tekanan yang diberikan atasan pada Ferdian menjadi lebih keras. Dan yang lebih membuat Ferdian kesal adalah, meskipun di semua rumah pejabat itu dilengkapi dengan kamera cctv, tapi semua gambar pencuri itu terlalu singkat, hingga terlihat hanya bayangan saja, maka dari itu dia dijuluki si bayangan.

“Pemimpin...” petugas polisi itu berkata dengan ragu.

“Ada apa?” tanya Ferdian.

“Seperti ini, sebenarnya saat ini banyak keluhan dari masyarakat soal kucing yang mencuri dagangan mereka.” 

“Sialan! ini hanya kucing, kenapa harus sampai melapor ke polisi?” Ferdian meraung.

Melihat Ferdian yang sedang marah membuat petugas polisi itu bermasalah, “Tapi, setiap hari terjadi ratusan pencurian yang dilakukan oleh kucing.”

“Ratusan?”

“I-iya, ratusan.”

“Ya ampun, apa yang terjadi pada dunia ini, bukan hanya manusianya saja yang busuk, bahkan hewannya juga sudah busuk, apakah ini tanda-tanda kiamat.”

“Pemimpin, setahu saya ini tidak termasuk tanda-tanda kiamat.” Petugas polisi itu mengoreksi.

“Sialan! cepat pergi, biarkan aku sendiri dulu.” 

“Ba-baik.” Ucap petugas polisi itu lalu pergi.

Setelah petugas polisi itu keluar, Ferdian mengambil sebuah kertas di atas meja dan membacanya. Ini adalah laporan tentang kasus pelecehan seksual, saat itu terjadi banyak kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para anggota geng, meskipun para anggota geng itu tidak berhasil melakukannya karena ketika mereka ingin melakukan itu, mereka terlebih dahulu dihajar masyarakat di sekitar.

“Sampah! Melakukan pelecehan seksual di tempat umum, apakah moral orang-orang sudah sebusuk ini.” Umpat Ferdian. “Setidaknya lakukan di hotel atau rumahmu.”

Ferdian meletakan kertas ke meja dan memijat daerah antara alisnya. Apa yang membuat dia pusing adalah masalah yang terjadi selanjutnya, di kota ini tak mungkin semuanya putih, harus ada hitam untuk menyeimbangkannya, dan anggota geng itulah elemen hitam tersebut.

Meskipun begitu, mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang terlalu jauh dan masih bisa dikendalikan, dan sekarang setelah mereka semua ditangkap, tidak mungkin mereka akan dilepaskan begitu saja, atau masyarakat akan mempertanyakan hukum di kota ini. 

Akan tetapi, jika elemen hitam ini hilang, kemungkinan ada elemen hitam yang baru lagi, dan Ferdian ragu polisi di kota dini bisa mengendalikan mereka. Terlebih lagi sekarang ada si Iblis Hitam yang meresahkan masyarakat tapi sampai sekarang polisi masih belum dapat menghubungi mereka untuk bernegosiasi. Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan ada si Iblis Hitam lainnya yang akan membuat kota menjadi kacau. Jadi, kondisi saat ini sangat amburadul dan kacau.

“Sial! Yang terjadi terjadilah, punggung tua ini sudah muak dengan dunia yang busuk ini.” Ucap Ferdian lalu menutup matanya, tertidur.

Bang!

Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras, seorang anggota polisi masuk dengan terburu-buru. Ferdian yang baru saja tertidur segera terbangun, dia sangat kesal karena tidurnya diganggu. 

“Sial! Biarkan aku istirahat sebentar!” Ferdian berteriak.

“Tapi...” mendengar teriakan Ferdian, petugas polisi itu langsung canggung, tidak tahu harus melanjutkannya atau pergi.

“Tidak ada tapi-tapian, cepat pergi!” Ferdian meraung seraya membanting telapak tangannya ke meja.

“Ba-baiklah.” Petugas polisi itu keluar dengan kepala tertunduk.

Melihat petugas polisi itu telah keluar, Ferdian mengatur kembali posisinya dan segera memejamkan matanya. Namun, setelah sekian lama dia masih tidak bisa tertidur.

“Sialan!” umpat Ferdian.

Ferdian berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa, mengatur posisi berbaringanya dan segera memejamkan matanya, berharap bisa tertidur. Setelah beberapa saat akhirnya Ferdian bisa tertidur lagi.

Namun, itu tidak berlangsung lama.

Bang!

Pintu ruangan terbuka kembali dengan keras, petugas polisi yang sebelumnya masuk dengan wajah cemas.

“Pemimpin.” 

Mata Ferdian terbuka, sangat jelas dia sedang kesal. “Sialan! cepat keluar, aku mau istirahat!”

“Tapi, ini kasus besar, tidak bisa ditunda.”

“Apa itu? Jika ini hanya kasus sepele, lihat saja, aku akan memberimu hukuman yang tepat.”

Kemudian petugas polisi itu melaporkan kasus yang baru saja terjadi. Setelah Ferdian mendengarkan laporang dari petugas polisi itu, dia segera berdiri dan berjalan dengan mantak keluar.

“Apa lagi yang kau tunggu?” tanya Ferdian ketika melihat petugas polisi itu tidak mengikutinya.

“Ah..”

“Ayo cepat pergi, jangan buang-buang waktu lagi.” Ucap Ferdian lalu kembali berjalan.

Petugas polisi itu mengumpat dalam hatinya, “Kaulah yang menunda-nunda waktu, sialan!”

Ferdian segera memanggil semua petugas polisi dan pergi ke tempat kejadian. Wajahnya sangat suram, akhirnya apa yang dia takuti terjadi juga. 

“Sialan! orang-orang busuk itu, aku pasti akan menangkapnya.”

Di sebuah ruangan, terdapat meja panjang, 10 orang duduk dengan santai di sekitar meja tersebut.

“Kapan kita akan menyerang mereka?” tanya Gino, dia adalah pemimpin geng joker.

“Secepatnya, tapi sebelum itu kita harus merebut senjata dari mawar biru terlebih dulu.” Ucap Rendy, dia adalah pemimpin geng varhala.

“Benar, dengan senjata dari mereka, kita pasti bisa menghancurkan sisa-sisa serigala hitam.” Ucap Volta, dia adalah pemimpin geng taurus.

“Sungguh sebuah keajaiban mereka semua hancur dalam semalam, setelah kita menghancurkan sisa anggota mereka, kita bisa menjadi yang terkuat di kota ini.” Ucap Gino.

“Jangan senang dulu, masih ada si Iblis Hitam, kita tidak boleh lengah.” Ucap Cole, dia adalah pemimpin geng duri.

“Haha, jangan takut, dengan kekuatan dari kita semua, aku yakin si Iblis Hitam pasti akan langsung hancur ketika berhadapan dengan kita.” Ucap Thor, dia adalah pemimpin geng ragnarok.

“Baiklah, lalu bagaimana dengan dana yang kita miliki?” tanya Volta.

“Kita masih belum sepenuhnya bisa mengambil alih jaringan penjualan dan penyelundupan yang mereka miliki, tapi aku sudah melakuan hal yang lain, dan aku yakin ini bisa menghasilkan uang mudah.” Ucap Thor seraya tersenyum.

“Apa itu?”

“Penjualan organ tubuh.” Jawab Thor dengan senyum tipis di wajahnya.

Mereka yang berkumpul di sini adalah para pemimpin geng, tidak seperti geng empat penguasa kota yang memiliki kekuatan dan jumlah anggota yang melimpah, mereka hanya geng tingkat menengah saja. Namun, karena pemimpin geng serigala hitam dan naga emas telah ditahan oleh polisi, geng tanpa pemimpin tersebut menjadi kacau. Sedangkan untuk geng mawar biru, pemimpin mereka juga tiba-tiba menghilang dan berakhir dengan kacau juga. 

Dengan hilangnya tiga kekuatan besar, mereka bersepuluh berkumpul dan menyatukan kekuatan untuk membentuk kekuatan yang baru. Dengan bersatunya kekuatan dari 10 geng, kekuatan yang baru mulai bangkit di kota ini, siap menerkam dan naik ke tingkat tertinggi.

Di tempat lain. seorang pria dengan pakaian hitam sedang berdiri di depan rumah besar. Matanya tajam memandang rumah besar ini. Ini adalah rumah seorang pejabat pemerintahan, akan tetapi karena alasan itulah pria itu datang. Dia adalah si bayangan.

Gerbang besi setinggi dua meter tidak akan bisa menjadi hambatan baginya, dengan ringan si bayangan melompat melewati gerbang rumah itu, langkahnya tidak berhenti, sangat cepat dia berlari menuju pintu rumah, gerakannya seperti angin, sangat cepat. 

Tidak butuh waktu lama akhirnya si bayangan sampai di depan pintu, tentu saja pintu itu terkunci, dan tentu saja dia tidak memiliki kunci rumah tersebut. Namun, tetap saja itu bukanlah sesuatu yang bisa menghalangi langkahnya.

Bam!

Pintu kayu itu langsung hancur berkeping-keping. Kemudian si bayangan masuk ke dalam rumah tersebut, tidak butuh waktu lama si bayangan itu keluar, tentu saja tidak dengan tangan kosong, dia membawa banyak uang dan perhiasan bersamanya. 

Pejabat pemilik rumah tersebut terbangun dari tidurnya karena bunyi pintu yang dihancurkan, akan tetapi dia tiba-tiba mendengar suara angin berhembus dan semua lemari di kamarnya terbuka. Pejabat itu berjalan menuju lemari, berniat untuk menutupnya. Namun, tiba-tiba saja dia menyadari, ternyata kotak perhiasan yang disembunyikan di dalam telah hilang.

Kemudian pejabat itu mengingat sebuah rumor, awalnya dia tidak percaya, tapi akhirnya dia percaya, “Ini pasti ulah si bayangan.”

Sementara itu, di sebuah gang sempit, segerombolan kucing mengeong dengan keras. Tiba-tiba seekor kucing hitam berjalan menuju gerombolan kucing itu. Melihat kucing hitam itu datang, para kucing segera berdiri di samping, membuka jalan untuk si kucing hitam.

Kucing hitam itu melompat dan berdiri di atas tempat sampah. Matanya memandang saudara-saudaranya sesama kucing. 

“Meong.” Kucing hitam itu mengeong.

“Meong.” Gerombolan kucing lainnya mengeong.

“Saudaraku,” ucap si kucing hitam dengan bahasa manusia, “aku yakin kalian memahamiku, mulai saat ini kita akan berdiri dengan kaki kita sendiri, membangun dunia tanpa adanya manusia, kita akan menjadi penguasa dunia.”

“Meong.” Para kucing mengeong dengan keras.

“Percaya padaku dan ikuti langkah kakiku.” Ucap si kucing hitam.

“Meong.” Para kucing mengeong lagi.