Episode 361 - Wabah



“Lepaskan! Lepaskan aku!”

Seorang lelaki dewasa muda yang dibuat bertekuk lutut meronta-ronta, berupaya melepaskan diri. Tapi apa daya, kedua lengannya ditarik ke belakang oleh seutas tali yang mengitari sebatang pohon berukuran sedang. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya yang gemuk bergemetar tiada henti. Meskipun terlihat sangat sehat, anehnya pada sekujur permukaan kulit lelaki tersebut dipenuhi dengan bintik-bintik kecil nan merona merah. 

“Apa yang hendak kalian lakukan!?” Raut wajahnya semakin pucat. Dari perlakuan yang dialami, kecil kemungkinan bahwa perawatan yang akan ia terima.  

Dua ahli melangkah menghampiri dari arah depan. Penampilan mereka senada. Wajah dinaungi jubah longgar nan berwarna kelabu, tiada menampilkan seberkas bagian tubuh yang dapat ditangkap oleh pandangan mata. Salah satunya bergerak semakin dekat, dengan tempo yang sangat lambat ibarat malaikat maut yang datang hendak melahap. Setiap langkah yang ia ambil, mencerminkan semakin dekatnya ajal menjemput. 

“Kalian…” Lelaki dewasa muda nan terikat berupaya mengais sisa-sisa kehidupan yang semakin redup. “Aku tahu bahwa kalian berasal dari Perguruan Budi Daya! Kumohon, bantulah desa kami…” 

Tanpa kata-kata, ahli pertama sudah tiba dan mengangkat lengan. Dari celah jubah, menyeruak keluar jemari nan panjang-panjang yang secepat kilat menangkup batok kepala mangsa. 

“Kalian berasal dari perguruan aliran putih… kumohon… lepaskan aku...,” isaknya dengan segenap tenaga yang tersisa. Suara yang keluar pun hilang dibawa hanyut udara sejuk di bawah naungan pepohonan.  

Jalinan mata hati menebar, dan dalam hitungan detik tubuh lelaki dewasa muda nan gemuk berubah keriput lantas mengering. Sebagai gantinya, kini terlihat gumpalan cairan kental berwarna cokelat melayang di udara. 

Belum sempat tubuh yang sudah tiada bernyawa jatuh ke tanah, ahli kedua melambaikan pergelangan tangan seolah sedang menyentak tali. Jalinan mata hati menebar, dan tubuh kering keriput tercacah, berubah menjadi butiran debu-debu halus. Melayang ringan di dimainkan alunan angin, hanya helai-helai rambut yang tiada dilumat. 

Suasana senyap, yang tersisa hanya pakaian dan rambut yang tergeletak di tanah. Tak jauh dari pakaian tersebut, terlihat berserakan sisa-sisa kain yang dulunya juga kemungkinan besar merupakan bekas pakaian manusia. Ada yang sudah setengah berbaur dengan tanah, ada yang utuh namun kotor, serta ada pula yang masih segar adanya. Tak sulit untuk menyimpulkan bahwasanya kejadian yang baru saja berlangsung, bukanlah kali pertama terjadi di tempat itu. 

Mereka dua ahli saling pandang. Kendatipun tiada pertukaran kata-kata, tatapan mata dan gerak tubuh mengisyaratkan bahwa pekerjaan mereka kali ini rampung sudah. Ahli pertama lantas memutar tubuh sembari menempatkan cairan lemak tubuh manusia ke dalam tabung. Begitu pula dengan rekannya, menyimpan debu-debu dari kulit daging dan tulang ke dalam sebuah buntelan yang terbuat dari kulit.

Keduanya menghilang di balik bayangan lebat pepohonan rindang.


===


Melesat cepat adalah seorang lelaki dewasa muda. Tangkas ia melewati pintu gerbang megah dan besar, melintasi ruang singasana bertakhtakan emas, melalui selasar-selasar yang dihiasi oleh dayang-dayang cantik jelita, lantas tiba di sebuah kebun nan indah. Seorang lelaki dewasa sedang menikmati keindahan pemandangan. Angin mendampingi bunga-bunga mekar yang menari rancak, kicau burung melantunkan tembang penuh semangat kehidupan. 

“Yang Mulia Sri Baduga Maharaja,” lelaki dewasa muda itu menegur kepada sosok yang membelakangi dirinya. “Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti datang menghadap.” 

“Adikku Sangara Santang!” Terdengar sambutan penuh semangat. 

“Ada apakah gerangan, sampai Yang Mulia Sri Baduga Maharaja mengirimkan pesan darurat?”

“Terima kasih atas tanggapan cepat dan kedatangan dikau.” Sri Baduga Maharaja Silih Wawangi menyerahkah selembar surat, raut wajahnya terlihat cemas. Tak hendak berbasa-basi, ia ingin segera masuk ke dalam pokok permasalahan. Sungguh, sesuatu yang darurat sedang bergejolak. 

“Ini….” Sangara Santang membaca cepat. 

“Benar. Surat tersebut datang langsung dari Tumenggung Jayakusuma. Ia sedang mengerahkan pasukan besar.”

Sangara Santang selesai membaca surat di tangan. Namun, sejumlah pertanyaan mencuat di dalam benaknya. “Apakah alasan tindakan Tumenggung Jayakusuma…? Apakah terjadi pemberontakan…? Ataukah ada ancaman dari kerajaan lain…?” 

“Salah satu putra dari Tumenggung Jayakusuma, yang bernama Martakusuma, mengenyam pendidikan di Perguruan Budi Daya. Sebagai Putra Perguruan, ia berniat menindak seorang murid yang berasal dari Perguruan Svarnadwipa. Murid tersebut seringkali merundung murid-murid lain. Akan tetapi…”

“Akan tetapi ia dikalahkan dalam pertarungan,” sahut Sangara Santang yang mulai dapat membaca arah pembicaraan. Di saat yang sama, dari raut wajahnya, ia membaca hal lain yang tak diketahui lawan bicaranya kali ini. Ia mengetahui bahwa saat ini sedang berlangsung ajang pertukaran murid di Perguruan Budi Daya. Oleh sebab itu, terdapat banyak perwakilan dari berbagai perguruan sedang berada di sana.  

Sri Baduga Maharaja Silih Wawangi mengangguk cepat. “Permasalahannya, murid dari Perguruan Svarnadwipa dimaksud merupakan anggota dari Kadatuan Kesembilan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sebagaimana kita ketahui, perkembangan beberapa waktu belakangan ini menempatkan Kadatuan Kesembilan sebagai kekuatan yang berpengaruh amat besar di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

Giliran Sangara Santang yang mengangguk persetujuan. “Sepantasnya, pertikaian di antara murid-murid di dalam perguruan, diselesaikan di dalam perguruan pula,” tanggapnya.

“Sepertinya Tumenggung Jayakusuma terbawa emosi karena merasa putranya dipermalukan. Sedangkan diriku tak hendak perkara sederhana ini memicu peperangan di antara Kemaharajaan Cahaya Gemilang dengan Kemaharajaan Pasundan. Dari segi jumlah pasukan, kita memang lebih unggul. Namun dari segi kekuatan tempur, Kemaharajaan Cahaya Gemilang tiada dapat dipandang sebelah mata.”

“Apakah Yang Mulia Sri Baduga Maharaja tiada dapat menghentikan langkah pasukan Tumenggung Jayakusuma?”

Sri Baduga Maharaja Silih Wawangi menghela napas panjang. “Diriku khawatir bahwa titah akan terlambat tiba, dan Tumenggung Jayakusuma telah bertindak gegabah. Oleh sebab itu, kiranya dapat diriku menugaskan dikau mewakili kemaharajaan. Dikau akan berkunjung langsung ke Perguruan Budi Daya dan menengahi pertikaian ini.” Sang penguasa menyodorkan lencana kebesaran.

“Baik, hamba akan segera berangkat ke Perguruan Budi Daya.”

Akan tetapi, Maha Guru Kesatu Sangara Santang nyatanya tiada langsung mendatangi Perguruan Budi Daya. Usai meninggalkan Istana Utama Kemaharajaan Pasundan, ia mengeluarkan lencana Pasukan Telik Sandi dan menebar mata hati sebagai tindakan mengirimkan pesan. Tak lama, lencana tersebut bergetar ringan, karena masuknya sebuah pesan balasan. Berkat jawaban yang diterima, ia melesat terbang kembali ke Sanggar Sarana Sakti.

“Kalian mendapat tugas…” Sangara Santang mendarat dan berujar cepat. Di hadapannya, dua gadis belia murid Sanggar Sarana Sakti sedang melangkah beriringan. Keduanya sedang dalam perjalanan mengikuti perkuliahan. 

“Salam Hormat Maha Guru Kesatu, kami bersedia menjalankan tugas. Apakah gerangan tugas yang dimaksud…?” Citra Pitaloka, Putri Perguruan sekaligus Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan hendak memastikan. 

“Hore!” tanggap Lampir Marapi penuh suka cita. Diungsikan dari Pulau Dua Pongah di Partai Iblis, gadis belia ini sudah lama bosan bersembunyi di Sanggar Sarana Sakti. Setiap kesempatakan meninggalkan perguruan, ke mana pun itu, memberi semangat baru di dalam hari-harinya.

Sangara Santang menyerahkan lencana Kemaharajaan Pasundan kepada Citra Pitaloka. “Kalian akan bertandang ke Perguruan Budi Daya. Di sana, Bintang Tenggara sedang berbuat ulah.” 


===


Mengenakan jubah, gadis belia itu melangkah gontai. Tatap mata sayu, tak terlihat cahaya kehidupan menerangi. Di belakang, terpisah sekira sepuluh langkah, seorang lelaki jompo dan bongkok tetiba berhenti begitu saja. 

“Kakek Kutu Buku, apakah dikau kelelahan…?” 

Tak terdengar jawaban. Sang kakek hanya diam berdiri di tempat. Tak lama berselang, ia malah melangkah ke lain arah. Gerakannya lambat, terlihat sangat lemah. Sosoknya tetiba menghilang di balik lebat pepohonan.

Embun Kahyangan, menyadari bahwa lelaki tua tersebut kemungkinan sedang terkena serangan penyakit pikun, segera menyusul. Sejak pertemuan mereka di kantor Saudagar Senjata Malin Kumbang di Kota Bengkuang, kedua tokoh berpetualang bersama-sama. Setelah ke Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa, kini keduanya sudah berada di wilayah barat Pulau Jumawa Selatan. Tak lama lagi, mereka akan tiba di tempat tujuan, di mana tokoh yang hendak ditemui berada.

Sungguh keduanya memiliki satu tujuan senada, yaitu menemukan Kitab Kahyangan milik Tirta Kahyangan. Si gadis belia hendak menuntaskan jurus unsur kesaktian Nawa Kabut Kahyangan, sedangkan sang kakek tua renta yang gemar membaca hendak menelusuri kandungan kitab tersebut. Sebagai tambahan, Embun Kahyangan percaya bahwa kakek tua tersebut memiliki pengetahuan maha luas sehingga nanti mampu menunjukkan kitab mana yang asli. Sebagaimana diketahui umum, kitab-kitab di dalam dunia persilatan dan kesaktian tak lepas dari persoalan pemalsuan. Kesalahan dalam mempelajari jurus dapat berdampak fatal, meski dalam latihan sekalipun. 

“Tempat apakah ini…?” Embun Kahyangan tak dapat meredam keheranan. Aura di wilayah tersebut demikian angker, seolah sedang berada di dalam lingkungan pemakaman. 

Gadis belia itu menyapu pandang. Di dalam wilayah nan cukup luas dan terlindung oleh pepohonan lebat, berserakan di permukaan tanah bermacam jenis kain. Dari rupa dan warna, dapat dipastikan kain-kain itu merupakan bekas pakaian manusia. Berdasarkan posisi, tertata sedemikian rupa seolah pernah dikenakan oleh manusia, namun kini pemiliknya lenyap seketika. Hal ini semakin ditegaskan lagi oleh tumpukan rambut yang tersisa.

Tak terpisah jauh, terlihat si kakek tua bergumam kepada diri sendiri. Walau suasana di wilayah itu sepi, hampir tiada terdengar suara yang keluar dari mulutnya. Walau, bila menyimak dengan sangat seksama, maka akan terdengar kata-kata, “Saudagar… Sesat… Jiwa…” (1) 


===


Bintang Tenggara melangkah santai. Sehari sebelumnya, ia telah membungkam seorang kakak kelas sekaligus Putra Perguruan. Bagi anak remaja ini, hal tersebut bukanlah perkasa besar. Di dalam perguruan, sudahlah jamak terjadi perselisihan antar murid. Ia pun beranggapan bahwa persoalan dengan kakak kelas tersebut sudah selesai dengan sendirinya.  

Kala mentari terbit, Bintang Tenggara mendatangi ke-20 murid yang bertugas meramu. Mereka berkelompok dan menyebar di sejumlai balai, dan bersama-sama meracik berbagai jenis ramuan. Sungguh gigih upaya mereka, ibarat para pekerja di pabrik yang mencurahkan segenap perhatian dalam menghasilkan barang. Karena tenggat waktu yang pendek, ketekunan mereka semakin diuji. 

Usai memberi panduan tunjuk ajar dan memeriksa pekerjaan, Bintang Tenggara mengambil dan membawa sejumlah ramuan. Tujuan berikutnya adalah Balai Bakti, di mana ia akan menukar ramuan yang ia racik sendiri serta ramuan racikan murid-murid menjadi sejumlah poin. Jika segala sesuatunya berjalan lancar, maka target poin akan tercapai dalam sisa dua purnama ke depan. 

Di Balai Bakti, Balaputera Prameswara menanti. Ia telah mengambil sejumlah pengumuman permintaan ramuan, untuk nantinya diserahkan kepada pekerja di pabrik ramuan milik Bintang Tenggara. Sungguh, sang pengusaha pabrik ramuan hari ini terlihat segar lagi bugar. Usai menukarkan ramuan, sudut mata Bintang Tenggara menangkap pengumuman baru yang terpampang di papan. Yang paling menarik, adalah jumlah poin yang ditawarkan cukuplah besar! 

“Wabah penyakit cacar merebak di Desa Bojong. Bilamana berhasil meracik ramuan yang dapat menyembuhkan warga, maka akan dianugerahi 10.000 poin.”

Bergerak sigap, Bintang Tenggara menyobek pemberitahuan tersebut dari papan pengumuman. Jumlah poin yang ditawarkan terlalu menggiurkan, sehingga tiada mungkin dilewatkan. Bersama dengan Balaputera Prameswara, ia pun meninggalkan Perguruan Budi Daya.

“Apakah kita akan langsung bertolak ke Desa Bojong…?” Balaputera Prameswara hendak memastikan. 

“Tidak. Terlebih dahulu kita singgah ke Gerai Ramuan di pusat Kota Hujan.”

“Bukankah membeli bahan dasar ramuan ke Gerai Ramuan di kota lebih mahal daripada Balai Ramuan di perguruan…?”

“Benar. Akan tetapi, membeli di dalam perguruan memaksa kita membelanjakan dengan poin, sedangkan membeli di kota menggunakan keping-keping perak. Apakah dikau membawa keping emas…?”

“Iya…” Balaputera Prameswara dapat menebak titah selanjutnya dari sang Yuvaraja. 

“Bagus. Belilah bahan ramuan berikut.” Bintang Tenggara menyerahkan daftar nama ramuan beserta jumlah yang diperlukan. Tentu saja tanpa memberi bekal keping-keping perak apalagi emas. Sebagai bangsawan muda belia nan kaya raya, Balaputera Prameswara sepantasnya memiliki keping-keping emas yang lebih dari cukup untuk menebus bahan dasar ramuan.

Jelang siang, kedua saudara sepupu melangkah masuk ke gerbang desa tujuan. Suasana sunyi dan senyap. Tiada kegiatan penghuni layaknya wilayah pemukiman kebanyakan. Rumah dan gubuk tertutup rapat. 

“Apakah… Tuan Ahli… berasal dari… Perguruan Budi Daya…?” seorang remaja bertanya lemah. Dengan langkah kaki gontai ia datang menghampiri Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara. Wajah, leher, tangan dan kaki remaja itu dipenuhi dengan bintik-bintik berwarna merah.


Catatan:

(1) Episode 20 dan Episode 263