Episode 100 - Duka Sang Bahaduri (3) -- Tamat --


WASIAT IBLIS




Bresss!!! Mega Sari berhasil menancapkan pasak emas di kemaluan Dharmadipa, kemudian… Crasshhh!!! “AAAAAA!!!” Dharmadipa meraung dahsyat ketika Mega Sari berhasil memotong kemaluan Dharmadipa tepat pada bagian yang terdapat jarum emas yang merupakan susuk di tonjolan kemaluan Dharmadipa! 

Darah berwarna hitam yang teramat panas dan busuk langsung memancur dari luka di kemaluan mayat hidup tersebut yang telah dipotong menjadi dua oleh Mega Sari menggunakan pasak emas pusaka keluarga Dharmadipa!

Sungguh ajaib! Perlahan tubuh Dharmadipa langsung perlahan membusuk secara perlahan seperti mayat yang sudah lama dikubur, tetapi dengan seluruh sisa tenaganya Dharmadipa menghantam dada Mega Sari hingga perempuan tersebut mencelat beberapa tombak kebelakang.

Sesudah itu belasan Jin didalam tubuh Dharmadipa nampak berebutan untuk keluar dari tubuh yang mulai membusuk tersebut, karena jika mayat tersebut keburu membusuk tanpa sempat mereka keluar dari dalamnya, mereka akan mati seiring dengan membusuknya tubuh mayat tersebut.

Melihat kesempatan ini, Jaya langsung memanfaatkannya. Dengan seluruh sisa tenaganya dan dibantu oleh kesaktian cincin Kalimasada dan Keris Kyai Segara Geni yang bersinar terang. Ia langsung menerjang dengan jurus “Naga Kepala Seribu Mengamuk” seraya membaca Bismillah terlebih dahulu.

Keris Kyai Segara Geni bagaikan ada seribu langsung menusuk tepat di kening Jin Bagaspati dan kawanan Jin lainnya yang keluar dari dalam tubuh Dharmadipa. Semua jin itu meraung dahsyat kemudian bergulingan di tanah, tubuh mereka pun langsung terbakar oleh api yang keluar dari dalam tubuh mereka sendiri sehingga berubah menjadi abu dan kemudian menghilang secara ghaib untuk selama-lamanya. Sementara mayat Dharmadipa jatuh tergeletak tanpa berkutik lagi, kemudian terus membusuk hingga akhirnya yang tersisa hanyalah tulang belulangnya.

Jaya menghela nafas lega ketika melihat Jin-jin jahat tersebut tewas dan jasad Dharmadipa terus membusuk hingga menjadi tengkorak. Namun perhatiannya langsung beralih pada Mega Sari ketika ia mendengar suara Mega Sari yang mengerang kesakitan diiringi batuk-batuk dan muntah darah. 

Jaya segera berlari menghampiri Mega Sari, kemudian ditaruhnya kepala perempuan yang sedang terluka parah itu dipangkuannya, Jaya pun langsung mengalirkan tenaga dalamnya meskipun ia tahu percuma karena luka Mega Sari teramat parah.

“Adikku bertahanlah!” pintanya sambil terus mengalirkan tenaga dalamnya pada pundak Mega Sari, butiran air matanya langsung lolos ketika melihat Mega nampak sangat kesakitan menahan sakit pada luka luar-dalamnya yang teramat parah, berkali-kali ia batuk dan muntah darah.

“Kakang… Ohekk… Uhuk…” Bisik Mega Sari sambil batuk dan muntah darah. Air matanya langsung mengalir deras ketika melihat wajah kakak kandungnya yang nampak sangat khawatir padanya, terbayanglah peristiwa beberapa tahun yang silam saat mereka memadu kasih layaknya sepasang kekasih, sampai nyaris melakukan perbuatan dosa yang teramat nista di Bukit Panganten. (Baca episode Cermin Noda Gelora)

“Jangan banyak bicara dulu Mega, biar aku alirkan seluruh tenaga dalamku untuk menyembuhkan lukamu!” ujar Jaya yang matanya semakin sembab dan wajahnya basah oleh air matanya sembari memperbesar aliran tenaga dalamnya pada Mega.

“Tidak usah Kakang… Akh… Aku sudah… Tidak… Kuat…” ucap Mega Sari dengan lemas sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. 

“Kakang Jaya Laksana… Ternyata doaku dikabulkan… Sebelum mati… Aku ingin … Bisa melihatmu… Uhukkk…”

Perlahan Jaya memaksakan dirinya untuk tersenyum, digenggamnya tangan Mega Sari yang sudah lemas tak bertenaga tersebut. “Jangan bilang begitu Mega… Aku pasti akan hadir disampingmu di setiap saat kau membutuhkan aku… Dan kau pasti akan kuselamatkan!” 

“Terima kasih Kakang…” Sahut mega Sari sembari menyungingkan senyuman manisnya untuk terakhir kalinya pada pria yang amat ia sayangi dan cintai tersebut. “Ehk… Aku titip Dharma Laksana… Di… Dia… Keponakanmu… Dia dibawa… Oleh… Abah Silah dan… Emak Inah… Tolong cari dia…”

“Baik Adikku… akan kucari dia sampai ke ujung dunia sekalipun…” jawab Jaya dengan suara tersendat yang akhirnya berhenti mengalirkan tenaga dalamnya karena akhirnya ia sadar bahwa perbuatannya itu percuma.

“Sa… Sayangi dia… Anggaplah ia anakmu sendiri… Ehekk… Tolong didik dia… Menjadi seorang manusia… Dan pendekar… Yang berbudi luhur se… Seperti Kakang… Jangan sampai uhuk… Dia seperti aku…” 

“Kamu tidak usah memikirkan itu Mega… Itu sudah kewajibanku sebagai walinya….” jawab Jaya sambil mengusap-usap kepala Mega Sari dengan lembut.

“Ka… Kakang berjanji… Untuk membahagiakan dan mendidik Dharma Laksana? Uhuk…”

“Aku berjanji untuk membahagiakan dan mendidiknya… Insyallah…” jawab Jaya.

“Ka… Kakang berjanji akan menganggapnya sebagai anak kandung… Dan menyanyanginya sampai mati?”

“Aku bersumpah Mega!” tegas Jaya meskipun hatinya semakin sakit melihat Mega Sari yang sedang sakaratul maut. Dia pun tak sanggup lagi menahan debaran didadanya, suara sesegukan mulai terdengar di mulutnya.

“Kang… Bawa aku… Ke jasad Kakang… Dharmadipa!” pinta Mega Sari.

Perlahan Jaya pun menggendong tubuh Mega Sari menuju ke tempat mayat Dharmadipa berada, dengan tenaganya yang terakhir, Mega Sari pun memeluk mayat Dharmadipa yang sudah menjadi tengkorak tersebut dengan susah payah. 

Air mata Mega Sari terus berurai, membasahi wajahnya ketika ia menatap jasad Dharmadipa yang telah menjadi tengkorak tersebut. Ia merasa bahwa hidupnya memang sudah seharusnya berakhir disini, maka kemudian ia teringat pada cerita almarhum gurunya Kyai Pamenang, ketika Resi Bisma Dewabarata meninggal. Ia merasa mengalami hal yang hampir sama dengan sesepuh Hastina Pura dalam kisah pewayangan Mahabarata tersebut.

Perlahan Mega Sari menyeringai penuh selaksa makna. “Tidak sangka, dulu… Aku selalu menangis setiap mendengar cerita tentang gugurnya Resi Bisma… Ternyata aku mengalaminya sendiri… Hampir sama…”

“Kamu juga menanti matahari berada di utara? Atau menanti berakhirnya peperangan antara kebenaran dengan angkara murka?” tanya Jaya dengan pilu.

Perlahan Mega Sari menggelengkan kepalanya. “Bukan… Tetapi menanti saat segala dan semua malapetaka yang diakibatkan oleh polahku yang serakah ini berakhir…”

Bathin Jaya Laksana terguncang hebat, hatinya serasa dikoyak-koyak mendengar penuturan Mega Sari tersebut sehingga ia merasa tak sanggup untuk berkata lagi. Mega Sari kembali berucap dengan menahan sakit disekujur tubuhnya. “Kakang… Semua orang yang kusayangi tewas di Rajamandala ini… Semua orang pejabat dan sesepuh Mega Mendung tewas di tempat ini… Maka aku punya satu permintaan terakhir…”

Dengan segala daya yang ia miliki, sang pendekar yang namanya teramat menggetarkan dunia persilatan ini pun menjawab sambil mengusap kepala adiknya tersebut. “Apa itu adikku?”

“Aku… Sudah tak kuat lagi menahan sakit… Aku sudah tidak tahan… Tolong… Cabut anting emas yang menempel di pusarku… Itu jimat panjang umurku yang diberikan oleh ayah dan ibu…” pinta Mega Sari sembari terus mengerang menahan sakit.

Jaya Laksana pun menyingkapkan pakaian Mega Sari, kemudian sambil membaca Basmalah, ia mencabut sebuah anting emas yang tidak nampak oleh mata orang biasa, yang merupakan jimat panjang umur Mega Sari, sehingga membuat nyawanya tidak dapat terlepas dari tubuhnya. Beberapa detik kemudian, Sang Putri mulai megap-megap, nafasnya tinggal satu dua.

Jaya terkesiap melihatnya, dia pun meminta Mega Sari agar segera mengikuti bimbingannya untuk membaca kalimat syahadat agar Gusti Allah masih bersedia mengampuni segala dosa-dosanya. “Adikku, cepat ikuti aku… Ucapkan kalmat Syahadat!”

Namun Mega Sari menggelengkan kepalanya dengan perlahan, Jaya pun semakin memohon. “Tolong ucapkan adikku! Kalau tidak, cukup sebut nama Allah saja!” pinta Jaya yang bersikeras karena tidak ingin adiknya mati dalam keadaan menderita. Namun Mega Sari tidak sanggup berucap lagi, tiba-tiba matanya melotot seolah melihat sesuatu yang teramat menakutkan! Di pelupuk matanya terbayang penderitaan orang-orang yang telah ia celakai bahkan sampai meregang nyawa! 

Terbayang wajah-wajah semua orang yang sedang meregang nyawanya akibat polah perbuatan Mega Sari yang membabi buta, dimulai dari orang-orang di Desa Ciwaas, mantan suaminya Pangeran Munding Sura, Prabu Karmasura, Patih Balangnipa, hingga semua pejabat Mega Mendung yang menjadi korban keganasan dari Jin Bagaspati yang pada awalnya dikendalikan oleh Mega Sari. Akan tetapi yang paling menyakitkan sekaligus mengerikan yang dilihat oleh Mega Sari pada saat itu adalah bagaimana penderitaan Dharmadipa yang ruhnya tersiksa akibat jasadnya dikendalikan oleh Jin Bagaspati!

Mega Sari semakin tidak kuat menahan sakit yang teramat sangat itu, nyawanya sudah sampai ke pangkal lehernya. Wanita ini mengerang menahan kesakitan yang teramat sangat, nafasnya terasa amat sesak dan memburu hebat, hingga kemudian mulutnya terbuka lebar, lidahnya terjulur keluar, matanya melotot, berbarengan dengan nyawanya yang lepas dari tubuhnya. 

Mega Sari tewas amat mengenaskan dengan mulut menganga dan mata melotot! Jaya pun meraung menangis melihat kematian adik kandungnya tersebut, dia amat menyesal karena gagal membimbing adiknya untuk menyebut nama Allah SWT. Kesedihannya kian melangit tatkala ia tak sanggup untuk menutupkan mata serta mulut jenasah Mega Sari.

Saat itu Panglima Gandawijaya yang terluka amat parah menghampiri Jaya, “Raden, Guru Raden dalam keadaan yang amat gawat!” ucapnya.

“Guru?!” seru Jaya terkaget oleh ucapan pengawal ghaibnya tersebut, seolah baru teringat bahwa keadaan gurunya Kyai Supit pun terluka yang teramat parah. Kemudian ia menengok ke sebelah barat, disana Indra Paksi, Kyai Surakarna beserta murid-muridnya nampak sedang membantu Kyai Supit Pramana yang sedang sekarat dan mendoakan Dewa Pengemis yang telah meninggal beberapa saat lalu oleh hantaman tenaga dalam Dharmadipa yang teramat dahsyat.

Jaya langsung berlari menghampiri tempat dimana mereka berdua tergeletak, beberapa saat ia terdiam membisu menatap jenasah si Dewa Pengemis, orang yang amat ia hormati dan sayangi selain Kyai Supit dan almarhum Kyai Pamenang. Saat itu Kyai Supit dengan amat lemah memanggil Jaya, Jaya langsung menaruh kepala gurunya dalam pangkuannya, dengan susah payah Kyai Supit Pramana mengangkat kepalanya untuk menatap muridnya.

“Guru…” desah Jaya dengan air mata meleleh saat menatap gurunya yang nafasnya tinggal satu dua tersebut.

Dengan tenaganya yang terakhir Kyai Supit tersenyum kepada muridnya kemudian berujar. “Muridku… Ini pesanku yang terakhir untukmu… Jika saja kita gunakan Matahati untuk menatap apa yang terjadi pada diri kita... Sesungguhnya mata telanjang telah mengelabui apa yang tampak terlihat oleh mata itu sendiri, sesungguhnyapun kita semakin kehilangan Nurani dan hampir tak punya apa-apa lagi... Semua ini terjadi karena kita hanya menggunakan mata telanjang kita untuk menatap apa yang terjadi pada diri dan sekitar kita… Semua masalah dan prahara akan selalu disebabkan oleh karena kita tidak melihat dengan menggunakan mata hati yang telah dibutakan oleh nafsu kita…”

“Baik Guru…” Jawab Jaya dengan suara pelan.

Kyai Supit berhenti sebentar untk mengumpulkan daya dan nafasnya yang terakhir, kemudian berujar untuk yang terakhir kalinya. “Muridku… Ingatlah bahwa setiap manusia memanggul takdir dan cobaan yang telah Allah tetapkan semenjak manusia itu masih berada dalam rahim ibunya… namun kau juga harus paham bahwa… Sesungguhnya setiap muslim ditakdirkan untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, juga bagi umat muslim lainnya… Muridku menjadi pemimpin itu tidak selalu harus menjadi seorang raja…”

Jaya hanya mengangguk perlahan sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum, saat itu pul nafas Kyai Supit semakin berat, ia pun berusaha untuk mengucapkan dua kalimat syahadat untuk yang terakhir kali dalam hidupnya, Jaya pun membantu gurunya sampai Sang Kyai berhasil mengucapkannya dan langsung menutup mata untuk selama-lamanya.

Pengelihatan Jaya langsung terasa amat gelap, hatinya membiru, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya air mata dan suara sesegukannya yang terdengar dari dirinya. Teringat ia bagaimana Kyai Supit menggemblengnya selama ini dan Si Dewa Pengemis yang telah banyak membantunya terutama ketika mengalahkan si Topeng Setan.

Jaya menghela nafas berat, sungguh malapetaka Rajapati Mayat Hidup Dharmadipa yang disebabkan oleh dendam adik perempuannya itu memakan korban yang amat banyak, bahkan tiga sesepuh tokoh silat golongan putih seperti Kyai Pamenang, kyai Supit Pramana, dan si Dewa Pengemis pun turut menjadi korbannya.

Setelah beberapa saat akhirnya pun tersadar pada kewajibannya. Ia pun mendoakan jenasah gurunya dan Si Dewa Pengemis. “Kyai Guru Supit Pramana dan Dewa Pengemis… Semoga dosa-dosa kalian diampuni Allah… Dan semoga semua amal ibadahmu diterima Allah…”

“Sekarang… Sebaiknya kita kebumikan para jenasah dengan layak…” ucap Kyai Surakarna. Jaya mengangguk setuju, kemudian seolah baru tersadarkan bahwa disana pun ada Nyai Lakbok guru Mega Sari, ia menengok keadaan si Nenek sakti tokoh golongan hitam tersebut, namun si Nenek pun sudah tewas beberapa saat setelah berbisik pada Mega Sari untuk mencungkil susuk jarum emas di kemaluan Dharmadipa. 

Nyai Lakbok tewas dengan sangat mengenaskan sekali, sekujur tubuhnya hitam gosong dengan menyebarkan bau yang amat busuk, kedua bola matanya pecah dan mulutnya menganga lebar terus mengalirkan darah.

Dengan dibantu Indra Paksi, Kyai Surakarna, beserta para muridnya yang tersisa, Jaya menggali kubur untuk semua korban malam itu juga, sedangkan Panglima Gandawijaya lenyap kembali ke alamnya. Setelah selesai menggali kubur, semua jenasah pun dikebumikan dengan layak di reruntuhan keraton Rajamanadala Mega Mendung tersebut. Meskipun diiringi dengan perasaan pilu yang teramat sangat, pemakaman para korban keganasan para jin jahat yang dipimpin Jin Bagaspati yang menyusup kedalam mayat Dharmadipa tersebut berlangsung khidmat.

***

Setelah berisitirahat dan mengobati luka mereka semua, Jaya dan yang lainnya pun mulai bergerak meninggalkan tempat maut tersebut. Sepanjang perjalanan Jaya lebih banyak diam dan merenungi semua yang telah terjadi dalam hidupnya. 

Meskipun ia dapat dikatakan tidak bersalah, namun entah mengapa ia merasa amat menyesal dan bersalah atas semua peristiwa ini, peristiwa yang bermula oleh perbuatan musyrik berupa perjanjian ayahnya dan adiknya dengan raja Iblis yang bernama “Wasiat Iblis”. Dalam hatinya ia bertekad untuk mengundurkan diri dari jabatannya sesampainya di Surosowan, kemudian hidup menyepi dengan keluarga kecilnya.

Jaya meneruskan perjalanannya dengan Indra Paksi dengan lesu menuju ke Surosowan, hingga tak terasa pada suatu pagi, akhirnya mereka sampai ke Surosowan. Galuh Parwati sambil menggendong putri sulungnya langsung berlari menyambut kedatangan Jaya, begitupun Sekar yang menyambut kepulangan Indra Paksi. 

Saat melihat istri dan putri sulungnya yang masih berusia satu bulan itu menyambutnya, hati Jaya kembali tercerahkan, tiada guna ia terus larut dalam lautan penyesalan, karena ia masih merasa amat bersyukur masih memiliki seorang istri yang amat mencintainya, dan kini ia juga memiliki seorang putri yang cantik jelita. 

Ternyata matahari masih bisa terbit disebelah timur, angin masih bisa bertiup, rembulan dan bintang masih bisa bersinar menggantikan Sang Bagaskara saat malam tiba, bumi dan langit masih selalu memberikan berjuta keindahan panorama yang bisa dinikmati oleh Jaya Laksana. 

Ditambah Galuh Parwati istrinya yang seolah tiada habisnya selalu menghamparkan kesetiannya dan membuatnya tersenyum, belum lagi putri semata wayangnya yang amat lucu menggemaskan. Sungguh semua itu hal yang patut disyukuri oleh Jaya. Perlahan semangatnya untuk meneruskan menghadapi tantangan hidupnya pun kembali bergelora.

Satu tahun kemudian, Jaya menghadap Sultan Banten untuk mengundurkan diri, Sultan Banten pun mengizinkannya untuk mengundurkan diri karena Sultan menganggap setelah semua yang terjadi dan menimpa diri Jaya Laksana, ia sudah bukan lagi ancaman yang kelak akan menikam kejayaan Kesultanan Banten. 

Sementara itu banyak sekali warga Mega Mendung yang mengungsi di Banten, amat kecewa pada keputusan Jaya untuk pergi mengembara, padahal mereka berharap agar Jaya mau memimpin pembangunan kembali negeri Mega Mendung yang hancur lebur oleh mayat hidup Dharmadipa, kemudian menjadi Raja mereka. 

Demikianlah, pada mulanya Jaya tidak tahu bahwa dia adalah putera mahkota negeri Mega Mendung yang berhak atas tahta negeri tersebut, namun ia malah hendak menyerahkannya pada Dharmadipa yang merupakan suami adik kandungnya yang juga mantan kekasihnya. Setelah itu ia dipaksa untuk naik tahta oleh para sesepuh Mega Mendung meskipun ia tidak menghendakinya, namun berkat campur tangan Sultan Banten, Jaya gagal menjadi raja.

Setelah Jaya yang terpaksa menjadi abdi Sultan Banten dan merasa dirinya terjajah, barulah ia bertekad untuk menjadi seorang raja, namun kembali hal tersebut urung terjadi sebab pamannya Arya Bogaseta, bersikeras ia tetap ingin menjadi raja di Mega Mendung sampai negeri itu dihancurkan oleh mayat hidup Dharmadipa. 

Setelah Mega Mendung hancur, seluruh warga Mega Mendung yang tersisa mengungsi ke Banten, menghendaki Jaya untuk menjadi pemimpin dan raja mereka, namun kali ini Jaya menolaknya ia ingin hidup menyepi jauh dari intrik politik karena ia sudah merasa sangat lelah dalam pergulatan politik yang mewarnai seluruh hidupnya. Begitulah, hingga akhirnya ia tidak pernah berjodoh untuk menjadi raja, dan sebagai konsekuensinya, anak cucunya pun tidak akan ada yang menjadi raja atau pemimpin.

Perlahan orang-orang mulai kembali ke wilayah Mega Mendung yang tanahnya terkenal amat subur tersebut, perlahan mereka mulai melupakan petaka yang menimpa negeri tersebut hingga menyebabkan runtuhnya negeri tersebut, sampai akhirnya kisah kekejaman Prabu Kertapati sampai dengan malapetaka yang disebabkan oleh mayat hidup Dharmadipa benar-benar terlupakan, terhapus oleh waktu seiring berbondong-bondongnya orang-orang membuka lahan dan mendiami wilayah Mega Mendung.

Mega Mendung yang tersohor akan kesuburannya mengundang niat dari berbagai negeri pecahan Pajajaran untuk mengusainya. Secara bergantian wilayah tersebut dikuasai oleh Banten dan Sumedanglarang, hingga akhirnya Sumedanglarang dikuasai oleh Kesultanan Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung (sebagaimana diramalkan oleh Prabu Ragamulya Suryakancana), pihak Mataram pun amat bernafsu ingin mengusai Mega Mendung yang teramat subur tersebut. Beberapa kali perang meletus di wilayah Mega Mendung antara Banten dan Mataram untuk memperebutkan wilayah tersebut, sehingga pada akhirnya wilayah tersebut menjadi terpecah-pecah.

Wilayah Mega Mendung pun terbagi dua, sebelah timur dan utara dikuasai oleh Kesultanan Mataram melalui Sumedanglarang sebagai negara bawahannya, dan sebelah barat serta selatan dikuasai oleh Kesultanan Banten. 

Demikianlah, apa yang dicita-citakan oleh mendiang Prabu Kertapati agar Mega Mendung dapat menggantikan kejayaan Pajajaran dengan mengusai seluruh Negeri Pasundan, sekarang malah terpecah-pecah, menjadi wilayah sengketa yang tanahnya menjadi bahan rebutan dari negeri-negeri lain. 

Tak pernah terdengar lagi bagaimana keturunan Prabu Kertapati berusaha untuk membangun kembali negeri tersebut dan mengembalikan kejayaannya, malah nama Mega Mendung perlahan mulai terlupakan, hilang ditelan jaman. Terpecah dan hanya menjadi tiga kadipaten yakni, Kadipaten Tata ukur (kelak menjadi wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat), Kadipaten Cianjur, dan Kadipaten Sukabumi.

Namun itu menjadi cerita lain bagi Jaya Laksana dan keluarganya yang seolah tak mau terlibat lagi dalam intrik politik perebutan kekuasaan. Jaya pun membawa keluarga kecilnya untuk pergi meninggalkan Banten, ia berniat untuk bermukim di Puncak Gunung Tangkuban Perahu di bekas rumah almarhum gurunya, Kyai Supit Pramana. 

Ia juga bertekad untuk menemukan anak Mega Sari sesuai janjinya. Selain itu, satu tugas besar pun masih menantinya, yaitu ia harus mempersiapkan anak cucunya untuk menghadapi malapetaka besar yang disebabkan oleh Bangsa Kebo Bule yang datang dari Negeri Matahari Terbenam.


-Sekian-


Terima kasih sudah mengikuti kisah Wasiat Iblis, sampai jumpa lagi di lain kesempatan :D

“Jika saja kita gunakan Matahati untuk menatap apa yang terjadi pada diri kita... Sesungguhnya mata telanjang telah mengelabui apa yang tampak terlihat oleh mata itu sendiri, sesungguhnyapun kita semakin kehilangan Nurani dan hampir tak punya apa-apa lagi...”


Kita tutup dengan lagu Kantata Takwa dari Grup Band Kantata 


Lailahailallah... Lailahailallah... Lailahailallah...


Malam khusyuk menelan tahajudku

Lidah halilintar menjilat batinku

Mentari dan cakrawala kenyataan hidup

Hanya pada-Mu-lah kekuasaan kekal


Ingatlah Allah yang menciptakan

Allah tempatku berpegang dan bertawakal

Allah Maha Tinggi dan Maha Esa

Allah Maha Lembut


Lindungilah dari ganas dan serakah

Lindungilah aku dari setan kehidupan

Berikan mentari-Mu sinar takwa

Ya, ampunilah dosa!


Gerhana matahari kuasa-Mu

Bumi, langit, manusia ciptaan-Mu

Hari kiamat ada di tangan-Mu

Aku bersujud...


Lailahailallah... Lailahailallah... Lailahailallah...