Episode 360 - Bersujud



Lima belas menit waktu berlalu dan Bintang Tenggara menyelesaikan ramuan Jamu Kunci Sirih. Sungguh perkara mudah bagi anak remaja yang dipinjami keterampilan khusus milik Sang Maha Maha Tabib Surgawi, tokoh yang dikenal paling bijak di antara Sembilan Jenderal Bhayangkara. Namanya harum semerbak, keahlian tiada dapat dikuak. 

Ramuan ini sejatinya sangat baik bilamana dikonsumsi oleh kaum hawa yang sudah memiliki pasangan hidup. Setidaknya terdapat enam manfaat yang dapat dirasa apabila rutin meminumnya, yaitu antara lain mencakup: 

1. Melangsingkan perut. Kecantikan merupakan salah satu daya tarik bagi kaum hawa, sementara itu lemak yang menumpuk di wilayah perut seringkali mudah terbentuk. Walau penampilan bukanlah yang utama di dalam menjalin sebuah hubungan, namun menjaga kesehatan dan merawat diri agar tetap tampil cantik mempesona dapat mencegah pasangan beralih ke lain hati.  

2. Menghilangkan bau badan yang tak sedap. Bagi yang mengalami kendala bau badan tak sedap, dapatlah kiranya menggunakan jamu ini agar bau badan tersebut tak terlalu menganggu. Bau badan yang tak sedap kadang menjadi permasalahan di saat sedang berkumpul dengan sahabat dan kerabat, apalagi di kala bercumbu mesra dengan kekasih hati. Berkat ramuan ini, niscaya rasa percaya diri akan tumbuh dan semakin mesra hubungan adanya.

3. Menguatkan gigi. Jalinan gigi berfungsi untuk menguyah makanan dan juga menunjang penampilan. Gigi yang rapuh tentu tidak sehat dan dikhawatirkan akan berlubang atau tanggal sebelum waktunya. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, maka Jamu Kunci Sirih yang diramu dari bahan-bahan alami dapat bermanfaat dalam merawat gigi. Dengan gigi yang sehat, maka terbentuklah jiwa yang kuat. 

4. Mengecilkan Rahim. Bagi perempuan yang telah melewati masa kehamilan, rahim akan mengencil dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Proses tersebut dapat pula ditunjang dengan meminum Jamu Kunci Sirih secara teratur. Jamu ini berguna membantu mengecilkan rahim kembali ke ukuran normalnya secara alami.

5. Mengatasi keputihan. Salah satu manfaat baik dari Jamu Kunci Sirih adalah untuk mengatasi keputihan pada wilayah intim kaum hawa. Keputihan yang tak ditangani dengan baik akan menimbulkan rasa gatal, sehingga dapat mengganggu aktivitas keseharian. Selain itu, sangat tiada disarankan untuk menggaruk wilayah intim karena dapat menimbulkan luka dan infeksi, serta tak enak bila kegiatan menggaruk dipandang pihak lawan. Minumlah Jamu Kunci Sirih setiap hari niscaya dapat mengobati keputihan, sedangkan meminumkan sepekan sekali dapat mencegah keputihan itu datang. 

6. Merapatkan bagian intim. Yang terakhir ini merupakan manfaat paling utama dari dari Jamu Kunci Sirih. Hubungan dengan kekasih hati akan terasa semakin hangat, bahkan penuh gairah. Selain itu…

“Kakek Gin…” Bintang Tenggara menyela. 

“Ya...?”

“Sepertinya tiada perlu terlampau jauh menguraikan manfaat dan kegunaan dari Jamu Kunci Sirih…”

“Apakah yang dikau maksud, wahai Nak Bintang…? Jamu Kunci Sirih ini berperan sangat besar dalam pertumbuhan keahlian kaum hawa….”

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Daripada berpanjang lebar meladeni tokoh yang satu ini, maka adalah lebih baik mengalah sahaja. Dengan demikian, dapat menghemat waktu dan tenaga daripada terbuang sia-sia. 

“Semakin rapat bagian intim kaum hawa, maka semakin menjepit pula ia. Sensasi yang dirasa akan berkali lipat nikmatnya baik bagi perempuan maupun lelaki yang sedang giat memadu kasih.” Ginseng Perkasa menyelesaikan uraian mendalam tentang manfaat serta kegunaan ramuan Jamu Kunci Sirih.

Di saat yang bersamaan, Bintang Tenggara mendatangi Prasati Uji. Ia sodorkan gumpalan cairan hijau berwujud setengah transparan dan melayang ringan berkat jalinan mata hati. Sebagai catatan, karena kegiatan meramu kali ini adalah simulasi belaka, maka hasil ramuan pun bukan merupakan jamu nan asli. Prasasti uji berderak, dan pada pemukaannya muncul tulisan ‘80%’ lantas ‘80 poin’. Artinya, taraf kemanjuran adalah 80%, sehingga poin yang layak diterima adalah sebesar 80 poin. 

Menyaksikan hasil yang sudah sesuai dengan perkiraan, Bintang Tenggara kembali menempelkan lencana Perguruan Budi Daya miliknya pada permukaan prasasti. Angka poin di balik lencana bertambah, namun sayangnya Prasasti Uji Ramuan Sedang hanya dapat digunakan sekali dalam sehari. Setidaknya masih ada Prasasti Uji Ramuan Ringan dan Ramuan Keras. Bilamana merampungkan tugas dari ketiga Prasasti Uji dengan taraf kemanjuran 80%, maka sehari dapat mendulang 240 poin (40 poin untuk Ramuan Ringan, 80 poin Ramuan Sedang, 120 poin Ramuan Keras.)

Rampungnya kegiatan meramu berjalan tanpa ada yang mencermati, karena perhatian segenap murid di wilayah tersebut sedang teralihkan. Di kala Bintang Tenggara keluar dari halaman Prasasti Uji, kedua matanya pun menangkap Balaputera Prameswara yang jatuh terjerembab. Beberapa bagian wajahnya lebam serta pakaiannya kusut dan kotor. Tak mudah menebak bahwa si saudara sepupu terlibat perkelahian dan dalam keadaan kalah telak. 

Bintang Tenggara bukan tak menyadari perkelahian yang berlangsung di saat dirinya sedang meramu di halaman. Sebaliknya, ia mengetahui betul bahwasanya sang saudara sepupu memang sengaja mencari perkara dan bahwa kemungkinan besar akan dikalahkan. Bintang Tenggara membiarkan saja, karena Wara patut mendapat pelajaran atas sikapnya yang tiada bisa diatur. Di dalam dunia keahlian, latar belakang keluarga dan dukungan ahli lain tiada bermanfaat banyak dalam pertarungan satu lawan satu. Oleh sebab itu, Wara patut menerima pelajaran sekaligus ganjaran atas sikap dan kelakuannya.

“Segel Darah Syailendra…” Raut wajah Balaputera Prameswara dipenuhi amarah. Mulut komat-kamit, ia pun bersiap melancarkan jurus pamungkas. 

Menyaksikan Balaputera Prameswara bersiap merapal formasi Segel Darah Syailendra, Bintang Tenggara terkejut, Ia tiada menyangka bahwa si saudara sepupu telah dapat menguasai jurus tersebut, dan akan pula melepaskannya dalam perkelahian di dalam perguruan. Terlalu gegabah! Sudah waktunya perkelahian tersebut dihentikan.

Berbekal teleportasi jarak dekat, Bintang Tenggara tiba dan seperti biasanya merangkul pundak Balaputera Prameswara. Menekan tubuhnya, lantas ia melotot sebagai isyarat agar tak melanjutkan merapal jurus. Kepada seorang remaja bertubuh tinggi dan tampan du hadapan ia lantas berujar, “Mohon maaf atas kesalahpahaman ini. Ada baiknya untuk tak melanjutkan pertarungan…”

“Kesalahpahaman…? Temanmu sengaja memancing keributan, kemudian ia menyerang Putra Perguruan…” Martakusuma berujar datar sembari membusungkan dada.

“Oleh sebab itu, kami memohon maaf.” Bintang Tenggara menanggapi tenang.

“Hanya karena dia adalah seorang bangsawan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, lantas berpandangan bahwa dapat berlalu sesuka hati di Perguruan Budi Daya. Tentu kalian tahu bahwa ini merupakan wilayah Kemaharajaan Pasundan.”

“Ia telah menerima ganjaran yang setimpal. Oleh sebab itu, mari kita kesampingan kesalahpahaman ini.” 

“Baik, baik. Bila demikian adalah kehendakmu…” Martakusuma menyunggingkan senyum. “Aku bersedia memaafkan bila dia meminta maaf secara langsung...”

Bintang Tenggara mendorong saudara sepupunya maju. 

“Mohon maafkan kesalahan diriku, wahai Kakak Kelas…,” gerutu Balaputera Prameswara. 

“Oh… diriku belum menuntaskan kata-kata…,” raut wajah Martakusuma berseri. “Aku bersedia memaafkan bila dia meminta maaf secara langsung… sambil bersujud di hadapanku.”

Menarik tubuh Balaputera Prameswara yang hendak merangsek berang, Bintang Tenggara maju selangkah. “Meminta maaf atas perkelahian dengan bersujud sungguh sulit diterima nalar. Dia telah meminta maaf, dan oleh sebab itu kami akan undur diri.” 

Demikian, Bintang Tenggara hendak membawa pergi Balaputera Prameswara. Akan tetapi, langkah kaki keduanya dihadang oleh beberapa kakak kelas lain. Mereka mendapat perintah dari Martakusuma, bahkan salah satu dari kakak kelas tersebut hendak merenggut kerah leher pakaian Bintang Tenggara. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting.

Tubuh Bintang Tenggara berbayang. Cengkeraman tangan yang dikira dapat dengan mudah menangkap kerah leher pakaian, luput dari sasaran. Di saat yang bersamaan pula, kakak kelas tersebut roboh di tempat! Tanpa dia sadari, bahwasanya tiga tinju berkecepatan tinggi telah mendarat telak di ulu hatinya.

“Lancang!” Beberapa murid di sisi Martakusuma merangsek maju. Akan tetapi, tiada satu yang dapat menjangkau sasaran yang gerakannya demikian unik. 

Tanpa dinyana, Bintang Tenggara kemudian tiba tepat di hadapan Martakusuma. Terpisah jarak hanya satu jengkal, lawan tiada menyangka bahwa ancaman datang dalam sekelebat mata. Kendatipun demikian, Martakusuma tetap tampil tenang. Tentu ia memiliki cara untuk mengatasi serangan mendadak. 

“Sekali lagi kukatakan, sebaiknya kita lupakan saja kejadian ini.” Bintang Tenggara memberi nasehat.

“Dikau pun telah menyerang seorang kakak kelas…” Martakusuma mengalihkan pembicaraan. 

“Sesaat lagi mungkin diriku akan membungkam seorang Putra Perguruan…”

“Apakah dikau menantangku…?”

Bintang Tenggara menyibak senyum. Tiada seberkas pun rasa gentar yang mengemuka dari raut wajahnya.

“Bila demikian,” lanjut Martakusuma, “Sebagai Putra Perguruan, tentu diriku hendak memberi contoh yang benar. Perselisihan di antara murid sepantasnya diselesaikan sesuai Adab Perguruan. Esok siang, di gelanggang berlatih kau dan aku akan berhadapan satu lawan satu.”

“Hm…?” 

“Yang kalah, akan bersujud meminta maaf kepada sang pemenang,” tutup Martakusuma.

“Mengapa perlu menunggu esok siang? Saat ini kebetulan diriku sedang lowong.” Bintang Tenggara tak hendak membuang waktu percuma. Tak ada guna baginya menunggu sampai esok hari, karena masih banyak pekerjaan yang lebih penting untuk dituntaskan, salah satunya membimbing para murid dalam kegiatan meramu. 

Walhasil, di atas sebuah panggung persegi empat nan lebar di dalam salah satu gelanggang berlatih Perguruan Budi Daya, dua ahli remaja berdiri hadap-hadapan. Di sekeliling panggung, puluhan murid sudah mengitari. Tak hanya mereka, karena kerumunan terus bertambah jumlahnya. Mereka hendak menyaksikan langsung seorang anak remaja peserta pertukaran murid yang belakangan ini desas-desusnya memberi perkuliahan, sebagian lagi hendak mendukung seorang Putra Perguran memberi pelajaran kepada murid tersebut. 

Martakusuma menghentakkan tenaga dalam, memamerkan kemampuan sebagai ahli Kasta Perak Tingkat 6. Ia lantas mengeluarkan sebuah tombak panjang, yang pada salah satu ujungnya terdapat mata belati nan tajam. Kemudian, ia mengayunkan tombak tersebut, lincah dengan gerakan memutar dan berkesinambungan. Lawannya, ahli Kasta Perak Tingkat 2 hanya diam mengamati. Dari sudut pandang umum, Bintang Tenggara tak akan memiliki kesempatan dalam menghadapi lawan kali ini.

“Martakusuma berlebihan… mengapa ia mengeluarkan senjata dalam pertarungan menghadapi murid rendahan…?”

“Anak itu tak akan memiliki kesempatan sama sekali…”

“Dia adalah Bintang Tenggara, yang membawa Perguruan Gunung Agung ke peringkat kedua kejuaraan antar perguruan.”

Sebagian penonton sontak menoleh. Adalah seorang gadis belia berambut poni dan mengenakan sepasang kacamata yang mengungkap jati diri Bintang Tenggara. Gadis belia ini merupakan salah satu Putri Perguruan, atau pada jenjang yang sama dengan Martakusuma di atas panggung. Sebagai tambahan, ia juga merupakan utusan Maha Guru Primagama untuk menyampaikan undangan kepada Bintang Tenggara. Sebuah upaya yang belum kunjung tercapai. 

“Walau tak berhadapan langsung dengan Perguruan Gunung Agung, aku melihat langsung kepiawaiannya kala itu,” lanjut gadis belia tersebut. 

“Aku telah mengetahui jati dirimu sejak lama, wahai Bintang Tenggara.” Di atas panggung, Martakusuma berujar lantang, “Kala itu sudah tak memungkinkan bagiku untuk ikut serta dalam kejuaraan antar perguruan. Andai saja aku hadir…”

“Tapi…,” Bintang Tenggara sedikit ragu, “tiada mungkin Perguruan Gunung Agung berhadapan dengan Perguruan Budi Daya. Kalian sudah tersingkir pada babak-babak awal.”

“Itu karena aku tak ikut serta!”

Menghela napas panjang, Bintang Tenggara menyibak kembangan. 

Martakusuma menusukkan tombak lugas ke hadapan, Bintang Tenggara berkelit ke sisi. Martakusuma melibas garang menyapu sasaran, Bintang Tenggara melompat mundur. Serangan datang beruntun dan sengit selama beberapa saat, namun tiada tombak panjang mencapai sasarannya. 

Bagi Bintang Tenggara, dalam hal penggunaan tombak, Asep di Kerajaan Siluman Gunung Perahu jauh lebih terampil. Karena lama menghabiskan waktu dalam latih tarung dengan tokoh tersebut pula, mudah bagi Bintang Tenggara membaca setiap gerakan tombak lawan kali ini.

“Tap!” 

Memanfaatkan ledakan kekuatan yang meningkat berkali lipat dari Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri, Bintang Tenggara menangkap tombak, mendorong, kemudian menyentak garang. Serta merta senjata milik lawan terlepas… 

Akan tetapi, di saat merasa bahwa dirinya telah berhasil mengambil alih senjata lawan, sengatan listrik berderak lantas menjalar ke seluruh penjuru tubuh. Kejutan yang tercipta membuat tombak terpelanting dan kembali ke tangan lawan. Sungguh, baru kali ini Bintang Tenggara merasakan sengatan petir!

Martakusuma kembali merangsek maju, kini dengan mengimbuhkan unsur kesaktian petir pada tombaknya. Selain itu, gerakan kaki menari lincah, pinggang meliuk lentur, bahu penuh dengan tenaga, serta lengan melambai gesit. Petir berderak di sekujur tubuhnya!

Sigap, Bintang Tenggara melompat mundur. Ia kembali menyibak kembangan dalam upaya menjaga jarak. Namun demikian, Martakusuma memburu mangsa ibarat seekor harimau buas nan haus darah. Tiada berkenan ia memberi ruang bagi lawan untuk berlindung atau pun menyusun rencana. Di lain sisi, Bintang Tenggara memang kurang berpengalaman dalam menghadapi lawan dengan unsur kesaktian yang sama. Ia tak tahu harus berbuat apa, atau apa dampaknya bilamana dua ahli dengan unsur kesaktian yang sama terlibat dalam pertarungan. 

Sisik Raja Naga. Tempuling Raja Naga. 

Mengerahkan pusaka miliknya, Bintang Tenggara melenting-lenting rendah menemukan kesempatan menyerang di antara putaran tombak nan demikian gesit. Tak dapat menemukan celah, ia lantas merangsek maju. Tikaman tempuling disambut dengan sapuan tombak. Dari sudut pandang penonton di sisi bawah panggung, serangan Bintang Tenggara terkesan sangat dipaksakan. Melompat di udara, anak remaja tersebut akan menjadi sasaran empuk serangan balik! 

“Trak!” 

Tombak milik Martakusuma terlepas, lalu melambung sebelum tertancap di kejauhan. Unsur kesaktian petir pada tombak tersebut dengan mudahnya diredam oleh Tempuling Raja Naga yang memiliki dasar unsur kesaktian tanah. Tak hendak memberi ruang, Bintang Tenggara menyarangkan sikut ke arah dada lawan. 

Meski kehilangan senjata, Martakusuma masih cukup waspada. Jalinan petir berderak dan ia menyilangkan lengan di depan dada. Pada keadaan normal, kendatipun lawan dapat menyarangkan pukulan, maka jalinan petir yang membungkus tubuhnya akan menyengat balik. Namun, sungguh di luar perkiraannya bahwa Bintang Tenggara melindungi sikunya dengan Sisik Raja Naga yang juga mampu meredam sengatan petir.

Martakusuma terdorong mundur beberapa langkah. Kedua lengannya bergetar seolah baru saja dihantam gada raksasa. Mengapa demikian berat serangan sederhana yang dilepaskan seorang anak remaja!? batinnya berteriak. 

“Apakah dikau sudah siap untuk bersujud dan meminta maaf!?” Dari sisi bawah panggung, Balaputera Prameswara memancing emosi.

Raut wajah Martakusuma yang sedari awal tenang, kini memerah padam. Dari pertukarangan serangan yang baru saja berlangsung, ia menyadari bahwasanya tertinggal dari segi kekuatan. Selain itu, yang berada di luar perkiraan dan baru kini disadari, adalah kenyataan bahwa senjata dan pelindung lengan Bintang Tenggara memiliki unsur kesaktian tanah. 

Tanpa pikir panjang lagi, Martakusuma lantas merogoh ke dalam dimensi ruang penyimpanan cincin Batu Biduri Dimensi. Sebuah botol berwarna hitam seukuran ibu jari lantas terlihat di dalam genggamannya. Ia buka tutupnya botol, lantas menenggak habis isinya!

“Itu adalah ramuan Jamu Urat Kawat!” gumam di gadis belia berponi dan berkacamata di sisi bawah panggung. “Martakusuma kau gegabah!” 

Tubuh Martakusuma bergemetar keras. Otot-otot tubuhnya mengencang, urat-urat di wajah berdenyut kemudian mencuat ibarat akar pohon beringin di atas permukaan tanah. Tak lama, seluruh jalinan urat di tubuhnya mulai mengemuka… 

“Brak!” 

Bintang Tenggara tak hendak menunggu sampai proses perubahan wujud lawannya rampung. Karena bila itu terjadi, maka pertarungan akan semakin sengit, dan semakin banyak pula waktu yang terbuang sia-sia. Oleh sebab itu, tiga tinju beruntun yang mendarat telak di ulu hati, serta-merta merobohkan Martakusuma.