Episode 80 - Hari Ketiga Turnamen Berakhir



Matahari membuat keringat di dahi putih itu terlihat bersinar. Dengan napas yang terengah-engah, wanita itu terus menyeret tubuhnya untuk tetap berlari. Di belakang wanita itu terdapat seorang pria berlari dengan kecepatan yang stabil, berusaha untuk terus mempertahankan jarak antara dia dan si wanita.

Akhirnya, setelah berlari 10 menit, mereka berdua berhenti. Pipi wanita itu berona kemerahan, entah karena marah, malu, atau lelah. Kemudian dia menoleh ke sampingnya, dimana pria tadi tampak tetap bugar, tanpa ada tanda kelelahan sedikitpun.

“Jawab dengan jujur, tadi kau terus berlari di belakangku? Apakah kau terus menatap pantatku?”

“Ya.” Pria itu menjawab dengan cepat dan tegas. Wajahnya lurus tanpa tanda-tanda kebohongan.

“Ya ampun, kejujuranmu itu sedikit menjijikan tahu, cobalah untuk berbohong sedikit.” Wajah wanita itu terlihat merah padam setelah mendengar jawaban pria itu.

Wanita itu adalah Angel, meskipun namanyaberarti ‘malaikat’, tapi tubuhnya yang terlalu dewasa membuatnya tampak seperti ‘iblis’ succubus. Terlalu menggoda. Sedangkan pria itu adalah Danny-tidak, jiwa yang menempati tubuh itu adalah Dan.

“Kalau begitu, tidak.” Ucap Dan.

“Tidak apanya?” tanya Angel bingung.

“Aku tidak melihat pantatmu.” Balas Dan santai.

“Terlambat kalau kau mau bohong!” teriak Angel.

Dan hanya menaikan alisnya setelah melihat respon Angel yang menurutnya sangat berlebihan. Kemudian matanya segera melotot ketika Angel tiba-tiba membalikan tubuhnya dan membelai pantatnya dengan lembut.

Dengan suara yang lembut dan terdengar nakal Angel berkata, “Apakah kau ingin menyentuhnya.”

“Tentu saja tidak.” Jawab Dan cepat, tapi matanya terus terfokus pada bagian belakang tubuh Angel.

Ujung bibir Angel naik lalu dia terkikik dan berkayta, “Aku tidak tahu kau ini orang mesum atau tidak, tapi satu yang aku yakin, kau pasti maniak.”

“Tidak, aku bukan keduanya.” Ucap Dan seraya menggelengkan kepalanya.

“Lalu, kau ini apa?”

“Aku orang bijak.”

“Haha...” Angel tertawa terbahak-bahak setelah mendengar jawaban dari Dan. Jika orang yang melotot melihat bagian tubuh wanita adalah orang bijak, maka pasti tidak ada orang mesum di muka bumi ini.

“Coba jelaskan padaku, kenapa kau bisa disebut sebagai orang bijak.” Tanya Angel. Matanya menatap Dan, dia sangat mengantisipasi jawaban bodoh apa yang akan Dan berikan padanya.

“Kenapa? Aku tidak punya alasan apapun.” Jawab Dan santai.

“Yah, sudah kuduga, semua yang kelaur dari mulutmu itu hanya omong kosong.” Angel menggelengkan kepalanya. “Oh, benar, siapa yang akan menjadi lawanmu besok?”

“Hmmm,” Dan berpikir sejenak kemudian berkata, “tidak tahu, aku tidak ingat. Lagipula itu tidak terlalu penting, karena pada akhirnya dia pasti akan kalah, yang aku khawatirkan adalah seberapa lama dia bisa bertahan.”

“Yah, kau benar. Baiklah, ayo kita istirahat, akan buruk kalau nanti aku kalah karena kelelahan.” 

“Baiklah.”

Saat ini turnamen bela diri telah menjadi topik pembicaraan paling panas. Dari 10 orang, 9 di antaranya akan membicarakan turnamen ini. Hal ini dibarengi oleh rating turnamen yang melonjak ke langit, membuat pesaing yang berada di jam tayang yang sama merasa putus asa.

Tidak hanya itu, banyak bisnis lain yang mendapatkan keuntungan tambahan dari adanya turnamen ini, contohnya adalah restoran tempat Sony bekerja. Pada awalnya restoran akan tutup jam delapan malam, tapi karena adanya turnamen bela diri ini membuat pemilik restoran menambah jam kerja hingga pukul 12 malam. Benar saja, karena ini omset yang dihasilkan naik dengan pesat. Banyak pengunjung yang datang untuk menonton bersama di layar besar yang disediakan di tengah restoran.

Dengan semua hal yang terjadi membuat sebagian orang melupakan eksistensi si Iblis Hitam yang sebelumnya membuat orang-orang takut. Tidak adanya pergerakan terbaru dari si Iblis Hitam juga menajadi faktor lain mengapa orang-orang mulai melupakannya.

Kini gedung MA telah ramai lagi, hari ketiga turnamen akan segera dimulai. Pada hari ini mereka yang akan bertarung berasal dari grup C. Seperti biasanya, dua orang komentator di ruang studio adalah Pan Tong dan Irwan. 

Mereka dengan semangat menganalisa tentang pertarungan yang akan disajikan pada hari ini. Kemudian pertandingan segera dimulai. Pada pertandingan awal dua pemuda yang bertarung di arena membuat penonton berteriak histeris, khususnya para perempuan. Ini semua bukan tanpa sebab, hal ini karena dua pemuda di dalam arena bisa didefinisikan dalam satu kata ‘Tampan’.

Setiap kali dua orang di dalam arena itu bertukar pukulan dan saling mencoba untuk menjatuhkan membuat para perempuan histeris dan bersemangat. Puncaknya adalah ketika salah satu pemuda terlempar keluar dari arena dengan pakaian yang berantakan sehingga perutnya yang sepert ‘roti sobek’ terpapar.

“AHHHH ... rahimku hangat.” 

Teriak salah satu penonton perempuan yang membuat Pan Tong dan Irwan yang berada di ruang studi terdiam seribu bahasa. Kegilaan orang yang mencintai sang idola sangat menakjubkan hingga tidak bisa diunkapkan dengan kata-kata.

Seperti biasa, setelah pertandingan selesai, Irwan dan Pan Tong yang berada di studio segera mengevaluasi dan mengkomentari pertarungan tersebut. Tidak lama kemudian pertandingan kedua dimulai. Kali ini dua pria yang berdiri di arena kembali menampilkan pertarungan yang sangat hebat, meskipun suara teriakan dari para penonton tidak seramai pertandingan pertama, tapi pertarungan ini tetap sangat menarik.

Kemudian pertandingan ketiga dimulai. Pada babak ini dua kembali dua pria masuk ke dalam arena, yang satu adalah seorang pria berotot dengan lambang kapak di belakang baju bela dirinya. Sedangkan itu lawannya hanya pria bertubuh biasa, tentu saja hanya dengan melihat bagaimana tubuh dari kedua peserta, semua orang bisa tahu bahwa tidak ada keraguan bahwa pria berotot yang akan menang.

“Pertandingan yang bagus, tapi kesenjangan kedua peserta sangat terlihat.” Ucap Irwan di ruang studio.

“Benar, tapi di dunia bela diri itu bukanlah suatu hal yang tidak adil. Karena dari awal bela diri digunakan untuk memperkuat diri dan mengalahkan musuhmu.” Pan Tong menanggapi.

“Baiklah, kalau begitu mari kita pindah ke pertandingan berikutnya. Oh, kali ini sepertinya akan menarik, salah satu pesertanya adalah seorang aktor, dia telah membintangi banyak judul dan menerima banyak penghargaan bergengsi. Tapi di dunia bela diri tentunya ini tidak penting, bagaimana menurutmu Pelatih Pan?” tanya Irwan.

“Yah, benar. Latar belakangnya tidak penting, karena di dalam arena yang terkuatlah yang menjadi pemenangnya.” Balas Pan Tong.

“Dan lawannya kali ini adalah seorang wanita dari perguruan bela diri Iblis Merah, haha, hanya dengan mendengar asalnya saja aku bisa tahu kalau peserta ini pasti sangat cantik.”

“Ya, pria tua itu jarang mendapat murid pria karena gerakan bela diri mereka yang lebih mengutamakan keindahan dan kelincahan, jadi wajar saja hampir semua muridnya adalah wanita.”

“Haha, menurutmu ini adalah kesengsaraan atau keberuntungan?”

“Tentu saja di kelilingi oleh para wanita cantik adalah sebuah keberuntungan.” Ucap Pan Tong seraya tersenyum.

Irwan tersenyum lebar setelah mendengar jawaban Pan Tong, “Haha, sepertinya kita punya pendapat yang sama Pelatih Pan.”

Kemudian pertarungan terakhir dihari ketiga segera dimulai. Dua sosok berjalan menuju arena, seorang pria tampan yang juga terkenal sebagai aktor berbakat, Dafi. Dan seorang gadis cantik dan seksi, Angel. Keduanya berdiri berhadapan di tengah arena, menunggu pertarungan dimulai.

Mata Dafi menelusuri tubuh Angel, membuat yang terakhir merasa tidak nyaman. Tidak seperti Dan yang melihatnya dengan penuh hormat dan pemujaan, Dafi melihatnya dengan penuh nafsu. 

“Hei cantik, apakah kau tertarik menjadi artis? Jika kau tertarik aku bisa membantumu, tapi dengan satu syarat, kau harus temani aku malam ini.” Ucap Dafi dengan senyum ramah.

Namun, senyum ramah itu terlihat menjijikan bagi Angel. Dia memutuskan untuk mengabaikan pria di depannya ini.

“Haha, tidak perlu malu, kau tidak akan menyesal menerima penawaranku.” Ucap Dafi lagi.

Angel merasa muak melihat pria di depannya ini, dia ingin wasit segera datang dan memulai pertandiangan ini dan kemudian dia bisa dengan bebas menghancurkan pria menjijikan itu. Dafi sangat menjijikan bagi Angel, entah berapa wanita yang telah tertipu dengan wajahnya, tapi dia tidak akan. Angel juga bertanya-tanya, baru pertama bertemu dan sudah mengajak tidur, apakah otaknya berada di selangkangan? Sangat menjijikan.

“Baiklah, baiklah, aku tahu kau pasti malu untuk berbicara di sini, jadi mari kita mencari tempat sepi setelah pertandingan ini.”

Saat itu wasit datang dan membuat Angel merasa lega karena tidak perlu mendengar omong kosong dari pria di depannya. Setelah pertandingan dimulai, Angel segera mengambil langkah pertama, dengan cepat mendekati Dafi lalu memulai serangkaian serangan.

Namun, lebih sering daripada tidak serangan itu bisa dengan mudah Dafi tangkis. Memang, dia bisa berdiri di sini bukan hanya karena wajah tampan dan latar belakangnya yang adalah seorang artis, tapi karena kemampuan bela dirinya.

“Haha, menyerahlah, aku tidak suka menyakiti seorang wanita.” Ucap Dafi.

“Dalam mimpimu.” Raung Angel. 

Kembali, pertarungan yang cukup aneh ini berlanjut, di satu sisi adalah wanita yang menyerang terus-menerus,di sisi lain adalah pria yang sama sekali tidak berniat untuk menyerang.

Melihat Angel yang mencoba menyakiti Dafi, membuat semua penggemar Dafi merasa marah. Kemudian mereka dengan kejam melontarkan makian-makian kepada Angel, yang membuat Angel semakin marah kepada Dafi.

Namun, meskipun begitu, Angel masih tidak mampu mengalahkan Dafi karena semua serangannya bisa dia tangkis.

Dengan nafas yang terengah-engah Angel berdiri agak jauh dari Dafi, mencoba untuk menjaga jarak sekaligus menenangkan diri. Tiba-tiba saja dia mendapat ide.

“Hei, bagaimana kalau kita begini, aku berjanji kau bisa menyentuh bagian manapun dari tubuhku, tapi kau harus menerima seranganku dulu.” Ucap Angel dengan suara yang menggoda. Butiran keringat di pipi dahi dan pipinya yang memerah membuat Angel terlihat sangat seksi.

“Benarkah?”

“Tentu saja, aku tidak suka berbohong.”

“Baiklah, serang saja aku kalau begitu, aku tidak akan menangkis ataupun menghindar.” Ucap Dafi dengan senyum di wajahnya.

Kemudian adegan itu terjadi, setelah satu tinju, kemudian tinju lain datang, dan kemudian tinju yang lainnya datang, tanpa henti Angel terus menyerang Dafi. Wajahnya babak belur, tapi dia tetap tersenyum. Membuat dia terlihat sangat bodoh.

Setelah mendapat pukulan yang bagus dari Angel, Dafi segera runtuh dan jatuh di tengah arena, dengan begitu sudah jelas Angel memenangkan pertarungan ini.

“Ja-janjimu?”

“Hah? Bukannya aku sudah membiarkanmu menyentuhku tadi, jadi aku sudah melunasinya.”

“Hah?” dengan wajah yang bingung Dafi dibawa oleh petugas medis meninggalkan arena.

“Huh, ternyata benar, otaknya sudah turun ke selangkangannya.” Gumam Angel.