Episode 357 - Pramubakti (1)


“Cih! Perkuliahan Maha Guru Sugema sehari yang lalu menjadi kurang nyaman! Padahal aku mengeluarkan 20 poin yang kudapat dari kerja keras, aku patut menuntut ganti rugi kepada anak itu!” 

“Siapa dia yang lancang melangkahi pengetahuan dan pengalaman seorang maha guru…?”

“Kuharap ia kembali berlagak sok tahu di hadapan Maha Guru hari ini… Biar dia rasakan bahwa langit teramat tinggi…” 

Melangkah masuk ke dalam balairung, Bintang Tenggara mendengar cibiran dan sindiran yang datang bertubi. Maklum saja, bagi mereka para pemuja Yang Terhormat Maha Guru, apa pun yang tokoh pujaan sampaikan ibarat wahyu yang turun dari langit. Menyajikan pandangan yang berbeda kepada mereka, ibarat penentangan dan penghinaan terhadap prinsip hidup. Aneh sekali. Mengapa sangat tertutup sekali pemikiran kebanyakan murid…?

Kendatipun demikian, tak seorang pun murid yang berani menegur langsung, apalagi berbuat kasar terhadap Bintang Tenggara. Bahkan kakak kelas pun terpaksa menelan mentah-mentah kekesalan mereka. Kemanapun anak remaja tersebut melangkah, maka ia senantiasa didampingi oleh seorang murid yang sangat disegani. Dikenal sebagai keturunan dari Kadatuan Kesembilan, yang saat ini memiliki pengaruh besar di dalam Perguruan Svarnadwipa sekaligus Kemaharajaan Cahaya Gemilang, seorang bangsawan muda yang sangat keras lagi cerdas… siapa dia selain Balaputera Prameswara! 

Tersalah langkah atau menyinggung sedikit saja perasaan tokoh yang satu ini, maka segenap angkatan perang sebuah kemaharajaan besar akan murka adanya!

“Sepupuku, diriku terlupa menyampaikan salam dari Ayahanda Sulung Rudra. Beliau akhir-akhir ini sangat sibuk sekali dengan jabatan barunya.”

“Jabatan baru…?”

“Oh dikau belum mengetahui…? Ayahanda Sulung Rudra kini menjabat sebagai Panglima Perang di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Seluruh angkatan dan armada perang kemaharajaan berada di bawah komando beliau.”

“Oh…? Bukankah jabatan Panglima Perang biasanya diemban oleh keturunan dari Kadatuan Kedua…?”

“Yang Mulia Balaputera Wrendaha menjabat sebagai Maha Patih, oleh sebab itu beliau menyerahkan jabatan Panglima Perang kepada Ayahanda Sulung Rudra.”

Bintang Tenggara membayangkan seorang lelaki dewasa nan pemalas dan pemabuk. Sungguh, Ayahanda Sulung Rudra demikian teguhnya bersandiwara selama ratusan tahun, sampai menurunkan harga diri demi menjaga kelangsungan hidup Kadatuan Kesembilan yang terpuruk. Adalah pantas bagi tokoh tersebut bilamana dipercaya menjabat sebagai Panglima Perang. 

“Aku bersua dengan Balaputera Khandra…” Bintang Tenggara bertukar berita. 

“Hah!? Benarkah!? Di mana!?” 

“Dia menjabat sebagai Guru Muda di Perguruan Gunung Agung….” Di dalam benak, Bintang Tenggara menimbang apakah sebaiknya bersikap jujur tentang tokoh tersebut. Akan tetapi, pada akhirnya diputuskan untuk menyimpan informasi akan kenyataan dirinya meracuni saudara sepupu sendiri demi sampai ke Perguruan Budi Daya pada hari ini. 

“Jikalau demikian, diriku akan ikut dikau pulang ke Perguruan Gunung Agung setelah ajang pertukaran murid ini rampung….”

Tetiba, seorang perempuan dewasa muncul di tengah balairung. Ia melayang tinggi. Jubah yang dikenakan bernuansa hijau dan menyibak demikian perkasa sekaligus anggun. Rambutnya putih digelung ke atas, dan aura yang ia pancarkan menebar aroma ramuan nan wangi menyegarkan. Dari pembawaannya, dapat dipastikan bahwa beliau merupakan salah satu tokoh yang sangat disegani di Perguruan Budi Daya.

Kehadiran tokoh ini memanglah sangat dinanti oleh hampir seribu murid yang saat ini hadir di dalam balairung. Sebagai seorang maha guru, beliau hanya memberi satu perkuliahan saja dalam satu purnama. Tidak lebih dan tidak kurang. Harga keikutsertaan yang patut dikeluarkan pun cukup tinggi, yaitu 25 poin untuk satu perkuliahannya.

“Selamat datang! Aku adalah Maha Guru Primagama. Pagi hari ini, kita akan mengkaji secara mendalam tentang pemisahan dan pemurnian zat.”

Segenap murid duduk teratur dan menyimak dengan sangat seksama. Setiap satu dari mereka menebar mata hati demi memperkuat pandangan mata agar tak kehilangan kesempatan. Khusyuk, bola mata mereka berbinar, dan rasa ingin tahu meluap-luap tinggi. 

“Dasar di dalam proses meramu, adalah pemisahan dan pemurnian. Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan atau memurnikan suatu senyawa maupun sekelompok senyawa yang mempunyai susunan yang berkaitan dari suatu bahan. Pada prinsipnya, pemisahan dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang secara alami bercampur, sedangkan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan suatu zat yang murni dari suatu zat yang bercampur.”

Usai memberikan paparan singkat, sang Maha Guru lantas mengajukan pertanyaan, “Siapa di antara kalian yang dapat menyebutkan teknik pemisahan dan pemurnian… ?”

Secepat kilat, hampir seluruh murid yang hadir mengacungkan tangan. Sesuai arahan Maha Guru Primagama, sejumlah murid kemudian memberikan jawaban secara silih berganti. 

“Penyaringan merupakan pemisahan zat padat dari suatu larutan berdasarkan ukuran zatnya yang berbeda. Contohnya bubuk kapur tulis ditambahkan air diaduk lalu disaring menggunakan kertas saring yang sangat kecil. Kapur tulis akan tersaring diatas kertas saring dikarenakan partikel kapur tulis tidak dapat menembus pori-pori kertas saring sedangkan air dapat melewati kertas saring, karena partikel air lebih kecil daripada pori-pori kertas saring tersebut.

“Pengendapan adalah terbentuknya saripati yang tidak larut, atau endapan. Endapan adalah padatan tak larut yang terpisah dari larutan.”

“Ekstraksi adalah pemisahan zat dengan larutannya berdasarkan kepolarannya dan massa jenisnya. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larutan yang berada dari zat-zat dalam campuran. Campuran dua jenis cairan yang tidak saling melarutkan, misalnya, dapat dipisahkan dengan corong pisah.”

“Penyubliman merupakan peralihan secara langsung suatu zat dari padat ke gas/uap atau dari gas/uap ke padat tanpa melalui tahap pencairan. Dalam peristiwa ini. seringkali zat memerlukan energi panas. Contoh menyublim yaitu pada kapur barus yang disimpan di ruangan lama-lama akan mengecil lalu habis menjadi gas.

“Kristalisasi merupakan proses pemisahan bahan padat berbentuk kristal dari suatu larutan dengan cara menguapkan pelarutnya. Pada kristalisasi, larutan pekat didinginkan sehingga zat terlarut mengkristal. Hal itu terjadi karena kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan. Apabila larutan tidak cukup pekat maka dapat dipekatkan terlebih dahulu dengan cara penguapan. Kemudian, dilanjutkan dengan pendinginan. Melalui kristalisasi diperoleh zat padat yang lebih murni karena komponen larutan lainnya yang kadarnya lebih kecil tidak ikut mengkristal.” 

“Destilasi merupakan cara pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan titik didih zat-zat dan/atau senyawa penyusunnya. Prinsip kerja cara penyulingan didasarkan pada perbedaan titik didih dari dua zat yang bercampur di mana yang satu dapat mendidih atau menguap, sedangkan yang lain tidak. 

Mendengar jawaban penuh semangat dan tepat sasaran, sang Maha Guru mengangguk pelan. Ia lantas melanjutkan dengan mengeluarkan beberapa behan dasar ramuan, dan mencontohkan setiap proses pemisahan dan pemurnian. Semua tindakan dilakukan tanpa menggunakan alat sama sekali, melainkan melalui jalinan mata hati. 

Segenap murid menyimak. Di antara mereka tentu pernah melakukan proses pemisahan dan pemurnian terhadap bahan dasar ramuan, namun hanya pada batasan tertentu dan menggunakan bahan dasar ramuan yang bersifat sederhana. Bagi mereka, menyaksikan seorang maha guru beraksi merupakan peristiwa langka dan sepantasnya tiada disia-siakan. Dari pengamatan, nanti mereka akan meniru, mencoba berulang kali hingga mencapai hasil yang dikehendaki. Jalan keahlian pada jalur keterampilan khusus meramu tidaklah gampang adanya. 

Usai memperagakan proses pemisahan dan pemurnian, sang maha guru mengeluarkan bahan dasar ramuan seukuran lengan, yang berwarna cokelat mengkilap. Ia kemudian berujar, “Siapa di antara kalian murid-murid yang mengenal bahan ramuan ini, maka akan berkesempatan melakukan pemisahan dan pemurnian bersama dengan diriku.”

Segenap khalayak terperangah. Sebuah kesempatan yang teramat langka terbuka di depan mata. Siapa yang tak hendak memperoleh bimbingan langsung dari sang maha guru tersohor. Para murid mengamati dengan seksama, namun tiada satu yang mengetahui benda apakah gerangan. Sebagian mulai mumbuka dan membolak-balik lembar halaman kitab dan buku, berlomba-lomba mencari jawaban yang tepat. Tak satu pun yang berani menebak-nebak, karena enggan mempermalukan diri di hadapan seorang maha guru. 

Pada akhirnya, seorang murid mengangkat lengan tinggi-tinggi. 

“Sebutkan nama dikau…”

“Bintang Tenggara.” 

“Sebutkan benda apakah ini…”

“Tulang kaki binatang siluman Rusa Tanduk Perunggu!” Sebagai peternak tangguh, tentu Bintang Tenggara mengenal betul tulang binatang siluman dimaksud. Bersama dengan Panglima Segantang, dirinya puas menyantap daging binatang siluman tersebut di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani.

“Kemarilah…,” panggil Maha Guru Primagama. Di saat yang sama, tokoh yang berpenampilan sebagai perempuan dewasa tersebut menyiratkan bahwa jawaban yang diberikan adalah tepat adanya. 

Bintang Tenggara melangkah pelan ke tengah balairung, sedangkan Maha Guru Primagama masih menanti tinggi di atas. Beberapa murid mulai berbisik-bisik, sampai beberapa di barisan depan tak sabar lalu bersuara, “Dekati beliau….”

Anak remaja tersebut terlihat bingung. Bagaimanakah caranya mendekati sang maha guru yang melayang tinggi di atas sana. Walaupun sudah berada pada Kasta Perak selama beberapa waktu, Bintang Tenggara sama sekali belum berkesempatan mempelajari teknik melayang. Walhasil, malah ia yang menanti. 

Maha Guru Primagama segera menyadari bahwa si anak remaja tiada mampu menyusul dirinya. Walhasil, beliau pun melayang turun perlahan. Tindakan ini membuat segenap murid terperangah. Bagaimana mungkin seorang maha guru yang mengalah!?

Sang maha guru tiba di hadapan Bintang Tenggara, kemudian menyerahkan tulang kaki binatang siluman Rusa Tanduk Perunggu. “Cobalah lakukan pemisahan, menjadi tiga bagian.”

Tulang kaki binatang siluman Rusa Tanduk Perunggu melayang ringan di hadapan Bintang Tenggara. Ia mengamati dalam diam. Tak lama kemudian, anak remaja tersebut menebar mata hati, dan…

“Krak! Krak!” 

Menebar jalinan mata hati, Bintang Tenggara mematahkan tulang kaki binatang siluman tersebut. Kini, tulang sepanjang lengan sudah menjadi tiga bagian yang masing-masing panjangnya sekira satu jengkal. 

“Hah!?” 

“Apa yang dia lakukan!? Apakah engkau tak menyimak penjelasan Maha Guru Primagama, Bambang!? 

“Tiga ‘bagian’ yang Maha Guru Primagama maksud adalah memisahkan tulang menjadi tiga jenis saripati zat, bukanlah mematahkan tulang menjadi tiga bagian!”

Keterkejutan berubah menjadi cibiran. Cibiran bergema menjadi gelak tawa. Walau setiap satu dari mereka yang berada di dalam balairung menyadari bahwa permintaan Maha Guru Primagama merupakan sesuatu yang teramat rumit bagi murid Kasta Perak, setidaknya mereka mengetahui akan maksud dari permintaan tersebut. Mereka menyadari untuk tak bertindak polos dan bodoh dengan hanya mematahkan tulang menjadi tiga bagian!

Akan tetapi, gelak tawa hanya berlangsung singkat dan serempak surut. Segenap murid mendapati bahwa di tengah balairung, Maha Guru Primagama sedang terpaku mengamati gelagat seorang murid di hadapannya…

Melayang ringan, potongan tulang pertama perlahan meretak lalu berpencar menjadi kepingan-kepingan kecil, tercacah, dan berubah menjadi satu genggam serbuk murni bernuansa kecokelatan. Potongan tulang kedua ditambahkan beberapa tetes air, melumat, dan menjadi senyawa baru yang berwujud adonan. Terakhir, sumsum pada potongan tulang ketiga mengkerut dan mengering. Kemudian, satu tetes saripati melayang perlahan.

Maha Guru Primagama melambaikan jemari. Serbuk, adonan, dan setetes saripati tulang binatang siluman Rusa Tanduk Perunggu melayang ke arahnya. Beliau menyipitkan mata, menebar mata hati, dan sudut bibirnya menyunggingkan senyuman. “Sangat baik!” angguknya kepada Bintang Tenggara.

Ke arah segenap murid yang saat ini terpana dan menganga menanti penjelasan, beliau memaparkan, “Bagi ahli Kasta Perak dengan kemampuan mata hati nan masih terbatas, maka dianjurkan untuk melakukan pemisahan dan pemurnian menggunakan potongan atau porsi bahan dasar yang lebih kecil. Dengan cara ini, proses pemisahan dan pemurnian berlangsung lebih singkat, jalinan mata hati tiada terkuras banyak, serta hasil yang dicapai bermutu baik.”


===


“Tap… Tap… Tap…”

Hari beranjak petang. Di hadapan sebuah pendopo berukuran sedang, seorang remaja lelaki berdiri perkasa. Lengan kanannya menjulur ke depan untuk menyodorkan sebentuk lencana berwarna keemasan. Tugasnya pada petang hari ini adalah sebagai penjaga pintu masuk, yang menjalankan tugas dengan setulus hati dan penuh pengabdian. 

Tepat di hadapan, sejumlah murid berbaris dalam antrian. Satu-persatu mereka menempelkan lencana masing-masing kepada lencana di tangan sang penjaga pintu. Suara pelan yang ditimbulkan tatkala dua lencana bertemu menandakan bahwa perpindahan poin berlangsung sesuai syarat dan ketentuan. 

Di dalam pendopo, Bintang Tenggara duduk bersila sembari berhitung kasar. Terdapat 20 murid, batinnya mengamati. Berlaku kurang ajar kepada Maha Guru Sugema mendatangkan sekira tujuh murid, sedangkan tampil cemerlang di hadapan Maha Guru Primagama mengundang 13 murid. Dengan kata lain, menghargai keberadaan seorang maha guru terbukti meraih simpati yang lebih besar di antara murid-murid. 

Secara keseluruhan, pada kesempatan pertama ini dirinya memperoleh 20 poin sahaja. 

“Selamat datang wahai saudara dan saudari…” Bintang Tenggara membuka sesi. “Pada kesempatan ini, sila utarakan hambatan dan tantangan yang dihadapi. Sepanjang masih dalam batas kemampuan, maka diriku akan mendampingi dan berbagi pengalaman dalam meramu.”

Para murid yang hadir terlihat meragu. Mereka saling pandang, tak ada yang hendak memulai.

“Diriku bukanlah seorang guru, apalagi maha guru. Oleh sebab itu, tak perlu malu-malu. Pada kesempatan ini, kita sama-sama belajar.” 

“Diriku… diriku terkendala dalam memusatkan mata hati…” Seorang murid terlihat kurang percaya diri. 

“Tak ada jalan pintas dalam melatih kemampuan mata hati,” tanggap Bintang Tenggara. “Secara umum, terdapat dua tahap untuk memperkuat jalinan mata hati. Tahap pertama, berlatihlah menebar mata hati di tengah keramaian. Kedua, dengan menebar mata hati saat berada dalam tekanan mata hati ahli lain.” 

Bagi Bintang Tenggara, tahapan pertama dalam berlatih mata hati datang secara alami sejak Komodo Nagaradja berdiam di dalam dirinya. Celoteh dari tokoh tersebut membuat sulit memusatkan perhatian. Kemudian, setelah Ginseng Perkasa hadir, tingkat kesulitan pun bertambah besar dengan rutinnya pertengkaran di antara kedua jenderal. Tahapan kedua, didasarkan kepada pengalaman menjalani Lintasan Saujana Jiwa di Perguruan Anantawikramottunggadewa. 

“Bagaimana dikau mengetahui jalan pintas dalam pemisahan dan pemurnian…?” Murid ini kemungkinan besar datang karena penasaran akan kejelian Bintang Tenggara di hadapan Maha Guru Primagama pada pagi hari tadi. 

“Pengalaman,” jawab Bintang Tenggara cepat. “Akan tetapi, terdapat satu kelemahan dari cara pemisahan dan pemurnian tadi.”

“Apakah gerangan…?”

“Jumlah.” Penuh percaya diri, Bintang Tenggara melanjutkan. “Membagi bahan mentah menjadi tiga bagian, berarti hanya menghasilkan sepertiga bahan baku. Seharusnya, jumlah serbuk, adonan dan tetesan saripati dapat berjumlah tiga kali lipat lebih banyak.” 

Para murid yang hadir segera menyadari kebenaran dari kata-kata Bintang Tenggara. Saat mengubah bagian pertama tulang menjadi serbuk, maka sumsum yang tak terpakai terbuang percuma. Begitu pula saat mengambil saripati sumsum, bagian tulang terbuang padahal dapat diubah menjadi serbuk.

“Kami memiliki permasalahan yang serupa…” beberapa murid maju berbarengan. “Kami senantiasa terkendala tatkala memadu ramuan.” 

“Bolehkah diriku melihat lesung batu yang digunakan…?”

Para murid mengeluarkan lesung batu masing-masing dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. 

“Lesung batu milik kalian bermutu rendah…” Bintang Tenggara mengeluarkan lesung batu miliknya. Sepintas tak ada perbedaan penampilan dengan lesung batu kebanyakan, akan tetapi terdapat aura yang berbeda dari lesung batu tersebut. Belakangan, diketahui bahwa lesung batu tersebut merupakan milik murid dari Wisanggeni, yang dipungut oleh Komodo Nagaradja setelah kematian pemiliknya. 

“Tidak!” 

“Biarkan aku lewat!” 

“Tidak! Kau wajib membayar 2 poin!” 

Tetiba keributan terjadi di depan pendopo. Sepasang remaja lelaki dan perempuan terlibat dalam perdebatan dan kini mulai saling dorong. 

“Siapakah itu, wahai Wara…?” Bintang Tenggara menegur. Di saat yang sama, ia mencermati si gadis belia. Rambutnya berponi rata sebatas alis, dan sisi belakang dibiar tergerai setara bahu. Raut wajahnya geulis, dengan hidung mancung dan sepasang bibir merekah merah. Ia mengenakan kaca mata nan sangat tebal, dan pakaiannya merupakan jubah panjang berwarna hijau muda. 

“Gadis tak tahu diri!” tanggap Wara sebal. “Ia hendak mengikuti, namun enggan membayar!” 

“Dia adalah salah satu Putri Perguruan…,” bisik cemas murid-murid di dekat Bintang Tenggara. 

“Hei! Jaga mulutmu!” Gadis belia tersebut menyergah, “Sampaikan kepada murid rendahan yang memeras poin dari murid-murid lemah, bahwa lebih mulia mengumpulkan poin dengan menjadi Pramubakti bagi tetua!” 

“Pramubakti…?”

“Pramubakti merupakan pendamping bagi maha guru atau sesepuh perguruan…” Lagi-lagi murid-murid di dekat Bintang Tenggara berbisik, seolah penerjemah. “Tugas utama murid yang terpilih sebagai Pramubakti adalah mendampingi para tetua di kala meramu. Hanya Putra dan Putri Perguruan yang berhak memperoleh kesempatan sebagai Pramubakti.

Acuh tak acuh, si gadis belia lantas memutar tubuh. Akan tetapi, sebelum melesat pergi ia berujar, “Aku membawa pesan dari Maha Guru Primagama… Bahwa beliau mengundang murid Bintang Tenggara bertandang di kediaman.”