Episode 356 - Guru



“Suatu jenis zat tunggal yang dapat dibagi menjadi dua zat atau lebih, dinamakan sebagai ‘senyawa’. Dengan kata lain, senyawa adalah zat yang terbentuk dari penggabungan zat lain dengan susunan tertentu dan tetap. Terbentuknya senyawa baru akan memiliki sifat yang berbeda dari zat-zat penyusunnya.”

Seorang Maha Guru bertubuh gemuk, mengenakan jubah longgar bernuansa serba putih melayang tinggi di tengah balairung. Rambutnya klimis dan mengkilat hitam, wajahnya bulat cerah berseri dan pembawaannya mencerminkan kewibawaan maha tinggi. Saat ini, ia sedang memberikan paparan di hadapan tak kurang dari lima ratus murid Perguruan Budi Daya, termasuk pula mereka yang ikut serta dalam ajang pertukaran murid. 

“Tiap senyawa mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan zat-zat pembentuknya. Senyawa hanya dapat kembali menjadi zat-zat pembentuknya melalui proses penguraian. Pada banyak kesempatan, senyawa dapat memiliki wujud yang sama sekali berbeda dengan zat-zat pembentuknya.”

Maha Guru bertubuh gemuk itu menyapu pandang. Ia mencermati setiap satu murid yang dengan sepenuh hati mengikuti perkuliahannya. Sebagai catatan, perkuliahan yang ia berikan bukanlah bersifat umum dan cuma-cuma. Dalam perkuliahan lanjutan, murid-murid wajib membayar poin demi sebuah kesempatan menimba ilmu pengetahuan. Betapa membanggakan, sekaligus demikian banyak dapat ia mendulang poin dari murid-murid. 

Di dalam perguruan, bukan hanya murid-murid yang wajib mengumpulkan poin. Para pengajar pun membutuhkan poin agar mereka memperoleh akses kepada kitab-kitab langka di Pustaka Utama, serta untuk membeli bahan dasar meracik ramuan. Poin imbal jasa mengajar dari perguruan jumlahnya terbatas, dan tiada mungkin memadai. Hanya dengan banyak membaca dan melakukan uji coba meramu, akan seorang Maha Guru dapat terus mengembangkan diri. Sama seperti halnya dengan Maha Guru di Perguruan Gunung Agung, yang berkewajiban untuk terus-menerus menempa diri dalam bidang persilatan dan kesaktian. 

Melalui skema poin pula, para pengajar perlu membangun reputasi yang baik di mata para murid. Secara umum, reputasi yang baik didapat dengan meracik ramuan yang rumit, memiliki kemampuan mengajar, serta menampilkan kepribadian yang ramah. Contohnya Maha Guru yang satu ini, prestasinya meramu cukup gemilang, dan tiada pelit dalam berbagi ilmu. Bahkan, ia merupakan salah satu dari sejumlah Maha Guru yang cukup terkenal dan digemari di kalangan murid-murid. Hal ini dapat dibuktikan langsung dari banyaknya jumlah peserta yang bersedia mengeluarkan poin demi pemaparan dari dirinya. 

“Senyawa dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama adalah senyawa organik. Senyawa ini tersusun atas zat karbon sebagai rangkaian utamanya. Biasanya senyawa organik bersumber dari makhluk hidup yang terbentuk bersama dengan suatu zat. Dengan kata lain, senyawa organik tidak lagi mempertahankan sifat dasar zat-zat dalam proses penyusunannya.”

“Yang kedua, dikenal sebagai senyawa anorganik,” lanjut sang Maha Guru penuh percara diri. “Senyawa anorganik tidak tersusun atas suatu zat karbon. Senyawa ini dapat ditemukan di alam bebas.”

Segenap murid menyimak dengan seksama. Ada yang mencatat, ada pula yang menyerap setiap kata, lalu menyematkan ke dalam benak. Tak satu pun murid yang hendak menyia-nyiakan kesempatan, apalagi setelah membayar mahal perkuliahan seharga 20 poin per orang. Ilmu hitung sederhana mengungkapkan bahwa dari satu sesi perkuliahan hari ini saja, sang Maha Guru memperoleh tak kurang dari 10.000 poin. 

“Apakah ada pertanyaan…?” Sang Maha Guru membuka membuka kedua tangan di depan perut buncitnya, menandakan bahwa sesi tanya-jawab telah dibuka. Ia menyapu pandang ke arah murid-murid yang setia mengelilingi.

Sejumlah murid sontak mengacungkan tangan, betapa mereka dahaga akan ilmu pengetahuan. Sebagai tanggapan, sang Maha Guru pun menunjuk kepada salah seorang murid yang beruntung.

“Terima kasih, wahai Yang Terhormat Maha Guru Sugema. Sudikah kiranya Maha Guru Sugema menjabarkan tentang contoh senyawa dalam kaitan dengan proses meramu…?”

“Pertanyaan yang sangat bagus!” tanggap sang Maha Guru penuh perhatian. “Sebagai contoh, percampuran antara batang tumbuhan siluman Buluh Perindu dengan irisan tumbuhan siluman Lengkuas Rawa akan menghasilkan senyawa baru yang kita kenal sebagai Buluh Lengkuas Perindu Rawa.” 

Segenap murid terkesima. Baru kali ini mereka mendengar akan tumbuhan siluman Buluh Lengkuas Perindu Rawa. Spontan puluhan, bahkan ratusan murid mengacungkan tangan untuk mengajukan pertanyaan susulan. 

Maha Guru Sugema tersenyum puas. Ia kembali menyapu pandang, dan akan secara acak memberi kehormatan kepada seorang murid untuk menyampaikan pertanyaan. Akan tetapi, di luar perkiraannya, ia malah mendapati seorang murid yang terlihat sedang sedang mengantuk. Murid tersebut menyandarkan kepala pada senderan bangku, dan kedua matanya setengah terpejam. 

“Sebelum kalian bertanya lebih jauh, maka diriku hendak mengajukan sebuah pertanyaan sederhana terkait perkuliahan kita pada siang hari ini,” tetiba Maha Guru Sugema berujar. Di saat yang bersamaan ia melesat menggunakan teleportasi jarak dekat!

“Hah!?” Bintang Tenggara tersentak ketika sebentuk tubuh buntal tiba-tiba muncul dan melayang di hadapannya. Sulit baginya mempercayai bahwa seorang tokoh terhormat telah tiba tepat di depan mata. Segera ia memperbaiki posisi duduk. 

Di saat yang bersamaan, terdengar pula cekikik tawa dan suara mengejek dari sejumlah murid di sekitar. 

“Anak Muda…,” sapa Maha Guru Sugema sambil menudingkan jemari. “Siapakah namamu…?”

“Bintang Tenggara.”

“Baiklah Bintang Tenggara, coba sebutkan empat ciri senyawa...” 

Bagi sang Maha Guru, tertidur di dalam perkuliahan yang ia berikan merupakan sebuah tindakan yang sangat tidak sopan dan sulit diterima. Seorang murid sepantasnya berbangga hati dan sepenuhnya memusatkan perhatian kepada setiap kata yang ia sampaikan. Reputasinya sebagai salah satu pengajar terkemuka dilukai, ibarat terang-terangan mengiris belati pada permukaan kulit kulitnya.

Bintang Tenggara, di lain sisi, tiada berniat menyinggung perasaan sang Maha Guru. Demi mengumpulkan sebanyak-banyaknya poin dalam waktu nan singkat, ia mengambil demikian banyak tugas dari Balai Bakti, sehingga beberapa hari belakangan ini terpaksa meramu sampai ke larut malam. Oleh sebab itu pula, hari ini ia mengantuk sekali. 

“Empat ciri senyawa, mencakup: terbentuk dari dua atau lebih zat, mempunyai perbandingan susunan yang tetap, kehilangan sifat zat asalnya, dan dapat diuraikan kembali,” tanggap si anak remaja datar. 

Maha Guru Sugema terkejut. Tanggapan nan cepat, sekaligus tepat, membuat ia tercekat. Akan tetapi, sebagai seorang maha guru yang berjiwa besar, tak hendak ia menunjukkan sikap yang kekanak-kanakan di hadapan segenap khalayak. “Tepat sekali!” pujinya dibarengi sebentuk senyuman. Sembari memutar tubuh ia lantas melanjutkan, “Bilamana melelapkan mata di tengah perkuliahanku dapat meningkatkan pemahaman, maka sungguh sang Maha Maha Tabib Surgawi sekalipun bukanlah tandingan bagi diriku ini.”

Gelak tawa sontak pecah dan memenuhi seluruh penjuru balairung. Segenap murid yang mendengar sindiran Maha Guru Sugema tak dapat menahan diri. Bagi mereka, tertidur di tengah perkuliahan tokoh nan berwawasan luas sekelas sang maha guru merupakan kerugian. Sedangkan jawaban tepat dari murid tersebut, tak lain merupakan sebuah kebetulan semata. Kemungkinan besar dia sebelumnya pernah membaca perihal senyawa. 

“Hm…? Apakah tadi bocah gembul itu menyepelekan diriku…?” Ginseng Perkasa menanggapi melalui jalinan mata hati. 

“Tidak, Kakek Gin. Beliau hanya mengingatkan agar tidak terlelap di tengah perkuliahan,” tanggap Bintang Tenggara acuh tak acuh.

“Tidak. Dia mengatakan bahwa diriku bukanlah tandingannya. Dia jelas-jelas menghina!” 

Sesi tanya-jawab berlanjut. 

“Terimah kasih, wahai Yang Terhormat Maha Guru Sugema. Maafkan bilamana pertanyaan murid berikut ini demikian sepele, akan tetapi, apakah sebagai peramu kita dapat meracik senyawa anorganik?” Seorang murid mengajukan pertanyaan. 

“Lagi-lagi sebuah pertanyaan yang bagus! Membuktikan bahwa dikau sepenuhnya terjaga di tengah perkuliahan hari ini…”

Gelak tawa kembali mengemuka. Tak sedikit murid yang melontar pandangan ke arah murid yang merupakan sasaran sindiran.  

“Sebagai peramu, kita hanya dapat meracik senyawa organik,” jawab Maha Guru Sugema. “Bagian tumbuhan siluman serta anggota tubuh binatang siluman, kesemuanya merupakan senyawa organik. Senyawa anorganik, semisal api, air, tanah, angin, merupakan unsur alam yang perwujudannya menjadi unsur kesaktian. Tentu kita tiada dapat meramu unsur kesaktian.”

Baru saja Maha Guru Sugema menyelesaikan jawaban, seorang murid tetiba mengacungkan tangan dan berdiri. Tanpa menanti diberi izin untuk menanggapi ia lantas berujar, “Sesungguhnya semua jenis senyawa dapat diramu, termasuk senyawa anorganik.”

Seluruh pandangan mata beralih kepada anak remaja yang sebelumnya tertangkap melelapkan mata di tengah perkuliahan. 

“Oh…?” Maha Guru Sugema mencibir. Akan tetapi, belum sempat ia melanjutkan, kata-katanya sudah dipotong… 

“Sebagaimana kita ketahui, terdapat empat ciri senyawa, yaitu: terbentuk dari dua atau lebih zat, mempunyai perbandingan susunan yang tetap, kehilangan sifat zat asalnya, dan dapat diuraikan kembali. Api, air, tanah dan angin, kesemuanya memenuhi keempat ciri tersebut. Dengan demikian, berbekal kemampuan meramu yang memadai, bukan tak mungkin untuk meramu unsur-unsur tersebut.” 

“Hahaha…” Jawaban lantang Bintang Tenggara dipandang sebelah mata. “Dari mana dikau mempelajari kesalahan bahwa unsur alam dapat diramu…?”

“Dari mana Yang Terhormat Maha Guru Sugema mempelajari kesalahan bahwa unsur alam tiada dapat diramu…?” balas Bintang Tenggara. 

“Kena dia!” Ginseng Perkasa melonjak penuh kemenangan. Ia berhasil memaksa anak remaja itu untuk membalas penghinaan sang maha guru. Dengan mengancam tak akan meminjamkan keterampilan khusus meramu, maka Bintang Tenggara sekalipun akan bertekuk lutut. 

Sebaliknya, suasana balairung berubah lengang, sekaligus tegang. Bagi segenap murid, kata-kata Bintang Tenggara sungguh sudah kelewatan dan kurang ajar. Anak remaja tersebut secara terang-terangan menantang seorang Maha Guru! 

“Tentu berdasarkan pengetahuan dan pengalamanku sebagai peramu!” 

“Jikalau demikian, dapatkah diriku menyimpulkan bahwa pengetahuan dan pengalaman Yang Terhormat Maha Guru Sugema masih sangat terbatas…?”

“Apa katamu!?” Raut wajah bulat Maha Guru Sugema sontak berubah merah. Baru kali ini ia diperlakukan sedemikian rupa oleh seorang murid. “Apakah engkau pernah menyaksikan ahli yang meramu unsur kesaktian!?”

Jawaban yang sebenarnya, adalah pernah. Namun demikian, tiada mungkin bagi Bintang Tenggara mengurai kemampuan Raja Angkara Durjasa Wisanggeni yang menggabungkan keterampilan khusus sebagai peramu racun dengan unsur kesaktian api. Tindakan tersebut merupakan sebuah contoh nyata proses meramu senyawa organik dengan senyawa anorganik. Dengan kata lain, meramu senyawa anorganik adalah sangat memungkinkan. 

Karena tak dapat memberi jawaban yang konkret, Bintang Tenggara menjawab samar. “Sebagai peramu, adalah takdir kita untuk melampaui pengetahuan umum, bahkan menentang kodrat alam. Jikalau saat ini kita belum dapat meramu unsur alam, apakah kita tak tertantang untuk memperoleh kemampuan yang sedemikian…?”

“Omong kosong!” 

“Mungkin saja yang diriku sampaikan merupakan omong kosong belaka dalam pandangan Yang Terhormat Maha Guru Sugema. Akan tetapi, bagi diriku, meramu unsur alam merupakan sebuah impian.” Berhasil membuat sang maha guru berang dan terlihat lucu, Bintang Tenggara kembali duduk. Raut wajahnya pun berubah datar. 

Akibat tindakan Bintang Tenggara, jalannya perkuliahan berubah tegang. Suasana hati Maha Guru Sugema masih terlalu panas untuk meladeni tanya-jawab dengan baik. Walhasil, perkuliahan hari itu berlangsung lebih cepat daripada biasanya. Usai perkuliahan, segera Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara melangkah menuju kantin perguruan. Sebagai peramu, urusan perut haruslah dijaga. 


“Aku akan menempati peringkat sebagai murid terbaik dan aku akan memilih Azimat Rambut Maha Maha Tabib Surgawi!” 

“Heh! Kau boleh-boleh saja bermimpi, tapi Azimat Rambut Maha Maha Tabib Surgawi adalah milikku!” 

“Silakan kalian berlomba, tapi aku berada di garis depan. Jumlah poin yang kumiliki sudah jauh di atas kalian… Hahaha…” 

Mendengar celoteh sekelompok murid, Bintang Tenggara menghentikan langkah. Ingin rasanya meluruskan kesalahpahaman tentang ‘rambut’ dimaksud, akan tetapi benda menjijikkan itu jua yang kini membuat dirinya bimbang. Sebagaimana diketahui, kesepakatan di antara dirinya dengan Ginseng Perkasa adalah mempersiapkan tubuh baru atau klon tubuh bagi jiwa tokoh tersebut. Salah satu bahan dasar ramuan pengklonan, tak lain adalah bagian dari tubuh asli. (1)

Sebelumnya, Super Murid Komodo Nagaradja berpandangan bahwa dirinya hanya perlu meraih peringkat sebagai murid terbaik untuk membawa pulang tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang. Akan tetapi, kini ia pun wajib memperoleh azimat keriting pendek. Katakanlah dirinya berhasil menyabet peringkat sebagai murid terbaik, dan memilih azimat laknat itu. Maka untuk membawa pulang tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang, dirinya memerlukan sejumlah 140.000 poin. Sungguh angka yang tiada memungkinkan bagi seorang murid dengan waktu yang terbatas. Dirinya bukanlah Maha Guru Sugema, yang dapat meraup 10.000 poin hanya dalam sekali pertemuan. 

Menghela napas panjang, Bintang Tenggara mengenyampingkan permasalahan tersebut untuk menikmati santap siang. Akan tetapi, tetiba bergegas datang beberapa orang murid ke hadapannya. Balaputera Prameswara, menyadari akan sikap kurang ajar saudara sepupu sekaligus junjungannya di dalam perkuliahan, bersiaga. Pertarungan akan segera berkecamuk.  

“Bintang Tenggara, bukan…?” Salah satu dari mereka menyapa ramah.

Yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan. 

“Apa yang kalian kehendaki!?” sergah Balaputera Prameswara memajang wajah garang.

“Mohon maaf kami mengganggu di waktu makan siang. Kami sesungguhnya tertarik dengan pandangan dikau saat perkuliahan Maha Guru Sugema tadi. Apakah dikau berkenan berbagi ilmu…?”

Bintang Tenggara menatap, lalu mengacungkan dua jari, telunjuk dan tengah, seolah memberi tanda ‘damai’. 

“Maksudnya…? Apakah dikau tiada bersedia…?”

“2 poin…,” tanggap Bintang Tenggara. “Satu pertemuan yang berlangsung selama dua jam, di mana diriku berbagi pengetahuan dan pemahaman seputar keterampilan khusus meramu, adalah seharga 2 poin.”

 


Catatan: 

(1) Episode 164