Episode 355 - Azimat




Sebuah ruangan berukuran sedang dan berbentuk persegi enam diterangi dengan cahaya lentera pada setiap sisi dindingnya. Pada permukaan dinding batu yang basah, yang hanya menerima cahaya temaram lentera, lumut-lumut kecokelatan bertumbuhan subur. Panjang ibarat lembar-lembar rambut, jalinan lumut sepertinya tiada tumbuh secara alami, melainkan hidup karena sengaja dibudidayakan. Dari keadaannya, tak sulit menyimpulkan bahwa ruangan tersebut berada di bawah permukaan tanah. 

Sebentuk tabung berukuran besar, kiranya terbuat dari kaca nan teramat tebal, menempati bagian tengah ruangan nan lembab lagi pengap. Sisi atasnya ditutup oleh lapisan papan kedap air, lalu terdapat sulur-sulur yang menghubungkan tutup tersebut ke langit-langit ruangan persegi enam. Di dalamnya tabung kaca, terlihat cairan keruh berwarna kecoklatan. 

Berkas sinar lentera bermain-main pada permukaan kaca. Sebagian cahaya memantul temaram, sedangkan sebagian cahaya lagi menembus tabung. Buram, dari dalam tabung terlihat siluet tubuh manusia yang mengambang ringan di dalam air.

Tak ada tanda-tanda kehidupan di seisi penjuru ruangan.  

“Kreeekkk…”

Suara gerendel berdecit keras, diikuti dengan derit engsel tatkala daun pintu kayu dibuka. Tiga ahli melangkah masuk ke dalam ruangan, dua perempuan dan satu lelaki. Gerakan mereka lambat ibarat merayap, namun pembawaan mereka khusyuk sangat. 

Dua ahli segera melangkah ke sisi ruangan. Yang pertama mendatangi sumber pencahayaan, guna menambahkan cairan lemak kental demi menjaga nyala api pada masing-masing lentera. Seorang lagi menyirami jalinan lumut di setiap sisi dinding dengan ramuan khusus. 

Ahli ketiga mendatangi tabung kaca sembari melayang perlahan. Ia menggeser tutup tabung sampai sepertiga bagian atas perlahan terbuka. Dengan lambaian tangan, ia pun mulai menyuling cairan di dalam tabung. Kotoran yang menyebabkan air menjadi keruh berkumpul sampai sebesar kepalan tangan orang dewasa dan dipisahkan dari air. Setelah itu, ia meneteskan cairan tertentu dari dalam botol kecil, yang menyebabkan pencaran deras gelembung udara di dalam air. Atas rangkaian tindakan tersebut, air seisi tabung serta-merta berubah jernih. 

Menilik dari kekompakan gerak, kegiatan yang dilakukan oleh ketiga ahli tersebut ibarat sebuah ritual yang telah dijaga kelangsungannya selama ratusan tahun. Selayaknya ritual pula, adalah pengabdian tanpa pamrih yang menjadi dasar dari kepatuhan mereka. 

Tak lama berselang, dua ahli lain rampung menjalankan tanggung jawab mereka dalam menjaga cahaya lentera dan menyirami lumut. Ruangan menjadi lebih terang dan sekujur dinding sudah berubah menjadi hijau muda. Keduanya ikut melayang ringan di sekeliling tabung kaca nan besar itu. Menyapu pandang kepada satu sama lain, ketiganya serempak menganggukkan kepala. Raut wajah mereka tegar, di saat yang bersamaan menyibak harapan yang teramat besar. 

Memastikan bahwa ritual telah usai, ahli ketiga hendak kembali menutup tabung kaca. Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika salah satu dari rekannya menjulurkan lengan hendak menyentuh permukaan air. Terlihat gerakan jemari menyeka, dan di saat yang bersamaan sebulir air mata mengalir di pipinya. 

Ahli ketiga meraih tangan rekannya, menarik pelan sembari tersenyum. Sebentuk senyuman yang memberi isyarat bahwa tak lama lagi waktu yang telah lama dinanti akan tiba. Bahwasanya kejayaan telah hadir di hadapan mata. Ia pun melanjutkan menggeser tutup. 

Ketiga ahli meninggalkan ruangan. Dari awal hingga usai kegiatan merawat ruangan itu, tak ada sepatah kata yang terucap di antara mereka. Sosok tubuh yang mengambang di dalam tabung kaca, pun tiada menunjukkan aura kehidupan. 


==


“Keterampilan khusus meramu merupakan kemampuan yang menopang dunia keahlian!” 

Di tengah sebuah balairung nan luas dan besar, terlihat seorang perempuan setengah baya melayang tinggi. Di sekelilingnya, terdapat ratusan murid-murid perguruan yang menyimak dengan seksama. 

“Namaku adalah Jayanti, Sesepuh Ketiga di Perguruan Budi Daya. Kepada segenap murid yang ikut serta di dalam ajang pertukaran murid, pagi ini adalah perkulian hari pertama. Dalam tiga purnama ke depan, lupakan perguruan asal kalian, karena saat ini kalian adalah murid-murid berbakat di Perguruan Budi Daya!”

Bintang Tenggara mengenal Sesepuh Ketiga Jayanti tersebut sebagai perempuan setengah baya yang menyambut kedatangan para murid dari perguruan sahabat. Secara keseluruhan, terdapat enam belas perguruan yang ikut serta di dalam ajang pertukaran murid, yang mana setiap satu dari mereka diwajibkan membaur dengan murid-murid asli Perguruan Budi Daya. Tentu saja dirinya adalah pengecualian, karena Balaputera Prameswara yang berasal dari Perguruan Svarnadwipa senantiasa menempel di sisi.

“Kemampuan mata hati adalah yang utama,” Sesepuh Ketiga Jayanti meneruskan. 

Pengetahuan yang disampaikan selanjutnya adalah terkait bagaimana proses meramu dilakukan: memanfaatkan lesung batu sebagai wadah, menyuling menggunakan mata hati, menyampurkan bahan dasar, dan seterusnya. Pengetahuan yang menjemukan bagi Bintang Tenggara, dan kemungkinan besar senada bagi sebagian ahli baca sekalian. 

“Berdasarkan pengetahuan umum para peramu besar di seantero negeri, ramuan yang dihasilkan oleh seorang peramu memiliki taraf kemanjuran yang berbeda-beda. Angka 90% adalah taraf kemanjuran tertinggi. Hal ini berarti bahwa setiap bahan dasar di dalam ramuan tersebut berperan seutuhnya, dan percampuran di antara bahan-bahan dasar tersebut menyatu hampir sempurna. Hanya peramu kelas atas yang dapat meramu sampai ke angka 90% taraf kemanjuran, yang mana sebagian besar peramu tersebut berasal dari Perguruan Budi Daya!”

Perkuliahan umum rampung, dengan Bintang Tenggara menghabiskan sebagian besar waktu tenggelam dalam lamunan. Agenda berikutnya adalah bagian dari pengenalan Perguruan Budi Daya. Segenap peserta ajang pertukaran murid di antar berkeliling sarana dan prasarana penunjang pendidikan.

“Selamat datang di Balai Ramuan Perguruan Budi Daya,” ujar seorang Guru Muda yang berperan sebagai pemandu. Ia mengarahkan rombongan murid baru ke dalam sebuah aula nan maha luas. Rangkaian formasi segel pertahanan berpendar perkasa dan puluhan ahli berjaga sangat siaga. Pada bagian dalamnya almari-almari besar menjulang tinggi ibarat hutan belantara, dan pada setiap sisinya rak-rak tersusun kokoh dan megah layaknya tembok pertahanan kota. Aroma berbagai jenis ramuan bercampur aduk, membuat seluruh panca indera terjaga. 

“Bagaimanakah caranya memperoleh bahan dasar ramuan dari Balai Ramuan ini, wahai Guru Muda…?”

Sang guru muda menyodorkan lencana perguruan miliknya, dimana tertulis angka 2.650 poin pada sisi belakangnya. Sembari melangkah, ia pun melanjutkan, “Tiada berbeda dengan perguruan asal kalian, setiap murid wajib mengumpulkan poin. Poin didapat dengan melaksanakan tugas dari Balai Bakti. Poin yang diperoleh dapat ditukarkan dengan mata kuliah lanjutan, berbagai keperluan seperti kitab dan buku, resep ramuan tertentu, serta bahan dasar ramuan dari Balai Ramuan ini tentunya.”

“Dapatkah kami menggunakan poin yang telah dikumpulkan di perguruan asal?” suara murid lain menimpali. 

“Tentu saja tidak. Masing-masing dari kalian telah menerima lencana Perguruan Budi Daya, sehingga poin yang dimaksud adalah poin yang kalian dapatkan selama berada di sini dan tertera pada lencana tersebut.”

“Bisakah seorang murid memindahtangankan poin kepada sesama murid lain…?”

“Tentu saja bisa. Tapi ingat, dilarang keras melakukan jual-beli poin, atau berjudi menggunakan poin, atau memeras poin dari murid lain. Hukuman berat menanti,” 

Bintang Tenggara memulai hari kedua dengan perkuliahan umum yang tak perlu mengeluarkan poin. Jelang siang, ia mengunjungi Balai Bakti. Bersama dengan Balaputera Prameswara, keduanya menelusuri papan pengumuman yang memuat berbagai jenis penugasan. Berbeda dengan penugasan di Perguruan Gunung Agung yang bersifat umum atau Perguruan Svarnadwipa yang lebih menekankan pada formasi segel, tugas-tugas yang tersedia lebih banyak terkait perihal meramu. Dengan kata lain, tugas yang disajikan oleh setiap perguruan memang sejalan dengan sifat perguruan itu sendiri. 

Ramuan yang dapat dihasilkan oleh murid-murid digolongkan menjadi Ramuan Ringan, Ramuan Sedang, serta Ramuan Keras. Sesuai sebutannya, Ramuan Ringan tersedia bagi ahli Kasta Perunggu, Ramuan Sedang teruntuk ahli Kasta Perak, dan Ramuan Keras hanya dapat dikonsumsi oleh ahli Kasta Emas. Aturan umum dunia ramu-meramu, lantas menyebutkan bahwa ahli Kasta Perak dapat meracik Ramuan Ringan dengan tingkat kemanjuran yang lebih tinggi dibandingkan dengan ahli Kasta Perunggu. Dengan ketentuan tersebut, sebagian besar Ramuan Sedang untuk ahli Kasta Perak, misalnya, banyak diracik oleh peramu yang berada pada Kasta Emas.  

Bintang Tenggara mulai berhitung. Setelah sebelumnya mengecek harga bahan dasar di Balai Ramuan, maka untuk menghasilkan ramuan Jamu Babak Perunggu yang tergolong dalam Ramuan Ringan memerlukan modal sebesar 10 poin. Bila berhasil meramu dengan taraf kemanjuran 85%, maka Jamu Babak Perunggu tersebut dapat diserahkan ke balai Bakti dengan imbalan sebesar 15 poin, atau selisih untung sebesar 5 poin. Maka, untuk mencapai total 2.650 poin sebagaimana tertera pada lencana seorang Guru Muda, maka ia perlu menghasilkan 530 ramuan. Atau dengan kata lain, selama tiga purnama ia perlu meracik sebanyak enam ramuan Jamu Babak Perunggu per hari. 

Tidaklah terlalu rumit. 

Kendatipun demikian, ada satu kendala di dalam perhitungan ini. Permintaan ramuan Jamu Babak Perunggu hanya 20 paket sahaja. Dengan kata lain, Balai Bakti hanya menerima sejumlah yang telah ditetapkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa murid-murid dipaksa untuk dapat menghasilkan berbagai jenis ramuan. 

Masih belum terlalu rumit. 

Bintang Tenggara kembali menelusuri papan pengumuman Balai Bakti. Kini beralih ke golongan Ramuan Menengah bagi ahli Kasta Perak. Selisih keuntungan poin yang dapat diperoleh jauh lebih besar, yaitu rata-rata 10 poin. Demikian, ia memutuskan untuk hanya meracik Ramuan Menengah. Taraf kemanjuran pun hendaknya dibatasi pada angka 85% agar tak terlalu mencurigakan nantinya. 

Pada petang hari kedua, orientasi Perguruan Budi Daya masih berlanjut. Kali ini, murid-murid dibawa berkunjung ke Balai Pusaka. Sebuah bangunan berlantai tiga berdiri perkasa, di mana etiap lantai mewakili mutu benda pusaka yang tersedia. 

“Tentu sebagian besar dari kalian mengetahui bahwa murid terbaik dalam setiap angkatan berhak memilih dan membawa pulang satu bahan ramuan dari Balai Pusaka ini.” Guru Muda yang menjadi pemandu membuka jalan. 

Segenap murid menganggukkan kepala penuh semangat. “Bagaimanakah cara menentukan murid terbaik, wahai Guru Muda…?” Seorang gadis belia mengacungkan tangan. 

“Murid terbaik ditentukan berdasarkan jumlah poin. Ingat, bahwa poin yang dihitung adalah poin yang dikumpulkan di Perguruan Budi Daya mulai dari hari ini sampai dengan tiga purnama ke depan. Aturan yang sama berlaku bagi murid-murid asli, sehingga kalian tak akan tertinggal.”

Setelah lantai pertama, rombongan kemudian menyisir lantai dua. Saat meniti anak tangga ke lantai tiga, semangat hidup Bintang Tenggara tetiba bergelora. 

“Guru Muda, mengapakah isi Balai Pusaka ini lebih banyak memuat bahan ramuan dibandingkan dengan senjata pusaka…?” aju seorang murid kepada pemandu. 

“Perguruan Budi Daya menganggap bahan ramuan langka sebagai benda pusaka nan tiada ternilai,” jawab sang Guru Muda penuh wibawa. 

Di lantai tiga, tatkala tanya-jawab berlangsung, Bintang Tenggara telah melangkah meninggalkan rombongan. Kedua bola mata anak remaja itu tetiba berbinar, karena pada sebuah pot di atas meja dengan alas kain beludru mewah, tumbuh setangkai tumbuhan siluman. Warnanya hijau, berbentuk seperti lidah panjang dengan duri-duri halus di sisi luar, juga bercabang dua layaknya lidah ular. Pada permukaan sisi pot, tertulis jelas: 

‘Lidah Buaya Bercabang (140.000 poin)’

Rupanya tak mungkin menebus tumbuhan siluman tersebut dengan cara mengumpulkan poin saja, batin Bintang Tenggara. 140.000 bukan merupakan angka yang dapat dicapai dalam kurun waktu tiga purnama! 

“Dikau adalah Bintang Tenggara dari Perguruan Gunung Agung…” Sang Guru Muda menghampiri anak remaja yang memisahkan diri dari rombongan. Nama Bintang Tenggara tentu sudah cukup dikenal di kalangan perguruan ternama. Tak ada yang menyangka bahwa selain merupakan petarung handal, anak remaja tersebut merupakan ahli dengan keterampilan khusus sebagai peramu. Sedikit banyak, kehadiran seorang murid nan demikian berbakat menimbulkan kecemasan di mata banyak pihak. Perguruan Budi Daya sebagai tuan rumah tentu tak hendak melepas predikat murid terbaik.

“Tumbuhan siluman ini memanglah teramat langka, akan tetapi ia bukan merupakan sesuatu yang paling digemari…,” lanjut sang Guru Muda meremehkan. Jikalau tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang sudah membuat anak remaja itu terkesima, tunggu sampai dia menyaksikan benda-benda pusaka lain.

“Wahai Guru Muda, di tahun lalu, berapakah poin tertinggi yang berhasil diraih murid terbaik…?” tetiba Bintang Tenggara berujar. 

“Sekitar 10.000 poin,” tanggap Guru Muda itu cepat, sembari mempersilakan agar si murid memanfaatkan kesempatan untuk melihat-lihat bahan ramuan langka yang lain.

Tiada bisa ditawar, dirinya terpaksa tampil sebagai murid terbaik bila ingin membawa pulang tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang. Jumlah 10.000 poin capaian tahun lalu kini menjadi acuan, dan mengubah perhitungan sebelumnya. Ia lantas mengekor sang Guru Muda. 

Tak jauh di hadapan, ramai murid yang telah berkerumun di hadapan sebuah meja. Bintang Tenggara sesungguhnya tiada tertarik untuk melihat-lihat bahan ramuan lain. Akan tetapi, di hadapan seorang Guru Muda Perguruan Budi Daya, setidaknya ia perlu menampilkan gelagat layaknya murid-murid kebanyakan. 

“Ini adalah tumbuhan siluman Akar Bahar,” ujar sang Guru Muda membuka ruang. “Legenda mengatakan bahwa tumbuhan siluman ini erat kaitannya dengan pembentukan jalan keahlian.”

Bintang Tenggara hanya menoleh acuh tak acuh. Ia bahkan tak hendak meluruskan kesalahan pemahaman tentang tumbuhan siluman dimaksud. Terlebih, andai saja Guru Muda itu tahu, bahwa anak remaja ini memiliki tumbuhan siluman sejenis yang hidup sebagai benalu pada mustika tenaga dalamnya. Tidak, Akar Bahar Laksamana miliknya berbeda jenis, dan jauh lebih canggih daripada tumbuhan siluman Akar Bahar di atas meja itu. 

“Yang menjadi incaran tahun ini adalah barang langka yang lain lagi…” Menyimak raut wajah Bintang Tenggara nan datar-datar saja, sang Guru Muda tiada mudah menyerah. Ia lantas mengarahkan anak remaja tersebut ke meja lain di sudut terpisah. Lebih banyak lagi murid yang sudah berkerumun di sana. Penjagaan pun saat ketat, di mana dua ahli Kasta Emas bersiaga.

Di atas meja, dinaungi oleh sebentuk kotak kaca dengan jalinan formasi segel pertahanan nan maha digdaya, terlihat melayang ringan seutas rambut berwarna putih dan bersih. Selintas pandang, Bintang Tenggara melihat rambut yang berwujud keriting, namun pendek.

“Ini adalah benda yang teramat langka dan mungkin satu-satunya di Negeri Dua Samudera!” sang Guru Muda berujar lantang kepada segenap murid yang hadir, dan terutama kepada Bintang Tenggara. “Barang siapa yang mengenakannya sebagai azimat, niscaya kemampuan dalam meramu akan meningkat berkali lipat! 

“Wow…” Segenap murid terkesima dan semakin mendekat. 

“Bagi peramu Kasta Perak yang memakai azimat ini, dapat meracik Ramuan Menengah dengan taraf kemanjuran 90% merupakan perkara mudah!”

“Wahai Guru Muda, benarkah keterangan sebagaimana yang tertulis itu…?” Seorang murid di bagian depan demikian penasaran. Ia mengacu kepada papan nama yang menyertai kotak kaca di atas meja. 

Bintang Tenggara, masih berada di belakang kerumunan, sedikit terpancing rasa ingin tahunya. Akan tetapi, sebelum dapat membaca tulisan pada papan nama, daun telinganya menangkap paparan lebih lanjut dari si Guru Muda…

“Benar! Benda pusaka digdaya sekaligus azimat nan teramat langka ini, tak lain dan tak bukan, merupakan seutas rambut dari sang Maha Maha Tabib Surgawi!”

“Hah!?” Bintang Tenggara berteriak sampai mengagetkan beberapa murid yang berdiri di dekatnya. Ia menyelak maju, bersinggungan bahu dengan murid-murid lain yang semakin terkesima tatkala mendengar nama tokoh besar dalam dunia meramu. 

Sang Guru Muda spontan menyilangkan lengan di depan dada saat menyaksikan gelagat si anak remaja. Raut wajahnya bangga, menunjukkan bahwa pusaka di Perguruan Budi Daya jauh jauh lebih digdaya daripada di Perguruan Gunung Agung. Sudah sepantasnya. 

Sebaliknya, benak Bintang Tenggara berupaya untuk tak berburuk sangka. Dari waktu ke waktu, dirinya dapat menyaksikan perwujudan dari jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa sebagai sosok lelaki setengah baya nan bungkuk dan memegang tongkat. Rambut, alis, kumis, dan janggut tokoh tersebut memanglah serba berwarna putih. Akan tetapi, rambut, alis, kumis, dan janggut tersebut kesemuanya terurai lurus dan panjang, bukanlah pendek dan keriting! 

“Kakek Gin!” Bintang Tenggara menyergah menggunakan jalinan mata hati. Ia hendak meluruskan kesalahpahaman yang ada. Bila pendek keriting, maka kemungkinan besar merupakan rambut…

“Hue… Hehehe…” Jiwa dan kesadaran dari tokoh yang disapa terlihat demikian jumawa. Tingkah polahnya menegaskan dugaan terburuk Bintang Tenggara.