Episode 78 - Hari Pertama Turnamen Berakhir



Lin Fan berjalan meninggalkan arena dengan tenang, akan tetapi tiba-tiba dia merasakan sensasi aneh, seperti ada sepasang mata predator yang siap menerkamnya. Lin Fan mencari ke sekeliling tapi dia tidak menemukan orang itu, dengan waspada dan hati-hati Lin Fan kembali berjalan pergi.

Di tempat Gop berdiri, dia memandang Lin Fan dengan penuh kejutan, kemudian dia mencapai satu kesimpulan, sepertinya kepingan pedang gram dapat memperkuat orang yang memilikinya, memikirkan hal ini Gop menjilat bibirnya dan bergumam dengan senang, “Ini menjadi sangat menarik.”

 Lin Fan sampai ke ruang tunggu dan merasakan sensasi yang sebelumnya dia rasakan telah hilang, dia merasakan tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari mata predator tersebut, berpikir sampai di sini Lin Fan memutuskan untuk berlatih lebih keras lagi, hanya dengan menjadi lebih kuat dia tidak akan merasakan perasaan gelisah seperti ini lagi, dengan mengepalkan tinjunya Lin Fan menguatkan tekadnya.

Kemudian, setelah jeda beberapa menit, akhirnya pertandingan selanjutanya dimulai. Kali ini pesertanya adalah seorang gadis, dia berasal dari perguruan bela diri yang tidak terlalu terkenal, lawannya adalah seorang pria gemuk, dengan memakai pakain berwarna kuning, pria gemuk itu mulai berjalan menuju arena.

“Baiklah, Pelatih Pan, pertandingan selanjutanya adalah antara Tri melawan Bambang, seorang gadis melawan seorang pria, menurut Pelatih Pan bagaimana pertarungan ini akan berlangsung?” Irwan bertanya.

“Dari segi fisik, Bambang memiliki keuntungan, dia adalah seorang pria, jadi tentu saja dia akan lebih unggul, akan tetapi karena ukuran fisiknya yang cukup gemuk, maka pergerakannya akan menjadi lamban yang mungkin akan menjadi kelemahannya, sedangkan itu Tri memiliki tubuh yang ramping, dia juga seorang wanita, jadi aku yakin dia memiliki tubuh yang fleksibel dan gesit, dan itu akan menjadi keuntungannya. Namun, dalam pertarungan tidak ada yang tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi, jadi aku cukup menantikan pertarungan ini.” Ucap Pan Tong.

“Terima kasih Pelatih Pan, kita bisa lihat wasit sudah memasuki arena yang berarti pertarungan kedua akan segera dimulai, jadi mari kita saksikan pertarungan ini.”

Setelah aba-aba dari wasit, Tri segera maju untuk menyerang, di sisi lain Bambang tetap berdiri di tempatnya. Kemudian serangkaian tinju dan tendang mulai menghujani tubuh gemuk Bambang yang membuat para penonton bersorak penuh semangat. 

Dari sebagian penonton, mereka menyoraki Tri untuk terus menyerang Bambang, sebagaian lainnya memaki Bambang karena sama sekali tidak melakukan perlawanan, dia tetap ditempatnya tanpa niat untuk bergerak.

Awalnya Tri merasa senang karena ternyata lawannya, Bambang, hanyalah sebuah karung tinju, tapi setelah serangkaian serangan, Tri tidak mampu membuat Bambang bergerak dari tempat berdirnya. 

“Apakah kau sudah selesai?” tanya Bambang seraya menyipitkan matanya.

“Sialan! Jangan meremehkan aku, aku pasti akan mengalahkanmu!” 

Kemudian Tri kembali menyerang Bambang dengan lebih ganas, tapi tidak banyak reaksi yang Bambang berikan, malahan dia mulai bosan dan menguap.

“Baiklah, baiklah, cukup bermain-mainnya, mari kita selesaikan permainan ini.” 

Setelah mengatakan itu, Bambang mengencangkan tinjunya dan kemudian mengarahkannya ke bahu Tri. Tidak sempat menghindar, Tri terkena pukulan itu dan terjatuh ke lantai, bahunya terasa sangat sakit.

“Bagaimana? Apakah kau menyerah?” tanya Bambang dengan bosan.

Tri menggigit bibir bawahnya dan kemudian berkata dengan pelan, “Aku ... menyerah.” 

Setelah semua serangannya tidak berhasil bahkan membuat Bambang bergerak dari tempat berdirinya, Tri mau tidak mau harus menyerah, atau dia bisa mendapatkan luka yang lebih parah dan akan merugikannya di pertandingan berikutnya.

Setelah mengakui kekalahannya, dia segera dibawa pergi oleh tenaga medis. Sedangkan itu, Bambang mulai berjalan di bawah sorakan para penonton yang penuh semangat, tapi ada juga di antara mereka yang memakinya karena tidak menahan sama sekali meskipun lawannya adalah seorang wanita.

“Orang-orang bodoh, ini adalah pertarungan, salahkan dia yang dengan bodohnya mau mengikuti turnamen ini.” Pikir Bambang.

“Hebat sekali, hanya dengan sekali pukulan Bambang berhasil membuat Tri menyerah, bagaimana menurutmu Pelatih Pan?” tanya Irwan di studo siaran.

“Aku tidak terlalu yakin dengan bagaimana Bambang bisa bertahan dari serangan Tri, tapi aku punya dua pemikiran?”

“Oh, apa itu?”

“Yang pertama adalah lemak di tubuh Bambang yang membuat semua serangan Tri tidak berguna, dan yang kedua adalah serangan Tri yang terlalu lemah hingga tidak berefek pada Bambang. Tapi aku juga tidak terlalu yakin.” Ucap Pan Tong ragu.

Dengan senyum mengembang, Bambang berjalan melalui lorong dan menyentuh sesuatu di dalam pakaiannya.

“Haha, dengan pakaian pelindung ini, aku pasti akan memenangkan turnamen ini.”

Setelah pertarungan Tri dan Bambang selesai, kemudian pertandingan ketiga segera dimulai. Kali ini yang akan bertarung adalah seorang pemuda dari perguruan bela diri tapak kucing, Goto, melawan seorang pemuda dari sekte bela diri awan merah, Zetsu.

Goto dan Zetsu masuk ke dalam arena pertarungan. Goto yang memiliki tubuh lebih kekar mendapatkan sorakan dari penonton, sementara itu Zetsu yang bertubuh ramping dan seperti anak rajin, mendapat banyak cemoohan.

Setelah pertaruangan dimulai, Goto, dengan tekhnik telapak tangan khas dari perguruan bela dirinya mulai menyerang Zetsu, sedangkan itu Zetsu terus menghindar sambil sesekali menyerang balik. Namun, meskipun begitu Zetsu yang terus terkena serangan akhirnya keluar dari arena, yang artinya Goto memenangkan pertarungan ini.

Goto mengangkat tinjunya ke langit dan membuat para penonton berteriak penuh semangat. Setelah itu dia membantu Zetsu berdiri dan membuat para penonton betepuk tangan.

Beginilah seharusnya bela diri. Di dalam arena kau adalah musuhku, tapi di luar arena kita adalah teman.

“Pertarungan yang sengit, kedua belah pihak sudah mengerahkan semua kemampuannya, tapi akhirnya Goto yang menjadi pemenang, bagaimana menurutmu Pelatih Pan?” tanya Irwan.

“Benar, ini adalah pertarungan yang sangat bagus, sikap keduanya juga patut mendapatkan apresiasi.” Jawab Pan Tong dengan senyum di wajahnya.

Saling merangkul, Goto dan Zetsu berjalan ke ruang tunggu, bersama dengan tepuk tangan semua penonton.

Setelah pertarungan itu, akhirnya pertarungan terakhir segera dimulai. Dua orang berjalan menuju arena, orang yang berpakaian putih adalah Naldy, dia berasal dari perguruan bela diri anggrek putih, sedangkan yang lainnya adalah Dirga, dia bukan dari sekte atau perguruan bela diri mana pun, dia adalah salah satu dari dua belas orang yang berhasil lolos ke kompetisi ini melalui seleksi.

“Salam kenal, namaku Naldy.” Ucap Naldy dengan ramah.

“Salam kenal juga, namaku Dirga.” Balas Dirga dengan ramah juga.

“Kau bukan dari perguruan bela diri atau sekte manapun?” tanya Naldy penasaran.

Kali ini, tidak seperti peserta pada umumnya, Dirga memakai seragam olahraga, yang jelas berbeda dari peserta lainnya yang memakai seragam bela diri mereka.

“Ya, aku bukan bagian dari sekte atau perguruan bela diri.” Ucap Dirga tenang.

“Karena kau berhasil masuk kompetisi ini kau pasti kuat, lalu kenapa kau tidak masuk ke sekte atau perguruan bela diri saja?” 

“Bukannya aku tidak mau, tapi kedua orang tuaku sudah meninggal, jadi aku harus bekerja setiap hari untuk kebutuhan sehari-hari adik-adikku.” Dirga berkata dengan lembut.

“Maaf.” Ucap Naldy dengan tulus.

“Tidak apa-apa, dan kau tidak boleh menahan diri saat melawanku, aku sangat benci orang yang meremehkanku.” Dirga memicingkan wajahnya pada Naldy.

“Tentu saja, aku tidak akan mengalah, aku juga ingin menang.” Balas Naldy cepat.

“Baguslah kalau begitu.” Dirga tersenyum tipis.

Di studio, Irwan dan Pan Tong sedang membicarakan tentang pertarungan yang akan datang antara Dirga dan Naldy, beberapa saat kemudian ketika wasit mendekati arena, kembali perhatian kamera menuju Dirga dan Naldy.

Pertarungan antara Dirga dan Naldy dimulai.

Tidak membuang-buang waktu, Dirga langsung melesat dengan cepat menuju Naldy, di lain pihak Naldy juga bergegas menuju arah Dirga, akan tetapi gerakannya lebih anggun. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka bertemu di tengah arena, segera keduanya mengepalkan tinju dan mengarahkannya ke depan.

Bam

Kedua tinju saling beradu dan menimbulkan yang cukup keras, akan tetapi bentrokan antara mereka tidak berhenti sampai di sini saja, segera mereka mulai menyerang lagi, kali ini Dirga dengan ganas menyerang Naldy dengan sapuan kakinya, sayangnya serangan itu bisa dengan mudah Naldy hindari lalu dengan cepat dia mengirim pukulan ke arah wajah Dirga, melihat serangan itu Dirga dengan cepat menolehkan kepala, beruntung baginya tinju itu meleset beberapa mili dari wajahnya.

Namun, pukulan lain kembali menuju wajah Dirga yang tidak mampu dia hindari.

Bam

Wajah Dirga terkena pukulan tangan kiri Naldy, tapi karena tangan dominannya adalah tangan kanan, jadi pukulan tangan kirinya tidak terlalu kuat. Namun, tetap saja satu serangan itu bisa mengurangi konsentari Dirga. 

Tanpa rasa kasihan, Naldy kembali bergegas mengirimkan serangan lainnya pada Dirga. Tidak mampu menghindar, Dirga menggunakan kedua tangannya untuk menangkis serangan beruntun dari Naldy dan menunggu kesempatan.

Serangan Naldy terus berlangsung hingga Dirga kini berada di tepi arena, tidak ada lagi ruang baginya untuk berpindah. 

Penonton berteriak menyemangati keduanya. Naldy yang sangat mendominasi dan Dirga yang mampu bertahan dari serangakaian serangan dari Naldy. Pada akhirnya, mereka sangat layak untuk dikagumi.

Tiba-tiba saja, sama seperti Naldy meluncurkan tinjunya pada Dirga, Dirga mampu menangkap tinju itu dan menarik tangan Naldy hingga membuat Naldy keluar dari arena. 

Seketika penonton berteriak penuh semangat, karena setelah salah satu peserta keluar dari arena, maka pertarungan selesai sudah.

Tubuh Dirga penuh dengan lebam karena serangan dari Naldy, tapi wajahnya penuh dengan senyuman. Dia berhasil menang, meskipun itu bukan pertarungan yang hebat, tapi dia berhasil menang. 

“Haha, kau berhasil mengambil celah setelah semua staminaku terkuras, kau memang hebat.” Ucap Naldy dengan senyum kecut diwajahnya. 

Tentu saja Naldy merasa tidak senang, bagaimana pun dia baru saja kalah.

“Maaf, tapi aku ingin memenangkan kompetisi ini.” Balas Dirga.

“Tentu saja, aku mengerti.” Ucap Naldy.

Dengan selesainya pertarungan antara Dirga dan Naldy, maka pertarungan pada hari ini selesai dan akan dilanjutkan keesokan harinya.