Episode 354 - Pasangan tak lazim



Bintang Tenggara sontak menyodorkan lencana Murid Utama serta surat pengantar dari Perguruan Gunung Agung. Lelaki dewasa muda terlihat salah tingkah karena berhadapan dengan anak remaja yang berpenampilan sederhana, namun merupakan perwakilan dari perguruan ternama. Selain itu, di saat yang bersamaan ia memicu amarah perwakilan lain yang seakan hendak mengamuk tanpa alasan jelas. 

Belum sempat Balaputera Prameswara melakukan tindakan yang tiada terpuji, Bintang Tenggara bergerak merangkul pundaknya lantas menyeretnya pergi. Sepasang remaja berangkulan erat sembari menuju salah satu tenda. Kendatipun demikian, tatap mata sang saudara sepupu masih dipenuhi dengan amarah hampir tiada terbendung. 

“Wara, apa yang hendak engkau perbuat…?” gumam Bintang Tenggara tak puas. Baginya, menarik perhatian yang tiada perlu bukanlah sesuatu yang menguntungkan.

“Yang Mulia Yuvaraja!” tegas Balaputera Prameswara. “Mengapa dikau memperkenankan sembarang ahli bertindak merendahkan!?” Ia berupaya melepaskan rangkulan dan hendak kembali meluruskan permasalahan dengan lelaki dewasa muda yang sedang berjaga. Baginya, tindakan panitia penyambutan perwakilan di ajang pertukaran murid tersebut ketika menegur sang junjungan merupakan penghinaan besar bagi Kemaharajaan Cahaya Gemilang.

“Wara, panggil aku Bintang!” 

“Baik, Yang Mulia Yuvaraja! Ehem… Sepupu Bintang…”

“Apa yang engkau lakukan di tempat ini…?”

“Diriku merupakan perwakilan Perguruan Svarnadwipa dalam ajang pertukaran murid…”

“Kau bukanlah peramu…”

Raut wajah Balaputera Prameswara berubah sejenak, namun ia tetap berupaya tampil percara diri.

“Katakan yang sejujurnya…,” kejar Bintang Tenggara. 

“Hm…,” Balaputera Prameswara tiada dapat berkelit. “Kami mendapat khabar berita bahwa dikau akan berada di Perguruan Budi Daya sebagai perwakilan Perguruan Gunung Agung dalam ajang pertukaran murid…”

“Siapa itu ‘kami’?”

“Patih Balaputera Wrendaha memiliki jaringan luas di seantero Negeri Dua Samudera. Beliau mengetahui secara rinci apa saja yang terjadi setelah dikau meninggalkan kemaharajaan. Kejadian di Partai Iblis, di Pulau Belantara Pusat… kesemuanya.”

“Apakah beliau memata-matai diriku…?” Bintang Tenggara demikian penasaran, karena tiada sekalipun dirinya merasa pernah berhadapan dengan mata-mata, atau bahkan pihak-pihak yang mencurigakan, dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang.

“Adalah kewajiban beliau sebagai Wali dari para pewaris takhta untuk memastikan keselamatan…”

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” sela Bintang Tenggara. “Bagaimana mungkin engkau yang bukan peramu dapat menjadi perwakilan dari Perguruan Svarnadwipa?”

“Itu… hm…,” Balaputera Prameswara mulai terlihat gugup. Sedikit-banyak, pembawaan aslinya mulai mengemuka.

“Katakan saja…” 

“Diriku memohon kepada Nenek Sukma agar ditunjuk sebagai perwakilan…” 

Bintang Tenggara segera mengingat bahwasanya Balaputera Sukma ditetapkan sebagai Penyelia di Perguruan Svarnadwipa menggantikan Balaputera Tarukma yang melarikan diri. Di saat yang bersamaan, ia pun mulai dapat membaca alasan perubahan pada pembawaan Balaputera Prameswara. Tak pelak lagi, Nenek Sukma pastilah sangat memanjakan Wara. Betapa tidak, memberikan izin kepada seorang ahli yang tak memiliki keterampilan khusus sebagai peramu untuk mengikuti ajang pertukaran murid merupakan tindakan yang sungguh tak masuk di akal. Wara dapat mencoreng arang di wajah Perguruan Svarnadwipa!

Sebuah titik terang. Akibat perhatian yang besar dari Nenek Sukma pula, Wara yang dulunya merupakan korban cemooh dan perisakan pastinya kini dipandang sebagai sosok nan mulia. Tak akan ada yang berani menyentuhnya, membicarakan di belakang saja murid-murid yang lain akan sangat waspada. Oleh karena itu pula, kemungkinan besar di Perguruan Svarnadwipa saat ini Wara pastilah berlagak ibarat seorang jawara. 

Mengenyampingkan perkembangan yang tak lazim di perguruan Svarnadwipa, Bintang Tenggara menyapu pandang. Sejumlah tatapan mata kurang bersahabat tertuju kepada dirinya. Merasa kurang nyaman, anak remaja tersebut melangkah mundur semakin ke dalam tenda. Kemungkinan besar ada pihak-pihak yang mengenali jati dirinya. Sulit untuk disanggah, bahwa prestasi Perguruan Gunung Agung dalam kejuaraan antar perguruan di Kota Ahli turut melambungkan namanya.

“Wahai para perwakilan perguruan-perguruan sahabat, selamat datang!” Tetiba suara nan membahana menyapa segenap murid-murid Kasta Perak. “Selama tiga purnama mendatang, kalian akan mengecap kesempatan selayaknya murid di Perguruan Budi Daya!”

Takjub, pandangan mata mereka tak lepas dari sosok seorang ahli setengah baya yang melayang tinggi di angkasa. Jubah serba putih yang ia kenakan bergelombang dimainkan angin. Perlahan, ia turun ibarat dewa-dewi dari kahyangan yang berbesar hati hendak memeriksa keadaan di muka bumi. Di saat kedua kakinya menjejak di tanah, rerumputan menyibak seolah memberi penghormatan tertinggi sembari membuka ruang. Sulur-sulur bertumbuhan dari permukaan tanah, yang kemudian berubah menjadi batang yang merangkai dedaunan. Hampir dalam satu kedipan mata kemudian, bebunga penuh warna-warni bermekaran di sekeliling ahli tersebut. 

Segenap murid menyimak dengan seksama. Sungguh pemandangan yang menggugah hati dan menyentuh jiwa. Perempuan setengah baya yang menarik segenap perhatian, kemudian melontar senyum hangat selayaknya tuan rumah menyambut tetamu dengan tangan terbuka. 

“Cih!” Ginseng Perkasa menyalak. “Tipuan murah!”

Bintang Tenggara sepenuhnya menyadari bahwa bila hanya keterampilan khusus sebagai peramu, maka sulit untuk dapat menciptakan tontonan yang sedemikian indahnya. Perempuan setengah baya yang baru mendarat itu, tak diragukan lagi menguasai pula unsur kesaktian kayu. 

“Diriku adalah Sesepuh Ketiga di Perguruan Budi Daya,” ujarnya sembari merentangkan tangan dengan gemulai. “Kalian akan menetap di asrama khusus yang telah dipersiapkan. Para panitia akan mendampingi dan menyampaikan aturan. Beristirahatlah hari ini, perkuliahan pertama akan dimulai pada esok hari.”

Singkat kata dan singkat ceritera, Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara diantarkan ke sebuah bangunan nan berdiri megah. Di dalamnya, terdapat sejumlah kamar berukuran luas. Setiap satu kamar akan dihuni oleh dua perwakilan. Wara menempel ketat kepada Bintang Tenggara, mengisyaratkan bahwa ia akan mengamuk kepada panitia bila ditempatkan di kamar yang terpisah. 

“Barang siapa yang melanggar tata tertib asrama, maka akan secepatnya dipulangkan ke perguruan masing-masing.” Seorang lelaki dewasa muda yang datang ke kamar lantas melanjutkan dengan memberi uraian tata tertib dimaksud: 

1. Bertindak jujur, disiplin serta sopan baik dalam bertingkah laku maupun dalam hal berpakaian, khususnya apabila berada di tempat umum di lingkungan asrama.

2. Dilarang menerima tamu dan atau mengizinkan menginap di dalam kamar asrama, baik itu kawan maupun kerabat keluarga.

 3. Dilarang keras membawa, menyimpan, menggunakan, dan mengedarkan makanan atau minuman yang memabukkan di lingkungan asrama.

 4. Dilarang berjudi, berkelahi, melakukan tindakan kekerasan fisik maupun mental dan hal-hal lainnya yang dapat mengganggu ketertiban dan ketenangan di lingkungan asrama.

5. Menjaga kebersihan lingkungan asrama dengan tidak mencoret dinding, menempelkan selebaran dan sejenisnya, serta tidak membuang sampah sembarangan.

6. Dilarang memindahtangankan kamar serta memindahkan, mengambil atau mengganti barang-barang milik asrama dan mengubah tata letak barang-barang asrama tanpa seizin.

7. Dilarang membawa benda-benda pusaka dan atau membawa dan memelihara binatang siluman yang tidak dapat dikendalikan. Binatang siluman di dalam Kartu Satwa diperkenankan. 

8. Bagi penghuni yang akan meninggalkan asrama lebih dari sehari semalam wajib melapor kepada pengelola asrama. 

9. Waktu tenang asrama diberlakukan mulai tengah malam.

10. Bagi penghuni yang mengetahui dan atau melihat kejadian pelanggaran tata tertib yang berlaku di lingkungan asrama, wajib melaporkan kepada pengelola asrama.

“Sebelas…,” panitia tersebut berhenti sejenak. Ia memandangi kedua anak remaja yang saling berdekatan. “Dilarang melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma kesusilaan baik dengan lawan jenis, maupun dengan sesama jenis!”

Bintang Tenggara sontak melompat menjauh dari Balaputera Prameswara. Di saat tadi tiba, ia merangkul sang saudara sepupu sebagai upaya mencegah perkelahian. Setelah itu, Wara senantiasa menempel ketat karena tak hendak terpisah. Dengan demikian, bukan tak mungkin gelagat mereka berdua telah mengundang kecurigaan!


===


Gemericik air berbisik pelan, ibarat sekelompok bidadari yang sedang mengumbar rahasia bidadari lain. Pandangan mata terhalang kabut nan hangat, menyembunyikan pemandangan nan penuh misteri tentang kehidupan. Semerbak aroma bunga menggoyahkan tekad kua, bahkan pendekar perkasa sekalipun dapat dibuat luluh.

Seorang remaja lelaki mengendap-endap di balik ilalang. Menebar mata hati penuh kewaspadaan, ia berupaya untuk menyatu dengan kelembaban. Sepasang kaca mata ia kenakan, sebagai upaya meningkatkan kemampuan indera penglihatan. 

“Duk!” 

Tetiba kepalanya menyundul sesuatu nan empuk. Tatkala mendongak, kedua matanya sontak melotot dan rahangnya hampir terlepas. Ia pun meringkik pilu…

Suara decur air kolam terdengar beringas. Segera setelah itu pula, seorang gadis belia nan langsing berbalut handuk tiba penuh dengan amarah membara. “Aji Pamungkas! Lagi-lagi engkau hendak mengintip!”

Canting Emas usai berlatih keras sepanjang hari, dan hendak bersantai sejenak melonggarkan otot dan pikirkan. Ganguan yang muncul membuat ia berang bukan kepalang. Akan tetapi, keadaan yang terpampang di depan matanya sungguh mencengangkan. Aji Pamungkas sudah tergolek bersimbah darah. Dari lubang hidungnya, masih terlihat darah segar mengalir pelan. Akibat kehilangan darah demikian banyak pula, tokoh tersebut sudah tak sadarkan diri. 

Namun demikian, yang membuat Canting Emas terpana bukanlah keadaan Aji Pamungkas. Terlihat sedang berdiri dan hanya berbalut selendang pendek dan tipis, adalah sekujur tubuh yang melekuk molek. 

“Kau lagi!?” Canting Emas menghardik berang. “Apa yang kau lakukan terhadap dia!?”

“Dia menabrak pantatku…” 

“Hah!?” Sulit bagi Canting Emas mempercayai jawaban yang ditangkap telinganya sendiri. “Apa pula yang kau lakukan di sini!?” 

“Diriku mencari Bintang Tenggara…” jawaban nan meluncur santai dan demikian polosnya meluncur dari bibir tipis Embun Kahyangan. 

“Sampai kapan kau akan mencari!? Lagipula, mana mungkin kau temukan Bintang Tenggara di belakang kolam pemandian perempuan! Ada apa dengan isi kepalamu!?” Canting Emas sebentar lagi meledak, dan lebih baik baginya bila segera melangkah pergi. Ia tak peduli dengan gadis belia yang datang entah dari mana dan atas alasan apa. Pun tiada ia mengindahkan nasib Aji Pamungkas yang kemungkinan besar akan meregang nyawa karena kehilangan banyak darah. 

Akan tetapi, di saat Canting Emas mengira bahwa keterkejutannya sudah akan berakhir, betapa sudut matanya menangkap satu hal lain yang membuat terperangah. Adalah wujud sesuatu dengan sepasang bola mata belok yang seolah hendak melompat keluar. Raut wajahnya dipenuhi dengan keriput, yang demikian pucat seperti tak dialiri darah. Pundaknya berpunuk karena bongkok, serta sekujur tubuhnya bergemetar renta. 

“Apakah itu di sampingmu!?” Canting Emas menudingkan jari telunjuk. 

“Oh…? Beliau adalah Kakek Kutu Buku…”