Episode 103 - Five Versus Two


Kembali ke saat Party Bartel baru pertama kali melalukan Warp. Mereka muncul di selatan kota Eleantra, yang sudah berada di ujung pulau.

“Kalian? ... Siapa?” tanya Bartel dengan tangan terlipat di dadanya sambil menatap mereka bertiga dengan penuh intimadisi. 

“Aaaaa... a-aku Alvian. A-aku dari kelas Liquidum.” katanya dengan terbatah-batah karena gugup ditutupi badan besar Joran.

Alvian adalah pria minder dengan rambut putih pendek dan menggunakan mantel tebal berwarna biru yang membuatnya mudah dikenali sebagai penyihir air.

“Aku Ishnu!” katanya dengan penuh semangat, padahal berkeringat karena takut sewaktu-waktu tertiban Joran. “Da-dari Ignis.”

Ishnu adalah seorang petarung elemen api dengan dual dagger. Ia memakai ikat kepala berwarna merah, rambutnya oranye jabrik seperti bara api dan tubuhnya lumayan kekar meski tidak besar.

“A-aku Dhai,” katanya sambil menutup kepalanya dengan dua tangan seperti orang yang takut dipukul. “Aku satu kelas dengan kalian. Masa kalian tidak kenal denganku?”

Dhai seorang berkulit sawo matang yang tampangnya terlihat seperti tukang, ia berkumis tipis dan selalu bertarung dengan tangan kosong, satu-satunya kemampuan yang diandalkan adalah kemampuan mengeraskan tubuh.

“Hmm...” Bartel melihat mereka dengan alis melengkung turun dan mulut cemberut. “Kalian semua terlihat lemah, kalau kalian lemah... kenapa bisa muncul bersama kami.”

“Aghh... aku juga tidak tahu.” kata Alvian sambil geleng-geleng kepala dan terlihat ketakutan.

“Mungkin ini yang dimaksud warp secara acak itu!” jawab Ishnu dengan semangat. 

“Tolong jangan tiban kami.” kata Dhai dengan ketakutan.

“Tendang saja mereka keluar.” sambung Joran menilai kemampuan mereka dan menatap badan kecil mereka sambil menunduk ke bawah. “Kita berdua saja cukup. Mereka semua terlihat lemah, tak akan membantu banyak.”

“Huh! Aku sangat setuju denganmu Joran.” kata Bartel sambil melipat tangan dan menghentak-hentakkan kaki, meninmbang-nimbang keputusannya. “Oke! Kalian semua aku tendang dari party, Pergilah! Kalian bukan bagian dari party kita lagi.”

“HEEE !!?” 

“HEEE !!?” 

“HEEE !!?” 

Alvian, Ishnu dan Dhai serentak kaget.

“Apa aku kurang jelas mengatakannya? Kalian kutendang dari party.” Bartel kemudian mengusirnya. “Sana cepat pergi, sebelum kurebut tas kalian itu.”

“Yah, tapi masa gitu.” kata Alvian yang kecewa namun tidak bisa berbuat apa-apa.

“Huft... daripada ditiban.” kata Ishnu sambil pelan-pelan menoleh ke atas dengan takut-takut. “Mending aku di kick dari party ini.”

“Jadi kita pergi nih?” kata Dhai yang masih terus melindungi kepalanya. “Beneran kan? Kita pergi nih?”

“Iya! Sana-sana, cepatlah pergi. Sho, shoo...” Bartel dengan teganya mengusir mereka seperti mengusir seekor kucing liar. “Mana bisa aku berkerjasama dengan orang yang ketakutan melihat Joran.”

***

16.23 Hari pertama.

Di perbatasan antara kota dan hutan di Eleantra.

“Huh! Kita semua sudah memburu terlalu banyak, tapi tak satupun cukup kuat untuk menjadi lawan yang sepadan buat kita.” Nicholas menepuk-nepuk tangannya selagi mulai menghentikan api hitam di tangannya. “Dasar orang-orang lemah.” ucapnya dengan pandangan merendahkan pada para tahanannya.

“...” Velizar menatap dengan wajah datar di depan orang-orang yang sudah di tangkap dan diikat menggunakan sihir Dark Thorn.

“Dengan begini nilai token kita memiliki total 241 poin.” kata Ikzen sambil melihat tasnya berisi banyak sekali token, “Ini sih banyak banget.”

“Apa kita tidak bisa beristirahat dulu, mataku sakit sekali kalau terlalu banyak menggunakan kemampuan ini.” kata Clow sambil memejamkan mata dan mengucek matanya.

Sementara Lyanna masih fokus membentengi rekan satu partynya dengan Black Barrier. Tangannya terus mengangkat lebih tinggi dari kepalanya.

“Curang! Curang banget! Kalian semua berasal dari kelas yang sama.”

“Betul! Betul! Masa bisa begitu?”

“Iya benar! Curang! Kalian total saling melengkapi!”

“Kalau begini bagaimana mengalahkannya? Terlebih secara misterius kami tidak bisa menggunakan Aura kami.”

“Berisik! Tak usah banyak bicara kalian!” balas Nicholas dengan geram. “Orang lemah ya lemah saja.”

“Cih! Dia sombong sekali.”

“Seperti rumornya, meski dia pintar. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya itu menyakitkan.”

JGER! ... JGER! ... JGER!

“Hmm!?” Nicholas menyadari sesuatu. “Clow, apa masih ada orang di dekat sini?” tanya Nicholas sambil meremas-remas tangannya.

“Iya, iya, tunggu sebentar. Mataku sakit nih.” Clow sekali lagi membuka mata dan kemampuan mata Clow langsung di aktifkan kembali, seketika warna matanya berubah menjadi oranye terang berbentuk cincin. Dalam 3 detik kemampuannya aktif, Clow langsung menyimpulkan. “Tidak ada lagi, semuanya menjauhi tempat ini. Kecuali dari arah sana.” Clow menunjuk ke selatan. “Ada siluet manusia berbadan seperti raksasa datang menuju kesini.”

“Cih,” Nicholas mengkertakan giginya. “Siapa lagi yang cocok dengan deskripsi barusan selain Joran.”

“Joran ya? Hmm...” Velizar mengingat-ingat. “Cewek besar yang di lawan Alzen dengan petir.”

“Nico? Apa kita akan lawan mereka?” tanya Clow yang terus menerus mengucek matanya.

“Tentu saja,” Nicholas berjalan melewati Clow dan berdiri di garis depan menuju selatan. “Setelah pertarungan ini kita akan beristirahat makan malam.” 

“Tapi... kita semua sudah tidak dalam kondisi prima,” Clow menjelaskan. “Sedangkan mereka. Dilihat dari terang auranya, sepertinya belum melakukan pertarungan dengan siapapun.”

“Biar dalam kondisi bagaimanapun,” kata Nicholas dengan yakin. “Aku pasti menang.”

JGER! ... JGER! ... JGER!

Suara langkah kaki Joran mulai semakin jelas terdengar dan tak lama kemudian, Joran dengan Bartel muncul di hadapan party Nicholas. 

Nicholas tersenyum dan kembali mengaktifkan kuda-kuda sihirnya. Kedua tangannya diselimuti api hitam berbarengan dengan keempat anggota party lainnya.

***

“Sekarang... KAU SUDAH KALAH !!” kata Rivaldo yang siap menghabisi Luiz.

“Hentikan !!” teriak Cindy sambil menghantam kepala Rivaldo keras-keras dari belakang.

“AWWW !!” Rivaldo mengusa-usap kepalanya kemudian berbalik badan dan membentak Cindy. “Apa yang kau lakukan?! Dasar cewek sialan!” 

Kemudian Cindy menampar Rivaldo di pipi kirinya dan menasehatinya sambil menangis dengan badan gemetar. “Kau tidak bisa berpikir ya! Party kita sudah berkurang satu tahu! Dioz sudah rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan party ini. Dan lagi, kita juga dalam kondisi yang sangat sulit sekarang ini. Lalu tambah lagi kau! Yang malah menyerang rekan sendiri, dengan membuat keributan dengan ketua party kita. Coba kau pikir lagi! Apa yang kamu lakukan itu benar! Coba pikirkan! Rivaldo... pikir!”

“Hei dengar ya! Memangnya siapa yang masuk ke dalam party ini. Kalau saja ketua kita bukan orang lemah seperti dia!” Rivaldo menunjuk ke belakang sambil empat mata saling bersahut-sahutan dengan Cindy. “Kita tidak perlu jadi pecundang yang melarikan diri seperti ini!”

“Kau masih belum mengerti juga ya! Luiz tidak lemah! Dia berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan kita. Hanya saja lawannya itu Nicholas sang juara turnamen. Memangnya kita bisa apa di hadapannya.” balas Cindy berargumen. “Kalau kau pikir kau bisa lebih baik dari Luiz dalam memimpin, kenapa kamu tidak maju saja sewaktu pengambilan token emas dan jadi pemimpin!”

“Memangnya untuk mengkritik kita harus jadi orang itu dulu!” balas Rivaldo. “Logika macam apa itu! Apa untuk mengkritik pemimpin harus memimpin, jadi kalau mau mengkritik maling kau harus jadi maling? Dan mengkritik orang bodoh kau harus jadi bodoh! Begitu?! Hah!”

“Bukan itu maksudku,” Cindy memegang tangan Rivaldo dan memohon dirinya untuk berhenti. “Aku hanya ingin kau...”   

Plak!

Rivaldo langsung dengan kasar menghempas Cindy hingga terjatuh di tanah dan mengarahkan tongkatnya di depan wajah Cindy. “Kalau kau juga mengganggu, aku tak akan segan membakar wajah cantikmu itu.”

BRZZZTTT !!

Rivaldo seketika langsung tersambar listrik dari belakang dan langsung melumpuhkannya hingga tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.

Luiz berjalan mendekati Rivaldo yang tersungkur di tanah dengan badan gemetar dan lumpuh. Dalam posisi itu, gigi Rivaldo terlihat geram dan matanya menatap tajam Luiz yang berdiri di dekatnya. Tapi ia tidak bisa mengatakan sepatah katapun dari mulutnya.

Sambil memandang Rivaldo dengan tatapan kosong, Luiz berkata. “Kau, kutendang dari party ini.”

Wajahnya terlihat lelah menghadapi seorang pengkhianat di partynya ini.

Luiz kemudian berjalan meninggalkan Rivaldo, kembali menggendong Fhonia dan pergi melanjutkan perjalanannya lagi. 

Tanpa Luiz bicara sepatah katapun, Cindy langsung bergegas naik dan berjalan menyusul Luiz keluar dari hutan Eleantara ini. 

Sambil sekali menatap ke belakang melihat kondisi Rivaldo yang terkapar lumpuh, setelahnya ia fokus melihat ke depan mengikut ketua partynya.

***

Soleil sedang berjalan ke arah barat Evania sambil berjalan mengendap-ngendap. 

“Katanya, Supply Dropnya disebar ke 9 region dan jauh dari tempat berpenghuni.” Soleil berpikir sambil melihat peta yang ia pegang dengan mengusap-usap dagunya, Ia bersembunyi di balik semak-semak untuk menghindari pertarungan yang tidak perlu. 

“Evania ada di sebelah barat pulau. Di sebelah timur Evania ada Calya yang terlihat dari peta ini, sepertinya adalah area pedesaan. Aku asumsikan tempat ini ada yang huni. Jadi area kosong yang tersisa. Hmm...” mata Soleil perlahan bergerak melihat ke arah kiri peta. “Cuma ujung barat pulau ini.”

***

Di Eleantra. Antara perbatasan kota dan hutan disana.

“Jadi ternyata kamu ya Nicholas,” kata Bartel dengan tatapan menjengkelkan melihat kelima calon lawannya ini. “Pusat dari semua kekacauan disini.”

“Dia pria yang memenangkan turnamen dan berhasil mengalahkan Alzen di Final.” kata Joran sebagai kesan pertama bertemu dengan Nicholas secara langsung.

“Si biksu botak dan si cewek raksasa,” kata Nicholas dengan tatapan merendahkan mereka. “Belakangan ini kalian selalu berduaan. Kalian ini resmi menjalin hubungan atau...”

“Ya! Kami ini berpacaran! Beberapa tahun lagi setelah lulus dari Vheins kami akan menikah!” Bartel mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh. “Iya kan Joran!” katanya sambil menatap ke atas.

“Aku belum menyetujuinya,” balas Joran dengan ragu-ragu. “Tapi jika itu yang kau rencanakan...”

“Hah!? Ahahahaha!” Nicholas mentertawai mereka. “Dasar biksu gila. Bisa-bisanya tertarik dengan monster besar ini!”

“Apa kau bilang?! Monster?!” urat kepala Bartel langsung terlihat di kepala plontosnya. Wajahnya memerah dan seketika ia menjadi marah. “Tarik kembali ucapanmu barusan!”

“Buat apa? Yang kukatakan memang benar adanya kan?” Nicholas terus merendahkan mereka.

Bartel seketika menjadi geram dan maju mendekati Nicholas. “DIAM !!”

Tangan besar Joran menahan amarah Bartel. “Jangan terpancing olehnya Bartel. Amarah memang membuat kita kuat, tapi kita jadi lebih mudah dikendalikan musuh.”

“Kau benar, maaf Joran.“ Bartel menarik nafas dan menenangkan diri. “Maafkan aku.”

‘Menarik,’ pikir Nicholas sambil memandang ke atas mengamati Joran. ‘Dia terlihat jauh lebih tenang dibanding sewaktu di turnamen dulu.’

“Nah sekarang...” Bartel melakukan kuda-kuda ala pencak silat, badannya dibungkukkan dan kaki nya berjarak cukup jauh satu sama lain dan dengan tangan terbuka lebar, satu di dada dan satu di pinggang.

Bartel segera mengepalkan tangan kanannya dan meninju ke tanah. 

“Ground Fissure !!”

Tanah itu bergetar dan bergerak maju membuat retakan yang cukup besar lurus di depannya. Hingga tanah itu berlobang.

Party Nicholas terlihat tenang-tenang saja karena selama puluhan pertarungan tak satupun berhasil menembus pertahan Black Barrier Lyanna.

Namun ketika Ground Fissure dari Bartel mampu menggoncang tempat mereka berpijak, saat itulah pertama kali mereka menerima kerusakan yang cukup berarti. 

Keseimbangan Lyanna goyah hingga membuatnya terjatuh dan tangannya otomatis turun hingga tidak lebih tinggi dari kepalanya dan seketika Black Barriernya menghilang.

“Lyanna!” sahut Nicholas.

Ikzen terjatuh di celah tanah yang dibuat oleh Ground Fissure.

“Tolong! Tolong! Aku terjebak!” kata Ikzen dengan panik.

Nicholas segera menoleh ke belakang melihat Ikzen di dalam celah tanah itu. “Ikzen!”

Namun ketika Bartel mendapatkan mangsanya, ia langsung menepuk kedua tangannnya dan mengcast sihir.

“Ground Lock !!”

Bartel mengunci Ikzen dan mengikatnya di himpitan tanah, separuh badan Ikzen terjerembab di dalamnya. Perlu menggali cukup dalam untuk bisa mengeluarkannya.

“Bagus! 1 Healer tumbang.”

“Tidak! Tidak! Aku terperangkap disini! Tolong! Tolong keluarkan aku.”

JGER! ... JGER! 

Joran maju dua langkah, kemudian melompat. 

Nicholas segera fokus melihat ke depan lalu menoleh ke atas melihat dengan cepatnya badan sebesar Joran turun dari atas langit dengan tangan terkepal dan menghantam tanah seperti hantaman palu.

“GIGA EARTH STOMP !!”

“Black...”

Nicholas masih mencoba meng-cast sihir Black Barrier namun tidak sempat lagi.

JGEEEEEEEEEEEERRRRRRRR !!

Tanah berguncang dan angin kencang terhempas di pusat hantaman itu. Tanahnya berlubang sebesar 3 diameter dan daun-daun pohon di hutan belakang Nicholas berguguran akibat hempasan angin barusan.

Setelah debu-debu tanah menghilang dari sana, Lyanna didapati Nicholas sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Armor hitamnya hancur dengan kerusakan yang parah dan tubuhnya berlumuran darah dari kepala hingga ujung kakinya.

Nicholas benar-benar dibuat panik, wajahnya terlihat sangat khawatir dan dipenuhi keringat sambil ekspresinya berpikir keras untuk mencari jalan keluar.

Clow sudah ketakutan setengah mati, kakinya gemetar bahkan ia terjatuh karena saking lemas tubuhnya. Clow diam-diam melarikan diri dan bersembunyi di balik pohon-pohon di belakang mereka. “Maafkan aku, kalau dalam urusan bertarung seperti aku tidak bisa berbuat banyak. Maaf ya sekali, semuanya kuserahkan pada kalian.”

Clow melarikan diri tanpa seorangpun menyadarinya. 

Di saat genting seperti ini, Velizar sama sekali tidak terlihat takut, ia tetap tenang dan fokus, berjalan memanjat tubuh besar Joran dengan berpijak pada lengan Joran, ia melangkah naik dengan cepat dan menarik pedangnya begitu sudah berdiri melayang tepat di depan wajah Joran. 

“Negate Slash !!”

Trarararang !! Crassstt !!

Tebasan Velizar menarget langsung pada mata Joran, yang ia tidak tahu, mata Joran saat ini sekeras besi hingga saat pedangnya bersentuhan dengan matanya, suaranya terdengar seperti berbenturan dengan besi.

Tapi di ujung tebasan Velizar berhasil membuat luka pada samping kiri mata Joran yang terlihat berdarah.

Setelah menyerang, Velizar menyarungkan kembali pedangnya dan melakukan salto untuk mendarat dengan sempurna di atas tanah. Setelah mendarat ia memandang ke atas. “Ohh sial, rupanya dia punya elemen lain.”

“Menyingkir dari hadapan Joran!” Bartel dengan cepat bergerak ke arah Velizar dan meninjunya. 

Pipi kanan Velizar terkena tinjunya, namun dengan cepat pedangnya juga menebas badan kekar Bartel dan melukainya juga memberikan efek khusus dari pedang Velizar.

Dan saat tertinju pun, hingga ia terseret-seret di tanah. Velizar tetap dalam wajah datarnya.

“Velizar!” sahut Nicholas.

“Jangan khawatirkan aku.” Velizar berdiri kembali dengan mengusap-ngusap pipinya. Ia kesakitan tapi wajah datarnya membuatnya terlihat baik-baik saja. “Sekarang kau punya waktu kurang dari 25 detik.”

Nicholas kembali fokus untuk menghadapi Bartel dan Joran seorang diri.

“Dasar sialan!” Nicholas mengucapkannya dengan nada yang sedikit ketakutan. Wajah kini sangat basah karena keringat dingin yang keluar dari pori-porinya, sementar seluruh anggota partynya sudah tumbang kurang dari 2 menit saja.

“Sial! Aku tak menyangka raksasa itu sekuat ini.” pikir Nicholas.“Aku juga tak pernah melihat si botak itu bertarung serius. Ia dikalahkan dengan mudah oleh Hael waktu itu, dan sudah. Aku tak pernah menyangka dia bisa membuatku kerepotan begini.”

“Hah! Jadi cuma ini kemampuan sang juara?” kata Bartel sambil menepuk-nepuk tangannya.

“Bartel! Jangan pernah remehkan musuhmu.” Joran memperingatinya. “Aku dulu sempat meremehkan Alzen dan kau tahu dimana aku berakhir.”

“Maaf Joran, kau sudah memetik banyak pelajaran dari kejadian setengah tahun lalu.” Bartell maju beberapa langkah mendekati Nicholas yang waspada. “Tapi kali ini berbeda! Kami berdua juga adalah sang juara di Fel Tournament! Dulu aku sempat mengagumi Nicholas, tapi melihat kau begitu sombongnya dan memandang rendah semua orang termasuk pendungkungmu, membuatku malu mengagumimu.”

‘15 detik lagi,’ pikir Velizar. ‘Kenapa kau diam saja Nicholas?’

Mata Velizar memandang Nicholas dari jauh yang saat ini terlihat kebingungan memutuskan langkah selanjutnya. Velizar saat ini berdiri di ujung tengah antara pertarungan kedua party ini.

***