Episode 97 - Wangsit Dharmadipa (2)



Di Keraton Balai Riung Surasowan Banten, Kyai Surakarna beserta ketiga orang muridnya menjura hormat ketika Sultan Maulana Yusuf masuk untuk menemui mereka. Sang Sultan langsung meminta Kyai Surakarna dan ketiga muridnya untuk bangun, dengan senyum lebar, Sang Sultan segera menyapa dan memeluk Kyai Surakarna. “Kyai Surakarna… Silahkan.” sapanya dengan ramah seraya mempersilahkan para tamunya untuk duduk kembali.

“Ada berita apa Kyai? Jauh-jauh dari Pantai Selatan datang kemari.” tanya Sultan.

“Hanya melepas kangen Gusti, mudah-mudahan Allah Ta’alla selalu melindungi dan melimpahkan berkahnya pada Gusti Sultan dan seluruh rakyat Banten.” jawab Sang Kyai sambil mendoakan Sang Sultan.

“Amin amin Ya Robal Alamin… terima kasih Kyai.” ucap Sultan, kemudian Sang Sultan menatap dengan tajam pada kedua bola mata Sang Kyai yang menundukan kepalanya dihadapannya. “Kyai, saya tidak melihat Kyai ketika saya dinobatkan sebagai Sultan, itu artinya kita sudah tidak bertemu selama empat tahun Kyai.”

Kyai Surakarna tersenyum simpul sembari tetap menundukan kepalanya. Sebenarnya alasan ia dulu tidak hadir pada pentasbihan Sultan Banten adalah suatu bentuk protes dan sindiran secara halus kepada Kesultanan Banten, pada intrik-intrik Politik Kesultanan Banten yang menatas-namakan penyebaran Islam untuk dapat “Mencaplok” wilayah Pajajaran dan mengusai seluruh tanah Pasundan, karena menurutnya hal tersebut bisa menimbulkan peperangan yang berkepanjangan di tanah Pasundan. Jika memang tujuannya untuk menyebarkan Islam di Tanah Pasundan,  

Ia berpendapat, akan lebih baik jika mereka bisa berdakwah dan mengislamkan Ratu (Sang Hyang) serta para pembesar Pajajaran secara halus untuk menghindari perpecahan dan peperangan di tanah Pasundan yang berkepanjangan. 

Dan kelak kekhawatiran Sang Kyai ini memang terbukti, sebab dalam naskah-naskah Babad serta naskah carita parahyangan, tanah Pasundan selalu dilanda kemelut peperangan yang berkepanjangan setelah surut dan runtuhnya kerajaan Pajajaran, sampai akhirnya seluruh wilayah Pasundan dikuasai oleh Bangsa Kebo Bule dari negeri Matahari terbenam.

Namun demikian tak mungkin ia berbohong apalagi pada seorang Sultan yang juga merupakan seorang Imam satu negara. Maka Sang Kayi menjawab juga dengan menjelaskan apa yang benar-benar ia alami empat tahun yang lalu. 

“Kebetulan saat itu saya berada di satu dusun yang terpencil di wilayah Mega Mendung sehingga berita itu tidak masuk.Beberapa waktu kemudian, ketika saya mendengar kabar tersebut, kami sedang disibukan oleh kabar pembantaian para ulama di Mega Mendung oleh mendiang Prabu Kertapati, sehingga saya dan para murid saya yang tersisa harus berdakwah sembari dikejar-kejar oleh prajurit Mega Mendung, sampai akhirnya kami menetap di satu dusun terpencil di Pantai Selatan yng merupakan perbatasan Banten dengan Mega Mendung.” jelas Sang Kyai panjang lebar.

“Murid-murid Kyai yang tersisa apakah mereka ini?” tanya Sultan.

“Benar Gusti, hanya mereka bertigalah yang selamat dari kejaran Prajurit Mega Mendung… Tapi Alhamdulillah, saya sudah mendengar kabar tentang roda pemerintahan Gusti, segalanya berjalan dengan lancar, Banten menjadi negara yang amat maju dan makmur rakyatnya.” angguk Kyai.

“Terimakasih… Oya bagaimana dengan usaha Kyai untuk mendirikan pesantren di Pantai Selatan, sudah membuahkan hasil?”

“Alhamdulillah sudah dimulai, tapi belum menampakan hasil…” Kyai Surakarna berhenti sejenak, wajahnya menjadi sangat keruh, desahan nafasnya yang menjadi berat terdengar jelas oleh Sultan. “Kebetulan Desa itu sedang dilanda gangguan Iblis yang membuat masyarakat kembali kepada kemusyrikan…”

Sultan sudah dapat menduga bahwa yang dimaksud oleh Kyai adalah Dharmadipa, namun ia ingin memastikannya dari mulut Kyai Surakarna sendiri. Ia pun tersenyum penuh makna. “Ahaha… Dalam bentuk apa Iblis itu mengganggu mereka Kyai?”

“Saya curiga kalau Iblis itu adalah Iblis yang pernah membuat musibah Rajapati di wilayah Mega Mendung…” sahut Kyai.

“Siapa dia?” tanya Sultan dengan nada menyelidik meskipun ia sudah dapat menduga jawaban Kyai Surakarna.

“Wujudnya mirip sekali dengan Pangeran Dharmadipa, namun kulit di sekujur tubuhnya pucat pasi bagaikan kapas, kedua bola matanya merah semerah darah, tubuhnya amat dingin bagaikan mata air dari pegunungan, dan… Dari tubuhnya menghamparkan bau kemenyan yang bercampur dengan bau kembang tujuh rupa, tanah kuburan, serta bangkai busuk…” papar Kyai.

“Kyai yakin itu adalah Pangeran Dharmadipa?”

“Hamba yakin kalau wajah dan perawakannya sama persis dengan Pangeran Dharmadipa, karena dialah yang memimpin pembantaian para ulama di Mega Mendung beberapa tahun silam…”

Sang Sultan mengangguk-ngangguk, wajahnya nampak sedang berpikir. “Ya… Ya… Saya dengar sepak terjangnya dari almarhum Prabu Bogaseta sewaktu dia mengabdikan dirinya disini, tapi yang saya dengar, dia sudah tewas oleh putra kandung Prabu Kertapati, Raden Jaya Laksana yang sekarang saya angkat menjadi Tumenggung disini.”

Kyai mengangguk, “Benar Gusti, mungkin dia itu menganut suatu ilmu hitam. Hingga mayatnyapun masih mampu melakukan kejahatan.”

“Lalu maksud kedatangan Kyai kemari untuk minta bantuan menghancurkan mayat hidup itu?” tebak Sultan.

Kyai Surakarna pun menjura. “Benar Gusti, dusun itu harus diselamatkan Gusti, disamping korban jatuh terus-menerus secara mengenaskan, hal itu juga akan mempengaruhi keimanan warga desa yang baru saja mengenal Islam, iman mereka akan luntur dan kembali musyrik. Akibatnya syiar Islam di daerah pedalaman, terutama di wilayah Pantai Selatan akan terganggu.”

Sultan menghela nafas panjang, “Hhhh… Iya benar. Saya akan berusaha Kyai, saya minta Kyai pun harus bisa memberikan ketentraman kepada masyarakat yang sedang bingung itu.”

“Insyallah Gusti,” angguk Kyai.

“Insyallah saya tahu orang yang tepat untuk mengatasi masalah ini, Insyallah saya akn minta dia untuk mengunjungi tempat Kyai.”

Kyai Surakarna mengangguk, ia sudah dapat menebk siapa yang akan diutus oleh Sultan, maka ia pun menghanturkan sembah. “Terima kasih Gusti.”

***

Malam harinya di rumah Tumenggung Jaya Laksana, Jaya Laksana nampak sedang membungkus pakaiannya kedalam satu buntelan kain, Galuh Parwati nampak membantu suaminya membungkus pakaiannya dengan wajah sendu. “Berapa lama Kakang akan pergi?”

“Paling lama mungkin dua sasih Nyai…” jawab Jaya dengan ragu, karena ia sendiri pun tak tahu berapa lama pastinya ia akan berangkat untuk menunaikan tugas dari Sultan.

“Dua sasih? Hmm…” desah Galuh dengan suara bergetar.

Jaya menghela nafas berat sembari mengikatkan kain buntelan berisi perbekannya, wajahnya keruh sekali. “Nyai… Menurut perkiraan berapa lama lagi kamu akan melahirkan?”

“Sekitar sa… Satu sasih lagi… Hiks… Hiks…” jawab Galuh yang mulai terisak, butiran-butiran bening mulai jatuh membasahi pipinya.

Jaya pun langsung memeluk istinya. “Maafkan aku istriku… Aku terpaksa pergi dan tidak bisa mendapingimu untuk melahirkan buah hati kita…”

Tapi Galuh malah mendorong tubuh suaminya dengan keras sehingga Jaya terpapah ke belakang. “Tapi kenapa harus sekarang?!”

“Maaf Galuh, itu perintah dari Gusti Sultan yang tak kuasa aku tolak…” jawab Jaya dengan lebut.

“Tapi kenapa harus Kakang yang mendapatkan tugas untuk memusnahkan Dharmadipa?! Kenapa bukan yang lain?! Bukankah kita semua sudah mengetahui kesaktian mayat hidup Dharmadipa itu?! Sudah banyak orang sakti yang tewas ditangannya, bahkan guru Kakang sendiri, Kyai Pamenang ikut tewas ditangannya!” rengek Galuh dengan histeris.

Jaya tersenyum lembut, kemudian membelai kepala istrinya dengan lembut. “Mungkin ini memang sudah suratan takdir dari Gusti Allah istriku, takdir ini harus terlaksa melalui titah Gusti Sultan…”

“Baik! Baiklah! Tidak apa-apa Kakang pergi dan tidak menemaniku untuk melahirkan buah hati kita! Tapi aku minta Kakang kembali pulang! Kakang harus kembali pulang! Kembali untuk membesarkan anak kita!” pinta Galuh sambil memeluk erat suaminya.

“Isnyallah istriku, maka tolong doakan keselamatanku… Oya menurut Emak Paraji* dan Tabib Wong, apakah anak kita akan laki-laki atau perempuan?” (Paraji = Dukun Beranak)

“Menurut Emak Paraji dan Tabib Wong, anak kita akan… Akan perempuan Kakang… Maafkan saya…” jawab Galuh dengan lemas.

“Kenapa kamu minta maaf segala istriku?”

“Karena belum bisa memberikan keturunan laki-laki untukmu Kakang, laki-laki yang akan meneruskan trah dirimu, trah raja Mega Mendung!”

Jaya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia tersenyum lembut seraya mengusap-usap kepala istrinya. “Kenapa kamu beranggapan seperti itu Nyai? Baik laki-laki maupun perempuan sama saja bagiku, anak kita adalah rahmah dan rezeki yang tiada ternilai yang diberikan oleh Gusti Allah kepada kita! Jangan kamu beda-bedakan lagi mereka!”

“Baik Kakang…” jawab Galuh sambil menyeka air matanya.

“Karena kemungkinan kamu akan melahirkan selama aku pergi, maka aku akan memberikan nama untuk anak kita sekarang, bagaimana?”

Galuh mengangguk, “Saya setuju saja Kakang…”

“Baik, jika perkiraan dari Emak Paraji dan Tabib Wong benar bahwa anak kita akan permpuan, maka akan kuberi nama Gayatri Pramudiawardhani, akan tetapi jika perkiraan mereka berdua meleset dan anak kita laki-laki, akan kuberi nama Batara Barmawijaya!”

Galuh mengangguk sambil tersenyum. “Sungguh nama yang bagus, semoga nanti anak kita akan mejadi orang yang agung segaung namanya!”

“Amin… Nanti kita akan bagi tugas untuk mendidik anak kita, aku yang bertugas untuk mengajarkan cara dia menghadapi dunia yang ganas, kamu bertugas untuk mengajarkan dia kelembutan pekerti agar ia bisa menjadi insan yang penuh welas asih!”

“Maka dari itu Kakang harus berjanji untuk kembali dengan selamat!” rengek Galuh.

“Insyaallah istriku, doakan aku!” jawab Jaya yang kemudian mengecup kening istrinya.

***

Lewat tengah malam, ketika langit malam hitam pekat gelap gulita. Suara dendang riang serangga-serangga juga hewan-hewan malam yang biasanya terhidang kini enggan bersuara Diatas kepala mereka bulan yang biasanya lembut bersinar putih tertutup awan hitam, begitu pula bintang gemintang yang biasanya bercahaya berkerlap-kerlip diatas hamparan beludru biru kehitaman yang maha luas tak memancarkan cahayanya sedikitpun, raib ditelan gelapnya awan seolah ikut menggalau bersama perasaan Tumenggung Jaya Laksana.

Karena tak mampu meredakan kegalauan dan kegundahan hatinya, maka Sang Tumenggung bangun dari atas tempat tidurnya meninggalkan istrinya yang nampak terlelap. Diambilah air wudhu, kemudian ia melaksanakan sholat sunah Tahajud di mushola rumahnya.

Setelah selesai sholat, ia memanjatkan doa kepada Gusti Allah Sang Maha Penguasa, memohon jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi. “Duh Gusti Sang Pencipta Alam Semesta. Duh Gusti yang menciptakan segala mahluk hidup, yang menciptakan kebaikan dan keburukan, yang menciptakan wangi dan busuk. Berikan hamba kesempatan, untuk memperbaiki kesalahan yang hamba perbuat. Berikan kekuatan untuk menumpas kekuatan Iblis yang telah menimbulkan mudaharat bagi kehidupan umat manusia yang tidak berdosa. Hamba taubat padamu ya Allah… Hamba menyadari tidak ada kekuatan lain kecuali kekuatanMU ya Allah, dan hanya atas izinmu, hamba ingin menghancurkan kesesatan yang kini mengganjal di hati hamba… Astagfirullah… Astagfirullah…” ucap Jaya sembari meneteskan air matanya karena penyesalannya yang tidak mampu menyadarkan Dharmadipa dan Mega Sari dari kesesatan mereka.

“Yayi Jaya…” tiba-tiba satu suara yang amat Jaya kenali memanggilnya dari belakang, Jaya pun terkejut dan menoleh ke belakang, namun tak melihat apa-apa. (Yayi = Panggilan halus untuk adik atau orang yang lebih muda)

“Kaukah itu kakang Dharmadipa?” tanya Jaya pada arah suara dibelakangnya tersebut.

Tiba-tiba munculah sosok Dharmadipa dihadapannya, keadaannya sangat menyedihkan, tiada sehelai benangpun menutupi tubuhnya, rambutnya jabrik riap-riapan, sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka yang masih mengucurkan darah, kedua tangan dan kakinya dibelenggu oleh rantai sebesar rantai jangkar kapal, namun yang paling mengerikan adalah dari sebuah luka di kemaluannya yang tegang tegak berdiri, mengucur nanah bercampur darah yang teramat busuk.

“Kakang….” Desah Jaya yang merasa amat iba melihat keadaan kakak sepergurannya tersebut.

“Jaya… Saya mohon ampun padamu, saya berdosa karena ingin merebut hakmu… dan semuanya berakhir menjadi bencana…” ratap Dharmadipa.

“Kakang, saya sudah memaafkanmu… Saya sudah memaafkanmu sejak lama, bahkan sejak pertarungan terakhir kita satu tahun yang lalu…” Jawab Jaya dengan mendesah.

“Tidak Jaya… Seluruh tubuh saya bergelimang dosa, bahkan hati dan pikiran saya pun telah penuh oleh kubangan nista yang menjijikan, tolonglah saya Yayi… Bebaskan saya dari dosa ini…” Rintih Dharmadipa sambil menangis.

Jaya menghela nafas berat nampak gurat kekecewaan di wajahnya. “Kalau Kakang masih hidup mungkin masih ada ampunan dari Gusti Allah, tapi Kakang sudah mati, segala amal apapun sudah putus…”

Dharmadipa mengangguk lemah sambil sesegukan. “Saya sudah ikhlas menerima itu, tapi raga saya masih dipakai iblis untuk melakukan kejahatan. Bahkan Iblis itu menggunakan raga saya untuk membunuh Kyai Guru, guru sekaligus ayah angkatku sendiri… Kini hanya Yayilah yang bisa saya mintai pertolongan…. Tolonglah Yayi Jaya, bebaskan raga saya! Bebaskan… Agar saya dapat melanjutkan perjalanan saya… Tolong…” pinta Dharmadipa dengan teramat sangat, sosok Dharmadipa pun perlahan menghilang bagaikan kabut tertiup angin.

Kini tinggalah Jaya menatap kosong ke tempat Dharmadipa berada tadi. Matanya terus mengucurkan air mata, dadanya terasa berat, nafasnya teramat sesak tatkala mengingat semua kenangan yang telah ia lalui bersama Dharmadipa. Meskipun beberapa kali mereka sempat bentrok, namun Jaya tak bisa menafikan bahwa Dharmadipa adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki, kakak seperguruannya yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. 

Teringat ia pada saat berucap bahwa ia ikhlas melepas tahta Mega Mendung untuk Dharmadipa yang nampak amat bernafsu untuk menjadi raja, saking sayangnya ia pada Dharmadipa dan adiknya Mega Sari. “Kakang… Inalillahi wainalillahi rojiun…” desahnya.

Pagi harinya, dengan diiringi Lurah Tantama kepercayaannya, Indra Paksi dan empat orang lurah tantama Katumenggungan Jaya Laksana, Tumenggung Tubagus Jaya Laksana berangkat meninggalkan Kota Surasowan ke arah tenggara menuju wilayah Mega Mendung. Sebelum berangkat ia menitipkan keselamatan istrinya pada Panglima Gandawijaya, sang pengawal ghaib kepercayaan Prabu Siliwangi yang selama ini menjaga dirinya.

Galuh Parwati yang hari kelahiran anaknya hampir tiba pun melepas kepergian suaminya dengan berat hati, dua titik tetesan bening keluar dari kedua belah matanya memandangi kepergian suaminya, namun tak urung dia tetap mendoakan keselamatan suaminya kepada Gusti Allah.

***

Saat itu pagi sudah mulai beranjak menuju siang, cahaya perak Sang Mentari perlahan mulai berubah keemasan, angin sejuk yang beriup sejak pagi, mulai berubah menjadi angin panas yang menghamparkan suasana gersang musim kemarau yang sedang melanda daerah sekitar Gunung Tangkuban Perahu.

Pada sebuah gubug tua yang merupakan satu-satunya bangunan di puncak gunung Tangkuban Perahu, Kyai Supit Pramana, sesepuh tokoh silat di bumi Pasundan yang kini mungkin menjadi satu-satunya penduduk di wilayah Mega Mendung, nampak sedang duduk bertafakur di beranda rumahnya. Tangannya tampak terus bergerak menggeser biji-biji tasbih di tangan kanannya, mulutnya tak henti-hentinya membaca wirid asma keagungan Allah SWT.

Beberapa saat kemudian Sang Kyai menghentikan wiridnya, perlahan ia membuka matanya ketika mendengar suara derap langkah kuda dari kejauhan. Ia kemudian tersenyum sambil mengusa-usap jenggotnya yang panjang dan berwarna putih. Sekitar sepeminum teh kemudian nampaklah empat orang penunggang kuda yang semuanya mengenakan jubah dan sorban serba putih. Ketika mendekati Gubug sang Kyai berada, para penunggang kuda tersebut turun dari kudanya dan mengucapkan salam. “Assalammualaikum Warahmatullah hiwabaratuh wahai Kyai Kekasih Allah.”

Kyai Supit Pramana pun mengembangkan senyumnya saat mendapat ucapan salam dari tamunya yang tak lain adalah Kyai Surakarna, sahabat lamanya. Ia pun segera menjawab. “Waalaikumsalam Warahmatulah hiwabaratuh… Kiranya sahabat lamaku yang datang berkunjung ke gubug reyotku ini, mari silahkan.”

Kyai Surakarna beserta para muridnya mengikat tali kuda mereka pada pagar kayu rumah Kyai Supit, kemudian mereka masuk ke gubug tuan rumah. Kedua Kyai yang telah sepuh itu kemudian saling berangkulan cukup lama, seolah hendak melepas rasa kangen yang sudah lama tak terobati, Kemudian Kyai Supit mempersilahkan semua tamunya masuk, dan menghidangkan dua kendi air putih dan beberapa buah singkong rebus.

“Maaf saya hanya bisa menghidangkan ala kadarnya, maklum orang gunung hehehe…” ucap Kyai Supit berbasa-basi.

“Ah tidak apa-apa Kyai, ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati lapar dan dahaga kami hehehe… Alhamdulillah.” jawab Kyai Surakarna.

“Kyai Surakarna, tumben sudah lama tidak mampir.” ucap Kyai Supit yang nampaknya hendak langsung ke inti masalah.

Kyai Surakarna menghela nafas berat sebentar, kemudian menjawab, “Saya kangen Kyai, sekalian mau memperkenalkan santri-santri saya.”

Kyai Supit mahfum kalau Kyai Surakarna masih merasa sedikit segan untuk mengutarakan maksudnya, namun ia mengangguk sambil tersenyum seraya menatap ketiga santri Kyai Surakarna, sambil langsung berkata pada inti masalah. “Ya ya… Tetapi saya tidak mau berdebat kalau Kyai masih hendak menanyakan tentang perbedaan cara pengajaran agama Islam. Kalau ingin menjadi muslim yang baik, pegangan cuma satu… Ikuti cara pengajaran Rasul Muhammad.”

Ketiga murid Kyai Surakarna saling pandang, sementara Kyai Surakarna hanya mengangguk-ngangguk, ia sudah maklum bahwa sahabat lamanya itu tidak terlalu suka berbasa-basi dan lebih suka membicara langsung pada maksud tujuannya. “Maaf Kyai… Namun… Terus terang saya merasa cemas dengan cara-cara para ulama belakangan ini yang mencapur adukan Islam dengan adat istiadat setemepat, syiar Islam semakin mandeg di Tanah Pasundan ini, Kyai bisa melihat sendiri, apa yang sekarang oleh orang-orang Banten dan Cirebon semenjak Sunan Gunung Jati dan Panembahan Fatahillah meninggal dunia, tentang syiar Islam!” ucapnya dengan tegas namun terdengar halus.

Kyai Supit mengangguk-ngangguk, ia faham pada maksud ucapan Kyai Surakarna. “Saya mengerti… Saya faham akan kegelisahan hati Kyai… Tetapi zaman terus berubah, apa yang terjadi saat ini adalah buah dari yang terjadi pada masa lalu.”

“Maksud Kyai?” tanya Kyai Surakarna.

“Apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita, serta oleh kita sendiri pada masa lalu lah yang menyebabkan syiar Islam ini mandeg. Kita kurang menggali dan memahami kebiasaan serta adat-istiadat masyarakat setempat.” jawab Kyai Supit.

“Ya… Ya… Menurut pengalaman saya, ada perbedaan yang sangat mencolok pada masyarakat pesisir utara dan pedalaman Pasundan…” ucap Kyai Surakarna serya mengelus-elus janggut putihnya yang panjang.

Kyai Supit langsung mahfum bahwa maksud dari ucapan Kyai Surakarna adalah soal dakwahnya di daerah pedalaman Pasundan, dia harus menghadapi masyarakat yang masih memegang teguh adat-istiadat serta kepercayaan leluhurnya. Maka ia berujar. “Sebagai manusia, wajar kalau Kyai merasa kebingungan. Saya tahu, Kyai pasti mengerti bahwa hakekat manusia itu tidak ditentukan oleh… Apakah ia orang Pesisir atau orang Gunung, apakah ia prang pantai utara atau pantai selatan…. Belum tentu Kyai, orang yang lebih dulu memeluk Islam akan lebih baik dari orang yang baru mengenal Islam, dalam mensyiarkan Islam.”

“Terus terang, saya khawatir pada saudara-saudara ulama yang lain telah salah faham bahwa saya menentang cara mereka berdakwah yang menyesuaikan diri dengan kebiasaan juga adat-istiadat setempat.” desah Kyai Surakarna.

“Saya mohon maaf sebelumnya… Terus terang, saya pun sempat terbersit dugaan bahwa cara Kyai yang terlalu langsung itulah yang membuat mengapa orang yang mengikuti cara berdakwah Kyai itu cukup sedikit dibanding dengan saudara-saudara kita. Namun… Ya itu tadi, seperti yang saya katakan, selama kita berpedoman pada cara Kanjeng Rasul Muhammad melakukan syiar Islam, ya tidak masalah… Biarkan saja. Saya yakin, semua tujuan Kyai untuk tujuan yang baik bukan?” ujar Kyai Supit.

“Yah… Setidaknya sekarang sudah tidak ada lagi orang seperti Prabu Kertapati dari Mega Mendung yang memusuhi Islam dan membantai para ulama, syukurlah ia sudah tewas di tangan anaknya sendiri... Bagaimanapun setelah Mega Mendung runtuh dan Pajajaran ditaklukan Banten, kita masih bisa berharap pada Banten, meskipun saya kurang setuju dengan cara mereka menguasai Tanah Pasundan ini dengan peperangan.” ucap Kyai Surakarna.

“Hmm… Banten… Banten akan menjadi negeri yang sangat besar, terbesar di Tanah Pasundan ini setelah Pajajaran runtuh, bahkan kekuasaannya akan mencapai Swarnabhumi. Tetapi ini hanya sebentar saja, karena akan tiba Bangsa dari Negeri Matahari Terbenam yang berkulit putih. Mereka akan mencabik-cabik ketentraman rakyat di Nusantara ini!” sahut Kyai Supit sambil memenjamkan matanya.

“Apakah mereka Bangsa Portugis? Apakah mereka akan datang lagi kemari?” tanya Kyai Surakarna penasaran.

“Bukan… Letaknya lebih ke utara dari negrinya orang Portugis. Mereka lebih jahat, lebih serakah, dan lebih licik dibanding orang Portugis!” jawab Kyai Supit. “Sekarang yang terpenting kita mempersiapkan anak cucuk kita agar siap untuk menghadapi Bangsa yang bagaikan Kebo Bule itu.”

“Yah, saya jadi teringat pada murid Kyai yang bernama Jaya Laksana itu. Saya turut bangga pada sepak terjang murid Kyai tersebut, barangkali kita bisa mempercayakannya untuk mempersiapkan anak cucu kita.”

“Jaya Laksana…” Kyai Supit mendesah sambil mengingat sosok muridnya tersebut, entah mengapa ia mempunyai firasat bahwa ia akan segera berpisah dari muridnya. “Ia anak yang baik, ia dan keturunannya memang tidak ditakdirkan untuk menjadi Raja atau pemimpin, namun... Saya melihat suatu saat ia dan keturunannya akan menjadi orang yang mendalami dan menyebarkan ajaran Islam. Kelak dari keturunannya akan lahir “Budak Janggotan”, orang yang akan menuntun Bangsa senusantara ini keluar dari kesulitan dengan ujaran-ujaran kebenaran.” (Budak Janggotan = Anak Berjenggot, dalam mitologi Sunda, ia adalah orang yang akan menuntun dan mendampingi Budak Angon/Ratu Adil).

Kyai Supit kemudian kembali pada topik pembicaraan, karena sepertinya Kyai Surakarna belum mengutarakan semua maksudnya. “Lalu bagaimana dengan dakwah Kyai di dusun terpencil di pantai selatan itu?”

Kyai Surakarna mengangguk dengan lemas, wajahnya nampak muram sekali. “Yah… Setidaknya sekarang sudah tidak ada lagi orang seperti Prabu Kertapati dari Mega Mendung yang memusuhi Islam dan membantai para ulama, syukurlah ia sudah tewas di tangan anaknya sendiri... Bagaimanapun setelah Mega Mendung runtuh dan Pajajaran ditaklukan Banten, kita masih bisa berharap pada Banten, meskipun saya kurang setuju dengan cara mereka menguasai Tanah Pasundan ini dengan peperangan.” ucap Kyai Surakarna dengan suara tercekat dan nafas berat.

“Hmm… Banten… Banten akan menjadi negeri yang sangat besar, terbesar di Tanah Pasundan ini setelah Pajajaran runtuh, bahkan kekuasaannya akan mencapai Swarnabhumi. Tetapi ini hanya sebentar saja, karena akan tiba Bangsa dari Negeri Matahari Terbenam yang berkulit putih. Mereka akan mencabik-cabik ketentraman rakyat di Nusantara ini!” sahut Kyai Supit sambil memenjamkan matanya.

“Apakah mereka Bangsa Portugis? Apakah mereka akan datang lagi kemari?” tanya Kyai Surakarna penasaran.

“Bukan… Letaknya lebih ke utara dari negrinya orang Portugis. Mereka lebih jahat, lebih serakah, dan lebih licik dibanding orang Portugis!” jawab Kyai Supit. “Sekarang yang terpenting kita mempersiapkan anak cucuk kita agar siap untuk menghadapi Bangsa yang bagaikan Kebo Bule itu.”

“Yah, saya jadi teringat pada murid Kyai yang bernama Jaya Laksana itu. Saya turut bangga pada sepak terjang murid Kyai tersebut, barangkali kita bisa mempercayakannya untuk mempersiapkan anak cucu kita.”

“Jaya Laksana…” Kyai Supit mendesah sambil mengingat sosok muridnya tersebut, entah mengapa ia mempunyai firasat bahwa ia akan segera berpisah dari muridnya. “Ia anak yang baik, ia dan keturunannya memang tidak ditakdirkan untuk menjadi Raja atau pemimpin, namun... Saya melihat suatu saat ia dan keturunannya akan menjadi orang yang mendalami dan menyebarkan ajaran Islam. Kelak dari keturunannya akan lahir “Budak Janggotan”, orang yang akan menuntun Bangsa senusantara ini keluar dari kesulitan dengan ujaran-ujaran kebenaran.” (Budak Janggotan = Anak Berjenggot, dalam mitologi Sunda, ia adalah orang yang akan menuntun dan mendampingi Budak Angon/Ratu Adil).

Kyai Supit kemudian kembali pada topik pembicaraan, karena sepertinya Kyai Surakarna belum mengutarakan semua maksudnya. “Lalu bagaimana dengan dakwah Kyai di dusun terpencil di pantai selatan itu?”