Episode 96 - Mimpi Kutukan


Peringatan : Khusus untuk episode ini mengandung unsur 18+


Alangkah berbunganya hati Mega Sari ketika ia melihat Jaya Laksana, pria pujaan hatinya tersebut, melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar kepada dirinya. “Kakang Jaya!” seru Mega Sari seraya berlari melintasi taman bunga yang sangat cantik lagi indah tersebut. 

“Mega Sari!” balas Jaya yang juga berlari menghampiri Mega Sari. Dan ketika tubuh sang pangeran serta sang putri tersebut saling beradu, mereka pun saling berpelukan dengan amat mesranya, seolah menuntaskan dendam kesumat akan rasa rindu yang teramat sangat dalam diri mereka berdua! 

Setelah puas saling berpelukan, mereka pun saling beradu tatap satu sama lain, senyum nan manis merekah di wajah mereka berdua. Jaya merasa amat goyah ketika melihat bibir merah nan ranum yang manis dari sang putri. Sementara Mega Sari pun terpana ketika melihat sorot mata Jaya yang tajam namun teduh tersebut, apalagi ketika ia melihat dada Jaya yang bidang serta basah oleh butiran-butiran peluh, melenggaklah libido wanita ini. 

Jaya merasa seolah nafasnya teramat sesak ketika bau harum kembang setaman yang bertiup dari tubuh Mega Sari, apalagi ketika ia melihat belahan dada wanita dihadapannya tersebut yang tersembul dari kain kembennya yang agak melorot. “Mega…” desah Jaya. 

Mega Sari hanya tersenyum nakal nan menantang pada Jaya, ia menyadari bahwa pria dihadapannya tersebut telah terbakar oleh gelora birahinya, sementara ia sendiri pun sudah terbakar oleh bara birahinya. Ia seolah sudah lupa bahwa pria itu adalah kakak kandungnya sendiri. Pikiran dan hatinya kini dikuasai oleh kenangan-kenangan manis saat mereka masih berguru di padepokan Sirna Raga dulu, saat dimana mereka sering memadu kasih secara diam-diam.

Jaya menatap Mega Sari dengan penuh gairah kelelakian kalau tidak mau dikatakan buas. Kerongkongannya naik turun, dadanya berdebar amat kencang saat mendapati tatapan serta senyuman nakal dari Mega Sari. Sang Pangeran putra dari mendiang Prabu Kertapati ini pun seolah lupa bahwa Mega Sari adalah adik kandungnya sendiri. Sama seperti Mega Sari, pikiran dan hatinya dipenuhi oleh kenangan-kenangan manisnya bersama Mega Sari dulu. 

Sang Pendekar nampaknya sudah tak sanggup lagi menahan gelegar gelora di dadanya yang semakin memanas, tanpa inga tapa-apa lagi, ia menyosor hendak mencium bibir Mega Sari yang ranum menggoda tersebut. Namun Mega Sari mendorong wajah si pemuda. “Jangan lakukan itu Kakang!” tolaknya, tetapi ia berkata dengan nada yang amat menggoda, senyumnya teramat nakal seolah malah mengundang Jaya untuk semakin berbuat nekat dan lebih jauh. 

Mega berpaling mebalikan tubuhnya, namun Jaya menarik kain kembennya, Mega Sari pun memutarkan tubuhnya, dan… Sreettt! Seluruh kain yang menutupi Mega Sari tersebut terlepas! Kini tubuh sang putri yang sintal, putih mulus, seolah bercahaya, serta menebar bau harum tersebut tak tertutup sehelai benangpun! 

Jaya melotot menatap Mega Sari yang telah bugil tersebut, tetapi bukannya malu dan berusaha menutupi tubuhnya, Mega Sari malah sengaja berdiri dengan pose yang menantang, sembari tersenyum nakal, ia memperlihatkan setiap lekuk bagian tubuhnya pada Jaya! Jaya sudah tak kuat lagi, terutama ketika ia melihat bagian kewanitaan Mega Sari di bagian bawah perutnya yang dipenuhi oleh bulu-bulu lebat nan panjang bagaikan rawa-rawa tersebut!

Tanpa banyak cakap lagi, ia langsung menerjang tubuh Mega Sari yang telah telanjang bulat tersebut, dengan penuh nafsu, ia ciumi serta jilati, setiap jengkal tubuh wanita yang kecantikannya amat ternama di seantero tanah Pasundan, bahkan sampai ke tanah Jawa dan Andalas tersebut! Mega Sari tidak melawan, malah ia balas menciumi dan menjilati wajah serta tubuh Jaya, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk melucuti seluruh pakaian Jaya!

Dengan penuh nafsu Jaya menjilati ketiak Mega Sari yang ditumbuhi oleh bulu yang lebat tersebut, kemudian menciumi bagian onggokan daging kembar sang putri. Di lain pihak Mega Sari balas mencium sambil menjilati sekujur tubuh kakak kandungnya, sementara tangannya memainkan “barang pusaka” milik Jaya yang juga ditumbuhi oleh bulu yang amat lebat. 

Hingga akhirnya ia membimbing onggokan daging yang telah menegang tersebut kedalam mahkota pusaka kewanitaan miliknya! Diiringi dengan desahan serta erangan dari kedua kakak-beradik tersebut, lengkaplah dosa mereka ketika tubuh mereka bersatu, saat “barang pusaka” milik Jaya Laksana, masuk kedalam mahkota pusaka kewanitaan Mega Sari!

Saat itulah, tiba-tiba terdengar suara yang berseru dengan penuh kemarahan menghardik Mega Sari. “Mega Sari!” 

Yang dipanggil terkejut bukan main ketika mendengar suara yang amat dikenalinya tersebut, dengan ketakutan ia menoleh ke arah suara tersebut, dan ternyata benar saja ketika ia melihat sesosok pria yang berdiri memelototi mereka dengan amat marah, dialah suaminya sendiri, Dharmadipa, yang masih berwujud manusia saat menjadi Pangeran di Mega Mendung dulu, ia mengenakan pakaian pangera kebesarannya. 

“Kakang!” seru Mega Sari. Jaya Laksana pun berhenti menggeranyangi tubuh Mega Sari, ia langsung meraih dan mengenakan pakaiannya disaat “Pusaka Kelelakiannya” masih berdiri menegang dengan kerasnya, karena belum tuntas dipakai oleh sang empunya. 

“Biadab! Kamu hidupkan tubuhku kembali agar aku bisa terus bersama denganmu dan melindungi dirimu! Tapi apa yang kamu perbuat?! Kamu malah berselingkuh dan berzina dengan Kakak kandungmu sendiri!” bentak Dharmadipa. 

“Tidak Kakang! Tolong dengarkan dulu penjelasan saya!” rengek Mega Sari yang seketika itu juga langsung menangis. 

“Tidak! Ini masalah harga diri! Akan aku bunuh Jaya Laksana, kemudian akan aku bunuh kamu dengan tanganku sendiri!” tegas Dharmadipa. 

“Kakang! Jangan lakukan itu!” pinta Mega Sari. 

Jeggeerrr!!! Tiba-tiba petir yang teramat dahsyat meledak, pemandangan disekitarnya pun langsung berubah, dari yang asalnya mereka berada di taman bunga yang sangat indah pada siang hari yang cerah, kini mereka berada di tengah hutan belantara yang teramat lebat pada malam hari! Sosok Dharmadipa pun langsung berubah menjadi mayat hidup yang dikendalikan oleh Jin Bagaspati dan kawanan jin lainnya.

Dharmadipa langsung menyerang Jaya, Jaya pun langsung meladeninya! Mega Sari menggigil amat ketakutan saat menyaksikan pertarungan yang teramat dahsyat antara Jaya Laksana melawan mayat hidup Dharmadipa dari balik sebuah pohon. Wanita ini merasa amat was-was dan sangat khawatir pada nasib kakak kandungnya yang sedang bertarung melawan mayat hidup suaminya tersebut.

Kegelisahan Mega Sari memang terbukti ketika segala macam ilmu kesaktian Jaya Laksana seolah tak berdaya menghadapi Dharmadipa, bahkan senjata pusakanya yakni Keris Kyai Segara Geni serta Cincn Kalimasada tidak mempan terhadap Dharmadipa! Maka tak lama kemudian terdengarlah jerit kematian Jaya Laksana, ia tewas dengan amat mengerikan sekali! Tubuhnya direncah oleh kawanan lelembut penghuni raga Dharmadipa, hingga ia tewas dengan seluruh tubuh tercabik dan tercerai berai!

Mega Sari menjerit ketika menyaksikan kematian Kakak kandung sekaligus kekasihnya tersebut, Dharmadipa yang mendengar jeritan Mega Sari menolehlalu menyeringai bengis pada Mega Sari. Mega Sari pun jatuh terduduk sambil menangis, ia merasa amat ketakutan ketika Dharmadipa berjalan menghampirinya, namun ia tiada sanggup untuk bergerak sehingga tak bisa apa-apa ketika tangan Dharmadipa bergerak untuk menyentuhnya.

Namun, tiba-tiba… Wushhhh!!! Pemandangan mata Mega Sari langsung berubah, tiba-tiba ia berada di alun-alun Kota Rajamandala pada siang hari. Ia Dikerumuni oleh seluruh rakyat Mega Mendung yang menaruh dendam kepada dirinya. Seluruh orang menatapnya dengan tatapan penuh dendam dan nafsu membunuh. 

Mega Sari terkejut karena tiba-tiba ia melihat ada ribuan orang yang mengerumuninya dengan tatapan penuh dendam dan nafsu membunuh, mereka semua membawa batu, pentungan, golok, dan beraneka senjata seolah sudah bersiap untuk merencah tubuh wanita cantik ini. Namun bukan Mega Sari namanya kalau tidak pernah bersikap nekat tanpa kenal takut, ia pun langsung menghardik seluruh orang yang mengerumuninya. “Mau apa kalian?!”

Tiba-tiba dari balik kerumunan munculah Ki Balangnipa, Ki Sentanu, Ki Citrawirya, Arya Bogaseta, serta seluruh pejabat Mega Mendung yang tewas oleh Dharmadipa. Ki Balangnipa tertawa sinis mendapati pertanyaan dari Mega Sari tersebut. Ia menjawab sambil tertawa rawan. “Mau apa? Hahaha… Apa yang pantas akan dilakukan orang oleh orang yang keluarganya telah kamu bantai Mega Sari?! Hahaha…”

Mega Sari melotot, kemudian ia memandang kesekitarnya, disapunya seluruh lingkarang orang yang mengerumuninya tersebut. “Kalian akan membunuhku?” tanyanya dengan penuh kewaspadaan.

“Lebih dari sekedar membunuhmu kalau bisa! Kami akan merencah tubuhmu! Kami akan mencabik-cabik setiap jengkal kulit dan daging yang menempel pada tulangmu! Lalu akan seret mayatmu untuk kemudian kami potong-potong menjadi ratusan bagian yang kecil!” tegas Ki Sentanu dengan mata melotot dan wajah merah padam menahan amarah.

“Namun sebelumnya, kami akan menikmati dulu setiap detik penyiksaanmu! Kami akan pastikan kamu merasakan kepedihan bagaikan di neraka terlebih dahulu sebelum kamu mati!” tambah Arya Bogaseta.

“Dan kami pastikan kamu tidak akan langsung mati sebelum merasakan semua rasa pedih dan penderitaan dari seluruh rakyat Mega Mendung yang kamu bunuh!” tandas Ki Citrawirya.

Mega Sari tercengang mendengar ucapan para tokoh Mega Mendung yng dipenuhi oleh bara dendam tersebut, kini ia seolah baru merasakan rasa pedih dan derita dari banyak orang akibat perbuatannya yang ingin membalas dendam secara membabi buta tanpa pandang bulu pada siapapun. Jauh dalam lubuk hatinya ia baru menyesali mengapa ia menjadi insan yang diperbudak oleh nafsu dendam semata. Air matanya mulai menetes seraya ia berkata. “Silahkan… Aku memang pantas untuk direncah…Aku sudah siap!”

Orang-orang pun mulai melempari dirinya dengan batu, Mega Sari berusaha untuk bertahan tanpa melawan, ia telah pasrah. Ia biarkan dirinya terus dilempari batu hingga akhirnya ia terjatuh dengan seluruh tubuh penuh luka dan penuh rasa sakit, daah mengalir dari seluruh luka di sekujur tubuhnya. 

Ketika Mega Sari terjatuh, orang-orang berhenti melemparinya dengan batu, mereka mulai memukuli, menendang, dan menginjak-injak tubuh Mega Sari hingga ia tidak berdaya lagi, kini wajah dari wanita cantik itusudah tak berbentuk lagi, rusak oleh siksaan seluruh orang yang menganiayanya. Kini tubuh sintal yang selalu mengundang decak kagum sampai erangan nafas penuh nafsu dari kaum lelaki itu dipenuhi oleh luka-luka dan basah memerah oleh darah.

“Cukup!” komando Ki Balangnipa setelah melihat keadaan Mega Sari. “Sekarang saanya kita rencah tubuhnya ramai-ramai! Kita cabik-cabik dan kita potong-potong seluruh tubuhnya!” lanjut Ki Balangnipa yang segera mendapat teriakan setuju dari seluruh orang disana. Mega Sari yang sudah mati rasa saking merasa sakit di sekujur tubuhnya itu hanya bisa terdiam ketika ribuan aneka senjata tajam merencah tubuhnya!

Pada saat yang teramat kritis tersebut, tiba-tiba bagaikan kilat sesosok tubuh berjubah emas membopong tubuh Mega Sari kemudian membawanya terbang meninggalkan tempat maut tersebut. Dengan segala sisa daya yang ia punya, Mega Sari membuka matanya dan menatap tuan penolongnya tersebut, terbelalaklah matanya ketika melihat sosok Prabu Kertapati yang menolongnya. “Ayahanda???” ucap Mega Sari dengan lemah.

“Iya putriku…” jawab Sang Prabu sambil terus membawa Mega Sari terbang.

“Akhirya Ayah datang menjemput dan menyelematkan saya…” rintih Mega Sari.

“Ayah kasihan padamu permataku… Kamu tidak pernah menikmati kebahagiaan yang selalu ayah janjikan, bahkan semenjak kamu kecil…” jawab Sang Prabu dengan suara tercekat menahan sedih di hatinya.

Mega Sari tersenyum manis mendengar ucapan ayahandanya tersebut, lalu ia memeluk erat dada Sang Prabu yang bidang tersebut. “Saya akan berbahagia kalau ayah dan ibu diberi kelonggaran dan ampunan di alam barzah.”

Hingga hari telah sampailah mereka di sebuah tegalan yang luas, yang penuh reruntuhan dan sisa-sisa bekas terjadinya peperangan, mayat-mayat manusia hingga kuda dan kerbau bergeletakan dimana-mana, darah segar masih terus mengalir menaganak sungai yang menghamparkan bau anyir serta bau bangkai yang teramat menusuk! 

Sang Prabu mendaratkan kakinya dan melepaskan Mega Sari. Tanpa Mega Sari sadari, sekujur luka parah di tubuhnya telah sembuh secara ajaib. Mega Sari tercengang lalu bergidik ngeri melihat tegalan tersebut. “Ayah… Dimana ini?!”

Prabu Kertapati tersenyum lebar, kemudian ia menuntun Mega Sari untuk berjalan mengikutinya. Tanpa menjawab pertanyaan muridnya, Sang Prabu berucap dengan lembut. “Malam yang benar-benar syahdu di tempat yang terindah di macapada ini…”

Mega Sari terkejut mendengar ucapan Sang Prabu tersebut, bulu kuduknya mulai berdiri, keringat dingin mulai keluar dari seluruh pori-pori di tubuhnya. Ingin benar ia melepaskan tangan Sang Prabu yang menuntunnya, tapi ia tak kuasa untuk melepaskan tangan ayahnya.

“Lihat tempat ini putriku… Dan ciumlah! Reguklah segala wewangian ini! Segala harum wewangian bunga yang ada di jagat ini seolah tertumpah jadi satu…” lanjut Sang Prabu sambil tersenyum yang nampaknya sangat menikmati suasana di tempat yang amat mengerikan tersebut.

“Saya mencium bau kematian! Saya mencium bau mayat dan maut!” tegas Mega Sari yang tak kuasa menggerakan tubuhnya sesuai kehendaknya, ia hanya bisa terus mengikuti langkah ayahnya tanpa bisa meronta.

“Pada saatnya kamu akan bisa menikmati wewangian yang paling abadi! Di alam kita nanti!” sahut ayahnya sambil menyeringai.

Mereka terus melangkah hingga sampailah di satu tempat dimana Mega dapat melihat bulan purnama raksasa yang berwarna merah seperti darah. Pada saat itu pula ia berhasil meronta dan melepaskan genggaman tangan ayahnya. “Sebenarnya kita mau kemana Ayah?!” hardiknya. 

“Kau akan kuajak menemui ibu dan suamimu di padang keabadian! Juga denganku!” tukas Prabu Kertapati.

“Tidak! Tidak!!!!’ Mega Sari langsung mengambil langkah seribu, ia lari sekencang-kencangnya yang ia bisa. Sementara Prabu Kertapati tertawa terbahak-bahak sambil mulai berjalan mengejar Mega Sari. Sungguh aneh, meskipun Mega Sari telah mengerahkan ilmu lari cepat serta ilmu meringankan tubuhnya, namun Prabu Kertapati yang mengejarnya bisa terus berada dibelakangpunggungnya, padahal Sang Prabu hanya nampak berjalan kaki biasa saja!

Seantero tempat itu bergetar oleh suara tawa Prabu Kertapati, ia terus berada tepat di punggung Mega Sari! Namun wanita ini memang tabah, atau memang sudah nekat, ia terus berlari tanpa mempedulikan ancaman Prabu Kertapati yang mengejarnya maupun bahaya lain disekitarnya.

Sampailah di disebuah bukit batu pualam. Dimana mata mmandang hanya terlihat bebatuan putih yang indah terpendar cahaya dari Sang Rempulan purnama. Mega Sari terus berlari sampai ia terkejut ketika melihat Padepokan Sirna Raga dihadapannya. Ia pun berhenti berlari ketika dilihatnya Sang Prabu yang mengejarnya lenyap entah kemana.

Kembai ia menengok kedepannya dimana Padepokan tersebut beradda. Tiba-tiba pintu gerbang Padepokan terbuka lebar, terdengarlah suara Kyai Pamenang memanggil Mega Sari untuk masuk kedalam Padepokan. “Mega Sari muridku… Masuklah Nak! Masuklah!”

“Kyai Guru?!” seru Mega Sari sambil menatap bangunan Padepokan. 

“Mega muridku, aku kangen padamu Nak, masih banyak yang harus aku sampaikan padamu. Masuklah agar aku bisa menyelamatkanmu!” ucap Sang Kyai yang suaranya bergema kemana-mana.

Mega Sari pun melangkah masuk kedalam bangunan Padepokan, terus sampai ke kamar Kyai Pamenang. “Masuklah muridku, buka saja pintunya!” ucap Sang Kyai.

Dengan ragu-ragu namun peuh kehati-hatian Mega Sari membuka pintu kamar Sang Kyai, nampaklah gurunya yang sedang duduk bertafakur membelakangi pintu sehingga Mega Sari tak bisa melihat wajahnya.

Mega Sari tersenyum ketika melihat gurunya yang selalu mengenakan jubah serta sorban serba putih yang sedang duduk membelakainya. “Kyai Guru… Tolonglah saya!” pintanya sambil berlari menghampiri Kyai Pamenang, namun alangkah terkejutnya ketika Sang Kyai berbalik dan wujudnya langsung berubah menjadi Jin Bagaspati!

Mega Sari menjerit dahsyat ketika melihat Jin yang teramat jahat tersebut, apalagi ketika ia sadar bahwa ia sekarang terkepung oleh kawanan Jin-Jin yang merasuki maat Dharmadipa! Namun tiba-tiba pandangannya memudar dan Wusshhhh!!!

Masih dalam suasana malam yang mengerikan tersebut, tiba-tiba Mega Sari berada di taman Kaputren Keraton Rajamanadala. Dihadapannya duduk Dewi Nawangkasih di benteng air mancur, Sang Dewi tersenyum lembut pada putrinya tersebut.

“Ibu?!” seru Mega Sari, kemudian ia jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya karena merasa sudah putus asa dan seluruh tenaganya terkuras habis. “Ibu tolong aku! Aku sudah tak sanggup lagi!” rintih Mega Sari sambil menangis histeris.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu putriku! Aku memang datang untuk menjemputmu… Kemarilah Nak, ayo pegang tangan Ibu!” ucap Dewi Nawangkasih dengan lembut sambil mengulurkan tangannya.

Dengan seluruh sisa tenanganya, Mega Sari mengesot dibawah untuk memegang tangan ibunya, sementara Dewi Nawangkasih tersenyum aneh, ekspresi wajahnya nampak sangat menakutkan! Tiba-tiba suara tanngis bayi memecah keheningan di tempat tersebut, Mega Sari terkejut dan langsung menoleh kebelakang, ternyata dibelakangnya nampak Ki Silah dan Emak Inah yang menggendong bayinya.

“Gusti jangan kesana! Kalau Gusti memegang tangannya, Gusti akan mati dibawa oleh para denawa itu ke alamnya!” teriak Emak Inah yang menggendong Dharma Laksana, putra Mega Sari yang asih bayi dan terus menangis.

“Kemarilah Gusti! Ayo kembali ke dunia kita! Agar suatu saat nanti Gusti bisa bertemu kembali dengan Den Dharma!” sambung Ki Silah.

“Ayo kemari Gusti! Kembali!” teriak emak Inah.

“Anakku, kalau kamu kembali kesana, maka kamu akan kembali menderita! Segala penderitaanmu tidak kan pernah berakhir, Malah akan semakin parah! Ayo kesini saja Nak!” ucap Dewi Nawangkasih sambil mengulurkan tangannya.

“Muridku!” teriak Nyai Lakbok yang tiba-tiba berada disana. “Jangan kesana Mega! Jangan terbujuk hasutan para Jin jahat itu Muridku!”

“Guru?!” seru Mega sembari menatap gurunya.

“Mega kamu masih harus hidup! Kamu masih punya tanggung jawab di mayapada ini! Kamu masih punya banyak kesempatan lain untuk memperbaiki hidupmu dan berbahagia!” tegas Nyai Lakbok.

“Haaahhhhh!!!” Jerit Mega Sari ketika ia terbangun dari tidurnya. Sejenak ia berusaha mengembalikan kesadarannya sembar mengatur nafasnya yang terasa sesak, ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar, ternyata ia berada di dalam sebuah reruntuhan candi. Mega Sari menarik nafas panjang sambil melihat keluar yang ternyata masih gelap, dalam perkiraannya ia tahu bahwa hari masih malam menjelang subuh.

Wanita berkulit putih mulus ini mengusap butiran keringat di keningnya dengan punggung tangannya, seluruh pakaiannya basah oleh keringat dingin. “Ahh… Hanya mimpi…” desahnya.

Saat itu ia mendengar suara cuitan parau sirit uncuing. matanya menatap pada satu cabang pohon diluar sana, didapatinya seekor burung sirit uncuing berwarna hitam yang bertengger disana sambil bercuit-cuit, kemudian terbang menghilang di tengah kepekatan malam. “Kakang Dharmadipa… Apakah sasaranmu yang berikutnya adalah Kakang Jaya Laksana dan aku?” lirih Mega Sari.

Ia kemudian duduk di lawang reruntuhan candi tua tersebut seraya menatap bulan purnama yang sedang bersinar terang. “Ahh… Ibu… Saya yakin air matamu sudah kering menangisi nasib anakmu. Sungguh terlalu erat dari apa yang pernah saya bayangkan. Tapi saya ikhlas menerima balas dari semua dosa yang pernah saya buat….” desahnya dalam hati.

Mega Sari mengusap air matanya yang mulai berjatuhan, teringat ia pada perjalanan hidupnya yang seolah tak pernah merasakan kebahagiaan, teringat pula ia bagaimana ia terpaksa menjalani hidupnya dengan penuh dendam dan kebencian, sehingga ia selalu menumpahkan kebencian dan dendamnya pada orang lain yang bahkan tak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Jauh didalam pusara jiwanya ia menyesal karena tak pernah mengikuti ajaran gurunya Kyai Pamenang dan Nyai Mantili.

“Ibu… Saya tahu bahwa saya tidak akan mampu… Entah sampai kapan saya harus menangggung siksa ini? Duh Gusti nu Agung… Ampuni hamba…” ratap Mega Sari sembai menutup matanya, seluruh tindakan kejamnya pada semua orang yang telah ia sakiti terus terbayang dalam benaknya.

Saat itu datanglah Nyai Lakbok, ia merasa ikut iba tatkala melihat Mega Sari yang sedang menangis sesegukan, ia pun langsung memeluk Mega Sari. “Kamu kenapa muridku?” tanya si Nenek berwajah mengerikan ini.

“Ah saya tidak apa-apa Guru.” jawab Mega Sari sambil mengusap air matanya. “Guru dari mana?” tanyanya.

“Maaf aku meninggalkanmu saat kamu sedang tidur muridku, tadi aku mendengar cuitan burung sirit uncuing yang merupakan jelmaan dari Jin Bagaspati, aku pun bergegas untuk segera memasang tabir pelindung agar kita aman dari serangannya.” jelas Nyai Lakbok.

“Tadi ia memang berada disini dan masuk ke alam bawah sadarku… Ia memberikan mimpi yang sangat buruk untukku…” sahut mega Sari.

“Hhh… Jadi ia masuk kedalam mimpimu? Hati-hati muridku, Jin Bagaspati bisa merusak dirimu lewat mimpimu, sebagaimana kamu dulu memelet Dharmadipa yang kemudian jadi suamimu itu!” peringat Nyai Lakbok.

“Baik Guru, saya akan berhati-hati…” angguk mega Sari dengan lemas.